Tag: ikan

  • Marak Polusi Udara, Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pengasapan Rendah Polusi

    Marak Polusi Udara, Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pengasapan Rendah Polusi

    7cloud.asia – Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat inovasi dengan mengembangkan teknologi berupa alat pengasapan ikan lele yang rendah polusi.

    “Alat ini dibuat untuk membantu meningkatkan produksi, kualitas, umur simpan, serta pengurangan polusi udara saat pengasapan ikan lele,” kata Ketua tim pengembang alat, Dinda Iffana Silma di Yogyakarta, Selasa (03/10/2023).

    Dia menjelaskan pengembangan alat berawal dari keprihatinan terhadap persoalan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Wono Mina Sari, Desa Banyusari, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah terkait pengasapan ikan lele.

    “Lele asap ini permintaan cukup tinggi. Sayangnya pokdakan di Magelang ini melakukan pengasapan dengan cara konvensional dan alat seadanya yang membutuhkan durasi pengasapan lama,” jelas mahasiswa Teknik Kimia UGM ini. 

    Tim ini terdiri dari Ademas Alam Pangestu (mahasiswa Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol UGM), Rakha Naufal Flazui Handoko (Teknik Mesin), Irvan Gibran (Teknik Kimia), dan Nabila Hasna Karimah (Teknik Industri).

    Mereka berusaha mencari solusi dengan membuat alat pengasapan ikan lele. 

    Alat itu dikembangkan dengan pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI) Kemendikbudristek 2023.

    Dinda mengungkapkan proses pengasapan ikan lele yang digunakan pokdakan Magelang berbasis serabut kelapa dan kayu sebagai bahan bakar untuk menghasilkan asap.

    Alat yang digunakan pun berupa drum bekas dengan tutup yang kurang rapat sehingga proses tersebut menyebabkan durasi pengasapan menjadi lama yakni 8 jam dengan kapasitas 5 kg sekali produksi.

    Nabila Hasna Karimah menambahkan proses produksi yang lama membuat ikan lele asap berwarna gelap dan mudah gosong sehingga kurang menarik.

    “Proses produksi yang lama menyebabkan borosnya bahan bakar yang dikonsumsi dan sulitnya memenuhi permintaan pasar,” katanya. 

    Selain itu proses pengasapan lele menghasilkan limbah asap yang mencemari lingkungan dan produk lele asap yang dihasilkan berumur simpan yang pendek.

    “Produk lele asap yang dihasilkan mitra mempunyai umur simpan lele asap hanya 3 hari saja. Namun dengan implementasi teknologi yang kami kembangkan umur simpannya bisa bertambah hingga 5 hari,” jelasnya.

    Dinda memaparkan dengan alat ini bisa meningkatkan kuantitas produksi mencapai 30 kilogram dalam sekali produksi. Selain itu waktu produksi bisa menjadi lebih singkat dari yang semula sekali produksi membutuhkan waktu delapan jam menjadi 2-4 jam saja.

    Rakha kemudian menambahkan bahwa proses pengasapan yang dilakukan lebih cepat dengan kapasitas enam kali lipat dari sebelumnya serta dijalankan dengan suhu yang konstan.

    Pengasapan yang cepat dengan suhu konstan ini menerapkan alat pengasapan yang lebih tertutup disertai banyaknya cerobong asap.

    Cerobong asap berasal dari tempat bahan bakar yang terhubung menuju lele sehingga memudahkan transfer massa dan panas asap langsung menuju ke lele.

    “Asap hasil pengasapan akan diolah menjadi asap cair grade satu dengan menerapkan teknologi distilasi bertingkat yang dapat dimanfaatkan sebagai pengawet lele asap dan produk tambahan bagi mitra. Asap cair dapat meningkatkan umur simpan lele asap menjadi lebih tahan lama serta penampilan lele menjadi lebih menarik,” urainya.

    Sumber: Antaranews

  • Ikan-ikan Kecil Menepi di Pinggir Pantai Bengkulu, Ini Penyebabnya

    Ikan-ikan Kecil Menepi di Pinggir Pantai Bengkulu, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Beberapa hari terakhir, di sejumlah wilayah Bengkulu terjadi fenomena ikan berukuran kecil yang tampak menepi di pinggir pantai.

    Menurut prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Fatmawati, Bengkulu, Anjasman, fenomena ini terjadi karena adanya fenomena anomali suhu laut.

    “Dari data BMKG suhu muka laut pada 26 Oktober memang mengalami penurunan, dengan selisih anomali minus satu dari biasanya, kemungkinan itu yang menyebabkan ikan-ikan ini menepi,” jelas Anjasman dikutip Antaranews.

    Lebih jauh Anjasman menjelaskan penyebab fenomena anomali suhu laut karena adanya angin dari wilayah Australia bergerak menuju Indonesia.

    Kondisi ini menyebabkan suhu muka laut menjadi lebih dingin dari biasanya, namun fenomena anomali tersebut jarang terjadi dan hanya terjadi saat musim kemarau.

    baca: marak polusi udara mahasiswa ugm ciptakan alat pengasapan rendah polusi

    Sementara itu, salah seorang warga Kelurahan Berkas, Davit, mengatakan bahwa ikan-ikan berukuran kecil terlihat berada di pinggir kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu.

    “Memang benar kejadian ikan terdampar di Pantai Berkas, kalau orang sini bilang itu karena perubahan iklim sehingga air laut menjadi dingin, ikan kemudian mabuk dan terdampar,” ungkapnya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, BMKG Pulau Baai, Bengkulu memperkirakan pada bulan Oktober akan turun hujan.

    “Kami prediksi hujan akan terjadi pada Oktober, sebab pada awal November telah memasuki musim hujan,” ujar Kasi Data dan Informasi pada BMKG Stasiun Klimatologi Pulau Baai, Bengkulu, Anang Anwar.

    baca: pandawara bakal beraksi lagi kali ini di pantai cibutun loji sukabumi

    Meski hujan, namun hal ini tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah Bengkulu dan Indonesia.

    Sebab, lanjut Anang, terjadi pergerakan awan hujan bergerak dari wilayah barat Sumatera menuju Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Selain itu juga adanya transisis dari musim kemarau kering ke musim hujan.

    Hujan diperkirakan dimulai dari daerah pegunungan ke daerah dataran rendah seperti Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Kota Bengkulu.

    Puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada Januari – Februari 2024 dan awal musim hujan ditandai dengan peralihan Monsun Australia menjadi Monsun Asia.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Mengenal Fenomena Upwelling yang Mengakibatkan Ribuan Ekor Waduk Cengklik Tiba-tiba mati

    Mengenal Fenomena Upwelling yang Mengakibatkan Ribuan Ekor Waduk Cengklik Tiba-tiba mati

    7cloud.asia – Fenomena upwelling kembali terjadi di Waduk Cengklik, Ngemplak Boyolali, Jawa Tengah awal pekan ini menyebabkan ribuan ikan yang dibudidayakan petani setempat mati.

    Fenomena upwelling di Waduk Cengklik kali ini menyisakan trauma mendalam bagi pembudidaya ikan nila karena merupakan yang terparah dalam catatan para peternak.

    Dilansir radarsolo.com, fenomena upwelling ini menyebabkan 90 persen ikan nila yang dibudiayakan peternak mati mendadak. Kerugian materi diperkirakan mencapai hampir Rp 1 miliar.

    Menindaklanjuti fenomena upwelling yang kerap terjadi ini, Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali telah mengecek kualitas air Waduk Cengklik. Hasilnya, tingkat oksigen di perairan mulai membaik. Namun, tingkat pH air masih asam.

    Baca: Ikan paus seberat 300 kilogram terdampar di NTB

    Pengecekan kualitas air pasca upwelling dilakukan di keramba jaring apung (KJA) milik petani Kelompok Tirto Panguripan.

    Analis Akuakultur Ahli Muda Disnakan Boyolali Deviet Nurmaryani menjelaskan, pihaknya melakukan pemantauan beberapa parameter. Yaitu dissolved oxygen (DO) atau tingkat oksigen dalam perairan.

    “Rata-rata (tingkat oksigen) sudah mulai membaik. Sekitar 5 miligram per liter,” jelas Deviet, Rabu (13/3/2024) seperti dikutip radarsolo.com.

    Sedangkan pH atau derajat keasaman air sekitar 4,6. Menurut Deviet, pH air Waduk Cengklik masih sedikit asam. 

    Baca: Penangkapan ikan secara besar-besaran memicu masalah serius untuk lingkungan

    Tapi saat ini kondisi air waduk Cengklik sudah mulai membaik dibandingkan saat fenomena upwelling. Sedangkan suhu air 29 derajat celcius.

    “Kualitas air sekarang mulai membaik. Dilihat dari ikan-ikannya tadi banyak yang sudah sehat,” terangnya.

    Istilah upwelling menggambarkan suatu kondisi yang terjadi saat adanya pergerakan secara vertikal massa air laut/air danau dari lapisan bawah ke lapisan permukaan.

    Fenomena upwelling ini bisa terjadi di perairan laut maupun darat (danau/waduk). Sehingga upwelling juga ditemui di waduk ataupun danau alami di dunia, termasuk Danau Toba. 

    Baca: Meningkatnya keasaman air laut akibat pencemaran picu masalah serius pada lingkungan

     

    Dikutip Tribunnews, Ahli Perikanan dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan atau MSP Fakultas Pertanian USU Syammaun Usman mengatakan peristiwa matinya ikan di Danau Toba terjadi hampir setiap tahun.

    Syammaun mengatakan, peristiwa ini terjadi akibat adanya penurunan kadar oksigen di musim hujan yang umum terjadi di wilayah perairan khusus nya Danau alami seperti Danau Toba.

    “Penyebabnya adalah di musim hujan atau musim dingin terjadi penurunan oksigen kadar oksigen di Danau alami,” ujar Syammaun kepada tribun-medan.com.

    Lebih lanjut Syammaun menjelaskan, bahwa pada musim dingin/penghujan, suhu yang meningkat di siang hari dan menurun sangat drastis di malam hari menjadikan kotoran dari dasar Danau naik ke permukaan.

    Baca: Naiknya permukaan air laut mengakibatkan ribuan desa tenggelam

    Kondisi ini menjadikan ikan tidak bisa bernafas karena kekurangan oksigen.

    Karena pada siang hari suhu itu meningkat, dan pada malam hari hingga pagi hari itu menurun kalau di Danau Toba itu bisa sampai 20 derajat celcius suhunya.

    “Nah ini menjadikan kotoran dari dasar Danau itu naik ke permukaan,” terangnya.

    Peristiwa ini, jelas Syammaun dapat dikatakan sebagai tsunami di perairan danau/waduk.

    Sama halnya dengan Tsunami di daratan, maka peristiwa ini juga menyebabkan kematian ikan.

     

     

  • Potensi Ikan Produk Lokal Indonesia Belum Dimanfaatkan Secara Maksimal

    Potensi Ikan Produk Lokal Indonesia Belum Dimanfaatkan Secara Maksimal

    7cloud.asia – Sekitar 62 persen wilayah Indonesia merupakan perairan dan laut. Hal ini membuat Indonesia kaya akan sumber protein hewani ikan.

    Tak hanya ikan yang berasal dari laut, ikan dari perairan darat Indonesia juga sangat beragam. Sehingga, menjadi hal yang miris apabila melihat angka stunting yang masih tinggi dan lambat penurunannya.

    Tak hanya itu, beberapa ibu sekarang ini juga terlihat lebih suka memberikan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) pada anaknya dengan ikan salmon karena memiliki banyak gizi.

    Oleh karena itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR Anggia Erma Rini menilai sosialisasi mengenai potensi ikan Nika Salin yang asli produk Indonesia, perlu dilakukan secara masif oleh seluruh kalangan.

    Baca Juga: Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Penangkapan Ikan Secara Berlebihan

    Sosialisasi harus lebih masif lagi. Karena sebenarnya Indonesia punya potensi ikannya lebih beragam. Kalau bicara tentang nutrisinya juga banyak tidak kalah juga.

    “Tapi kadang kan kita silau dengan produk-produk luar, padahal produk Indonesia luar biasa,” tuturnya saat melakukan kunjungan kerja spesifik Tim Komisi IV ke Modeling Budidaya Ikan Nila Salin di Karawang, Jawa Barat, Jumat (21/06/2024).

