Upaya Merevitalisasi Pendidikan untuk Penuhi Kebutuhan Green Jobs

Written by

in

7cloud.asia – Asosiasi Industri Fotovoltaik Eropa (EPIA) bersama Greenpeace International memprediksi green jobs akan menjadi tren global mulai tahun 2025.

Namun, badan PBB untuk program pembangunan (UNDP) memperkirakan pada tahun 2030, 60 persen generasi muda di dunia belum memiliki green skills yang diperlukan untuk memasuki era green jobs.

Untuk memenuhi kebutuhan green jobs ini, salah satu yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan revitalisasi pendidikan.

Bentuk revitalisasi pendidikan untuk memenuhi tuntutan green jobs dapat dilakukan dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia sejak dini.

Dimulai dari pembuatan kebijakan pendidikan untuk membentuk standar kompetensi yang mengarah pada keahlian dan kesiapan menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.

Baca: Ini yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan green jobs

Kebijakan ini juga perlu memperhatikan unsur kesinambungan dan keberlanjutan di semua tingkatan.

Pemerhati pendidikan Ina Liem dalam wawancara di VOA Indonesia menyebutkan, di sekolah dasar hingga menengah atas, sistem pendidikan seringkali memiliki proyek ramah lingkungan, tapi upaya ini tidak berlanjut ke perguruan tinggi.

Integrasi kurikulum green skills
Kurikulum green skills menjadi kebutuhan mendesak seiring maraknya tuntutan pertumbuhan ekonomi yang menganut prinsip ekologis dan kesejahteraan sosial.

Integrasi kurikulum green skills ke dalam pendidikan berpeluang membuat siswa lebih siap untuk mengatasi persoalan lingkungan dan kesejahteraan sosial yang mendukung pembangunan ramah Bumi.

Baca: Riset UI ungkap mayoritas mahasiswa tertarik pada green jobs

Keterampilan green skills menurut OECD terdiri dari cognitive competencies (kemampuan kognitif untuk pemahaman ekologi dan solusi lingkungan).

Selanjutnya, interpersonal skills (keterampilan berkomunikasi dan bekerja sama dalam konteks lingkungan).

Selain itu juga intrapersonal competencies  atau kemampuan mengelola diri dan motivasi untuk tindakan pro-lingkungan.

Kompetensi dasar dan inti dalam green skills perlu membantu siswa memahami konsep keberlanjutan secara menyeluruh.

Mereka tidak hanya diajarkan untuk memahami dampak lingkungan dari tindakan manusia, tetapi juga merancang solusi berkelanjutan melalui pekerjaan mereka di masa depan.

Baca: Ini alasan kamu harus kuasai green skils

Siswa perlu bertindak sebagai motor penggerak transformasi yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik di tingkat pribadi maupun profesional.

Dalam praktiknya, kompetensi green skills tidak hanya mempelajari biologi, geografi, atau mata pelajaran ilmu lingkungan, melainkan juga perlu diperluas ke berbagai disiplin ilmu.

Green skills perlu diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran yang bertujuan menciptakan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan green jobs.

Pada mata pelajaran matematika, misalnya, integrasi green skills dapat dilakukan ketika mempelajari geometri.

Dalam hal ini, siswa tidak hanya diajak untuk memahami konsep dan rumus, tetapi juga diberi kesempatan untuk menggambarkan secara matematis desain taman berbasis ekologi atau merancang tata ruang kota yang ramah lingkungan.

Baca: Seperti ini media memandang aksi lingkungan yang dilakukan anak muda 

Kemudian dalam mata pelajaran sosiologi, integrasi green skills dapat melibatkan kearifan lokal sehingga siswa paham keterkaitan perubahan iklim dengan dinamika sosial-budaya sesuai konteks lokal daerah masing-masing.

Green skills juga dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran teknologi informasi dengan menciptakan aplikasi atau solusi teknologi untuk memonitor dan mengelola konsumsi energi.

Mata pelajaran ekonomi dapat mengintegrasikan praktik green skills untuk menciptakan eco entrepreneurship atau kegiatan bisnis ramah lingkungan.

Pada akhirnya, integrasi kurikulum green skills yang selaras sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi dapat mempersiapkan kebutuhan aktual pasar kerja di sektor green jobs.

Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Lingga Utami, PhD Student, Universitas Pendidikan Indonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *