Tag: ekosistem

  • Kebijakan Ekspor Pasir Laut Mengancam Kehidupan Nelayan dan Ekosistem Pesisir

    Kebijakan Ekspor Pasir Laut Mengancam Kehidupan Nelayan dan Ekosistem Pesisir

    Ilustrasi pengisapan pasir laut untuk ekpor. Foto: Jatam

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo pada 15 Mei 2023 mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2023 yang membolehkan pengisapan pasir laut ataupun sedimennya di luar wilayah pertambangan untuk ekspor pasir laut.

    Pengisapan pasir untuk ekpor pasir laut sebelumnya diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2002.

    Beleid sekaligus membuka kembali penjualan pasir ataupun sedimen ke luar negeri ekspor pasir laut setelah dilarang sejak 20 tahun silam.

    Terbitnya aturan yang mengizinkan ekspor pasir laut ini langsung mencuatkan protes dari banyak pihak baik akademisi maupun nelayan.

    Mereka menganggap PP No. 26 Tahun 2023 justru berisiko memperparah kerusakan lingkungan pesisir dan laut. Pulau-pulau kecil juga kian terancam tenggelam–selain karena kenaikan muka air laut akibat pemanasan global dan eksploitasi ekosistem besar besaran untuk ekspor pasir laut.

    Baca: Sejumlah organisasi tolak kebijakan ekspor pasir laut

    Apa dampak kebijakan yang mengizinkan ekspor pasir laut untuk lingkungan, berikut tulisan Noir Primadona Purba, dosen dan peneliti soal kelautan dari Universitas Padjadjaran yang telah terbit di The Conversation.

    Kekhawatiran mereka yang menolak dibukanya kembali keran ekspor pasir laut cukup beralasan. Sejak beberapa tahun silam, saya turut menelaah aktivitas pertambangan di beberapa perairan Indonesia.

    Saya menemukan sejumlah dampak yang merugikan dari pengisapan pasir laut untuk ekspor pasir laut bagi lingkungan ataupun masyarakat pesisir, seperti: 

    1. Kerusakan ekosistem mangrove, lamun, dan karang

    Pemerintah mengklaim pengisapan sedimen dan pasir laut bertujuan mengurangi dampak negatif ekosistem pesisir yang menyerap karbon lebih baik dibandingkan ekosistem darat.

    Ekosistem pesisir ini turut mencakup kawasan mangrove, lamun, maupun terumbu karang.Klaim ini layak dipertanyakan.

    Berdasarkan pemantauan saya di beberapa perairan di Indonesia, setelah proses pengisapan, sisa pasir ataupun endapan justru turut tumpah dari kapal isap ke permukaan air. Akibatnya, laut dapat menjadi keruh dengan tingkat kekeruhan (turbiditas) yang tinggi dan hal ini bisa mencapai ke ekosistem pesisir.

    Dalam beberapa hasil simulasi, saya dan tim melihat sebaran material ini akan sangat tergantung pada kondisi arus laut, angin, pasang surut, dan batimetri (kedalaman). Material tersebut bisa ‘berkelana’ hingga radius puluhan km.

    Nah, keruhnya perairan akan menghalangi sinar matahari sehingga menghambat proses fotosintesis tumbuhan di ekosistem lamun ataupun mangrove. Hewan karang yang memadati terumbu juga terancam ‘sesak napas’ karena mereka membutuhkan sinar matahari yang cukup untuk mendapatkan oksigen. Saya memprediksi biaya rehabilitasi ekosistem pesisir akan lebih besar dari pada penjualan pasir itu sendiri.

    Material yang terbawa ke pesisir, selain akan mengganggu pertumbuhan ekosistem, juga berisiko membawa logam berbahaya.

    Baca: DPR juga tolak kebijakan ekspor pasir laut

    2. Terangkatnya endapan limbah di pesisir

    Selain menjadi tempat mendaratnya pasir dan sedimen, dasar laut juga menjadi lokasi berlabuhnya macam-macam limbah. Misalnya, air limbah rumah tangga dari rumah-rumah warga ataupun dari air lindi di tempat pembuangan sampah. Ada juga limbah sisa pertambangan yang memang sengaja dibuang ke laut.

    Limbah ini akan terperangkap di dasar laut–terutama yang berdekatan dengan muara sungai. Pengendapan ini sudah berlangsung lama akibat tidak adanya pengolahan limbah di darat.

    Pengisapan dan atau pengerukan dapat membuat limbah yang tadi terendap menjadi naik kembali ke badan air. Naiknya limbah bisa berdampak fatal bagi biota laut bahkan ke manusia melalui rantai makanan.

    3. Mengganggu ekosistem dasar laut

    Dasar laut, meski tak terlihat secara kasat mata, bukanlah kawasan tak berpenghuni. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi organisme seperti fitoplankton, cacing-cacing, ataupun jenis mikroalga lainnya.

    Dasar laut juga memiliki fungsi ekologis yang saling mendukung dengan perairan dangkal maupun pesisir. Misalnya, sedimen dari kawasan ini mengandung zat besi yang menjadi makanan fitoplankton–organisme yang menjadi sumber makanan bagi berbagai jenis makhluk laut.

    Pengisapan pasir dan sedimen akan mengganggu siklus alam yang terjadi di dasar laut. Pada akhirnya, gangguan ini dapat berdampak pada siklus ekologis perairan yang dekat dengan permukaan.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing perubahan iklim

    4. Ancaman kawasan konservasi laut

    PP No. 26 Tahun 2023 mengecualikan pengisapan pasir di kawasan konservasi perairan, tapi hanya di zona inti. Pengecualian ini dapat memungkinkan pengisapan terjadi di zona lainnya di kawasan konservasi seperti zona pemanfaatan lainnya atau bahkan zona pemanfaatan terbatas.

    Patut dicatat bahwa dampak pengisapan pasir bisa menjangkau puluhan km. Walaupun kapal isap beroperasi di zona lainnya, atau di luar kawasan konservasi sekalipun, dampaknya bisa saja mencapai ke zona inti.

    Kawasan konservasi semestinya menjadi tempat berlindung terakhir bagi ekosistem laut ataupun penghuninya dari gangguan manusia. Perluasan kawasan konservasi laut juga menjadi kesepakatan global dalam Konferensi Biodiversitas Perserikatan Bangsa Bangsa tahun lalu.

    Perambahan kawasan konservasi bukan hanya dapat mencederai ekosistem laut dan penghuninya, tapi juga aktivitas ekonomi biru di dalamnya. Contohnya adalah perikanan skala kecil dan pariwisata.

    5. Abrasi dan tenggelamnya pulau kecil

    Berdasarkan pengamatan dan informasi yang saya dapatkan di lapangan, kapal-kapal isap yang beroperasi biasanya akan menyedot pasir di perairan dangkal dengan kedalaman 50 meter.

    Jika lebih dari itu, penyedotan akan menyulitkan karena pipa akan terombang-ambing terbawa arus. Kebutuhan pipa yang panjang juga menambah biaya sehingga bisnis ini berisiko tidak ekonomis.

    Penyedotan pasir di dasar laut kedalaman itu biasanya terletak di perairan dekat daratan atau pulau-pulau kecil. Imbasnya, pasir yang terangkut menyebabkan material di area yang lebih tinggi (termasuk dari pesisir) luruh ke dasar laut.

    Inilah yang menjadi salah satu sebab tergerusnya material di pesisir atau abrasi. Pengisapan pasir untuk kebutuhan reklamasi pesisir Makassar, misalnya, dituding menjadi biang keladi abrasi di pesisir Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

    Risiko abrasi juga membuat pulau kecil semakin rawan tenggelam, selain karena kenaikan muka air laut. Penelitian saya sejak 2011 merekam pulau-pulau kecil terluar Indonesia semakin mengecil dan nyaris hilang dari peta.

    Baca: Kelompok rentan justru diabaikan dalam adaptasi perubahan iklim

     

    Foto satelit kapal nelayan yang turut menambang pasir laut di sebuah perairan di Indonesia. (Author provided)

    6. Eksploitasi warga pesisir dan nelayan kecil

    Nelayan dan masyarakat pesisir menjadi pihak yang paling berpotensi terdampak pengisapan pasir laut untuk ekspor pasir laut.

    Masyarakat pesisir Pulau Pemping di Kepulauan Riau, misalnya, masih merasakan efek pengisapan pasir yang terjadi 20 tahun silam. Sebagaimana dilansir KOMPAS, nelayan harus melaut lebih jauh karena musnahnya terumbu karang hingga radius 5 mil dari pantai. Belum lagi abrasi yang membuat rumah-rumah warga merosot ke laut.

    Di Bangka, kemalangan warga sudah terekam sejak puluhan tahun silam. Keruhnya perairan akibat pertambangan timah di laut membuat hasil tangkapan mereka jauh menurun.

    Hingga saat ini, nelayan yang berjuang menghentikan pengisapan pasir di Bangka rentan mengalami kekerasan bahkan kriminalisasi. Pengisapan pasir juga menciptakan konflik antarmasyarakat.

    Nelayan yang tak sanggup bertahan terpaksa beralih pekerjaan menjadi penambang pasir karena lebih menguntungkan. Bermodal kapal kecil, mereka mengeruk pasir dan endapan langsung ke dasar laut dengan menggunakan alat sederhana seperti karung beras. Hasil tambang mereka lalu dijual ke perusahaan pengisap.

    Itulah enam bahaya yang berpotensi terjadi dari aturan yang diterbitkan pemerintah. Pemerintah perlu mengkaji ulang aturan pengisapan pasir laut ini, paling tidak melakukan uji publik untuk mendapatkan pandangan dari berbagai sisi.

    Jika dibiarkan, aktivitas tersebut justru menjadi bumerang bagi program pelestarian pemulihan ekosistem mangrove dan karang yang dirintis sejak beberapa tahun silam. Upaya meredam perubahan iklim juga bisa terganggu.

  • Ekosistem Lamun Punya Peran Penting Jernihkan Kawasan Pesisir, Tapi Sering Diabaikan

    Ekosistem Lamun Punya Peran Penting Jernihkan Kawasan Pesisir, Tapi Sering Diabaikan

    Pelatihan pemantauan lamun berbasis warga di pesisir Pante Deere, Alor, NTT Foto: Dugong Seagrass/Flickr)

    7cloud.asia – Padang lamun merupakan suatu ekosistem perairan dangkal yang menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis tumbuhan laut berbunga serta beragam jenis ikan, kerang, penyu, kuda laut dan dugong.

    Ekosistem Lamun ini terbukti secara saintifik mampu memberikan banyak manfaat yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan berbagai makhluk laut.

    Ekosistem lamun ini antara lain berfungsi untuk menjernihkan perairan, mencegah sedimentasi, melindungi pantai dari gelombang ekstrem, hingga menjadi sarana rekreasi.

    Sayangnya, meskipun menyediakan banyak manfaat, ekosistem lamun masih kalah populer dibandingkan ekosistem pesisir lainnya seperti hutan mangrove dan terumbu karang.

    Ekosistem lamun juga masih menjadi “anak tiri” dalam penelitian dan strategi perlindungan ekosistem di tingkat global.

    Baca Juga: Pentingnya Tindakan Kolektif Tuk Atasi Sampah Plastik yang Mencemari Lingkungan

    Di Indonesia, masih belum ada program tingkat nasional yang khusus melindungi ekosistem lamun. Kenyataan ini sangat menyedihkan mengingat Indonesia adalah rumah terbesar ekosistem lamun dunia.

    Padahal, sejak 1960-an, luas tutupan lamun di Indonesia diperkirakan sudah berkurang hingga 30-40% akibat ekspansi budi daya perikanan dan pembangunan pesisir.

    Untuk mengetahui bagaimana seharusnya ekosistem lamun ini ditangani, berikut hasil kajian , Research associate, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN dan  Marine Ecologist, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Laporan kajian merek atentang keberadaan ekosistem lamun ini telah diterbitkan di The Conversation, Selasa (18/7/2023).

    Pemerintah semestinya memasukkan program restorasi lamun sebagai prioritas nasional.

    Baca Juga: Kebijakan Ekspor Pasir Laut Mengancam Kehidupan Nelayan dan Ekosistem Pesisir

    Melalui riset terbaru yang terbit di jurnal Ambio: A Journal of Environment and Society, saya bersama kolega dari dalam dan luar negeri memaparkan lima alasan mengapa pemulihan ekosistem lamun di Indonesia layak menjadi solusi berbasis alam untuk mengatasi dampak perubahan iklim dan persoalan lingkungan lainnya.

    Berikut alasannya: 

    1. Memberdayakan dan menyadarkan warga sekitar

    Pelaksanaan program restorasi lamun di tingkat nasional dapat memicu peningkatan kesadaran masyarakat, terutama warga setempat seputar pentingnya ekosistem lamun bagi kehidupan manusia.

    Kesadaran masyarakat adalah faktor yang vital bagi keberhasilan perlindungan dan restorasi lamun. Riset terbaru saya menggarisbawahi kurangnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat lamun sebagai salah satu ancaman terbesar konservasi ekosistem ini.

    Di Kepulauan Karimunjawa, misalnya, riset kami menemukan warga setempat masih kurang mengetahui peran lamun dalam menjaga kualitas perairan, penyerap karbon, penjaga abrasi, dan habitat bagi makhluk pesisir.

    Akhirnya, lamun dianggap sebagai ekosistem yang ‘boleh’’ dirambah ataupun dicemari. Per 2019, ada sekitar 30-59% dari total ekosistem lamun 30-59% yang berstatus rusak atau kurang sehat .

    Baca Juga: Ribuan Desa Pesisir di Indonesia Timur Terancam Krisis Akibat Perubahan Iklim

    Implementasi program restorasi yang melibatkan masyarakat lokal kami yakini dapat merubah keadaan ini.

    Warga yang telah mendapat sosialisasi dan menyadari pentingnya jasa ekosistem lamun akan termotivasi untuk bahu-membahu melindungi lamun dan berpartisipasi memulihkannya sehingga mereka berpeluang mendapatkan manfaat lingkungan maupun ekonomi dari aktivitas ini.

    Kebijakan restorasi di tingkat nasional juga dapat memantik perhatian global terhadap lamun Indonesia. Hal ini terjadi pada kebijakan pemulihan mangrove nasional yang dimulai sejak 2019. Pada akhirnya, perhatian ini dapat membuahkan strategi perlindungan yang lebih kuat serta anggaran yang lebih besar.

    2. Meredam dan mengatasi dampak perubahan iklim

    Para peneliti memperkirakan kawasan lamun Indonesia mencapai 875 ribu ha, tapi hanya 294 ribu ha yang sejauh ini sudah divalidasi.

    Berdasarkan studi terbaru dari peneliti berbagai negara, padang lamun di Indonesia ditaksir menyimpan 368.5 Tera gram Karbon atau 2% simpanan karbon di lingkungan pesisir dan laut global.

    Baca Juga: Menengok Pemberdayaan Masyarakat Pesisir sebagai Kampung Bahari Nusantara

    Hasil studi tersebut membuat padang lamun kita sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus memperlambat laju perubahan iklim.

    Indonesia memiliki target pengurangan emisi nasional sebesar 31,8-43,2% pada 2030. Target ini masih bisa ditingkatkan apabila pemerintah memasukkan aksi pelestarian dan pemulihan ekosistem lamun dalam target iklim Indonesia.

    Sebaliknya, jika tidak ada aksi pelestarian dan pemulihan yang masif, penurunan luasan habitat lamun sebesar 2-5% per tahun bisa terjadi di Indonesia.

    3. Program berskala luas dan libatkan banyak lembaga

    Seperti halnya program restorasi gambut yang diterbitkan Presiden Joko Widodo sejak 2016,] program restorasi lamun seyogianya memungkinkan anggaran khusus perlindungan lamun, dilaksanakannya kebijakan pengelolaan lamun di tingkat pusat maupun daerah, dan peningkatan sumber daya manusia serta penelitian terkait.

    Program restorasi padang lamun juga dapat dilakukan dengan skala yang lebih luas dengan dukungan anggaran dari pemerintah.

    Program restorasi ekosistem padang lamun dapat mendorong koordinasi yang lebih baik antarlembaga.

    Di Indonesia, sejak 36 tahun silam baru ada 22 proyek restorasi lamun. Pelaksanaannya tersebar di banyak lembaga, tapi terbatas di suatu area. Efektivitasnya pun tidak terpantau.

    Baca Juga: Koalisi Keadilan Iklim: Kelompok Rentan Justru Ditinggalkan dalam Perumusan Kebijakan soal Perubahan Iklim

    Di sisi lain, koordinasi dari berbagai pemangku kepentingan sangat dibutuhkan karena restorasi padang lamun membutuhkan kerjasama dari berbagai bidang ilmu keahlian dan dukungan dari berbagai lembaga pemerintah agar tercipta suatu program konservasi lingkungan yang berkelanjutan.

    Indonesia dapat belajar dari Australia. Melalui koordinasi yang apik, Negeri Kangguru ini sukses memulihkan lamun tak hanya dengan menanam kembali, tapi juga memfokuskan interaksi antarspesies penghuni kawasan lamun dan hubungannya dengan ekosistem lainnya seperti mangrove.

    Koordinasi antarlembaga, selain untuk menyukseskan pemulihan lamun, juga bisa diselaraskan untuk memenuhi program lainnya seperti pencegahan bencana.

    Lamun dapat menjadi sistem pendukung yang membantu infrastruktur fisik seperti tanggul untuk mencegah abrasi ataupun erosi.

    Baca Juga: Bumi Butuh Aksi Nyatamu, Sudahkah Kamu Terlibat dalam Gerakan Iklim?

    4. Program ekonomis tapi berdampak

    Pemulihan lamun yang mencakup perencanaan, penanaman, pemantauan, dan sebagainya diperkirakan memakan biaya sekitar 700 ribu dolar AS (Rp10,4 miliar ) per ha.

    Angka ini jauh lebih murah dibandingkan ongkos restorasi karang sekitar 3 juta dolar AS atau sekitar Rp44,9 miliar per ha.

    Biaya tersebut juga masih bisa dikurangi jika restorasi lamun ini dilaksanakan di negara-negara berkembang yang memiliki ongkos tenaga kerja yang jauh lebih murah dibandingkan negara maju.

    Selain itu, aksi restorasi lamun yang memberdayakan masyarakat dan para relawan juga berpotensi menurunkan ongkos pemulihan lamun sekaligus memperkuat pemantauannya.

    Di Kepulauan Sangkarang, Sulawesi Selatan, restorasi lamun seluas 600 m2 menelan biaya sekitar USD 100 ribu(Rp1,5 miliar) untuk perencanaan, penanaman, dan pemantauan selama 3 tahun.

    Program yang dimulai sejak 2016 ini menggunakan metode transplantasi, yakni pengambilan tanaman lamun yang sehat untuk ditanam di lokasi tujuan.

    Setelah 7 tahun dilaksanakan, usaha restorasi menuai hasil positif. Padang lamun yang pulih memancing satwa perairan untuk hidup di dalamnya, melindungi pantai dari erosi.

    Baca Juga: Serunya Pandawara dan Warga Bandar Lampung Bersihkan Salah Satu Pantai Terkotor di Indonesia

    5. Mengembalikan keberagaman makhluk perairan

    Sebagaimana saya jelaskan di atas, lamun yang pulih akan memicu kehidupan satwa perairan dan mengembalikan fungsi lamun terhadap lingkungan sekitarnya.

    Pada akhirnya, keanekaragaman hayati di ekosistem lamun turut menopang target Indonesia untuk menjaga biodiversitas laut.

    Beberapa kegiatan restorasi di negara lain turut merekam dampak restorasi lamun bagi kehidupan sekitar.

    Misalnya, kesuksesan restorasi lamun sejak 2001 di pesisir timur Virginia, Amerika Serikat, memancing hewan laut bernilai ekonomis penting seperti ikan, kerang, dan kepiting untuk tinggal di dalamnya.

    Selain itu Kemampuan lamun untuk menyimpan karbon dan nitrogen juga semakin meningkat.

    Baca Juga: Gree Energy Bantu FIELD Atasi Polusi Udara dan Dukung Pertanian Regeneratif di Indonesia

    Di Wakatobi, penanaman sekitar 4 ribu pohon oleh masyarakat di sepanjang sungai sejak 2017 berhasil menjaga kelestarian ekosistem lamun sehingga meningkatkan keberagaman organisme perairan di pesisir setempat.

    Itulah lima alasan mengapa pemulihan padang lamun layak menjadi prioritas. Pemerintah seyogyanya memulai program restorasi seperti yang sudah dilakukan terhadap ekosistem gambut, mangrove, ataupun karang..

    Kami meyakini, kelestarian ekosistem lamun di Indonesia akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan biodiversitas makhluk laut.

  • Perkuat Ekosistem di IKN, KLHK Tanam 224 Bibit Pohon

    Perkuat Ekosistem di IKN, KLHK Tanam 224 Bibit Pohon

    7cloud.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Alue Dohong memimpin penanaman 224 batang pohon di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Minggu (14/01/2024).

    Bibit pohon tersebut berasal dari Pusat Persemaian Mentawir-BPDAS Mahakam Berau untuk memperkuat ekosistem di IKN.

    Bibit tanaman tersebut adalah jenis balangeran sejumlah 50 batang, meranti (53 batang), kapur (40 batang), gaharu (2 batang), tengkawang (12 batang), nyatoh (37 batang), tanjung (2 batang).

    Selain itu ada pula bibit kemiri (2 batang), petai (1 batang), ulin (12 batang), nyamplung (2 batang), hopea (10 batang), dan sukun (1 batang).

    Baca: KLHK siapkan lebih dari 2 ribu bibit pohon

    “Penanaman hari ini menindaklanjuti arahan Presiden RI Bapak Joko Widodo saat penanaman pohon di IKN pada 20 Desember 2023,” kata Alue Dohong saat memimpin penanaman tersebut di kawasan IKN, Kecamatan Sepaku, Kalimantan Timur.

    Saat itu, katanya, presiden menyarankan penanaman pohon di sepanjang musim penghujan tahun 2023/2024.

    Karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama berbagai pihak melakukan penanaman pohon tidak hanya di kawasan IKN, tetapi juga serempak di seluruh Indonesia.

    Melansir Antaranews, penanaman pohon tahap pertama di seluruh Indonesia dilaksanakan pada 30 Desember 2023.

    Baca: Pohon ulin terancam punah

    Penanaman  tersebut dipimpin pejabat KLHK pusat dan di daerah dengan melibatkan staf UPT KLHK, Dinas LHK, ASN, dan masyarakat umum.

    Pada tahun 2024 ini, penanaman pohon kembali dilakukan. Kali ini penanaman pohon dilakukan secara serempak di seluruh provinsi di Indonesia.

    Pelaksanaan pertama dipimpin Wakil Presiden RI di Provinsi Banten pada Minggu (14/01/2024). “Kemudian akan dilanjutkan penanaman lainnya yang sudah dijadwalkan oleh KLHK pada Februari, Maret, dan April 2024,” jelasnya.

    Sebelumnya penanaman di IKN dilakukan di atas lahan sekitar 5 hektare (Ha), sehingga mulai hari ini dilanjutkan di atas lahan seluas 500 Ha.

    Alue menjelaskan lokasi penanaman merupakan kawasan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau Samarinda 2024 seluas 500 Ha.

    Baca: Gerakan tanam pohon bersama

    Hal ini bertujuan mewujudkan transformasi hutan tanaman menuju hutan hujan tropis di kawasan IKN.

    Pada kegiatan penanaman ini, tampak Sekretaris Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Sri Wahyuni dan Pj Bupati Penajam Paser Utara Makmur Marbun, diikuti 200 orang yang juga turut melakukan penanaman.

    Mereka berasal dari unsur Forkompimda Kaltim, TNI/Polri, UPT KLHK Kaltim, Universitas Mulawarman, tokoh masyarakat, perusahaan, sekolah, pramuka, Green Youth Movement (GYM), dan kelompok masyarakat.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Alih Fungsi Lahan dan Kerusakan Lingkungan Membuat Populasi Lebah Menurun Signifikan

    Alih Fungsi Lahan dan Kerusakan Lingkungan Membuat Populasi Lebah Menurun Signifikan

    7cloud.asia – Kehilangan lebah berarti lebih dari sekadar berkurangnya bunga di kebun kita – hal itu akan mengakibatkan reaksi berantai yang dirasakan melalui seluruh ekosistem dan rantai makanan, termasuk milik kita sendiri.

    Bertanggung jawab atas sepertiga produksi pangan global, lebah punya peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia, lebih dari sekadar penghasil madu sebagaimana yang selama ini kita ketahui.

    Menurunnya populasi lebah akan besar pengaruhnya pada rantai produksi pangan dan juga keanekaragaman hayati yang selanjutnya akan mempengaruhi kelangsungan ekosistem.

    Para ilmuwan telah lama membunyikan alarm tentang ancaman hilang atau punahnya penyerbuk selama beberapa dekade terakhir.

    Mereka menyoroti pentingnya peran lebah dalam ekosistem dan kebutuhan mendesak bagi masyarakat dunia untuk mengambil langkah dan membalikkan penurunan populasi lebah di dunia.

