Ini yang Akan Terjadi Jika Gibran Berbohong Soal Akun Fufufafa

Written by

in

7cloud.asia – Perbincangan warganet soal akun Fufufafa berpotensi memicu keretakan hubungan Prabowo-Jokowi. Bahkan, hubungan keduanya dapat berlangsung ibarat panggung sandiwara—antara yang ditampilkan ke publik berbeda dari apa yang terjadi di balik layar.

“Tentu saja itu akan berdampak (juga) secara politik pada relasi komunikasi politik di antara Pak Prabowo sama Gibran itu sendiri,” ujar Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi Politik di Universitas Nasional, Profesor Lely Arrianie seperti dikutip BBC Indonesia.

Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari, juga menyoroti serius dugaan keterkaitan Gibran Rakabuming Raka dengan akun Fufufafa.

Dipantau dari akun YouTube Indonesia Lawyers Club, Feri menyoroti indikasi kebohongan yang dilakukan Gibran terkait siapa pemilik akun Fufufafa ini.

Seperti diketahui, penelusuran warganet dan pakar IT, mengungkap hampir bisa dipastikan akun Fufufafa adalah milik Gibran. Namun saat ditanya media, Gibran mengelak dan meminta media bertanya kepada pemilik akun Fufufafa tersebut.

Feri menekankan bahwa kebohongan yang dilakukan oleh warga negara biasa masih bisa diklarifikasi, namun apabila kebohongan dilakukan oleh penyelenggara utama negara, dampaknya jauh lebih besar.

“Bohongnya warga negara masih bisa diklarifikasi, tapi kebohongan penyelanggara utama negara tidak bisa,” ujar Feri dikutip dari video tersebut.

Feri menambahkan, kontroversi Kasus akun Fufufafa ini semakin menarik perhatian dari sisi moralitas pejabat publik, dalam hal ini Gibran sebagai wakil presiden terpilih.

“Tetapi, kalau kepala negara dan bangsa serep kepala negara salah bicara, tidak bermoral segala macam, yah masalah,” sebutnya.

Baca: Roy Suryo memastikan 99,9 persen akun Fufufafa adalah milik Gibran

Feri menilai, jika benar akun tersebut terbukti milik Gibran dan ia menolak mengakui kepemilikannya, maka akan menimbulkan pertanyaan besar terkait integritasnya.

“Menurut saya, kasus Fufufafa ini yang menarik secara moral adalah yang mengatakan, silakan tanya kepada yang punya akun,” lanjutnya.

Ia kemudian berandai-andai, jika apa yang diungkapkan Gibran di depan publik itu tidak benar, maka itu merupakan kesalahan besar.

“Kenapa pernyataan bohong itu dilakukan terbuka. Saya akan lebih menghormati kalau betul-betul mas Gibran mengatakan maaf saya saat itu masih sangat muda,” imbuhnya.

Sementara, media pemantau media sosial berbasis kecerdasan buatan, Drone Emprit, menilai polemik ini dapat merusak reputasi dan citra publik Gibran, polarisasi pendukung, hingga krisis kepercayaan publik terhadap kepemimpinan.

Keberadaan akun Fufufafa ini juga sempat memicu diskusi luas di akun X resmi milik Gerindra. Seorang warganet melontarkan pertanyaan: “Min, emang rela ya punya wapres kosong begitu? Negara kita ga kekurangan orang pintar loh min“.

Akun Gerindra menjawab: “Ya, udah, sabar-sabar deh buat lima tahun ke depan, ya“. Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut maksud dari jawaban ini.

Ismail Fahmi dari Drone Emprit menyelisik komentar warganet pada platform X terkait polemik akun Fufufafa. “Kalau dilihat dari sentimen, sangat negatif,” ujarnya.

Baca: Pembelaan pendukung Gibran terkait akun Fufufafa

Drone Emprit mengumpulkan percakapan Fufufafa sejak 27 Agustus – 12 September lalu. Setidaknya tercatat 60.800 cuitan warganet yang menyinggung Fufufafa, dan sekitar 3.100 cuitan atau komentar dari media massa.

Perbandingannya 95 persen (berasal cuitan warganet) dan 5 persen (berasal media massa). 

Dari analisisnya, Drone Emprit menemukan percakapan ini didominasi nada negatif (39.600 cuitan), positif (18.000 cuitan), dan netral (6.400 cuitan).

“Diskusi ini mencakup tuduhan serius, hinaan, dan perdebatan mengenai integritas dan perilaku tokoh politik, yang menciptakan polarisasi di kalangan pengguna media sosial. Engagement yang tinggi menunjukkan bahwa isu ini menarik perhatian publik, dengan banyak retweet dan komentar yang menunjukkan reaksi emosional dari pengguna,” kata Ismail Fahmi.

Adapun sejumlah cuitan akun pesohor di X yang ikut memicu diskusi luas tentang Fufufafa antara lain berasal dari akun DokterTifa, Catatan_ali7, dan Yaniarsim.

Bagaimana hubungan Prabowo-Gibran-Jokowi setelah ramai polemik Fufufafa?
Drone Emprit memperkenalkan kecerdasan buatan yang mampu menganalisis data percakapan pada media sosial terkait polemik Fufufafa.

Menurut Ismail Fahmi, analisis berdasarkan kecerdasan buatan ini, “Enggak jauh beda dengan pandangan saya”, yang ia klaim “lebih objektif”.

Pertama, menurut analisis Drone Emprit, isu ini dapat merusak reputasi Gibran di mata publik, terutama jika tuduhan yang beredar dianggap serius dan tidak ditangani dengan baik.

Citra positif yang telah dibangun selama ini bisa terganggu oleh kontroversi yang berkaitan dengan akun Fufufafa.

Baca: Gugatan atas kepengurusan PDI Perjuangan akan berimbas ke Gibran

“Jika publik menganggap Gibran terlibat atau tidak mampu mengendalikan situasi, hal ini dapat mengurangi dukungan dari pemilih yang sebelumnya mendukungnya,” tulis analisis Drone Emprit.

Ia juga mencontohkan salah satu cuitan dari DokterTifa terkait komentar Fufufafa kepada SBY, dengan total 1.141 interaksi, “menunjukkan bagaimana isu ini dapat digunakan untuk menyerang reputasi Gibran”.

Selanjutnya, hasil analisa Drone Emprit menyebut bahwa polemik ini dapat menciptakan polarisasi antara pendukung Gibran dan lawan politiknya.

Pendukung Gibran mungkin merasa perlu untuk membela dirinya, sementara lawan politik akan memanfaatkan isu ini untuk menyerang dan mendiskreditkan Gibran.

“Polarisasi ini dapat mengakibatkan perpecahan di kalangan pemilih, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi hasil pemilihan mendatang,” tulis analisis Drone Emprit.

Terakhir, jika isu ini tidak ditangani dengan baik, kepercayaan publik terhadap Gibran sebagai wapres terpilih dapat menurun. Masyarakat mungkin meragukan kemampuannya untuk memimpin dan mengambil keputusan yang baik.

“Kepercayaan yang hilang ini dapat berdampak pada efektivitas kepemimpinannya di masa depan, terutama dalam menghadapi tantangan politik dan sosial yang kompleks,” tulis analis data Drone Emprit.

Kecerdasan buatan milik Drone Emprit ini juga memberikan saran agar, “Gibran memberikan klarifikasi, menjelaskan posisinya, dan menunjukkan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas“.

“Strategi ini penting untuk meredakan ketegangan dan mengembalikan kepercayaan publik, serta untuk menunjukkan bahwa ia mampu menghadapi tantangan yang ada,” tulis Drone Emprit seperti dikutip BBC News Indonesia.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *