Didukung UNEP, Delapan Negara Luncurkan Inisiatif Kurangi Limbah dari Industri Fesyen dan Konstruksi

Written by

in

7cloud.asia – Kamboja, Kostarika, Ekuador, India, Mongolia, Pakistan, Peru, serta Trinidad dan Tobago sepakat untuk bersama-sama mendorong transformasi dan menghilangkan dampak lingkungan dari industri fesyen dan konstruksi.

Fesyen dan konstruksi merupakan salah satu dari tiga sektor terbesar yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan akibat polusi, emisi gas rumah kaca (GRK), degradasi lahan, polusi air, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Inisiatif senilai 340 juta dolar ini akan mengubah proses dan material yang membutuhkan banyak sumber daya dengan alternatif yang lebih berkelanjutan dan mendorong rantai nilai yang sirkular dan kolaboratif.

Saat ini, negara-negara yang berpartisipasi dalam Program Terpadu Penghapusan Bahan Kimia Berbahaya dari Rantai Pasokan yang didanai oleh Fasilitas Lingkungan Global (GEF) meluncurkan inisiatif enam tahun.

Melansir unep.org, proyek senilai 45 juta dolar atau sekitar Rp 7 triliun ini bertujuan untuk menata ulang rantai pasokan di sektor fesyen dan konstruksi sehingga lebih ramah lingkungan.

Baca: Rappo Indonesia olah kantong plastik bekas menjadi produk fesyen

Upaya ini akan mendorong desain regeneratif, penggantian bahan-bahan yang tidak terbarukan, produksi yang hemat sumber daya, perilaku pembelian yang bertanggung jawab, dan peningkatan pengumpulan pasca-penggunaan.

Inisiatif ini juga memanfaatkan tambahan senila 295 juta dolar dari sumber lain untuk memaksimalkan dampaknya untuk perbaikan kualitas lingkungan.

Sektor fesyen dan konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang paling banyak menggunakan bahan kimia di dunia. Sektor bangunan dan konstruksi merupakan pasar akhir terbesar untuk bahan kimia.

Sementara untuk memproduksi 1 kilogram tekstil rata-rata memerlukan 0,58 kilogram berbagai bahan kimia dan penggunaan sejumlah besar air.

Kedua sektor ini menghubungkan produsen, pengecer, dan konsumen dari seluruh dunia dan dicirikan oleh rantai pasokan global yang kompleks, terfragmentasi, dan berdampak signifikan secara global.

Baca: Thrifting makin dilirik untuk kurangi sampah dan polusi

Meskipun sebagian besar fokus industri-industri saat ini secara historis berpusat pada perubahan iklim dan keanekaragaman hayati, transformasi rantai pasokan fesyen dan konstruksi memerlukan pendekatan yang lebih holistik guna mengatasi polusi.

Seperti diketahui polusi merupakan cabang ketiga dari tiga krisis planet Bumi, yakni polusi-perubahan iklim-hilangnya keanekaragaman hayati.

Inisiatif ini diluncurkan pada Senin (9/12/2024) lalu, di Siem Reap Kamboja memperkenalkan program enam tahun yang ambisius ini, dipimpin oleh Program Lingkungan PBB (UNEP).

Selain UNEP, program ini juga didukung Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Organisasi Pembangunan Industri PBB (UNIDO).

Program ini akan mendorong perbaikan dalam kebijakan, inovasi, keterlibatan pemangku kepentingan, dan akses terhadap pendanaan di seluruh tahapan rantai pasokan.

Hal ini akan memberdayakan perempuan, pemuda, dan komunitas lokal dengan mengintegrasikan pengetahuan adat, merevitalisasi perekonomian lokal, dan mengidentifikasi bahan dan praktik berkelanjutan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *