7cloud.asia – Proses degradasi atau penurunan kualitas tanah mengalami percepatan di seluruh dunia. Menurut perkiraan PBB, saat ini sekitar 75 persen lahan global telah mengalami degradasi. Angka ini meningkat dua kali lipat dari 30 persen hanya satu dekade lalu.
Dalam tulisannya di Earth.org, seorang Profesor Madya Klinis dari Universitas New York, Cristina-Ioana Dragomir menyebut, jika tren saat ini berlanjut, maka lebih dari 90 persen tanah di dunia akan mengalami degradasi pada tahun 2050.
“Skala kehilangan ini sulit dibayangkan, tetapi angkanya sangat mencengangkan: sekitar 100 juta hektare tanah hilang akibat degradasi setiap tahun,“ terangnya.
Penelitian memperkirakan bahwa dunia kehilangan antara 24 dan 40 miliar ton tanah subur setiap tahun, sementara para peneliti mendokumentasikan penurunan tajam dalam keanekaragaman hayati.
Cristina mengingatkan, konsekuensi degradasi tanah ini bakal meluas jauh melampaui pertanian. Ini termasuk menurunnya kesehatan tanah, melemahkan pengaturan air, hilangnya keanekaragaman hayati, serta melemahkan mitigasi iklim.
Semua ini, ujarnya, merupakan penguat ancaman keamanan dan mengancam kemajuan pencapaian berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs).
Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak
Selama lebih dari setengah abad, para ilmuwan tanah telah memperingatkan tentang percepatan kerusakan substrat hidup Bumi. Namun terlepas dari data sejumlah laporan internasional, dan kerangka kebijakan, kerusakan terus berlanjut selama beberapa dekade terakkhir.
Cristina menambahkan, erosi, hilangnya bahan organik, kontaminasi, salinisasi, dan keruntuhan struktur semuanya merusak stabilitas biosfer.
“Degradasi tanah bukan lagi masalah teknis yang menunggu solusi yang tepat; hal itu dapat dipahami sebagai krisis peradaban,“ tandasnya.
Kegagalan dalam Pembentukan Dunia
Mungkin ada yang bertanya, jika ilmu pengetahuan sudah jelas, mengapa krisis ini terus berlanjut? Jawabannya terletak bukan hanya pada kebijakan yang tidak memadai tetapi pada kegagalan konseptual yang lebih dalam tentang bagaimana tanah dipahami.
Masyarakat modern terus menganggap tanah sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, atau menganggapnya sebagai “kotoran”. Masyarakat modern sering memperlakukan tanah sebagai substrat pasif yang dapat diekstraksi atau diganti sesuka hati.
Pandangan dunia yang berakar pada pembagian alam-budaya yang mengakar dalam modernitas yang membayangkan manusia terpisah dari alam, membentuk lembaga politik, sistem ekonomi, dan kebiasaan konsumsi masyarakat.
Baca: Degradasi tanah menjadi masalah serius bagi lingkungan
Selanjutnya, kondisi ini mempersempit cakrawala etis dan imajinatif dari mana tindakan lingkungan muncul dan bertumbuh.
“Kita hidup dalam “kesenjangan mobilisasi”, terjebak antara kejelasan bukti ilmiah dan kelembaman kerangka kerja budaya, emosional, dan sosial-politik kita,“ Cristina mengingatkan.
Menanggapi krisis ini, menurut Cristina, dibutuhkan lebih dari sekadar peningkatan teknologi atau peraturan yang lebih ketat.
Hal ini menuntut penataan ulang imajinasi – sebuah pandangan dunia di mana tanah dialami bukan sebagai komoditas mati, tetapi sebagai pencipta kehidupan bersama: mitra relasional yang hidup yang kesejahteraannya tidak terpisahkan dari kesejahteraan kita sendiri.
Hambatan untuk melindungi tanah bukanlah kurangnya pengetahuan ilmiah, tetapi dapat dipahami sebagai kegagalan dalam “pembentukan pandangan dunia”.
Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan jamur untuk membersihkan polusi tanah
Baca: Pemanfaatan mikroalga sianobakteria untuk perbaiki kesuburan tanah marginal

Leave a Reply