Tag: fesyen

  • Butik Ini Menjual Produk Ramah Lingkungan dari Limbah Tekstil

    Butik Ini Menjual Produk Ramah Lingkungan dari Limbah Tekstil

    7cloud.asia –  Butik mungil berwarna hijau di salah satu pusat perbelanjaan ternama di DKI Jakarta, Grand Indonesia itu tak pernah sepi.

    Sejumlah anak muda hingga orang tua silih berganti mendatangi butik Sejauh Mata Memandang yang menjual fesyen ramah lingkungan ini.

    Masuk ke dalam butik sejauh mata memandang terlihat berbagai jenis produk fesyen mulai dari pakaian, aksesoris, jilbab, hingga kebaya. Semuanya ramah lingkungan karena dibuat  dari limbah tekstil.

    Pemilik butik Sejauh Mata Memandang, Chitra Subyakto mendaur limbah tekstil, busana atau sisa-sisa kain yang sudah tak terpakai lagi menjadi produk fesyen apik yang kini terpajang di butiknya. 

    Desainer Chitra Subyakto akhirnya tergerak untuk menjadikan bisnis fesyen yang telah dirintisnya sejak 2014, turut membuat produk dari daur ulang limbah tekstil.

    Baca: Misi lingkungan Chitra Subyakto

    Hal itu bermula dari ajakan para komunitas pecinta lingkungan untuk melihat langsung kondisi alam yang memprihatinkan, karena banyak limbah tekstil menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai, hingga laut.

    Chitra menyadari bahwa produk fesyen menjadi lima terbesar sebagai penyumbang polusi dunia, mulai dari proses pembuatan sampai akhirnya tidak terpakai lagi.

    Ia kemudian memutar otak dan mencoba bekerja sama dengan sejumlah perusahaan yang mendaur ulang limbah tekstil untuk belajar bagaimana mengolah pakaian bekas menjadi benang.

    Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bisa membuat benang-benang menjadi kain juga turut dilibatkan dalam produksi butik Sejauh Mata Memandang ini.

    Baca: DemiBumi hadir demi lingkungan

    Akhirnya benang-benang ditenun menjadi kain, dan dia mulai merancang guna menjadikannya produk pakaian, tas, jilbab, kebaya, aksesoris, fiber penyekat, hingga insulator atau peredam suara.

    Produk fesyen hasil daur ulang tersebut dijual seharga mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

    Kini para penggunanya tidak hanya dari kalangan masyarakat umum dan artis dalam negeri, tapi juga telah menyasar pelanggan luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.

    Sepanjang September 2021 hingga Mei 2023, Chitra telah mengumpulkan sebanyak 5.719 kilogram pakaian bekas atau limbah tekstil yang didaur ulang.

    Baca: Alasan untuk segera beralih ke pembalut kain

    Masyarakat juga dapat mengirimkan pakaian dengan kondisi apapun, seperti robek, bolong, ataupun kain perca, yang penting bukan termasuk bahan poliester.

    Dengan menyumbangkan pakaian bekas warga sudah ikut kontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Ada tiga langkah yang bisa diterapkan dalam menjaga kelestarian lingkungan, dan menyelamatkan para generasi yang akan datang.

    Langkah pertama bisa dilakukan dengan membeli pakaian yang bisa digunakan untuk jangka waktu panjang dan tidak kehilangan tren.

    Hindari bahan poliester karena tidak bisa terurai, serta memilih produk lokal yang memperhatikan cara berproses yakni slow fashion.

    Baca: Thrifting, cara anak muda kurangi sampah

    Kedua, tidak malu menggunakan pakaian secara berulang-ulang, dimana hal itu sudah mulai dikampanyekan lewat sejumlah publik figur.

    Terakhir adalah tidak langsung membuang pakaian yang sudah rusak, tetapi diperbaiki, atau membuat arisan tukar-tukar baju kepada sesama teman maupun keluarga.

     

  • Permak Pakaian: Solusi Jitu untuk Membuat Pakaian Bisa Kembali Dikenakan

    Permak Pakaian: Solusi Jitu untuk Membuat Pakaian Bisa Kembali Dikenakan

    7cloud.asia – Ini masih soal pakaian atau slow fashion, tentang bagaimana kita tidak menambah cemaran terhadap lingkungan karena cara kita memilih fesyen.

    Soal fesyen atau pakaian, menurut saya orang cenderung minimalis atau maksimalis.

    Hal ini terlihat jelas bagi saya ketika saya tumbuh dewasa, ketika adik perempuan saya yang koleksi pakaian atau fesyen nya terus bertambah, yang sebagian besar sepertinya tidak dia pakai.

    Sementara itu, saya selalu menganggap berbelanja pakaian lebih membuat stres daripada bermanfaat.

    Saya juga tidak pernah menyimpan pakaian karena sentimen – terutama karena keterbatasan tempat yang saya miliki.

    Ketimbang menumpuk pakaian, saya lebih suka memberikan pakaian yang tidak akan pernah saya pakai lagi ke toko amal setempat.

    Baca: Aplikasi ini membantu penjualan barang preloved

    Namun saya tetap mempunyai pakaian yang sebagian besar masih belum dipakai karena tidak muat.

    Kadang pakaian itu perlu diperbaiki, tetapi  saya tidak memiliki keterampilan untuk melakukannya.

    Seperti saat ini, saya memiliki celana linen putih yang bagian pinggangnya terlalu rendah yang tak sesuai dengan selera saya.

    Saya juga menyimpan kemeja sutra dengan kancing hilang di salah satu mansetnya; dan mantel Cos pea yang dibeli baru dengan lima kancingnya hilang,  tidak ada satupun yang tersisa.

    Ternyata, saya telah menunda mengunjungi penjahit lokal saya karena membayangkan biaya perbaikan barangnya akan mahal.

    Baca: Aplikasi ini membantu memadumadankan pakaian untuk penderita buta warna

    Tapi, akhirnya, saya mengemas pakaian itu dan membawanya ke penjahit. Orang di belakang konter itu cepat dan efisien.

    Saya mengenakan celana panjang dan menunjukkan kepadanya seberapa tinggi pinggang yang saya inginkan.

    Dia memasang pin di tempat yang tepat, lalu menyarankan perubahan lain pada kaki-kaki, tepat di bawah tempat duduk.

    Ini bukanlah sesuatu yang terpikir oleh saya, namun meskipun hanya dipasang dengan peniti, saya dapat melihat bahwa pendapatnya memang benar.

    Dia menyatukan ukuran celana itu menjadi pakaian baru dan menjadikannya sesuai dengan celana berpinggang tinggi yang saya inginkan.

    Baca: Jangan dulu membuang pakaian yang rusak, siapa tahu cara ini bisa ditiru

    Saya sadar, inilah daya tarik pergi ke penjahit: mengubah pakaian sesuai pesanan, sehingga nyaman dipakai.

    Tidak ada keraguan bahwa sekarang, menurut saya, mereka terlihat lebih mahal daripada sebelumnya.

    Pada minggu-minggu berikutnya, saya menerima pujian atas celana linen yang  tidak pernah saya kenakan itu.

    Ternyata hanya dengan harga sekitar 35 poundsterling, biaya untuk mengubahnya hampir sama dengan biaya yang saya bayarkan pada awalnya.

    Namun kini setelah pakaian tersebut kembali bisa saya kenakan. Dan, ternyata  kekhawatiran saya yang berakar pada alasan ekonomi sebuah kekeliruan besar:

    Tidak ada pakaian yang lebih mahal, bagi lingkungan atau saldo bank Anda, selain pakaian yang tidak pernah Anda kenakan.

    Tulisan ini diterjemahkan dari The Guardian, penulis Elle Hunt

  • Upaya Industri dan Peritel Fesyen Kurangi Limbah Tekstil

    Upaya Industri dan Peritel Fesyen Kurangi Limbah Tekstil

    7cloud.asia – Peritel fesyen Jepang Uniqlo meluncurkan pilot project untuk menekan jumlah limbah tekstil yang mencemari lingkungan dengan membuka studio Uniqlo di toko.

    Proyek untuk menekan jumlah limbah tekstil bernama Re.Uniqlo Studio itu sudah berjalan sejak akhir September 2022 di tiga tempat.

    Inggris menjadi lokasi pertama proyek pengurangan limbah tekstil dari peritel fesyen ini dengan studio berlokasi di Regent Street, London.

    Di Jepang, layanan serupa diuji coba di toko Uniqlo Setagaya Chitosedai di Jepang pada 22 Oktober 2022.

    Re.Uniqlo Studio di Orchard Singapura pada Oktober 2022, dalam waktu terbatas. Ternyata, pelanggan sangat menyukainya. Kami berencana untuk mengembangkannya di seluruh dunia…

    “Pakaian dapat digunakan lebih lama adalah pola pikir yang kami kedepankan,” ujar Koji Yanai, Group Senior Executive Officer, FAST RETAILING CO., LTD.

    Baca: Aplikasi ini bantu menjual pakaian second

    Koji yang juga bertanggung jawab dalam bidang sustainability, dalam presentasi virtual UNIQLO LifeWear – Masa Depan dan Rencana Aksi, November tahun lalu menerangkan Re.Uniqlo studio ini untuk mengatasi masalah limbah tekstil yang disebabkan faktor kebosanan.

     “Ada dua alasan seseorang berhenti memakai bajunya lagi. Pertama, pakaiannya sudah bernoda atau rusak. Alasan kedua, semata-mata karena bosan,” ujarnya.

    Di Indonesi, komitmen untuk ikut serta mengurangi limbah tekstil dilakukan peritel fesyen, alas kaki, kecantikan, dan gaya hidup terkemuka,  Matahari.

    Matahari  meluncurkan program “Daur Ulang Bajumu” berkolaborasi dengan APR (Asia Pacific Rayon) sebagai partner.

    APR sendiri merupakan produsen viscose-rayon di Indonesia yang memiliki komitmen untuk menggunakan material daur ulang sebesar 20% dalam produksi serat rayonnya hingga 2030.

    Melalui program Daur Ulang Bajumu ini, Matahari memfasilitasi konsumen Matahari agar dapat mendaur ulang pakaian mereka yang tidak terpakai dengan menyediakan boks daur ulang pakaian di gerai-gerai Matahari.

    Baca: Jangan buru-buru membuang pakaian yang rusak

    Caranya sangat mudah, konsumen tinggal datang ke gerai Matahari membawa pakaian bekasnya, lalu memasukkannya dalam Drop Box yang tersedia.

    Selama periode 1 September 2023 hingga 30 November 2023, konsumen yang memasukkan pakaian bekasnya ke drop box mendapat voucher belanja Matahari berupa potongan harga 25% yang bisa dibelanjakan untuk produk-produk berharga normal di Matahari.

    Saat ini drop box Daur Ulang Bajumu telah tersedia di 46 gerai Matahari yang tersebar di Jabodetabek, Medan, Surabaya, Bandung, dan masih akan terus bertambah.

    Pakaian-pakaian bekas dari konsumen akan dipilah terlebih dahulu oleh APR.

    Di mana material yang memenuhi spesifikasi kandungan tertentu akan didaur ulang oleh APR untuk menjadi serat benang yang dapat digunakan dalam produksi pakaian dengan kualitas setara.

    Sementara itu, material berbahan kain lainnya akan didaur ulang oleh mitra yang ditunjuk oleh APR untuk dimanfaatkan dalam produk tekstil.

    Baca: Mengungkap sisi gelap fast fashion

    Kelompok ini akan disulap menjadi lap pembersih, travel mat, keset kaki, maupun produk rumah tangga berbahan kain lainnya.

    Program Daur Ulang Bajumu sejalan dengan komitmen keberlanjutan APR dalam APR2030 yang berkomitmen untuk menggunakan 20% bahan baku tekstil daur ulang dalam produk serat rayonnya hingga 2030.

    Kolaborasi antara Matahari dan APR ini juga seiring dengan komitmen kedua perusahaan dalam mendukung fesyen yang berkelanjutan.

    Di mana Matahari berkomitmen untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab dan APR berkomitmen untuk meminimalkan limbah dan mempromosikan sirkularitas.

    Terry O’Connor, CEO Matahari mengungkapkan rasa bangganya atas program Daur Ulang Bajumu.

    Sebagai pelaku industri terdepan di bidang fesyen dan tekstil, langkah ini penting dalam mengurangi sampah fesyen di Indonesia dan sejalan dengan upaya keberlanjutan perusahaan untuk berkontribusi pada industri fesyen yang sirkular dan ramah lingkungan. 

     

  • Didukung UNEP, Delapan Negara Luncurkan Inisiatif Kurangi Limbah dari Industri Fesyen dan Konstruksi

    Didukung UNEP, Delapan Negara Luncurkan Inisiatif Kurangi Limbah dari Industri Fesyen dan Konstruksi

    7cloud.asia – Kamboja, Kostarika, Ekuador, India, Mongolia, Pakistan, Peru, serta Trinidad dan Tobago sepakat untuk bersama-sama mendorong transformasi dan menghilangkan dampak lingkungan dari industri fesyen dan konstruksi.

    Fesyen dan konstruksi merupakan salah satu dari tiga sektor terbesar yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan akibat polusi, emisi gas rumah kaca (GRK), degradasi lahan, polusi air, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

    Inisiatif senilai 340 juta dolar ini akan mengubah proses dan material yang membutuhkan banyak sumber daya dengan alternatif yang lebih berkelanjutan dan mendorong rantai nilai yang sirkular dan kolaboratif.

    Saat ini, negara-negara yang berpartisipasi dalam Program Terpadu Penghapusan Bahan Kimia Berbahaya dari Rantai Pasokan yang didanai oleh Fasilitas Lingkungan Global (GEF) meluncurkan inisiatif enam tahun.

    Melansir unep.org, proyek senilai 45 juta dolar atau sekitar Rp 7 triliun ini bertujuan untuk menata ulang rantai pasokan di sektor fesyen dan konstruksi sehingga lebih ramah lingkungan.

    Baca: Rappo Indonesia olah kantong plastik bekas menjadi produk fesyen

    Upaya ini akan mendorong desain regeneratif, penggantian bahan-bahan yang tidak terbarukan, produksi yang hemat sumber daya, perilaku pembelian yang bertanggung jawab, dan peningkatan pengumpulan pasca-penggunaan.

    Inisiatif ini juga memanfaatkan tambahan senila 295 juta dolar dari sumber lain untuk memaksimalkan dampaknya untuk perbaikan kualitas lingkungan.

    Sektor fesyen dan konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang paling banyak menggunakan bahan kimia di dunia. Sektor bangunan dan konstruksi merupakan pasar akhir terbesar untuk bahan kimia.

    Sementara untuk memproduksi 1 kilogram tekstil rata-rata memerlukan 0,58 kilogram berbagai bahan kimia dan penggunaan sejumlah besar air.

    Kedua sektor ini menghubungkan produsen, pengecer, dan konsumen dari seluruh dunia dan dicirikan oleh rantai pasokan global yang kompleks, terfragmentasi, dan berdampak signifikan secara global.

    Baca: Thrifting makin dilirik untuk kurangi sampah dan polusi

    Meskipun sebagian besar fokus industri-industri saat ini secara historis berpusat pada perubahan iklim dan keanekaragaman hayati, transformasi rantai pasokan fesyen dan konstruksi memerlukan pendekatan yang lebih holistik guna mengatasi polusi.

    Seperti diketahui polusi merupakan cabang ketiga dari tiga krisis planet Bumi, yakni polusi-perubahan iklim-hilangnya keanekaragaman hayati.

    Inisiatif ini diluncurkan pada Senin (9/12/2024) lalu, di Siem Reap Kamboja memperkenalkan program enam tahun yang ambisius ini, dipimpin oleh Program Lingkungan PBB (UNEP).

    Selain UNEP, program ini juga didukung Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Organisasi Pembangunan Industri PBB (UNIDO).

    Program ini akan mendorong perbaikan dalam kebijakan, inovasi, keterlibatan pemangku kepentingan, dan akses terhadap pendanaan di seluruh tahapan rantai pasokan.

    Hal ini akan memberdayakan perempuan, pemuda, dan komunitas lokal dengan mengintegrasikan pengetahuan adat, merevitalisasi perekonomian lokal, dan mengidentifikasi bahan dan praktik berkelanjutan.

  • Upaya Negara Selatan-selatan Wujudkan Ekonomi Hijau: Penggunaan Semen Rendah Emisi hingga Olah Limbah Pisang

    Upaya Negara Selatan-selatan Wujudkan Ekonomi Hijau: Penggunaan Semen Rendah Emisi hingga Olah Limbah Pisang

    7cloud.asia – Pada 9 Desember 2024 lalu, Kamboja, Kostarika, Ekuador, India, Mongolia, Pakistan, Peru, serta Trinidad dan Tobago sepakat untuk bersama-sama mendorong transformasi dan menghilangkan dampak lingkungan dari industri fesyen dan konstruksi.

    Selama ini industri fesyen dan konstruksi merupakan salah satu dari tiga sektor terbesar yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan akibat polusi, emisi gas rumah kaca (GRK), degradasi lahan, polusi air, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

    Inisiatif senilai total 340 juta dolar ini akan mengubah proses dan material yang membutuhkan banyak sumber daya dengan alternatif yang lebih berkelanjutan dan mendorong rantai nilai yang sirkular dan kolaboratif.

    Program ini juga akan memperkuat kerja sama Selatan-Selatan, kolaborasi regional dan mengurangi risiko pengalihan beban serta mengubah fesyen dan konstruksi dari sumber kerusakan lingkungan menjadi pendorong perubahan positif.

    Upaya-upaya ini bertujuan untuk mencegah pelepasan 6 juta ton emisi gas rumah kaca dan 18.750 ton bahan kimia berbahaya ke dalam ekosistem.

    Baca: Alternatif selain fast fashion yang tak ramah lingkungan

    Pelepasan polutan organik yang persisten ke udara akan diminimalkan, sehingga menjaga kualitas udara. Selain itu,  seluas 825.000 hektar lahan dan ekosistem akan dipulihkan, sehingga akan merevitalisasi habitat alami.

    Melansir dari unep.org, pada tahun 2031, upaya ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan yang dampaknya dirasakan oleh 2 juta orang di seluruh dunia.

    Menteri Lingkungan Hidup Kamboja mengatakan, kepindahan Kamboja dari status LDC memberikan peluang untuk meningkatkan sektor industrinya dan memastikan masa depan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

    ”Dengan berpartisipasi dalam program ini, Kamboja tidak hanya akan menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat tetapi juga memperkuat posisinya di pasar global, menarik investasi asing, dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi warganya,” ujarnya.

    Wakil Menteri Energi Kostarika, Ronny Rodríguez Chaves mengatakan bahwa penggunaan semen rendah karbon dan bangunan dengan material inovatif dan berbasis bio seperti miselium dan kayu merupakan peluang yang siap untuk diadopsi secara luas, jika lingkungan yang mendukung tersedia.

     

    Baca: Mengenal semen Non OPC yang lebih ramah lingkungan

    Sebagai negara yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, lanjut Chaves, kami bangga memimpin upaya transformasi sektor konstruksi.

    Dia menambahkan, ”Dengan berfokus pada akses terhadap pendanaan dan insentif, program ini akan membantu Kosta Rika menjadi pemimpin global dalam konstruksi berkelanjutan”.

    “Inisiatif yang mengubah keadaan ini menunjukkan kemampuan unik GEF dalam menyatukan negara-negara dan sektor-sektor untuk memetakan jalur yang lebih sehat, aman – dan tidak kalah menguntungkannya,” kata CEO dan Ketua GEF, Carlos Manuel Rodriguez.

    “Kami bangga mendukung kepemimpinan yang berani dalam industri fesyen dan konstruksi dalam mewujudkan rantai pasokan dengan lebih sedikit bahan kimia berbahaya dan jejak karbon yang lebih rendah.

    Kebutuhan di sini mencerminkan betapa terhubungnya tantangan lingkungan hidup di dunia, dan bagaimana pendekatan terpadu GEF dalam mengatasi polusi, perubahan iklim, dan hilangnya alam dapat bersifat transformatif – dengan hasil yang cepat dan nyata pada skala yang dibutuhkan.”

    Baca: Dampak fast fashion kepada lingkungan dan kehidupan sosial

    Program ini bertujuan untuk mengubah setiap tahap dari dua rantai pasokan di masing-masing negara.

    Sebut saja mendesain ulang busana karnaval di Trinidad dan Tobago, membangun tempat pembakaran batu bata artisanal di Ekuador, menguji coba sertifikasi bangunan ramah lingkungan dan skema pelabelan ramah lingkungan di Kamboja.

    Sementara di Pakistan, inisiatif ini diwujudkan dalam bentuk transformasi limbah batang pisang menjadi serat yang layak secara ekonomi dan bermanfaat secara sosial.

    Untuk memastikan keselarasan dengan inisiatif dan mitra yang ada, Kelompok Penasihat Program global akan dibentuk.

    Kelompok ini akan memberikan panduan strategis, dengan perwakilan senior dari pemerintah, industri, masyarakat sipil, dan para ahli yang memberikan saran dan berbagi pengetahuan untuk mempercepat transisi menuju rantai pasokan berkelanjutan.

     

  • Merek Besar di Industri Fesyen Macam H&M, GAP, Levi’s dan Ralp Lauren Ramai-ramai Kurangi Emisi

    Merek Besar di Industri Fesyen Macam H&M, GAP, Levi’s dan Ralp Lauren Ramai-ramai Kurangi Emisi

    7cloud.asia – Sejumlah merek besar di industri fesyen seperti H&M dan Gap menerapkan praktik alternatif untuk mengurangi jejak karbon mereka.

    Seperti telah sering diberitakan, industri fesyen tepatnya fast fashion merupakan salah satu sektor penyumbang utama emisi global.

    Pertanyaannya, apakah upaya merek besar di industri fesyen ini dapat mulai memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan industri selama beberapa dekade?

    Dilansir earth.org, penerapan energi terbarukan secara dini oleh merek-merek ini telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi kemajuan nyata hanya dapat dicapai jika raksasa lain dalam industri ini mengikutinya.

    Menurut sebuah studi oleh Stand.Earth, Gap, Levi’s dan Ralph Lauren adalah beberapa merek yang berada di jalur yang tepat untuk mengurangi emisi yang cukup untuk memenuhi komitmen mereka dalam membatasi pemanasan hingga 1,5C.

    Meskipun H&M belum menunjukkan bahwa mereka berhasil mencapai target nol emisi bersih pada tahun 2040, upaya energi angin mereka memiliki potensi besar

    Baca: Fast Fashion dan limbah tekstil picu masalah serius bagi lingkungan

    Ini hanyalah beberapa dari beberapa merek fesyen besar yang telah memulai perjalanan menuju emisi nol bersih, dan kemajuan signifikan masih harus dicapai.

    Bagi perusahaan-perusahaan ini dan upaya keberlanjutan mereka, jalan di depan panjang dan rumit untuk dilalui. Untuk saat ini, industri harus memercayai energi terbarukan untuk membuka jalan.

    Berikut upaya yang dilakukan sejumlah merek besar industri fesyen untuk memotong jejak karbon mereka:

    H&M
    Meskipun raksasa fast fashion ini masih harus menempuh jalan panjang untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan, mereka memelopori eksplorasi penggunaan energi angin dalam produksi pakaian jadi.

    Diumumkan pada COP28, H&M bermitra dengan merek fesyen Denmark Bestseller dan perusahaan investasi energi terbarukan Copenhagen Infrastructure Partners (CIP) untuk meluncurkan proyek angin lepas pantai pertama di Bangladesh.

    Negara ini memainkan peran penting dalam rantai pasokan H&M. Dengan perusahaan yang mendapatkan pasokan pakaian dari sekitar 1.000 pabrik di Bangladesh, upaya ini dapat membantu merek tersebut membuat langkah besar dalam mengurangi emisi manufaktur.

    Baca: Sisi gelap fast fashion bagi lingkungan dan kehidupan sosial

    Proyek 500 Megawatt (MW) yang akan mulai beroperasi pada tahun 2028 ini diharapkan dapat mengurangi emisi CO2 negara ini sebesar 725.000 ton per tahun.

    Kemitraan ini bertujuan untuk memperlancar transisi industri mode ke energi terbarukan sekaligus mendukung tujuan negara untuk mendapatkan 40% listriknya dari sumber terbarukan pada tahun 2041.

    Levi Strauss & Co
    Pengecer denim besar merilis rencana transisi iklim perdananya pada bulan Oktober 2024, yang menguraikan strategi untuk mencapai emisi nol bersih di seluruh operasi dan rantai pasokannya pada tahun 2050.

    Bagian dari rencana ini mencakup transisi ke “listrik terbarukan 100 persen di semua pabrik yang dioperasikan perusahaan”. fasilitas pada tahun 2025.”

    Levi’s membuat langkah besar untuk mencapai tujuan tersebut. Faktanya, pada tahun 2022, 90 persen listrik yang digunakan di fasilitas Levi’s sudah menggunakan energi terbarukan.

    Gap Inc.
    Dalam Laporan ESG Gap 2023, perusahaan menetapkan tujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca Cakupan 1 dan 2 sebesar 90% dari dasar tahun 2017 pada tahun 2030.

    Baca: Slow fashion jadi solusi dampak lingkungan Fast Fashion

    Untuk mencapai hal ini, perusahaan memulai dua perjanjian pembelian daya virtual (VPPA) dengan Aurora Wind, Ladang angin 90 MW di North Dakota, dan Fern Solar, proyek tenaga surya 7,5 MW di North Carolina.

    VPPA sejauh ini terbukti efektif – menurut laporan, “Fern Solar telah mengimbangi 100 persen listrik yang digunakan di toko-toko yang dikelola perusahaan Athleta di Amerika Utara sejak tahun 2021.”

    Ralph Lauren
    Sebagai anggota inisiatif energi terbarukan perusahaan global RE100, Ralph Lauren telah berkomitmen untuk mengubah semua kantor, pusat distribusi, dan toko yang dimiliki dan dioperasikan secara global menjadi 100 persen listrik terbarukan pada akhir tahun 2025.

    Dalam inisiatif Kewarganegaraan & Keberlanjutan Global 2024, Ralph Lauren berkomitmen untuk mengubah semua kantor, pusat distribusi, dan tokonya menjadi 100 persen gunakan listrik terbarukan pada akhir tahun 2025.

    Perusahaan mencatat kemajuannya, dengan menyatakan bahwa pihaknya “terus berinvestasi dalam sertifikat atribut energi terbarukan, yang mencakup 64% dari penggunaan listrik global kami.”

    Dengan mengalihkan operasinya ke fasilitas hijau dan menandatangani VPPA untuk pembangkit listrik tenaga angin dan surya baru di AS dan Eropa, perusahaan telah menurunkan emisi absolut sebesar 33 persen.

    Baca: Aplikasi Vinted jadi tempat warga Inggris bertransaksi pakaian preloved 

     

     

  • Inisiatif UNEP untuk Mendorong Industri Fesyen dan Tekstil yang Lebih Ramah Lingkungan

    Inisiatif UNEP untuk Mendorong Industri Fesyen dan Tekstil yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Sektor fesyen dan tekstil bukan hanya tentang gaya; sektor ini adalah garda terdepan dalam menghadapi tiga krisis planet yaitu perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

    Fesyen dan tekstil juga memiliki kepentingan budaya dan ekonomi yang sangat besar, menyediakan mata pencaharian dan rasa identitas bagi jutaan orang.

    Namun, pada saat yang sama fesyen dan industri tekstil menimbulkan risiko bagi pekerja dan lingkungan dalam setiap tahap siklus hidupnya. Karena itu, Program Lingkungan PBB (UN Environment Programme/UNEP) memberi perhatian khusus pada sektor fesyen dan tekstil.

    Inisiatif Tekstil UNEP memberikan kepemimpinan strategis dan mendorong kolaborasi di seluruh sektor untuk mempercepat transisi yang adil menuju rantai nilai tekstil yang berkelanjutan dan sirkular.

    Pekerjaan UNEP meliputi dukungan dan informasi kepada pemerintah, seperti melalui Dialog Kebijakan Tekstil Global, membantu industri, khususnya UKM di negara-negara berkembang, dalam beralih ke model bisnis sirkular

    UNEP juga meningkatkan penggunaan standar industri untuk sirkularitas, menghilangkan bahan kimia berbahaya, sambil mengadopsi pendekatan siklus hidup dan mengatasi kelebihan produksi dan konsumsi berlebihan untuk mendefinisikan ulang model ekonomi industri fesyen.

    Yang mendasari semua ini adalah dukungan untuk pengambilan keputusan berbasis bukti melalui laporan kepemimpinan pemikirannya.

    Mendukung kebijakan
    UNEP berupaya untuk memulai perubahan kebijakan terpadu menuju keberlanjutan dan sirkularitas.

    UNEP mendukung para pembuat kebijakan dalam pengambilan keputusan mereka dengan memetakan kebijakan, mengembangkan rekomendasi, dan menyediakan cetak biru kebijakan, lembar fakta, dan analisis tentang topik-topik tertentu seperti perdagangan tekstil bekas.

    UNEP juga berkontribusi pada koordinasi kebijakan global melalui kerja samanya dengan para pembuat kebijakan dalam ‘Tindakan kebijakan terhadap tekstil – Rangkaian dialog yang difasilitasi oleh UNEP’.

    Menangani bahan kimia berbahaya
    UNEP berupaya untuk menghapus bahan kimia yang menjadi perhatian yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

    Harapannya, sektor fesyen dan tekstil secara luas dapat berkontribusi pada target industri di bawah Kerangka Kerja Global tentang Bahan Kimia.

    UNEP mendukung upaya global dan di dalam negeri, termasuk di Kamboja, Indonesia, Trinidad & Tobago, dan Vietnam, untuk mengurangi penggunaan dan pelepasan bahan kimia yang mengkhawatirkan di seluruh rantai pasokan, termasuk Polutan Organik Persisten (POP) oleh UKM dalam fase pemrosesan basah.

    Mendukung UKM
    UNEP mendorong norma dan praktik industri menuju keberlanjutan. Transisi menuju sirkularitas akan mengharuskan semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama, dan UKM sangat penting untuk transisi ini.

    Di tingkat global, UNEP mendukung industri mode dan tekstil dengan menciptakan pengetahuan bersama dan mengubah wacana global dengan mitra strategis, termasuk melalui penyediaan alat untuk menginformasikan pengambilan keputusan.

    UNEP juga mendukung UKM tertentu di negara-negara berkembang termasuk India, india, Kenya, Afrika Selatan, Tunisia, dan Vietnam, serta di tingkat regional (seperti melalui West Asia Sustainable Fashion Academy) untuk menerapkan pendekatan siklus hidup.

    Misalnya, untuk menghitung jejak lingkungan produk fesyen dan tekstil, mengidentifikasi dan menangani bahan kimia berbahaya dalam produksi, dan beralih ke model bisnis sirkular.

    Menangani tekstil bekas
    Tekstil bekas harus dialihkan dari tempat pembuangan akhir dan pembakaran yang dapat dihindari, dan dikelola secara bertanggung jawab untuk memastikan produk tekstil tetap berada dalam sistem sirkular.

    UNEP berupaya mengidentifikasi prioritas utama dalam reformasi perdagangan dan kebijakan untuk meningkatkan sirkularitas tekstil bekas.

    UNEP juga mengembangkan pedoman global untuk menentukan kesesuaian produk perdagangan sebagai ‘tekstil bekas’ dan kriteria untuk membedakan antara tekstil bekas dan limbah tekstil.

  • Slow fashion: Tampil Gaya Tetapi Tetap Ramah Lingkungan

    Slow fashion: Tampil Gaya Tetapi Tetap Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Mengikuti tren fesyen kini makin mudah dengan kehadiran platform daring: sekali klik, pakaian baru masuk keranjang dan bisa langsung check out.

    Ada tren baru di dunia fesyen dengan diskon mantap? Tinggal beli lagi. Tanpa disadari, pakaian pun menumpuk di lemari, padahal jarang dipakai.

    Fast fashion, berkembang pesat lewat pengaruh media sosial dan influencer, membuat pakaian trendy dengan harga murah kian menjamur dan menarik minat masyarakat untuk berbelanja, tampil gaya, dan selalu mengikuti mode terbaru.

    Namun, kebiasaan ini membuat banyak anak muda terjebak dalam siklus pembelian impulsif yang tak hanya boros, tetapi juga menyumbang emisi dan permasalahan lingkungan.

    Fenomena ini memunculkan gerakan slow fashion yang mengajak kita lebih sadar, selektif, dan bertanggung jawab dalam belanja fesyen.

    Dari mana asal-muasal emisi pakaian? Emisi pakaian berasal dari proses produksi dan juga limbah setelah pakaian dikonsumsi.

    Proses produksi pakaian seperti pewarnaan dan pemintalan kain butuh energi besar dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang besar pula.

    Produksi 1 kilogram kain, misalnya, bisa menghasilkan antara 20-23 kg gas rumah kaca. Setelah pakaian digunakan, masalah masih berlanjut.

    Baca: Industri fast fashion menuju ramah lingkungan

    Sekitar 73 persen tekstil berujung sebagai limbah, dan hanya kurang dari 1 persen yang didaur ulang.

    Pembakaran pakaian bekas melepaskan zat kimia berbahaya dan mikroplastik ke udara, menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca dan memperburuk kualitas lingkungan.

    Secara global, industri fesyen menyumbang 92 juta ton sampah pakaian yang menumpuk di tempat pembuangan akhir setiap tahunnya.

    Di Indonesia, limbah tekstil diperkirakan mencapai 2,3 juta ton per tahun, dan diprediksi akan naik hingga 70 persen jika tidak ada intervensi apapun.

    Slow fashion sebagai solusi
    Slow fashion mendorong konsumen agar lebih bijaksana dalam mengonsumsi pakaian dengan pergeseran pola pikir dari kuantitas ke kualitas, sehingga umur pakaian lebih panjang dan berkualitas tinggi. Dengan begitu, konsumen tidak perlu sering-sering membeli pakaian.

    Di ranah etis, gerakan ini menantang industri fast fashion yang sering kali mengabaikan permasalahan tenaga kerja, seperti peristiwa runtuhnya Rana Plaza yang menewaskan ribuan pekerja garmen di Bangladesh pada 2013 lalu.

    Slow fashion fokus pada penghormatan dan pemberian kompensasi yang adil. Komoditas produksinya juga dimaksimalkan berbasis kerajinan produk yang dibuat oleh pekerja berketerampilan tinggi dan sumber lokal.

    Masalahnya, riset yang saya lakukan bersama tim menunjukkan ada banyak tantangan dan butuh kerja ekstra untuk membuat tren ini menjadi gaya hidup masyarakat.

    Baca: Industri fast fashion menjadi salah satu sumber emisi

    Berikut adalah beberapa tantangan sekaligus solusi untuk perkembangan slow fashion:

    1. Fesyen berkelanjutan masih mahal
    Dari sudut pandang konsumen, harga dan tren adalah daya tawar utama. Fast fashion menawarkan perkembangan pakaian terkini dengan harga terjangkau, sementara pakaian ramah lingkungan harganya cenderung lebih mahal.

    Misalnya, harga kaos berbahan 100% serat TENCEL™ Lyocell, yang mengklaim sebagai lini pakaian berkelanjutan adalah US$85,5 atau Rp1,2 juta.

    Sementara konsumen bisa membeli baju serupa dari ritel fast fashion dengan harga Rp200 ribu–Rp300 ribu.

    Rantai produksi mereka mungkin bisa menjelaskan mengapa pakaian tersebut wajar di banderol dengan harga tinggi.

    Namun, konsumen secara umum tidak melihat pentingnya sistem penghargaan ini–mereka hanya merogoh kocek dan menemukan isi kantong tidak cukup membelinya. Adapun konsumen generasi muda, meski lebih sadar lingkungan, daya beli mereka masih rendah.

    Urusan ‘kantong pembeli’ ini menjadi hambatan utama yang membatasi keberlanjutan dan perilaku pro lingkungan. Harga yang tinggi menjadikan fesyen berkelanjutan tidak inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Untuk itu, pelaku bisnis fesyen harus mencari keseimbangan antara ongkos produksi dan harga jual.

    Baca: Cerita tentang slow fashion

    2. Persaingan mode
    Data Tinkerlust Impact Report 2022 mengungkapkan bahwa sebanyak 63,46% orang Indonesia lebih suka membeli produk fast fashion karena kemudahan akses dan tampilannya yang fashionable.

    Sementara slow fashion menghadapi tantangan persepsi bahwa produknya kurang modis alias tidak trendy dan pilihannya juga terbatas.

    Untuk itu, industri slow fashion mungkin harus berusaha memastikan produk mereka tetap stylish agar menarik pelanggan terutama dari kalangan muda.

    3. Kesadaran publik
    Tantangan besar lainnya adalah masih minimnya kesadaran publik akan fesyen berkelanjutan. Ada pekerjaan rumah bersama mengedukasi konsumen untuk menahan pembelian pakaian baru dan melakukan usaha lebih untuk memperpanjang usia pemakaian pakaian.

    Riset kami menunjukkan, salah satu medium yang ampuh untuk mengedukasi masyarakat adalah media sosial, terutama Instagram.

    Menurut Digital Report 2023, 64,5 peren masyarakat Indonesia cenderung menggunakan media sosial untuk mencari informasi mengenai merek dan produk, dan #fashion merupakan hashtag Instagram yang paling banyak digunakan.

    Laporan yang sama menunjukkan bahwa, iklan Instagram berpotensi menjangkau 41,2 persen masyarakat Indonesia.

    Penulis bersama tim sudah mengkaji bagaimana informasi tentang slow fashion tersebar di Instagram, khususnya melalui dua akun berpengaruh, @setali.indonesia di Indonesia dan @klothcircularity di Malaysia, yang aktif mempromosikan fesyen berkelanjutan.

    Hasil studi menunjukkan bahwa konten edukatif mendominasi komunikasi slow fashion di Instagram, mencakup 53 persen dari total unggahan, diikuti oleh konten interaktif (41 persen) yang melibatkan diskusi dan partisipasi komunitas.

    Sementara itu, konten promosi langsung hanya 6 persen. Artinya, promosi slow fashion harus berfokus pada konten edukasi dan keterlibatan komunitas daripada sekadar iklan biasa.

    Masih pilih fast fashion?
    Ingat, tragedi Rana Plaza merenggut 1.100 nyawa pada 2013 silam karena perusahaan garmen mengabaikan peringatan kerusakan bangunan demi memproduksi fast fashion tanpa henti. Berbagai merek populer terlibat tragedi ini karena memilih memproduksi barangnya di sana demi ongkos murah.

    Belum lagi, dampak fast fashion terhadap pemanasan global dan biodiversitas laut yang tercemar mikroplastik. Lebih baik kita sama-sama belajar menahan nafsu, berhenti mengikuti tren fast fashion, dan mulai menabung untuk mendukung fesyen ramah lingkungan, yuk!

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Angga Ariestya (PhD Candidate at ICSJ Charles University | Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara)

  • Tren ‘Thrifting’ di Kalangan Muda: Ikut-ikutan atau Benar-benar untuk Lingkungan?

    Tren ‘Thrifting’ di Kalangan Muda: Ikut-ikutan atau Benar-benar untuk Lingkungan?

    7cloud.asia – Pascapandemi Covid-19, tren thrifting (membeli pakaian bekas) semakin populer di kalangan Gen Z di Indonesia. Kaum muda memilih pakaian bekas bukan hanya karena harganya lebih terjangkau, tetapi juga karena alasan lingkungan dan gaya unik yang ditawarkan oleh produk second-hand.

    Namun, apakah thrifting benar-benar mencerminkan kesadaran atas fesyen berkelanjutan, atau sekadar tren sesaat?

    Sebagai peneliti di bidang perilaku konsumen, kami melakukan penelitian pada tahun 2024 terhadap 345 responden berusia 18-25 tahun dari berbagai kota besar di Indonesia, seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Jakarta.

    Kami ingin memahami bagaimana Gen Z memandang dan mempraktikkan fesyen berkelanjutan.

    Hasilnya, meskipun ada kesadaran lingkungan yang meningkat, faktor utama yang mendorong Gen Z untuk memilih thrifting masih berkaitan dengan harga dan tren.

    Kesadaran lingkungan vs gaya hidup
    Industri fesyen, terutama fast fashion, telah lama dikritik karena dampaknya terhadap lingkungan. Beberapa merek fashion global seperti H&M, Zara, dan Uniqlo bahkan diduga mengeksploitasi pekerja dan melakukan greenwashing—membuat pernyataan palsu yang menyesatkan tentang manfaat lingkungan dari suatu produk.

    Untuk mengatasi persoalan limbah tekstil dan konsumsi berlebihan, thrifting sering dianggap sebagai solusi. Dengan membeli pakaian bekas, konsumen dapat memperpanjang umur pakaian dan mengurangi permintaan produksi baru.

    Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa tidak semua pembeli pakaian bekas benar-benar memahami dan memedulikan aspek keberlanjutan ini.

    Baca: UNEP terus dorong industri fesyen agar lebih ramah lingkungan

    Sebagian besar kaum muda, khususnya Gen Z, membeli pakaian bekas bukan semata-mata karena peduli lingkungan, melainkan karena pertimbangan estetika—seperti mencari busana vintage—dan harga yang terjangkau.

    Artinya, meskipun praktik ini berdampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan, motivasi utamanya cenderung karena gaya hidup, bukan kesadaran ekologis.

    Gen Z dan fesyen berkelanjutan
    Penelitian kami menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti pengetahuan tentang dampak lingkungan, sikap terhadap isu keberlanjutan, serta norma sosial, turut membentuk perilaku berbelanja Gen Z.

    Meski demikian, ketiga faktor tersebut belum signifikan dalam memengaruhi keputusan akhir saat membeli pakaian. Sebab, keputusan ini sering kali dipengaruhi oleh harga, ketersediaan produk, dan tren mode terkini.

    Banyak responden mengaku tetap memilih produk fast fashion karena lebih mudah diakses dan sesuai dengan gaya mereka. Selain itu, tekanan sosial untuk tampil modis di media sosial juga memperkuat keputusan ini, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai keberlanjutan yang mereka pahami.

    Hasil survei dan wawancara kami menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyadari dampak negatif industri fast fashion terhadap lingkungan. Namun, hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar secara konsisten menghindari pembelian merek-merek fast fashion.

    Seorang narasumber, Adinda (22 tahun) mengungkapkan, “Saya tahu bahwa ‘fast fashion’ tidak ramah lingkungan, tetapi sulit mencari alternatif yang harganya terjangkau dan tetap ‘stylish’.”

    Sementara itu, beberapa responden lain justru melihat thrifting sebagai solusi yang menarik, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan. Rafi (24 tahun) mengatakan,

    Baca: Merek fesyen global menuju produk yang lebih ramah lingkungan

    “Saya mulai ‘thrifting’ karena lebih murah, tetapi lama-lama saya sadar bahwa ini juga cara untuk mengurangi limbah pakaian.”

    Menariknya, hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa meskipun thrifting dianggap sebagai pilihan sadar dalam berbelanja, banyak responden masih terbawa pola konsumsi impulsif—membeli barang karena tergoda, bukan karena kebutuhan.

    Ini seperti yang disampaikan Dina (21 tahun): “Saya sering belanja ‘thrift’ karena harganya murah, tapi kadang saya beli terlalu banyak hanya karena barangnya lucu. Padahal, saya belum tentu memakainya.”

    Artinya, meskipun thrifting dapat menjadi alternatif konsumsi yang ramah lingkungan, aktivitas ini belum dapat sepenuhnya lepas dari tantangan perilaku konsumtif.

    Ketika kebiasaan membeli barang secara impulsif tetap terjadi—bahkan dalam konsep ‘thrifting’—manfaat lingkungan yang diharapkan dapat berkurang atau bahkan tertutupi oleh pola konsumsi yang berlebihan.

    Konsumsi fesyen yang bertanggung jawab
    Meski thrifting semakin populer, perubahan nyata menuju konsumsi fesyen yang berkelanjutan masih menghadapi banyak tantangan.

    Penting bagi Gen Z untuk tidak sekadar melihat thrifting sebagai tren estetik saja tetapi juga sebagai langkah nyata mengurangi dampak lingkungan. Ini tentu saja membutuhkan edukasi yang berkelanjutan dan kampanye yang kuat.

    Pengusaha fesyen—baik merek internasional maupun lokal—perlu lebih transparan dan bertanggung jawab dalam menjalankan bisnisnya, mulai dari pemilihan bahan hingga proses produksi.

    Baca: Sisi gelap fast fashion bagi lingkungan dan kehidupan sosial

    Menawarkan pakaian dari material daur ulang atau material yang tahan lama bisa menjadi salah satu solusi.

    Salah satu pemanfaatan material daur ulang menjadi produk fashion dapat ditemukan di Recycling Village yang diinisiasi oleh warga Desa Air Nanginan, Provinsi Lampung.

    Beberapa merek fesyen lokal, seperti Pijak Bumi, Sejauh Mata Memandang, dan Imaji Studio, juga sudah menerapkan konsep berkelanjutan pada produknya.

    Aktivitas berkelanjutan tersebut tidak hanya bermanfaat langsung terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah pada produk-produk yang dipasarkan.

    Lebih jauh lagi, konsumen dapat berkontribusi dengan membeli lebih sedikit, memilih bahan yang tahan lama, serta mendukung aktivitas fesyen berkelanjutan.

    Pada akhirnya, fesyen berkelanjutan tidak hanya terkait dengan pilihan belanja, tetapi juga menyangkut cara pandang terhadap pakaian yang dimiliki.

    Jika Gen Z ingin menjadi agen perubahan, mereka perlu melampaui tren sesaat dan mulai menjadikan fesyen sebagai upaya sadar untuk menciptakan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, penulis:
    Puty Febriasari (Dosen Program Studi Manajemen FEB Universitas Panca Bhakti)
    Anggraeni Pranandari (Dosen Departemen Manajemen FEB UGM)
    Thea Geneveva Josephine Jesajas (Dosen, Universitas Panca Bhakti)