7cloud.asia – Aktivitas manusia seperti pembukaan hutan untuk perkebunan dan pertanian mengakibatkan ekosistem penting di bentang alam Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) kian menyempit.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi menyebut, kondisi ini berdampak terhadap terus menurunnya ruang jelajah satwa liar seperti gajah sumatra, harimau maupun orangutan.
Menyempitnya ekosistem Taman Nasional Bukit Tigapuluh juga meningkatkan potensi konflik manusia dan satwa liar yang dapat merugikan keberadaan dua belah pihak.
Tim peneliti dari UGM (2023) Avianti, F. N., Santoso, L. W., & Hadisusanto, S, menemukan bahwa perubahan tutupan lahan tertinggi di Taman Nasional Bukit Tigapuluh adalah perubahan hutan primer menjadi hutan sekunder dan mengalami penurunan luasan hingga 7,46 persen.
Dalam laporannya bertajuk Status Kelestarian Habitat di Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang terbit di Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, tim ini menyebut penyebab terjadinya perubahan tutupan lahan yaitu adanya masyarakat yang tinggal di dalam kawasan TNBT, kebakaran hutan akibat faktor manusia serta tekanan dari kawasan penyangga.
Status kelestarian habitat keanekaragaman hayati yaitu TNBT didominasi tingkat kerapatan vegetasi yang tinggi yaitu 46 persen; tingkat kerawanan longsor tingkat sedang yaitu 92,02 persen.
Baca: Ratusan hektare kebun sawit ilegal di Taman Nasional Gunung Leuser ditertibkan
Sedangkan tingkat kelestarian habitat tingkat tinggi mencapai 44,43 persen dari total luas Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Wilayah STPN II Belilas.
Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko melalui keterangan tertulis di Jambi, Jumat (27/2/2026), mengatakan lanskap Bukit Tiga Puluh merupakan salah satu kawasan hutan dataran rendah dan perbukitan di Provinsi Jambi.
Dilansir Antaranews.com, cakupan kawasannya meliputi dua kabupaten yaitu Tebo dan Tanjung Jabung Barat, dengan luas kurang lebih 270 ribu hektare.
Himawan menegaskan, kawasan ini memiliki peran strategis dalam konservasi keanekaragaman hayati dan menjadi habitat penting bagi spesies kunci yang terancam punah.
Ada sekitar 10 persen populasi gajah sumatera dataran rendah, 10 persen populasi harimau sumatera liar, serta orangutan sumatera yang hidup dan berkembang di lokasi habitat asli (reintroduksi) satwa.
Menurut Himawan, lanskap itu menjadi areal penting dalam pembangunan hutan tanaman industri, areal pengembangan perhutanan sosial dan berbatasan dengan areal-areal budidaya komoditas tanaman bernilai ekonomi lainnya.
Baca: Kenali 4 satwa prioritas di Taman Nasional Gunung Leuser
Situasi tersebut mengancam kemampuan alami lanskap sebagai habitat bagi spesies-spesies kunci dan ikonik Sumatera.
Ia menilai, diperlukan upaya bersama dalam perbaikan tata kelola lanskap agar dapat menjadi ruang hidup bersama yang kondusif.
Selain itu, mampu menjaga keberadaan satwa-satwa ikonik Sumatera ini dalam kondisi yang baik serta populasi yang stabil dalam jangka panjang.
Hanya saja, upaya itu membutuhkan peran ataupun kontribusi positif para pihak terutama pemerintah baik pusat dan daerah, penggiat konservasi dan sosial di tingkat lokal dan nasional, akademisi.
Kemudian pengelola areal di tingkat tapak baik perusahaan swasta maupun masyarakat di dalam dan sekitar lanskap tersebut.
BKSDA Jambi sangat menghargai peluncuran “Initiative Promoting sustainability landscape management through Biodiversity conservation and forest positive action in Bukit Tigapuluh” dengan dukungan sejumlah lembaga seperti Proforest, WWF Indonesia dan KKI WARSI dalam satu konsorsium.
Diharapkan langkah strategis dalam pengelolaan lanskap secara kolaboratif dapat mendorong terwujudnya perbaikan tata kelola lanskap Taman Nasional Bukit Tigapuluh.
Baca: Taman Nasional Ujung Kulon dan upaya pelestarian macan tutul Jawa

Leave a Reply