Tag: hunian

  • Harga Rumah Terus Naik dan Generasi Milenial Sulit Miliki Hunian, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    Harga Rumah Terus Naik dan Generasi Milenial Sulit Miliki Hunian, Ini yang Dilakukan Pemerintah

    7cloud.asia – Tingginya harga rumah, mahalnya bunga KPR, dan sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak membuat generasi milenial kesulitan memiliki hunian. 

    Kalaupun bisa memiliki hunian sendiri, biasanya rumah yang bisa dibeli generasi milenial berada jauh dari pusat kota.

    Data Kementerian PUPR menyebut, 81 juta orang generasi milenial belum mendapatkan fasilitas rumah atau hunian. Hal ini harus dipikirkan bersama. 

    Bagi generasi milenial, harga beli rumah yang terus naik menjadi kendala utama untuk memiliki hunian sendiri.

    Data Kemenkeu mencatat, indeks Harga Properti Residensial (IPHR) naik sebesar 1.87% pada kuartal pertama 2022. Kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah.

    Baca: Alternatif pembiayaan perumahan untuk masyarakat berpendapatan rendah

    Kenaikan harga rumah terjadi karena adanya penyesuaian harga yang dilakukan developer sejak awal 2022 ketika insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah mulai diberlakukan.

    Ketua Bidang Ekonomi The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip dalam diskusi bertajuk Prospek dan Tantangan Pembiayaan Perumahan Rakyat, Khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada Selasa (11/7/2023) menguatkan fakta ini.

    Ia mengatakan, dalam setahun terakhir, kenaikan IHPR relatif merata yaitu terjadi pada seluruh jenis tipe rumah, dengan kenaikan IHPR tertinggi terjadi pada rumah tipe menengah.

    Tingginya kenaikan IHPR tipe menengah ini mengindikasikan bahwa rumah tipe menengah saat ini relatif lebih diminati, dibandingkan dengan rumah tipe Kecil dan Besar.

    Baca: Rumah mungil sedang ngetrend, ini alasannya

    Sunarsip juga mencatat pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) terjadi pada seluruh tipe rumah, baik KPR Tapak maupun KPR Susun.

    “Untuk kelompok milenial sendiri, dari pemantauan IEI, makin melirik rumah susun tipe kecil. Kami perkirakan mobilitas menjadi alasan mereka,” ujar Sunarip 

    Pemerintah sendiri terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan hunian atau rumah bagi generasi milenial ini. 

    Saat meresmikan Hunian Milenial Semesta Mahata Margonda, Depok pada April lalu, Presiden Jokowi memerintahkan agar lahan milik PT KAI dikembangkan menjadi hunian vertikal yang dibangun dengan konsep Transit Oriented Development atau TOD.

    Baca: Salah kaprah pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia

    Jokowi menginginkan agar konsep TOD hunian milenial dapat dikembangkan di semua kota. Utamanya lahan-lahan PT KAI yang tidak termanfaatkan dengan baik dapat dikerjasamakan dengan BUMN seperti PT PP, Perumnas dan Kementerian PUPR untuk hunian milenial.

    “Harus kita bangun sebanyak-banyaknya hunian seperti ini,” kata Jokowi seperti dikutip di laman resmi Setkab.

    Hunian Milenial Semesta Mahata Margonda, Depok ini untuk unit subsidi dijual sekitar Rp 200 juta, sedangkan unit tanpa subsidi antara Rp 300 juta hingga Rp 500 juta.

    “Cicilannya juga murah. Sehingga sangat pas sekali kalau untuk hunian anak-anak muda kita,” ujar Jokowi kala itu.

    Baca: Slow city, konsep tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Dalam kesempatan itu, , Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan pihaknya sudah menyelesaikan hunian milenial di 7 lokasi dengan pendanaan total senilai Rp5 triliun.

    “Total unit yang dibangun mencapai 8.348 dan tingkat kelakuan-nya di atas 65%, dan 41% adalah milenial yang beli tempat ini,” ujar Erick dalam kesempatan yang sama.

    Hunian vertikal yang ditujukan untuk generasi milenial ini sudah ada di Depok, Jakarta, Tangerang, Bogor dan Karawang. Sementara rumah susun dengan konsep TOD di Klender dijadwalkan selsai usai Lebaran.

    Namun hunian vertikal bukan satu-satunya solusi untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi generasi milenial khususnya yang tinggal di perkotaan.

    Baca: Generasi alfa, generasi yang akan membentuk dunia kerja di masa depan

    Ada sejumlah opsi yang bisa dijajaki, Koalisi Berhuni Untuk Semua misalnya menginisiasi program coresidence, di mana milenial tak harus tinggal terlalu jauh dari pusat kota.

     

     

  • Salah Kaprah Pembangunan Hunian Berkonsep TOD di Indonesia

    Salah Kaprah Pembangunan Hunian Berkonsep TOD di Indonesia

    7cloud.asia – Sejumlah hunian yang diklaim menerapkan konsep transit oriented development atau TOD kini tengah dibangun di Jakarta. Salah satu di antaranya adalah Hunian Milenial di Pondok Cina, Depok. 

    Presiden Joko Widodo juga sudah memerintahkan agar hunia dengan konsep TOD ini  dibangun di kota-kota besar di Indonesia selain Jakarta, mengingat saat ini jutaan warga belum memiliki tempat tinggal.

    Lantas, apakah pembangunan hunian dengan konsep TOD ini bisa menjawab masalah kemacetan di Jakarta sekaligus memenuhi kebutuhan hunian warga Jakarta?

    Baca Juga: Menengok Pemberdayaan Masyarakat Pesisir sebagai Kampung Bahari Nusantara

    Ketua Bidang Ekonomi The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip mengatakan pembangunan hunian dengan konsep TOD memang menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan masyakarat urban. 

    Hal ini disampaikan Sunarsip dalam diskusi bertajuk Prospek dan Tantangan Pembiayaan Perumahan Rakyat, Khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada Selasa (11/7/2023).

    Lebih lanjut, ia melihat hunian/kawasan dengan konsep TOD di Jakarta lebih menyasar kelompok menengah atas.

    Baca Juga: LRT Jabodebek Resmi Diujicobakan, Segini Kisaran Tarifnya

    Hal ini karena Hunian dengan konsep TOD ini lebih banyak dibangun dan dimiliki swasta yang orientasinya lebih mengejar keuntungan.

    “Hunian TOD akan mampu menjawab kebutuhan kelompok masyarakat berpendapatan rendah jika lahan, pelaksana dan pembiayaannya dilakukan dan dimiliki pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah,” ujar Sunarsip.

    Terpisah Senior Urban Planning, Gender and Social Inclusion Associate The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), Deliani Poetriayu Siregar menilai ada mislead dalam pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia. 

    Baca Juga: Gerakan Rumah Mungil Sedang Ngetrend, Apa Manfaatnya untuk Lingkungan?

    Deliani memaparkan, konsep hunian TOD sebenarnya merujuk pembangunan satu kawasan sedemikian rupa sehingga orang yang tinggal di kawasan itu juga melakukan aktifitasnya di tempat tersebut.

    “Sehingga mobilitas penghuninya bisa dilakukan dengan berjalan kaki ataupun bersepeda. Baru pada pemenuhan layanan untuk tingkat selanjutnya adalah dengan membangun dan menyediakan transportasi publik secara massal,” terang Deliani kepada 7cloud.asia, Rabu (12/7/2023) melalui zoom.

    Sementara dalam prakteknya, pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia seolah-olah hanya menempelkan hunian pada area stasiun kereta komuter maupun LRT/MRT.  

    Baca Juga: Penataan Transportasi Publik dan Pembangunan Kawasan Berkonsep TOD Akankah Kurangi Kemacetan di Jakarta?

    Padahal, lanjutnya, kawasan di sekitar hunian yang disebut mengadopsi konsep TOD tersebut  belum terbangun fasilitas lain yang dibutuhkan untuk bisa memenuhi kebutuhan harian mereka yang tinggal.

    “Di kawasan tersebut belum terbangun untuk pejalan kaki dan bersepeda, sehingga mereka yang tingal masih harus pergi ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan pribadi,” imbuhnya.

    Menurut Deliani, hunian berkonsep TOD kini berubah menjadi branding. “Karena kami memiliki property dekat dengan transportasi publik, ujarnya, maka kami konsep TOD. Padahal belum tentu hunian tersebut memenuhi syarat TOD,” tandasnya.

    Baca Juga: Menikmati Kreatifitas Urang Bandung di Pasar Kreatif Bandung

    Untuk mendekatkan agar pembangunan yang salah kaprah ini dengan konsep TOD yang sebenarnya, maka pengembang perlu menyediakan dan membangun fasilitas pendukung yang dibutuhkan. 

    Namun untuk itu, pengembang harus melibatkan pemilik persil, agar penambahan dan pelengkapan fasilitas yang biasanya berujung dengan kenaikan harga tersebut tidak justru mengusir penghuni awalnya.

    Sependapat dengan Sunarsip, Deliani juga melihat pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia juga belum memiliki konsep affordability atau keterjangkauan.

    Baca Juga: Oktober 2023, Bandara Kertajati Diharapkan Sudah Beroperasi Penuh

    Padahal, menurutnya, aspek keterjangkauan ini penting untuk mewujudkan TOD yang berkeadilan. Hal ini guna menghindari terjadinya jentrifikasi (penghuni asli ‘terusir’ karena tidak mampu membayar biayanya).  

    Hunian dengan harga dan biaya hidup terjangkau menjadi poin kunci, selagi orang belum bisa tinggal dekat dengan tempat dia beraktivitas.

    Saat ini, ITDP bersama sejumlah lembaga laiinya sedang menggodok sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk ‘menyempurnakan dan menyesuaian’ konsep asli TOD dengan kondisi yang ada di Indonesia. 

  • Harga Rumah di Kota Besar Makin Mahal, Haruskah Kita Punya Hunian Sendiri?

    Harga Rumah di Kota Besar Makin Mahal, Haruskah Kita Punya Hunian Sendiri?

    7cloud.asia – Asteria, 35 tahun, yang hidup bersama orang tuanya di bilangan Jakarta Selatan, berharap bisa memiliki hunian atau rumah sendiri.

    “Buat gw, punya rumah sendiri itu bentuk pembuktian diri,” ujar Asteria yang lahir dan besar di Jakarta.

    Namun, posisinya sebagai sandwich generation dan orang tua tunggal yang harus patungan membiayai pengeluaran di rumah orang tua dan menyekolahkan anak menyulitkannya untuk bisa menyisihkan tabungan demi bisa membayarkan uang muka.

    Apalagi, keluarganya menilai bahwa dengan statusnya sebagai orang tua tunggal, akan lebih baik tinggal bersama di rumah orang tua untuk menghindari kasak-kusuk tetangga.

    Selain itu ada isu utama di luar itu, yakni mahalnya harga rumah di Jakarta. Isu soal mahalnya harga rumah atau properti di Jakarta memang bolak-balik ramai diperbincangkan warganet.

    Baca: Gerakan rumah mungil sedang ngetrend, ini manfaatnya untuk lingkungan

    Di kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah satelitnya, harga rumah tapak dibanderol ratusan juta bahkan miliaran–-kadang dengan ukuran terbilang kecil dan lokasi yang jauh dari daerah perkantoran.

    Belum lagi, bagi mereka yang menggunakan kredit pemilikan rumah (KPR), seringkali butuh puluhan tahun untuk mengangsur cicilan dan bunganya.

    Saat ini, terdapat 12,71 juta backlog perumahan di Indonesia. Sementara, harga properti terus mengalami kenaikan tiap tahunnya–pada 2022 kenaikannya tercatat sebesar hampir 4% dari tahun sebelumnya.

    Di tengah kondisi seperti ini, haruskah kita memaksakan diri membeli rumah?

    The Conversation Indonesia berbicara dengan dua orang pakar mengenai perkara ini. Keduanya menjawab bahwa keputusan untuk memiliki rumah adalah pilihan masing-masing individu, meski mempunyai hunian sendiri tetaplah pilihan terbaik.

    Baca: Milenial makin sulit miliki hunian sendiri

    Adinda Tenriangke Mungkar, Direktur Utama The Indonesian Institute, berkata pada akhirnya keputusan pembelian rumah kembali ke intensi masing-masing.

    Apalagi, ada yang berpendapat bahwa membeli rumah adalah indikator keberhasilan dan lebih bijak daripada menghabiskan uang untuk barang-barang konsumsi. Tentunya, tak semua individu sepakat dengan persepsi ini.

    “Menurut saya, buat beberapa orang bisa jadi itu adalah keharusan, tapi bisa jadi bukan keharusan juga buat yang lain karena kondisinya,” ujar Adinda.

    Kondisi Asteria di atas misalnya, bisa jadi ilustrasi bagaimana memiliki hunian sendiri tak harus jadi prioritas utama.

    Bagi Adinda, membeli atau tak membeli rumah harus mempertimbangkan cost (beban) dan benefit (keuntungan) masing-masing–termasuk lingkungan, fasilitas umum maupun fasilitas pendidikan yang baik.

    Baca: Alternatif pembiayaan rumah untuk kelompok berpendapatan rendah

    Mereka yang memiliki gaya hidup nomaden, misalnya, bisa jadi akan lebih nyaman mengontrak hunian.

    Namun, menurutnya, memiliki rumah tetaplah menjadi daya tarik tersendiri. Selain memberikan privasi dan keleluasaan untuk mendesain, rumah adalah aset yang harganya tak mengalami penyusutan.

    Membeli rumah mengasah literasi keuangan untuk menabung dan mengalokasikan pengeluaran untuk cicilan, kebutuhan, dan aktivitas bersenang-senang.

    Ia menambahkan bahwa selalu ada konsekuensi dan trade-off dari pembelian rumah yang mesti dipahami pembeli sebelum transaksi–-entah itu beban dan bunga cicilan jangka panjang, jarak, dan kompromi–kompromi lain yang mesti dipertimbangkan sebelum mengambil hunian.

    Senada, Wahyu Fahrul Ridho, dosen manajemen keuangan dari UPN Veteran Jawa Timur, menambahkan bahwa dalam situasi saat harga rumah makin mahal ini, keputusan untuk membeli rumah harus mempertimbangkan banyak faktor yang akan sangat berbeda setiap orang sesuai dengan profil resiko, keuangan dan aspirasi individu.

    Namun, ia menekankan pentingnya rumah sebagai proteksi hari tua.

    Baca: Memulai konsep slow living dari rumah sendiri

    Saat kita pensiun, ujarnya, penghasilan kita akan berkurang atau bahkan hilang sepenuhnya. Sehingga akan ada risiko beban keuangan yang besar jika kita masih harus menyewa tempat tinggal pada saat pensiun.

    “Rumah bisa juga diwariskan untuk mengurangi beban anak kita di masa depan,” terang Wahyu.

    Untuk bisa matang membeli rumah, Wahyu pun mengedepankan pentingnya perencanaan keuangan perlu dilakukan sebagai langkah awal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berinvestasi di aset keuangan (saham, reksadana, obligasi, dan lain-lain).

    Alternatif lain
    Pilihan juga merujuk pada bagaimana luasnya produk yang disediakan pasar. Artinya, mereka yang ingin membeli maupun menyewa sebetulnya punya beragam opsi yang bisa disesuaikan dengan kantong masing-masing.

    Menurut Wahyu, alternatif yang bisa diambil pekerja muda adalah dengan sewa tempat tinggal seperti kos, apartemen dan mengontrak yang lokasinya dekat dengan tempat kerja.

    Selain itu, jika belum menikah juga bisa mempertimbangkan untuk co-living sehingga menghemat biaya.

    Sementara menurut Adinda, dinamika pasar properti sebetulnya cukup sigap menjawab kebutuhan konsumen.

    Baca: BPS mencatat 40 persen warga tinggal di rumah tidak layak

    Ia mencontohkan banyaknya pengembang yang membangun kompleks perumahan di daerah satelit yang dekat dengan akses tol dengan harga yang jauh lebih murah dari di tengah kota.

    Atau, hunian lengkap dengan perabot yang bisa disewa dalam jangka panjang.

    Uang muka yang tinggi kerap jadi penghambat yang menyurutkan niatan membeli rumah. Terkait hal ini, Adinda memaparkan bagaimana banyak opsi uang muka yang sebenarnya ditawarkan pasar.

    “Misalnya model bekerja sama dengan bank atau langsung ke pengembangnya, ada tawaran,” jelasnya.

    Tak hanya itu, di tengah tren bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan hybrid (bergantian antara bekerja dari rumah atau kantor), membeli rumah di kota-kota kecil yang harganya lebih ramah di kantong sebetulnya bisa jadi alternatif.

    Isu ini sebetulnya sempat diangkat oleh seorang warganet yang membangun rumah di sebuah kota di Jawa Tengah, meski banyak menuai kritik pedas terkait gentrifikasi.

    Baca: Salah kaprah pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia

    Ini merujuk pada perpindahan warga dengan kelas pendapatan lebih tinggi ke wilayah yang standar hidupnya lebih rendah dan berpotensi menimbulkan kenaikan harga-harga di atas pemasukan warga lokal.

    Meski enggan mengomentari isu gentrifikasi, Wahyu berpendapat bahwa dari perspektif bisnis dan ekonomi, kepadatan penduduk yang meningkat akan menarik minat pengembang dan investor untuk mengembangkan daerah tersebut dan meningkatkan ekonomi secara lokal. Catatannya, pemerintah harus hadir sebagai regulator agar tak merugikan warga setempat.

    Kota kecil dapat menjadi solusi dengan tren gaya WFH dan hybrid working saat ini.

    “Harga yang lebih terjangkau dibanding kota besar dan kualitas hidup yang lebih baik dari tingkat kualitas polusi dan kepadatan penduduk bisa menjadi keuntungan tersendiri,” ujarnya.

    Adinda pun sepakat dengan pendapat ini. Asal, perpindahan yang dilakukan tidak melanggar hukum dan menghormati warga lokal.

    “Kita bagaimanapun kan makhluk sosial. Kalau ada pendatang dari luar, ya ada permisi-permisinya,” ujar Adinda.

    Baca: Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Harga tinggi, perlukah pemerintah turun tangan?
    Pemerintah sebenarnya bukannya tak turun tangan. Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), misalnya mengalokasikan Rp 34 triliun untuk penyediaan rumah subsidi tahun ini.

    Wahyu, misalnya, menyoroti bagaimana dari segi pembiayaan pemerintah telah melakukan berbagai inisiatif untuk mengurangi backlog dengan skema pendanaan seperti Fasilitas Likuiditas Perumahan (FLPP).

    Pemerintah jud memberikan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), dan KPR Tabungan Perumahan Rakyat.

    “Namun inisiatif ini hanya menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, sementara backlog masyarakat kelas menengah juga perlu untuk diatasi,” ujar Wahyu.

    Sementara, Adinda berpendapat bahwa pemerintah tak sebaiknya turun tangan mengatur harga, mengingat dinamika pasar yang sebetulnya sudah cukup baik dalam membaca sinyal. Apalagi, pemerintah punya reputasi yang buruk perihal atur-mengatur harga.

    Yang perlu dilakukan pemerintah, menurutnya, adalah memastikan penegakan hukum yang kuat.

    “Yang penting, pemerintah memastikan bahwa hak kepemilikan itu dihargai jangan sampai ada proses transaksi yang tidak jelas. Misalnya, tanahnya belum diurus, waktu pembebasan lahan masih bermasalah, lebih baik seperti itu,” ujarnya.

    Baca: Kota di dunia yang mengutamakan pejalan kaki

    Baik Adinda dan Wahyu juga menekankan bahwa pemerintah lebih baik memastikan transportasi umum terintegrasi dan mengembangkan daerah satelit agar populasi tak menumpuk di kota-kota besar.

    Nah, yang terpenting, kita sebagai konsumen juga mesti peka agar tak ikut melambungkan harga.

    Misalnya, Wahyu menghimbau untuk membeli rumah untuk investasi (terutama spekulasi) secara makro dapat menaikkan harga rumah, sehingga makin membuat rumah menjadi tak terbeli bagi yang membutuhkan tempat tinggal.

    Atau, menurut Adinda, jika mendapatkan rumah susun atau hunian bersubsidi, ada baiknya memang ditempati langsung dan bukan disewakan agar tak merusak harga pasaran.

    Penulis: , Business + Economy Editor The Conversation

  • Mayoritas Hunian di IKN adalah Hunian Vertikal

    Mayoritas Hunian di IKN adalah Hunian Vertikal

    7cloud.asia – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menyebutkan komposisi hunian di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara akan terbagi menjadi 85 persen berbentuk hunia vertikal dan 15 persen hunian tapak.

    Deputi Bidang Sarana dan Prasarana OIKN Silvia Halim mengatakan hunian vertikal di IKN Nusantara terbangun pada area-area yang berdekatan dengan pusat kegiatan.

    “Artinya, semakin dekat suatu area dengan pusat kegiatan, maka hunian yang dibangun semakin padat (sehingga dibangun hunian vertikal),” katanya.

    Dengan demikian, jarak tempuh masyarakat ke pusat kegiatan dapat diakomodasi dengan transportasi publik, berjalan kaki, atau bersepeda.

    Baca Juga: Diajak Jokowi Lihat Progres Pembangunan IKN, Begini Komentar Artis

    Pembangunan hunian vertikal di IKN ini selaras dengan konsep Kota 10 Menit atau 10 Minutes City.

    Silvia menambahkan, IKN menerapkan konsep transformasi bermukim, di antaranya dengan perubahan paradigma dalam berhuni di lahan yang lebih efektif dan efisien.

    Beberapa cara yanga dilakukan yakni tinggal di hunian vertikal, sehingga akan tercipta hunian dan kepadatan yang ideal.

    Kemudian, tinggal di kawasan kompak (compact), sehingga semua kebutuhan dapat terlayani dan dapat diakses dengan cepat dan mudah dijangkau.

    Baca Juga: Supermodel Berdarah Palestina, Gigi Hadid Kutuk Perang Hamas-Israel

    Serta, menerapkan bangunan hijau (green building) dan teknologi cerdas dalam kehidupan (smart living) untuk meningkatkan kenyamanan penghuni sekaligus menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability).

    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, konsep hunian eksisting yang umumnya berupa bangunan tunggal tidak sejalan dengan arah pengembangan wilayah IKN untuk menjadi “Kota 10 Menit”.

    Oleh karena itu, kebutuhan hunian dan fasilitasnya dimodifikasi melalui penggabungan berbagai layanan dalam satu bangunan dengan memperhatikan standar kenyamanan yang berlaku.

    Serta menyediakan hunian dalam bentuk rumah susun atau apartemen, dengan tetap memperhatikan standar minimal bagi tiap kebutuhan, seperti jabatan dan jumlah anggota rumah tangga.

    Baca Juga: Tantangan Menerapkan Infrastruktur Ramah Lingkungan dalam Perencanaan Kota

    Saat ini, telah dibangun rumah jabatan menteri di IKN sebanyak 36 unit rumah berbentuk tapak, yang 32 unit di antaranya telah selesai.

    Juga dibangun hunian ASN dan aparatur pertahanan dan keamanan dengan konsep hunian vertikal yang keseluruhannya ditargetkan selesai pada 2024,

    Hal ini seiring dengan pemindahan ASN ke IKN yang direncanakan sebanyak 16.990 ASN.

     

  • Penuhi Kebutuhan Hunian Layak, Pemprov DKI Jakarta Berencana Membangun dan Merevitalisasi Sembilan Rusunawa

    Penuhi Kebutuhan Hunian Layak, Pemprov DKI Jakarta Berencana Membangun dan Merevitalisasi Sembilan Rusunawa

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tercatat sudah membangun sebanyak 33.830 unit rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang tersebar di lima wilayah kota administrasi hingga tahun 2024.

    “Sampai dengan tahun 2024 sebanyak 156 blok, 87 tower dengan jumlah 33.830 unit yang tersebar di lima wilayah kota,” ujar Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) DKI Jakarta Meli Budiastuti seperti dilansir Antaranews.com.

    Rusunawa merupakan bentuk penyediaan fasilitas hunian vertikal untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terhadap hunian layak dan terjangkau.

