7cloud.asia – Pada 9 Desember 2024 lalu, Kamboja, Kostarika, Ekuador, India, Mongolia, Pakistan, Peru, serta Trinidad dan Tobago sepakat untuk bersama-sama mendorong transformasi dan menghilangkan dampak lingkungan dari industri fesyen dan konstruksi.
Selama ini industri fesyen dan konstruksi merupakan salah satu dari tiga sektor terbesar yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan akibat polusi, emisi gas rumah kaca (GRK), degradasi lahan, polusi air, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Inisiatif senilai total 340 juta dolar ini akan mengubah proses dan material yang membutuhkan banyak sumber daya dengan alternatif yang lebih berkelanjutan dan mendorong rantai nilai yang sirkular dan kolaboratif.
Program ini juga akan memperkuat kerja sama Selatan-Selatan, kolaborasi regional dan mengurangi risiko pengalihan beban serta mengubah fesyen dan konstruksi dari sumber kerusakan lingkungan menjadi pendorong perubahan positif.
Upaya-upaya ini bertujuan untuk mencegah pelepasan 6 juta ton emisi gas rumah kaca dan 18.750 ton bahan kimia berbahaya ke dalam ekosistem.
Baca: Alternatif selain fast fashion yang tak ramah lingkungan
Pelepasan polutan organik yang persisten ke udara akan diminimalkan, sehingga menjaga kualitas udara. Selain itu, seluas 825.000 hektar lahan dan ekosistem akan dipulihkan, sehingga akan merevitalisasi habitat alami.
Melansir dari unep.org, pada tahun 2031, upaya ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan yang dampaknya dirasakan oleh 2 juta orang di seluruh dunia.
Menteri Lingkungan Hidup Kamboja mengatakan, kepindahan Kamboja dari status LDC memberikan peluang untuk meningkatkan sektor industrinya dan memastikan masa depan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
”Dengan berpartisipasi dalam program ini, Kamboja tidak hanya akan menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat tetapi juga memperkuat posisinya di pasar global, menarik investasi asing, dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi warganya,” ujarnya.
Wakil Menteri Energi Kostarika, Ronny Rodríguez Chaves mengatakan bahwa penggunaan semen rendah karbon dan bangunan dengan material inovatif dan berbasis bio seperti miselium dan kayu merupakan peluang yang siap untuk diadopsi secara luas, jika lingkungan yang mendukung tersedia.
Baca: Mengenal semen Non OPC yang lebih ramah lingkungan
Sebagai negara yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, lanjut Chaves, kami bangga memimpin upaya transformasi sektor konstruksi.
Dia menambahkan, ”Dengan berfokus pada akses terhadap pendanaan dan insentif, program ini akan membantu Kosta Rika menjadi pemimpin global dalam konstruksi berkelanjutan”.
“Inisiatif yang mengubah keadaan ini menunjukkan kemampuan unik GEF dalam menyatukan negara-negara dan sektor-sektor untuk memetakan jalur yang lebih sehat, aman – dan tidak kalah menguntungkannya,” kata CEO dan Ketua GEF, Carlos Manuel Rodriguez.
“Kami bangga mendukung kepemimpinan yang berani dalam industri fesyen dan konstruksi dalam mewujudkan rantai pasokan dengan lebih sedikit bahan kimia berbahaya dan jejak karbon yang lebih rendah.
Kebutuhan di sini mencerminkan betapa terhubungnya tantangan lingkungan hidup di dunia, dan bagaimana pendekatan terpadu GEF dalam mengatasi polusi, perubahan iklim, dan hilangnya alam dapat bersifat transformatif – dengan hasil yang cepat dan nyata pada skala yang dibutuhkan.”
Baca: Dampak fast fashion kepada lingkungan dan kehidupan sosial
Program ini bertujuan untuk mengubah setiap tahap dari dua rantai pasokan di masing-masing negara.
Sebut saja mendesain ulang busana karnaval di Trinidad dan Tobago, membangun tempat pembakaran batu bata artisanal di Ekuador, menguji coba sertifikasi bangunan ramah lingkungan dan skema pelabelan ramah lingkungan di Kamboja.
Sementara di Pakistan, inisiatif ini diwujudkan dalam bentuk transformasi limbah batang pisang menjadi serat yang layak secara ekonomi dan bermanfaat secara sosial.
Untuk memastikan keselarasan dengan inisiatif dan mitra yang ada, Kelompok Penasihat Program global akan dibentuk.
Kelompok ini akan memberikan panduan strategis, dengan perwakilan senior dari pemerintah, industri, masyarakat sipil, dan para ahli yang memberikan saran dan berbagi pengetahuan untuk mempercepat transisi menuju rantai pasokan berkelanjutan.

Leave a Reply