Tag: demam berdarah

  • Aksi Gerebek Jumantik: Langkah Sederhana Berdampak Besar untuk Lingkungan

    Aksi Gerebek Jumantik: Langkah Sederhana Berdampak Besar untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Sekelompok perempuan dengan mengenakan seragam Jumantik dan menenteng kantung plastik tampak menyusuri jalanan di Malaka Jaya, Klender Jakarta Timur.

    Sambil bergurau, mata mereka awas memantau genangan air. Jika ditemui sampah yang bisa memicu genangan air seperti kaleng, botol, ember bekas dan sebagainya maka tanpa segan mereka memungutnya. 

    Para perempuan ini adalah juru pemantau jentik atau Jumantik di wilayah Malaka yang sedang melakukan Gerebek Jumantik.

    Tugas para jumantik ini adalah melakukan pemeriksaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang merupakan biang penularan penyakit demam berdarah dengue atau DBD. 

    Baca: Pemkab Bangli bersihkan danau Batur dengan menggunakan eco enzyme

     

    Dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk, para jumantik di lingkungan wilayah Malaka Jaya Jakarta Timur berpegang pada pepatah kebersihan adalah sebagian dari iman.

    Mereka tak hanya berusaha mencegah merebaknya penyakit demam berdarah, tapi juga menjaga lingkungan sekitar agar bersih dan nyaman melalui gerakan jumantik peduli lingkungan

    Awalnya, gerakan ini bernama SETIA (Sigap Eliminasi Tempat Indukan Aedes) yang dicetuskan pada 2018 oleh Nurliyanto.

    Seiring waktu berjalan, gerakan ini pun diubah oleh pria yang tercatat sebagai petugas senetarian Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur ini menjadi jumantik peduli lingkungan atau JPL.

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya dengan baik

    Jumantik peduli lingkungan tak hanya bertujuan memberantas nyamuk, tapi juga membersihkan lingkungan di sekitar Malaka Jaya.

    “Manfaat jumantik peduli lingkungan untuk memutus mata rantai kehidupan si nyamuk. Jadi sebelum menjadi nyamuk, tempat-tempat seperti plastik atau gelas-gelas air mineral yang dibuang sembarangan, sudah kita ambil duluan,” jelas lelaki yang biasa disapa Nurly, di sela-sela acara grebek jumantik Jumat lalu.

    Upaya ini, menurutnya, dilakukan untuk mencegah genangan bila saat turun hujan, karena genangan ini menjadi tempat berbiaknya nyamuk.

    “Karena kan, gelas plastik atau tampungan-tampungan yang dibuang itu akan menampung air, dan disitu akan menjadi sarang jentik dan menjadi wadah yang membuat jentik menjadi makin banyak,” paparnya.

    Baca: Cara unik masyarkat Bali dalam mengelola sampah

    Itu sebabnya saat kader jumantik melakukan psn diwajibkan membawa kantung plastik atau karung untuk mengambil wadah-wadah itu agar dapat mencegah perkembangbiakan jentik.

    Dari wadah itu pun, kader bisa pula mengelola dan mengirimkannya ke bank sampah atau didaur ulang.

    “Dari daur ulang sendiri kader jumantik kan, jadi punya uang kas atau income dan bisa dibeli oleh bank sampah. Nah uangnya bisa dikelola oleh kader sendiri misalnya bila ada posyandu, dari uang limbah itu bisa dimanfaatkan untuk makanan tambahan balita, beli baju seragam jumantik atau untuk refereshing,” pungkasnya.

    Manfaat dari jumantik peduli lingkungan ini sangat dirasakan warga kelurahan Malaka Jaya. Kasus demam berdarah yang dulu sering merebak di wilayah padat penduduk ini kini jauh berkurang.

    “Ahamdulillah, lingkungan kita bersih dan baik. Dan Alhamdulillah jumantik juga sudah bekerja dengan baik,” kata Lurah Malaka Jaya, Asianto, bangga.

    Baca: Mengenal budaya Betawi Pesisir di Museum Si Pitung

    Sementara itu Korlap Jumantik RW 04 kelurahan Malaka Jaya, Sugiarti Anggraeni mengakui adanya manfaat dari JPL, lantaran aksi ini bisa menjadi uang kas bagi para kader jumantik.

    Namun di sisi lain, ia mengkhawatirkan bila kegiatan jumantik tersebut akan mengurangi pendapatan pemulung yang memang bekerja di wilayah tersebut.

    Namun demikian, aksi jumantik ini patut didukung untuk mencegah merebaknya demam berdarah sekaligus untuk membenahi pengelolaan sampah di lingkungan perumahan.

  • Teknologi Baru: Nyamuk Aedes Aegypti Mengandung Bakteri Wolbachia  Kendalikan Kasus Demam Berdarah

    Teknologi Baru: Nyamuk Aedes Aegypti Mengandung Bakteri Wolbachia  Kendalikan Kasus Demam Berdarah

    7cloud.asia – Untuk menekan penularan demam berdarah, dikembangkan teknologi baru yakni nyamuk Aedes aegepty dengan kandungan bakteri wolbachia. 

    Gigitan nyamuk aedes aegypti dengan kandungan bakteri wolbachia ini dipastikan tidak berbahaya  bagi manusia dan ramah lingkungan.

    Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ngabila Salama menjelaskan penggunaan teknologi nyamuk ber-Wolbachia untuk pengendalian kasus demam berdarah dengue (DBD).

    “Tidak ada efek  berbahaya bagi manusia. Nyamuk aedes aegypti dengan wolbachia ini  aman untuk manusia dan ramah lingkungan,” ujar Ngabila seperti dikutip Antaranews pada Senin (27/11/2023).

    Baca: Polusi dan suhu tinggi picu perkembangan nyamuk malaria

    Wolbachia juga tidak akan mengurangi populasi nyamuk dan tidak memakai teknologi rekayasa genetika.

    Sehingga tidak akan mengganggu ekosistem dan mikroorganisme lainnya.

    Bahkan, lanjut Ngabila, berdasarkan hasil penelitian bakteri wolbachia ini juga aman bagi serangga lainnnya. 

    Lebih jauh dia menerangkan bagaimana cara kerja teknologi ini. Nyamuk aedes aegypti dimasukkan bakteri wolbachia.

    Baca: Stres dan kondisi cuaca bisa picu penyakit kulit bernama psoriasis

    Nanti bakteri ini akan  membuat nyamuk aedes aegypti tersebut tidak mampu lagi membawa virus dengue yang menimbulkan penyakit DBD.

    “Hanya bentol saja, kayak nyamuk kebon biasa. Tidak ada efek apa pun atau efek berbahaya dari manusia yang digigit nyamuk aedes aegypti dengan kandungan wolbachia,” jelasnya.

    Memang, populasi nyamuk tidak berkurang, tetap mereka saling kawin dan berkembang biak.

    Hasil perkembangbiakan mereka juga nyamuk aedes aegypti yang sudah mengandung wolbachia.

    Baca: NTT darurat rabies, ribuan orang kena gigitan anjing rabies

    Dengan menggunakan teknologi seperti ini, diharapkan kasus demam berdarah bisa ditekan menjadi nol kematian dan nol kasus pada 2030.

    Ini sesuai target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat tercapai.

    Sementara itu, Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta, Jhonny Simanjuntak meminta Pemprov  DKI meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat.

    Menurut dia hal ini perlu dilakukan agar masyarakat tidak takut dan mengetahui manfaatnya untuk menekan kasus demam berdarah dengue (DBD).

    “Selain fokus pada pembiakan nyamuk dengan wolbachia, sebaiknya juga meningkatkan sosialisasi manfaatnya. Bisa melibatkan petugas jumantik  (juru pemantau jentik) untuk menjelaskan kepada masyarakat,” ujar Jhonny.

    Baca: Kurang dari sebulan cacar monyet di Indonesia capai 38 kasus

    Seharusnya, lanjut Jhonny, masyarakat sudah harus betul-betul memiliki pengetahuan mengenai dampak positif maupun negatif untuk mencegah penyakit DBD.

    Dengan begitu, masyarakat bisa melaksanakan imbauan hidup bersih dan sehat didukung dengan adanya data penelitian sehingga bisa menambah pengetahuan.

    “Hal seperti pembiakan nyamuk dengan wolbachia ini kenapa bisa memunculkan pro kontra? Bisa saja masyarakat belum paham adanya isu tersebut kan?” katanya.

    Seperti yang diketahui, kasus DBD terutama di Jakarta Barat selama Januari hingga Agustus 2023 mengalami fluktuasi, namun cenderung menurun.

    Pada Januari ada 132 kasus, Februari 94, Maret 105, April 125, Mei 95, Juni 80, Juli 66, dan Agustus 39 kasus.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Hingga Pekan Kedua April 2024 Tercatat 478 Orang Meninggal Akibat Demam Berdarah

    Hingga Pekan Kedua April 2024 Tercatat 478 Orang Meninggal Akibat Demam Berdarah

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan mengatakan, hingga minggu ke-15 tahun 2024, tercatat 475 orang meninggal karena demam berdarah dengue (DBD).

    Selain itu, Kemenkes juga mencatat sebanyak 62.001 kasus demam berdarah di sejumlah daerah di Indonesia. Angka ini menunjukkan adanya lonjakan kasus demam berdarah tahun ini.

    Dalam data yang diterima di Jakarta, Senin (15/4/2024), Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyebut bahwa pada periode yang sama pada tahun 2023, terdapat sebanyak 22.551 kasus demam berdarah serta 170 kematian akibat demam berdarah.

    Siti menjelaskan, bahwa lima kabupaten dan kota dengan kematian akibat demam berdarah tertinggi pada 2024 adalah Kabupaten Bandung dengan 25 kematian, Kabupaten Jepara dengan 21 kematian, Kabupaten Subang dengan 18 kematian.

    “Kabupaten Kendal 16 kematian, Kota Bekasi 15 kematian,” katanya.

    Adapun lima kabupaten dan kota dengan kasus demam berdarah tertinggi pada 2024 adalah Kabupaten Tangerang dengan 2.540 kasus, Kota Bandung dengan 1.741 kasus, Kabupaten Bandung Barat dengan 1.422 kasus.

    “Kabupaten Lebak 1.326 kasus, Kota Depok 1.252 kasus,” dia menambahkan.

    Pada minggu sebelumnya, tercatat sebanyak 455 kematian akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut, serta kasus DBD sebanyak 60.296.

    Sebelumnya, dalam rilis pada Selasa (2/4), Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, ada risiko bahwa kasus DBD masih akan berlanjut hingga musim pancaroba.

    Maxi mengatakan, per Selasa (26/3) atau pekan ke-13, kasus dengue di Indonesia dilaporkan mencapai 53.131 orang. Sementara itu, kasus kematian akibat dengue dilaporkan ada 404 orang.

    Dengan kenaikan kasus dengue yang terjadi belakangan ini, Maxi pun meminta masyarakat untuk tidak terlalu panik. Menurutnya, hal yang terpenting adalah tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

    Dia mengimbau masyarakat untuk melakukan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus secara berkala dan menyeluruh, terutama saat musim hujan seperti sekarang ini.

    Mulai sekarang, ia“mengajak“masyarakat“untuk“mengecek kebersihan di rumah maupun lingkungan sekitar, jangan sampai ada barang-barang yang berpotensi menimbulkan genangan air.

    “Kalau dibiarkan nanti bisa jadi tempat berkembang biak nyamuk dengue, bila menemukan sebaiknya segera dikuras, dikeringkan, atau ditutup bahkan bila perlu didaur ulang,” kata dia.

  • Riset: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah atau DBD

    Riset: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah atau DBD

    7cloud.asia – Para peneliti Amerika mengatakan, perubahan iklim bertanggung jawab atas hampir seperlima dari rekor jumlah kasus demam berdarah atau dengue (DBD) di seluruh dunia pada tahun ini.

    Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (16/11/2024) para peneliti ini terus berupaya menjelaskan bagaimana kenaikan suhu membantu menyebarkan DBD.

    Para peneliti telah berupaya untuk menunjukkan bagaimana perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia berkontribusi langsung terhadap peristiwa cuaca ekstrem seperti angin topan, kebakaran, kekeringan, dan banjir.

    Namun menghubungkan bagaimana pemanasan global dan perubahan iklim mempengaruhi kesehatan –seperti memicu wabah atau menyebarkan penyakit– masih merupakan bidang baru.

    “Demam berdarah (DBD) adalah penyakit pertama yang baik untuk dijadikan fokus karena sangat sensitif terhadap iklim,” kata Erin Mordecai, ahli ekologi penyakit menular di Universitas Stanford, kepada AFP.

     

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C 

    Demam berdarah dipicu virus, dan ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, menyebabkan demam dan nyeri tubuh serta, dalam beberapa kasus, dapat mematikan.

    Demam berdarah biasanya hanya terjadi di daerah tropis dan subtropis, tetapi peningkatan suhu global telah menyebabkan nyamuk merambah daerah baru dan membawa serta demam dengue.

    Untuk studi baru itu, yang belum ditelaah oleh rekan sejawat, tim peneliti Amerika mengamati bagaimana suhu yang lebih panas dikaitkan dengan infeksi demam berdarah di 21 negara di Asia dan Amerika.

    Rata-rata, sekitar 19 persen kasus demam berdarah saat ini di seluruh dunia “disebabkan oleh pemanasan iklim yang telah terjadi,” kata Mordecai, penulis senior untuk studi pra-cetak tersebut.

    Mordecai mengatakan suhu antara 20-29 derajat Celcius (68-84 derajat Fahrenheit) ideal untuk penyebaran demam berdarah.

    Baca: Perubahan iklim membahayakan masyarakat rentan

    Para peneliti menemukan bahwa daerah dataran tinggi di Peru, Meksiko, Bolivia, dan Brasil yang akan menghangat hingga kisaran suhu ini dapat mengalami peningkatan kasus demam dengue sebanyak 200 persen dalam 25 tahun ke depan.

    Analisis tersebut memperkirakan setidaknya 257 juta orang saat ini tinggal di wilayah di mana pemanasan global dapat melipatgandakan angka demam dengue selama periode tersebut.

    Bahaya ini hanyalah “alasan lain mengapa Anda harus peduli terhadap perubahan iklim,” kata Mordecai.

    Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), lebih dari 12,7 juta kasus demam berdarah dengue tercatat di seluruh dunia hingga September 2024, hampir dua kali lipat rekor total pada 2023.

    Namun Mordecai mengatakan, banyaknya laporan yang tidak dilaporkan berarti jumlah sebenarnya kemungkinan mendekati 100 juta.

    Penelitian ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Tropical Medicine and Hygiene di Kota New Orleans, negara bagian Louisiana, Amerika Serikat.

  • Kasus Demam Berdarah Melonjak di Bangladesh

    Kasus Demam Berdarah Melonjak di Bangladesh

    7cloud.asia – Total 814 orang didiagnosis terjangkit demam berdarah di Bangladesh dalam periode 24 jam terakhir, pada Selasa (21/10/2025).

    Demikian pernyataan Direktorat Jenderal Layanan Kesehatan (Directorate General of Health Services/DGHS) yang berada di bawah Kementerian Kesehatan Bangladesh mengenai wabah demam berdarah di negeri tersebut.

    Pemanasan global dan perubahan iklim diduga memperburuk penyebaran demam berdarah yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini.

    Pakar menyatakan bahwa naiknya suhu dan musim monsoon yang lebih panjang telah menciptakan kondisi yang optimal bagi nyamuk Aedes, sebagai pembawa penyakit ini.

    Baca: Studi mengungkap perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Demam berdarah, penyakit yang kerap muncul pada musim hujan di Bangladesh, kini menyebar hingga ke luar periode normalnya pada Juni-September.

    Menurut DGHS, dengan kasus-kasus infeksi baru yang dilaporkan hingga Selasa pukul 08.00 waktu setempat, jumlah kasus demam berdarah telah melonjak menjadi 61.605 di Bangladesh sejauh ini pada 2025.

    Pada periode yang sama, empat orang meninggal karena penyakit yang ditularkan oleh nyamuk tersebut.

    Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran demam berdarah

    Sehingga total kematian yang berkaitan dengan demam berdarah tahun ini di Bangladesh bertambah menjadi 253.

    DGHS mengonfirmasi bahwa sejauh ini pada Oktober 2025, sebanyak 14.263 kasus demam berdarah dilaporkan usai 15.866 orang terinfeksi penyakit tersebut pada September.

    DGHS mencatat sebanyak 55 kematian dilaporkan sejauh ini pada Oktober 2025. Sementara, 76 orang meninggal akibat penyakit itu pada September dan 39 orang pada Agustus.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Menuju Nol Kematian Demam Berdarah Dengue 2030: Diperlukan Pembenahan Tata Laksana Klinis

    Menuju Nol Kematian Demam Berdarah Dengue 2030: Diperlukan Pembenahan Tata Laksana Klinis

    7cloud.asia – Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angka kematian akibat dengue di Indonesia telah menurun dari 0,9 persen pada 2021 menjadi 0,4 persen pada 2025. Angka penularan juga turun dari 92 kasus per 100.000 penduduk pada 2024 menjadi 57 kasus per 100.000 penduduk pada 2025.

    Namun demikian, Indonesia tetap tercatat sebagai negara dengan kasus demam berdarah dengue tertinggi di Asia Tenggara dan kedua tertinggi di dunia, serta menyumbang sekitar 17 persen dari total kematian dengue global pada 2025.

    Demikian terungkap dalam seminar dan workshop ASEAN Dengue Day (ADD) 2026 bertajuk “Menuju Nol Kematian Dengue 2030: Antara Impian atau Kenyataan?” yang berlangsung di Auditorium FK-KMK UGM, Senin (29/6/2026) lalu.

    Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor dan Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun, Ditjen Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan, dr. Fadjar SM Silalahi mengatakan, meski angka kasus mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan agar tidak terjadi lonjakan kasus di masa mendatang.

    “Kalau kita lihat (data), Indonesia memiliki beban dengue tertinggi di Asia Tenggara. Ini menunjukkan betapa persoalan dengue ini harus terus menjadi perhatian kita,” katanya. 

    Dalam kesempatan itu dosen Departemen Kesehatan Anak FK-KMK UGM, Dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K) menekankan pentingnya tata laksana klinis dalam menekan angka kematian akibat dengue.

    Baca: Menekan Penularan Malaria dan Demam Berdarah di Tengah Tantangan Perubahan Iklim

    Menurutnya, perjalanan penyakit dengue berlangsung singkat dan dinamis sehingga diagnosis dini, pemantauan kondisi klinis, serta penanganan yang tepat menjadi faktor krusial untuk mencegah keterlambatan penanganan.

    “Dengue adalah penyakit infeksi akut, karena waktunya praksis tidak akan lebih dari 2 minggu, berbeda dengan HIV dan malaria yang bisa sampai berbulan-bulan,” ungkap Ida.

    Lebih jauh, Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam menangani dengue justru berada pada fase awal ketika gejala penyakit tersebut sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lainnya yang juga banyak ditemukan di Indonesia.

    Selain tata laksana klinis, penguatan sistem rujukan juga dinilai berperan penting dalam menekan angka kematian.

    Dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM, Dr. Diah Ayu Puspandari menyoroti masih banyak pasien yang langsung datang ke rumah sakit tanpa terlebih dahulu mengakses layanan primer.

    “Dari hasil kajian yang kami peroleh, ada sekitar 21,8 persen pasien yang langsung ke akses fasilitas kesehatan rujukan langsung, tanpa melalui puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP),” jelasnya sembari menunjukkan data hasil kajian tim FKKMK UGM.

    Baca: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah Dengue

    Kondisi tersebut, lanjut Diah, berdampak pada meningkatnya biaya pelayanan kesehatan.

    Karena itu, diperlukan penguatan peran FKTP, koordinasi antarfasilitas kesehatan, ketersediaan transportasi rujukan, peningkatan kapasitas fasilitas rujukan, serta pemanfaatan data dan sistem informasi agar pasien dapat dirujuk secara tepat waktu sehingga risiko kasus berat maupun kematian dapat ditekan.

    “Ini implikasinya adalah ke biaya pelayanan yang lebih tinggi,” ungkapnya.

    Dari sisi pembiayaan, Guru Besar FK UI, Prof. Hasbullah Thabrany menyampaikan bahwa target nol kematian dengue tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan layanan klinis maupun sistem rujukan.

    Menurutnya, diperlukan dukungan pendanaan kesehatan yang memadai, efektif, dan efisien agar berbagai strategi pengendalian dengue dapat berjalan secara optimal. “Namun, coba kita lihat, apakah pendanaan untuk publik di bidang kesehatan sudah cukup?” tanyanya.

    Menurutnya, pendanaan publik melalui pemerintah dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memiliki peran penting untuk memastikan upaya promotif, preventif, hingga kuratif dapat berlangsung secara berkelanjutan.

    Menurutnya, terdapat hubungan antara besarnya pendanaan dengan tingginya kasus dengue. “Angka kasus dan kematian tinggi ada korelasinya dengan pendanaan yang rendah,” papar Dosen Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI tersebut.