Tag: gunung semeru

  • Gunung Semeru Erupsi, Status Siaga

    Gunung Semeru Erupsi, Status Siaga

    7cloud.asia – Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur kembali erupsi dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1 kilometer di atas puncak pada Senin.

    Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru di Gunung Sawur, Ghufron Alwi dalam laporan tertulisnya mengatakan bahwa terjadi erupsi Gunung Semeru pada 25 Desember 2023 pukul 05.12 WIB.

    “Tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 m di atas puncak (± 4.676 mdpl). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah selatan,” katanya dalam keterangan tertulisnya.

    Baca: Gunung Marapi meletus lagi

    Menurut dia, erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 248 detik dan status gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih berada pada level III atau siaga.

    Aktivitas Gunung Semeru pada Senin periode 00.00-06.00 WIB tercatat pengamatan kegempaan terjadi 19 kali gempa erupsi dengan amplitudo 11-22 mm dan lama gempa 73-151 detik.

    Kemudian satu kali gempa awan panas letusan dengan amplitudo 22 mm dan lama gempa 248 detik, satu kali gempa Guguran dengan amplitudo 3 mm dan lama gempa 62 detik, serta tiga kali gempa embusan dengan amplitudo 5-7 mm dengan lama gempa 52-58 detik.

    “Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi),” tuturnya.

    Baca: Korban meninggal akibat letusan Gunung Marapi bertambah

    Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

    “Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.

    Ia mengimbau masyarakat mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

    Sumber: Antaranews

  • Senin Pagi Gunung Semeru Alami 19 Kali Gempa Letusan

    Senin Pagi Gunung Semeru Alami 19 Kali Gempa Letusan

    7cloud.asia – Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mengalami gempa letusan sebanyak 19 kali sejak Senin (22/01/2024) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

    Menurut Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Yadi Yuliandi, 19 kali gempa letusan Gunung Semeru tersebut dengan amplitudo 10 hingga 21 mm. Lama gempa antara 65 hingga 140 detik.

    “Semeru juga mengalami gempa embusan dengan amplitudo 4-6 mm, dan lama gempa 52-75 detik,” ujar Yadi seperti yang dikutip Antaranews.

    Dalam seismograf terekam 2 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 14-39 mm, S-P 15-16 detik dan lama gempa 39-74 detik.

    “Secara visual, Gunung Semeru tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur,” jelasnya. 

    Baca: Gunung Lewotobi Laki-laki erupsi 

    Sebelumnya aktivitas tinggi ditunjukkan oleh gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu pada Minggu (21/01/2024) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.

    Saat itu, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat 69 kali gempa letusan, tiga kali gempa guguran, 13 kali gempa embusan, dua kali harmonik, satu kali gempa vulkanik dan empat kali gempa tektonik jauh.

    Sementara Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Logistik pada Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo status Gunung Semeru berada pada level III atau siaga.

    Dia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

    Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan.

    Baca: Gunung Dukono meletus

    Sebab hal ini berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

    “Kemudian tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” jelasnya.

    Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.

    Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Jelang Kamis Siang, Gunung Semeru 10 Kali Meletus

    Jelang Kamis Siang, Gunung Semeru 10 Kali Meletus

    7cloud.asia – Gunung Semeru, Jawa Timur (Jatim) pada Kamis (13/06/2024) meletus sebanyak 10 kali hingga pukul 10.45 waktu Indonesia barat (WIB).

    Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Malang, Jatim ini pertama kali meletus pukul 6.30 WIB, 6.38 WIB, 06.43 WIB, 06.48 WIB, 06.51WIB dan pukul 07.22 WIB, 08.05 WIB dengan ketinggian letusan yang berbeda.

    Letusan tertinggi terjadi pada pukul 07.42 WIB dengan melontarkan abu vulkanik setinggi 900 meter di atas puncak.

    “Kolom abu vulkanik teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara,” ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto di Lumajang seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Gunung Semeru erupsi, lontarkan abu vulkanik 800 meter

    Sebelumnya gunung yang memiliki tinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu juga erupsi pada pukul 07.41 WIB.

    Saat itu letusan setinggi 700 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara.

    Meski erupsi Gunung Semeru terjadi setiap haribeberapa hari, namun hal ini tidak mengganggu aktivitas warga yang berada di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

    Sebelumnya Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid mengatakan awan panas dan guguran lava pijar masih terjadi di Gunung Semeru.

    Namun secara visual jarang teramati karena terkendala dengan cuaca yang berkabut.

    Baca: Gunung Semeru alami 19 kali letusan

    “Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, maka tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada Level III atau Siaga dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini,” jelas Wafid.

    Dengan status siaga ini, Wafid merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).

    Selain itu, dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) pada sepanjang Besuk Kobokan.

    Baca: Erupsi lagi, status Gunung Semeru siaga

    Sebab jika terjadi guguran awan panas maka wilayah ini berpotensi terkena awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

    Pihaknya juga melarang warga beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

    Masyarakat harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar, di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.

    Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

  • Gunung Semeru Meletus Lagi, Abu Vulkanik Capai 600 Meter

    Gunung Semeru Meletus Lagi, Abu Vulkanik Capai 600 Meter

    7cloud.asia – Gunung Semeru kembali meletus dengan abu vulkanik setinggi 600 meter meter di atas puncak pada Minggu (11/08/2024) pukul 06.49 WIB.

    “Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah utara. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 120 detik,” papar petugas pos pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi seperti yang dilansir Antaranews.

    Sebelumnya di hari yang sama, Yadi juga mencatat gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami tiga kali letusan yaitu pukul 06.43 WIB, kemudian pukul 06.12 WIB, dan 05.42 WIB.

    Baca: Gunung Semeru meletus 10 kali

    Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara. Hal ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 99 detik.

    Kemudian letusan terjadi kembali pukul 06.12 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 500 meter di atas puncak (4.176 mdpl).

    Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara. Letusan itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 100 detik.

    Pada pukul 05.42 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 700 meter di atas puncak (± 4376 mdpl).

    Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 162 detik.

    Baca: Gunung Ruang meletus, status naik jadi awas

    Sebelumnya Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG), Priatin telah mengevaluasi aktivitas Gunung Semeru yang berstatus Waspada atau Level II yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.

    “Hasil evaluasi mencatat bahwa aktivitas Gunung Semeru periode 16-31 Juli 2024 memperlihatkan bahwa aktivitas erupsi, awan panas, dan guguran lava masih terjadi, namun secara visual jarang teramati karena cuaca kabut,” jelas Priatin.

    Selanjutnya dia memaparkan akumulasi material hasil erupsi maupun pembentukan scoria cones dapat berpotensi menjadi guguran lava pijar atau awan panas.

    “Material guguran lava dan atau awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru berpotensi menjadi lahar, jika berinteraksi dengan air hujan,” terangnya.

    Baca: Pasca letusan, ribuan warga di sekitar Gunung Ruang mengungsi

    Jika terjadi interaksi endapan material guguran lava atau awan panas yang bersuhu tinggi dengan air sungai, maka berpotensi terjadinya erupsi sekunder.

    Ia mengatakan hingga akhir Juli, jumlah gempa yang terekam menunjukkan aktivitas kegempaan Gunung Semeru masih relatif tinggi, terutama gempa letusan, guguran, harmonik, dan vulkanik dalam.

    “Gempa vulkanik dalam dan tremor harmonik yang terekam mengindikasikan suplai dari bawah permukaan Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan, serta adanya proses penumpukan material hasil letusan di sekitar kawah Jonggring Seloko,” jelasnya.

    Terekamnya kejadian getaran banjir tersebut mengindikasikan adanya kejadian lahar di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama yang mengarah ke aliran Besuk Kobokan.

    Baca: Gunung Merapi keluarkan awan panas, masyarakat diimbau waspada

    PVMBG juga memberikan sejumlah rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh delapan km dari puncak (pusat erupsi).

    Selain itu, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan.

    Hal ini untuk menghindari adanya potensi perluasan awan panas dan aliran lahar sejauh 13 km dari puncak.

    PVMBG melarang masyarakat beraktivitas dalam radius tiga km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

    Dalam status Level ll ini masyarakat harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

    Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

     

     

     

  • Minimalkan Kerusakan Lingkungan, Pendakian Gunung Semeru Wajib Gunakan Pendamping

    Minimalkan Kerusakan Lingkungan, Pendakian Gunung Semeru Wajib Gunakan Pendamping

    7cloud.asia – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mewajibkan penggunaan Pendampingan Pemandu Gunung Semeru Terdaftar (PPGST) bagi wisatawan yang ingin mendaki Gunung Semeru.

    Kebijakan Balai Besar TNBTS ini sebagai upaya meminimalisasi terjadinya kecelakaan dan kerusakan lingkungan akibat kegiatan pendakian Gunung Semeru.

    Adapun besarnya biaya yang ditetapkan untuk penggunaan PPGST di Gunung Semeru ini adalah Rp200 ribu per hari.

    Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, mengatakan setiap kelompok pendaki Gunung Semeru wajib menggunakan jasa pendamping dari PPGST atau Pendamping Pendakian Gunung Semeru Terdaftar yang beranggotakan masyarakat sekitar.

    “Pendamping ini telah menjalani bimbingan teknis dari TNBTS untuk dapat bertanggungjawab serta memastikan seluruh pendaki menjalankan SOP yang diberlakukan TNBTS,” kata Endrip dalam keterangan pers, seperti dilansir metrotvnews.com, Desember lalu

    Baca: Ratusan kilogram sampah plastik terkumpul dari aksi bersih-bersih Gunung Semeru

    Endrip menerangkan tarif jasa pendamping sepenuhnya merupakan tanggungjawab dari PPGST. Ia menambahkan untuk informasi tarif jasa pendamping dapat diakses melalui unggahan pada akun Instagram PPGST, @ppgst_tnbts.

    “Tarif diluar dari biaya tiket pendakian Gunung Semeru. Tarif pendamping sepenuhnya diterima dan dikelola oleh PPGST dan tidak ada yang masuk ke kas negara,” jelasnya.

    Berdasarkan informasi pada akun Instagram @ppgst_tnbts, pendamping bertugas mendampingi pendaki selama pendakian Gunung Semeru. Tujuannya untuk meningkatkan keselamatan, terutama di jalur pendakian dengan medan yang sulit dan risiko tinggi, serta menjaga kelestarian lingkungan.

    Selain itu kebijakan ini akan mendukung perekonomian lokal dengan memberdayakan masyarakat lokal dan mitra TNBTS sebagai PPGST.

    Regulasi ini juga diharapkan dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan dan kerusakan lingkungan yang terjadi akibat adanya kegiatan pendakian.

    Baca: Aktivitas wisatawan akibatkan Kawasan Wisata Bromo rawan banjir

    Peran PPGST adalah memastikan kenyamanan dan keselamatan serta mengawasi agar pendaki tidak melanggar peraturan selama pendakian. PPGST bukan guide atau porter.

    Pendaki yang sudah menggunakan jasa open trip, guide dan porter tetap diwajibkan menggunakan jasa PPGST yang sudah terdaftar di TNBTS. Wadah PPGST berbentuk paguyuban yang berada dibawah binaan atau pengawasan TNBTS.

    Ada beberapa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi sebelum melakukan pendakian Gunung Semeru.

    1. Pendaki wajib melakukan reservasi secara online melalui website resmi Balai Besar TNBTS (bookingsemeru.bromotenggersemeru.org).

    2. Pendaki wajib menggunakan jasa PPGST.

    3. Kuota ditentukan berdasarkan ketersediaan jumlah PPGST.

    Baca: Tips asyik wisata ramah lingkungan

    4. Setiap grup atau kelompok pendakian minimal terdiri dari 2 orang dan maksimal 10 orang per pendamping.

    5. Pendaki tidak dapat melakukan pergantian personil. Keenam, setiap pendaki diwajibkan membawa identitas asli (KTP/KK) sesuai dengan data saat melakukan reservasi.

    Tarif tiket mendaki dan berkemah di Gunung Semeru sesuai dengan PP Nomor 36 Tahun 2024, untuk Wisatawan Nusantara sebesar Rp73 ribu (2 Hari Kerja), Rp83 ribu (1 Hari Kerja 1 Hari Libur), dan Rp93 ribu (2 Hari Libur).

    Sedangkan untuk wisatawan mancanegara sebesar Rp435 ribu (Hari Kerja dan Hari Libur).

    Untuk tarif porter saat ini berada di kisaran Rp250 ribu-Rp300 ribu per hari serta guide Rp350 ribu per hari untuk wisatawan lokal dan Rp500 ribu per hari untuk wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk biaya pendamping sebesar Rp300 ribu per hari

  • Gunung Semeru Erupsi, Pemkab Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

    Gunung Semeru Erupsi, Pemkab Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

    7cloud.asia – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur memberlakukan status tanggap darurat bencana selama 7 hari, hingga 25 November mendatang. Keputusan ini terkait dengan erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Rabu (19/11/2025) sore.

    “Saya menetapkan status tanggap darurat bencana alam erupsi Gunung Semeru melalui Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/595/KEP/427.12/2025. Keputusan itu berlaku selama 7 hari, mulai 19 hingga 25 November 2025, sebagai langkah cepat dan terpadu dalam menghadapi dampak erupsi,” kata Bupati Lumajang Indah Amperawati seperti yang dikutip Antaranews.

    Dengan adanya status tanggap darurat ini, dia mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan dan dampak dari erupsi Gunung Semeru.

    Baca: Gunung Ibu Erupsi, Ratusan Warga Mengungsi

    Selain itu mengantisipasi dengan mengamankan diri ke tempat aman sementara waktu untuk menghindari dampak erupsi sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.

    “Camat dan kepala desa diminta mengamankan serta mengarahkan warganya, sambil berkoordinasi dengan aparat lain agar langkah penanganan berjalan optimal,” katanya.

    Sebelumnya pada Rabu (19/11/2025) sekitar pukul 17.00 WIB, Gunung Semeru meletus dengan kolom abu setinggi 2 kilometer dan luncuran awan panas sejauh 7 kilometer dari puncak gunung.

    Sejumlah warga panik dan berlarian menghindari awan panas. Namun, sepasang suami istri asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur terkena imbas awan panas saat terjatuh di jembatan Gladak Perak.

    Baca: Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki Meningkat

    “Korban mengalami luka bakar sekitar 20 persen setelah terjatuh saat melintas di jembatan Perak yang licin dan tertutup abu panas akibat erupsi Gunung Semeru yang disertai luncuran guguran awan panas,” ungkap Sekda Lumajang Agus Triyono.

    Agus menjelaskan korban sempat mendapat penanganan awal di Puskesmas Candipuro dan ditangani secara medis untuk penanganan luka bakar. Malamnya korban dirujuk ke RS Pasirian untuk mendapatkan penangan lebih lanjut.

    Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) tercatat mengalami 32 kali gempa guguran selama enam jam terakhir pada Kamis pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

    Baca: Gunung Marapi Erupsi, Warga Berlarian

    “Aktivitas Gunung Semeru untuk pengamatan kegempaan tercatat 32 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-16 mm dan lama gempa 69-108 detik,” ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi.

    Dalam kurun waktu enam jam tersebut, gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang ini mengalami 25 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 10-22 mm, dan lama gempa 71-141 detik.

    “Semeru juga alami satu kali gempa embusan dengan amplitudo 3 mm, dan lama gempa 67 detik. Kemudian satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 30 mm, S-P 21 detik dan lama gempa 77 detik,” ungkap Yadi.

    Baca: Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki Masih Fluktuatif

    Status Gunung Semeru saat ini berada pada Level IV (Awas) sejak eupsi yang terjadi pada Rabu pukul 17.00 WIB.

    Dengan status ini, masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi).

    Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan.

    Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

     

  • Aktivitas Gunung Semeru Masih Tinggi, Status Awas Belum Dicabut

    Aktivitas Gunung Semeru Masih Tinggi, Status Awas Belum Dicabut

    7cloud.asia – Pasca letusan Gunung Semeru yang terjadi pada Rabu (19/11/2025) lalu, aktivitas gunung masih tinggi sehingga status masih berada pada level IV atau Awas.

    “Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, aktivitas Gunung Semeru masih tinggi, sehingga tingkat aktivitas gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut itu masih ditetapkan pada level IV,” jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Priatin Hadi Wijaya.

    Dengan status ini, masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi).

    Baca: Gunung Semeru Meletus, Pemkab Lumajang Tetapkan Status Darurat Bencana

    Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan.

    Masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

    Dalam berita yang dilansir Antaranews, berdasarkan hasil pemantauan visual selama 21-22 November 2025, hingga pukul 12.00 WIB menunjukkan aktivitas erupsi yang berkelanjutan.

    Bahkan pada 20 November 2025, teramati asap kawah putih bertekanan sedang dengan ketinggian 1.000 meter di atas puncak.

    Baca: Gunung Berapi di Bawah Laut Ini Diprediksi Akan Meletus Dalam Waktu Dekat

    “Beberapa letusan dengan tinggi 300-500 meter yang dominan mengarah ke tenggara pada periode kedua pengamatan dan aktivitas guguran lava juga masih berlangsung dengan jarak luncur mencapai 800 meter ke arah Besuk Kobokan,” ungkapnya.

