Tag: desa wisata

  • Serunya Festival Tenun di Desa Wisata Sukarare Lombok

    Serunya Festival Tenun di Desa Wisata Sukarare Lombok

    7cloud.asia – Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat menggelar Festival kerajinan tenun Sasak pada Sabtu (8/7/2023) yang berlangsung di Desa wisata Sukarare, Kecamatan Jonggat, Praya, Lombok Tengah NTB.

    Festival tenun ini di desa wisata Sukarare ditargetkan memecahkan rekor MURI tersebut diikuti 2.023 penenun yang melakukan proses penenunan kain tradisional Sasak Lombok.

    Dalam festival ini para penenun secara bersama-sama menenun kain tradisional Sasak di desa wisata Sukarare.

    Baca: Renny Djayusman terlibat pementasan teater bersama anak jalanan

    Festival ini untuk mengenalkan kain tenun, melestarikan budaya menenun, serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke desa wisata tenun Sukarare

    Desa Wisata Sukarare memang dikenal dengan kerajinan kain tenun khasnya. Kain tenun ini lebih dikenal masyarakat luas dengan nama kain Songket. Kain tenun ini biasa dibuat kaum perempuan di desa wisata Sukarare.

    Sedari dini, anak-anak perempuan di desa wisata Sukarare sudah diajari untuk bisa menenun kain. Sehingga bisa dipastikan, hampir semua perempuan di desa wisata Sukarare bisa menenun kain Songket.

    Baca: Pementasan Ande Ande Lumutan

    Kain-kain hasil menenun selain digunakan untuk keperluan pribadi juga dijual kepada para wisatawan yang berkunjung ke desa wisata Sukarare ini. 

    Kain tenun buatan penduduk Desa Sukarare memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki kain lainnya.

    Motif yang otentik inilah yang menjadikan kain ini begitu dikenal masyarakat luas di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri.

    Baca: Musisi tanah air ditantang bikin konser ramah lingkungan

    Motif rumah adat, motif tokek, motif lumbung adalah beberapa motif khas yang biasa dibuat dalam pembuatan kain tenun.

    Berbeda dengan desa wisata Sade yang khas dengan kehidupan masyarakat suku Sasaknya, di desa wisata Sukarare ini wisatawan akan diperkenalkan dengan industri kain tenun khas masyarakat setempat.

    Kita bisa melihat langsung proses pembuatan kain tenun tersebut yang dilakukan oleh kaum perempuan penduduk Desa Sukarare.

  • Membangun Desa Wisata Berbasis Potensi Lokal Akan Lebih Berhasil

    Membangun Desa Wisata Berbasis Potensi Lokal Akan Lebih Berhasil

    7cloud.asia – Pembangunan desa wisata marak menyusul diterapkannya kebijakan  dana desa pada 2014.

    Desa wisata dinilai sebagai alternatif karena berbasis komunitas yang mengedepankan konsep keberlanjutan.

    Pengembangan desa wisata dinilai mampu mengurangi efek buruk dari pengembangan pariwisata massal yang fokus pada kedatangan wisatawan dalam jumlah besar.

    Sayangnya, di lapangan banyak desa wisata yang tak mampu bertahan lama. Banyak desa wisata yang dibiayai dari dana desa ini ramai hanya di awal, kemudian sepi setelahnya.

    Dian Wahyu Utami, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam tulisannya di The Conversation menyebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar desa wisata menjadi model pariwisata yang berkelanjutan.

    Baca: Membangun desa wisata 

    Ada empat faktor yang perlu diperhatikan agar sukses membangun desa wisata yakni fokus pada potensi lokal, mengutamakan kualitas, inovasi, keunikan dan merupakan program jangka panjang.  

     

    Fokus pada potensi lokal menjadi aspek penting bagi kesuksesan membangun sebuah desa 

    Pembentukan desa wisata dapat diawali dengan mengidentifikasi potensi unik serta kearifan lokal untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata, seperti:

    a. Pemandangan alam

    Sumber daya alam yang unik dan menarik di desa, seperti keindahan alam, keanekaragaman hayati, gunung, sungai, danau, hutan, dan berbagai lansekap fisik merupakan potensi alami yang tidak dapat direplikasi.

    Desa wisata Nglanggeran di Yogyakarta menjadi salah satu contoh di mana keunikan bentang alam gunung api purba menjadi potensi yang unik dan tidak dimiliki oleh desa wisata lainnya.

    Baca:

    b. Sosio-kultural

    Desa dengan bangunan bersejarah atau arsitektur tradisional, kebiasaan unik masyarakat, serta tradisi atau upacara adat yang khas dapat dikembangkan menjadi sebuah desa wisata.

    Dengan potensi budaya dan kultural ini, sebuah desa dapat menciptakan pengalaman wisata yang unik.

    Salah satu contohnya adalah desa wisata Panglipuran, Bali, yang memiliki aturan adat dalam mengatur tata ruang desa, serta berbagai macam tradisi adat yang unik.

    c. Inovasi

    Potensi wisata ini memadukan potensi alam dan sosial yang dimiliki dengan berbagai inovasi agar mampu menjadi desa wisata.

    Pengembangan ini tidak terbatas pada pembangunan atraksi-atraksi wisata seperti jembatan kaca, tempat foto berbentuk love, tapi juga dapat berupa cerita yang diciptakan agar menarik.

    Contohnya adalah cerita mengenai bagaimana sebuah desa bertrasformasi dari permukiman kumuh menjadi desa wisata dengan mengecat warna-warna permukiman tersebut.

     

    Saat ini, pengembangan desa wisata menjadi program pemerintah dan tidak semua berangkat dari potensi yang ada di masyarakat.

    Akibatnya, perkembangan desa wisata mengalami stagnasi karena tidak dibarengi dengan sarana prasarana maupun sumber daya manusia yang memadai.

    Karena itu, perlu dilakukan peningkatan pelayanan, keberagamaan atraksi yang ditawarkan, penguatan produk pariwisata, serta pematangan model bisnis yang ada.

     

  • Kenali Tiga Desa Wisata di Sumbar yang Masuk 50 Besar ADWI 2024

    7cloud.asia – Tiga desa wisata di Sumatera Barat berhasil masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia atau ADWI 2024 dan diharapkan bisa terus menjadi yang terbaik di Indonesia.

    Tiga desa wisata di Sumbar yang masuk 50 besar ADWI 2024 tersebut masing-masing Desa Wisata Ampiang Parak di Pesisir Selatan, Desa Wisata Pagadih di Agam dan Desa Wisata Danau Diateh Kabupaten Solok.

    Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Luhur Budianda memaparkan keunggulan masing-masing desa wisata yang masuk 50 besar ADWI 2024 ini.

    Desa Wisata Ekowisata Berbasis pengurangan risiko bencana (PRB)PRB Nagari Ampiang Parak terletak di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan.

    Desa wisata ini memiliki keunikan karena mengusung konsep ekowisata (penyu) berbasis pengurangan risiko bencana (PRB).

    Baca: Membangun desa wisata berbasis potensi lokal

    Wisatawan bisa menikmati berbagai aktivitas menarik di desa wisata ini seperti rilis penyu, menelusuri mangrove, diving bangkai kapal gosong nambi serta menikmati kuliner dan suvenir lainnya.

    Desa Wisata Danau di Ateh terletak di Nagari Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok. Desa ini memiliki pemandangan yang sangat indah dari hamparan lahan pertanian dan danau.

    Di lokasi yang dijuluki “kota dingin tanpa salju” ini wisatawan bisa camping di pinggir danau, memancing, hingga memetik sayuran segar langsung dari kebunnya.

    Sementara itu, Dewa Wisata Pesona Pagadih terletak di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

    Kawasan ini kaya dengan berbagai jenis wisata di antaranya Wisata Alam, Wisata Budaya, Wisata Religi dan Wisata Sejarah yang tersebar hampir di seluruh wilayah desa.

    Baca: Membangun desa wisata yang berkelanjutan

    Selain memiliki wisata yang telah terbentuk alami seperti Goa Kapur Bukik Ngalau, desa ini juga memiliki kawasan konservasi yang membuat desa ini berpotensi untuk menjadi desa ekowisata.

    Wisatawan bisa menikmati keindahan Sarasah Pagadih Gadang (air terjun), camping ground di Bukit Tontong, dan juga festival budaya lainnya.

    Luhur menyebut tiga desa wisata tersebut memiliki potensi besar untuk bersaing menjadi yang terbaik dalam ADWI 2024.

    “Kita tentu berharap tiga desa wisata ini tidak hanya berhenti pada 50 besar nasional, tetapi bisa menjadi yang terbaik,” katanya.

    Tiga desa wisata di Sumbar yang masuk 50 besar ADWI 2024 ini akan mendapatkan pendampingan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    Baca: Membangun desa dengan pengelolaan Dana Desa

    Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Pariwisata Sumbar, Doni Hendra mengatakan kepastian pendampingan bagi tiga desa wisata tersebut disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno.

    “Ada tiga desa wisata di Sumbar yang masuk 50 besar ADWI 2024. Saat ini mereka tengah mempersiapkan diri untuk penilaian akhir dari dewan juri. Namun dipastikan apapun hasilnya nanti, mereka akan tetap dapat pendampingan dari Kemenparekraf,” ujarnya di Padang, Senin (10/6/2024).

    Doni mengatakan pendampingan yang diberikan oleh Kemenparekraf itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM desa wisata, membantu sistem tata kelola yang baik dan untuk memperoleh aksesibilitas kemitraan.

    “Pendampingan ini akan mendorong pengembangan desa wisata di Sumbar,” ujarnya.

    Terkait upaya untuk menjadi yang terbaik dalam ADWI 2024, Pemerintah Provinsi Sumbar berkoordinasi dengan kabupaten/kota dan desa wisata untuk memperkuat lima kategori yang akan dinilai oleh dewan juri.

    Baca: Menggali keunikan Wae Rebo, desa wisata tercantik di dunia

    Ada lima kategori yang akan dinilai yaitu daya tarik wisata, amenitas, digital, kelembagaan dan SDM serta resiliensi (kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit).

    “Para pengelola desa wisata telah mendapatkan bimbingan teknis dari Kemenparekraf untuk memperkuat lima kategori penilaian ini,” ujarnya.

    Ia menyebut jadwal penilaian oleh dewan juri akan berlangsung antara Juni-September 2024. Menteri Pariwisata Sandiaga Uno dijadwalkan ikut dalam proses penjurian tersebut.

    “Kita menunggu konfirmasi jadwal dari Kemenparekraf untuk penjurian ini. Kita tentu berharap tiga desa wisata di Sumbar bisa menjadi pemuncak dalam ADWI 2024,” kata Doni.

    Sebelumnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekrat) mengumumkan 50 besar desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiana Uno mengatakan 50 desa terbaik dalam ajang ADWI 2024 ini didapatkan setelah melalui proses kurasi yang panjang, analisis dan penilaian secara objektif oleh seluruh tim dewan juri.

    Sumber:Antaranews.com

  • Pengembangan Desa Wisata Jadi Alat Potensial untuk Konservasi dan Pembangunan Berkelanjutan

    Pengembangan Desa Wisata Jadi Alat Potensial untuk Konservasi dan Pembangunan Berkelanjutan

    7cloud.asia – Pengembangan pariwisata perdesaan lewat desa wisata jadi alat potensial untuk konservasi dan pembangunan yang berkelanjutan.

    Peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Roby Ardiwidjaja mengatakan bahwa pengembangan desa wisata juga bisa meminimalisir urbanisasi dari desa ke kota.

    Hal itu diungkapkan Roby dalam Diskusi Budaya Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) dengan tema “Wisata Perdesaan: Strategi Percepatan Pembangunan Nasional dari Pinggir”, pada Senin (24/06).

    “Keistimewaan perdesaan adalah ruang yang terbuka, interaksi dengan alam, terkait dengan warisan dunia, serta erat dengan masyarakat tradisional yang menjalankan dan mempertahankan tradisinya,” urainya.

    Penelitiannya menemukan perdesaan sering dikaitkan dengan pengertian rural and village yang dibandingkan dengan kota, perkotaan atau urban.

    Baca: Tiga desa wisata di Sumbar yang sukses merawat lingkungan

    Dijelaskannya, perdesaan adalah bagian wisata minat khusus yang memotivasi wisatawan ke desa adat atau budaya dengan lingkungan alam yang alami, unik, dan otentik.

    Tujuannya untuk menikmati, mengenal, mempelajari, memahami dan berpartisipasi dalam aktivitas keseharian dan kehidupan sosial budaya masyarakat perdesaan.

    Roby menyebutkan Indonesia memiliki potensi wisata pada daya tarik alam (bahari, ekowisata, petualangan) sebanyak 35persen, wisata budaya 60persen, dan wisata buatan manusia (MICE dan even, olah raga, kawasan terintegrasi) 5persen.

    Mengutip data statistik BPS, Roby menyebut setidaknya ada sebanyak 8000-an desa dan kota sekira 100-an yang bisa dikembangkan menjadi desa wisata.

    Menurutnya, pembangunan hendaknya dimulai dari desa, sebab jika pembangunan difokuskan di kota akan menyebabkan urbanisasi. Hal ini lantaran desa sebagai destinasi pariwisata terkecil.

    Baca: Kunci sukses membangun desa wisata

    Keberadaan desa wisata saat ini kurang lebih sejumlah 4000. Dengan jumlah tersebut, menurut pandangannya bisa bertambah.

    Diakui pengembangan desa wisata yang terlalu masif akan memunculkan pertanyaan, nantinya siapa yang akan berkunjung.

    Lalu ia menganalisis bahwa desa belum optimal melibatkan secara aktif wisatawan untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru.

    Ini terkait dalam kegiatan yang berbasis pada upaya kegiatan pelestarian lingkungan, tradisi kehidupan keseharian sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

    “Desa belum memanfaatkan sepenuhnya kelembagaan yang ada untuk mengelola wisata perdesaan,“ terangnya.

    Baca: Membangun desa wisata yang ramah lingkungan

    Menurutnya, pemerintah dapat menjadikan pariwisata perdesaan sebagai platform yang mendukung strategi percepatan pembangunan nasional secara berkelanjutan.

    “Dengan melestarikan lingkungan, sekaligus menumbuhkan perekonomian yang berbasis keanekaragaman keunikan daya tarik akar budaya ke Indonesia-an,” ungkapnya.

    Roby menekankan, memperkuat konsep pariwisata berkelanjutan menjadi alat membangun kawasan desa sebagai daya tarik wisata (DTW), sekaligus menjadi strategi pemecahan permasalahan kebhinekatunggalikaan dan identitas bangsa.

    Selain itu, merumuskan kebijakan pembangungan pariwisata berkelanjutan di kawasan perdesaan menjadi salah satu arah yang mendukung percepatan pembangunan nasional bagi pemerintah ke depan.

    Sementara Peneliti Pusat Riset Kependudukan (PRK) BRIN, Budiyanto Dwi Prasetyo, menilai suasana desa yang alami menjadikannya sesuatu yang mahal.

    Baca: Dana desa mendongkrak kesejahteraan warga

    “Kehidupan desa dianggap mahal, karena dahulu sangat disepelekan. Oleh sebab orientasi orang pada modernisasi, justru kehidupan seperti ini yang membuat mahal. Seperti orang yang dapat berekreasi ke Ancol dengan biaya mahal dan sebagainya,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Budi berpendapat, banyak generasi muda yang beralih dari zona nyaman dengan kembali ke kampung untuk mencari tantangan.

    Tingkat kunjungan ke desa meningkat seiring dengan masuknya generasi X dan Z yang sadar dengan media sosial dan terekspos, sehingga membuat banyak orang tertarik.

    Budi menyimpulkan, wisata desa bisa diartikan sebagai ruang aktivitas dengan budayanya.

    “Wisata perdesaan berpotensi berkontribusi bagi bidang ilmiah akademik. Sebab desa butuh eksistensi yang menonjolkan aspek budaya dengan menggarap wisata etnik, atau dikenal dengan etnictourism. Hal Ini bisa menjadi peluang!” tegasnya.

    Sumber:brin.go.id

     

  • Kekayaan Budaya Lokal Antar Jatiluwih dan Wukirsari Masuk Daftar 55 Desa Wisata Terbaik Dunia

    Kekayaan Budaya Lokal Antar Jatiluwih dan Wukirsari Masuk Daftar 55 Desa Wisata Terbaik Dunia

    7cloud.asia – Desa Wisata Jatiluwih di Bali dan Desa Wisata Wukirsari di Daerah Istimewa Yogyakarta berhasil masuk dalam 55 Desa Wisata Terbaik 2024 versi Organisasi Pariwisata PBB atau UN Tourism.

    Penyerahan penghargaan Desa Wisata Terbaik ini digelar di Cartagena de Indias, Kolombia, Jumat (15/11/2024) lalu.

    Sebelum masuk nominasi dan akhirnya menjadi desa wisata terbaik dunia, Desa Wukirsari telah menjadi juara Desa Wisata Maju versi Kemenparekraf pada 2023.

    Sekretaris Jenderal Pariwisata PBB Zurab Pololikashvili mengatakan, pariwisata adalah alat penting untuk mewujudkan inklusifitas, sekaligus memberdayakan masyarakat pedesaan.

    Pengembangan desa wisata sekaligus untuk melindungi dan menghargai warisan budaya sambil mendorong pembangunan berkelanjutan.

    Zurab menambahkan, dengan memanfaatkan aset unik mereka, komunitas-komunitas ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, mempromosikan tradisi lokal, dan meningkatkan kualitas hidup penduduknya.

    Baca: Yuk jalan-jalan ke Desa Adat

    “Kami merayakan desa-desa yang telah memanfaatkan pariwisata sebagai jalan menuju pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat, yang menunjukkan bahwa praktik berkelanjutan dapat membawa masa depan yang lebih cerah bagi semua,” ucapnya dikutip dari kanal Youtube UNWTO.

    Dalam ajang tersebut, penilaian untuk desa wisata terbaik didasarkan pada sumber daya alam dan budaya, serta tindakan dan komitmen yang inovatif dan transformatif terhadap pengembangan pariwisata yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

    Keberhasilan Desa Wisata Jatiluwih, dan Desa Wisata Wukirsari meraih penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik tahun ini menyusul keberhasilan Desa Nglanggeran tahun 2021, Desa Penglipuran tahun 2023.

    Desa Wisata Jatiluwih terletak di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, terkenal sebagai tempat wisata dengan keindahan persawahan bertingkat yang masih menggunakan sistem irigasi padi tradisional Bali, subak.

    Dibangun sejak abad ke-11, subak bukan hanya sebuah sistem irigasi tetapi juga filosofi hidup yang menekankan pada keharmonisan dan keberlanjutan.

    Desa Jatiluwih dikelilingi oleh hutan lindung seluas 24 hektare yang merupakan rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna endemik, seperti berbagai jenis burung langka dan hewan seperti kukang jawa.

    Baca: Dengan slow city, Kota Solo tawarkan pengalaman wisata yang berbeda

    Jatiluwih tak hanya menawarkan pemandangan sawah terasering yang memukau, tapi juga menjadi pilihan aktivitas luar ruangan seperti trekking dan bersepeda melalui jalur yang menghubungkan sawah dengan hutan.

    Di waktu tertentu, Desa Jatiluwih juga menyelenggarakan festival dan upacara tradisional yang memungkinkan pengunjung untuk merasakan kekayaan budaya dan tradisi lokal.

    Sementara Desa Wukirsari, sebuah desa wisata yang terletak di Kapanewon Imogiri, Bantul, Yogyakarta, atau sekitar 20 kilometer arah tenggara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

    Salah satu kekhasan desa wisata ini adalah tradisi membatik yang turun-temurun.
    Desa Wisata Wukirsari memiliki dua warisan budaya tak benda dunia, yakni wayang dan batik.

    Wukirsari juga sukses melestarikan dua warisan itu termasuk menjaga lingkungannya agar berkelanjutan.

    Batik Giriloyo yang diwariskan secara turun temurun dengan jumlah pembatik yang paling banyak, kemudian tatah sungging, keris, makam raja Imogiri, dan juga pemandangan alamnya yang menawan.

  • Pembatasan Jumlah Pengunjung Candi Borobudur Berdampak pada Kunjungan ke Desa Wisata di Sekitarnya

    Pembatasan Jumlah Pengunjung Candi Borobudur Berdampak pada Kunjungan ke Desa Wisata di Sekitarnya

    7cloud.asia – Sejumlah tantangan dihadapi sejumlah desa wisata di sekitar Candi Borobudur, seperti Desa Wanurejo dan kawasan sekitarnya.

    Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan transportasi umum menuju desa wisata serta dampak penurunan perekonomian akibat pembatasan jumlah wisatawan di Candi Borobudur.

    Hal ini terungkap dalam kunjungan kerja Komisi V DPR ke Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (25/9/2025).

    “Banyak wisatawan kesulitan menjangkau desa wisata karena terbatasnya moda transportasi umum,” kata anggota Komisi V DPR, Novita Wijayanti dikutip Parlementaria.

    Novita berharap, ke depan, perlu kerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk menyediakan bus wisata, shuttle, atau moda transportasi lain yang memudahkan akses ke Wanurejo

    Baca: Ini yang dapat dinikmati saat berwisata ke Candi Borobudur

    Ia menambahkan, pembatasan jumlah kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur dari 10 ribu menjadi hanya 2 ribu orang per hari berdampak signifikan terhadap ekonomi masyarakat sekitar.

    Data yang diterimanya menunjukkan penurunan perekonomian hingga 30 persen. Menurut Novita, kondisi ini harus segera dievaluasi dengan melakukan investigasi serta inventarisasi masalah.

    “Kami berharap ada solusi regulasi yang lebih berpihak pada masyarakat. Kalau dulu bisa sampai 10 ribu pengunjung, kenapa sekarang hanya 2 ribu? Padahal, desa-desa wisata sangat bergantung pada jumlah wisatawan yang datang,” tegasnya.

    Dia optimistis, dengan adanya perhatian dari DPR dan kementerian mitra, Novita optimistis kendala transportasi maupun regulasi dapat segera diatasi.

    Jika kendala ini diatasi, diharapkan dapat mengembalikan gairah ekonomi masyarakat Magelang, khususnya di desa wisata sekitar Borobudur.

    Baca: Relief Candi Borobudur terefleksi dalam kehidupan warga sekitar

    Menurut data Kementerian Pariwisata, terdapat 21 desa wisata di sekitar Candi Borobudur. Desa wisata Wanurejo yang terletak hanya sekitar 1,5 kilometer ke arah timur candi Borobudur merupakan salah satu pilihan.

    Desa yang didirikan keturunan HB II ini menawarkan atraksi wisata desa ke desa dengan menyaksikan langsung keindahan arsitektural bangunan milik rakyat, pemangku adat, bangsawan dan juga dapat menyaksikan aneka macam tanaman dan keindahan sawah.

    Sebuah masjid kuno beserta bedhug misterius peninggalan Pangeran Diponegoro juga menjadi salah satu andalan desa wisata ini.

    Pengunjung juga bisa mengunjungi sumber air suci Umbul Tirta, makam Kyai Wanu, homestay, makanan rakyat bernama rengginan, tempe, gula Jawa.

  • Dari Lebih 6000 Desa Wisata di Indonesia, Hanya 1 Persen yang Telah Mandiri

    Dari Lebih 6000 Desa Wisata di Indonesia, Hanya 1 Persen yang Telah Mandiri

    7cloud.asia – Pengembangan desa wisata menyimpan potensi besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di desa dan mendongkrak pendapatan daerah.

    Itu sebabnya, banyak daerah berlomba-lomba mengembangkan desa wisata. Namun demikian, masih adanya kesenjangan kualitas, tata kelola, dan keberlanjutan antar desa wisata.

    Berdasarkan data dari Jaringan Desa Wisata (Jadesta) milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), hingga akhir 2024 tercatat ada 6.042 desa wisata di seluruh Indonesia.

    Mayoritas desa wisata masih berada pada kategori rintisan sebanyak kurang lebih 4.703 desa, 992 desa wisata masuk kategori berkembang.

    Baca: Jatiluwih masuk daftar desa wisata terbaik dunia

    Sementara itu, desa wisata maju baru berjumlah 314 desa, dan desa wisata mandiri hanya 33 atau kurang dari 1 persen dari total desa wisata yang ada.

    Kondisi ini mendorong Komisi VII DPR membentuk Panitia Kerja (Panja) Standardisasi Desa Wisata, guna menciptakan ekosistem desa wisata yang bisa memanfaatkan masyarakat di sekitarnya.

    Sejauh ini Komisi VII DPR melihat bahwa Desa Wisata kurang memberdayakan potensi lokal, terutama warga yang tinggal di wilayah tersebut.

    Hal ini juga yang ditemukan Komisi VII saat kunjungan kerja spesifik ke Kampung Wisata Baselang Bakung Jaya di Kota Jambi, Provinsi Jambi.

    Baca: Jalan-jalan ke desa adat melancong sambil meresapi alam

    Ketua Tim Kunker Panja Standardisasi Komisi VII DPR, Rycko Menoza mengatakan, hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan DPR.

    “Anggota DPR juga tadi memberikan masukan agar masyarakat di sekitar desa wisata ikut maju karena kemajuan satu desa menjadi dorongan bagi yang lain,” ujarnya kepada Parlementaria, usai kunjungan, Jumat (26/09/2025).

    Standardisasi desa wisata menjadi langkah progresif yang akan dilakukan Komisi VII demi meningkatkan potensi desa wisata terutama untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

    “Kita perlu ingatkan kepada para pemangku wilayah bahwa untuk membuat sebuah desa wisata itu kita tidak hanya sekadar mengikuti apa yang sedang tren. Apa yang kita lakukan itu harus bedasarkan dari kebutuhan dan potensi masyarakat di wilayah tersebut,” ujar anggota Komisi VII DPR, Siti Mukaromah.

  • 9 Desa Wisata Pilihan untuk Rayakan Pergantian Tahun Secara Reflektif

    9 Desa Wisata Pilihan untuk Rayakan Pergantian Tahun Secara Reflektif

    7cloud.asia – Beberapa waktu belakangan, makin banyak warga yang menjadikan desa wisata sebagai pilihan untuk berlibur karena memberikan pengalaman yang autentik, berkesan dan penuh nilai .

    Mulai dari pemandangan yang indah, aktivitas warga lokal hingga budaya yang diwariskan secara turun-temurun dapat memikat hati pengunjung yang datang ke desa wisata.

    Ternyata desa wisata tidak hanya menghadirkan pengalaman bagi wisatawan tetapi juga memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi lokal.

    Jika Anda tertarik untuk berlibur ke desa wisata, berikut sejumlah desa wisata yang menarik untuk dikunjungi bersama orang-orang terkasih di akhir tahun.

    Kawasan Pecinan Glodok, Jakarta
    Kawasan Pecinan Glodok hadir sebagai jendela waktu yang menggabungkan tradisi, sejarah, dan cita rasa perpaduan Tionghoa-Betawi.

    Pengalaman ini bisa didapatkan pengunjung dengan menyusuri lorong-lorong penuh toko klasik hingga mengunjungi kelenteng bersejarah seperti Vihara Dharma Bhakti.

    Selain itu, pengunjung juga akan dimanjakan dengan ramuan herbal, pernak-pernik budaya, dan jajanan legendaris yang menggugah selera di setiap sudut pasar.

    Wisata Wayang Desa Wukirsari, Yogyakarta
    Wisata Wayang Desa Wukirsari di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta menyajikan perpaduan menarik antara keindahan alam dan kekayaan budaya.

    Di kampung ini, pengunjung dapat mempelajari proses pembuatan wayang kulit (menatah), menyaksikan pertunjukan wayang, bermain gamelan, hingga menikmati keseruan sepak bola sawah khas masyarakat setempat.

    Wisata Batik Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta
    Desa Wisata Pentingsari menawarkan pengalaman unik yang memadukan keindahan alam, dan kearifan budaya.

    Pengunjung dapat tinggal bersama masyarakat setempat untuk merasakan kehidupan desa secara autentik melalui beragam aktivitas, mulai dari membatik, membuat wayang suket, hingga bercocok tanam.

    Keterlibatan aktif warga dalam pengembangan pariwisata berhasil mengantarkan Desa Wisata Pentingsari meraih penghargaan ASEAN Tourism Award 2023 dalam kategori community-based tourism.

    Wirawisata Goa Pindul, Yogyakarta
    Wirawisata Goa Pindul membangkitkan jiwa petualang pengunjung dengan menyusuri gua dengan stalaktit dan stalagmit yang memukau sambil mengapung di atas sungai bawah tanah menggunakan ban pelampung sambil mengapung di atas sungai bawah tanah menggunakan ban pelampung.

    Desa wisata ini juga menghadirkan pengalaman edukatif melalui program “Rumah Pangan Hidup” yang mengajak pengunjung untuk belajar menanam bibit, memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur mayur konsumsi sehari-hari, dan memanfaatkan sampah rumah tangga untuk diolah menjadi pupuk dan dijadikan media tanam.

    Desa Wisata Hijau Bilebante, Lombok
    Dulunya dikenal sebagai area tambang pasir, Desa Wisata Hijau Bilebante di Nusa Tenggara Barat kini telah bertransformasi menjadi destinasi yang asri dan menenangkan.

    Di tengah hamparan sawah yang hijau, pengunjung dapat menikmati spa dan pijat tradisional dengan sentuhan rempah-rempah alami khas desa. Bagi pecinta petualangan, sensasi menjelajah persawahan dengan ATV atau sepeda menambah keseruan pengalaman.

    Desa Wisata Hijau Bilebante berhasil meraih berbagai penghargaan, termasuk Best Tourism Villages Upgrade Program dari UNWTO pada 2023, ASEAN Tourism Awards 2025.

    Serta predikat Juara Umum dalam kategori Desa Wisata di Wonderful Indonesia Award 2025 dari Kementerian Pariwisata.

    Pura Agung Gunung Raung Desa Wisata Taro, Bali
    Desa Wisata Taro menyimpan cerita menarik di setiap sudutnya yang memadukan keindahan alam, budaya, dan nilai spiritual.

    Rumah-rumah tradisional di Delodsema Village, Pura Agung Gunung Raung, hingga rumah konservasi lembu putih menjadi simbol yang tak dapat dilewatkan dari desa ini.

    Wisatawan dapat menikmati beragam aktivitas, mulai dari trekking ke Air Terjun Yeh Pikat, belajar proses pembuatan perhiasan perak, dan menyaksikan ribuan kunang-kunang menari di The Fireflies Garden pada malam hari.

    Desa Wisata Kreatif Terong, Belitung
    Terletak di jalur utama pariwisata Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, Desa Wisata Kreatif Terong menjadi bukti transformasi kawasan bekas tambang timah menjadi destinasi wisata yang memadukan alam dan edukasi.

    Di Wisata Aik Rusa Berehun, Belitung
    Di desa wisata ini, pengunjung dapat merasakan pengalaman desa yang autentik, seperti menangkap udang, ikan, dan kepiting menggunakan cara tradisional masyarakat lokal.

    Pengunjung juga bisa menjelajahi jalur hiking menuju Bukit Tebalu Simpor Laki untuk menikmati panorama memukau khas Belitung dari ketinggian.

     

    Desa Wisata Limbongan, Belitung Timur
    Desa Wisata Limbongan di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung menyuguhkan pesona alam yang memikat sekaligus tradisi lokal yang kaya. Magnet utama dari desa ini adalah Gunong Lumut yang telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark sejak 2021.

    Masyarakat juga melakukan budidaya tanaman dan hewan melalui program Rumah Pangan Hidup yang bertujuan untuk memaksimalkan swasembada pangan rumah tangga.

    Desa Wisata Kelubi, Belitung Timur
    Desa Wisata Kelubi menjadi destinasi ideal bagi penggemar aktivitas outdoor. Rasakan aktivitas yang memacu adrenalin seperti trekking, trail running, hingga camping di alam terbuka yang asri.

    Bagi pencinta petualangan malam, desa ini juga menawarkan paket “wildlife” untuk mengamati satwa nokturnal seperti tarsius, musang, kelaras, dan kunang-kunang.

    Wisatawan juga bisa mendapatkan pengalaman unik dengan mengikuti tradisi Makan Bedulang, aktivitas makan bersama beralaskan daun yang menyajikan nasi randau dan beragam lauk-pauk yang kaya rasa.

  • Bali dan Yogyakarta Kian Disesaki Wisatawan: Desa Wisata Jadi Alternatif Menjanjikan

    Bali dan Yogyakarta Kian Disesaki Wisatawan: Desa Wisata Jadi Alternatif Menjanjikan

    7cloud.asia – Indonesia dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya sudah seharusnya memiliki banyak situs wisata yang tidak melulu mengandalkan nama lama seperti Bali, (kota) Yogyakarta, Bandung, dan sebagainya.

    Desa yang dianggap “kampungan” yang jadi tempat orang tua dan pensiunan menghabiskan sisa hidup nyatanya memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah menarik.

    Ini penulis rasakan sendiri ketika berwisata ke Desa Wisata Sade (Nusa Tenggara Barat), Desa Pulesari (Yogyakarta), Desa Umbulharjo (Yogyakarta), dan Desa Kanekes (Banten).

    Selain bisa mendatangkan wisatawan, dengan pendekatan yang tepat, desa pun bisa terhindar dari overtourism dan bisa memprioritaskan porsi manfaat untuk warga setempat terlebih dahulu.

    Namun, agar muncul titik desa wisata desa wisata baru, seluruh pemangku kepentingan perlu terlibat dalam pemerataan promosi dan akses infrastruktur.

    Menyulap desa miskin jadi desa maju
    Dengan menawarkan panorama alam yang asri dan alami, manfaat pariwisata di desa membuka banyak pintu penghasilan bagi para warga Desa Sade (NTB).

    Contohnya, wisatawan bisa langsung menginap dan makan ke rumah warga yang menyediakan jasa penginapan dan kuliner.

    Tapi yang paling penting, pembukaan desa wisata ini berfungsi jadi ajang promosi kebudayaan lokal setempat seperti kerajinan tangan lokal.

    Siti, seorang ibu rumah tangga penenun kain sasak khas Suku Sasak, bisa menambah pundi-pundi tambahan dengan menjual kain tenunnya ke wisatawan. Jumlahnya pun, menurut pengakuan Siti, layak untuk dijadikan sumber penghasilan.

    Baca: Desa wisata berbasis potensi lokal akan lebih berhasil

    Indonesia
    Ilustrasi di atas mencoba menjelaskan keberadaan sebuah desa agraris yang berorientasi pada pertanian bisa mendiversifikasi pendapatannya dari pengembangan sektor baru dari pariwisata.

    Bukan hanya itu, ada peluang memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas. Hal ini membuka peluang baru bagi pelaku UMKM lokal untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.

    Ada juga Desa Wisata Pulesari yang bisa bangkit usai luluh lantak akibat erupsi Merapi 2010 silam.

    Warga setempat sukses mengemas dampak negatif bencana dengan branding Wisata Alam dan Budaya Tradisi dan berbekal kepercayaan masyarakat, berhasil menarik wisatawan yang tidak hanya menikmati alam pedesaan, tetapi juga untuk merasakan keaslian budaya lokal.

    Selanjutnya ada Desa Wisata Petingsari, yang terletak di Desa Umbulharjo (Yogyakarta). Padahal desa ini pada tahun 1990-an mendapat predikat dusun termiskin nasional.

    Sejak 2008, warga memberanikan diri menjadi tuan rumah bagi masyarakat luar dengan membuka desanya menjadi desa wisata, dengan tema desa wisata berbasis alam, budaya dan pertanian yang berwawasan lingkungan.

    Hasilnya desa ini mendapat penghargaan Community Best Tourism dari ASEAN Tourism Award 2025 dengan pertumbuhan omzet dari Rp3,4 miliar menjadi Rp4,8 miliar pada 2024 (year-on-year) berkat kunjungan wisatawan lebih dari 29 ribu orang.

    Pendekatan berbasis komunitas untuk prioritaskan manfaat bagi warga
    Idealnya, desa wisata membuka jalan pemerataan ekonomi yang harus diterima oleh masyarakat desa.

    Pendekatan community based tourism (turisme berbasis komunitas) merupakan pendekatan yang ideal karena menempatkan masyarakat setempat sebagai tangan pertama dalam penerima manfaat.

    Baca: Pengembangan desa wisata jadi alat potensial untuk konservasi dan pembangunan berkelanjutan

    Pendekatan ini berlawanan dengan teori trickle down effect yang sangat kapitalis dan sumber terjadinya overtourism.

    Dengan mendahulukan warga lokal sebagai pelaku pariwisata berbasis komunitas, masyarakat akan mendapatkan sejumlah manfaat baik ekonomi, sosial dan lingkungan.

    Merujuk Undang Undang Desa, pengembangan desa berorientasi komunitas desa juga memberi jaminan posisi masyarakat sebagai subjek pembangunan desa yang aktif.

    Memang seiring perjalanannya, peningkatan arus wisata juga membawa tantangan baru bagi pembangunan berkelanjutan, mulai dari tekanan komersialisasi, degradasi budaya hingga resiko kerusakan alam bagi sebuah desa wisata.

    Namun, karena mengedepankan kepentingan komunitas desa, adat istiadat bisa jadi filter efektif terhadap efek negatif dari pariwisata yang disebutkan. Hal ini sudah terbukti sukses di Desa Wisata Kanekes Rumah Suku Baduy, Banten.

    Penduduk setempat di sana tidak menutup mata terhadap efek positif pariwisata yang datang. Tetapi mereka tetap menyaring dampak buruk dari luar melalui adat istiadat yang dijunjung tinggi.

    Alhasil hingga kini desa tersebut tetap ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara tanpa harus tergusur modernisasi pariwisata.

    Baca: Membangun desa wisata yang berkelanjutan lagi ramah lingkungan

    Bisakah pariwisata desa nasional berkembang?
    Per kuartal III 2025, sektor pariwisata berkontribusi 3,98 persen terhadap PDB nasional. Angka ini membuktikan pariwisata dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.

    Seiring dengan tren pariwisata yang semakin berkembang, banyak wisatawan nusantara yang mulai melirik destinasi baru yang menawarkan pengalaman yang berbeda seperti desa wisata yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

    Desa wisata menawarkan pengalaman yang autentik yang dimulai dari interaksi dengan warga lokal, ikut dalam kegiatan keseharian masyarakat desa yang melibatkan budaya lokal seperti ikut dalam kegiatan menenun, membatik, bertani yang merupakan hal yang jarang ditemukan pada destinasi wisata perkotaan.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada September 2025 kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Indonesia mencatat 1.39 juta, tumbuh positif 9,04 persen dibanding tahun sebelumnya.

    Peningkatan serupa juga terjadi pada wisatawan lokal yang turut bertumbuh 13,19 persen dari 83,36 juta menjadi 94,36 juta perjalanan.

    Desa-desa memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan sektor pariwisata dalam hal pemerataan promosi dan akses infrastruktur untuk bisa menciptakan titik pariwisata baru.

    Tak kalah penting, keseimbangan antara manfaaat ekonomi dan upaya menjaga kelestarian desa perlu dijaga agar desa wisata dapat menjamin dampak positif yang ditimbulkan terhadap perekonomian lokal, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Fitriyah Astri (Doctoral Student, Universitas Indonesia/UI), Imam Salehudin (Associate professor UI) dan Rifelly Dewi Astuti (Dosen UI)

  • Ada 6000 Desa Wisata di Seluruh Indonesia, Desa Penglipuran Bisa Jadi Model Pengembangan

    Ada 6000 Desa Wisata di Seluruh Indonesia, Desa Penglipuran Bisa Jadi Model Pengembangan

    7cloud.asia – Desa Wisata Penglipuran yang berada di Kabupaten Bangli, Bali, layak menjadi model pengembangan desa wisata berbasis komunitas di Indonesia.

    Hal ini karena Desa Penglipuran tidak hanya unggul sebagai destinasi wisata tetapi juga berhasil memadukan pelestarian budaya, pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan UMKM dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

    Salah satu keunggulan desa wisata Penglipuran adalah pengembangan secara bottom-up. Pengelolaannya hampir seratus persen dilakukan oleh masyarakat.

    “Ini yang sangat istimewa dan patut menjadi contoh bagi desa wisata lain di Indonesia,” kata Wakil Ketua Komisi VII DPR, Chusnunia Chalim saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik ke Bali, Kamis (09/07/2026),

    Kunjungan kerja ini dalam rangka melihat implementasi kebijakan pengembangan desa wisata pasca disahkannya Undang-Undang Kepariwisataan.

    “Kami datang dalam konteks fungsi pengawasan untuk melihat bagaimana implementasi kebijakan di lapangan, termasuk kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung kemajuan desa wisata,” ujar Legislator Dapil Lampung II itu.

    Baca: Ada Lebih dari 6000 Desa Wisata, Hanya 1 Persen yang Telah Mandiri

    Ia mengingatkan agar pertumbuhan sektor pariwisata tidak berujung pada menggusur masyarakat lokal dari ruang hidupnya.

    Menurutnya, pembangunan pariwisata harus tetap menjaga keseimbangan antara investasi, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat setempat.

    “Kita tidak ingin ketika pariwisata berkembang, masyarakat asli justru tersingkir. Jangan sampai tanah dijual, kemudian seluruh investasi dikuasai pihak luar sehingga masyarakat hanya menjadi penonton. Kemajuan pariwisata harus berjalan seimbang dan manfaatnya tetap dinikmati oleh masyarakat lokal,” tegasnya.

    Politisi PKB ini berharap hasil kunjungan tersebut dapat menjadi bahan bagi Komisi VII untuk mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata dalam memperkuat dukungan terhadap pengembangan desa wisata di berbagai daerah.

    Chusnunia mendorong penguatan kapasitas pengelolaan desa wisata melalui pendampingan yang berkelanjutan.

    Menurutnya, pengembangan desa wisata tidak cukup hanya membangun destinasi, tetapi juga harus dibarengi dengan tata kelola yang baik agar mampu berkembang dari desa rintisan menjadi desa wisata mandiri.

    Baca: Jatiluwih dan Wukirsari Masuk Daftar 55 Desa Wisata Terbaik Dunia

    Chusnunia menjelaskan, Indonesia saat ini telah memiliki lebih dari 6.000 desa wisata yang tersebar di berbagai daerah yang kemampuan manajerial perlu dibenahi agar mampu bertahan dan terus berkembang.

    Selain desa wisata Panglipuran, ada sejumlah desa wisata yang berkembang di Yogyakarta, Klaten, dan beberapa daerah lainnya. 

    “Tinggal bagaimana kita mengintensifkan manajerialnya serta daya tahan pengelolanya. Semangat mengelola desa wisata harus tetap terjaga meskipun kunjungan wisatawan naik turun sesuai musim,” imbuhnya.

    Menurutnya, desa wisata yang masih berada pada tahap rintisan maupun pemula harus mendapatkan perhatian lebih agar mampu naik kelas menjadi desa wisata berkembang hingga mandiri.

    “Kita dorong agar ada klasifikasi desa wisata. Yang masih rintisan atau pemula perlu banyak pendampingan pemerintah supaya bisa naik kelas. Sementara yang sudah mandiri tentu bisa lebih dilepas,” jelasnya.

    Dia menekankan pentingnya pelatihan manajemen bagi pengelola desa wisata, mulai dari pengelolaan organisasi hingga tata kelola keuangan yang akuntabel dan transparan.

    Menurutnya, lemahnya manajemen berpotensi memunculkan konflik internal ketika skala usaha semakin besar.

    “Kalau mengelola uang kecil mungkin masih bisa, tetapi ketika angkanya sudah besar tanpa manajemen yang baik, tanpa akuntabilitas dan transparansi, bisa menimbulkan persoalan bahkan konflik di antara para pengelola,” tegasnya.

    Baca: Pariwisata Berbasis Produk Indikasi Geografis Makin Diminati