Frugal Living Jadi Cara Zilenial Bertahan

Written by

in

7cloud.asia – Beberapa bulan lalu akun Tiktok Gabriel Dhandi (@Otoh_gab) viral karena memamerkan frugal living alias gaya hidup hemat sambil menjadi karyawan swasta di Jakarta.

Meski bergaji Rp5 juta sebulan, Gabriel mengaku tetap bisa menabung atau berinvestasi hingga Rp3,4 juta dengan menjalani frugal living.

Setiap bulan, dia hanya bayar kos di Jakarta sekitar Rp400 ribu, biaya makan sebulan Rp650 ribu. Sementara ia berjalan kaki ke kantor sehingga tak perlu mengeluarkan duit untuk commuting sehari-hari.

Ada juga akun @lowconnect yang memajang frugal living-nya sebagai mahasiswa S3. Demi menghemat ongkos riset, ia mengandalkan platform jurnal dan buku bajakan untuk mencari bahan bacaan.

Mahasiswa ini pun suka mencari makan gratis dengan cara mendatangi berbagai acara promosi doktor di kampus.

Konten-konten semacam ini, yang memberikan tips-tips frugal living dari anak muda generasi Milenial dan Generasi Z (Gen Z), semakin banyak muncul dan menjadi trending di media sosial.

Bagi saya yang menggeluti behavioral science, fenomena frugal living di kalangan anak muda cukup menarik untuk kita amati. Apalagi hidup di zaman sekarang ibarat berada di roller coaster tanpa sabuk pengaman.

Generasi muda mesti pintar beradaptasi dan mencari cara baru untuk bertahan. Hidup frugal menjadi salah satu jawabannya.

Baca: Lima prinsip utama jalani frugal living

Frugal living sebagai cara beradaptasi
Frugal living adalah salah satu alternatif yang dipilih anak muda dan kelas menengah untuk bertahan di tengah kondisi saat ini.

Dulu, memiliki rumah dan pekerjaan tetap adalah standar kesuksesan. Sekarang? Harga rumah melambung tinggi, tapi upah tumbuh lebih lambat dari inflasi atau naiknya harga barang dan jasa.

Survei yang terbit pada 2022 menemukan: baru 38% dari anak muda usia 26-30 tahun yang memiliki rumah sendiri. Ini tak jauh berbeda dengan penduduk usia 31-35 tahun (40%).

Tingkat pengangguran di kalangan anak muda juga tinggi, terutama karena banyak keterampilan mereka justru tidak cocok dengan kebutuhan industri saat ini alias skill mismatch.

Anak muda akhirnya memilih banting setir ke gig economy, seperti freelancer atau pekerja lepas di platform digital.

Mungkin ekonomi gig lebih bagi mereka menarik karena fleksibel. Namun, di balik tetapi risikonya adalah tidak ada jaminan sosial dan kepastian pendapatan.

Pemerintah juga belum mengeluarkan regulasi yang jelas seputar ekonomi gig. Akhirnya pekerja di ekosistem ini rawan mengalami eksploitasi oleh penyedia platform.

Gaji tak kunjung naik. Promosi mesti pindah perusahaan. Skripsi belum juga ACC. Diet ketat, berat badan tak turun juga. Lingkungan kerja toksik, bosnya narsistik.

Baca: Perubahan iklim jadi momentum jalani frugal living

Gaji bulan ini mesti dibagi untuk orang tua dan anak. Mau sustainable living, ongkosnya mahal. Notifikasi kantor berdenting hingga tengah malam. Generasi Zilenials hidup di tengah disrupsi teknologi, persaingan ketat, dan kerusakan lingkungan.

Kelas menengah pun punya tantangan tersendiri. Mereka tidak cukup aman dari guncangan ekonomi, tetapi tidak mendapatkan bantuan sosial seperti masyarakat miskin.

Pertanyaannya adalah: apakah frugal living memang solusi jitu di tengah kondisi saat ini? Apakah frugal living bisa membuat kita bahagia?

Prinsip frugal living bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang dan sumber daya di sekitar kita.

Riset membuktikan bahwa orang-orang yang mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi. Dengan membatasi konsumsi yang tidak perlu, kita tidak hanya mengurangi tekanan finansial tetapi juga meningkatkan perasaan kendali atas kehidupan.

Dari perspektif behavioral science, kebahagiaan sering berhubungan dengan pengalaman dibandingkan kepemilikan barang. Pengalaman cenderung memberikan kepuasan jangka panjang karena lebih melekat dalam ingatan dan membangun keterhubungan sosial yang lebih kuat dibandingkan kepemilikan benda materi.

Misalnya, membeli tiket konser Taylor Swift yang harganya mahal dan menontonnya bersama teman-teman mungkin bisa lebih berarti bagi kebahagiaan kita, ketimbang mengeluarkan duit yang hampir sama untuk gadget terbaru.

Mereka yang menjalani gaya hidup minimalis juga cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah karena tidak tertekan untuk terus membeli barang. Saat memiliki lebih sedikit barang, kita juga tidak akan terlalu cemas seputar pemeliharaannya

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII). Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penyuntingan artikel ini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *