Tag: difabel

  • 5 Sosok Difabel yang Menginspirasi

    5 Sosok Difabel yang Menginspirasi

    7cloud.asia – Menjadi difable atau disabilitas tak menjadi halangan lima sosok ini untuk terus berkarya. Mereka memiliki semangat dan tekad yang kuat sukses membuat lima tokoh difabel ini layak dijadikan inspirasi.

    Para difabel ini tak hanya bisa hidup mandiri, mereka juga mengukir prestasi dalam hidupnya dan berkarya nyata bagi masyarakat di sekitarnya.

    Meski difabel mereka pantang menyerah untuk menghasilkan karya hingga menciptakan lapangan kerja bagi sesama.

    Mari segera mengenal lebih dekat sosok para penyandang difabel lewat artikel berikut ini!

     1. Angkie Yudistia 

    Sumber foto : angkie.yudistia

    Di balik kesuksesan Angkie Yudistia yang dikenal sebagai Staf Presiden RI, terselip banyak cerita yang sangat inspiratif. Perempuan kelahiran Medan, 5 Juni 1987 itu menjadi difabel tuli sejak usia 10 tahun.

    Meski menjalani masa pendidikan yang tidak mudah sejak SD, Angkie tidak menyerah dan berhasil menoreh banyak prestasi.

    Angkie sukses terpilih menjadi finalis Abang None Jakarta pada tahun 2008 mewakili Jakarta Barat, kemudian meraih penghargaan The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, Miss Congeniality dari Natur-e, dan berbagai prestasi lainnya.

    Selain itu Angkie juga mendirikan Thisable Enterprise pada tahun 2011, sebuah social enterprise yang bertujuan untuk memberdayakan, menegakkan, mencerahkan masa depan difabel di Indonesia.

     

    2. M. Ade Irawan

    Sumber foto : M Ade Irawan

    Mendapat julukan sebagai Stevie Wonder versi Indonesia, M. Ade Irawan atau yang kerap disapa Ade Irawan merupakan salah satu pianis kebangaan tanah air dengan sederet prestasi yang membanggakan.

    Laki-laki kelahiran Inggris pada 15 Januari 1994 tersebut telah belajar bermain piano sejak masih belia. Keterbatasan fisik sebagai penyandang tunanetra tidak membuat Ade Irawan berhenti mengasah bakat dan kecintaannya terhadap dunia musik.

    Berkat mengikuti kehidupan sang Ibunda yang bertugas di Chicago, Amerika Serikat, Ade memiliki banyak kesempatan belajar dari para musisi blues dan jazz. Dirinya bahkan berhasil tampil di panggung musik bergengsi, seperti Chicago Winter Jazz Festival pada tahun 2006 dan 2007.

    Kepiawaian Ade juga turut memikat perhatian penggemar jazz dalam negeri. Ia menggelar konser tunggal pada Juni 2010 serta berpartisipasi dalam Java Jazz Festival 2010.

     

    3. Namira Zania Siregar 

    Sumber foto : namirazaniaa

    Berhasil mematahkan stigma kecantikan, Namira Zania Siregar merupakan model down syndrome dengan keterbatasan fisik yang berhasil diubah menjadi prestasi.

    Dikelilingi lingkungan yang suportif membuat Namira bisa mengekspresikan ketertarikannya pada dunia model dan juga menari.

    Keahliannya ini sukses membawa Namira tampil di ajang Jakarta Fashion Week 2018 sebagai model down syndrome pertama di JFW dan menjadi model salah satu merek skincare lokal ternama di Indonesia.

    Tak sampai di situ, Namira pun pernah berkesempatan mewakili Indonesia dalam ajang Asean Youth Festival 2018 dan Extraordinary Celebration 2019, lho!

     

    4. Nina Gusmita 

    Sumber foto : ninagusmitaa

    Nina Gusmita mengalami kecelakaan pada usia 18 tahun hingga membuatnya kehilangan salah satu kakinya. Namun kondisi tersebut tidak membuat perempuan kelahiran Medan, 8 Agustus 1998 ini berhenti berolahraga.

    Nina merupakan seorang atlet voli junior yang tetap bersemangat meneruskan mimpi menjadi seorang atlet profesional di tengah keterbatasan fisiknya. Dengan berbagai usaha yang dicoba, dirinya berhasil menoreh prestasi yang membanggakan. 

    Pada ajang Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua tahun 2021, Nina sukses mencetak rekor nasional dengan menyabet tiga medali emas di tiga nomor pertandingan sekaligus dalam cabang olahraga atletik dengan klasifikasi kursi roda. Wih, keren banget ya!

     

    5. Panji Surya Sahetapy

    Sumber foto : suryasahetapy

    Terlahir sebagai difabel tuli tidak membuat Panji Surya Sahetapy patah semangat dalam menjalani hidupnya. Laki-laki yang akrab disapa Surya ini merupakan anak bungsu dari Dewi Yull dan Ray Sahetapy yang lahir pada 21 Desember 1993.

    Walau sempat mengalami kesulitan sewaktu mengenyam bangku sekolah di Indonesia, dirinya berhasil menoreh banyak prestasi yang membanggakan.

    Surya adalah salah satu delegasi tunarungu Indonesia yang telah berkunjung ke berbagai tempat bergengsi di dunia, sebut saja konferensi tuli internasional Inggris, NASA, hingga PBB. Prestasi akademisnya juga membanggakan, karena dirinya berhasil meraih beasiswa di Rochester Institute of Technology (RIT) dan lulus dengan gelar cumlaude.

    Di tanah air, Surya kerap membagikan kegiatannya sebagai aktivis dalam GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) dan membuka kelas bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) di beberapa kota di Indonesia.

  • Kafe Difabis, Kisah Perjuangan Kelompok Difabel di Tengah Kerasnya Kota Jakarta

    Kafe Difabis, Kisah Perjuangan Kelompok Difabel di Tengah Kerasnya Kota Jakarta

     
     

    7cloud.asia – SAYA TULI. Tulisan dengan huruf besar dari kapur tulis berwarna itu tersapu apik di papan yang dipasang di depan Kafe Difabis.

    Bagi pengguna CL, Kafe Difabis yang berada di kolong jembatan layang tepat di pintu keluar Stasiun Sudirman itu mungkin sudah tidak asing lagi. Kafe Difabis yang diawaki para difabel ini sudah berumur hampir dua tahun.

    Bangunan Kafe Difabis yang berwarna coklat muda itu terlihat mencolok, kontras dengan warna lingkungan sekitar yang didominasi abu-abu.

    Baca: Cerita-serita Tuli, kisah keseharian difabel tuli di Solo

    Saat saya datang pada Senin (25/6/2023) siang lalu, seorang barista sedang merapikan Kafe Difabis yang berdiri sejak 2021 itu. Lantas dengan menggunakan bahasa isyarat dia menanyakan saya pesan apa.

    Dia menunjuk ke papan lain yang memuat menu dan daftar harga minuman di Kafe Difabis. Di papan itu juga dilengkapi dengan pilihan porsi gula, apakah less sugar ataupun no sugar. Sayapun memesan latte hangat less sugar.

    Tak berapa lama minuman pesanan saya siap, dan saya menikmati di bangku kecil yang disediakan di depan Kafe Difabis sambil memperhatikan lalu lalang para penumpang di Stasiun Sudirman.

    Baca: Kisah kelompok disabilitas dan perubahan iklim

    Robiatin, relawan difabel yang menjaga kedai kue Difabis di sebelahnya bercerita, awalnya Kafe Difabis ditujukan untuk difabel tuli dan daksa. Namun karena kondisi yang ada tidak memungkinkan, maka Difabis kini lebih banyak mempekerjakan difabel tuli.

    “Tempatnya terlalu sempit sehingga tidak bisa digunakan untuk pengguna kursi roda, selain itu toiletnya terlalu jauh,” ujar perempuan yang biasa dipanggil Atin itu.

    Atin, penyandang difabel fisik ini menambahkan, Kafe Difabis menyediakan kopi dan pastry. Kopi di Kafe Difabis diracik barista difabel yang sudah mendapatkan pelatihan barista yang digelar Baznas DKI Jakarta. 

    Baca: Menyoroti partisipasi kelompok disabilitas di panggung politik

    Sedangkan pastry di Kafe Difabis yang beroperasi sejak pukul 08:00 hingga pukul 19:00 ini dipasok oleh sebuah UMKM di Jakarta.

    Tak hanya mempelajari cara menakar komponen kopi, air, dan campurannya, para barista di Kafe Difabis juga belajar menghaluskan biji kopi.

    “Meski begitu, para barista belum belajar cara menyangrai biji kopi. Peran ini masih dilakukan oleh barista dan pengelola kedai kopi non difabel,” imbuh Atin.

    Baca: Perempuan dengan down syndrome rentan alami kekerasan

    Selain di Stasiun Sudirman, ada empat Kafe Difabis yang tersebar di sejumlah wilayah di Jakarta, seperti Matraman (Jakarta Timur) Sunter (Jakarta Utara) dan Jakarta Selatan. 

    Atin mengisahkan, keberadaan Kafe Difabis seperti ini sangat membantu para difabel seperti dirinya untuk bisa bekerja.

    Diakuinya, beberapa tahun belakangan ini makin banyak perusahaan ataupun lembaga pemerintah yang menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok difabel, kesempatan kerja itu tak langsung mudah didapat.

    Baca; Mengenal bipolar, salah satu disabilitas mental

    Perusahaan, ujarnya, sering mensyaratkan pengalaman kerja. Padahal untuk mendapatkan kesempatan magang itu sering tak didapat dengan mudah oleh penyandang difabel. 

    “Secara tidak langsung kami akan terpinggirkan,” keluhnya.

    Ia berharap, ke depan semakin banyak pemerintah kota yang bersedia turun tangan dan memberi kesempatan kerja bagi kelompok difabel seperti yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta lewat Kafe Difabis ini. 

    Untuk diketahui UU no. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengamanatkan kesempatan kerja bagi kelompok difabel sebesar 1 persen (perusahaan swasta) dan 2 persen (lembaga pemerintah). 

     
  • Pameran Lukisan Karya Anak Difabel jadi Ajang Silaturahmi

    Pameran Lukisan Karya Anak Difabel jadi Ajang Silaturahmi

    7cloud.asia – Pameran lukisan anak dan difabel bertajuk  “Jelajah Mimpi Anak Indonesia” dilangsungkan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sejak tanggal 24 Juni hingga 3 Juli 2023.

    Karya anak difabel ini bisa dinikmati oleh semua kalangan, baik itu anak-anak, remaja, para difabel hingga orang dewasa.  

    “Jelajah Mimpi Anak Indonesia” diangkat menjadi tema, berangkat dari pemahaman bahwa anak-anak dan remaja memiliki dunia yang penuh dengan harapan dan mimpi-mimpi, tak terkecuali anak-anak berkebutuhan khusus atau difabel.

    Pameran Lukis Anak dan Difabel ini diikuti oleh 80 peserta dari berbagai penjuru Nusantara, dan diharapkan akan menjadi sebuah ruang apresiasi sekaligus wadah yang tepat sebagai booster kreatifitas anak-anak difabel. 

    Peserta  pameran adalah para difabel tuli, autis dan ADHD. Karya-karya mereka beragam, dan memiliki makna mendalam. 

    Baca: Cerita Tuli, kisah keseharan difabel tuli di Solo

    Pameran Lukis Anak & Difabel Nasional ini diprakasai Creative Wave Indonesia atau CreaWave, sebuah institusi yang lahir dari kesamaan visi empat orang pendirinya.

    Mereka menyadari  tentang pentingnya sebuah wadah yang dapat memfasilitasi kegiatan kesenian, literasi dan pengembangan diri untuk menjawab kebutuhan anak difabel

    CreaWave Indonesia atau CWI lahir pada Oktober 2022, dan sudah menggelar sejumlah kegiatan. Filosofi CWI ingin seperti sebuah ombak, yang meski saat ini hanya berupa riak-riak kecil, tapi secara perlahan akan menjadi gelombang besar dan mampu membuat gerakan masif yang positif. 

    CWI berkomitmen untuk membantu dan mengembangkan kreativitas-pengembangan diri potensi anak difabel melalui terapi dengan seni dan literasi, pameran, pelatihan, juga kegiatan sosial kemanusiaan. 

    Baca: Kafe Difabis, kisah perjuangan difabel tuli di Jakarta

    Widyanto Gunawan, Ketua CWI saat membuka Pameran Pameran Lukis Anak  & Difabel Nasional pada Sabtu (24/6/2023) mengatakan CWI ingin memberikan akses bagi seniman-seniman muda Indonesia tanpa memandang latar belakang mereka.

    Menurutnya, pameran dengan peserta difabel ini baru pertama kali diadakan di Jakarta. CWI menyadari, anak-anak yang baru mulai menjajaki kehidupan butuh wadah dan jalan untuk memfasilitasi perkembangan serta mendukung secara moral dan fisik, sehingga akan berdampak positif bagi kondisi psikologi. 

    Pameran ini diharapkan menjadi kesempatan yang baik bagi anak-anak difabel agar berani menuangkan, mengolah dan mempresentasikan daya pikir dan kreasi mereka ke dalam sebuah bentuk visual yang ditampilkan kepada publik.

    Para seniman muda yang mampu mengekspresikan kreasinya akan memiliki memori tersendiri sekaligus dapat mendorong mereka untuk terus menggali ide-ide kreatif baru, bukan hanya sekadar berupa lukisan atau seni visual, tapi juga sisi kreatif di segala aspek.

    Baca: Belum ada kebijakan afirmatif untuk difabel terkait Pemilu

    Pameran ini bertujuan untuk menunjukkan kesetaraan antara anak-anak difabel dan non difabel.

    “Kita menyadari bahwa teman-teman difabel butuh perhatian lebih  karena itu layak diberikan sebuah ruang agar dapat menyampaikan pesan yang sulit dipaparkan secara normatif” terang Widyanto

    Ruang mikro tersebut dapat berupa media visual mereka yang dapat dinikmati, diapresiasi dan dipahami oleh publik. Hasilnya, karya-karya dari para difabel tak kalah dengan remaja umum. 

    Berkumpulnya 80 seniman muda  hebat dalam  pameran akan menjadi sebuah  ajang dan ruang untuk saling bersilaturahmi.

    Pameran ini menyediakan ‘Pojok Kreasi’ di salah satu sudut ruangan pameran. Di sini para pengunjung bisa menunjukkan sisi kreativitas mereka, sekaligus meluapkan emosi yang pastinya bisa menjadi media terapi sekaligus relaksasi dan hiburan.

    Baca: Keberhasilan Putri Ariani menginspirasi difabel di Indonesia

    Elemen-elemen yang terlibat atau stakeholder tersebut diharapkan dapat membangun support system yang baik, sehingga para peserta merasa difasilitasi, kemudian termotivasi dalam proses berkesenian dengan menjunjung kesetaraan tanpa membatasi ras, etnis, agama dan golongan tanpa terkecuali, termasuk anak difabel.

     

    Selain Pameran, beberapa rangkaian acara lainnya juga diadakan, diantaranya adalah Talk Show “Seni Lukis sebagai Media Terapi” Talkshow ” yang menghadirkan pembicara Dr.Dante Rigmalia, M.Pd Ketua Komisi Nasional Disabilitas, dr.H. Soleh, Sp.N, FINA, ME yaitu seorang Dokter Spesialis Neurologi dan Psikolog Klinis Agung Wahyu P, M.Psi pada hari Satu, 24 Juni 2023 pukul 13.00 – 15.30.

    Sedangkan pada hari Minggu tanggal 25 Juni 2023 diadakan Workshop Clay Art dan di hari Minggu 2 Juli 2023 akan diadakan Workshop Melukis menggunakan media Cat Aklirik.

    CreaWave Indonesia berharap, Pameran Lukis Anak dan Difabel Nasional bisa menjadi perhelatan  tahunan dan menjadi sebuah ruang berkumpulnya para seniman muda Indonesia.

    Baca: Sosok difabel yang menginspirasi

     

     

     

     

     

     

     

  • Surat Cinta dari Penyandang Disabilitas Membuat Ganjar Pranowo Terharu

    Surat Cinta dari Penyandang Disabilitas Membuat Ganjar Pranowo Terharu

    7cloud.asia – Di ujung masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mendapat kenangan indah dari penyandang disabilitas (difabel) di Kota Semarang.

    Sebuah surat cinta dibacakan oleh anak-anak difabel untuk Ganjar Pranowo yang pekan depan akan mengakhiri masa jabatannya sebagai orang nomor satu di Jawa Tengah. 

    Surat cinta itu dibacakan saat para penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang menemui Ganjar Pranowo di Puri Gedeh, Kota Semarang pada Sabtu (2/9/2023).

    Surat cinta itu dibuat oleh relawan KSD Semarang dan dibacakan langsung di hadapan Ganjar Pranowo, sebagai ucapan terima kasih dari para penyandang disabilitas atas dua periode kepemimpinan dia di Jawa Tengah.

    Baca: Ganjar Pranowo tak terpengaruh dengan dinamika politik jelang Pilpres 2024

    Faradila, difabel dari Komunitas Sahabat Difabel yang bertugas membacakan surat cinta itu menyebut, surat cinta itu merupakan apresiasi ke Ganjar Pranowo yang terus menunjukkan perhatian dan kepeduliannya kepada penyandang disabilitas.

    “Pesannya di situ ucapan terima kasih untuk Pak Ganjar yang selama ini bisa memajukan Jawa Tengah ya untuk menjadi lebih inklusif dan Jateng Gayeng pokoknya,” ujar Faradila.

    Berikut isi surat yang diberikan untuk Ganjar Pranowo:

    Ini bukanlah puisi yang puitis. Ini bukan pula lirik lagu romantis. Ini adalah surat cinta dari tuanmu, untukmu yang setia melayani rakyatmu.

    Satu dasawarsa telah berlalu, menemani perjuanganmu mengabdi serta keikhlasanmu dalam melayani. Karena bagimu, tuanku ya rakyat, gubernur cuma mandat.

    Dua periode menjabat banyak perubahan positif terjadi karena kinerjamu yang sat set. Banyak kemajuan telah dibangun karena daya juangmu yang tangguh.

    Sepuluh tahun berjuang, melahirkan Jateng Gayeng, menjadikan Jateng semakin inklusif. Membangun Jateng terus maju, menjadikan Jateng teladan yang baik.

    Sepuluh tahun berjuang, melahirkan Jateng Gayeng, menjadikan Jateng semakin inklusif. Membangun Jateng terus maju, menjadikan Jateng teladan yang baik.

    Terima kasih Pak Ganjar, putih rambutmu jadi ciri khasmu. Senyum ramahmu cermin keikhlasanmu. Kerutan keningmu tanda ketangguhanmu. Ketegasanmu adalah bukti integritasmu sebagai pemimpin sejati.

    Terima kasih ibu Atikoh. Ibu selalu setia mendampingi sebagai pasangan hidup. Hari ini bukanlah akhir dari tugasmu melayani tuanmu di wilayah ini. Hari ini adalah awal dari perjalananmu melayani tuanmu yang bertambah banyak.

    Terima kasih Pak Ganjar, surat cinta ini kami sampaikan untukmu. Bukan untuk sebuah perpisahan melainkan untuk sebuah harapan. Menjadikan Indonesia terus maju.

    Baca: Bus ramah disabilitas di Jawa Tengah

    Mendengar isi surat tersebut, Ganjar Pranowo yang didampingi sang istri Siti Atikoh tak kuasa menahan haru. Bahkan mata Siti Atikoh sempat berkaca-kaca saat menyimak surat yang dibacakan anak difabel itu.

    Usai mengakhiri pembacaan surat cinta, Farahdila mengungkapkan harapannya agar kesetaraan pendidikan untuk kaum difabel bisa terus ditingkatkan.

    Ia berharap Ganjar Pranowo terpilih jadi presiden demi mewujudkan kesetaraan pendidikan bagi penyandang disabilitas di seluruh Indonesia,  seperti yang telah dilakukan selama dua periode memimpin Jawa Tengah.

    “Harapannya untuk Pak Ganjar kalau misalkan jadi (Presiden RI 2024-2029) bisa memajukan Indonesia lebih inklusif, terutama untuk bidang pendidikan. Karena saya melihat untuk difabel ini untuk pendidikan masih minim inklusif gitu,” ucap Farahdila.

    Baca: Difabis, kisah perjuangan difabel bisu di Jakarta

     

    Dalam kesempatan yang sama, Founder KSD Semarang dan Roemah Difabel, Noviana Dibyantari mengatakan perhatian Ganjar Pranowo kepada penyandang disabilitas sangat tinggi. 

    Ganjar selalu melibatkan penyandang disabilitas di tiap penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan pengambilan keputusan lainnya.

    “Selama ini Pak Ganjar selalu memberi kesempatan kepada teman-teman penyandang disabilitas. Jadi beliau melibatkan kami dalam kegiatan musrenbang, baik di tingkat kelurahan hingga provinsi kemudian juga dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan penetapan kebijakan, kami dilibatkan di sana,” ujar Novi usai bertemu Ganjar.

    Novi menambahkan, kepemimpinan Ganjar yang mengedepankan humanis juga diterapkan kepada seluruh kalangan masyarakat, tak terkecuali penyandang disabilitas.

    Baca: Cerita-cerita tuli, kisah keseharian difabel tuli di Solo

    Untuk menegaskan komitmennya pada kesetaraan dan inklusifitas penyandang disabilitas, Ganjar juga mematangkan Rencana Peraturan Daerah (Raperda) Tentang Penyandang Disabilitas yang digodok bersama DPRD Jawa Tengah.

    “Jadi sudah mulai terlihat bahwa konsepnya bukan charity, tapi sekarang sudah Hak Asasi Manusia. Jadi kesetaraan dan inklusifitas itu selalu didengungkan Pak Ganjar di manapun beliau banyak menyampaikan kebijakan,” jelas Novi.

    Novi juga berharap Ganjar Pranowo bisa melanjutkan kepemimpinannya di tingkat nasional.

    “Harapannya, upaya-upaya dan kebijakan yang telah dilakukan pak Ganjar selama 2 periode memimpin Jawa Tengah, bisa dilanjutkan di tingkat nasional,” pungkas Novi.

    Baca: Pameran lukisan anak difabel

     

  • Mengenal Surya Sahetapy, Satu-satunya Difabel Tuli Asal Indonesia yang Berhasil Jadi Dosen di Rochester AS

    Mengenal Surya Sahetapy, Satu-satunya Difabel Tuli Asal Indonesia yang Berhasil Jadi Dosen di Rochester AS

    7cloud.asia – Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional yang jatuh pada Sabtu (23/9/2023) lalu, Ganjar Pranowo mengunggah video pendek berisi percakapannya dengan Surya Sahetapy di akun Instagramnya.

    “Alhamdulillah saya berkesempatan ngobrol banyak banget dengan Mas @suryasahetapy

    “Apa yang disampaikan Mas Surya Sahetapy juga mesti jadi pembelajaran buat kita semua bahwa memanusiakan manusia harus terejawantahkan dalam peraturan, kebijakan dan program kerja siapapun. Baik itu pemerintahan, lembaga maupun organisasi. Ruang diskriminasi harus kita tutup,” demikian Ganjar memberikan caption untuk unggahannya. 

    Panji Surya Sahetapy demikian nama lengkap laki-laki yang mencuri perhatian saya. Dia adalah putra bungsu pasangan Dewi Yull dan Ray Sahetapy.

    Baca: Putri Ariani, kisah sukses difabel netra

    Lantas apa yang membuat Surya Sahetapy berbeda? Dia adalah satu-satunya penyandang difabel tuli  dari Indonesia yang mengajar di Institut Teknologi Rochester Amerika Serikat. 

    Dalam perbincangan itu, Surya Sahetapy mengatakan betapa njomplangnya sekolah inklusi di Indonesia dengan di Rochester AS. Di sana, sekolah inklusi memberikan kesempatan yang setara kepada difabel, termasuk difabel tuli. 

    “Di SD, SMP dan SMA ada juru bahasa isyarat dan ada program bahasa isyarat, yang gurunya adalah difabel tuli,” terang Surya di video itu.

    Surya Sahetapy sbelumnya memang aktif di Gerakan Untuk Kesejahteraan Disabilitas Pendengaran Indonesia (Gerkatin).

    Baca: Potret keseharian difabel tulidi Solo lewat Cerita-cerita Tuli

    Gerkatin adalah organisasi yang fokus memperjuangkan hak difabel pendengaran dan linguistik-budaya, seperti akses bahasa Indonesia melalui teks, akses bahasa isyarat, akses kesetaraan dalam pekerjaan, akses kesehatan, akses pendidikan, dan sebagainya.

    Surya Sahetapy sempat menyelesaikan program magang di kantor Gubernur DKI Jakarta. Bersama rekan-rekannya, Surya juga membuka kelas bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) di beberapa kota di Indonesia.

    Pada tahun 2018, Surya Sahetapy dan kawan-kawannya mendirikan yayasan Handai Tuli untuk memajukan kesetaraan di antara masyarakat Tuli sebagai disabilitas linguistik-budaya dan masyarakat dengar di Indonesia.

    Surya Sahetapy divonis tuli sejak usianya 2 tahun. Namun, keterbatasan tersebut tak membuatnya menyerah. Ia pun belajar berkomunikasi dengan belajar bahasa isyarat sejak kecil karena memiliki kakak dan om Tuli.

    Baca: Cara kota Surabaya menjadi ramah difabel

    Ia menjalani terapi berbicara bersama Ibunya dan Instruktur dari sekolah, membaca gerak bibir lawan bicaranya serta komunikasi tulisan.

    Surya kemudian membuktikan walaupun tak mendengar, ia mampu menguasai Bahasa Indonesia lisan, tulis, bahasa isyarat Indonesia, Bahasa Isyarat Amerika, isyarat internasional, serta Bahasa Inggris tulis.

    Pada awalnya, Surya masuk jenjang TK dan SD di sekolah khusus bagi penyandang disabilitas pendengaran.

    Namun, ketika masuk ke SMP umum, ia merasa ada banyak hambatan, tidak seperti sekolah khusus penyandang disabilitas pendengaran, hingga kemudian ia memutuskan untuk bersekolah di rumah (home schooling).

    Surya memiliki keinginan untuk ke luar negeri, namun ia menyadari bahwa ia tidak bisa berbahasa Inggris.

    Baca: Kafe Difabis, potret perjuangan difabel di Jakarta

    Alih-alih menghindar, ia malah mengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris sewaktu sempat berkuliah di Universitas Siswa Bangsa Internasional (Sampoerna University), Jakarta Selatan.

    Setelah cuti kuliah selama 1,5 tahun hingga akhirnya ia berhasil untuk bersekolah di Institut Teknologi Rochester (RIT), National Technical Institute for the Deaf, Amerika Serikat.

    Dia mendapatkan gelar diploma (D3) pada 2019 jurusan Applied Liberal Arts (Konsentrasi: Bahasa Isyarat dan Kajian Tuli) dengan predikat Cum Laude.

    Ia pun menyelesaikan pendidikannya untuk meraih sarjana (S1) Studi Internasional di RIT dengan predikat Magna Cum Laude demi bisa kembali untuk membangun Indonesia.

     

    T

     
  • Bappenas: Trotoar di Jakarta Belum Ramah untuk Kelompok Difabel

    Bappenas: Trotoar di Jakarta Belum Ramah untuk Kelompok Difabel

    7cloud.asia – Kondisi trotoar di Kota Jakarta kini dianggap sudah jauh lebih baik untuk pejalan kaki tetapi belum ramah untuk kalangan difabel.

    Perencana Ahli Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Oswar Mungkasa menjelaskan trotoar bagi pejalan kaki di Kota Jakarta sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.

    Selain jauh lebih lebar dan nyaman, sebagian besar trotoar di Jakarta kini juga sudah dilengkapi fasilitas untuk difabel seperti penunjuk untuk difabel netra. 

    Namun, Oswar menilai  efektivitas trotoar di Jakarta masih belum memadai untuk disebut ramah untuk difabel.

    Baca: Menilik kondisi trotoar dan jalur sepeda di kota-kota di Indonesia

    Ia mencontohkan sudah adanya jalur kuning di trotoar untuk membantu difabel netra ketika berjalan kaki. Namun, banyak yang menghalangi jalur kuning itu, salah satunya pedagang kaki lima.

    “Bagaimana jika difabel netra menabrak kompor? Kalau difabel  netra menggunakan jalur kuning itu, maka dia akan menabrak ke mana-mana dan itu berbahaya,” ucap Oswar Kamis (12/10/2023) seperti dilansir Antara.

    Selanjutnya Oswar menjelaskan indikator suatu kota, termasuk DKI Jakarta, bisa disebut kota yang layak ketika kota tersebut ramah bagi pejalan kaki. Ada empat prinsip kota ramah pejalan kaki, salah satunya membudayakan berjalan kaki.

    “Ketika kita masih bisa berjalan kaki di sebuah kota dengan aman tanpa polusi, sebenarnya itu indikator sebuah kota yang layak,” katanya.

    Baca: Bersepeda, cara warga menikmati kotanya

    Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Oswar, ada beberapa prinsip Kota Ramah Pejalan Kaki.

    Prinsip pertama adalah membudayakan berjalan kaki. Menurutnya, saat ini masih banyak warga yang menggunakan kendaraan roda dua untuk pergi ke tempat dalam jarak dekat.

    “Bahkan di sekolah-sekolah, anak SD itu kan tidak diajarkan jalan kaki. Biasa diantar dengan motor,” ucapnya.

    Menurutnya dukungan serta regulasi pemerintah untuk budaya jalan kaki sudah cukup. Tetapi staf pemerintah juga perlu menjadi contoh dengan berangkat ke kantor dengan naik transportasi umum.

    Baca: Empat kota dunia yang sangat memprioritaskan pejalan kaki

    Prinsip kedua adalah peningkatan inklusivitas mobilitas. Jalan, taman, gedung publik, dan transportasi publik harus terjangkau oleh semua kalangan.

    Prinsip ketiga adalah dukungan rencana tata ruang dan guna lahan. Menurutnya jaringan pejalan kaki di DKI Jakarta masih belum saling terintegrasi.

    Prinsip keempat adalah peningkatan keterpaduan jaringan, dukungan pemerintah, terbebas dari kejahatan dan rasa takut, pengurangan bahaya jalan raya, dan ruang dan tempat terancang yang terkelola baik.

    Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta seharusnya dapat memanfaatkan momen penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk merancang sistem transportasi dan peta jalan Kota Ramah Pejalan Kaki.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Pemkot Jakarta Barat Siapkan 217 Kursi Roda Bagi Difabel Kurang Mampu pada 2024

    Pemkot Jakarta Barat Siapkan 217 Kursi Roda Bagi Difabel Kurang Mampu pada 2024

    7cloud.asia – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat membuka kesempatan bagi para difabel di Jakarta Barat untuk mengajukan bantuan kursi roda ke Pemkot melalui RT/RW setempat.

    Kepala Suku Dinas Sosial (Kasudinsos) Jakarta Barat, Suprapto mengatakan dari RT/RW, pengantar pengajuan bantuan kursi roda dari difabel akan dilanjutkan ke kelurahan.

    Selanjutnya, pihak kelurahan akan mengeluarkan surat pengantar masyarakat (Surat PM 1) yang ditujukan ke Sudinsos.

    Setelah menerima surat PM 1, Sudinsos akan menugaskan Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) kecamatan untuk mengunjungi dan mengonfirmasi keadaan difabel yang mengajukan.

    Suprapto mengatakan, hingga akhir Juni 2024 pihak Pemkot Jakarta Barat telah mendistribusikan 114 kursi roda bagi difabel kurang mampu di wilayah Jakarta Barat.

    Baca: Trotoar di Jakarta belum ramah difabel

    Sebanyak 114 kursi roda tersebut merupakan sebagian dari 217 kursi roda yang akan disalurkan pada 2024.

    “Distribusi ABF (alat bantu fisik) sampai dengan triwulan II, akhir Juni itu sejumlah 114 orang dapat bantuan kursi roda,” kata Suprapto dikutip Antaranewws.com, Senin (1/7/2024).

    Adapun 114 penerima kursi roda tersebut terdiri atas 111 orang dewasa dan tiga anak.

    Hingga kini, Sudinsos Jakarta Barat terus berupaya menyalurkan bantuan kursi roda serta alat bantu fisik lainnya yang sudah diajukan masyarakat sejak 2023.

    “Terus didistribusikan sesuai permintaan masyarakat,” tuturnya.

    Baca: Kafe Difabis fasilitasi difabel bekerja

    Pada tahun 2024, lanjut Suprapto, terdapat total 257 alat bantu terdiri atas 217 kursi roda, 25 alat bantu dengar dan 15 tongkat yang akan disalurkan.

    “Nanti yang belum tersalur masih menunggu pengadaan. Nanti sekitar Juli 2024 kalau pengadaan baru disalurkan,” ucapnya.

    Lebih lanjut, Suprapto menuturkan bahwa 257 alat bantu yang sudah diprogramkan dalam anggaran 2023 itu masih bisa ditambah melalui usulan baru perubahan APBD DKI Jakarta jika di lapangan tidak sesuai kebutuhan.

    “Pengadaan alat bantu oleh Pemprov untuk bantu warga difabel disabilitas yang tidak mampu dan memang butuh,” katanya.

    Sumber:Antaranews.com