7cloud.asia – Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, mencapai sekitar 3,11 juta hektare atau sekitar 22,6 persen dari total ekosistem mangrove global.
Kekayaan hutan mangrove Indonesia mencakup 246 jenis mangrove, termasuk 48 jenis mangrove sejati—jumlah terbanyak di Asia Tenggara.
Ekosistem ini berperan vital sebagai penyerap karbon, pelindung pantai, habitat fauna, sumber daya ekonomi, dan penopang kehidupan masyarakat pesisir.
Namun, keberadaan hutan mangrove di Indonesia kian terancam akibat alih fungsi lahan, penebangan, perubahan sistem hidrologi, pencemaran, hingga invasi spesies asing.
Salah satu kawasan hutan mangrove yang terdampak adalah Segara Anakan di Cilacap, Jawa Tengah.
Sedimentasi tinggi yang mengubah sistem hidrologi, penebangan, alih fungsi hutan mangrove, dan pencemaran telah menggerus fungsi ekologis kawasan ini, berdampak pada menurunnya kualitas hidup masyarakat yang menggantungkan hidup pada ekosistem mangrove.
Baca: Ketimbang Giant Sea Wall, lebih disarankan penanaman mangrove secara masif
Untuk itu, Pusat Riset Ekologi (PRE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara menjalin kerja sama dalam penelitian, pengembangan, inovasi, dan pendampingan rehabilitasi serta pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.
Kerja sama ini meliputi riset ekologi dan restorasi, pengumpulan data flora-fauna, kajian pengelolaan sumber daya mangrove (etnoekologi dan etnokonservasi), kajian pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat lokal, stasiun lapangan sebagai hub kegiatan konservasi dan restorasi mangrove, hingga publikasi hasil penelitian.
Sinergi ini diharapkan menghasilkan data dan rekomendasi yang dapat memperkuat kebijakan konservasi dan meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan ekosistem mangrove.
Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN, Asep Hidayat, menyebut konservasi bukan sekadar menyimpan keanekaragaman, tetapi juga memastikan kelestarian ekosistem penyangganya. “Kalau ekosistem hilang, maka spesies pun akan hilang,” tegasnya.
Dilansir di laman resmi BRIN, Asep menekankan pentingnya kajian ekosistem mangrove secara menyeluruh melalui riset inovatif dan pendampingan masyarakat.
PRE BRIN kini fokus pada empat aspek riset: fungsi ekosistem, penilaian nilai ekosistem, rehabilitasi dan pemanfaatan berbasis respons biodiversitas, serta kajian etno-ekologis yang melibatkan pengetahuan lokal.
Baca: Puluhan ribu hektare hutan mangrove akan direhabilitasi
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN sekaligus penanggung jawab kegiatan, Suyadi, menjelaskan bahwa riset akan mencakup kajian dari hulu hingga hilir agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.
Temuan-temuan riset seperti biostimulan “pupuk mangrove”, bioremediasi untuk mengurangi pencemaran minyak, metode budidaya kepiting berbasis ekosistem mangrove.
Juga inovasi lainnya diharapkan dapat diterapkan untuk konservasi dan restorasi ekosistem masyarakat berbasis desain ekosistem, bioteknologi, dan komunitas (pemberdayaan masyarakat).
Suyadi menambahkan bahwa potensi hutan mangrove tidak hanya terbatas pada fungsi ekologis, tetapi juga pada produk turunannya, seperti keripik mangrove, batik mangrove, dan kegiatan wisata.
Ketua Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara, Irfan Yulianto, menyampaikan bahwa organisasi yang awalnya bergerak di bidang dokumentasi lapangan kini memperkuat basis sains untuk konservasi sumber daya alam.
Yayasan terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk BRIN. Kerja sama difokuskan pada konservasi ekosistem mangrove di Pulau Jawa, dengan cakupan awal di Cilacap, Demak, dan Jepara, serta rencana perluasan ke wilayah lain di Jawa Barat dan Banten.
Baca: Puluhan kota di dunia pulihkan miliaran hektare hutan mangrove

Leave a Reply