Tag: fufufafa

  • Mengapa Akun @Fufufafa Viral dan Pembelaan Gibran

    7cloud.asia – Akun Fufufafa di Kaskus menjadi perbincangan warganet beberapa hari terakhir karena sering melontarkan komentar berisi ujaran kebencian kepada Prabowo Subianto dan keluarganya, sejak bertahun-tahun silam.

    Akun Fufufafa juga banyak menyindir keluarga mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Partai Keadilan Sejahtera dan pihak-pihak yang dulu berseberangan dengan Presiden Joko Widodo.

    Tak hanya itu, banyak warganet yang menyayangkan dengan sebagian unggahan akun Fufufafa yang berbau mesum dan tidak menghormati kesetaraan.

    Banyak warganet mengaitkan akun Fufufafa itu dengan putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka.

    Dari penelusuran warganet atas sejumlah unggahannya, akun Fufufafa yang sudah ada sejak 2013 itu memang menunjukkan bukti kuat bahwa akun itu milik Gibran.

    Baca: Nikita Mirzani melaporkan pacar putrinya ke polisi terkait kekerasan

    Sejumlah unggahannya juga identik dengan unggahan akun resmi Chillipari, perusahaan katering milik Gibran.

    Pun ada unggahan dari Kaesang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Gibran dengan menyebut mas di akun Fufufafa. Namun, putra sulung Presiden Joko Widodo itu tidak mengakuinya.

    Lha mbuh, takono sing nduwe akun (ndak tahu, tanya saja pemilik akunnya),” ucap Gibran di Solo, Jawa Tengah, Selasa (10/9/2024), dilansir TribunSolo.com.

    Setelah Gibran buka suara, banyak pihak mulai membelanya termasuk Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi. Budi Arie mengatakan akun Fufufafa bukan milik Gibran.

    Namun, dia tidak bisa menyebutkan siapa pemilik akun Fufufafa tersebut.

    “Bukanlah, bukan (Gibran),” kata Budi saat ditemui di DPR RI, Jakarta, Selasa (10/9/2024) sore.

    Baca: Jokowi dan Gibran dinilai bukan lagi bagian PDI Perjuangan 

    Budi Arie menyampaikan, konten-konten akun itu sudah lama terjadi. Bahkan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah mendalaminya. Namun, Budi Arie juga belum tahu pemilik akun itu dengan alasan masih didalami.

    “Kita enggak tahu, tunggu lagi. Tunggu saja entar ada waktunya,” kata dia.

    Tak hanya Budi Arie, sejumlah juga pasang badan untuk Gibran Rakabuming Raka.

    Prabowo Subianto juga disebut tidak ambil pusing soal ramainya akun Fufufafa di media sosial. Hal ini diungkap Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad pada Kamis (12/9/2024) lalu.

    “Setahu saya, Pak Prabowo enggak terlalu pusing yang gitu-gitu,” kata Dasco di Kompleks Parlemen, Jakarta. Baca juga: Gerindra Sebut Prabowo Tak Pusing soal Akun Fufufafa

    Menurut Dasco, Prabowo maupun Gerindra belum pernah membahas apapun soal akun yang kerap mengunggah komentar negatif terhadap Prabowo beserta keluarganya itu.

    Wakil Ketua DPR ini juga menegaskan hal ini tidak membuat keretakan antara Prabowo dan Gibran.

    “Jadi akun itu aja enggak sempat dibahas apa-apa, bagaimana kemudian ngebikin keretakan, kan gitu,” ujar Dasco.

     

  • Roy Suryo Sebut 99,9 Persen Akun Fufufafa Milik Gibran Rakabuming Raka

    7cloud.asia – Pakar telematika, Roy Suryo memastikan 99,9 persen akun Kaskus Fufufafa adalah milik Wakil Presiden terpilih periode 2024-2029, Gibran Rakabuming Raka yang juga merupakan anak sulung Presiden Joko Widodo.

    Hal itu diungkapkan langsung Roy Suryo saat diwawancarai Bambang Widjojanto yang dipantau 7cloud.asia di akun YouTube Waras pada Jumat (20/9/2024) malam.

    “Secara teknis, ya kita sisakan sedikit lah, 99,9 persen akun Fufufafa itu adalah milik Wakil Presiden terpilih,” kata Roy Suryo dalam video yang diunggah di kanal YouTube. 

    Menurut Roy Suryo, total ada 5 ribuan postingan di akun Fufufafa sejak 2013. Sebanyak 2.100 postingan di antaranya telah dihapus baru-baru ini.

    “Sebagian besar atau sekitar 70 persen unggahannya berisi ujaran kebencian yang cenderung menghina presiden terpilih Prabowo Subianto,” terangnya

    Roy Suryo menduga, dihapusnya hampir separuh unggahan Fuufafa ini sebagai upaya untuk menghilangkan bukti.

    Baca: Pembelaan diri pendukung Gibran terkait Fufufafa

    Dilansir rmol.id, dalam wawancara di Indonesia Lawyers Club, Roy Suryo membeberkan teknik untuk mengetahui siapa pemilik akun, salah satunya pemilik akun di Kaskus. Ada dua cara yang bisa dilakukan, yakni pendekatan socio-technical dan pure technical.

    Dengan socio-technical, kata Roy Suryo, bisa dilakukan pengecekan, apakah bahasa atau frasa yang digunakan oleh seseorang konsisten sama atau tidak. Dan juga bisa dibandingkan dengan akun yang sudah jelas siapa pemiliknya.

    “Kita pakai sampel akun @Chilli_Pari, itulah akun catering Chili Pari yang memang dimiliki oleh Gibran Rakabuming Raka. Clear, kalau itu 100 persen tidak terbantahkan. Kemudian, kita pakai akun milik adiknya, @KaesangP, itu milik Kaesang Pangarep,” tutur Roy Suryo.

    Dari beberapa jejak digital pada akun Fufufafa, Chilli Pari dan KaesangP, kata Roy Suryo, ketiganya terdapat saling koneksi atau keterhubungan.

    Roy Suryo mengatakan, ada satu kejadian, di mana pada satu hari Fufufafa menuliskan bahwa dia lupa dengan passwordnya. Sehingga malah dia menulis di situ, kehilangan atau lupa password.

    Dia menuliskan, prime ID-nya Raka Gnarly. Kemudian nama user yang digunakan, @RKGRN, itu singkatan dari Raka Gnarly. Kalimat yang sama dikatakan oleh Kaesang Pangarep juga.

    Baca: Gugatan atas kepengurusan PDI Perjuangan akan berimbas ke Gibran

    “Jadi ketika dikonfirmasi, ada yang lupa password-nya. Jadi dari situ sudah mulai ada tanda,” sambungnya.

    Peristiwa yang sama juga terjadi ketika Fufufafa menulis dan bertanya kepada masyarakat. Hanya selang beberapa jam, akun Chilli Pari juga menuliskan hal yang sama.

    “Artinya, kalau ada akun fake atau akun palsu, yang kemudian dia meniru akun asli, oke misalnya yang nulis Chilli Pari duluan, dia di-fake kemudian oleh Fufufafa. Tapi ini Fufufafanya yang nulis dulu.”

    “Ngapain kemudian akun Chilli Pari menulis sama persis 3 jam berikutnya pada hari yang sama. Hanya yang satu jam 8, yang satu jam 11,” tutur Roy Suryo.

    Roy Suryo lantas juga membeberkan temuan akun Anonymous yang melakukan doxing kepada Gibran. Di mana, ketika mencoba emergency recovering akun menggunakan nomor handphone milik Gibran, lalu muncul akun pemulihannya adalah @Chilli_Pari.

    “Menariknya, ketika 2 variabel itu dimasukkan, yang muncul apa? Fufufafa. Jadi kalau ini sudah sulit terbantahkan,” ungkap Roy Suryo.

    Roy Suryo juga mengungkapkan, bahwa dalam waktu 1-2 hari terakhir ini, ada seseorang yang mengubah password Fufufafa, dan masuk ke dalam Kaskus.

    Orang itu dia tengarai adalah orang yang disuruh seseorang yang selama seminggu terakhir ini melakukan upaya penghilangan barang bukti. Dia menghapus 2.100 postingan dari total 5 ribuan postingan di akun Fufufafa sejak 2013.

  • Ini yang Akan Terjadi Jika Gibran Berbohong Soal Akun Fufufafa

    7cloud.asia – Perbincangan warganet soal akun Fufufafa berpotensi memicu keretakan hubungan Prabowo-Jokowi. Bahkan, hubungan keduanya dapat berlangsung ibarat panggung sandiwara—antara yang ditampilkan ke publik berbeda dari apa yang terjadi di balik layar.

    “Tentu saja itu akan berdampak (juga) secara politik pada relasi komunikasi politik di antara Pak Prabowo sama Gibran itu sendiri,” ujar Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi Politik di Universitas Nasional, Profesor Lely Arrianie seperti dikutip BBC Indonesia.

    Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari, juga menyoroti serius dugaan keterkaitan Gibran Rakabuming Raka dengan akun Fufufafa.

    Dipantau dari akun YouTube Indonesia Lawyers Club, Feri menyoroti indikasi kebohongan yang dilakukan Gibran terkait siapa pemilik akun Fufufafa ini.

    Seperti diketahui, penelusuran warganet dan pakar IT, mengungkap hampir bisa dipastikan akun Fufufafa adalah milik Gibran. Namun saat ditanya media, Gibran mengelak dan meminta media bertanya kepada pemilik akun Fufufafa tersebut.

    Feri menekankan bahwa kebohongan yang dilakukan oleh warga negara biasa masih bisa diklarifikasi, namun apabila kebohongan dilakukan oleh penyelenggara utama negara, dampaknya jauh lebih besar.

    “Bohongnya warga negara masih bisa diklarifikasi, tapi kebohongan penyelanggara utama negara tidak bisa,” ujar Feri dikutip dari video tersebut.

    Feri menambahkan, kontroversi Kasus akun Fufufafa ini semakin menarik perhatian dari sisi moralitas pejabat publik, dalam hal ini Gibran sebagai wakil presiden terpilih.

    “Tetapi, kalau kepala negara dan bangsa serep kepala negara salah bicara, tidak bermoral segala macam, yah masalah,” sebutnya.

    Baca: Roy Suryo memastikan 99,9 persen akun Fufufafa adalah milik Gibran

    Feri menilai, jika benar akun tersebut terbukti milik Gibran dan ia menolak mengakui kepemilikannya, maka akan menimbulkan pertanyaan besar terkait integritasnya.

    “Menurut saya, kasus Fufufafa ini yang menarik secara moral adalah yang mengatakan, silakan tanya kepada yang punya akun,” lanjutnya.

    Ia kemudian berandai-andai, jika apa yang diungkapkan Gibran di depan publik itu tidak benar, maka itu merupakan kesalahan besar.

    “Kenapa pernyataan bohong itu dilakukan terbuka. Saya akan lebih menghormati kalau betul-betul mas Gibran mengatakan maaf saya saat itu masih sangat muda,” imbuhnya.

    Sementara, media pemantau media sosial berbasis kecerdasan buatan, Drone Emprit, menilai polemik ini dapat merusak reputasi dan citra publik Gibran, polarisasi pendukung, hingga krisis kepercayaan publik terhadap kepemimpinan.

    Keberadaan akun Fufufafa ini juga sempat memicu diskusi luas di akun X resmi milik Gerindra. Seorang warganet melontarkan pertanyaan: “Min, emang rela ya punya wapres kosong begitu? Negara kita ga kekurangan orang pintar loh min“.

    Akun Gerindra menjawab: “Ya, udah, sabar-sabar deh buat lima tahun ke depan, ya“. Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut maksud dari jawaban ini.

    Ismail Fahmi dari Drone Emprit menyelisik komentar warganet pada platform X terkait polemik akun Fufufafa. “Kalau dilihat dari sentimen, sangat negatif,” ujarnya.

    Baca: Pembelaan pendukung Gibran terkait akun Fufufafa

    Drone Emprit mengumpulkan percakapan Fufufafa sejak 27 Agustus – 12 September lalu. Setidaknya tercatat 60.800 cuitan warganet yang menyinggung Fufufafa, dan sekitar 3.100 cuitan atau komentar dari media massa.

    Perbandingannya 95 persen (berasal cuitan warganet) dan 5 persen (berasal media massa). 

    Dari analisisnya, Drone Emprit menemukan percakapan ini didominasi nada negatif (39.600 cuitan), positif (18.000 cuitan), dan netral (6.400 cuitan).

    “Diskusi ini mencakup tuduhan serius, hinaan, dan perdebatan mengenai integritas dan perilaku tokoh politik, yang menciptakan polarisasi di kalangan pengguna media sosial. Engagement yang tinggi menunjukkan bahwa isu ini menarik perhatian publik, dengan banyak retweet dan komentar yang menunjukkan reaksi emosional dari pengguna,” kata Ismail Fahmi.

    Adapun sejumlah cuitan akun pesohor di X yang ikut memicu diskusi luas tentang Fufufafa antara lain berasal dari akun DokterTifa, Catatan_ali7, dan Yaniarsim.

    Bagaimana hubungan Prabowo-Gibran-Jokowi setelah ramai polemik Fufufafa?
    Drone Emprit memperkenalkan kecerdasan buatan yang mampu menganalisis data percakapan pada media sosial terkait polemik Fufufafa.

    Menurut Ismail Fahmi, analisis berdasarkan kecerdasan buatan ini, “Enggak jauh beda dengan pandangan saya”, yang ia klaim “lebih objektif”.

    Pertama, menurut analisis Drone Emprit, isu ini dapat merusak reputasi Gibran di mata publik, terutama jika tuduhan yang beredar dianggap serius dan tidak ditangani dengan baik.

    Citra positif yang telah dibangun selama ini bisa terganggu oleh kontroversi yang berkaitan dengan akun Fufufafa.

    Baca: Gugatan atas kepengurusan PDI Perjuangan akan berimbas ke Gibran

    “Jika publik menganggap Gibran terlibat atau tidak mampu mengendalikan situasi, hal ini dapat mengurangi dukungan dari pemilih yang sebelumnya mendukungnya,” tulis analisis Drone Emprit.

    Ia juga mencontohkan salah satu cuitan dari DokterTifa terkait komentar Fufufafa kepada SBY, dengan total 1.141 interaksi, “menunjukkan bagaimana isu ini dapat digunakan untuk menyerang reputasi Gibran”.

    Selanjutnya, hasil analisa Drone Emprit menyebut bahwa polemik ini dapat menciptakan polarisasi antara pendukung Gibran dan lawan politiknya.

    Pendukung Gibran mungkin merasa perlu untuk membela dirinya, sementara lawan politik akan memanfaatkan isu ini untuk menyerang dan mendiskreditkan Gibran.

    “Polarisasi ini dapat mengakibatkan perpecahan di kalangan pemilih, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi hasil pemilihan mendatang,” tulis analisis Drone Emprit.

    Terakhir, jika isu ini tidak ditangani dengan baik, kepercayaan publik terhadap Gibran sebagai wapres terpilih dapat menurun. Masyarakat mungkin meragukan kemampuannya untuk memimpin dan mengambil keputusan yang baik.

    “Kepercayaan yang hilang ini dapat berdampak pada efektivitas kepemimpinannya di masa depan, terutama dalam menghadapi tantangan politik dan sosial yang kompleks,” tulis analis data Drone Emprit.

    Kecerdasan buatan milik Drone Emprit ini juga memberikan saran agar, “Gibran memberikan klarifikasi, menjelaskan posisinya, dan menunjukkan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas“.

    “Strategi ini penting untuk meredakan ketegangan dan mengembalikan kepercayaan publik, serta untuk menunjukkan bahwa ia mampu menghadapi tantangan yang ada,” tulis Drone Emprit seperti dikutip BBC News Indonesia.

     

  • Pakar: Ada Implikasi Politik Jika PTUN Kabulkan Gugatan PDI Perjuangan Soal Keabsahan Pencawapresan Gibran

    Pakar: Ada Implikasi Politik Jika PTUN Kabulkan Gugatan PDI Perjuangan Soal Keabsahan Pencawapresan Gibran

    7cloud.asia – Pengamat Hukum Tata Negara Herdiansyah Hamzah menekankan akan ada implikasi politik apabila PTUN mengabulkan permohonan PDI Perjuangan dan menyatakan pencalonan anak pertama Presiden Jokowi itu tidak sah sementara Gibran terlanjur dilantik.

    Menurutnya pasti akan ada pertaruhan soal legitimasi Gibran sebagai wakil presiden yang cacat secara administratif.

    Jika kondisi seperti itu, lanjut Herdiansyah, upaya politik juga dapat diambil oleh para anggota DPR melalui hak interpelasi, hak angket hingga hak menyatakan pendapat.

    Namun demikian, Herdiansyah mengatakan penundaan putusan pembacaan permohonan PDI Perjuangan terkait keabsahan pencawapresan Gibran tidak akan berdampak pada proses pelantikan Prabowo-Gibran sebagai presiden dan wakil presiden pada tanggal 20 Oktober mendatang.

    Kalaupun dibacakan di tanggal 10 Oktober pun dan permohonan PDI Perjuangan dikabulkan itu juga tidak dapat mencegah proses pelantikan Gibran karena masih ada upaya hukum berikutnya.

    ”Masih bisa banding ke PTUN bahkan kalau kalah pun masih bisa kasasi ke Mahkamah Agung. Jadi prosesnya masih panjang,” jelas Herdiansyah kepada VOA Indonesia.

    Baca: PTUN tunda pembacaan putusan soal Gibran

    Sementara, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Reformasi Sistem Hukum Nasional, Ronny Talapessy, menyatakan partainya tidak mempersoalkan penundaan pembacaan keputusan PTUN soal keabsahan pencawapresan Gibran.

    Selama majelis hakim tetap independen dan berpegang pada keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan dalam mengambil keputusan.

    Ketiga hal ini, lanjutnya, menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. PDI Perjuangan, tegasnya, yakin sekali gugatannya memiliki fakta-fakta hukum yang kuat.

    PDI Perjuangan melayangkan gugatan kepada KPU karena dianggap melakukan perbuatan melawan hukum dengan menerima pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres.

    Partai berlambang banteng itu menilai, KPU melakukan pelanggaran dengan menerbitkan Peraturan KPU (PKPU) yang menindaklanjuti Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang batas usia calon presiden dan wakil presiden.

    Baca: Feri Amsari sebut putusan PTUN bisa batalkan pelantikan Gibran

    PKPU itu tidak dibahas dengan komisi II DPR sebagaimana ketentuan perundang-undangan maka putusan MK tersebut seharusnya tidak dapat dieksekusi.

    Sementara itu sejumlah advokat dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) dan Perekat Nusantara, Kamis (10/10/2024), gagal berdialog dengan Wakil Ketua MPR dari Fraksi DPD.

    Mereka berencana menyampaikan aspirasi masyarakat yang menuntut pembatalan Gibran sebagai wapres terpilih tapi tidak diizinkan masuk ke gedung MPR. 

    Koordinator TPDI, Petrus Selestinus mengungkapkan, sikap MPR dan kesekjenan MPR sangat memalukan karena menerapkan sikap diskriminatif terhadap advokat Perekat Nusantara dan TPDI yang hendak menyampaikan aspirasi kepada MPR.

    Dia mengatakan 20 anggota Polri menghalangi mereka tanpa mengungkapkan alasan. Sikap ini, lanjutnya, sungguh menunjukkan bahwa MPR yang baru 10 hari bekerja sudah mengabaikan kewajibannya untuk berdialog dengan masyarakat.

    Sumber: VOA Indonesia