Tag: Frugal Living

  • Perubahan Iklim Jadi Momentum Tuk Jalani Gaya Hidup Frugal Living

    Perubahan Iklim Jadi Momentum Tuk Jalani Gaya Hidup Frugal Living

    7cloud.asia – Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan. Salah satunya adalah makin banyaknya orang yang menjalani gaya hidup frugal living.

    Dalam kondisi yang serba tidak menentu, masyarakat makin sadar bahwa memikirkan dana darurat itu penting. Itu sebabnya frugal living menjadi pilihan. Pandemi membuat seseorang semakin dapat mengukur bagaimana kondisi keuangan (financial), seberapa kuat pondasi keuangannya dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.

    Sejumlah pesohor seperti Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Ratu Elizabeth II, Leonardo  de Caprio, dan pesohor lainnya adalah beberapa contoh yang mempraktikkan gaya hidup frugal living ini.

    Baca: Gaya hidup minimalis lebih ramah lingkungan

    Frugal living secara sederhana sering diartikan sebagai gaya hidup hemat atau irit.  Pengeluaran diatur dengan ketat agar pendapatan bisa disisihkan untuk mengantisipasi kondisi darurat.

    Jhon White, seorang professor filosopi pendidikan  dalam tulisannya “The Frugal Life, and Why We Should Educate for It” menjelaskan bahwa frugal living harus diadopsi oleh generasi masa depan.

    “Pandemi Covid-19 dan perubahan iklim (climate change) harus menjadi momentum untuk mendeklarasikan frugal living dan mengajarkannya kepada generasi masa kini,” tulis Jhon White.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Jumlah penduduk dunia yang terus meningkat, sumber daya yang semakin terbatas mau tidak mau membuat manusia harus mengadopsi gaya hidup yang hemat, tidak menghambur-hamburkan sumber daya dengan percuma, tidak makan dengan berlebihan, tidak memproduksi sampah yang tidak perlu, dan masih banyak kebiasaan-kebiasaan buruk yang merusak bumi.

    Konsep hidup frugal living secara langsung dapat berhubungan dengan upaya-upaya menyelamatkan bumi dari pencemaran lingkungan.

    Oleh sebagian orang, frugal living mungkin dinilai dinilai pelit dan berlebihan.  Tapi, sesungguhnya konsep frugal living tidak sedangkal itu.

    Baca: Dampak fast fashion bagi lingkungan

    Frugal Living diartikan sebagai konsep dimana seseorang mengalokasikan dana yang dimilikinya dengan kesadaran penuh dan pertimbangan masak-masak.

    Pengadopsi frugal living akan mengambil keputusan dengan pertimbangan dan analisis yang baik disertai dengan strategi pencapaian tujuan keuangan masa depan yang jelas.

    Pengadopsi frugal living akan memilih memasak makanan sehat daripada membeli makanan di luar. Dia akan lebih memilih membeli produk lokal berkualitas ketimbang maniak merek tertentu.

    Penganut frugal living juga tidak memusingkan fesyen atau gadget yang terus menerus up to date selama apa yang dimilikinya masih bisa digunakan.

    Baca: Gerakan rumah mungil yang lebih ramah lingkungan

    Jadi, para penganut frugal living akan terus menikmati hidup berkualitas dengan standar yang mereka tetapkan tanpa harus goyah dengan pendapat orang lain, demi tercapainya tujuan keuangan jangka panjang yang telah ditetapkan.

    Kajian atas konsep frugal living semakin berkembang, tidak hanya menghubungkan gaya hidup dengan tujuan keuangan pribadi jangka panjang.

    Frugal living juga tentang keberlangsungan lingkungan dan kehidupan seluruh manusia di masa yang akan datang.

    Baca: Slow fashion yang lebih ramah lingkungan

     

    Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan dalam menerapkan Frugal Living antara lain

    1. Tujuan finansial (financial goals) yang jelas dan masuk akal.

    Tujuan keuangan tentunya sesuatu yang dibutuhkan, yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan kita.

    Merumuskan financial goals yang jelas dan masuk akal akan membantu kita untuk dapat mencapainya, agar semua upaya yang dilakukan tidak sia-sia.

    Tujuan keuangan bisa saja mengumpulkan dana pernikahan, membeli rumah, tabungan pendidikan anak, merencanakan pensiun dini, mengamankan dana darurat yang cukup, atau memiliki dana pensiun yang cukup.

    Baca: Slow city yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan

    2. Selalu analisis kebutuhan vs keinginan sebelum belanja

    Hasil analisis terhadap perilaku konsumen menunjukkan bahwa pengeluaran untuk memenuhi gaya hidup jauh lebih besar daripada pengeluaran membeli barang-barang yang dibutuhkan.

    Jadi dapat disimpulkan banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli barang yang tidak memberikan manfaat yang sesungguhnya diperlukan.

    3. Hindari utang konsumtif

    Bisa dibayangkan betapa kacaunya kondisi keuangan jika harus membeli barang konsumtif, yang mungkin saja tidak sepenuhnya dibutuhkan, namun harus dibeli dengan kredit. 

    Baca: Prinsip ramah lingkungan di tempat kerja

    4. Tidak terpengaruh tren

    Terus menerus mengikuti perkembangan fashion, gadget, mobil, atau benda-benda lain sangat dihindari dalam konsep frugal living

    Menghindari siklus konsumerisme dan tidak melakukan impulsif buying adalah perilaku yang harus dijaga dalam frugal living. Berhentilah memikirkan ekspektasi orang lain atas diri kita.

    5. Yakini hidup bukan untuk saat ini saja

    Masih ada hari esok, masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan, masih ada generasi penerus yang akan menggantungkan hidupnya di bumi ini. Frugal living tidak hanya untuk kebaikan diri sendiri, tapi untuk keberlangsungan bumi.

    Referensi :

    White Jhon. 2021. The Frugal Life and Why We Should Educate for It. London Review of Education 19 (1).

  • Meski Kaya Raya Keanu Reeves Pilih Jalani Frugal Living

    7cloud.asia – Ketika membahas frugal living orang sering menyebut nama Keanu Reeves, pemeran film John Wick.

    Nggak usah heran, ini karena Keanu Revees yang namanya melejit lewat film Matrix ini memang sejak lama menerapkan gaya frugal living.

    Pendapatan selangit hingga jutaan dolar sekali main, tidak serta merta membuat Keanu Reeves bermewah-mewah. Lelaki kelahiran Beirut, Lebanon ini dikenal sebagai seseorang yang sangat rendah hati sehingga sering disebut sebagai panutan frugal living.

    Meskipun udah jadi aktor kawakan, Keanu Reeves dikenal punya pribadi yang super humble. Dia tinggal di apartemen biasa, naik subway dan sepeda kemana-mana, jalan-jalan pakai baju super kasual, dan yaa, kayak orang biasa aja. 

    Keanu Reeves bahkan tak seklai dua kali kedapatan ngobrol dan ngopi bareng tuna wisma di jalan. Ia juga sering naik kendaraan umum bersama warga kebanyakan. 

    Baca: Frugal living jadi pilihan di tengah ketidakpastian global

    Bisa jadi, pilihan hidup Keanu Reeves untuk menganut frugal living ini dilatarbelakangi kisah masa lalunya yang lumayan tragis.

    Keanu Reeves kecil hidup susah karena sudah ditinggal ayahnya saat masih berusia enam tahun. Ia sempat didiagnosa mengalami disleksia, dan karenanya tidak mengantongi ijazah SMA.

    Karier Keanu Reeves di dunia hiburan harus dilalui denga perjuangan berat. Pada tahun 1999, putrinya meninggal saat masih dalam kandungan. Satu setengah tahun kemudian, giliran sang kekasih meninggal karena kecelakaan mobil.

    Keanu Reeves sangat jarang memamerkan kekayaannya, malah ia dikenal dengan sifatnya yang sangat dermawan.

    Ketika sukses di film Matrix, Keanu Reeves memberikan uang senilai 75 juta dolar ke tim stuntmannya, serta hadiah natal senilai 20 ribu dolar pada salah satu kru film yang tengah mengalami masalah finansial.

    Baca: Lelah dengan hedonisme orang mulai berpaling pada gaya hidup minimalis 

    Keanu Reeves juga pernah mendonasikan hartanya ke sebuah yayasan kanker Stand up to Cancer, SickKids Foundation, PETA dan lain sebagainya, dia pun juga jarang berkoar-koar soal hal ini.

     

    Lantas apa saja kebiasaan frugal living yang dijalankan Keanu Reeves yang patut kita tiru meski kita sudah sukses? Berikut ulasannya seperti dikutip CNBC Indonesia.

    Sering naik kendaraan umum. Keanu Reeves memang punya koleksi motor dan beberapa mobil mewah. Akan tetapi, hal itu tidak lantas membuatnya anti-kendaraan umum.

    Beberapa kali Keanu Reeves pun sempat tertangkap kamera berada di kereta layaknya penumpang pada umumnya. Reeves juga masih sering terlihat ada di dalam bus.

    Dilansir dari Beautynesia, salah satu momen yang akhirnya menguak gaya hidup frugal living yang dianutnya adalah pada saat Reeves berbagi kursi ke perempuan di dalam kereta bawah tanah

    Baca: Slow living, pilihan buat mereka yang lelah dikejar target

    Gak hanya dari gaya hidupnya yang sangat frugal living banget, bagi Keanu Reeves uang seolah bukan segalanya.

    Ia rela dibayar belakangan, biar kru produksi bisa rekrut aktor-aktor yang hebat, seperti Al Pacino di fil The Devil’s Advocate dan Gene Hackman  di The Replacements. Jempol banget bukan?  

    Dengan kekayaan bersih yang dilaporkan mencapai 360 juta dolar, Keanu dengan enteng memberikan sebagian dari gajinya di sekuel The Matrix biar kru punya budget lebih untuk kostum dan visual effect (VFX).

    Gak cuma itu, Keanu bahkan memberikan sepeda motor Harley-Davidson buat 12 tim stuntman The Matrix Reloaded

    Baca: Slow living nggak berarti bermalas-malasan tapi turunkan kecepatan irama hidupmu

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     
     
  • Lima Prinsip Utama Jalani Frugal Living yang Bagus Untuk Lingkungan

    Lima Prinsip Utama Jalani Frugal Living yang Bagus Untuk Lingkungan

    7cloud.asia – Hidup hemat atau yang dikenal dengan frugal living disebut sebagai gaya hidup yang ramah lingkungan.

    Bahkan banyak orang menyebut frugal living juga tentang keberlangsungan lingkungan dan kehidupan seluruh manusia di masa yang akan datang.

    Tak heran, jika frugal living sangat dianjurkan saat jumlah penduduk dunia yang terus meningkat, sumber daya semakin terbatas, lingkungan sudah semakin rusak dan ancaman perubahan iklim semakin terasa. 

    Sudah saatnya kebiasaan buruk yang tak ramah lingkungan dan merusak bumi ditinggalkan. 

    Baca: Ketidakpastian membuat orang melirik frugal living

    Bukan jamannya lagi bangga dengan kemewahan, memamerkan gaya hidup boros, buang-buang sumber daya, mengonsumsi berlebihan, menghasilkan dan mengelola sampah secara serampangan.

    Semakin banyak orang tergerak untuk menjalani gaya hidup frugal living. 

    Konsep hidup frugal living secara langsung dapat berhubungan dengan upaya-upaya menyelamatkan bumi dari pencemaran lingkungan.

    Frugal Living diartikan sebagai konsep dimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya dengan pertimbangan masak-masak.

    Baca: Meski kaya raya, aktor ini lebih memilih frugal living

    Penganut frugal living tidak akan tergila-gila pada merek tertentu, tidak akan pusing mengikuti perkembangan mode selama apa yang dimilikinya masih bisa digunakan.

    Jadi, para penganut frugal living tidak akan goyah dengan perkembangan mode ataupun pendapat orang dan etap bisa menikmati hidup berkualitas dengan standar mereka sendiri.

    Para frugalis akan tenang menjalani hidupnya untuk mencapai tujuan jangka panjang yang telah ditetapkan.

    Jika kamu tertarik untuk menjalankan konsep frugal living, berikut beberapa langkah praktis yang dapat kamu lakukan: 

    Baca: Gaya hidup minimalis bikin hidup lebih tenang

    1. Tetapkan tujuan finansial jangka panjang 

    Tujuan keuangan tentunya sesuatu yang dibutuhkan, yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan kamu

    Merumuskan financial goals yang jelas dan masuk akal akan membantu kita untuk dapat mencapainya, agar semua upaya yang dilakukan tidak sia-sia.

    Tujuan keuangan bisa saja mengumpulkan dana pernikahan, membeli rumah, tabungan pendidikan anak, merencanakan pensiun dini.

    Tujuan keuangan seorang penganut frugal living juba bisa berupa mengamankan dana darurat yang cukup, atau memiliki dana pensiun yang cukup. Semakin dini membuat tujuan finansial akan semakin baik kamu mengelola keuangan.

    Baca: Cara sederhana membuat hidupmu lebih tenang

    2. Selalu analisis kebutuhan vs keinginan sebelum belanja

    Memenuhi kebutuhan ketimbang keinginan adalah prinsip utama frugal living.

    Analisis terhadap perilaku konsumen menunjukkan bahwa pengeluaran untuk memenuhi gaya hidup jauh lebih besar daripada pengeluaran membeli barang-barang yang dibutuhkan.

    Artinya, banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli barang yang tidak memberikan manfaat yang sesungguhnya diperlukan.

    3. Hindari utang konsumtif

    Bisa dibayangkan betapa kacaunya kondisi keuangan jika harus membeli barang konsumtif, yang mungkin saja tidak dibutuhkan, namun harus dibeli dengan kredit. 

    Baca: Kurangi beban hidupmu dengan jalani slow living

    4. Tidak terpengaruh tren

    Konsep frugal living menghindari tren, baik itu fesyen, gadget, mobil, atau benda-benda konsumtif lainnya.  

    Tidak memikirkan ekspektasi dan pendapat orang lain atas diri kita juga menjadi prinsip frugal living. Menghindari siklus konsumerisme dan tidak melakukan impulsif buying adalah perilaku yang harus dijaga dalam frugal living

    5. Hidup bukan untuk saat ini saja

    Menerapkan konsep frugal living tidak hanya untuk kebaikan diri sendiri, tapi untuk juga untuk lingkungan dan keberlangsungan bumi.

    Masih ada hari esok, masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan, masih ada generasi penerus yang akan menggantungkan hidupnya di bumi ini. 

    Referensi :

    White Jhon. 2021. The Frugal Life and Why We Should Educate for It. London Review of Education 19 (1).

  • Pemerintah Abaikan Protes terhadap PPN 12 Persen: Protes dengan Terapkan Frugal Living

    Pemerintah Abaikan Protes terhadap PPN 12 Persen: Protes dengan Terapkan Frugal Living

    7cloud.asia – Meski dikritik sejumlah kalangan karena dinilai akan menambah beban masyarakat, pemerintah hampir dipastikan tetap menerapkan kebijakan PPN 12 persen mulai 1 Januari 2025 mendatang.

    Tak seperti yang disebutkan pemerintah bahwa PPN 12 persen akan diterapkan selektif hanya pada barang mewah, ternyata barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun cuci, pewangi juga terkena kebijakan ini.

    Jika memang pemerintah benar-benar menerapkan PPN 12 persen, maka aksi boikot dengan menerapkan frugal living dan mengurangi belanja sudah selayaknya dilakukan oleh masyarakat.

    Dilansir Kompas.com, ajakan boikot dengan menerapkan frugal living itu menggema di sejumlah platform media sosial termasuk X atau Twitter selama beberapa hari di pertengahan November lalu

    “Yang pengen ganti HP tahan, yang pengen ganti motor baru tahan, yang pengen ganti mobil baru tahan. 1 tahun aja, jangan lupa pake semua subsidi, gak usah gengsi dibilang miskin, itu dari duit kita juga kok. Kapan lagi boikot pemerintah sendiri,” tulis @mal***, Rabu (14/11/2024).

    “Boikot pemerintah jalur frugal living struktural. Cermat dg pengeluaran, beli di warung tetangga/pasar dekat rumah, buat daftar barang2 berpajak yg bisa dicari alternatifnya, minimalkan konsumsi,” tulis akun @us*** pada Kamis (15/11/2024).

    Baca: Ketidakpastian mendorong orang terapkan frugal living

    Ajakan untuk terapkan frugal living ini digemakan sebagai bentuk protes atas sikap abai pemerintah terhadap suara masyarakat.

    Mungkin di antara pembaca bertanya-tanya apa sih frugal living itu. Dilansir prudential.co.id, frugal living adalah gaya hidup yang menekankan pada pengelolaan keuangan yang bijak dan hemat.

    Tujuan utama frugal living adalah mengurangi pengeluaran dengan membeli barang-barang yang benar-benar dibutuhkan sambil menghindari pemborosan.

    Frugal living bukan berarti hidup dalam keterbatasan atau kekikiran, melainkan tentang memprioritaskan pengeluaran sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.

    Perbedaan Frugal Living dan Pelit
    Frugal living sering kali disalahartikan sebagai pelit, padahal keduanya memiliki perbedaan makna yang signifikan.

    Frugal living adalah tentang mengelola keuangan dengan bijak. Orang yang menjalani gaya hidup frugal membeli barang dan layanan yang dibutuhkan, memperhatikan kualitas, dan mencari cara untuk menghemat uang tanpa mengorbankan kebutuhan dasar.

    Baca: Lima prinsip utama frugal living

    Pelit, di sisi lain, adalah sikap yang ekstrem di mana seseorang menolak untuk mengeluarkan uang sama sekali, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya penting. Pelit sering kali melibatkan ketidakmauan untuk berbagi atau membantu orang lain.

    Dalam frugal living, pengeluaran diarahkan untuk kebutuhan yang penting dan dihindari pemborosan, sementara dalam pelit, pengeluaran diabaikan sepenuhnya, bahkan jika itu berarti mengabaikan kebutuhan dasar.

    Konsep frugal living mulai berkembang sejak masa The Great Depression di Amerika Serikat pada tahun 1929-1939. Kondisi ekonomi yang sulit mengharuskan orang untuk menghargai nilai uang dan mengurangi pemborosan.

    Frugal living juga berkembang karena meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim dan keberlanjutan.

    Banyak orang mulai mengadopsi frugal living sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak lingkungan, termasuk mengurangi konsumsi plastik, mendukung produk lokal, dan mendaur ulang.

    Frugal living terdiri dari beberapa prinsip yang harus dipenuhi, yaitu membeli barang yang dibutuhkan, menghindari pemborosan, mencari alternatif yang lebih murah, memperbaiki kebiasaan finansial dan menjaga keseimbangan keuangan.

  • Frugal Living Jadi Cara Zilenial Bertahan

    Frugal Living Jadi Cara Zilenial Bertahan

    7cloud.asia – Beberapa bulan lalu akun Tiktok Gabriel Dhandi (@Otoh_gab) viral karena memamerkan frugal living alias gaya hidup hemat sambil menjadi karyawan swasta di Jakarta.

    Meski bergaji Rp5 juta sebulan, Gabriel mengaku tetap bisa menabung atau berinvestasi hingga Rp3,4 juta dengan menjalani frugal living.

    Setiap bulan, dia hanya bayar kos di Jakarta sekitar Rp400 ribu, biaya makan sebulan Rp650 ribu. Sementara ia berjalan kaki ke kantor sehingga tak perlu mengeluarkan duit untuk commuting sehari-hari.

    Ada juga akun @lowconnect yang memajang frugal living-nya sebagai mahasiswa S3. Demi menghemat ongkos riset, ia mengandalkan platform jurnal dan buku bajakan untuk mencari bahan bacaan.

    Mahasiswa ini pun suka mencari makan gratis dengan cara mendatangi berbagai acara promosi doktor di kampus.

    Konten-konten semacam ini, yang memberikan tips-tips frugal living dari anak muda generasi Milenial dan Generasi Z (Gen Z), semakin banyak muncul dan menjadi trending di media sosial.

    Bagi saya yang menggeluti behavioral science, fenomena frugal living di kalangan anak muda cukup menarik untuk kita amati. Apalagi hidup di zaman sekarang ibarat berada di roller coaster tanpa sabuk pengaman.

    Generasi muda mesti pintar beradaptasi dan mencari cara baru untuk bertahan. Hidup frugal menjadi salah satu jawabannya.

    Baca: Lima prinsip utama jalani frugal living

    Frugal living sebagai cara beradaptasi
    Frugal living adalah salah satu alternatif yang dipilih anak muda dan kelas menengah untuk bertahan di tengah kondisi saat ini.

    Dulu, memiliki rumah dan pekerjaan tetap adalah standar kesuksesan. Sekarang? Harga rumah melambung tinggi, tapi upah tumbuh lebih lambat dari inflasi atau naiknya harga barang dan jasa.

    Survei yang terbit pada 2022 menemukan: baru 38% dari anak muda usia 26-30 tahun yang memiliki rumah sendiri. Ini tak jauh berbeda dengan penduduk usia 31-35 tahun (40%).

    Tingkat pengangguran di kalangan anak muda juga tinggi, terutama karena banyak keterampilan mereka justru tidak cocok dengan kebutuhan industri saat ini alias skill mismatch.

    Anak muda akhirnya memilih banting setir ke gig economy, seperti freelancer atau pekerja lepas di platform digital.

    Mungkin ekonomi gig lebih bagi mereka menarik karena fleksibel. Namun, di balik tetapi risikonya adalah tidak ada jaminan sosial dan kepastian pendapatan.

    Pemerintah juga belum mengeluarkan regulasi yang jelas seputar ekonomi gig. Akhirnya pekerja di ekosistem ini rawan mengalami eksploitasi oleh penyedia platform.

    Gaji tak kunjung naik. Promosi mesti pindah perusahaan. Skripsi belum juga ACC. Diet ketat, berat badan tak turun juga. Lingkungan kerja toksik, bosnya narsistik.

    Baca: Perubahan iklim jadi momentum jalani frugal living

    Gaji bulan ini mesti dibagi untuk orang tua dan anak. Mau sustainable living, ongkosnya mahal. Notifikasi kantor berdenting hingga tengah malam. Generasi Zilenials hidup di tengah disrupsi teknologi, persaingan ketat, dan kerusakan lingkungan.

    Kelas menengah pun punya tantangan tersendiri. Mereka tidak cukup aman dari guncangan ekonomi, tetapi tidak mendapatkan bantuan sosial seperti masyarakat miskin.

    Pertanyaannya adalah: apakah frugal living memang solusi jitu di tengah kondisi saat ini? Apakah frugal living bisa membuat kita bahagia?

    Prinsip frugal living bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang dan sumber daya di sekitar kita.

    Riset membuktikan bahwa orang-orang yang mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi. Dengan membatasi konsumsi yang tidak perlu, kita tidak hanya mengurangi tekanan finansial tetapi juga meningkatkan perasaan kendali atas kehidupan.

    Dari perspektif behavioral science, kebahagiaan sering berhubungan dengan pengalaman dibandingkan kepemilikan barang. Pengalaman cenderung memberikan kepuasan jangka panjang karena lebih melekat dalam ingatan dan membangun keterhubungan sosial yang lebih kuat dibandingkan kepemilikan benda materi.

    Misalnya, membeli tiket konser Taylor Swift yang harganya mahal dan menontonnya bersama teman-teman mungkin bisa lebih berarti bagi kebahagiaan kita, ketimbang mengeluarkan duit yang hampir sama untuk gadget terbaru.

    Mereka yang menjalani gaya hidup minimalis juga cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah karena tidak tertekan untuk terus membeli barang. Saat memiliki lebih sedikit barang, kita juga tidak akan terlalu cemas seputar pemeliharaannya

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII). Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penyuntingan artikel ini.

  • Frugal Living Jadi Cara Zilenial Bertahan: Apakah Angan-angan Mereka Jadi Terbatasi?

    Frugal Living Jadi Cara Zilenial Bertahan: Apakah Angan-angan Mereka Jadi Terbatasi?

     

    7cloud.asia – Frugal living menjadi salah satu alternatif yang dipilih anak muda dan kelas menengah untuk bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu seperti saat ini.

    Tingkat pengangguran di kalangan anak muda juga tinggi, terutama karena banyak keterampilan mereka justru tidak cocok dengan kebutuhan industri saat ini alias skill mismatch.

    Anak muda akhirnya memilih banting setir ke gig economy, seperti freelancer atau pekerja lepas di platform digital.

    Mungkin ekonomi gig lebih bagi mereka menarik karena fleksibel. Namun, di balik tetapi risikonya adalah tidak ada jaminan sosial dan kepastian pendapatan.

    Pemerintah juga belum mengeluarkan regulasi yang jelas seputar ekonomi gig. Akhirnya pekerja di ekosistem ini rawan mengalami eksploitasi oleh penyedia platform.

    Gaji tak kunjung naik. Promosi mesti pindah perusahaan. Skripsi belum juga ACC. Diet ketat, berat badan tak turun juga. Lingkungan kerja toksik, bosnya narsistik.

    Gaji bulan ini mesti dibagi untuk orang tua dan anak. Mau sustainable living, ongkosnya mahal. Notifikasi kantor berdenting hingga tengah malam. Generasi Zilenials hidup di tengah disrupsi teknologi, persaingan ketat, dan kerusakan lingkungan.

    Kelas menengah pun punya tantangan tersendiri. Mereka tidak cukup aman dari guncangan ekonomi, tetapi tidak mendapatkan bantuan sosial seperti masyarakat miskin.

    Baca: Protes kebijakan pemerintah dengan jalani frugal living struktural

    Pertanyaannya adalah: apakah frugal living memang solusi jitu di tengah kondisi saat ini? Apakah frugal living bisa membuat kita bahagia?

    Prinsip frugal living bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang dan sumber daya di sekitar kita.

    Riset membuktikan bahwa orang-orang yang mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi. Dengan membatasi konsumsi yang tidak perlu, kita tidak hanya mengurangi tekanan finansial tetapi juga meningkatkan perasaan kendali atas kehidupan.

    Dari perspektif behavioral science, kebahagiaan sering berhubungan dengan pengalaman dibandingkan kepemilikan barang.

    Pengalaman cenderung memberikan kepuasan jangka panjang karena lebih melekat dalam ingatan dan membangun keterhubungan sosial yang lebih kuat dibandingkan kepemilikan benda materi.

    Misalnya, membeli tiket konser Taylor Swift yang harganya mahal dan menontonnya bersama teman-teman mungkin bisa lebih berarti bagi kebahagiaan kita, ketimbang mengeluarkan duit yang hampir sama untuk gadget terbaru.

    Mereka yang menjalani gaya hidup minimalis juga cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah karena tidak tertekan untuk terus membeli barang. Saat memiliki lebih sedikit barang, kita juga tidak akan terlalu cemas seputar pemeliharaannya.

    Baca: Ketidakpastian mendorong orang jalani frugal living

    Frugal living= Membatasi angan-angan?
    Menjalani frugal living juga berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam mengelola ekspektasi. Orang dengan ekspektasi realistis terhadap hidup cenderung lebih bahagia daripada mereka yang menetapkan standar tinggi yang sulit dicapai.

    Dalam Prospect Theory, ekspektasi merupakan titik perhitungan kebahagian. Ekspektasi disebut juga titik referensi yang dijadikan alat pembanding mental psikologis manusia.

    Jika ekspektasi tinggi (titik referensi tinggi) maka sulit untuk mencapai kepuasaan (kebahagiaan) dan sebaliknya jika ekspektasi rendah (titik referensi rendah), lebih mudah untuk mencapai kepuasan.

    Dengan menurunkan ekspektasi terhadap standar kesuksesan tradisional, kita bisa lebih puas dan tidak terjebak dalam kekecewaan akibat ekspektasi yang tidak realistis. Kita juga bisa lebih memprioritaskan kemandirian dan fleksibilitas dibandingkan sekadar menumpuk cuan.

    Gaya hidup ini memungkinkan kita untuk mengejar kebahagiaan dari hal-hal yang lebih bermakna, seperti hubungan sosial yang lebih kuat, waktu luang yang lebih banyak, atau bahkan kebebasan finansial yang lebih cepat tercapai.

    Bagian dari budaya ramah lingkungan
    Fenomena frugal living merupakan bagian dari benturan nilai antara konsumerisme dan minimalisme yang semakin kentara di berbagai aspek kehidupan.

    Benturan serupa pernah terjadi di Jepang dan Amerika Serikat. Misalnya, banyak desain rumah yang lebih minimalis dan lebih fungsional, menggantikan konsep rumah besar sebagai simbol kesuksesan.

    Baca: Lima prinsip utama jalani frugal living

    Contoh lainnya, semakin banyak individu dan keluarga di beberapa negara Eropa yang memilih untuk tinggal di rumah mungil yang lebih efisien, mudah dirawat, dan lebih ramah lingkungan dibandingkan rumah konvensional yang besar.

    Konsep ekonomi berbagi (sharing economy) juga meramaikan benturan ini: saat kepemilikan barang dianggap tidak lagi esensial. Banyak orang mulai menggunakan layanan berbasis sewa untuk kendaraan, pakaian, bahkan peralatan rumah tangga.

    Benturan ini bukan hanya menjadi solusi ekonomis, tetapi juga mempercepat pergeseran ke arah gaya hidup yang lebih minimalis dan berkelanjutan.

    Kesadaran akan pelestarian lingkungan pun membentuk cara berpikir baru tentang konsumsi. Semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa konsumsi berlebihan tidak hanya menguras dompet, tetapi juga berkontribusi pada perusakan lingkungan.

    Dengan semakin maraknya gerakan kesadaran pelestarian lingkungan, benturan antara konsumerisme dan minimalisme akan terus berlangsung. Perlahan tapi pasti, tren ini turut membentuk bagaimana dunia memandang kemakmuran dan kesejahteraan di masa depan.

    Tren frugal living merupakan salah satu hasilnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII). Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penyuntingan artikel ini.

     

  • Frugal Living Kian Diminati Sebagai Nilai Sosial Baru

    Frugal Living Kian Diminati Sebagai Nilai Sosial Baru

    7cloud.asia – Gaya hidup hemat atau frugal living kini semakin diterima di kalangan generasi muda karena tidak lagi dipandang sebagai simbol kekurangan, melainkan bagian dari cara ekspresi diri dan gaya hidup modern.

    Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto mengatakan, saat ini frugal living adalah pilihan sadar, dan bukan karena keadaan.

    Menurut Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia itu, frugal living saat ini tidak lagi sekadar dimaknai sebagai upaya mengurangi pengeluaran.

    Frugal living, ujarnya, telah berkembang menjadi nilai sosial baru yang menekankan konsumsi secara wajar dan tidak berlebihan.

    ”Gaya hidup hemat itu adalah pilihan sadar, karena kita memang mau hemat saja, enggak mau boros,” kata Semiarto dikutip Antaranews.com, Jumat.

    Baca: Frugal living jadi pilihan zilenial bertahan

    Ia menilai generasi muda kini semakin rasional dalam membelanjakan uang dengan mempertimbangkan kesesuaian antara pengeluaran dan manfaat yang diperoleh.

    “Apa yang dikeluarkan dan apa yang didapat. Mengeluarkan dengan harga yang masuk akal, yang wajar, dan mendapatkan sesuai dengan apa yang diharapkan,” ujarnya.

    Semiarto mengatakan perubahan tersebut juga dipengaruhi munculnya etika baru di masyarakat urban yang mulai menghindari perilaku konsumsi berlebihan atau over consumption.

    “Jangan boros-boros, jangan over consumption, enggak perlu lagi beli yang mahal-mahal atau yang berlebih, cukup saja,” katanya.

    Menurut dia, gaya hidup hemat saat ini juga berkaitan dengan estetika dan etika, atau cara generasi muda membangun citra diri di ruang publik maupun media sosial.

    Baca: Lima prinsip utama dalam menjalani frugal living

    “Sekarang bicara penampilan itu yang clean, yang bersih, simple, itu keren,” ujar Semiarto.

    Frugal living, lanjutnya, kini berkembang menjadi bagian dari self-presentation atau cara seseorang menampilkan identitas sosialnya.

    “Frugal living bukan sekadar hemat atau pelit, tapi itu adalah cara kita menampilkan diri di publik,” katanya.

    Semiarto menilai telah terjadi perubahan nilai konsumsi di kalangan generasi muda, dari yang sebelumnya berorientasi pada simbol status dan pamer kemewahan menjadi penekanan pada disiplin diri dan konsumsi yang lebih sadar.

    “Dalam bahasa antropologi itu kita sebut sebagai reframing, mengerangkai ulang nilai konsumsi dari sekadar pamer status menjadi disiplin diri,” ujarnya.

  • Ingin Serius Jalani Frugal Living? Tinggalkan Gaya Hidup Konsumtif dan Belanja Impulsif

    Ingin Serius Jalani Frugal Living? Tinggalkan Gaya Hidup Konsumtif dan Belanja Impulsif

    7cloud.asia – Pembelanjaan yang berkaitan dengan kebutuhan tersier menjadi salah satu bagian yang paling mudah ditekan dalam pola konsumsi, ketika seseorang ingin menjalani gaya hidup frugal living.

    Gaya hidup konsumtif seperti nongkrong di tempat mahal hingga belanja impulsif menjadi jenis pengeluaran yang paling memungkinkan dikurangi ketika seseorang ingin menjalani gaya hidup frugal living.

    “Kalau kita mau hidup sederhana, frugal living, ya jelas gaya hidup yang gagasannya adalah konsumsi barang-barang tertier,” kata Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto seperti dikutip Antaranews.com, Jumat (8/5/2026).

    Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia itu menjelaskan, kebiasaan nongkrong di mal, membeli kopi premium, hingga makan di tempat mahal sebagai pengeluaran yang dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

    Baca: Frugal Living Kian Diminati Sebagai Nilai Sosial Baru

    Ia mengatakan gaya hidup hemat bukan berarti tidak boleh menikmati hiburan atau konsumsi tertentu, tetapi lebih kepada kemampuan mengatur prioritas pengeluaran secara rasional.

    “Kopi sekarang kisaran harganya dari Rp5.000 sampai di atas Rp100.000. Pilihannya itu aja. Hidup disesuaikan,” katanya.

    Selain pengeluaran gaya hidup, Semiarto juga menyoroti kebiasaan impulse consumption atau konsumsi impulsif yang didorong faktor emosional dan tren media sosial.

    “Ada diskon, buruan. Ada flash sale, ayo buruan. Atau sekadar FOMO (takut tertinggal tren) aja, si A, si B, si C sudah beli kok kita enggak,” ujarnya.

    Ia mengatakan kebiasaan membeli barang karena dorongan tren maupun status sosial sering kali membuat konsumsi menjadi tidak esensial.

    Baca: Lima Prinsip Utama Jalani Frugal Living 

    Menurut dia, fanatisme terhadap merek tertentu maupun kebiasaan mengganti gawai terlalu cepat juga menjadi pengeluaran yang dapat dikurangi.

    “HP itu bisa tahan tiga sampai empat tahun, tapi karena setengah tahun sekali ada model baru, enggak perlulah kita ganti terus,” kata Semiarto.

    Meski demikian, ia menilai terdapat sejumlah kebutuhan yang sebaiknya tidak ditekan secara berlebihan, seperti kesehatan, pendidikan, serta kebutuhan penunjang mobilitas dan akses internet.

    “Yang susah dikurangi itu kesehatan dan pendidikan. Biasanya itu sudah prioritas,” ujarnya.

    Semiarto menambahkan gaya hidup hemat pada dasarnya bukan sekadar mengurangi pengeluaran, melainkan mengonsumsi sesuatu secara lebih bijaksana dan sesuai kebutuhan.

    Baca: Dampak Gaya Hidup Konsumtif pada Lingkungan