7cloud.asia – Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan. Salah satunya adalah makin banyaknya orang yang menjalani gaya hidup frugal living.
Dalam kondisi yang serba tidak menentu, masyarakat makin sadar bahwa memikirkan dana darurat itu penting. Itu sebabnya frugal living menjadi pilihan. Pandemi membuat seseorang semakin dapat mengukur bagaimana kondisi keuangan (financial), seberapa kuat pondasi keuangannya dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Sejumlah pesohor seperti Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Ratu Elizabeth II, Leonardo de Caprio, dan pesohor lainnya adalah beberapa contoh yang mempraktikkan gaya hidup frugal living ini.
Baca: Gaya hidup minimalis lebih ramah lingkungan
Frugal living secara sederhana sering diartikan sebagai gaya hidup hemat atau irit. Pengeluaran diatur dengan ketat agar pendapatan bisa disisihkan untuk mengantisipasi kondisi darurat.
Jhon White, seorang professor filosopi pendidikan dalam tulisannya “The Frugal Life, and Why We Should Educate for It” menjelaskan bahwa frugal living harus diadopsi oleh generasi masa depan.
“Pandemi Covid-19 dan perubahan iklim (climate change) harus menjadi momentum untuk mendeklarasikan frugal living dan mengajarkannya kepada generasi masa kini,” tulis Jhon White.
Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan
Jumlah penduduk dunia yang terus meningkat, sumber daya yang semakin terbatas mau tidak mau membuat manusia harus mengadopsi gaya hidup yang hemat, tidak menghambur-hamburkan sumber daya dengan percuma, tidak makan dengan berlebihan, tidak memproduksi sampah yang tidak perlu, dan masih banyak kebiasaan-kebiasaan buruk yang merusak bumi.
Konsep hidup frugal living secara langsung dapat berhubungan dengan upaya-upaya menyelamatkan bumi dari pencemaran lingkungan.
Oleh sebagian orang, frugal living mungkin dinilai dinilai pelit dan berlebihan. Tapi, sesungguhnya konsep frugal living tidak sedangkal itu.
Baca: Dampak fast fashion bagi lingkungan
Frugal Living diartikan sebagai konsep dimana seseorang mengalokasikan dana yang dimilikinya dengan kesadaran penuh dan pertimbangan masak-masak.
Pengadopsi frugal living akan mengambil keputusan dengan pertimbangan dan analisis yang baik disertai dengan strategi pencapaian tujuan keuangan masa depan yang jelas.
Pengadopsi frugal living akan memilih memasak makanan sehat daripada membeli makanan di luar. Dia akan lebih memilih membeli produk lokal berkualitas ketimbang maniak merek tertentu.
Penganut frugal living juga tidak memusingkan fesyen atau gadget yang terus menerus up to date selama apa yang dimilikinya masih bisa digunakan.
Baca: Gerakan rumah mungil yang lebih ramah lingkungan
Jadi, para penganut frugal living akan terus menikmati hidup berkualitas dengan standar yang mereka tetapkan tanpa harus goyah dengan pendapat orang lain, demi tercapainya tujuan keuangan jangka panjang yang telah ditetapkan.
Kajian atas konsep frugal living semakin berkembang, tidak hanya menghubungkan gaya hidup dengan tujuan keuangan pribadi jangka panjang.
Frugal living juga tentang keberlangsungan lingkungan dan kehidupan seluruh manusia di masa yang akan datang.
Baca: Slow fashion yang lebih ramah lingkungan
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan dalam menerapkan Frugal Living antara lain
1. Tujuan finansial (financial goals) yang jelas dan masuk akal.
Tujuan keuangan tentunya sesuatu yang dibutuhkan, yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan kita.
Merumuskan financial goals yang jelas dan masuk akal akan membantu kita untuk dapat mencapainya, agar semua upaya yang dilakukan tidak sia-sia.
Tujuan keuangan bisa saja mengumpulkan dana pernikahan, membeli rumah, tabungan pendidikan anak, merencanakan pensiun dini, mengamankan dana darurat yang cukup, atau memiliki dana pensiun yang cukup.
Baca: Slow city yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan
2. Selalu analisis kebutuhan vs keinginan sebelum belanja
Hasil analisis terhadap perilaku konsumen menunjukkan bahwa pengeluaran untuk memenuhi gaya hidup jauh lebih besar daripada pengeluaran membeli barang-barang yang dibutuhkan.
Jadi dapat disimpulkan banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli barang yang tidak memberikan manfaat yang sesungguhnya diperlukan.
3. Hindari utang konsumtif
Bisa dibayangkan betapa kacaunya kondisi keuangan jika harus membeli barang konsumtif, yang mungkin saja tidak sepenuhnya dibutuhkan, namun harus dibeli dengan kredit.
Baca: Prinsip ramah lingkungan di tempat kerja
4. Tidak terpengaruh tren
Terus menerus mengikuti perkembangan fashion, gadget, mobil, atau benda-benda lain sangat dihindari dalam konsep frugal living.
Menghindari siklus konsumerisme dan tidak melakukan impulsif buying adalah perilaku yang harus dijaga dalam frugal living. Berhentilah memikirkan ekspektasi orang lain atas diri kita.
5. Yakini hidup bukan untuk saat ini saja
Masih ada hari esok, masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan, masih ada generasi penerus yang akan menggantungkan hidupnya di bumi ini. Frugal living tidak hanya untuk kebaikan diri sendiri, tapi untuk keberlangsungan bumi.
Referensi :
White Jhon. 2021. The Frugal Life and Why We Should Educate for It. London Review of Education 19 (1).






