‘Green skills’ Pengetahuan yang Perlu Dikuasai Anak Muda demi Keberlanjutan Masa Depan

Written by

in

7cloud.asia – Keterampilan hijau atau green skills sangat penting dikuasai anak muda Indonesia untuk memperkuat ketahanan lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan dalam berbagai sektor industri negara kita.

Cakupan green skills cukup luas, mulai dari teknisi infrastruktur energi terbarukan, analis keberlanjutan, hingga manajer konservasi.

Peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang membutuhkan green skills juga signifikan. Pada 2022, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan kebutuhan tambahan tenaga kerja green Jobs adalah antara 1,8 sampai 4,4 juta orang hingga 2030.

Hal ini juga dikonfirmasi oleh LinkedIn dalam Global Green Skills Report 2023 yang juga menyoroti peluang kerja hijau atau green jobs di Indonesia.

Green skills saat ini sudah menjadi kebutuhan yang mendesak di tengah maraknya tuntutan pertumbuhan ekonomi yang menganut prinsip ekologis dan kesejahteraan sosial.

Baca: Ini yang dilakukan pemerintah untuk wujudkan green jobs

Selain itu, integrasi kurikulum green skills ke dalam pendidikan juga memiliki peluang untuk bagaimana anak muda mengatasi persoalan lingkungan dan kesejahteraan sosial yang mendukung pembangunan berkelanjutan ramah lingkungan secara menyeluruh.

Mereka tidak hanya diajarkan untuk memahami dampak lingkungan dari tindakan manusia, tetapi juga merancang solusi berkelanjutan melalui pekerjaan mereka di masa depan.

Anak muda perlu bertindak sebagai motor penggerak transformasi yang menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik di tingkat pribadi maupun profesional.

Gracia Paramitha, dosen hubungan internasional dari FISIP Universitas Indonesia dalam Ask the Expert di The Conversation pendidikan memegang peran penting dalam membangun pemahaman tentang green skills ini.

Baca: Kenali tiga indikator green jobs

Menurut Gracia, selain perubahan pola pikir, tantangan utama green skills dari sektor energi dan lingkungan adalah dari pendidikan. Akses informasi dan pelatihan keterampilan hijau atau green skills di luar pendidikan formal masih sangat minim.

“Hanya satu di antara delapan juta anak muda yang memang betul-betul menerapkan green skills,“ ujar Gracia.

Selain itu, lanjutnya, masih banyak juga universitas-universitas yang memberikan pendidikan di bidang energi masih berbasis energi kotor.

“Dengan adanya fakta ini, para akademisi, media, LSM, pemerintah dan swasta punya peran penting untuk mengubah secara masif bagaimana sektor energi terbarukan itu betul-betul hal yang sangat krusial” ujar Gracia.

Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation Indonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *