Tag: degradasi

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Degradasi Tanah

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Degradasi Tanah

    7cloud.asia – Salah satu masalah lingkungan serius yang dihadapi penduduk Bumi adalah degradasi tanah. Menurut organisasi dunia PBB, sekitar 40% tanah di bumi mengalami degradasi.

    Degradasi tanah mengacu pada hilangnya bahan organik, perubahan kondisi struktural dan/atau penurunan kesuburan tanah dan sering kali disebabkan oleh aktivitas manusia.

    Dilansir earth.org, aktivitas manusia yang memicu degradasi tanah dan lingkungan itu antara lain adalah praktik pertanian tradisional termasuk penggunaan bahan kimia beracun dan polutan.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih disarankan ketimbang pupuk kimia

    Jika keadaan seperti ini terus berlanjut hingga tahun 2050, para ahli memperkirakan akan terjadi tambahan degradasi tanah di wilayah yang hampir seluas Amerika Selatan.

    Tapi ada lebih banyak lagi mengenai hal tersebut. Jika kita tidak mengubah praktik-praktik sembrono kita dan mengambil tindakan untuk menjaga kesehatan tanah dan mencegah degradasi tanah

    Mengapa degradasi tanah ini harus dicegah? Karena degradasi tanah akan mengakibatkan ketahanan pangan bagi miliaran orang di seluruh dunia akan terancam.

    Baca: Ancaman krisis pangan akibat pengolahan tanah yang tak ramah

    Diperkirakan, degradasi tanah akan mengakibatkan produksi pangan berkurang 40% dalam waktu 20 tahun saat jumlah penduduk dunia terus bertambah.

    Saat ini jumlah penduduk dunia mendekati 8 miliar orang, dan diproyeksikan akan mencapai 9,3 miliar orang pada 2030.

    Jadi degradasi tanah ini harus menjadi perhatian serius, dan pertanian yang berkelanjutan perlu dilakukan mulai sekarang.

    Baca: Pertanian cerdas untuk tingkatkan ketahanan pangan

    Berbicara soal degradasi tanah ini bisa dijelaskan sebagai berikut. Bahan organik merupakan komponen penting tanah karena memungkinkannya menyerap karbon dari atmosfer.

    Tumbuhan menyerap CO2 dari udara secara alami dan efektif melalui fotosintesis dan sebagian karbon ini disimpan di dalam tanah sebagai karbon organik tanah (SOC).

    Tanah yang sehat memiliki minimal 3-6% bahan organik. Namun, hampir di seluruh dunia, kandungan organik jauh lebih rendah dari itu.

    Baca: Sawit, antara ketahanan pangan dan ancaman pada lingkungan

    Kondisi ini dipicu oleh berbagai hal, seperti tanah longsor atau penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. 

    Karena itu penggunaan pupuk organik dan sistem pertanian organik mulai digalakkan untuk mencegah degradasi tanah semakin parah.

    Sumber: earth.org baca artikel asli di sini

  • Proses Degradasi Tanah Global Semakin Cepat: Dunia Diingatkan Ancamannya Terhadap Produksi Pangan

    Proses Degradasi Tanah Global Semakin Cepat: Dunia Diingatkan Ancamannya Terhadap Produksi Pangan

    7cloud.asia – Proses degradasi atau penurunan kualitas tanah mengalami percepatan di seluruh dunia. Menurut perkiraan PBB, saat ini sekitar 75 persen lahan global telah mengalami degradasi. Angka ini meningkat dua kali lipat dari 30 persen hanya satu dekade lalu.

    Dalam tulisannya di Earth.org, seorang Profesor Madya Klinis dari Universitas New York, Cristina-Ioana Dragomir menyebut, jika tren saat ini berlanjut, maka lebih dari 90 persen tanah di dunia akan mengalami degradasi pada tahun 2050.

    “Skala kehilangan ini sulit dibayangkan, tetapi angkanya sangat mencengangkan: sekitar 100 juta hektare tanah hilang akibat degradasi setiap tahun,“ terangnya.

    Penelitian memperkirakan bahwa dunia kehilangan antara 24 dan 40 miliar ton tanah subur setiap tahun, sementara para peneliti mendokumentasikan penurunan tajam dalam keanekaragaman hayati.

    Cristina mengingatkan, konsekuensi degradasi tanah ini bakal meluas jauh melampaui pertanian. Ini termasuk menurunnya kesehatan tanah, melemahkan pengaturan air, hilangnya keanekaragaman hayati, serta melemahkan mitigasi iklim.

    Semua ini, ujarnya, merupakan penguat ancaman keamanan dan mengancam kemajuan pencapaian berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs).

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak

    Selama lebih dari setengah abad, para ilmuwan tanah telah memperingatkan tentang percepatan kerusakan substrat hidup Bumi. Namun terlepas dari data sejumlah laporan internasional, dan kerangka kebijakan, kerusakan terus berlanjut selama beberapa dekade terakkhir.

    Cristina menambahkan, erosi, hilangnya bahan organik, kontaminasi, salinisasi, dan keruntuhan struktur semuanya merusak stabilitas biosfer.

    “Degradasi tanah bukan lagi masalah teknis yang menunggu solusi yang tepat; hal itu dapat dipahami sebagai krisis peradaban,“ tandasnya.

    Kegagalan dalam Pembentukan Dunia
    Mungkin ada yang bertanya, jika ilmu pengetahuan sudah jelas, mengapa krisis ini terus berlanjut? Jawabannya terletak bukan hanya pada kebijakan yang tidak memadai tetapi pada kegagalan konseptual yang lebih dalam tentang bagaimana tanah dipahami.

    Masyarakat modern terus menganggap tanah sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, atau menganggapnya sebagai “kotoran”. Masyarakat modern sering memperlakukan tanah sebagai substrat pasif yang dapat diekstraksi atau diganti sesuka hati.

    Pandangan dunia yang berakar pada pembagian alam-budaya yang mengakar dalam modernitas yang membayangkan manusia terpisah dari alam, membentuk lembaga politik, sistem ekonomi, dan kebiasaan konsumsi masyarakat.

    Baca: Degradasi tanah menjadi masalah serius bagi lingkungan

    Selanjutnya, kondisi ini mempersempit cakrawala etis dan imajinatif dari mana tindakan lingkungan muncul dan bertumbuh.

    “Kita hidup dalam “kesenjangan mobilisasi”, terjebak antara kejelasan bukti ilmiah dan kelembaman kerangka kerja budaya, emosional, dan sosial-politik kita,“ Cristina mengingatkan.

    Menanggapi krisis ini, menurut Cristina, dibutuhkan lebih dari sekadar peningkatan teknologi atau peraturan yang lebih ketat.

    Hal ini menuntut penataan ulang imajinasi – sebuah pandangan dunia di mana tanah dialami bukan sebagai komoditas mati, tetapi sebagai pencipta kehidupan bersama: mitra relasional yang hidup yang kesejahteraannya tidak terpisahkan dari kesejahteraan kita sendiri.

    Hambatan untuk melindungi tanah bukanlah kurangnya pengetahuan ilmiah, tetapi dapat dipahami sebagai kegagalan dalam “pembentukan pandangan dunia”.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan jamur untuk membersihkan polusi tanah

    Baca: Pemanfaatan mikroalga sianobakteria untuk perbaiki kesuburan tanah marginal