Lewat Komitmen Glasgow, 100 Kepala Negara Sepakat Hentikan Deforestasi pada 2030

Written by

in

 
7cloud.asia – Awal November 2021 lalu, lewat Komitmen Glasgow, lebih dari seratus pemimpin dunia termasuk Indonesia akan mengikrarkan janji untuk mengakhiri deforestasi dan mengembalikan fungsi hutan pada tahun 2030.
Janji untuk akhiri deforestasi itu akan tertuang dalam kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) terkait iklim (COP26) di Glasgow yang dihadiri Presiden Indonesia Joko Widodo.

Sebagai pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia dianggap salah satu negara kunci yang akan meneken kesepakatan Glasgow soal deforestasi tersebut.

Minyak sawit terkandung dalam berbagai produk, dari sampo hingga biskuit. Industri kelapa sawit selama ini turut memicu deforestasi yang mengakibatkan perusakan hutan dan hilangnya wilayah masyarakat adat.

 
Baca: Tujuh komoditas Indonesia bakal terdampak aturan anti deforestasi Uni Eropa

Negara lain yang dianggap penting dalam kesepakatan Glasgow soal deforestasi ini adalah Brasil. Sebagian besar hutan hujan Amazon di Brasil telah ditebang dan beralih fungsi untuk keperluan industri dalam beberapa dekade.

Kesepakatan di Glasgow mencakup bantuan senilai hampir 19,2 miliar dolar AS (Rp273 triliun) yang dihimpun dari dana publik dan swasta.

Sejumlah pakar menyambut baik langkah yang diambil para pemimpin negara di COP26 Glasgow ini. Meski begitu, mereka mengungkap bahwa kesepakatan iklim di New York tahun 2014 gagal memperlambat deforestasi.

Komitmen untuk menindaklanjuti kesepakatan internasional, menurut para ahli lingkungan, perlu diwujudkan.

 
Baca: Pemerintah diminta transparan soal hilangnya hutan skunder

Penebangan pohon atau deforestasi selama ini berkontribusi memicu perubahan iklim. Hutan yang gundul tak dapat menyerap gas karbon dioksida yang menghangatkan bumi.

KTT COP26 sepanjang dua minggu di Glasgow, Skotlandia, dipandang penting jika para pemimpin dunia ingin mengendalikan perubahan iklim.

Sejumlah negara yang menyatakan akan meneken kesepakatan di COP26, antara lain Kanada, Brasil, Rusia, dan Indonesia. Negara ini mencakup sekitar 85% hutan dunia.

Sebagian dari dana yang dihimpun dalam KTT ini nantinya akan diberikan ke negara-negara berkembang untuk memulihkan lahan yang rusak, mengatasi kebakaran hutan dan mendukung eksistensi masyarakat adat.

 
Baca: Indonesia tuai pujian untuk turunkan deforestasi

Pemerintahan dari 28 negara juga akan berkomitmen untuk menghapus deforestasi dari perdagangan global makanan dan produk pertanian lainnya seperti minyak kelapa sawit, kedelai, dan kakao.

Industri-industri ini mendorong hilangnya hutan dengan menebang pohon untuk memberi ruang bagi hewan ternak dan tanaman.

Lebih dari 30 perusahaan terbesar dunia akan berkomitmen untuk mengakhiri investasi dalam kegiatan yang terkait dengan deforestasi.

Dana sebesar 1,5 miliar dolar AS (Rp21 triliun) juga akan dikumpulkan untuk melindungi hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia, yang berada di Cekungan Kongo.

 
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, yang menjadi tuan rumah pertemuan global di Glasgow, menyebut kesepakatan ini sebagai perjanjian penting untuk melindungi dan memulihkan hutan bumi.

“Ekosistem besar yang beranekaragam ini, katedral alam ini, adalah paru-paru planet kita,” begitu kata-kata yang rencananya akan dia tuturkan.

Simon Lewis, pakar iklim dan hutan di University College London, mengatakan, “Ini adalah kabar baik bahwa ada komitmen politik untuk mengakhiri deforestasi dari begitu banyak negara dan pendanaan yang signifikan untuk melanjutkan upaya itu.”

Namun Lewis berkata bahwa masyarakat dunia sebelumnya pernah berada pada tahap ini, tepatnya saat deklarasi iklim disepakati pada tahun 2014 di New York. Perjanjian itu, menurut Lewis, “sama sekali gagal memperlambat deforestasi”.

 
Lewis menyebut, kesepakatan baru ini tidak mengatasi meningkatnya permintaan produk seperti daging.
 
Menurutnya, tantangan itu perlu diatasi dengan intervensi terhadap konsumsi daging yang tinggi di negara seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Ana Yang, Direktur Eksekutif di Chatham House Sustainability Accelerator, yang ikut menulis laporan berjudul Rethinking the Brazilian Amazon, mengatakan, “Kesepakatan ini melibatkan lebih banyak negara, lebih banyak pemain, dan lebih banyak uang.

“Ini adalah langkah yang sangat penting di COP26. Pertemuan ini seputar peningkatan tingkat ambisi dan menjaga suhu global naik di bawah 1,5 celcius. Ini sangat mendasar,” ujarnya.

 

Tuntiak Katan, pegiat dari Koordinasi Komunitas Adat Lembah Amazon, menyambut baik kesepakatan itu. Dia berkata, masyarakat adat berada di garis depan dalam menghentikan deforestasi.

Katan, seorang dari suku Shuar dari Ekuador, menyebut masyarakat adat secara global melindungi 80% keanekaragaman hayati dunia. Namun mereka terus-menerus menghadapi ancaman dan kekerasan.

“Selama bertahun-tahun kami telah melindungi cara hidup kami dan itu telah melindungi ekosistem dan hutan. Tanpa kami, tidak ada uang atau kebijakan yang dapat menghentikan perubahan iklim,” katanya.

Sumber: BBC Indonesia
 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *