7cloud.asia – Fenomena upwelling kembali terjadi di Waduk Cengklik, Ngemplak Boyolali, Jawa Tengah awal pekan ini menyebabkan ribuan ikan yang dibudidayakan petani setempat mati.
Fenomena upwelling di Waduk Cengklik kali ini menyisakan trauma mendalam bagi pembudidaya ikan nila karena merupakan yang terparah dalam catatan para peternak.
Dilansir radarsolo.com, fenomena upwelling ini menyebabkan 90 persen ikan nila yang dibudiayakan peternak mati mendadak. Kerugian materi diperkirakan mencapai hampir Rp 1 miliar.
Menindaklanjuti fenomena upwelling yang kerap terjadi ini, Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali telah mengecek kualitas air Waduk Cengklik. Hasilnya, tingkat oksigen di perairan mulai membaik. Namun, tingkat pH air masih asam.
Baca: Ikan paus seberat 300 kilogram terdampar di NTB
Pengecekan kualitas air pasca upwelling dilakukan di keramba jaring apung (KJA) milik petani Kelompok Tirto Panguripan.
Analis Akuakultur Ahli Muda Disnakan Boyolali Deviet Nurmaryani menjelaskan, pihaknya melakukan pemantauan beberapa parameter. Yaitu dissolved oxygen (DO) atau tingkat oksigen dalam perairan.
“Rata-rata (tingkat oksigen) sudah mulai membaik. Sekitar 5 miligram per liter,” jelas Deviet, Rabu (13/3/2024) seperti dikutip radarsolo.com.
Sedangkan pH atau derajat keasaman air sekitar 4,6. Menurut Deviet, pH air Waduk Cengklik masih sedikit asam.
Baca: Penangkapan ikan secara besar-besaran memicu masalah serius untuk lingkungan
Tapi saat ini kondisi air waduk Cengklik sudah mulai membaik dibandingkan saat fenomena upwelling. Sedangkan suhu air 29 derajat celcius.
“Kualitas air sekarang mulai membaik. Dilihat dari ikan-ikannya tadi banyak yang sudah sehat,” terangnya.
Istilah upwelling menggambarkan suatu kondisi yang terjadi saat adanya pergerakan secara vertikal massa air laut/air danau dari lapisan bawah ke lapisan permukaan.
Fenomena upwelling ini bisa terjadi di perairan laut maupun darat (danau/waduk). Sehingga upwelling juga ditemui di waduk ataupun danau alami di dunia, termasuk Danau Toba.
Baca: Meningkatnya keasaman air laut akibat pencemaran picu masalah serius pada lingkungan
Dikutip Tribunnews, Ahli Perikanan dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan atau MSP Fakultas Pertanian USU Syammaun Usman mengatakan peristiwa matinya ikan di Danau Toba terjadi hampir setiap tahun.
Syammaun mengatakan, peristiwa ini terjadi akibat adanya penurunan kadar oksigen di musim hujan yang umum terjadi di wilayah perairan khusus nya Danau alami seperti Danau Toba.
“Penyebabnya adalah di musim hujan atau musim dingin terjadi penurunan oksigen kadar oksigen di Danau alami,” ujar Syammaun kepada tribun-medan.com.
Lebih lanjut Syammaun menjelaskan, bahwa pada musim dingin/penghujan, suhu yang meningkat di siang hari dan menurun sangat drastis di malam hari menjadikan kotoran dari dasar Danau naik ke permukaan.
Baca: Naiknya permukaan air laut mengakibatkan ribuan desa tenggelam
Kondisi ini menjadikan ikan tidak bisa bernafas karena kekurangan oksigen.
Karena pada siang hari suhu itu meningkat, dan pada malam hari hingga pagi hari itu menurun kalau di Danau Toba itu bisa sampai 20 derajat celcius suhunya.
“Nah ini menjadikan kotoran dari dasar Danau itu naik ke permukaan,” terangnya.
Peristiwa ini, jelas Syammaun dapat dikatakan sebagai tsunami di perairan danau/waduk.
Sama halnya dengan Tsunami di daratan, maka peristiwa ini juga menyebabkan kematian ikan.

Leave a Reply