Tag: dunia kerja

  • Kiat Menerapkan Slow Living di Dunia Kerja yang Sibuk

    Kiat Menerapkan Slow Living di Dunia Kerja yang Sibuk

    7cloud.asia – Bagi pekerja perusahaan, pasti sudah pernah menjawab “Saya tak ada waktu” saat ada teman mengajak hanging out. Tapi jawaban itu mungkin tak akan kamu lontarkan jika kamu menerapkan konsep slow living di dunia kerja.

    Ya, tatanan masyarakat modern telah mengurangi nilai kita sebagai manusia. Kita ditakar dari apa yang kita hasilkan atau apa yang kita miliki. Jika lelah dengan semua itu maka tak ada salahnya menjalani slow living di dunia kerja. 

    Tapi bagaimana konsep slow living diterjemahkan ke kehidupan nyata atau dunia kerja yang telanjur sibuk? Itu mungkin yang kamu lontarkan.

    Tak usah galau, karena ada cara yang tak terlalu rumit untuk mengubah hidup kita termausk dunia kerja kita menjadi lebih perlahan dengan slow living.

    Baca: Kiat memulai hari ala penganut slow living

    Dilansir vanillapapers.net, konsep slow living adalah tentang mengubah pola pikir kamu dan membuat perubahan kecil namun konsisten dalam hidup, termasuk di dunia kerja.

    Konsep slow living adalah membuat hidup kita berjalan lebih tenang dan smooth  dengan cara kita sendiri.

    Berikut adalah tip utama untuk menjalani kehidupan dengan konsep slow living dan lebih penuh perhatian yakni fokus pada dampak bukan pada kesibukan.

    Rapat terus-menerus, pemberitahuan berdengung, dan email yang mengisi begitu banyak tempat kerja adalah lingkungan kerja yang buruk.

    Baca: Jalani hidup yang lebih tenang dengan konsep slow living

    Tugas yang tiada putus adalah gangguan terburuk untuk kita yang ingin fokus pada pekerjaan.

    Jika kamu pernah tiba lebih awal di kantor dan menghasilkan pekerjaan yang berharga hanya dalam beberapa jam, kamu akan tahu kekuatan konsentrasi.

    Pekerjaan adalah sumber dari begitu banyak stres. Beban pekerjaan begitu mudah membuat kita  seolah terus-menerus sibuk tanpa banyak yang bisa kita  tunjukkan.

    Meski kamu tidak dapat menonaktifkan email, ada perubahan sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan menghilangkan kesibukan.

    Baca: Beberapa salah kaprah soal slow living

    Berikut cara menerapkan konsep slow living di tempat kerja:

    1. Tetapkan beberapa waktu tertentu dalam sehari untuk membalas email Anda. Dan curahkan sisa hari Anda untuk pekerjaan yang lebih fokus tanpa terus-menerus memeriksa kotak masuk.

    2. Selesaikan masalah yang sedang berlangsung dengan rekan kerja dengan percakapan nyata alih-alih email bolak-balik tanpa henti.

    3. Lakukan obrolan jujur ​​​​dengan atasan dan beri tahu mereka bagaimana kamu dapat meningkatkan kinerja dengan seharian bekerja dari rumah atau dari lokasi yang bebas gangguan.

    Baca: Gaya hidup minimalis kembali dilirik

    Jika kamu masih belum yakin tips itu bisa diterapkan, maka kamu bisa mendengarkan beberapa podcast ini selama dalam perjalanan ke tempat kerja.

    Podcast ini akan memberikan bekal lebih banyak bagi kamu untuk menerapkan konsep slow living di tempat kerja: 

    Deeps Questions oleh penulis laris Cal Newport menawarkan tips yang sangat berharga untuk meningkatkan konsentrasi dan melakukan pekerjaan yang bermakna. Podcast Newport mencakup wawancara mendalam dengan para pakar kreativitas, pekerjaan mendalam vs kedangkalan, disiplin dan kebiasaan.

    Esensialisme oleh Greg McKeown adalah podcast hebat lainnya untuk siapa saja yang sibuk tetapi tidak terlalu produktif. McKeown mengeksplorasi cara melakukan lebih sedikit, tetapi lebih baik. 

    Jadi selamat mencoba menerapkan konsep slow living dan rasakan hasilnya.

    Baca: Lima prinsip dasar frugal living

  • Apa Prioritas dan yang Dicari Gen Z di Dunia Kerja?

    Apa Prioritas dan yang Dicari Gen Z di Dunia Kerja?

    7cloud.asia – Generasi Z atau Gen Z atau mereka yang lahir di periode 1997-2012 menjadi generasi yang paling disorot dalam banyak diskusi di berbagai tempat.

    Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi Gen Z mencapai 34,74 persen dari seluruh usia produktif di Indonesia.

    Banyaknya Gen Z yang mulai masuk menjadi tenaga kerja juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan pemberi kerja.

    Meskipun sebuah penelitian mengatakan Gen Z memiliki karakter yang sama dengan generasi Milenial, mereka memiliki tetap memiliki karakteristik uniknya sendiri dan prioritas yang berbeda dalam mencari pekerjaan.

    Lantas, apa yang gen Z cari dalam bekerja dan mencari pekerjaan? 

    Baca: 10 juta Gen Z di Indonesia menganggur

    Dalam episode SuarAkademia terbarunya, The Conversation berdiskusi dengan Adhi Cahya Fahadayna, Dosen dari Universitas Brawijaya, Malang.

    Adhi mengatakan prioritas yang dicari gen Z dalam dunia kerja sangat berbeda bila dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

    Jika generasi X dan Milenial mencari stabilitas dan keamanan dalam bekerja, generasi Z melihat fleksibilitas dalam bekerja dan work-life balance sebagai dua hal yang paling penting bagi mereka.

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan Adhi Cahya, pemberian jam kerja yang fleksibel dan keseimbangan antara kehidupan personal dan pekerjaan terhadap gen Z ternyata terbukti bisa menaikkan produktivitas generasi ini.

    Baca: Penyebab 10 juta Gen Z di Indonesia menganggur

    Adhi juga menambahkan generasi ini mencari mentor yang bisa meningkatkan kapabilitas mereka dalam bekerja di dunia kerja.

    Menurutnya, Gen Z adalah generasi yang suka mempelajari hal baru dan akan merasa nyaman untuk bekerja di sebuah tempat yang memberikan arahan yang jelas dalam melakukan pekerjaan dan membangun masa depan mereka sebagai pekerja.

    Namun, Gen Z juga perlu memperhatikan kemampuan yang mereka butuhkan untuk memasuki dunia kerja.

    Adhi beranggapan Gen Z perlu memiliki pemahaman tentang aspek adaptasi di lingkungan kerja, profesionalisme, dan nilai pengalaman dalam dunia kerja.

    Penulis: Muammar Syarif, Podcast Producer The Conversation

  • Transisi Karier Semakin ‘Random’: Pekerja Dituntut Makin Adaptif

    Transisi Karier Semakin ‘Random’: Pekerja Dituntut Makin Adaptif

    7cloud.asia – Pandemi mengubah cara orang dalam melihat dunia kerja. Bukan cuma soal preferensi tempat kerja yang tak perlu di kantor, kondisi kerja dan work-life balance jadi faktor yang diperhatikan orang-orang di seluruh dunia.

    Namun, di sisi lain, kita juga berhadapan sama ‘otomatisasi teknologi’ yang menambah maupun menghapus banyak lapangan pekerjaan. Misalnya, penggunaan kecerdasan buatan (AI) memengaruhi banyak industri, mulai dari media hingga transportasi.

    Perubahan yang terus terjadi di dunia kerja menuntut pekerja untuk lebih luwes, terutama saat memilih karier yang cocok ataupun berpindah karier. Keluwesan ini amat bergantung dengan adaptabilitas karier kita.

    Adaptabilitas karier menjadi penting. Data Indonesia Talent Trends tahun 2023 menunjukkan semakin banyak orang yang mengundurkan diri, ingin mencari pekerjaan baru, dan quiet quitting (mundur pelan-pelan).

    Selain itu, munculnya berbagai kebutuhan skill baru memaksa kita untuk melakukan reskilling (belajar keterampilan baru) dan upskilling (peningkatan keterampilan) agar tangguh, adaptif dan produktif, misalnya keterampilan berpikir kritis, agile (lincah), melek teknologi atau berpikir kreatif.

    Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan kombinasi antara keterampilan kognitif, interpersonal dan adaptabilitas.

    Baca: Prioritas dan yang dicari Gen Z di dunia kerja

    Adaptabilitas merupakan salah satu bagian dari psikososial yang menunjukkan kemampuan individu untuk menghadapi tugas-tugas pengembangan saat ini dan yang akan datang, transisi pekerjaan, serta trauma pribadi .

    Seseorang dengan daya adaptasi karier yang tinggi akan mampu mengatur diri untuk mencapai tujuan karier dan mengantisipasi perubahan karier yang tidak teprediksi.

    Orang semacam ini juga bisa lebih mudah bekerja meski baru lulus dari sekolah/universitas, mempunyai strategi pencarian kerja yang lebih efektif, dan kepuasan kerja yang lebih tinggi.

    Terdapat empat dimensi utama dalam melihat adaptabilitas karier yaitu memiliki kepedulian terhadap masa depan (concern), mampu mengatur diri dalam pengambilan keputusan karier dan tanggung jawab masa depan (control),

    Mereka juga memiliki rasa ingin tahu tentang berbagai aspek karier dan pekerjaan (curiosity), dan kepercayaan diri untuk menghadapi dan mengatasi rintangan karier (confidence).

    Seseorang dengan adaptabilitas karier baik biasanya mampu mengeksplorasi karier, mengatasi kesulitan pengambilan keputusan karier, meningkatkan aspirasi karier, dan lebih sejahtera secara psikologis.

    Baca: Sebanyak 10 juta Gen Z menganggur

    Adaptabilitas karier orang Indonesia
    Sebuah penelitian yang melihat skala adaptabilitas karier menggunakan Rasch Analysis pada 1953 responden berusia 10 – 24 tahun menunjukkan bahwa adaptabilitas karier generasi muda di Indonesia berada dalam kategori sedang.

    Rata-rata kemampuan adaptasi karier remaja Indonesia menempati peringkat ke-26 di dunia. Artinya, kemampuan zilenial Indonesia dalam menghadapi tantangan dan perubahan karier masih di bawah negara-negara lain.

    Salah satu faktor pembentuk karakteristik kaum muda Indonesia adalah tumbuh di negara multikultur.

    Sebagai masyarakat yang erat dengan budaya kolektif, kaum muda Indonesia cenderung melibatkan orangtua dalam pengambilan keputusan-keputusan karier.

    Sehingga, harapan akademis dan karier orangtua tidak hanya memengaruhi keputusan karier kaum muda tapi juga menghambat mereka untuk mengubah karier.

    Akibatnya, kaum muda cenderung kesulitan dalam menentukan arah pengembangan karier jika tidak memiliki dukungan sosial seperti lembaga pendidikan, pendidik, orang tua, dan teman sebaya.

    Baca: Gen Alfa akan membentuk dunia kerja di masa depan

    Selain itu, kaum muda Indonesia cenderung memiliki banyak pertimbangan sehingga sulit menyesuaikan diri dengan perubahan karier yang dinamis karena dipengaruhi oleh sikap dan pandangan keluarga, komunitas dan/atau keyakinan atau kepercayaan yang dianut.

    Penelitian menunjukkan bahwa adaptabilitas karier remaja dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat yang komunal dan spiritual.

    Adaptif menghadapi transisi
    Berhadapan dengan berbagai tantangan ini, kita dapat meningkatkan adaptabilitas karier dengan cara:

    1. Memiliki orientasi masa depan dan fokus pada tujuan karier
    Kemampuan untuk memikirkan masa depan dengan menyusun langkah untuk mencapainya berpengaruh pada kesiapan dalam menghadapi berbagai kemungkinan karier.

    2. Melakukan eksplorasi karier dan mengembangkan diri.
    Kegiatan magang dapat menjadi alternatif untuk mengeksplorasi kemampuan, memberikan keterampilan kerja, dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

    3. Melakukan reskilling dan upskiliing yang sesuai dengan perubahan.
    Keterampilan kerja yang dibutuhkan saat ini terus mengalami perkembangan, kita perlu mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan pengembangan diri khususnya keterampilan di bidang teknologi.

    Baca: Fleksibilitas makin mewarnai dunia kerja 

    4. Memiliki keyakinan untuk mengambil keputusan-keputusan karier.
    Perubahan tren pekerjaan, regulasi, dan situasi ekonomi yang tidak terprediksi menuntut generasi muda untuk cepat menentukan langkah. Keterlambatan dalam pengambilan keputusan mengakibatkan hilangnya kesempatan.

    5. Meningkatkan kemampuan interpersonal.
    Kita sebaiknya mampu membangun relasi dari berbagai latar belakang bidang keahlian. Networking dapat membuka kolaborasi dan membuka kesempatan-kesempatan baru dan berdampak pada kesuksesan karier.

    Transisi adalah keniscayaan. Kita pasti mengalami perpindahan—setidaknya dari sekolah ke dunia kerja, dari satu jenjang pendidikan ke selanjutnya, dari satu tugas ke tugas yang lain, atau bahkan transisi ekonomi dan situasi lainnya.

    Oleh karena itu, beradaptasi dengan perubahan adalah keharusan agar kita mampu menangkap peluang karier dan mengembangkannya.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Siti Aminah (Lecturer at Department of Educational Psychology and Guidance, Faculty of Education and Psychology, Universitas Negeri Yogyakarta)