Tag: deforestasi

  • KLHK Sebut Laju Deforestasi di Indonesia Terus Menurun

    KLHK Sebut Laju Deforestasi di Indonesia Terus Menurun

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut laju deforestasi atau pengurangan luas hutan di Indonesia tahun 2021-2022 turun 8,4 persen dibandingkan hasil pemantauan tahun 2020-2021.

    Sementara reforestasi atau penghutanan kembali juga menurun, dari 25,6 ribu hektare (ha pada 2020-2021 menjadi 15,4 ribu ha pada kurun 2021-2022.

    Dilansir di laman resmi KLHK, deforestasi netto Indonesia tahun 2021 -2022 tercatat sebesar 104 ribu hektare (ha). Sementara, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha.

    Baca: Risiko pengrusakan hutan meningkat di tahun politik

    Plt. Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) KLHK Ruandha A. Sugardiman menyampaikan, jika dilihat tren deforestasi berdasarkan data sebelumnya maka tahun ini penurunan hutan Indonesia relatif rendah dan cenderung stabil.

    “Hal ini menunjukan bahwa berbagai upaya yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akhir-akhir ini menunjukkan hasil yang signifikan,” kata Ruandha saat media briefing di Jakarta, Senin (26/6/2023). 

    Lebih lanjut, Ruandha mengungkapkan kondisi penutupan lahan dan hutan Indonesia bersifat dinamis, seiring dengan kebutuhan lahan untuk pembangunan dan kegiatan lainnya.

     

    Baca: Indonesia adalah salah satu negara dengan hutan terluas di dunia

    Perubahan tutupan hutan terjadi dari waktu ke waktu, diantaranya karena konversi hutan untuk pembangunan sektor non kehutanan, perambahan dan kebakaran hutan maupun kegiatan rehabilitasi hutan.

    “Untuk mengetahui keberadaan dan luas tutupan lahan baik berhutan maupun tidak berhutan, kami melakukan pemantauan hutan dan deforestasi setiap tahun,” katanya.

    Pemantauan hutan dan deforestasi ini dilakukan pada seluruh daratan Indonesia seluas 187 juta hektar, baik di dalam kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan, dan berdasarkan pada peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) dalam program Kebijakan Satu Peta (KSP). 

     

    Baca: Mekanisme perdagangan karbon ditataulang untuk maksimalkan keuangan negara

    Pemantauan ini dilakukan menggunakan data utama citra satelit landsat yang disediakan Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (OR-PA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan diidentifikasi secara visual oleh tenaga teknis penafsir KLHK yang tersebar di seluruh Indonesia.

    Hasil pemantauan hutan Indonesia Tahun 2022 menunjukkan bahwa luas lahan berhutan seluruh daratan Indonesia adalah 96,0 juta ha atau 51,2 persen dari total daratan.

    Di mana 92,0 persen dari total luas berhutan atau 88,3 juta ha berada di dalam kawasan hutan. 

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen

    Sementara itu, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan (IPSDH) Ditjen PKTL Belinda A. Margono menjelaskan angka deforestasi Indonesia tahun 2021-2022 sebesar 104 ribu ha itu berasal dari angka deforestasi bruto sebesar 119,4 ribu ha dikurangi reforestasi sebesar 15,4 ribu ha.

    Sebagai pembanding, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha, yang berasal dari angka deforestasi bruto sebesar 139,1 ribu ha dikurangi reforestasi sebesar 25,6 ribu ha.

    Belinda menjelaskan, luas deforestasi bruto tahun 2021-2022 tertinggi terjadi di kelas hutan sekunder, yaitu 106,4 ribu ha (89,1 persen). Di mana 70,9 persen atau 75,4 ribu ha berada di dalam kawasan hutan. Sedangkan seluas 31,0 ribu ha atau 29,1 persen sisanya berada di luar kawasan hutan.

    Baca: Mengapa pemerintah berencana menerapkan pajak karbon

    Namun demikian, Forest Digest menyebut bahwa pernyataan KLHK tentang angka deforestasi netto ini harus ditelaah lebih lanjut.

    Untuk mengetahui berapa angka deforestasi yang sesungguhnya diperlukan angka deforestasi dan reforestasi yang berhasil. 

    Masalahnya, kita tidak tahu berapa luas reforestasi yang gagal atau berhasil itu sehingga menjadi angka yang sahih dalam membandingkan reforestasi dan deforestasi hutan Indonesia. Angka ini penting untuk mengetahui luas sebenarnya hutan Indonesia.

  • Deforestasi Dilaporkan Turun, MADANI Berkelanjutan Soroti Hilangnya Hutan Alam

    Deforestasi Dilaporkan Turun, MADANI Berkelanjutan Soroti Hilangnya Hutan Alam

    7cloud.asia – Capaian pemerintah dalam menekan angka deforestasi dan upaya pemerintah dalam memenuhi komitmen iklim Indonesia mendapat apresiasi dari sejumlah pihak.

    Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa deforestasi Indonesia pada 2021-2022 turun sebesar 8,4 persen dibandingkan periode sebelumnya.

    Namun demikian, MADANI Berkelanjutan mendorong khalayak untuk menyelisik angka deforestasi tersebut dan meminta pemerintah untuk memberikan gambaran yang lebih utuh tentang situasi hutan alam Indonesia.

    “Kita harus melihat secara khusus penyusutan hutan alam, terpisah dari penyusutan dan penanaman hutan tanaman,” ujar Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan, Nadia Hadad dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (9/7/2023)  menanggapi turunnya angka deforestasi yang diumumkan pemerintah.

    Baca: Laju deforestasi di Indonesia terus menurun

    Berbeda dari hutan tanaman yang monokultur dan menghasilkan jasa ekosistem yang terbatas, hutan alam memiliki banyak peran kritis bagi kehidupan.

    Hutan Alam berperan mengurangi risiko bencana, mencegah memburuknya krisis iklim, dan melestarikan keanekaragaman hayati, sehingga mencegah deforestasi mutlak dibutuhkan.

    Kehilangan hutan alam juga bisa berarti kehilangan kekayaan budaya bangsa, terutama budaya masyarakat lokal dan masyarakat adat yang tinggal di dalam atau sekitar kawasan hutan.

    “Hutan alam juga krusial untuk mencapai target Indonesia FOLU Net Sink 2030 dan Net Zero Emissions 2060 atau lebih cepat,” tambah Nadia Hadad.

    Baca: Jelang pemilu dan pilkada, masyarakat diajak awasi pemberian izin membuka lahan

    Selain itu, Nadia Hadad juga menyerukan bahwa sudah saatnya pemerintah membuka data kehilangan hutan alam di wilayah izin dan konsesi.

    Kajian MADANI Berkelanjutan terkait deforestasi pada periode sebelumnya (2020-2021) memperlihatkan bahwa jenis hutan alam sekunder adalah yang paling rentan alami deforestasi.

    Kajian yang sama juga memperlihatkan bahwa hilangnya hutan alam terbesar justru terjadi di Kawasan Hutan, khususnya Kawasan Hutan Produksi yang berkaitan dengan wilayah izin dan konsesi.

    Izin dan konsesi di Indonesia mengelola hutan alam dengan jumlah sangat besar.

    Baca: Indonesia menjadi salah satu negara dengan hutan terluas di dunia

    Kajian MADANI Berkelanjutan pada periode sebelumnya (2020-2021) menunjukkan bahwa 62% hilangnya hutan alam terjadi di dalam izin dan konsesi.

    Tumpang-tindih perizinan menyulitkan upaya untuk melihat izin atau konsesi mana yang menjadi pendorong utama susutnya hutan alam.

    Hilangnya hutan alam juga terjadi di Area of Interest Food Estate yang mendapatkan berbagai karpet merah regulasi sebagai Proyek Strategis Nasional sehingga Program ini rentan menjadi driver of deforestation baru.

    “Kajian MADANI Berkelanjutan menunjukkan sekitar 2.000 hektare hutan alam hilang di Area of Interest Food Estate pada periode 2020-2021,” terang Nadia Hadad.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penyerap karbon

    MADANI Berkelanjutan (Manusia dan Alam untuk Indonesia Berkelanjutan) adalah lembaga nirlaba yang bertujuan untuk memperkuat berbagai inisiatif lokal dan nasional dalam menyelamatkan hutan Indonesia.

    MADANI Berkelanjutan mengembangkan strategi menjembatani hubungan berbagai pemangku kepentingan untuk mencapai solusi inovatif terkait tata kelola hutan dan lahan.

     

  • Pemerintah Diminta Terbuka Soal Hilangnya Hutan di Hutan Skunder

    Pemerintah Diminta Terbuka Soal Hilangnya Hutan di Hutan Skunder

    7cloud.asia – Direktur MADANI berkelanjutan Nadia Hadad mengatakan, sudah saatnya pemerintah membuka data kehilangan hutan alam di wilayah izin dan konsesi. Pernyataan ini menanggapi pengumuman KLHK yang menyatakan deforestasi di Indonesia terus menurun.

    MADANI Berkelanjutan (lembaga yang bertujuan untuk memperkuat berbagai inisiatif dalam menyelamatkan hutan Indonesia) menilai angka deforestasi yang dirilis KLHK perlu ditelisik kesahihannya.

    Kajian MADANI Berkelanjutan  terkait deforestasi pada periode sebelumnya (2020-2021) memperlihatkan bahwa jenis hutan alam sekunder adalah yang paling rentan terdeforestasi.

    Baca: KLHK menyebut deforestasi terus turun setelah memuncak pada 2016

    Kajian yang sama juga memperlihatkan bahwa hilangnya hutan alam terbesar justru terjadi di Kawasan Hutan, khususnya Kawasan Hutan Produksi yang berkaitan dengan wilayah izin dan konsesi.

    “Izin dan konsesi di Indonesia mengelola hutan alam dengan jumlah sangat besar. Kajian MADANI Berkelanjutan pada periode sebelumnya (2020-2021) menunjukkan bahwa 62% hilangnya hutan alam terjadi di dalam izin dan konsesi,” ujar Nadia dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (9/7/2023)

    Tumpang-tindih perizinan, ujarnya, menyulitkan upaya untuk melihat izin atau konsesi mana yang menjadi pendorong utama susutnya hutan alam.

    Baca: Hilangnya hutan alam akibat deforestasi

    Hilangnya hutan alam juga terjadi di Area of Interest Food Estate yang mendapatkan berbagai karpet merah regulasi sebagai Proyek Strategis Nasional sehingga Program ini rentan menjadi driver of deforestation baru.

    Kajian MADANI Berkelanjutan menunjukkan sekitar 2.000 hektare hutan alam hilang di Area of Interest Food Estate pada periode 2020-2021,” terang Nadia Hadad.

    “Penyelamatan hutan alam tersisa terutama untuk hutan alam sangat krusial di izin perkebunan sawit, Hutan Tanaman, dan tambang karena kegiatan usahanya cenderung melibatkan banyak pembukaan lahan,” tegasnya.

    Baca: Komitmen Indonesia penuhi Deklarasi Glasgow menuai pujian 

    Ia melanjutkan, jika hutan alam di area izin atau konsesi hilang, Indonesia niscaya gagal mencapai komitmen iklimnya. Pemerintah juga harus mengumumkan ketegasan untuk melindungi hutan alam dalam penyelesaian keterlanjuran izin-izin di kawasan hutan serta membuat prosesnya transparan.

    “Tertutupnya proses saat ini meningkatkan risiko hilangnya hutan alam karena kurangnya public scrutiny,” tambah Nadia Hadad.

    Pemerintah juga perlu melindungi hutan alam di luar izin yang belum dilindungi melalui berbagai instrumen kebijakan yang menggabungkan pendekatan command and control dan pendekatan insentif-disinsentif.

    Baca: Riset tunjukkan emisi gas rumah kaca capai rekor tahun ini

    Sekitar 9,7 juta hektare hutan alam di luar izin atau konsesi, area moratorium, dan area yang dicadangkan untuk perhutanan sosial (PIAPS) masih belum terlindungi dan rentan terdeforestasi.

     

    Hutan alam yang belum terlindungi ini harus segera dilindungi melalui berbagai instrumen kebijakan seperti perluasan area moratorium ke seluruh hutan alam.

    Kebijakan ini termasuk yang dikategorikan sebagai hutan alam sekunder, Kawasan Ekosistem Esensial, insentif bagi jasa lingkungan, maupun berbagai instrumen kebijakan lain.

    Baca: Indonesia menjadi salah satu negara dengan hutan terluas di dunia

    Setengah dari hutan alam yang belum terlindungi ini bahkan sudah masuk ke dalam Peta Arahan Pemanfaatan Hutan (PAPH) yang diperuntukkan untuk pemberian Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan baru.

    Untuk mencegah semakin susutnya hutan alam, perlu ada peraturan perundang-undangan atau kebijakan yang menegaskan bahwa hutan alam di area PAPH tidak akan diperuntukkan untuk pemanfaatan kayu melainkan hanya untuk jasa lingkungan dan Hasil Hutan Bukan Kayu.

    Selain itu, mengingat sudah sangat besarnya penguasaan hutan alam oleh perusahaan skala besar, sudah saatnya pemerintah mengutamakan pengelolaan hutan alam oleh masyarakat dan bukan Perizinan Berusaha skala besar,” pungkas Nadia Hadad.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen

     

  • Tujuh Komoditas Indonesia Bakal Terdampak Aturan Anti Deforestasi Uni Eropa

    Tujuh Komoditas Indonesia Bakal Terdampak Aturan Anti Deforestasi Uni Eropa

    7cloud.asia – Tujuh komoditas Indonesia akan terdampak Undang-Undang Anti -deforestrasi Uni Eropa atau European Union Deforestation-Free Regulations (EUDR).

    Hal itu diungkapkan Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan pers usai ratas membahas implementasi UU Anti deforestasi Uni Eropa yang dipimpin Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (13/07/2023).

    Saat memimpin ratas Jokowi menekankan bahwa pemerintah menaruh perhatian pada aturan anti deforestasi sudah diundangkan di Uni Eropa tersebut.

    Baca: Pemerintah diminta terbuka soal data hilangnya hutan skunder

    Pemerintah berharap pedoman pelaksanaan regulasi anti deforestasi Uni Eropa tersebut dapat mengadopsi apa yang sudah menjadi praktik terbaik selama ini.

    Seperti Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk produk kayu atau Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk komoditas sawit.

    “Kita ingin agar implementation guide line-nya itu mengadopsi apa yang sudah menjadi best practice, termasuk untuk kayu-SVLK, kemudian sawit-RSPO/ISPO, ataupun kemarin joint mission dengan Malaysia menjadi MSPO,” ujar Airlangga.

    Baca: KLHK sebut laju deforestasi di Indonesia terus menurun

    Airlangga mengatakan, kebijakan anti deforestasi Uni Eropa tersebut akan berdampak pada tujuh komoditas Indonesia, antara lain, sapi, kakao, sawit, soya, kayu, hingga karet.

    Dalam kebijakannya, Uni Eropa meminta agar barang-barang atau komoditas yang masuk ke Eropa bebas dari deforestasi—tergantung kepada undang-undang di negara masing-masing—dan dilengkapi uji kelayakan.

    Selain itu, negara-negara juga akan diklasifikasikan menjadi tiga kategori berdasarkan risikonya, yaitu risiko tinggi, risiko standar, dan risiko rendah.

    Baca: Masyarakat sipil soroti pelepasan hutan di Kalimantan Timur

    Airlangga mengatakan, kebijakan anti deforestasi Uni Eropa tersebut diperkirakan akan berdampak kepada 15-17 juta pekebun dan produk Indonesia hingga senilai 7 juta dolar AS.

    Ini, lanjut Airlangga, sangat mengganggu kepada small holder, 15-17 juta pekebun kita akan terdampak dengan ini dan juga masalah geolocation.

    “Yang kita berkeberatan karena tidak perlu geolocation untuk setiap produk itu dicek karena kita punya berbasis standar RSPO ataupun SVLK,” imbuhnya.

    Baca: Komitmen Indonesia penuhi Pakta Glasglow mendapat apresiasi

    Pada kesempatan terpisah, Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menyebut bahwa kebijakan anti deforestasi Uni Eropa tersebut merupakan kebijakan yang diskriminatif karena menyasar produk-produk Indonesia harus terjamin bebas dari praktik deforestasi.

    Zulkifli Hasan mengatakan, pemerintah akan berupaya mengajak negara-negara lain yang turut terdampak kebijakan tersebut untuk melakukan perlawanan.

    “Itu sangat diskriminatif. Oleh karena itu kita akan melakukan perlawanan nanti berunding melakukan perlawanan tentu mengajak negara-negara yang punya kesamaan seperti Malaysia,” kata Mendag.

    Sumber: Setkab

  • Lewat Komitmen Glasgow, 100 Kepala Negara Sepakat Hentikan Deforestasi pada 2030

    Lewat Komitmen Glasgow, 100 Kepala Negara Sepakat Hentikan Deforestasi pada 2030

     
    7cloud.asia – Awal November 2021 lalu, lewat Komitmen Glasgow, lebih dari seratus pemimpin dunia termasuk Indonesia akan mengikrarkan janji untuk mengakhiri deforestasi dan mengembalikan fungsi hutan pada tahun 2030.
    Janji untuk akhiri deforestasi itu akan tertuang dalam kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) terkait iklim (COP26) di Glasgow yang dihadiri Presiden Indonesia Joko Widodo.

    Sebagai pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia dianggap salah satu negara kunci yang akan meneken kesepakatan Glasgow soal deforestasi tersebut.

    Minyak sawit terkandung dalam berbagai produk, dari sampo hingga biskuit. Industri kelapa sawit selama ini turut memicu deforestasi yang mengakibatkan perusakan hutan dan hilangnya wilayah masyarakat adat.

     
    Baca: Tujuh komoditas Indonesia bakal terdampak aturan anti deforestasi Uni Eropa

    Negara lain yang dianggap penting dalam kesepakatan Glasgow soal deforestasi ini adalah Brasil. Sebagian besar hutan hujan Amazon di Brasil telah ditebang dan beralih fungsi untuk keperluan industri dalam beberapa dekade.

    Kesepakatan di Glasgow mencakup bantuan senilai hampir 19,2 miliar dolar AS (Rp273 triliun) yang dihimpun dari dana publik dan swasta.

    Sejumlah pakar menyambut baik langkah yang diambil para pemimpin negara di COP26 Glasgow ini. Meski begitu, mereka mengungkap bahwa kesepakatan iklim di New York tahun 2014 gagal memperlambat deforestasi.

    Komitmen untuk menindaklanjuti kesepakatan internasional, menurut para ahli lingkungan, perlu diwujudkan.

     
    Baca: Pemerintah diminta transparan soal hilangnya hutan skunder

    Penebangan pohon atau deforestasi selama ini berkontribusi memicu perubahan iklim. Hutan yang gundul tak dapat menyerap gas karbon dioksida yang menghangatkan bumi.

    KTT COP26 sepanjang dua minggu di Glasgow, Skotlandia, dipandang penting jika para pemimpin dunia ingin mengendalikan perubahan iklim.

    Sejumlah negara yang menyatakan akan meneken kesepakatan di COP26, antara lain Kanada, Brasil, Rusia, dan Indonesia. Negara ini mencakup sekitar 85% hutan dunia.

    Sebagian dari dana yang dihimpun dalam KTT ini nantinya akan diberikan ke negara-negara berkembang untuk memulihkan lahan yang rusak, mengatasi kebakaran hutan dan mendukung eksistensi masyarakat adat.

     
    Baca: Indonesia tuai pujian untuk turunkan deforestasi

    Pemerintahan dari 28 negara juga akan berkomitmen untuk menghapus deforestasi dari perdagangan global makanan dan produk pertanian lainnya seperti minyak kelapa sawit, kedelai, dan kakao.

    Industri-industri ini mendorong hilangnya hutan dengan menebang pohon untuk memberi ruang bagi hewan ternak dan tanaman.

    Lebih dari 30 perusahaan terbesar dunia akan berkomitmen untuk mengakhiri investasi dalam kegiatan yang terkait dengan deforestasi.

    Dana sebesar 1,5 miliar dolar AS (Rp21 triliun) juga akan dikumpulkan untuk melindungi hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia, yang berada di Cekungan Kongo.

     
    Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, yang menjadi tuan rumah pertemuan global di Glasgow, menyebut kesepakatan ini sebagai perjanjian penting untuk melindungi dan memulihkan hutan bumi.

    “Ekosistem besar yang beranekaragam ini, katedral alam ini, adalah paru-paru planet kita,” begitu kata-kata yang rencananya akan dia tuturkan.

    Simon Lewis, pakar iklim dan hutan di University College London, mengatakan, “Ini adalah kabar baik bahwa ada komitmen politik untuk mengakhiri deforestasi dari begitu banyak negara dan pendanaan yang signifikan untuk melanjutkan upaya itu.”

    Namun Lewis berkata bahwa masyarakat dunia sebelumnya pernah berada pada tahap ini, tepatnya saat deklarasi iklim disepakati pada tahun 2014 di New York. Perjanjian itu, menurut Lewis, “sama sekali gagal memperlambat deforestasi”.

     
    Lewis menyebut, kesepakatan baru ini tidak mengatasi meningkatnya permintaan produk seperti daging.
     
    Menurutnya, tantangan itu perlu diatasi dengan intervensi terhadap konsumsi daging yang tinggi di negara seperti Amerika Serikat dan Inggris.

    Ana Yang, Direktur Eksekutif di Chatham House Sustainability Accelerator, yang ikut menulis laporan berjudul Rethinking the Brazilian Amazon, mengatakan, “Kesepakatan ini melibatkan lebih banyak negara, lebih banyak pemain, dan lebih banyak uang.

    “Ini adalah langkah yang sangat penting di COP26. Pertemuan ini seputar peningkatan tingkat ambisi dan menjaga suhu global naik di bawah 1,5 celcius. Ini sangat mendasar,” ujarnya.

     

    Tuntiak Katan, pegiat dari Koordinasi Komunitas Adat Lembah Amazon, menyambut baik kesepakatan itu. Dia berkata, masyarakat adat berada di garis depan dalam menghentikan deforestasi.

    Katan, seorang dari suku Shuar dari Ekuador, menyebut masyarakat adat secara global melindungi 80% keanekaragaman hayati dunia. Namun mereka terus-menerus menghadapi ancaman dan kekerasan.

    “Selama bertahun-tahun kami telah melindungi cara hidup kami dan itu telah melindungi ekosistem dan hutan. Tanpa kami, tidak ada uang atau kebijakan yang dapat menghentikan perubahan iklim,” katanya.

    Sumber: BBC Indonesia
     
  • Perkebunan Monokultur Penyumbang Terbesar Deforestasi atau Penebangan Hutan Global

    Perkebunan Monokultur Penyumbang Terbesar Deforestasi atau Penebangan Hutan Global

    7cloud.asia – Meskipun laju deforestasi telah menurun selama tiga dekade terakhir, dunia masih tetap kehilangan kehilangan ribuan hektare hutan setiap harinya.

    Dunia telah menebang 10 juta hektare hutan setiap tahunnya untuk menciptakan ruang bagi tanaman pangan dan peternakan, serta untuk memproduksi bahan-bahan seperti kertas.

     

    Sejak tahun 1990, 420 juta hektar hutan telah hilang akibat aktivitas manusia termasuk pembukaan lahan untuk pertanian dan penebangan kayu atau yang disebut dengan deforestasi.

    Akibat deforestasi,  tutupan hutan hanya mencakup sekitar 31 persen dari total luas daratan dunia pada Pada tahun 2020. 

    Baca: Indonesia dan Brasil peyumbang terbesar deforestasi hutan tropis dunia

    Bahkan dunia mencatat, pada September 2022 tercatat dalam sejarah sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan hujan terbesar dan terpenting di dunia

     

    Setidaknya 3,75 juta hektare hutan hujan primer tropis hilang pada tahun 2021 saja.

    Hal ini menghasilkan 2,5 miliar ton emisi karbon dioksida, setara dengan emisi bahan bakar fosil tahunan di India dan hampir 10 lapangan sepak bola per menit.

    Banyak hutan juga telah diubah menjadi perkebunan monokultur, yang berarti menanam spesies tanaman yang sama di seluruh lahan.

    Baca: Tujuh komoditas INdonesia kena aturan Antideforestasi Uni Eropa

    Deforestasi untuk tanaman monokultur ini  tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati ekosistem, namun juga meningkatkan risiko erosi tanah sekaligus mengurangi kandungan nutrisi tanah

    Salah satu tanaman monokultur yang memicu deforestasi adalah pengembangan kebun sawit secara besar-besaran.

    Industri kelapa sawit juga bertanggung jawab atas sejumlah besar deforestasi di seluruh dunia.

    Minyak sawit digunakan dalam lebih dari dua pertiga produk makanan yang kita konsumsi sehari-hari, mulai dari minyak sayur, coklat, biskuit, serta produk rumah tangga lainnya seperti sabun dan sampo.

    Baca: KLHK sebut laju deforestasi di Indonesia menurun

    Untuk memenuhi permintaan tersebut, lahan hutan yang luasnya setara dengan 300 lapangan sepak bola ditebangi setiap jamnya untuk memberi ruang bagi perkebunan kelapa sawit.

    Penebangan hutan untuk kebun sawit ini menghancurkan habitat penting bagi spesies yang terancam punah seperti orangutan dan harimau Sumatera.

    Budidaya tanaman kedelai juga menjadi salah satu penyebab deforestasi. Banyak orang menganggap kedelai sebagai bagian dari pola makan nabati.

    Tapi tanaman kedelai juga banyak digunakan sebagai pakan ternak dan untuk mendukung permintaan produksi daging yang sangat besar.

    Baca: Indonesia termasuk negara dengan hutan terluas di dunia

    Pakan ternak menghasilkan 77% produksi kedelai, sementara hanya 19,2% yang langsung digunakan sebagai produk pangan manusia.

    Secara global, kedelai bertanggung jawab atas 12 persen dari angka deforestasi di planet Bumi.

    Sumber: earth.org, baca artikel asli di sini

  • Indonesia dan Brasil Jadi Penyumbang Terbesar Deforestasi di Hutan Tropis

    Indonesia dan Brasil Jadi Penyumbang Terbesar Deforestasi di Hutan Tropis

    7cloud.asia – Sejak tahun 1990, setidaknya 420 juta hektare hutan di muka Bumi telah hilang akibat aktivitas manusia yang disebut dengan istilah  defroestasi.

    Masuk dalam deforestasi ini adalah pembukaan lahan dan hutan untuk pertanian/peternakan ataupun diambil kayunya. 

    Meskipun laju deforestasi telah menurun selama tiga dekade terakhir, Bumi masih saja kehilangan ribuan hektare hutan setiap harinya. Dalam setahun, jutaan hektare hutan hilang dari muka Bumi.

    Pada tahun 2020, tutupan hutan tercatat 4 miliar hektare atau hanya mencakup sekitar 31 persen dari total luas daratan dunia. 

    Baca: Mengenal komitmen Glasgow untuk hentikan deforestasi 

    Dan, September 2022 tercatat dalam sejarah sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan hujan tropis terbesar dan terpenting di dunia yang terletak di Amerika Latin.

    Ada beberapa  fakta menakjubkan tentang deforestasi yang perlu kita ketahui dan mengapa kita perlu melindungi hutan lebih serius ketimbang sebelumnya.

    Dunia kehilangan sekitar 10 juta hektare hutan setiap tahunnya. Deforestasi ini dilakukan dengan alasan atau atas nama penciptaan ruang bagi tanaman pangan dan peternakan.

    Sebagian dari deforestasi ini juga dilakukan untuk memproduksi bahan-bahan seperti kertas atau kayu untuk pembangunan rumah.

    Baca: Tujuh komoditas Indonesia yang terkena aturan anti deforestasi Uni Eropa

    Jumlah ini menyumbang sekitar 16 persen dari total hilangnya tutupan pohon di hutan-hutan di seluruh dunia.

    “Sekitar 96 persen deforestasi terjadi di hutan tropis,” tulis earth.org

    Lebih spesifik, sebagian besar deforestasi di daerah tropis disumbang oleh Brasil dan Indonesia yang menyumbang hampir setengah dari deforestasi itu.

    Dan, sepertiga deforestasi hutan tropis terjadi di Brazil saja. Jumlahnya sekitar 1,7 juta hektare setiap tahunnya.

    Baik Brasil maupun Indonesia adalah rumah bagi hutan tropis terbesar dan paling beragam di dunia.

    Baca: Pemerintah diminta terbuka soal data deforestasi di hutan skunder di Indonesia

    Ketika industri pertanian terus melakukan pembukaan lahan untuk tanaman pangan dan peternakan, ancaman terhadap keanekaragaman hayati semakin memburuk.

    Studi mengatakan populasi hewan yang diamati mengalami penurunan jumlah populasi rata-rata sebesar 68 persen, akibat deforestasi. 

    Di Kalimantan, deforestasi untuk perkebunan sawit telah mengancam kelestarian  orangutan.

    “Hampir 80 persen populasi orangutan musnah akibat deforestasi di hutan Kalimantan dalam 50 tahun terakhir, ” tulis earth.org.

    Baca: Setelah memuncak pada 2016, laju deforestasi di Indonesia terus turun

  • Penebangan Hutan atau Deforestasi Sumbang Emisi Karbon dan Picu Masalah Lingkungan

    Penebangan Hutan atau Deforestasi Sumbang Emisi Karbon dan Picu Masalah Lingkungan

    7cloud.asia – Deforestasi atau pembukaan hutan menjadi masalah lingkungan yang hingga kini belum terselesaikan.

    Sejak tahun 1990, 420 juta hektare hutan telah hilang akibat aktivitas manusia termasuk pembukaan lahan untuk pertanian dan penebangan kayu. Deforestasi ini telah memicu berbagai masalah lingkungan.

    Salah satu masalah lingkungan yang disebabkan deforestasi adalah emisi karbon. Para ilmuwan dunia menyebut, deforestasi menyumbang sekitar 4,8 miliar ton emisi karbon dioksida atau CO2 setahun.

    Baca: Indonesia dan Brasil dituding sebagai penyumbang deforestasi terbesar

    Emisi karbon akibat hilangnya hutan dunia yang dipicu deforestasi ini setara dengan hampir 10% emisi tahunan manusia.

    Kabar buruknya, Indonesia disebut sebagai sebagai sumber utama emisi karbon di dunia akibat deforestasi di Kalimantan.

    Peneliti NASA menemukan bahwa percepatan metode penebangan dan pembakaran dalam pembukaan lahan di Kalimantan, berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon global terbesar dalam satu tahun, selama dua milenium terakhir. 

    Baca: Komitmen Indonesia turunkan deforestasi

    Pulau Kalimantan sendiri merupakan pulau terbesar ketiga di dunia dan rumah bagi salah satu hutan tropis tertua di dunia.

    Selain Indonesia, Brasil juga disebut sebagai salah satu penyumbang deforestasi di hutan tropis.

    Dan, dunia mencatat September 2022 sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan tropis terbesar dan terpenting di dunia, sepanjang sejarah Bumi.

    Baca: Lewat Komitmen Glasgow, 100 negara dunia sepakat kurangi deforestasi

    Berbagai upaya dilakukan untuk menahan laju deforestasi terutama yang dilakukan di hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Namun demikian, belum terjadi perkembangan yang signifikan.  

    Earth.org menulis, sebanyak 3,75 juta hektare hutan hujan primer tropis hilang pada tahun 2021 saja.

    “Hal ini menghasilkan 2,5 miliar ton emisi karbon dioksida, setara dengan emisi bahan bakar fosil tahunan di India dan hampir 10 lapangan sepak bola per menit,” tulis earth.org.

    Baca: Jika tidak hati-hati, Bursa Karbon justri bisa picu ketidakadilan iklim

    Meskipun laju deforestasi telah menurun selama tiga dekade terakhir, dunia  semakin kehilangan ribuan hektar setiap harinya.

    Dunia telah menebang 10 juta hektar pohon setiap tahunnya untuk menciptakan ruang bagi tanaman pangan dan peternakan, serta untuk memproduksi bahan-bahan seperti kertas.

    Jumlah ini menyumbang sekitar 16 persen dari total hilangnya tutupan pohon, Dan, sebagian besar atau 96 persen deforestasi terjadi di hutan tropis.

    Baca: DPR usulkan insentif bagi daerah penghasil oksigen

     

  • Industri Peternakan Sumbang 41 Persen Deforestasi atau Penebangan Hutan Dunia

    Industri Peternakan Sumbang 41 Persen Deforestasi atau Penebangan Hutan Dunia

    7cloud.asia – Meski laju deforestasi atau penebangan hutan telah menurun selama tiga dekade terakhir, dunia tetap saja kehilangan ribuan hektare hutan setiap harinya.

    Pada 2021, negara-negara dunia sebenarnya telah sepakat untuk menahan laju deforestasi dengan meneken Komitmen Glasgow, namun penebangan hutan tetap terjadi.

    Bahkan, September 2022 tercatat dalam sejarah sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan hujan terbesar dan terpenting di dunia. 

    Baca: Sekilas tentang Komitmen Glasgow untuk hentikan deforestasi pada 2030

    Salah satu fakta tentang deforestasi yang menggerus luasan hutan di muka planet Bumi disumbang oleh industri peternakan.

    Para ahli menyebut, industri untuk menghasilkan daging sapi bertanggung jawab atas 41 persen angka deforestasi global.

    Jadi bisa dibayangkan berapa luas hutan yang harus ditebang atau mengalami deforestasi untuk industri ini.

    Baca: Komoditas Indonesia yang terkena dampak aturan antideforestasi Uni Eropa

    Industri peternakan perlu membuka hutan untuk lahan penggembalaan yang luas untuk ternak (dan hewan ternak) guna memenuhi permintaan daging sapi global.

    Diperkirakan 81.081 mil persegi lahan hutan hilang setiap tahunnya untuk produksi daging, 80% di antaranya terjadi di Amazon.

    Negara-negara maju seperti AS dan Tiongkok, yang merupakan konsumen daging sapi terbesar di dunia, mengonsumsi hampir sepertiga daging dunia, merupakan salah satu penyebab terbesar deforestasi.

    Baca: Indonesia dan Brasil disebut sebagai penyumbang deforestasi atau penghilangan hutan hujan tropis

    Namun beberapa tahun terakhir negara-negara berkembang juga melakukan hal yang sama, yakni membuka hutan untuk peternakan. 

    Negara berkembang berada pada jalur peningkatan deforestasi sebesar empat kali lipat dibandingkan negara-negara maju pada tahun 2028.

    Banyak negara yang menyerukan agar masyarakat mengadopsi pola makan nabati sebagai metode memerangi deforestasi dan mempertahankan luasan lahan yang ditutupi hutan.

    Baca: Laju deforestasi di Indonesia terus menurun

    Menjadi vegan juga disebut akan membantu mengurangi efek rumah kaca. emisi gas dari industri pertanian dan memperlambat pemanasan global.

    Jadi bisa dikatakan, dengan menjadi vegetarian dan tidak mengonsumsi daging menjadi salah satu cara kita melindungi hutan dunia. 

    Sumber: earth.org.

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Deforestasi atau Penggundulan Hutan

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Deforestasi atau Penggundulan Hutan

    7cloud.asia – Deforestasi atau penggundulan hutan menjadi masalah lingkungan terbesar yang hingga 2023 ini belum sepenuhnya teratasi. 

    Seperti kita ketahui hutan dengan segala macam tumbuhan penyerap CO2 yang sangat efektif. Fauna di dalamnya adalah sumber kehidupan. Dan, Deforestasi menyebabkan kekayaan hayati hilang.

    Selain sebagai penyerap karbon, hutan juga membantu mencegah erosi tanah, karena akar pohon mengikat tanah dan mencegahnya hanyut, sehingga juga mencegah tanah longsor.

    Deforestasi atau penggundulan hutan juga bisa memicu berbagai masalah lingkungan seperti longsor dan pemenasan global. 

    Itu sebabnya para pakar terus berjuang untuk mengerem laju deforestasi, seperti dikutip earth.org.

    Baca: Pemanasan global, masalah lingkungan terbesar 2023

    Lantas seberapa parah deforestasi menyebabkan masalah lingkungan? Setiap jam, hutan seluas 300 lapangan sepak bola ditebang.

    Jika deforestasi ini dibiarkan, maka pada tahun 2030, planet Bumi mungkin hanya memiliki 10% hutan.

    Dalam jangka panjang, deforestasi akan mengakibatkan semua hutan tersebut akan musnah dalam waktu kurang dari 100 tahun.

    Tiga negara yang mengalami tingkat deforestasi tertinggi adalah Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia.

    Baca: Perkebunan monokultur disebut sebagai pemicu deforestasi

    Amazon, hutan hujan terbesar di dunia – yang terbentang seluas 6,9 juta kilometer persegi (2,72 juta mil persegi) dan mencakup sekitar 40% benua Amerika Selatan kini sedang terancam kelestariannya.

    Padahal hutan Amazon merupakan salah satu ekosistem yang paling beragam secara biologis dan merupakan rumah bagi sekitar tiga juta spesies tanaman dan binatang.

    Meskipun ada upaya untuk melindungi lahan hutan, deforestasi legal masih merajalela, dan sekitar sepertiga deforestasi tropis global terjadi di hutan Amazon di Brasil, yang mencapai 1,5 juta hektar setiap tahunnya.

    Dunia telah menebang 10 juta hektar pohon setiap tahunnya untuk menciptakan ruang bagi tanaman pangan dan peternakan, serta untuk memproduksi bahan-bahan seperti kertas.

    Baca: Indonesia dan Brasil disebut penyumbang deforestasi terbesar di dunia

    Pertanian dan perkebunan disebut sebagai pemicu utama penggundulan hutan, salah satu masalah lingkungan terbesar yang muncul dalam daftar ini.

    Lahan dibuka untuk beternak atau untuk menanam tanaman lain yang dijual, seperti kedelai di AS dan tebu/kelapa sawit di Indonesia.