    Padahal, tambahnya, ikan lokal yang dimiliki Indonesia juga banyak yang tinggi akan nutrisi protein dan gizi serta memiliki citra rasa yang enak tak kalah dengan produk impor.

    “Kita ngomong lele aja itu sudah nutrisinya lengkap, lengkap selengkap-lengkapnya. Tetapi kan kadang orang ada underestimate terhadap lele,” katanya.

    Baca Juga: Komunitas Peduli Lingkungan Tuang 1.300 Larutan Eco Enzyme ke Danau Buyan

    Tambahnya, perlu ada inovasi untuk hasil perikanan Indonesia seperti misalnya dijual dalam bentuk fillet. Hal ini agar produk ikan lokal dapat naik kelas.

    Dia mencontohkan ikan nila yang bisa dikembangkan dan lebih naik kelasnya dengan membuatnya menjadi fillet.

    “Kadang kita misalnya ngomongin tentang patin, patin orang banyak ngomongin makan ikan dori, padahal itu patin fillet di Tulungagung dapil saya banyak banget itu ikan patin. Tapi kalau udah ngomong dori itu sudah kayaknya dari luar negeri,” jelasnya.

    Oleh karena itu, perlu ada edukasi dan promosi dari semua pihak akan potensi yang dimiliki oleh ikan lokal kita sendiri.

    Baca Juga: Danau Sentarum Mengering, Ratusan Warga Kesulitan Air Bersih

    Meskipun dari Kementerian Perikanan dan Kelautan sendiri juga telah memiliki program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

    “Harus ada edukasi setiap kita. Artinya tidak hanya Kementerian KKP, mereka punya tugas tetapi tidak hanya mereka. Tetapi setiap kita punya tugas untuk mempromosikan kepunyaan kita sendiri (potensi ikan lokal),” pungkas legislator Fraksi PKB itu.

  • Ribuan Ikan Mati di Pasuruan dan Lumajang Akibat Fenomena Bediding

    Ribuan Ikan Mati di Pasuruan dan Lumajang Akibat Fenomena Bediding

    7cloud.asia – Fenomena bediding yang terjadi beberapa minggu terakhir ini telah mengakibatkan ribuan ikan di wilayah Pasuruan dan Lumajang, Jawa Timur mati mendadak.

    Fenomena ini terjadi setelah air di dasar kolam yang mengandung belerang naik ke permukaan akibat cuaca dingin atau bediding, sehingga membuat kandungan oksigen turun drastis.

    Ikan-ikan tersebut diduga mati karena kekurangan oksigen.

    Seperti yang terjadi di kolam budidaya di Kelurahan Sebani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur. Kamis (18/07/2024) lalu.

    Sebanyak 2.700 bibit ikan lele mati akibat suhu ekstrem bediding. “Baru kali ini terkena dampak. Padahal saya sudah menjalankan usaha ini bertahun-tahun lamanya,” kata peternak lele, Saiku seperti yang dilansir Vivanews.

    “Saya kira kondisi keasaman air atau oksigen dalam air sangat berpengaruh,” lanjutnya.

    Baca: Fenomena bediding berdampak pada pertanian dan peternakan

    Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Mualif Arif menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan ribuan bibit ikan mati.

    “Bisa saja penyebabnya kualitas air, penyakit atau pun terserang hama tertentu,” ungkap Mualif Arif.

    Pihaknya juga telah melakukan pemeriksaan pada tempat budidaya lainnya untuk memastikan kondisi serupa tidak terjadi di lokasi pembudiyaaan lainnya.

    Kematian ikan secara mendadak juga terjadi di Lumajang, Jawa Timur. Ribuan ikan nila dan mujaer di Ranu Klakah, Desa Tegal Randu, Kecamatan Klakah, Lumajang, Jawa Timur mati mendadak.

    Baca: Udara dingin di musim kemarau? Ini penyebabnya

    Akibatnya para petani keramba apung merugi hingga puluhan juta rupiah. Menurut Muhammad, salah satu petani keramba apung menjelaskan setiap udara dingin seperti saat ini memang banyak ikan yang mati.

    “Kalau cuaca panas sih ya ndak (mati). Tapi kalau dingin, hujan ya bisa ikan matinya menyeluruh yang punya karamba,” kata Muhammad.

    Muhammad mengakui selama tiga hari ribuan ikannya mati telah mengakibatkan kerugian hingga Rp 35 juta.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.

    Baca: Suhu dingin di Bandung diperkirakan hingga Agustus

    Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

    Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran dari Australia membawa udara kering dan dingin.

    Di Pulau Jawa, suhu terendah yang tercatat selama fenomena bediding bisa mencapai sekitar 11-15°C. Suhu dingin yang ekstrem ini akan mencapai puncaknya pada Agustus nanti.

    Baca: Labuan Bajo dilanda suhu dingin

    Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan khatulistiwa hingga bagian utara.

    Pada wilayah ini, pada pagi hari udara cenderung lebih dingin dari biasanya. Kemudian siang harinya udara akan terasa lebih panas.

    Tak hanya di Pulau Jawa, fenomena bediding juga terjadi di daerah dataran tinggi di Indonesia bagian selatan lainnya, seperti Bali, NTB dan NTT.

     

  • Kandungan Nutrisi Ikan Salmon Budi Daya Turun Drastis

    Kandungan Nutrisi Ikan Salmon Budi Daya Turun Drastis

    7cloud.asia – Ikan salmon hasil budidaya telah menjadi salah satu komoditas bisnis pangan yang paling menggiurkan di dunia. Hal tersebut karena manfaat kesehatannya.

    Sudah lama diketahui bahwa minyak ikan pada salmon mengandung asam lemak omega-3 kompleks yang berkhasiat untuk perkembangan otak, kesehatan mental, dan kognisi.

    Asam lemak omega-3 salmon bersumber dari makanan ikan itu sendiri. Untuk ikan yang dibudidayakan, makanan bersumber dari “bahan laut” yang terbuat dari ikan liar yang digiling seperti ikan teri dan produk sampingan ikan sebagai pengganti tepung ikan dan minyak ikan.

    Namun, pada kenyataannya pasokan omega-3 global sangat terbatas, baik yang bersumber dari hasil laut budidaya maupun hasil laut alami. Banyak perikanan utama yang memasok bahan-bahan laut sudah mencapai tahap eksploitasi pada pertengahan 1990-an.

    Sejak pertumbuhan akuakultur salmon, peningkatan volume pasokan bahan-bahan laut yang terbatas telah diambil alih oleh pelaku budidaya ikan.

    Hal ini menimbulkan kekhawatiran atas keberlanjutan dan peningkatan kebutuhan biaya bahan-bahan ini.

    Baca: Populasi ikan salmon turun drarstis akibat pencemaran lingkungan

    Degradasi yang telah terlihat sekarang adalah merosotnya proporsi minyak ikan dalam makanan ikan salmon yang dibudidayakan. Kandungan omega-3 kompleks telah digantikan oleh minyak nabati secara alamiah.

    Pada periode 2006-2015, jumlah omega-3 dalam satu porsi salmon sudah berkurang setengahnya. Ironisnya, industri salmon makin mengedepankan kandungan omega-3 sebagai nilai jual utama produknya.

    Padahal, saat ini, dibutuhkan dua porsi salmon Skotlandia hasil budidaya per minggu untuk bisa memenuhi asupan yang direkomendasikan untuk orang dewasa.

    Pelaku industri salmon harus lebih efisien, jika ingin terus berkembang dan mempertahankan target omega-3nya. Industri makanan laut juga harus berbuat lebih banyak untuk mencegah hilangnya omega-3 melalui rantai nilainya secara menyeluruh. Bagian dari upaya efisiensi ini adalah memproduksi lebih banyak minyak ikan.

    Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan nilai produk sampingan perikanan dan akuakultur seperti sisa-sisa makanan, kulit dan kepala, sehingga lebih banyak omega-3 yang tersimpan dalam sistem pangan (dan pakan).

    Pada prakteknya, ada kesadaran besar untuk menggunakan ikan utuh. Hal ini mendorong kemajuan yang baik dalam meningkatkan penggunaan produk sampingan.

    Baca: Daftar nutrisi yang bisa menghadang gejala demensia

    Sekarang diperkirakan bahwa sekitar setengah dari pasokan minyak ikan global bersumber dari perikanan, dan khususnya akuakultur, sumber pemrosesan.

    Namun, masih ada banyak limbah dan kesulitan logistik dalam menyimpan dan mengangkut produk sampingan makanan laut.

    Insentif industri untuk menggunakan produk sampingan sebagian besar terikat pada hukum ekonomi. Karena itu, kelangkaan minyak ikan global mendorong harga di atas US$8.000/ton (Rp130 jutaan) pada tahun 2024.

    Bukti dari 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa penggunaan ikan liar secara keseluruhan dalam industri salmon Eropa telah menurun (digantikan oleh bahan-bahan nabati), sementara produksi telah tumbuh beberapa kali lipat.

    Meskipun ada perbaikan dan pengurangan dalam penggunaan bahan-bahan laut alamiah, industri ini masih mendapat tekanan besar dari Lembaga Swadaya Masyarakat dan kelompok konservasi.

    Mereka khawatir tentang penggunaan ikan sebagai pakan, yang dapat merusak persepsi publik terhadap industri akuakultur.

    Untuk menilai takaran penggunaan ikan sebagai pakan dalam akuakultur, perlu menghitung rasio “ikan masuk ikan keluar” (Fifo) layaknya konsep yang mengukur rasio biomassa ikan yang termasuk dalam pakan ikan terhadap biomassa ikan yang akhirnya diproduksi untuk konsumsi.

    Tujuannya adalah agar lebih banyak ikan yang diproduksi untuk konsumsi manusia daripada yang digunakan sebagai pakan, dan ini akan menghasilkan Fifo kurang dari 1.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Richard Newton (Lecturer in Aquaculture, University of Stirling) dan Dave Little (Professor of Aquatic Resources Development, University of Stirling)

  • Ratusan Kilogram Ikan Sapu-sapu Ditangkap dalam Gerakan Pembersihan di 13 Sungai di Jakarta

    Ratusan Kilogram Ikan Sapu-sapu Ditangkap dalam Gerakan Pembersihan di 13 Sungai di Jakarta

    7cloud.asia – Ratusan ekor ikan sapu-sapu berhasil ditangkap secara serentak yang digelar di 13 aliran sungai di Jakarta pada Jumat (17/4/2026).

    Di Jakarta Pusat, penangkapan ikan sapu-sapu dilaksanakan oleh petugas gabungan terdiri dari PPSU, Gulkarmat, Lingkungan Hidup, Sudin SDA dan KPKP Jakarta Pusat.

    Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin mengatakan, pihaknya menggelar penangkapan ikan sapu sapu secara serentak di tujuh titik saluran atau kali/sungai serta embung sesuai arahan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

    “Penangkapan ikan sapu – sapu digencarkan untuk mengurangi populasi yang saat ini menguasai kali atau sungai di Jakarta. Populasi ikan sapu-sapu sangat invasif dan predator sehingga jenis ikan lainnya yang hidup semakin sedikit,” ujarnya.

    Arifin mengungkapkan, pihaknya mencanangkan penangkapan ikan sapu-sapu dilaksanakan setiap hari Jumat di delapan kecamatan se Jakpus.

    “Penangkapan tidak sekadar ikan sapu-sapu berukuran besar, tapi juga membersihkan telor yang menempel di dinding dan sarang juga menjadi target sehingga bisa mengembalikan habitat ikan lokal di perairan Jakarta Pusat,” ungkapnya.

    Baca: Pemprov DKI Intensifkan Pengerukan Sungai dan Pengendalian Ikan Sapu-Sapu

     

    Arifin menjelaskan, ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap akan dipatahkan sebelum dikubur agar tidak ada yang memanfaatkannya.

    “Saya juga mengajak warga dan pemerhati bersama membersihkan ikan sapu sapu di saluran, kali atau sungai di Jakarta Pusat,” jelasnya.

    Sementara itu, Kasudin Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Jakarta Pusat, Siti Halimah menambahkan, hasil penangkapan ikan sapu sapu yang dilaksanakan serentak di tujuh lokasi sebanyak 578 ekor berukuran besar dan kecil.

    “Penangkapan gencar dilakukan di Jakarta sesuai hasil penelitian Dinas KPKP DKI bahwasanya ikan sapu sapu yang marak di perairan Jakarta ini mengandung e-coli dan merkuri yang berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi oleh masyarakat,” tandasnya.