    Masyarakat dapat menghuni rusunawa dengan membayar uang sewa setiap bulan. Sistem ini akan terus didorong hingga lima tahun ke depan.

    Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas PRKP DKI Jakarta berencana membangun dan merevitalisasi sembilan rusunawa antara lain Rusunawa Rorotan IX tahap I JU (dua tower 16 lantai, 484 unit) dan Rorotan IX tahap II JU (5 tower 16 lantai, 1.210 unit).

    Baca: Warga kolong Tol Angke dipindahkan ke Rusunawa

    Kemudian, Rusunawa Padat Karya tahap II JU (2 tower 16 lantai, 381 unit), revitalisasi Rusunawa Komarudin JT (5 tower 16 lantai, 1.059 unit), revitalisasi Rusunawa Marunda cluster C JU (5 tower 20 lantai, 1.440 unit).

    Lalu, pembangunan Rusunawa Jalan Tongkol tahap II JU (3 tower 7 lantai, 206 unit), pembangunan Rusunawa Bojong Indah JB (3 tower 18 lantai, 604 unit),

    Juga pembangunan Rusunawa Semper Cakung Drain tahap I (4 tower 16 lantai, 798 unit), dan pembangunan Rusunawa Muara Angke (1 tower 16 lantai 250 unit).

    “Selain sembilan lokasi tersebut, Dinas PRKP masih memiliki stok lahan di enam lokasi yang baru akan dilakukan proses DED (detail engineering design/rancang bangun rinci) pembangunan rusunawa sebanyak 27 tower, 5.148 unit,” ujar Meli.

    Sesuai data BPS tahun 2021, angka kebutuhan hunian layak di DKI sebanyak 268.489 kepala keluarga (KK), sedangkan angka kebutuhan pemilikan rumah sebanyak 1.862.440 KK.

    Baca: Harga sewa rusunawa Pasar Rumput diturunkan

    Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta menggencarkan pembangunan rusunawa untuk memenuhi kebutuhan perumahan warga Jakarta.

    Salah satu rusunawa terbaru yang sudah rampung dibangun dan segera diresmikan yakni Rusunawa Green Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    Rusunawa Jagakarsa memiliki sebanyak 723 unit hunian. Dari jumlah ini, sebanyak 58 unit (terdiri dari tiga tipe unit disabilitas tiga dan tipe unit keluarga 55 unit) untuk pemohon kategori disabilitas.

    Untuk pemohon kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terdampak atau terprogram (unit keluarga dengan dua kamar tidur) sebanyak 266 unit.

    Sementara untuk pemohon kategori MBR atau Umum (unit keluarga dengan dua kamar tidur) sebanyak 399 unit.

  • Kehidupan Kota Makin Sibuk, Hunian dengan Konsep Micro Living Jadi Pilihan Masyarakat Urban

    Kehidupan Kota Makin Sibuk, Hunian dengan Konsep Micro Living Jadi Pilihan Masyarakat Urban

    7cloud.asia – Kehidupan kota yang sibuk mengakibatkan perubahan pola pikir generasi muda urban dalam memilih hunian atau tempat tinggal.

    Ditambah kondisi semakin padatnya kawasan perkotaan yang mengakibatkan ketersediaan lahan untuk hunian semakin terbatas dan semakin mahal

    Rumah besar dengan halaman luas kini bukan lagi menjadi pilihan utama, melainkan hunian fungsional, estetis, dan minimalis.

    “Fenomena ini dikenal sebagai micro living, yakni konsep hunian yang menekankan efisiensi ruang dan gaya hidup praktis,” kata Direktur Penjualan dan Pemasaran Savyavasa, Kristien Joe dalam konferensi pers Beyond the Blueprint Savyavasa, Selasa (20/5/2025).

    Bagi banyak anak muda di kota besar, konsep micro living tak sekadar solusi keterbatasan lahan, melainkan juga cerminan nilai efisiensi, keberlanjutan, dan kebebasan dalam menentukan gaya hidup.

    Baca: Harga rumah di kota besar makin mahal

    Dengan ruang secukupnya, mereka terdorong untuk hidup lebih selektif, terorganisasi, dan sadar akan kebutuhan nyata.

    Meski tidak mengutamakan luas lahan, hunian micro-living tetap dapat menciptakan kesan mewah.

    Kristien menambahkan, seiring perubahan zaman, masyarakat mulai melihat hunian bukan hanya dari luas lahan, tetapi dari seberapa besar hunian tersebut mampu menunjang mobilitas dan produktivitas penghuninya.

    “Kalau dulu orang mencari hunian mewah yang besar, sekarang tren sudah bergeser. Masyarakat mulai mencari hunian minimalis atau mewah dengan tata ruang yang fungsional,” katanya.

    Salah satu aspek penting dalam menerapkan hunian micro-living adalah pemilihan furnitur. Furnitur multifungsi yang mendukung produktivitas menjadi elemen utama.

    Baca: Gerakan rumah mungil sedang ngetren

    Meski jumlah perabotan terbatas, setiap elemen tetap memiliki nilai guna tinggi.

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penjualan PITA Collections, Ika Kusuma Putri, menyampaikan bahwa furnitur dalam konsep ini tidak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga fleksibilitas dan modularitas.

    “Untuk furnitur, kita mengutamakan fleksibilitas, dalam arti modular, agar bisa disesuaikan dengan ruang yang tersedia,” jelas Ika.

    Kristien Joe menambahkan, Savyavasa tidak secara langsung mengadopsi konsep micro-living, namun menerapkan prinsip luxury minimalism dalam desain unitnya.

    “Kami menghadirkan hunian mewah yang sangat fungsional, disesuaikan dengan kebutuhan masa kini. Bagi kami, kemewahan bukan lagi soal 1.000 atau 2.000 meter persegi, tetapi bagaimana seseorang bisa merasa nyaman di hunian yang pas,” kata Kristien.

    Baca: Zilenial kian kesulitan miliki hunian

     

  • Persiapan Hunian Kampung Bayam Memasuki Tahap Akhir

    Persiapan Hunian Kampung Bayam Memasuki Tahap Akhir

    7cloud.asia – Proses persiapan hunian di Kampung Susun Bayam saat ini telah memasuki tahap akhir. Adapun proses hunian dilakukan dengan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

    PT Jakarta Propertindo (Jakpro) terus memastikan seluruh proses administratif hunian Kampung Bayam dijalankan sesuai Standard Operating Procedure (SOP) secara bertahap, terukur dan taat pada regulasi yang berlaku untuk menjamin kepastian hukum bagi semua pihak.

    Direktur Utama PT Jakpro, Iwan Takwin mengatakan, dalam pelaksanaannya, pihaknya juga aktif berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk warga eks Kampung Bayam untuk memastikan setiap langkah berjalan inklusif dan partisipatif.

    Ia menyampaikan, suasana penuh semangat terlihat dari keterlibatan aktif warga dalam menata lingkungan mereka selama masa persiapan ini.

    Beragam kegiatan dilakukan secara swadaya dan kolaboratif, seperti pembangunan kolam ikan, penataan tanah untuk urban farming, hingga pengelolaan ruang terbuka yang akan mendukung kehidupan berkelanjutan di kampung susun tersebut.

    Baca: Penyelesaian relokasi eks warga Kampung Bayam

    “Proses ini bukan hanya soal penyediaan hunian, tetapi juga proses membangun kehidupan yang lebih baik bersama-sama,” ujarnya, Rabu (2/7/2025).

    Iwan mengapresiasi proses menuju hunian ini berjalan dengan baik dan penuh semangat kolaboratif. Ia menilai, sinergi antara warga dan instansi pemerintah dapat meningkatkan optimisme publik.

    “Warga eks Kampung Bayam tidak hanya menanti, tapi ikut membentuk lingkungan barunya dengan tangan mereka sendiri. Ini adalah contoh nyata bagaimana hunian bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang tumbuh yang dibangun Bersama tentunya akan selalu prosesnya akan selalu diupdate,” katanya.

    Iwan menjelaskan, dukungan dari berbagai instansi pemerintah turut mempercepat proses hunian Kampung Bayam ini.

    Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP), Dinas Sumber Daya Air (SDA), serta dinas-dinas terkait lainnya hadir dan berkolaborasi dalam penyediaan sarana prasarana serta pembinaan kegiatan urban farming.

    Baca: Mencari solusi pembangunan kota yang berkelanjutan

    Kegiatan urban farming ini akan menjadi bagian dari ekosistem kampung susun Kampung Bayam ke depannya.

    Iwan menambahkan, Jakpro juga terus berkoordinasi dan menyampaikan setiap perkembangan kepada warga secara terbuka.

    Menurutnya, hal ini menjadi wujud komitmen dalam menciptakan hunian yang layak, manusiawi, dan berbasis partisipasi masyarakat.

    “Proses ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan kampung susun tidak hanya soal infrastruktur, namun juga proses sosial yang mengakar dan menyatukan banyak pihak. Dengan semangat gotong royong dan harapan baru, Kampung Susun Bayam siap menjadi simbol transformasi hunian berbasis komunitas di Kota Global seperti Jakarta,” tandasnya.

  • Penuhi Aspek Legal, Warga Kampung Bayam Bisa Huni Rusun Pekan Ini

    Penuhi Aspek Legal, Warga Kampung Bayam Bisa Huni Rusun Pekan Ini

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan seluruh proses penghunian Kampung Bayam, Tanjung Priok, Jakarta Utara, telah memenuhi aspek legal.

    Demikian Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta, Afan Adriansyah, menanggapi pemberitaan di media massa terkait Kelompok Tani Kampung Bayam yang belum menghuni Hunian Pekerja Pendukung Operasional (HPPO) Jakarta International Stadium (JIS).

    “Pemprov DKI Jakarta berkomitmen menyelesaikan masalah hunian Kelompok Tani Kampung Bayam sesuai dengan tata kelola pemerintahan dan alas hukum yang berlaku,” jelas Afan, di Jakarta, pada Minggu (27/7/2025).

    Dia menegaskan, sejak seremonial penyerahan kunci dilaksanakan, sejumlah proses secara simultan terus dilakukan.

    Langkah ini antara lain meliputi penyiapan administrasi terkait pemanfaatan lahan hingga penerbitan kontrak hunian HPPO JIS.

    Baca: Persiapan hunian kampung bayam memasuki tahap akhir

    Seluruh proses didampingi langsung oleh aparat penegak hukum, dalam hal ini Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun) Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta untuk memenuhi aspek legal

    Lebih lanjut, Afan memaparkan, selama proses persiapan administratif kontrak hunian, Kelompok Tani Kampung Bayam memperoleh pelatihan dan melaksanakan pembangunan urban farming yang dibiayai oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro).

    Komponen pengeluaran operasional, baik pembangunan urban farming, biaya pelatihan, maupun operasional Kelompok Tani Kampung Bayam telah dibayarkan, termasuk biaya listrik bulanan di hunian sementara.

    Hingga saat ini, PT Jakpro telah mengeluarkan biaya sebesar Rp854 juta. Setiap bulan, PT Jakpro membayar tagihan listrik hunian sementara sebesar Rp68 juta agar Kelompok Tani Kampung Bayam dapat hidup layak.

    Baca: Relokasi eks warga Kampung Bayam

    PT Jakpro juga membiayai program pembangunan urban farming di area JIS sebagai bentuk dukungan pada program Pemprov DKI, mencakup honor/upah Kelompok Tani Kampung Bayam sebagai peserta pelatihan.

    “PT Jakpro juga memenuhi kebutuhan harian warga hunian sementara, karena para kepala rumah tangga sedang mengikuti program pelatihan urban farming,” terangnya.

    Adapun proses penghunian HPPO JIS kini telah memasuki fase final. Pada Senin-Selasa, 28-29 Juli 2025, Kelompok Tani Kampung Bayam dijadwalkan menandatangani kontrak hunian dengan PT Jakpro dan secara paralel mulai menghuni HPPO JIS.

    “Kami berharap, seluruh prosesnya bisa diikuti dengan baik. Dengan demikian, proses penghunian pun berlandaskan aspek legal,” tutup Afan.

  • Warga Eks Kampung Bayam, Jakarta Utara Tandatangani Kontrak Unit HPPO JIS

    Warga Eks Kampung Bayam, Jakarta Utara Tandatangani Kontrak Unit HPPO JIS

    7cloud.asia – Sebanyak 41 perwakilan warga eks Kampung Bayam, Jakarta Utara sepakat untuk menandatangani kontrak dan bersedia pindah ke unit Hunian Pekerja Pendukung Operasional (HPPO) Jakarta International Stadium (JIS).

    Kesepakatan ini dilakukan setelah Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) menggelar sosialisasi kontrak sewa hunian, penandatanganan kontrak dan serah terima kunci HPPO JIS di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Selasa (29/7/2025).

    Direktur Bisnis dan Operasional PT Jakarta Propertindo (Perseroda) (Jakpro), I Gede Adnyana T mengatakan, tahapan proses ini memang lebih lama dari perkiraan sebelumnya yakni pada Mei 2025 lalu.

    “Kemarin prosesnya turun naik segala macam, karena kita ingin semua aman memenuhi aspek good coorporate goverment (GCG). Karena rasa sayang, jangan sampai semua diburu-buru tapi akhirnya, ending-nya jelek,” kata Adi.

    Ditegaskan Adi, setelah tahapan kajian aspek GCG ini rampung pihaknya bisa memberikan tujuh jaminan kepada warga.

    Pertama mereka dapat menghuni HPPO JIS mulai hari ini setelah menandatangani kontrak dan melalui proses pengundian unit.

    Baca: Penuhi aspek legal eks warga Kampung Bayam bisa seger huni Rusun

    Kedua, pihaknya akan menerima warga eks Kampung Bayam tinggal di HPPO JIS yang ingin bekerja sebagai pegawai JIS selama sesuai ketentuan berlaku dan kebutuhan lapangan kerja. Contohnya, bidang pekerjaan yang bisa diberikan di antaranya gardener dan cleaning service.

    Ketiga, selama enam bulan ke depan hingga 31 Desember mendatang ditetapkan menjadi masa grass periode. Selama masa grass periode itu mereka bisa tinggal di HPPO JIS tanpa ditagih bayaran.

    Keempat, selama mereka tinggal dalam masa grass periode itu dipastikan bukan sebagai utang. Kemudian kelima, Adi menegaskan pihaknya akan menjadikan komitmen bersama ini lebih baik.

    Keenam, Adi mengatakan hasil yang bisa didapat oleh warga eks Kampung Bayam seperti urban farming dan beternak diperuntukkan bagi mereka.

    Lalu yang ketujuh, Jakpro akan membantu distribusi berbagai produk hasil warga eks Kampung Bayam ke BUMD lainnya.

    Dilanjutkan Adi, sebelum masa grass periode berakhir pihaknya bersama Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta untuk membahas kelanjutan regulasi HPPO JIS.

    Baca: Persiapan hunian Kampung Bayam masuki tahap akhir

    Sebab, setelah masa grass periode berakhir pengelolaan HPPO JIS akan diserahkan PT Jakpro ke Dinas PRKP DKI Jakarta.

    Menurut Adi, berdasar SK Wali Kota Jakarta Utara tahun 2022 tentang verifikasi warga eks Kampung Bayam keseluruhan terdapat 126 KK.

    Meski belum semua warga menandatangani, Adi mengaku akan terus melakukan pendekatan dan mencari titik temu sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

    “Semua, nggak ada yang ditinggalin. Tidak ada satupun warga eks Kampung Bayam yang akan ditinggal, siapa pun itu dengan pemikiran apapun, kita akan rangkul,” imbuhnya.

    Wali Kota Jakarta Utara, Hendra Hidayat menegaskan, akan memastikan seluruh proses berjalan baik dan tidak sampai ada yang merasa dirugikan.

    Baca: Mencari penyelesaian relokasi warga eks Kampung Bayam

    Selain menerima tujuh hak yang disebutkan pihak Jakpro, Hendra menyatakan akan membantu proses pemindahan sekolah anak warga eks Kampung Bayam dan mengupayakan layanan kesehatan bagi warga.

    “Sebagai wali kota, saya akan memastikan warga eks Kampung Bayam sebagai warga saya mendapat haknya sesuai yang dijanjikan,” tegasnya.

    Salah seorang warga eks Kampung Bayam, Shirley Aplonia mengaku bersedia menandatangani kontrak lantaran merasa aspirasinya sudah diakomodir Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Proses penetapan yang telah dijalani pun sudah melalui dialog bersama warga.

    Kemudian, ada sejumlah warga eks Kampung Bayam yang sudah diterima bekerja di JIS sebagai cleaning service.

    Karena itu, ia bersama warga eks Kampung Bayam yang total berjumlah 41 Kepala Keluarga (KK) bersedia menandatangani kontrak dan mengambil undian unit HPPO JIS.

    “Di Rusun Nagrak ada 35 KK dan di Rusun Rorotan ada enam KK. Iya semua sudah jelas menerima,” tandasnya.

    Baca: Cara warga Rusun Marunda bincangkan masalah kota

  • Apakah Kita Mampu Beli ‘Rumah Mungil’ Kalau Puasa Gak Beli Kopi?

    Apakah Kita Mampu Beli ‘Rumah Mungil’ Kalau Puasa Gak Beli Kopi?

    7cloud.asia – Banyak konten influencer finansial yang sesumbar kalau seseorang berhemat seperti puasa beli kopi, maka dia bisa lebih sejahtera.

    Kata mereka, dengan menerapkan gaya hidup frugal, orang bisa menyisihkan uang untuk menabung, investasi, sampai membayar DP rumah utamanya rumah mungil di tengah mahalnya biaya hidup di perkotaan.

    Tapi anggapan ini justru dibantah oleh sejumlah akun di media sosial. Akun TikTok @santirasyalleia, misalnya. Dia menganggap meski telah menahan beli kopi selama setahun, banyak orang tetap tak akan mampu membayar uang muka rumah mungil dengan harga pasaran saat ini.

    Konten semacam ini menunjukkan fenomena generasi muda yang kesulitan memiliki rumah. Sebagai akademisi yang berfokus pada isu individu kelas menengah kota-kota besar, penulis mendapati rumah mungil (tiny house) bisa menjadi alternatif solusi atas masalah ini.

    Tentu pertanyaan besarnya: apakah rumah mungil mampu mengatasi isu ketidakmampuan generasi kita dalam memiliki rumah? Sayangnya tidak sepenuhnya.

    Isu kepemilikan rumah generasi muda
    Melansir BPS dan Rumah123.com, daya beli pekerja di kota-kota besar di Indonesia tidak mampu mengejar harga rumah di pasaran.

    Akibatnya, sekitar 5,8 juta rumah tangga Milenial dan hampir 500 ribu rumah tangga Gen Z belum memiliki rumah.

    Pengembang pun mengantisipasi tren ini dengan memunculkan tren baru berupa tiny house atau rumah mungil. Laporan Kompas menyatakan, pada 2024, permintaan rumah berukuran di bawah 60 meter persegi meningkat secara signifikan di berbagai kota besar di Indonesia.

    Baca: Gerakan rumah mungil sedang ngetren

    Sayangnya, dengan kondisi ekosistem perumahan saat ini, sebenarnya tiny house bukan menjadi pilihan ideal yang sesuai dengan gaya hidup Zilenial (Gen Z dan Milenial). Bagi mayoritas mereka, tiny house merupakan opsi tunggal untuk bisa memiliki hunian permanen.

    Tren rumah mungil
    Di berbagai negara, tiny house atau rumah mungil digadang-gadang menjadi solusi perumahan bagi keluarga kecil yang dinamis maupun bagi para tunawisma.

    Banyak juga yang berpendapat bahwa tren tiny house akan mengubah paradigma bermukim penduduk perkotaan yang padat.

    Di Indonesia, yang sering disebut dengan tiny house adalah rumah tapak dengan luas lahan kurang dari 60 meter persegi.

    Rumah-rumah ini tersebar tidak hanya di kawasan pusat perkotaan di mana lahan memang sangat terbatas, tapi juga di kota-kota pinggiran seperti Tangerang dan Bekasi.

    Meski begitu, harga rumah-rumah ini tidak semungil ukurannya. Misalnya di Jakarta Barat, rata-rata harga rumah berukuran di bawah 60 meter persegi sudah mencapai Rp1,25 miliar per unit.

    Di Medan, Bekasi, dan Tangerang, median harga rumah berukuran sama masing-masing mencapai Rp470 juta, Rp575 juta, dan Rp789 juta.

    Seberapa layak rumah mungil? Pada 2019, para peneliti dari Institute for Housing and Urban Development, Erasmus University Rotterdam mengembangkan framework evaluasi kelayakan rumah tinggal yang menyasar berbagai aspek.

    Baca: Hunian dengan konsep micro living jadi pilihan masyarakat Urban

    Dua aspek penting yang sangat relevan untuk kelayakan hunian di antaranya adalah ketersediaan dan keterjangkauan.

    Dalam aspek ketersediaan, sebuah hunian dianggap memadai jika tersedia di lokasi yang sesuai permintaan.

    Misalnya, jika backlog (selisih angka rumah dengan kebutuhan rumah) hunian tertinggi para Zilenial ada di Jakarta, maka rumah mungil yang berlokasi di daerah Maja atau Tenjo tentu tidak bisa dianggap ideal.

    Sebab, rumah di daerah ini mengharuskan para Zilenial untuk menempuh perjalanan dari rumah ke kantor hingga 1,5 jam setiap hari.

    Sementara dalam aspek keterjangkuan, harga unit harus juga sesuai dengan daya beli dan aspek-aspek finansial lainnya.

    Sebagai contoh, hunian dengan luas kurang dari 60 m2 di Surakarta memiliki median harga Rp470 juta per unit. Harga tersebut memang lebih murah jika dibandingkan dengan kota besar lainnya.

    Akan tetapi, jika kita mengacu ke upah minimum Surakarta sebesar Rp2,4 juta pada 2025, maka harga tersebut tidak lagi bisa dianggap terjangkau.

    Di Indonesia, rumah mungil yang murah juga perlu kita waspadai. Sebab, bisa jadi rumah-rumah dengan harga yang terlalu murah malah menimbulkan pengeluaran tambahan saat sudah kita huni.

    Baca: Harga rumah makin mahal, haruskah kita punya hunian sendiri?

    Contohnya, saat ini banyak konten rumah mungil di media sosial tentang renovasi rumah subsidi dengan luas lahan yang terbatas (40 hingga 60 m2). Kebutuhan renovasi muncul karena sebagian besar rumah tersebut hanya memiliki ventilasi udara dan pencahayaan di bagian depan.

    Akhirnya ruangan di dalam rumah harus selalu menggunakan lampu, AC, atau kipas angin sepanjang hari agar nyaman dihuni.

    Kondisi tersebut tidak sejalan dengan standar rumah sehat yang mengharuskan rumah memiliki bukaan di sisi depan dan belakang. Tujuannya agar udara dan sinar matahari dapat masuk ke dalam bangunan dan mengalir dengan bebas.

    Dengan desain dan inovasi yang ciamik, Tiny house sebenarnya bisa dikembangkan menjadi solusi hunian yang terjangkau tanpa mengorbankan aspek kelayakan.

    Di Tokyo, misalnya, para arsitek dan pengembang tidak hanya membangun rumah yang “kecil” ukuran semata, tetapi juga memanfaatkan teknologi dan inovasi desain rumah, material bangunan, dan teknik konstruksi terbaru yang mendukungnya sehingga menjadi rumah sehat dan layak huni.

    Perlu sentuhan pemerintah
    Apabila tren rumah mungil akan diadopsi sebagai salah satu solusi hunian, pemerintah perlu memastikan pasokannya secara memadai. Kehadiran pemerintah juga krusial untuk mengontrol laju harga pasar.

    Pemerintah perlu bekerja sama dengan pengembang, arsitek, dan akademisi untuk mewujudkan inovasi standar desain rumah tinggal mungil yang sehat dan layak huni dengan harga yang tetap terjangkau.

    Dari segi permintaan, perlu ada program-program pembiayaan dan melebarkan strategi finansial bagi para Zilenial untuk meningkatkan daya beli mereka.

    Tentunya, masalah daya beli ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan berhenti membeli kopi.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Issa Tafridj (PhD Researcher, Institute for Housing and Urban Development Studies, Erasmus University Rotterdam, Universitas Pembangunan Jaya)