Kafe Difabis, Kisah Perjuangan Kelompok Difabel di Tengah Kerasnya Kota Jakarta

Written by

in

 
 

7cloud.asia – SAYA TULI. Tulisan dengan huruf besar dari kapur tulis berwarna itu tersapu apik di papan yang dipasang di depan Kafe Difabis.

Bagi pengguna CL, Kafe Difabis yang berada di kolong jembatan layang tepat di pintu keluar Stasiun Sudirman itu mungkin sudah tidak asing lagi. Kafe Difabis yang diawaki para difabel ini sudah berumur hampir dua tahun.

Bangunan Kafe Difabis yang berwarna coklat muda itu terlihat mencolok, kontras dengan warna lingkungan sekitar yang didominasi abu-abu.

Baca: Cerita-serita Tuli, kisah keseharian difabel tuli di Solo

Saat saya datang pada Senin (25/6/2023) siang lalu, seorang barista sedang merapikan Kafe Difabis yang berdiri sejak 2021 itu. Lantas dengan menggunakan bahasa isyarat dia menanyakan saya pesan apa.

Dia menunjuk ke papan lain yang memuat menu dan daftar harga minuman di Kafe Difabis. Di papan itu juga dilengkapi dengan pilihan porsi gula, apakah less sugar ataupun no sugar. Sayapun memesan latte hangat less sugar.

Tak berapa lama minuman pesanan saya siap, dan saya menikmati di bangku kecil yang disediakan di depan Kafe Difabis sambil memperhatikan lalu lalang para penumpang di Stasiun Sudirman.

Baca: Kisah kelompok disabilitas dan perubahan iklim

Robiatin, relawan difabel yang menjaga kedai kue Difabis di sebelahnya bercerita, awalnya Kafe Difabis ditujukan untuk difabel tuli dan daksa. Namun karena kondisi yang ada tidak memungkinkan, maka Difabis kini lebih banyak mempekerjakan difabel tuli.

“Tempatnya terlalu sempit sehingga tidak bisa digunakan untuk pengguna kursi roda, selain itu toiletnya terlalu jauh,” ujar perempuan yang biasa dipanggil Atin itu.

Atin, penyandang difabel fisik ini menambahkan, Kafe Difabis menyediakan kopi dan pastry. Kopi di Kafe Difabis diracik barista difabel yang sudah mendapatkan pelatihan barista yang digelar Baznas DKI Jakarta. 

Baca: Menyoroti partisipasi kelompok disabilitas di panggung politik

Sedangkan pastry di Kafe Difabis yang beroperasi sejak pukul 08:00 hingga pukul 19:00 ini dipasok oleh sebuah UMKM di Jakarta.

Tak hanya mempelajari cara menakar komponen kopi, air, dan campurannya, para barista di Kafe Difabis juga belajar menghaluskan biji kopi.

“Meski begitu, para barista belum belajar cara menyangrai biji kopi. Peran ini masih dilakukan oleh barista dan pengelola kedai kopi non difabel,” imbuh Atin.

Baca: Perempuan dengan down syndrome rentan alami kekerasan

Selain di Stasiun Sudirman, ada empat Kafe Difabis yang tersebar di sejumlah wilayah di Jakarta, seperti Matraman (Jakarta Timur) Sunter (Jakarta Utara) dan Jakarta Selatan. 

Atin mengisahkan, keberadaan Kafe Difabis seperti ini sangat membantu para difabel seperti dirinya untuk bisa bekerja.

Diakuinya, beberapa tahun belakangan ini makin banyak perusahaan ataupun lembaga pemerintah yang menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok difabel, kesempatan kerja itu tak langsung mudah didapat.

Baca; Mengenal bipolar, salah satu disabilitas mental

Perusahaan, ujarnya, sering mensyaratkan pengalaman kerja. Padahal untuk mendapatkan kesempatan magang itu sering tak didapat dengan mudah oleh penyandang difabel. 

“Secara tidak langsung kami akan terpinggirkan,” keluhnya.

Ia berharap, ke depan semakin banyak pemerintah kota yang bersedia turun tangan dan memberi kesempatan kerja bagi kelompok difabel seperti yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta lewat Kafe Difabis ini. 

Untuk diketahui UU no. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengamanatkan kesempatan kerja bagi kelompok difabel sebesar 1 persen (perusahaan swasta) dan 2 persen (lembaga pemerintah). 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *