7cloud.asia – Fenomena alam El Nino diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus dan September 2023 ini.
Berbagai dampak El Nino telah mulai dirasakan warga termasuk warga Jakarta, salah satunya kekeringan.
Mengantisapasi kekeringan yang dipicu fenomena alam El Nino tersebut Pemprov DKI Jakarta mempersiapkan sebanyak 67 unit mobil tangki.
Baca: Penyebab fenomena El Nino dan dampaknya pada lingkungan
“Jajaran Pemprov DKI Jakarta siap menghadapi ancaman kekeringan dengan menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana pendukung milik PAM Jaya, Dinas SDA, dan instansi terkait lainnya,” jelas Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji dalam keterangan tertulis yang dilansir Kamis (17/8/2023).
Sarana yang disiapkan untuk antisipasi kekeringan akibat El Nino antara lain adalah 67 unit mobil tangki, 46 unit tandon air, 9 unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) stasioner, dan 7 unit IPA mobile.
Persiapan ini, lanjut Isnawa, sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari yakni sejak bulan April 2023 lalu.
Baca: Dampak El Nino pada kesehatan
Saat itu, pihaknya mengundang instansi terkait dalam memastikan pasokan air
bersih dapat tersedia, dan melayani masyarakat selama menghadapi musim kemarau.
Tak hanya menyediakan air bersih untuk warga, pemprov DKI Jakarta juga
mengantisipasi kenaikan jumlah kasus kebakaran akibat cuaca panas disertai angin kencang.
Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI
Jakarta Satriadi Gunawan menjelaskan, selama Januari-Juli 2023, telah terjadi 1.034 kejadian kebakaran.
Baca: Ini yang terjadi jika Jakarta sukses batasi jumlah kendaraan bermotor
Sementara dalam kurun waktu 1-15 Agustus 2023 telah terjadi 88 kebakaran
di DKI Jakarta.
Hubungan pendek arus listrik menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran di Jakarta yakni sebanyak 42 kejadian.
Lalu secara berturut-turut adalah membakar sampah (19 kejadian), ledakan gas (7 kejadian), puntung/api rokok (4 kejadian), dan lainnya 15 sebanyak kejadian.
Baca: PBB ingatkan kurun 2023-2027 bakal jadi periode terhangat
“Berdasarkan data tersebut, penggunaan listrik masih menjadi faktor terbesar penyebab terjadinya kebakaran di DKI Jakarta,” papar Satriadi.
Selanjutnya Satriadi menjelaskan kenaikan suhu pada musim kemarau
mempengaruhi pola hidup masyarakat dalam menggunakan listrik yang berlebih.
Hal ini dapat menyebabkan perangkat elektronik, kabel listrik, dan instalasi listrik menjadi lebih rentan terhadap gangguan atau korsleting.
Baca: Emisi gas ruang kaca capai rekor di tahun 2022
Ia meminta warga lebih berhati-hati, karena saat musim kemarau seperti ini, sumber air untuk memadamkan api berkurang. Sementara api mudah merambat kemana-mana akibat cuaca panas dan hembusan angin.
Apabila terjadi kebakaran, hal tersebut berdampak pada sulitnya proses
pemadaman yang mengakibatkan perambatan api yang lebih cepat, serta kerugian yang lebih besar.
“Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan listrik pada musim kemarau seperti saat ini,” ujar Satriadi.
Baca: Dampak El Nino sudah terasa, sejumlah daerah alami kekeringan
Pemprov DKI Jakarta mengimbau warga untuk memastikan perangkat elektronik, instalasi listrik dapat dijaga dengan baik, terutama dalam pemeliharaan dan pemantauan kabel, serta steker listrik.
Warga diimbau untuk mematikan listrik apabila tidak digunakan untuk menghindari terjadinya korsleting listrik yang dapat memicu kebakaran.
BPBD DKI Jakarta juga melakukan pemantauan dan bedah instalasi listrik di kawasan permukiman menengah ke bawah.
Baca: El Nino memasuki masa puncak warga diminta siap hadapi kekeringan
Penulis: Nurakhmayani

Leave a Reply