    Baca: Peran penting lebah bagi kelestarian lingkungan

    Anda mungkin telah memperhatikan bahwa kebun Anda menjadi lebih sunyi, dengan lebih sedikit kepakan sayap kupu-kupu atau dengungan dari lebah yang berdengung.

    Ya, kondisi ini karena jumlah binatang yang punya peran penting dalam penyerbukan tanaman menjadi lebih sedikit di lingkungan sekitar kita

    Sejak 1987, Komite Konservasi Alam Gabungan (Joint Nature Conservation Committee/JNCC) telah melaporkan bahwa populasi binatang penyerbuk telah menurun hampir 25 persen.

    Saat manusia terus menciptakan dunia yang sesuai dengan kebutuhan kita, lebah kehilangan habitat penting yang mereka andalkan untuk makanan dan bersarang.

    Padang rumput yang subur digantikan dengan ladang demi ladang tanaman tunggal. Ruang hijau diperdagangkan untuk baja dan beton.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi kelestarian lingkungan

    Kebun-kebun yang liar, berantakan, dan kaya spesies berubah menjadi perkebunan monokultur ataupun halaman rumput yang rapi dan terpangkas.

    Perlahan, tetapi pasti, kondisi ini menyebabkan lebah disingkirkan dari dunia tempat mereka tinggal selama jutaan tahun.

    Memahami dampak penurunan populasi lebah sangat penting untuk memahami sepenuhnya betapa pentingnya peran lebah dan apa dampak hilangnya lebah bagi dunia di sekitar kita.

    Penurunan jumlah lebah mengancam seluruh ekosistem dan lingkungan. Tanpa keberadaan lebah, dunia di sekitar kita akan terlihat dan terasa sangat berbeda.

    Apa sebenarnya dampak jangka panjang dari hilang atau punahnya lebah, makhluk kecil tapi punya penting bagi lingkungan ini, akan diulas lebih mendalam dalam tulisan selanjutnya.

  • Turunnya Populasi Lebah Mengancam Keanekaragaman Hayati

    Turunnya Populasi Lebah Mengancam Keanekaragaman Hayati

    7cloud.asia – Upaya manusia untuk mengejar kehidupan yang nyaman sesuai dengan kebutuhannya, membuat banyak makhluk hidup lain, termasuk lebah kehilangan habitat penting yang mereka andalkan untuk makanan dan bersarang.

    Para ilmuwan telah lama membunyikan alarm tentang ancaman hilang atau punahnya penyerbuk selama beberapa dekade terakhir.

    Mereka menyoroti pentingnya peran lebah dalam ekosistem dan kebutuhan mendesak bagi masyarakat dunia untuk mengambil langkah dan membalikkan penurunan populasi lebah di dunia.

    Sejak 1987, Komite Konservasi Alam Gabungan (Joint Nature Conservation Committee/JNCC) telah melaporkan bahwa populasi binatang penyerbuk telah menurun hampir 25 persen.

    Menurunnya populasi lebah menjadi ancaman nyata bagi seluruh ekosistem. Tanpa keberadaan kelompok serangga yang satu ini dunia di sekitar kita akan terlihat sangat berbeda.

    Salah satu dampak jangka panjang jika lebah benar-benar punah dari muka bumi adalah hilangnya keanekaragaman hayati. Berkurangnya keragaman spesies tanaman memengaruhi kehidupan manusia serta seluruh ekosistem dan spesies yang bergantung padanya.

    Baca: Alih fungsi lahan membuat populasi lebah turun signifikan 

    Hilangnya lebah mengancam jumlah dan keanekaragaman banyak spesies tanaman, yang akan kesulitan bereproduksi tanpa kerja lebah untuk menyerbukinya. Spesies seperti anggrek liar, yang jumlahnya menurun drastis, bergantung sepenuhnya pada penyerbukan lebah.

    Seperti halnya hilangnya keanekaragaman hayati, selalu ada reaksi berantai yang terasa di lingkungan yang lebih luas.

    Ini adalah lingkaran setan: lebih sedikit tanaman berbunga berarti lebih sedikit populasi lebah, dan lebih sedikit lebah berarti lebih sedikit bunga.

    Lebih sedikit tanaman berarti lebih sedikit makanan dan tempat berlindung bagi berbagai herbivora, dan lebih sedikit herbivora berarti konsumen sekunder yang memakannya tidak akan mendapatkannya.

    Hal ini menyebabkan lebih banyak persaingan dan lebih sedikit makanan dalam seluruh rantai makanan.

    Selain berdampak langsung pada keanekaragaman hayati, penyerbuk seperti lebah berkontribusi secara signifikan terhadap fungsi ekosistem, jauh melampaui sekadar rantai makanan.

    Pekerjaan lebah membantu mendukung habitat alami, meningkatkan keanekaragaman genetik, dan menjaga struktur ekosistem.

    Baca: Peran penting lebah bagi kelestarian lingkungan

    Kerugian yang paling nyata dalam penurunan populasi lebah dirasakan tanaman, dan meskipun kita telah mengeksplorasi apa artinya ini bagi produksi pangan dan satwa liar, kita belum melihat apa sebenarnya arti lebih sedikit tanaman bagi keseimbangan ekosistem dan kesehatan manusia.

    Tanaman sangat penting bagi semua kehidupan di Bumi. Pertama, tanaman membantu menciptakan bahan organik, yang penting bagi kesehatan dan kesuburan tanah.

    Tanah yang sehat berarti lebih banyak retensi kelembapan dan lebih banyak dukungan bagi komunitas mikroba (seperti jamur dan bakteri). Sistem akar tanaman mengikat tanah, meningkatkan integritas struktural, dan mengurangi risiko erosi.

    Akar tanaman juga mengatur air dengan meningkatkan infiltrasi dan mengurangi limpasan permukaan, yang menyebabkan banjir. Hilangnya lebah juga berarti hilangnya banyak manfaat ekosistem yang disediakan tanaman.

    Bisa dikatakan, hilangnya lebah akan sangat menghancurkan, baik dari sudut pandang biologis, sosial, dan ekonomi.

    Jika dunia kehilangan lebah, kita tidak hanya kehilangan madu; tanaman, ekosistem, dan sistem pangan kita semuanya bergantung pada penyerbukannya. Tidak ada spesies di bumi, termasuk kita, yang dapat melakukan tugas lebah.

    Manusia tidak dapat mengabaikan kepunahan lebah, dan melindungi lebah sangatlah penting. Ini adalah tanggung jawab yang membutuhkan tindakan segera, demi kesehatan planet kita dan generasi mendatang.

    Baca: Peran penting lebah dalam produksi pangan dunia

  • Serangga Punya Peran Penting dalam Menjaga Ekosistem, Ini yang Harus Dilakukan Agar Tidak Punah

    Serangga Punya Peran Penting dalam Menjaga Ekosistem, Ini yang Harus Dilakukan Agar Tidak Punah

    7cloud.asia – Populasi serangga memainkan peran penting dalam hampir setiap ekosistem. Dengan kata lain, hilangnya serangga akan berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia.

    Salah satu peran terpenting serangga adalah penyerbukan, yang utamanya dilakukan oleh lebah, kupu-kupu, kumbang, dan lalat. Karena sekitar 75 persen tanaman berbunga dan hampir 35 persen produksi tanaman pangan global bergantung pada penyerbukan serangga.

    Sehingga, hilangnya serangga akan berdampak buruk pada reproduksi tanaman liar dan sistem pangan, yang berdampak pada keanekaragaman hayati alami, nutrisi manusia, dan ekonomi pertanian.

    Selain penyerbukan, serangga juga mendorong dekomposisi dan daur ulang nutrisi. Spesies seperti kumbang, lalat, dan semut membantu memecah organisme mati, limbah, dan materi tanaman, mengembalikan nutrisi ke tanah dan menjaga kesehatan ekosistem.

    Tanpa aktivitas mereka, bahan organik akan terakumulasi, memperlambat daur ulang nutrisi alami dan pada gilirannya melemahkan pertumbuhan tanaman dan menyebabkan ketidakstabilan dalam jaring makanan.

    Baca: Mengenal binatang penyerbuk yang berperan besar dalam produksi pangan

    Serangga juga membentuk dasar dari beberapa rantai makanan, menjadi sumber makanan utama bagi burung, amfibi, reptil, dan ikan. Spesies-spesies ini akan mengalami dampak langsung dari hilangnya serangga.

    Yang menarik, serangga seperti kepik, lacewings, dan tawon parasit membantu mengelola hama secara alami, yang berarti hilangnya serangga akan meningkatkan ketergantungan petani pada pestisida dan pupuk buatan.

    Berupaya untuk mengurangi penurunan populasi serangga memerlukan upaya-upaya seperti perlindungan habitat, mengurangi ketergantungan pada penggunaan pestisida, edukasi publik, serta praktik mitigasi dan adaptasi.

    Salah satu solusi yang sangat efektif adalah menerapkan praktik pertanian berkelanjutan yang meminimalkan kerusakan pada ekosistem sekitar, termasuk rotasi tanaman, pengurangan pengolahan tanah, dan pengendalian hama alami.

    Penting juga untuk berupaya melindungi dan memulihkan habitat alami, seperti padang rumput, lahan basah, dan tepi hutan, yang sangat penting untuk tempat berkembang biak dan mencari makan bagi banyak spesies serangga.

    Baca: Populasi serangga turun signifikan

    Mengurangi penggunaan pestisida berbahaya seperti neonikotinoid adalah praktik penting lainnya, karena pestisida ini sangat terkait dengan kematian serangga, khususnya pada penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu.

    Perubahan kebijakan dan kesadaran publik juga penting. Peraturan lingkungan yang lebih ketat dapat membantu mempromosikan praktik pertanian yang lebih baik

    Sementara pendidikan dan kesadaran dapat mendorong masyarakat untuk mengambil tindakan yang berarti, seperti menanam tanaman asli, mengurangi penggunaan pestisida, dan mendukung upaya konservasi.

    Jika digabungkan, strategi ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi populasi serangga dan membantu melestarikan ekosistem yang bergantung padanya.

    Kesimpulan
    Sebagian besar dari kita, entah sadar atau tidak, mengabaikan serangga kecuali hewan berkaki enam ini ada di depan kita. Mereka mungkin kecil, tetapi memainkan peran penting dan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi kelestarian lingkungan

    Sebagai hewan penyerbuk, pengurai, dan sumber makanan penting bagi spesies lain, serangga sangat penting bagi kesehatan lingkungan dan keanekaragaman hayati.

    Penurunan populasi serangga yang cepat bukan sekadar tanda peringatan dari alam, tetapi juga merupakan ancaman langsung terhadap ketahanan pangan, kesehatan manusia, dan stabilitas lingkungan.

    Melindungi serangga mencakup perlindungan sistem yang menopang kehidupan. Melalui pertanian berkelanjutan, pemulihan habitat, pengurangan penggunaan pestisida, dukungan kebijakan, dan pendidikan publik.

    Akhirnya, manusia secara kolektif dapat mengambil langkah-langkah yang berarti untuk mengurangi penurunan populasi serangga.

  • Mengenal Hewan Penyerbuk: Mulai Semut hingga Lemur yang Bergantungan di Ketinggian

    Mengenal Hewan Penyerbuk: Mulai Semut hingga Lemur yang Bergantungan di Ketinggian

    7cloud.asia – Dari makhluk terkecil seperti semut hingga kelelawar yang terbang di malam hari, hewan penyerbuk telah berjasa menjaga kelestarian ekosistem planet Bumi.
    Setiap makanan yang kita makan dan setiap bunga yang kita kagumi bergantung pada hewan-hewan penyerbuk yang jarang diperhatikan ini.

    Ketika mendengar kata hewan penyerbuk, yang pertama kali terlintas di benak kita biasanya adalah lebah. Namun, ada sekitar 350.000 spesies hewan penyerbuk di seluruh dunia. Hewan penyerbuk ini memainkan peran penting dalam menjaga ekosistem tetap berfungsi.

    Dilansir Earth.org, pertanian tidak dapat bertahan hidup tanpa penyerbuk. Dari 1.400 tanaman pangan yang ditanam secara global, yang menyediakan makanan kita dan banyak produk industri berbasis tanaman, hampir 80 persen bergantung pada penyerbukan hewan.

    Menurut Departemen Pertanian AS (USDA), lebih dari setengah lemak dan minyak makanan dunia berasal dari tanaman yang diserbuki hewan – tanaman yang diperkirakan bernilai lebih dari 10 miliar dolar AS setiap tahunnya.

    Jenis hewan penyerbuk
    Hewan penyerbuk mencakup berbagai jenis, mulai dari serangga seperti kupu-kupu, ngengat, lalat, dan kumbang hingga burung, kelelawar, dan bahkan beberapa kadal dan mamalia kecil.

    Baca: Lebah punya peran paling signifikan sebagai hewan penyerbuk

    Kupu-kupu dan ngengat adalah hewan penyerbuk yang penting. Saat kupu-kupu menghisap nektar dari bunga, serbuk sari menempel pada kaki dan tubuh mereka. Kemudian serbuk sari tersebut menempel pada bunga lain saat mereka mengunjunginya.

    Setelah gelap, ngengat dan kelelawar mengambil alih tugas penyerbukan di malam hari. Bunga nokturnal dengan bunga berwarna pucat atau putih, beraroma kuat dan memiliki nektar encer yang melimpah, menarik hewan penyerbuk malam hari ini.

    Tetapi tak semua ngengat penyerbuk bersifat nokturnal; beberapa ngengat juga aktif di siang hari. Ngengat elang atau ngengat sphinx Morgan beradaptasi untuk menyerbuki jenis anggrek tertentu dan tanaman yucca bergantung pada ngengat yucca untuk kebutuhan penyerbukannya.

    Kelelawar adalah hewan penyerbuk yang sangat penting di iklim tropis dan gurun. Namun, anggota komunitas penyerbuk yang satu ini sering diabaikan, adalah penyerbuk yang sangat penting di iklim tropis dan gurun.

    Sebagian besar kelelawar pengunjung bunga ditemukan di Afrika, Asia Tenggara, dan di Kepulauan Pasifik. Lebih dari 300 spesies buah bergantung pada kelelawar untuk penyerbukan.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung sebagai hewan penyerbuk untuk lingkungan

    Buah-buahan ini termasuk mangga, pisang, dan jambu biji. Tanaman Agave – yang digunakan untuk membuat tequila, dan Saguaro –kaktus ikonik asli Gurun Sonoran di Arizona, AS– juga bergantung pada kelelawar untuk penyerbukan.

    Dari perspektif evolusi, kumbang termasuk di antara hewan penyerbuk paling awal dalam sejarah. Kumbang memakan serbuk sari dan nektar bunga buah berwarna kusam yang tumbuh secara terpisah atau berkelompok di siang hari.

    Mereka akan memakan kelopak dan bagian bunga lainnya. Mereka bahkan buang air besar di dalam bunga, sehingga mendapat julukan penyerbuk “kotoran dan tanah”.

    Penyerbukan yang dilakukan oleh burung dikenal sebagai ornitofili. Ada lebih dari 2.000 spesies burung yang memakan nektar dan menjadi hewan penyerbuk, mulai dari burung pemakan madu di Hawaii dan burung pemakan madu di Australia hingga burung beo berlidah sikat di Papua Nugini dan burung madu di daerah tropis.

    Tetapi ikon hewan penyerbuk dari jenis burung adalah burung kolibri. Bunga-bunga yang cerah, berwarna-warni, dan indah dengan banyak nektar adalah fokus utama para penyerbuk ini.

    Baca: Turunnya populasi lebah mengancam keanekaragaman hayati

    Meskipun mungkin mengejutkan banyak orang, mamalia seperti monyet, lemur, possum, kelelawar, dan hewan pengerat, bahkan beberapa kadal, juga merupakan bagian dari komunitas penyerbuk.

    Di Madagaskar, lemur berjambul hitam dan putih adalah penyerbuk utama pohon palem penjelajah. Pohon-pohon ini biasanya setinggi 40 kaki.

    Lemur membuka kelopak bunga yang keras dan memasukkan moncongnya jauh ke dalam bunga pohon. Akibatnya, mereka mengumpulkan serbuk sari di moncong dan bulunya, lalu membawanya ke bunga berikutnya.

    Tampaknya tidak ada makhluk lain yang memiliki kekuatan dan kelincahan untuk menyerbuki mereka. Hal ini memberi lemur berjambul hitam putih gelar sebagai penyerbuk dengan tubuh terbesar di dunia.

    Keanekaragaman penyerbuk yang menakjubkan ini, dari kumbang terkecil hingga lemur yang memanjat puncak pohon, menunjukkan betapa banyak spesies yang diam-diam menopang jaring kehidupan planet kita.

  • Ruang Jelajah Satwa Liar di Taman Nasional Bukit Tigapuluh Terus Menyempit

    Ruang Jelajah Satwa Liar di Taman Nasional Bukit Tigapuluh Terus Menyempit

    7cloud.asia – Aktivitas manusia seperti pembukaan hutan untuk perkebunan dan pertanian mengakibatkan ekosistem penting di bentang alam Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) kian menyempit.

    Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi menyebut, kondisi ini berdampak terhadap terus menurunnya ruang jelajah satwa liar seperti gajah sumatra, harimau maupun orangutan.

    Menyempitnya ekosistem Taman Nasional Bukit Tigapuluh juga meningkatkan potensi konflik manusia dan satwa liar yang dapat merugikan keberadaan dua belah pihak.

    Tim peneliti dari UGM (2023) Avianti, F. N., Santoso, L. W., & Hadisusanto, S, menemukan bahwa perubahan tutupan lahan tertinggi di Taman Nasional Bukit Tigapuluh adalah perubahan hutan primer menjadi hutan sekunder dan mengalami penurunan luasan hingga 7,46 persen.

    Dalam laporannya bertajuk Status Kelestarian Habitat di Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang terbit di Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, tim ini menyebut penyebab terjadinya perubahan tutupan lahan yaitu adanya masyarakat yang tinggal di dalam kawasan TNBT, kebakaran hutan akibat faktor manusia serta tekanan dari kawasan penyangga.

    Status kelestarian habitat keanekaragaman hayati yaitu TNBT didominasi tingkat kerapatan vegetasi yang tinggi yaitu 46 persen; tingkat kerawanan longsor tingkat sedang yaitu 92,02 persen.

    Baca: Ratusan hektare kebun sawit ilegal di Taman Nasional Gunung Leuser ditertibkan

    Sedangkan tingkat kelestarian habitat tingkat tinggi mencapai 44,43 persen dari total luas Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Wilayah STPN II Belilas.

    Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko melalui keterangan tertulis di Jambi, Jumat (27/2/2026), mengatakan lanskap Bukit Tiga Puluh merupakan salah satu kawasan hutan dataran rendah dan perbukitan di Provinsi Jambi.

    Dilansir Antaranews.com, cakupan kawasannya meliputi dua kabupaten yaitu Tebo dan Tanjung Jabung Barat, dengan luas kurang lebih 270 ribu hektare.

    Himawan menegaskan, kawasan ini memiliki peran strategis dalam konservasi keanekaragaman hayati dan menjadi habitat penting bagi spesies kunci yang terancam punah.

    Ada sekitar 10 persen populasi gajah sumatera dataran rendah, 10 persen populasi harimau sumatera liar, serta orangutan sumatera yang hidup dan berkembang di lokasi habitat asli (reintroduksi) satwa.

    Menurut Himawan, lanskap itu menjadi areal penting dalam pembangunan hutan tanaman industri, areal pengembangan perhutanan sosial dan berbatasan dengan areal-areal budidaya komoditas tanaman bernilai ekonomi lainnya.

    Baca: Kenali 4 satwa prioritas di Taman Nasional Gunung Leuser

    Situasi tersebut mengancam kemampuan alami lanskap sebagai habitat bagi spesies-spesies kunci dan ikonik Sumatera.

    Ia menilai, diperlukan upaya bersama dalam perbaikan tata kelola lanskap agar dapat menjadi ruang hidup bersama yang kondusif.

    Selain itu, mampu menjaga keberadaan satwa-satwa ikonik Sumatera ini dalam kondisi yang baik serta populasi yang stabil dalam jangka panjang.

    Hanya saja, upaya itu membutuhkan peran ataupun kontribusi positif para pihak terutama pemerintah baik pusat dan daerah, penggiat konservasi dan sosial di tingkat lokal dan nasional, akademisi.

    Kemudian pengelola areal di tingkat tapak baik perusahaan swasta maupun masyarakat di dalam dan sekitar lanskap tersebut.

    BKSDA Jambi sangat menghargai peluncuran “Initiative Promoting sustainability landscape management through Biodiversity conservation and forest positive action in Bukit Tigapuluh” dengan dukungan sejumlah lembaga seperti Proforest, WWF Indonesia dan KKI WARSI dalam satu konsorsium.

    Diharapkan langkah strategis dalam pengelolaan lanskap secara kolaboratif dapat mendorong terwujudnya perbaikan tata kelola lanskap Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

    Baca: Taman Nasional Ujung Kulon dan upaya pelestarian macan tutul Jawa

  • Ancaman terhadap Spesies Kuda Laut: Mulai Perdagangan Bebas hingga Kerusakan Habitat

    Ancaman terhadap Spesies Kuda Laut: Mulai Perdagangan Bebas hingga Kerusakan Habitat

    7cloud.asia – Indonesia menjadi rumah bagi 13 spesies kuda laut yang tersebar di berbagai wilayah perairan nasional. Namun, beberapa spesies kuda laut di Indonesia kini berada dalam kategori terancam berdasarkan tingkat keterancaman global maupun nasional.

    Hal ini diungkapkan Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri dalam lokakarya bertajuk “Perspektif Masyarakat Pesisir dalam Mendukung Keberlanjutan Kuda Laut di Perikanan Indonesia”, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (18/5/2026).

    Dalam paparannya, Masayu mengatakan, jumlah spesies kuda laut di perairan Indonesia tersebut masih berpotensi bertambah seiring perkembangan riset dan penemuan spesies baru.

    “Di Indonesia ada 13 spesies kuda laut, tapi itu saat ini. Seiring berjalannya waktu bisa terus bertambah,” katanya seperti dilansir di laman resmi brin.go.id.

    Masayu menerangkan bahwa untuk kuda laut saat ini, khususnya yang ada di Indonesia, ada yang berstatus critically endangered, endangered, dan vulnerable.

    Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan kuda laut, ungkap Masayu, ialah minimnya data pelaporan pemanfaatan dan perdagangan. Kondisi ini membuat status populasi kuda laut di alam sulit dipastikan.

    Baca: Alih Fungsi Kawasan Pesisir Mengancam Ketahanan Pangan

    Ia mencontohkan, perdagangan kuda laut ke luar negeri wajib dilengkapi dokumen Non-Detriment Findings (NDF) untuk memastikan pemanfaatannya tidak mengancam populasi di alam.

    “Kalau pemanfaatan dan perdagangan tidak dilaporkan, kita tidak mengetahui kondisi populasi sebenarnya,” katanya.

    Selain perdagangan, ancaman lain datang dari rusaknya habitat pesisir seperti lamun dan makroalga yang menjadi tempat hidup kuda laut. Masayu mengatakan, kuda laut sangat bergantung pada habitat karena bukan “perenang” yang kuat.

    Hewan ini biasa mengaitkan ekornya pada lamun, alga, atau terumbu karang untuk bertahan di perairan.

    “Ketika habitatnya terganggu, mereka akan kesulitan bertahan hidup,” ujarnya.

    Ia juga menyoroti tingginya pemanfaatan kuda laut kering untuk obat tradisional dan suvenir. Menurut Masayu, tingginya nilai ekonomi membuat pemanfaatan kuda laut terus terjadi, dengan harga mencapai Rp1 juta hingga Rp8 juta per kilogram.

    Baca: Ekosistem Lamun Indonesia Mampu Serap Sepersepuluh Emisi Karbon Nasional

    Dalam setiap kilogramnya, terdapat ratusan hingga ribuan ekor kuda laut, tergantung ukuran spesiesnya. “Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut,” katanya.

    Dalam kesempatan itu, Masayu memaparkan sejumlah fakta unik kuda laut, salah satunya adalah jantan yang mengandung dan melahirkan anak. Telur dari betina dipindahkan ke kantong tubuh jantan untuk dierami selama sekitar satu hingga dua bulan hingga siap lahir.

    “Di dalam kantong itu, embrio diberi oksigen dan diatur kadar garamnya sampai siap dilahirkan,” jelasnya.

    BRIN juga bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memberikan rekomendasi kuota pemanfaatan kuda laut untuk kebutuhan perdagangan, penelitian, maupun indukan budi daya.

    Selain itu, BRIN menyusun pedoman translokasi dan restocking, serta mendukung penyusunan rencana aksi nasional untuk pengelolaan kuda laut berkelanjutan.

    Masayu menekankan, pengelolaan kuda laut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah karena luasnya wilayah perairan Indonesia dan keterbatasan jumlah personel.

    Karena itu, ia mendorong masyarakat pesisir turut aktif melaporkan tangkapan, menjaga habitat, serta menyebarkan pengetahuan mengenai pentingnya konservasi kuda laut.

    “Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya,” katanya.

    Pemahaman masyarakat terhadap keunikan dan ekologi kuda laut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga keberlanjutan spesies tersebut di alam.