    Di Jakarta Timur, Walikota Munjirin memimpin langsung upaya pengendalian kan sapu-sapu di Kali Ciliwung, kawasan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati.

    Baca: KLH Percepat Rehabilitasi Sungai Ciliwung

    Berpusat di Dermaga Agro Edu Wisata Ciliwung, Munjirin turun ke lapangan bersama jajaran pejabat, termasuk Asisten Perekonomian dan Pembangunan Fauzi, Kepala Sudin Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Taufik Yulianto.

    Para camat, lurah, dan unsur terkait lainnya turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama 150 personel gabungan terdiri dari unsur Suku Dinas KPKP, SDA, Satpol PP, BPBD, Perhubungan, Gulkarmat, dan unit terkait lainnya.

    Dua perahu dikerahkan dalam operasi ini dengan pengamanan dari satu perahu karet berisi personel Sudin Gulkarmat. Meski arus Kali Ciliwung cukup deras, proses penangkapan tetap berlangsung lancar.

    Munjirin menjeladkan, dari lokasi Agro Edu Wisata Ciliwung saja, sekitar 200 kilogram ikan sapu-sapu berhasil diangkat. Sementara, hasil dari titik lain masih dalam proses pendataan karena operasi masih berlangsung.

    Ia memastikan, operasi serupa akan terus dilakukan secara rutin ke depan, bahkan dengan melibatkan berbagai pihak serta mendorong partisipasi warga.

    “Upaya ini penting untuk menjaga kesehatan warga serta memastikan ekosistem lingkungan terjaga,” tandasnya.

  • Ribuan Ikan Mati di Karawang, Diduga Akibat Pembuangan Limbah Secara Sembarangan

    Ribuan Ikan Mati di Karawang, Diduga Akibat Pembuangan Limbah Secara Sembarangan

    7cloud.asia – Berbagai jenis ikan mati secara massal di sejumlah titik sepanjang saluran irigasi induk atau saluran primer di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

    Untuk mengatasi kondisi ini, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mengerahkan personel untuk melakukan investigasi.

    Seorang warga Guro, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Ujang, di Karawang, Selasa, mengaku sudah melihat ikan mati di saluran irigasi sejak Senin (1/6/2026) malam. Kemudian hingga hari Selasa jumlah ikan yang mati semakin banyak.

    “Sudah dari kemarin (Senin) banyak ikan mati mengambang di saluran irigasi dan hari ini terlihat semakin banyak ikan yang mati,” katanya dikutip Antaranews.com.

    Ikan-ikan banyak yang mati terlihat di sejumlah titik saluran irigasi primer di Karawang, seperti di Tanggul Johar, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, serta di sekitar saluran irigasi Perumahan CKM.

    Baca: Tak Hanya Ikan Sapu-sapu, Ada Banyak Spesies Invasif Lainnya

    Di antara jenis ikan yang mati itu seperti ikan tawes, baung, dan jenis ikan air tawar lainnya. Bahkan ikan sapu-sapu juga banyak yang terlihat mati di saluran irigasi.

    Ikan-ikan yang mati itu mengambang dan berkumpul di pinggiran saluran irigasi.

    Atas kondisi itu masyarakat berinisiatif mengambil dan mengumpulkan ikan yang mati tersebut. Bahkan ada beberapa masyarakat yang justru membawa ikan mati ke rumahnya.

    Belum diketahui secara pasti penyebab ikan mati secara massal itu. Namun sejumlah warga menyebutkan kondisi tersebut terjadi akibat adanya pembuangan limbah cair ke saluran irigasi.

    Kepala DLH Karawang Asep Suryana mengatakan, pihaknya sudah mengambil sampling air saluran irigasi tempat ikan mati secara massal di sejumlah titik saluran irigasi di Karawang.

    “Beberapa petugas kami sudah meluncur ke lokasi dan mengambil sampel air dan juga ikan yang mati. Kami belum tahu penyebabnya karena masih diselidiki,” kata Asep Suryana.

    Baca: Populasi Ikan Sapu-sapu Meningkat, Tanda Kualitas Air Sungai Kian Tercemar