    Selanjutnya Priatin menjelaskan aktivitas erupsi dan guguran lava masih terjadi.  Namun pihaknya terkendala dengan kondisi cuaca untuk mengamati.

    “Dalam periode itu, jumlah gempa yang terekam mengindikasikan bahwa aktivitas kegempaan di Gunung Semeru masih tinggi,” katanya.

    Hal ini, lanjut dia, menunjukkan masih adanya suplai dari bawah permukaan Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan.

    Baca: Gunung Marapi Erupsi, Warga Berlarian

    “Getaran lahar terekam dua kali berturut-turut dengan durasi yang panjang, menunjukkan adanya aliran lahar di Besuk Koboan dan menimbulkan letisan sekunder,” ujarnya.

    Sebelumnya pada Rabu (19/11/2025) sekitar pukul 17.00 WIB, Gunung Semeru meletus dengan kolom abu setinggi 2 kilometer dan luncuran awan panas sejauh 13 kilometer dari puncak gunung.

    Sejumlah warga panik dan berlarian menghindari awan panas. Namun, sepasang suami istri asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur terkena imbas awan panas saat terjatuh di jembatan Gladak Perak.

     

  • Dampak Erupsi Gunung Semeru Masih Dirasakan Warga, Status Tanggap Darurat Diperpanjang

    Dampak Erupsi Gunung Semeru Masih Dirasakan Warga, Status Tanggap Darurat Diperpanjang

    7cloud.asia – Status tanggap darurat akibat erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur kini diperpanjang hingga 2 Desember 2025.

    “Saya menetapkan perpanjangan status tanggap darurat bencana alam akibat erupsi Gunung Semeru,” kata Bupati Lumajang Indah Amperawati di kabupaten setempat.

    Menurutnya keputusan itu diambil untuk memastikan perlindungan maksimal bagi masyarakat serta kelancaran penanganan dampak bencana erupsi Gunung Semeru.

    “Keputusan Bupati Lumajang Nomor 100.3.3.2/610/KEP/427.12/2025 itu menegaskan bahwa upaya penanggulangan darurat harus tetap dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu,” tuturnya.

    Meski status tanggap darurat sebelumnya telah berakhir, dampak erupsi masih dirasakan warga dan berpotensi mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat.

    Baca: Gunung Semeru Erupsi, Pemkab Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

    “Perpanjangan status tanggap darurat berlaku selama tujuh hari, terhitung mulai 26 November hingga 2 Desember 2025,” katanya.

    Keputusan itu memberikan landasan hukum bagi seluruh perangkat daerah, khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), untuk terus melakukan penanganan darurat, pemulihan infrastruktur, dan perlindungan warga terdampak.

    “Perpanjangan status tanggap darurat itu bukan sekadar prosedur administratif, tetapi bentuk komitmen pemerintah daerah untuk melindungi masyarakat dari risiko bencana yang masih ada,” katanya.

    Menurutnya semua pihak harus bersinergi, mulai dari aparat daerah, relawan, hingga masyarakat, agar penanganan pascabencana berjalan lancar dan tepat sasaran.

    Baca: Aktivitas Gunung Semeru MMasih Tinggi, Status Tetap Siaga

    BPBD Kabupaten Lumajang juga siap memperkuat koordinasi semua pemangku kepentingan, memantau kondisi pengungsi, memastikan ketersediaan logistik, dan melakukan mitigasi risiko secara berkelanjutan.

    “Dengan langkah itu diharapkan dampak sosial dan ekonomi dari erupsi Semeru dapat diminimalkan, sementara warga terdampak tetap mendapatkan perlindungan maksimal,” ujarnya.

    Ia juga mendorong masyarakat untuk tetap waspada, menjaga keselamatan diri, serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

    Baca: Gunung Berapi di Bawah Laut Ini Diprediksi Akan Meletus Dalam Waktu Dekat

    “Pemerintah daerah juga memastikan seluruh bantuan dan layanan darurat akan terus tersedia bagi warga yang membutuhkan, termasuk fasilitas kesehatan, evakuasi, dan pemulihan infrastruktur,” katanya.

    Dengan perpanjangan status tanggap darurat itu, Kabupaten Lumajang kembali menunjukkan semangat gotong-royong dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam.

    “Keselamatan warga adalah prioritas utama kami. Mari semuanya dihadapi situasi ini dengan tenang, disiplin, dan saling mendukung,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews