7cloud.asia – Indonesia dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya sudah seharusnya memiliki banyak situs wisata yang tidak melulu mengandalkan nama lama seperti Bali, (kota) Yogyakarta, Bandung, dan sebagainya.
Desa yang dianggap “kampungan” yang jadi tempat orang tua dan pensiunan menghabiskan sisa hidup nyatanya memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah menarik.
Ini penulis rasakan sendiri ketika berwisata ke Desa Wisata Sade (Nusa Tenggara Barat), Desa Pulesari (Yogyakarta), Desa Umbulharjo (Yogyakarta), dan Desa Kanekes (Banten).
Selain bisa mendatangkan wisatawan, dengan pendekatan yang tepat, desa pun bisa terhindar dari overtourism dan bisa memprioritaskan porsi manfaat untuk warga setempat terlebih dahulu.
Namun, agar muncul titik desa wisata desa wisata baru, seluruh pemangku kepentingan perlu terlibat dalam pemerataan promosi dan akses infrastruktur.
Menyulap desa miskin jadi desa maju
Dengan menawarkan panorama alam yang asri dan alami, manfaat pariwisata di desa membuka banyak pintu penghasilan bagi para warga Desa Sade (NTB).
Contohnya, wisatawan bisa langsung menginap dan makan ke rumah warga yang menyediakan jasa penginapan dan kuliner.
Tapi yang paling penting, pembukaan desa wisata ini berfungsi jadi ajang promosi kebudayaan lokal setempat seperti kerajinan tangan lokal.
Siti, seorang ibu rumah tangga penenun kain sasak khas Suku Sasak, bisa menambah pundi-pundi tambahan dengan menjual kain tenunnya ke wisatawan. Jumlahnya pun, menurut pengakuan Siti, layak untuk dijadikan sumber penghasilan.
Baca: Desa wisata berbasis potensi lokal akan lebih berhasil
Indonesia
Ilustrasi di atas mencoba menjelaskan keberadaan sebuah desa agraris yang berorientasi pada pertanian bisa mendiversifikasi pendapatannya dari pengembangan sektor baru dari pariwisata.
Bukan hanya itu, ada peluang memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas. Hal ini membuka peluang baru bagi pelaku UMKM lokal untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
Ada juga Desa Wisata Pulesari yang bisa bangkit usai luluh lantak akibat erupsi Merapi 2010 silam.
Warga setempat sukses mengemas dampak negatif bencana dengan branding Wisata Alam dan Budaya Tradisi dan berbekal kepercayaan masyarakat, berhasil menarik wisatawan yang tidak hanya menikmati alam pedesaan, tetapi juga untuk merasakan keaslian budaya lokal.
Selanjutnya ada Desa Wisata Petingsari, yang terletak di Desa Umbulharjo (Yogyakarta). Padahal desa ini pada tahun 1990-an mendapat predikat dusun termiskin nasional.
Sejak 2008, warga memberanikan diri menjadi tuan rumah bagi masyarakat luar dengan membuka desanya menjadi desa wisata, dengan tema desa wisata berbasis alam, budaya dan pertanian yang berwawasan lingkungan.
Hasilnya desa ini mendapat penghargaan Community Best Tourism dari ASEAN Tourism Award 2025 dengan pertumbuhan omzet dari Rp3,4 miliar menjadi Rp4,8 miliar pada 2024 (year-on-year) berkat kunjungan wisatawan lebih dari 29 ribu orang.
Pendekatan berbasis komunitas untuk prioritaskan manfaat bagi warga
Idealnya, desa wisata membuka jalan pemerataan ekonomi yang harus diterima oleh masyarakat desa.
Pendekatan community based tourism (turisme berbasis komunitas) merupakan pendekatan yang ideal karena menempatkan masyarakat setempat sebagai tangan pertama dalam penerima manfaat.
Baca: Pengembangan desa wisata jadi alat potensial untuk konservasi dan pembangunan berkelanjutan
Pendekatan ini berlawanan dengan teori trickle down effect yang sangat kapitalis dan sumber terjadinya overtourism.
Dengan mendahulukan warga lokal sebagai pelaku pariwisata berbasis komunitas, masyarakat akan mendapatkan sejumlah manfaat baik ekonomi, sosial dan lingkungan.
Merujuk Undang Undang Desa, pengembangan desa berorientasi komunitas desa juga memberi jaminan posisi masyarakat sebagai subjek pembangunan desa yang aktif.
Memang seiring perjalanannya, peningkatan arus wisata juga membawa tantangan baru bagi pembangunan berkelanjutan, mulai dari tekanan komersialisasi, degradasi budaya hingga resiko kerusakan alam bagi sebuah desa wisata.
Namun, karena mengedepankan kepentingan komunitas desa, adat istiadat bisa jadi filter efektif terhadap efek negatif dari pariwisata yang disebutkan. Hal ini sudah terbukti sukses di Desa Wisata Kanekes Rumah Suku Baduy, Banten.
Penduduk setempat di sana tidak menutup mata terhadap efek positif pariwisata yang datang. Tetapi mereka tetap menyaring dampak buruk dari luar melalui adat istiadat yang dijunjung tinggi.
Alhasil hingga kini desa tersebut tetap ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara tanpa harus tergusur modernisasi pariwisata.
Baca: Membangun desa wisata yang berkelanjutan lagi ramah lingkungan
Bisakah pariwisata desa nasional berkembang?
Per kuartal III 2025, sektor pariwisata berkontribusi 3,98 persen terhadap PDB nasional. Angka ini membuktikan pariwisata dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Seiring dengan tren pariwisata yang semakin berkembang, banyak wisatawan nusantara yang mulai melirik destinasi baru yang menawarkan pengalaman yang berbeda seperti desa wisata yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Desa wisata menawarkan pengalaman yang autentik yang dimulai dari interaksi dengan warga lokal, ikut dalam kegiatan keseharian masyarakat desa yang melibatkan budaya lokal seperti ikut dalam kegiatan menenun, membatik, bertani yang merupakan hal yang jarang ditemukan pada destinasi wisata perkotaan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada September 2025 kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Indonesia mencatat 1.39 juta, tumbuh positif 9,04 persen dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan serupa juga terjadi pada wisatawan lokal yang turut bertumbuh 13,19 persen dari 83,36 juta menjadi 94,36 juta perjalanan.
Desa-desa memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan sektor pariwisata dalam hal pemerataan promosi dan akses infrastruktur untuk bisa menciptakan titik pariwisata baru.
Tak kalah penting, keseimbangan antara manfaaat ekonomi dan upaya menjaga kelestarian desa perlu dijaga agar desa wisata dapat menjamin dampak positif yang ditimbulkan terhadap perekonomian lokal, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Fitriyah Astri (Doctoral Student, Universitas Indonesia/UI), Imam Salehudin (Associate professor UI) dan Rifelly Dewi Astuti (Dosen UI)