Diskusi Bioetanol: Diversifikasi Bahan Mentah Jadi Kunci Mengurangi Emisi

Written by

in

7cloud.asia – Pada Jumat, 1 November 2024 lalu The Conversation Indonesia (TCID) menggelar diskusi publik bertajuk Bensin Hijau: Akankah Lestari dan Ekonomis?

Diskusi yang berlangsung di auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini membedah prospek lingkungan dan ekonomi dalam proyek bioetanol presiden baru.

Prodita Sabarini, Chief Executive Officer (CEO) The Conversation Indonesia, berharap diskusi publik ini dapat meningkatkan kesadaran publik terkait potensi tanaman tebu maupun bahan nabati lainnya sebagai bahan bakar alternatif.

Sebagai media berbasis riset, ujarnya, The Conversation Indonesia berkomitmen untuk membuka ruang dialog bermakna yang inklusif untuk memfasilitasi pertukaran ide dan kolaborasi.

”Kami berharap diskusi publik ini dapat membantu mengidentifikasi gap riset untuk pengembangan bioetanol dan memicu kolaborasi multisektor untuk pencarian solusi bersama,” ujar Prodita.

Hasil diskusi ini diharapkan dapat membantu Indonesia menavigasi pengembangan bioetanol yang tak hanya ekonomis, melainkan juga ramah lingkungan.

Peneliti dari Traction Energy Asia, Refina Muthia Sundari mengungkapkan bahwa rencana pengembangan bioetanol berbasis gula, berisiko menciptakan emisi gas rumah kaca karena adanya penambahan lahan produksi tebu yang berasal dari kawasan hutan.

Refina menyebutkan bahwa kondisi ini telah dialami Brasil. Jejak emisi terbesar negara ini berasal dari pengembangan bioetanol akibat aktivitas pertanian—seperti alih fungsi lahan dan penggunaan pupuk.

Adapun jumlahnya mencapai hampir 60 persen dari total jejak emisi bioetanol.

“Guna mengurangi emisi, Indonesia perlu memanfaatkan bioetanol yang berasal dari limbah, salah satunya cellulosic ethanol yang berasal dari tanaman kelapa sawit dalam negeri,” ujar Refina.

Namun, lanjutnya, pemerintah perlu menerbitkan terlebih dahulu peraturan yang secara tegas membolehkan penggunaan limbah sebagai bahan baku bioetanol.

Pemerintah juga perlu menerbitkan insentif khusus untuk membangun sejumlah fasilitas etanol di berbagai daerah

Refina juga menggarisbawahi pentingnya diversifikasi untuk mengurangi emisi dalam produksi bioetanol.

“Apabila tidak ada diversifikasi, justru akan semakin menjauhkan Indonesia dari target pengurangan emisi,” tegasnya.

Selain mendengarkan pemaparan dari para pembicara, diskusi publik ini juga mengundang tanggapan dari para peserta yang hadir dalam sesi tanya jawab.

Salah seorang penanya asal Merauke, Ewin mengungkapkan kekhawatirannya mengenai bagaimana pemerintah menjamin keberhasilan proyek bioetanol di Merauke, tanpa harus merugikan masyarakat setempat.

Sementara itu, Amaliyah, dosen dari Universitas Telkom, mengungkapkan berdasarkan riset yang dia lakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan industri sawit di beberapa daerah, Indonesia berpotensi mengembangkan bioetanol dari limbah sawit melalui integrasi fasilitas produksi sistem pengolahan sawit dan limbah pulping.

“Teknologi ini berpotensi mengembalikan modal pengembangan bioetanol dalam 5 tahun. Tapi, diperlukan keseriusan dari pemerintah untuk pengembangannya. Karena sampai hari ini riset kami belum didengar oleh pemerintah,” ujar Amaliyah.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *