Tag: green skills

  • Pentingnya Green Skills untuk Antisipasi Perubahan Iklim

    Pentingnya Green Skills untuk Antisipasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Perubahan iklim adalah ancaman lingkungan yang semakin nyata pada dunia, sehingga dibutuhkan ketrampilan khusus yang disebut green skills untuk mengatasinya.

    Mengapa green skills dibutuhkan? Karena dampak perubahan iklim terutama dirasakan kaum muda yang jumlahnya mewakili seperempat total penduduk dunia, dan 86% di antaranya berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Perubahan iklim akan berdampak serius terhadap lapangan kerja, terutama angka pengangguran dan krisis biaya hidup, yang menempati urutan teratas dalam peringkat risiko global.

    Setidaknya ini yang ditemukan riset Global Risk Report tahun 2023 dari World Economic Forum, organisasi non-pemerintah dan lobi internasional yang berbasis Jenewa, Swiss.

    Baca: Generasi muda punya kesadaran lingkungan tinggi tetapi enggan bergerak

    Salah satu solusi alternatif untuk mengurangi risiko krisis biaya hidup dan pengangguran tenaga kerja akibat perubahan iklim adalah melalui peningkatan ‘keterampilan hijau’ (green skills).

    Apa itu green skills? Menurut United Nations Industrial Development Organization, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas mempromosikan dan mempercepat pembangunan industri, green skills adalah sebuah pengetahuan, kemampuan, nilai, dan sikap yang diperlukan untuk hidup, berkembang, dan mendukung masyarakat yang bersumber daya cukup dan berkelanjutan.

    Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), organisasi kerja sama dan pembangunan ekonomi internasional, mengklasifikasikan green skills, menjadi:

    Cognitive competencies: kesadaran lingkungan dan kemauan untuk belajar tentang pembangunan berkelanjutan, keterampilan sistem dan analisis risiko, serta inovasi untuk menjawab tantangan hijau

    Baca: Aksi lingkungan anak muda di mata media

    Interpersonal skills: koordinasi, keterampilan komunikasi dan negosiasi, lalu keterampilan pemasaran untuk mempromosikan produk dan jasa yang lebih hijau

    Intrapersonal competencies: kemampuan adaptif dalam menggunakan dan mempelajari alat teknologi baru, serta keterampilan wirausaha dalam menciptakan teknologi rendah karbon).

    Mengapa green skills penting untuk mengurangi risiko perubahan iklim? Alasan pertama adalah karena green skills menurunkan biaya hidup

    Green skills dapat menekan laju krisis finansial dan sumber daya alam. Biaya hidup tinggi terjadi akibat semakin langkanya sumber alam atau kekayaan lainnya dalam memenuhi kebutuhan manusia yang semakin besar populasinya.

    Penelitian Lucas Bretschger profesor dari Centre of Economic Research, ETH Zurich, Swiss, tahun 2013, menyebutkan bahwa manusia seringkali bergantung pada sumber daya tidak terbarukan sementara pertumbuhan populasi terus naik. Hal ini mempercepat laju penggunaan sumber daya tersebut.

    Baca: Bumi butuh aksi nyatamu, sudahkah kamu bergabung dengan aksi lingkungan

    Untuk mengantisipasinya, kita membutuhkan tenaga kerja beremisi rendah dan pembangunan berbasis sertifikasi atau pengukuran berkelanjutan.

    Pengukuran berkelanjutan ini bisa diaplikasikan ke dalam gaya hidup kaum muda melalui kompetensi hijau, seperti yang ditunjukkan dalam studi kolaborasi antara Clement Cabral dari Université Internationale de Rabat, Maroko dan Rajib Lochan Dhar dari Indian Institute of Technology Roorkee, India, tahun 2020.

    Kompetensi yang dimaksud merupakan gabungan dari:

    Pengetahuan hijau: pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan hidup seperti misalnya pengetahuan tentang praktik-praktik ramah lingkungan

    Keterampilan hijau: keterampilan terkait lingkungan semisal keterampilan mengelola sampah

    Sikap hijau: kecenderungan psikologis untuk mengevaluasi persepsi atau keyakinan mengenai lingkungan alam semisal sikap terhadap konservasi

    Perilaku hijau: perilaku untuk melestarikan sumber daya, mencegah orang lain terlibat dalam degradasi lingkungan, memulai tindakan untuk melindungi lingkungan dan menghentikan kerusakan lingkungan

    Kesadaran hijau: mengetahui dampak perilaku manusia terhadap lingkungan, contohnya kesadaran akan pembangunan berkelanjutan.

    Baca: 17 cara untuk lebih ramah lingkungan

    Dengan memiliki kompetensi tersebut, kaum muda dapat mengurangi ketergantungannya terhadap sumber daya yang tidak terbarukan sehingga mengurangi biaya hidup yang harus dikeluarkan.

    Salah satu contohnya adalah mengurangi biaya untuk membeli barang karena memiliki keterampilan daur ulang, penggunaan kembali (reuse), dan desain ramah lingkungan.

    Alasan kedua adalah green skills ciptakan green jobs. Definisi green jobs masih diperdebatkan.

    Namun, organisasi buruh International Labour Organization (ILO), dan badan PBB yang mengurusi isu lingkungan yaitu UN Environment Programme (UNEP), di tahun 2008, membuat satu pengertian tentang green jobs yakni sebuah usaha atau seperangkat tanggung jawab seseorang (termasuk wirausaha) yang berdampak minimum terhadap lingkungan dan menjaga keberlangsungannya.

    Green jobs memiliki dampak bagi pembangunan ekonomi bangsa, khususnya dalam meningkatkan produktivitas dan ketenagakerjaan pemuda.

    Bahkan, green jobs telah mengubah arah dan pemetaan bursa kerja dunia, yang tentunya semakin mendorong masyarakat dan komunitas global untuk beraksi bersama menurunkan emisi karbon atau aksi penyelamatan dari ancaman krisis iklim lainnya.

    Baca: Gelombang panas mengganas, dampak perubahan iklim?

    Lai Chee Sern,, dosen dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, mengemukakan bahwa sepuluh green skills yang paling sering bersinggungan dengan green jobs, adalah keterampilan mendesain, kepemimpinan, keterampilan manajemen;

    Green jobs juga meliputi keterampilan terkait energi, keterampilan perencanaan kota, keterampilan lansekap, keterampilan komunikasi, keterampilan pengelolaan limbah, keterampilan pengadaan barang dan jasa, dan keterampilan finansial.

    Dalam pelaksanaannya, peran dan arah keterampilan hijau ini masih harus diselaraskan dengan kebutuhan industri.

    Untuk memastikan keselarasan ini, Lai Chee Sern juga menyarankan adanya perbaikan kurikulum yang memasukkan green skills dan ketersediaan dari pelatihan-pelatihan yang mengajarkan keterampilan tersebut.

    Dengan semakin banyaknya inovasi, keterampilan, dan pelatihan hijau yang dilakukan untuk menjawab masalah krisis iklim, semakin tinggi pula peluang ketersediaan pekerjaan untuk mengurangi risiko pengangguran bagi kaum muda.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis: Gracia Paramitha, PhD Lecturer, School of Government and Public Policy Indonesia

     

  • Upaya Merevitalisasi Pendidikan untuk Penuhi Kebutuhan Green Jobs

    Upaya Merevitalisasi Pendidikan untuk Penuhi Kebutuhan Green Jobs

    7cloud.asia – Asosiasi Industri Fotovoltaik Eropa (EPIA) bersama Greenpeace International memprediksi green jobs akan menjadi tren global mulai tahun 2025.

    Namun, badan PBB untuk program pembangunan (UNDP) memperkirakan pada tahun 2030, 60 persen generasi muda di dunia belum memiliki green skills yang diperlukan untuk memasuki era green jobs.

    Untuk memenuhi kebutuhan green jobs ini, salah satu yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan revitalisasi pendidikan.

    Bentuk revitalisasi pendidikan untuk memenuhi tuntutan green jobs dapat dilakukan dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia sejak dini.

    Dimulai dari pembuatan kebijakan pendidikan untuk membentuk standar kompetensi yang mengarah pada keahlian dan kesiapan menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.

    Baca: Ini yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan green jobs

    Kebijakan ini juga perlu memperhatikan unsur kesinambungan dan keberlanjutan di semua tingkatan.

    Pemerhati pendidikan Ina Liem dalam wawancara di VOA Indonesia menyebutkan, di sekolah dasar hingga menengah atas, sistem pendidikan seringkali memiliki proyek ramah lingkungan, tapi upaya ini tidak berlanjut ke perguruan tinggi.

    Integrasi kurikulum green skills
    Kurikulum green skills menjadi kebutuhan mendesak seiring maraknya tuntutan pertumbuhan ekonomi yang menganut prinsip ekologis dan kesejahteraan sosial.

    Integrasi kurikulum green skills ke dalam pendidikan berpeluang membuat siswa lebih siap untuk mengatasi persoalan lingkungan dan kesejahteraan sosial yang mendukung pembangunan ramah Bumi.

    Baca: Riset UI ungkap mayoritas mahasiswa tertarik pada green jobs

    Keterampilan green skills menurut OECD terdiri dari cognitive competencies (kemampuan kognitif untuk pemahaman ekologi dan solusi lingkungan).

    Selanjutnya, interpersonal skills (keterampilan berkomunikasi dan bekerja sama dalam konteks lingkungan).

    Selain itu juga intrapersonal competencies  atau kemampuan mengelola diri dan motivasi untuk tindakan pro-lingkungan.

    Kompetensi dasar dan inti dalam green skills perlu membantu siswa memahami konsep keberlanjutan secara menyeluruh.

    Mereka tidak hanya diajarkan untuk memahami dampak lingkungan dari tindakan manusia, tetapi juga merancang solusi berkelanjutan melalui pekerjaan mereka di masa depan.

    Baca: Ini alasan kamu harus kuasai green skils

    Siswa perlu bertindak sebagai motor penggerak transformasi yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik di tingkat pribadi maupun profesional.

    Dalam praktiknya, kompetensi green skills tidak hanya mempelajari biologi, geografi, atau mata pelajaran ilmu lingkungan, melainkan juga perlu diperluas ke berbagai disiplin ilmu.

    Green skills perlu diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran yang bertujuan menciptakan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan green jobs.

    Pada mata pelajaran matematika, misalnya, integrasi green skills dapat dilakukan ketika mempelajari geometri.

    Dalam hal ini, siswa tidak hanya diajak untuk memahami konsep dan rumus, tetapi juga diberi kesempatan untuk menggambarkan secara matematis desain taman berbasis ekologi atau merancang tata ruang kota yang ramah lingkungan.

    Baca: Seperti ini media memandang aksi lingkungan yang dilakukan anak muda 

    Kemudian dalam mata pelajaran sosiologi, integrasi green skills dapat melibatkan kearifan lokal sehingga siswa paham keterkaitan perubahan iklim dengan dinamika sosial-budaya sesuai konteks lokal daerah masing-masing.

    Green skills juga dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran teknologi informasi dengan menciptakan aplikasi atau solusi teknologi untuk memonitor dan mengelola konsumsi energi.

    Mata pelajaran ekonomi dapat mengintegrasikan praktik green skills untuk menciptakan eco entrepreneurship atau kegiatan bisnis ramah lingkungan.

    Pada akhirnya, integrasi kurikulum green skills yang selaras sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi dapat mempersiapkan kebutuhan aktual pasar kerja di sektor green jobs.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Lingga Utami, PhD Student, Universitas Pendidikan Indonesia

  • ‘Green skills’ Pengetahuan yang Perlu Dikuasai Anak Muda demi Keberlanjutan Masa Depan

    ‘Green skills’ Pengetahuan yang Perlu Dikuasai Anak Muda demi Keberlanjutan Masa Depan

    7cloud.asia – Keterampilan hijau atau green skills sangat penting dikuasai anak muda Indonesia untuk memperkuat ketahanan lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan dalam berbagai sektor industri negara kita.

    Cakupan green skills cukup luas, mulai dari teknisi infrastruktur energi terbarukan, analis keberlanjutan, hingga manajer konservasi.

    Peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang membutuhkan green skills juga signifikan. Pada 2022, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan kebutuhan tambahan tenaga kerja green Jobs adalah antara 1,8 sampai 4,4 juta orang hingga 2030.

    Hal ini juga dikonfirmasi oleh LinkedIn dalam Global Green Skills Report 2023 yang juga menyoroti peluang kerja hijau atau green jobs di Indonesia.

    Green skills saat ini sudah menjadi kebutuhan yang mendesak di tengah maraknya tuntutan pertumbuhan ekonomi yang menganut prinsip ekologis dan kesejahteraan sosial.

    Baca: Ini yang dilakukan pemerintah untuk wujudkan green jobs

    Selain itu, integrasi kurikulum green skills ke dalam pendidikan juga memiliki peluang untuk bagaimana anak muda mengatasi persoalan lingkungan dan kesejahteraan sosial yang mendukung pembangunan berkelanjutan ramah lingkungan secara menyeluruh.

    Mereka tidak hanya diajarkan untuk memahami dampak lingkungan dari tindakan manusia, tetapi juga merancang solusi berkelanjutan melalui pekerjaan mereka di masa depan.

    Anak muda perlu bertindak sebagai motor penggerak transformasi yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik di tingkat pribadi maupun profesional.

    Gracia Paramitha, dosen hubungan internasional dari FISIP Universitas Indonesia dalam Ask the Expert di The Conversation pendidikan memegang peran penting dalam membangun pemahaman tentang green skills ini.

    Baca: Kenali tiga indikator green jobs

    Menurut Gracia, selain perubahan pola pikir, tantangan utama green skills dari sektor energi dan lingkungan adalah dari pendidikan. Akses informasi dan pelatihan keterampilan hijau atau green skills di luar pendidikan formal masih sangat minim.

    “Hanya satu di antara delapan juta anak muda yang memang betul-betul menerapkan green skills,“ ujar Gracia.

    Selain itu, lanjutnya, masih banyak juga universitas-universitas yang memberikan pendidikan di bidang energi masih berbasis energi kotor.

    “Dengan adanya fakta ini, para akademisi, media, LSM, pemerintah dan swasta punya peran penting untuk mengubah secara masif bagaimana sektor energi terbarukan itu betul-betul hal yang sangat krusial” ujar Gracia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation Indonesia