Tag: influencer

  • Ini Alasan Cinta Laura Kiehl Layak Dijadikan Panutan

    Ini Alasan Cinta Laura Kiehl Layak Dijadikan Panutan

    7cloud.asia – Aktris Cinta Laura Kiehl atau Cinta Laura kini dikenal sebagai publik figur yang memiliki kepedulian yang tinggi sehingga layak dijadikan influencer.

    Sebagai influencer, Cinta Laura yang tahun ini akan berumur 30 tahun ini tak hanya menyebut dirinya sebagai aktris. Ia juga menyebut dirinya sebagai social activis di akun media sosialnya baik Instagram maupun Twitter. 

    Sejak beberapa tahun lalu Cinta Laura memang memutuskan untuk tidak menjalani gaya hidup mewah. Ketimbang barang bermerek, sebagai influencer, Cinta Laura lebih memilih produk lokal guna membantu UMKM.

    Cinta Laura yang akun Instagramnya difollow lebih 9 juta orang itu juga tak sungkan tampil dengan pakaian yang sama dalam beberapa kesempatan. Bagi Cinta Laura pembuktian diri sebagai aktris dan influencer bukan lewat kemewahan atau kekayaan, tetapi lewat karya yang berguna.

    Baca: dampak negatif gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Lantas apa tanggapan Cinta Laura atas perilaku YouTuber dan influencer yang cenderung bermewah-mewah? Dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi dengan bijak menyikapi hal ini.

    Cinta Laura mengajak para YouTuber dan influencer untuk membuat konten yang tidak pamer soal harta dan kemewahan. Karena apa yang mereka lakukan sangat besar pengaruhnya pada follower mereka. 

    “Aku tidak mau menjatuhkan siapa-siapa tapi kenyataannya mayoritas mau kita namakan YouTuber atau influencer yang mereka tunjukan dalam konten mereka adalah kekayaan mereka,” ujar Cinta Laura di salah satu program televisi, dilansir Minggu, 7 Mei 2023.

    “Mereka berlibur dengan private jet, mereka memiliki 10 mobil, rumah terus direnovasi akhirnya sampai satu hektare,” kata Cinta Laura.

    Baca: Tak perlu gengsi pakai barang bekas, kamu justru ikut merawat lingkungan

    Namun, Cinta Laura tak serta merta mengecam polah para influencer tersebut.  Pelantun lagu ‘Oh Baby’ itu menegaskan jika hal tersebut bisa dilakukan dengan seimbang dengan hal-hal yang lebih positif sehingga membawa pengaruh besar pada para followernya.
     
    “Dan itu gak apa-apa kalau seseorang bangga dengan pencapaiannya, tidak ada masalah dengan itu,” imbuhnya. 

    Cinta Laura mengajak para influencer tak hanya menunjukkan kemewahan, tapi juga mengusung  lebih banyak konten-konten yang menginspirasi seperti bagaimana jalan yang mereka tempuh menjadi sukses seperti sekarang.

    “Penting sekali jika kita punya influencer, menunjukkan kepada masyarakat yang tidak punya hal yang sama, bahwa untuk bisa sampai ke titik ini tidak instan lho. Kita itu ada proses dan itu yang dilupakan anak muda sekarang, bahwa segala hal yang indah butuh proses,” tandas Cinta Laura.

    Baca: Perjuangan panjang para buruh tuntut kondisi kerja yang layak

    Menelusuri akun media sosial Cinta Laura, saya memang menemukan banyak hal-hal inspiratif sekaligus membuat saya merenung. Ia tak hanya mengampanyekan kesetaraan tapi juga gaya hidup ramah lingkungan. 
     
    Perempuan blasteran Jerman-Indonesia ini tak segan menunjukkan gaya hidupnya yang jauh dari konsumsi berlebihan. Dia sangat jarang menunjukkan barang mewah dalam postingannya. 
     
    Cinta Laura juga aktif mengampanyekan pembatasan penggunaan kantung plastik untuk mengurangi sampah. Ia juga rajin mengampanyekan produk-produk yang bisa didaur ulang untuk mengurangi sampah.
     
    “Ini bukan kantung biasa, ini juga sarung tangan plastic biasa tapi terbuat dari bahan yang bisa diurai,” ujar Cinta Laura Kiehl di akun instagramnya @claurakiehl beberapa bulan lalu. 
     

    Tak hanya berkampanye di media sosial, Cinta Laura juga sering terjun langsung ke lapangan. Seperti saat menyambangi lokasi Citayam Fashion Show Juli tahun lalu, ia tanpa segan memunguti sampah yang bertebaran di sana.  

    Namun sebagai influencer, Cinta Laura yang pernah ditunjuk menjadi duta Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak ini tidak asal terjun maupun berkomentar. Ia akan dengan bijak menolak berkomentar terutama untuk hal-hal yang di luar kapasitas dia.

    Jadi buat kamu yang sedang mencari panutan, tak ada salahnya menjadikan Cinta Laura sebagai panutan kamu. 

     

  • Kehadiran Influencer di IKN Jadi Sorotan Publik: Apa Pentingnya?

    Kehadiran Influencer di IKN Jadi Sorotan Publik: Apa Pentingnya?

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengajak sejumlah influencer atau pemengaruh ke Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, mulai Minggu (28/7/2024)

    Diketahui, sejumlah influencer ini mendampingi Jokowi meresmikan Jembatan Pulau Balang dan meninjau pembangunan jalan tol menuju IKN.

    Dilansir dari Tempo,co, influencer yang mayoritas selebritas itu antara lain; Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, Irwansyah dan Zaskia Sungkar, Ferry Maryadi, Omesh dan Dian Ayu, Gading Marten dan Poppy Sovia, Sintya Marisca, Willie Salim, Meicy Villa, hingga Dian Ayu Lestari.

    Kehadiran para influencer ini menuai pro-kontra. Pertanyaan apa pentingnya para influencer itu diajak ke IKN?

    Apalagi dari video yang beredar di media sosial, kegiatan Jokowi dan para influencer di IKN terkesan hanya piknik dan hura-hura belaka.

    “Berpesta-pora di tengah jeritan rakyat kecil yang kesulitan untuk makan sehari-hari…. Luar biasa empatinya,“ tulis warganet bernama @JordiTololiu.

    Baca: Jokowi akan berkantor di IKN?

    “IKN dibangun menggunakan utang yang dibebankan ke masyarakat dan mengorbankan masyarakat adat dan sekitarnya, tapi malah yang diajak bersenang-senang para artis, nggak bener,“ tulis Izzy di akun Facebooknya.

    Sejumlah pengamat politik juga menilai, kehadiran influencer di IKN pada akhir pekan kemarin tidak begitu diperlukan.

    Pengamat politik Adi Prayitno mengatakan, semestinya yang harus menjadi prioritas Jokowi adalah bagaimana caranya investor datang ke IKN.

    “Apa signifikannya artis itu jadi public relations IKN jika tak mampu datangkan investor,” kata Adi Prayitno dikutip Tempo.co.

    Direktur Parameter Politik Indonesia ini menilai, semua orang sudah tahu rencana Ibu Kota dipindahkan ke IKN. Tidak heran jika publik bertanya-tanya apa pentingnya pesohor diajak ke IKN.

    Baca: Pembangunan istana di IKN belum rampung 100 persen

    Sementara analis politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menganggap Jokowi mengajak influencer ke IKN hanya untuk memoles citra IKN agar positif.

    Padahal, pembangunan IKN tahap pertama belum sepenuhnya rampung menjelang akhir jabatan Jokowi.

    “Kelihatannya Jokowi agak panik, agak stres di masa kepemimpinan beberapa bulan lagi,” kata Ujang dihubungi terpisah.

    Jokowi, ujarnya, menggunakan cara instan, influencer untuk membangun berita positif tentang kemajuan pembangunan IKN.

    ”Berita baik kepada publik. Tapi kan ada gap. Kalau IKN belum beres.” ujarnya.

    Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana tidak menjawab pesan Tempo pada Senin, 29 Juli 2024, ketika ditanya alasan khusus Jokowi mengajak influencer ke IKN. Begitu juga dengan biaya yang digunakan oleh Istana untuk mengajak mereka.

    Baca: Pakar sebut cara pembangunan IKN adalah penjajahan model baru

    Respons stafsus Presiden
    Masih menurut Tempo.co, Staf Khusus (Stafsus) Presiden Grace Natalie menjelaskan alasan kehadiran influencer bersama Jokowi di IKN sebagai satu bentuk keterbukaan pada publik.

    “Ini merupakan salah satu bentuk transparansi ke publik. Sudah banyak warga masyarakat yang penasaran dengan IKN,” kata politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu melalui pesan singkat yang dikonfirmasi oleh Tempo, Selasa, 30 Juli 2024.

    “Namun karena saat ini di IKN masih terus berlangsung proyek pembangunan, belum bisa dibuka untuk dikunjungi publik secara luas,” ujar Grace

    Grace menyebut bahwa ke depannya, selain pegiat media sosial, elemen masyarakat lain akan bergantian diundang ke IKN. Seperti pimpinan media, perwakilan tokoh-tokoh masyarakat lokal hingga organisasi kemasyarakatan (ormas).

    “Agar bisa menyaksikan sendiri pembangunan IKN dan menyampaikan informasi yang benar ke komunitasnya masing-masing,” ucapnya.

  • Risiko Keterlibatan Influencer dalam Kampanye Politik

    Risiko Keterlibatan Influencer dalam Kampanye Politik

    7cloud.asia – Influencer atau pesohor media sosial telah menjadi kekuatan penting dalam lanskap politik modern.

    Dengan basis pengikut yang besar dan loyal, mereka memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini publik.

    Keberadaan influencer dalam politik saat ini merefleksikan pergeseran dari kampanye tradisional ke strategi yang lebih terfokus pada media sosial dan pemasaran digital.

    Lalu apa dampak keterlibatan mereka dalam kampanye politik?

    Terdapat beberapa alasan mengapa influencer dapat berperan penting dalam usaha meraup suara, di antaranya jangkauan audiens yang luas secara instan dan membangun ilusi keterwakilan.

    Influencer sering dianggap sebagai ‘one of us’ atau bagian dari masyarakat umum. Mereka memiliki pengikut dan mampu memberikan opini yang membentuk pandangan followers atau pengikutnya sendiri.

    Pesan mereka mudah untuk diterima dan diikuti para pengikutnya, karena terasa lebih nyata dan dapat dipercaya, dibandingkan dengan iklan politik tradisional.

    Tapi keterlibatan influencer dalam politik juga menyimpan sejumlah risiko.

    Baca: Mengapa politisi gunakan influencer untuk raih dukungan

    Dalam tulisannya di The Conversation Indonesia, Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, Universitas Indonesia Wawan Kurniawan menyebut risiko tersebut antara lain: 

    1. Akurasi dan bias
    Dalam konteks politik, masalah kepercayaan dan verifikasi fakta menjadi lebih krusial, karena informasi yang salah atau menyesatkan dapat tersebar dengan cepat melalui influencer.

    Sejumlah temuan di Jerman menunjukkan bahwa selain memiliki kekuatan untuk memobilisasi dukungan, influencer juga bisa menyebarkan propaganda atau informasi yang bias, baik disengaja maupun tidak, yang dapat memengaruhi pemilih pemula.

    Apalagi, seperti halnya media tradisional, influencer dapat memiliki agenda tersendiri. Mereka sering kali bekerja dengan tim yang membantu menyusun pesan dan strategi mereka, yang mungkin tidak sepenuhnya transparan.

    Berdasarkan temuan Indonesia Corruption Watch (ICW), influencer bahkan dijadikan alat pemerintah untuk menyampaikan pesan atau agenda tertentu.

    Hal itu dapat dilihat dari anggaran belanja pemerintah untuk aktivitas digital, yang berdasarkan kata kunci “influencer” atau “key opinion leader” yang pada periode 2017‒2020 ada 40 paket dengan nilai Rp90,45 miliar.

    Dari 40 paket, jumlah terbanyak terdapat di Kementerian Pariwisata dengan 22 paket. Selanjutnya Kementerian Pendidikan, Budaya dan Pendidikan Tinggi dengan 12 paket,

    Kementerian Komunikasi dan Informasi 4 paket, dan Kementerian Perhubungan serta Kementerian Pemuda dan Olah Raga masing-masing 1 paket. Ini menimbulkan pertanyaan tentang integritas pesan yang disampaikan.

    Baca: Jokowi ajak influencer ke IKN dikritik habis

    2. Efek halo
    Influencer memiliki pengikut yang besar dan beragam. Berdasarkan data AJ Marketing, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang digandeng pasangan Prabowo-Gibran termasuk dalam Top Instagram Influencers in Asia.

    Mereka berhasil menempati peringkat kedua dengan jumlah followers Instagram sebanyak 67,7 juta akun per 16 Maret 2023.

    Dengan mendukung kandidat tertentu, mereka dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap kandidat tersebut.

    Ini sangat berguna untuk meningkatkan popularitas, terutama di kalangan pemilih yang mungkin kurang terinformasi atau kurang tertarik pada politik.

    Ada juga efek halo yang ditimbulkan oleh kondisi ketika persepsi positif tentang seseorang dalam satu area (misalnya, popularitas atau keahlian dalam bidang tertentu) dapat memengaruhi persepsi kita tentang mereka di area lain (seperti politik).

    Jika influencer atau pesohor dianggap memiliki kredibilitas tinggi, dukungan mereka terhadap paslon dapat meningkatkan persepsi positif terhadap paslon tersebut.

    Pada akhirnya, mereka berfungsi sebagai magnet untuk mengumpulkan suara atau dukungan sebanyak mungkin.

    Dalam ilmu psikologi sosial, ada perbedaan antara pengaruh yang dilakukan secara eksplisit, misalnya secara terbuka mendukung kandidat, dan pengaruh yang dilakukan secara implisit, seperti bertemu atau memuji kandidat tanpa menyatakan dukungan langsung.

    Pengaruh implisit ini seringkali lebih efektif dan mudah diterima audiens, karena tidak terasa seperti persuasi langsung.

    Orang seringkali memproses informasi secara tidak langsung melalui pengamatan sosial.

    Melihat influencer yang mereka kagumi bertemu atau memuji suatu kandidat dapat secara tidak langsung membentuk persepsi positif terhadap kandidat tersebut, bahkan tanpa adanya dukungan verbal yang eksplisit.

    Fenomena ini disebut strategi soft endorsement, yaitu ketika influencer tidak secara terbuka mendukung kandidat tertentu, tetapi tindakan mereka menciptakan persepsi positif atau membuka pintu bagi pengikut mereka untuk mendukung kandidat tersebut.

    Baca: Influencer yang kena boikot karena abai terhadap Palestina

    3. Pengalihan isu dan polarisasi
    Penggunaan influencer juga berisiko menggeser fokus kampanye dari isu substantif ke popularitas dan hiburan.

    Ini bisa mengurangi diskusi serius tentang kebijakan dan isu-isu penting, menggantinya dengan narasi yang lebih berfokus pada citra dan kepribadian.

    Mengandalkan influencer dalam politik juga bisa memiliki implikasi jangka panjang pada kualitas diskusi demokratis.

    Ini mungkin mengarah pada pengurangan keterlibatan politik yang serius dan berbasis isu, menggantinya dengan pendekatan yang berorientasi pada popularitas.

    Selain itu, ada risiko bahwa penggunaan influencer dalam politik dapat menyebabkan polarisasi lebih lanjut di antara publik.

    Untuk mengurangi risiko ini, influencer dapat memainkan peran dalam mendukung demokrasi yang sehat dan berbobot, dengan memfasilitasi pertukaran ide yang konstruktif dan meningkatkan pemahaman lintas pandangan politik.

    Selain itu, influencer perlu berusaha untuk mempromosikan diskusi yang inklusif dan menghindari retorika yang memecah belah.

    Mereka dapat melakukannya dengan membuka ruang dialog di antara pengikut yang memiliki berbagai pandangan politik dan mendorong diskusi yang sopan dan produktif.

    Dari sisi pemilih, penting bagi kita untuk tidak hanya mengonsumsi konten influencer secara pasif, tetapi juga secara aktif menganalisis dan mempertanyakan motif di balik pesan yang disampaikan.

    Salah satu caranya dengan mencari informasi dari berbagai sumber dan membandingkannya untuk membuat keputusan politik yang terinformasi dengan baik.

  • Mengapa Politisi Gunakan Influencer untuk Mendapatkan Dukungan Politik

    Mengapa Politisi Gunakan Influencer untuk Mendapatkan Dukungan Politik

    7cloud.asia – Influencer atau pesohor media sosial telah menjadi kekuatan penting dalam lanskap politik modern.

    Dengan basis pengikut yang besar dan loyal, para influencer memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini publik.

    Melalui unggahan mereka yang dirancang sedemikian rupa, influencer ini tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga mengekspresikan pendapat pribadi yang dapat memengaruhi pemikiran dan perilaku pemilih.

    Barack Obama adalah salah satu politikus yang pertama kali memanfaatkan kekuatan media sosial dan influencer secara efektif.

    Dia menggunakan selebritas dan influencer populer seperti Oprah Winfrey, yang memiliki pengaruh besar di kalangan pemilih Amerika Serikat (AS) untuk menjangkau pemilih muda dan beragam secara demografis.

    Jokowi pun melakukan hal serupa saat melakukan kampanye. Terbaru, calon presiden (capres) Prabowo Subianto, menggandeng para influencer kondang, seperti Raffi Ahmad, Rachel Vennya, Ria Ricis, Nagita Slavina, Deddy Corbuzier, dan Atta Halilintar saat peresmian Grha Utama akademi militer (Akmil) di Magelang, Jawa Tengah.

    Keberadaan influencer dalam politik saat ini merefleksikan pergeseran dari kampanye tradisional ke strategi yang lebih terfokus pada media sosial dan pemasaran digital.

    Baca: Kehadiran influencer di IKN jadi sorotan publik

    Terdapat beberapa alasan mengapa influencer dapat berperan penting dalam usaha meraup suara, di antaranya:

    1. Jangkauan audiens
    Influencer mampu mencapai audiens dengan jangkauan yang luas secara instan, sehingga menjadikan mereka pilihan efektif dalam mendapatkan dukungan politik.

    Dengan satu unggahan di media sosial, mereka dapat menyebarkan pesan, baik itu mendukung atau menentang kebijakan atau kandidat, ke jutaan orang dalam hitungan detik.

    Ini menciptakan efek domino yang bisa mengubah jalannya sebuah kampanye.

    Kita bisa melihat bagaimana kekuatan media sosial berdampak pada kejadian Arab Spring. Saat itu, demonstrasi dan unggahan di situs seperti Facebook dan Twitter digunakan untuk mencoba melakukan protes dan memobilisasi massa.

    Hasilnya, beberapa pemerintahan di wilayah tersebut mengalami perubahan dan revolusi politik.

    Di pemilu AS, Donald Trump yang aktif di Twitter, terus memberikan berbagai narasi yang membangun dukungan kuat di antara pengikutnya.

    Baca: Daftar influencer yang boikot gerakan Blockout2024

    2. Ilusi keterwakilan
    Influencer sering dianggap sebagai ‘one of us’ atau bagian dari masyarakat umum. Mereka memiliki pengikut dan mampu memberikan opini yang membentuk pandangan followers atau pengikutnya sendiri.

    Pesan mereka mudah untuk diterima dan diikuti para pengikutnya, karena terasa lebih nyata dan dapat dipercaya, dibandingkan dengan iklan politik tradisional.

    Sebuah riset membuktikan bahwa komunikasi influencer tentang topik politik atau isu-isu tertentu dapat meningkatkan minat politik pemilih khususnya kaum muda.

    hal ini disebabkan oleh penggambaran topik sosial-politik yang dianggap lebih mudah dipahami dan menarik dalam konten yang diberikan influencer.

    Apa risiko keterlibatan influencer dalam politik akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation Indonesia, Penulis: Wawan Kurniawan, Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, Universitas Indonesia

  • Hati-hati! Pengaruh Influencer dan Media Sosial Bisa Memicu Pembelian Impulsif

    Hati-hati! Pengaruh Influencer dan Media Sosial Bisa Memicu Pembelian Impulsif

    7cloud.asia – Pernahkah kamu membeli sebuah barang hanya karena idola atau selebritas favoritmu memilikinya? Padahal, sebenarnya kamu tidak benar-benar membutuhkannya.

    Atau mungkin kamu membeli tiket konser atau boneka ‘Labubu’ hanya karena sedang tren dan semua orang di media sosial tampak melakukannya?

    Fenomena ini disebut pembelian impulsif, atau pembelian yang dilakukan secara spontan dan lebih didorong oleh emosi daripada kebutuhan.

    Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang bisa terjebak dalam perilaku pembelian impulsif. Salah satunya adalah berkembangnya media sosial.

    Pemasaran melalui media sosial yang memanfaatkan jasa endorsement dari influencer atau selebriti adalah salah satu faktor utama yang memperkuat perilaku ini, terutama di kalangan generasi Z (Gen Z) yang dikenal melek digital dan sangat lekat dengan media sosial.

    Dalam artikel ini, penulis akan mengeksplorasi bagaimana media sosial mengubah perilaku konsumsi publik melalui hubungan parasosial dengan influencers dan beberapa fenomena psikologis.

    Fenomena psikologis seperti FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions) yang menjadi faktor pemicu perilaku pembelian impulsif.

    Baca: Jebakan FOMO dan efeknya pada kondisi keuanganmu

    Media sosial dan perkembangan hubungan parasosial
    Media sosial seperti Instagram dan X (sebelumnya Twitter) telah mengubah cara kita berinteraksi dan berkomunikasi, sekaligus memperkenalkan fenomena baru yang memengaruhi identitas sosial kita.

    Salah satu fenomena ini adalah hubungan parasosial–perasaan memiliki ikatan emosional dengan figur publik atau selebritas yang tidak kita kenal secara langsung.

    Misalnya, penggemar BTS, yang dikenal sebagai “Army”, mungkin merasa sangat dekat dan terhubung secara emosional dengan anggota BTS, meski mereka mungkin belum pernah bertemu langsung.

    Begitu pula dengan “Blink” untuk penggemar Blackpink atau “Swifties” untuk penggemar Taylor Swift.

    Media sosial memperkuat hubungan parasosial ini karena memungkinkan penggemar mendapatkan “akses” langsung ke kehidupan selebritas, seolah-olah mereka teman dekat.

    Hubungan semacam ini juga berlaku pada pengikut influencers, yang sering dipandang sebagai figur inspiratif atau “idola” modern di media sosial.

    Banyak perusahaan melihat ini sebagai peluang bisnis dan memanfaatkan kedekatan para influencer dengan pengikutnya sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka.

    Baca: Kiat menghindari jebakan FOMO

    Hubungan parasosial dengan influencer dan pembelian impulsif
    Secara psikologis, pengikut sering melihat influencers sebagai sumber informasi yang kredibel dan autentik.

    Karena influencers terkesan lebih akrab dan nyata, rekomendasi mereka terasa lebih meyakinkan ketimbang iklan biasa.

    Melalui pengungkapan diri (self-disclosure) dengan berbagi kisah pribadi, hobi, atau kegemaran mereka di media sosial, influencers bisa membangun rasa keterhubungan dengan pengguna.

    Dengan demikian, ketika influencers mempromosikan produk, pengikut mereka lebih mudah tersentuh secara emosional dan terdorong untuk merasakan pengalaman yang sama dengan idola mereka.

    Selain itu, rasa kedekatan dengan influencers membuat pengikut cenderung melihat upaya endorsement mereka sebagai rekomendasi dari seorang teman dekat, bukan iklan komersial.

    Inilah yang membuat perusahaan tertarik bekerja sama dengan influencers, memanfaatkan ikatan emosional mereka dengan pengikut untuk meningkatkan penjualan.

    Beberapa studi terbaru mengonfirmasi bahwa endorsement artis atau influencer secara signifikan memengaruhi pembelian impulsif, terutama di kalangan Generasi Z.

    Adakah cara yang tepat untuk mengatasi situasi ini? Tentunya ada, tetapi jawabannya baru akan diulas di tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Arifatus Sholekhah (Research Officer, Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada)

  • Jebakan ‘Echo Chamber’: Panduan Etika untuk ‘Influencer’ agar Tidak Blunder

    Jebakan ‘Echo Chamber’: Panduan Etika untuk ‘Influencer’ agar Tidak Blunder

    7cloud.asia – Masyarakat saat ini banyak mengonsumsi informasi dari media sosial. Terlebih Gen Z yang sangat aktif di Instagram dan TikTok.

    Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di media sosial—sambil sesekali berhenti karena menemukan konten yang menurut mereka menarik.

    Masalahnya adalah media sosial bekerja dengan algoritma. Ketika seseorang menonton sebuah video pendek di media sosial sampai habis, apalagi memberi like, bahkan share atau save, maka algoritma kita akan memunculkan konten-konten serupa.

    Akibatnya, seseorang sering terjebak dalam ruang gema atau echo chamber, yaitu ruang yang berisi informasi serupa dengan apa yang dikonsumsi sebelumnya.

    Hal ini menciptakan status quo atau kondisi lingkaran pertemanan di media sosial yang tetap. Akhirnya, pengguna media sosial cenderung mengikuti satu pandangan saja dan sulit terbuka pada opini berbeda.

    Sayangnya, algoritma media sosial bisa tidak netral. Karena itu, influencer yang diikuti sangat berpengaruh membentuk opini dan perspektifnya.

    Baca: Risiko punya pemimpin yang juga kreator konten

    Jika influencer menyebarkan konten negatif atau bernuansa provokasi, ini bisa memunculkan polarisasi, yaitu penguatan pandangan individu yang bertentangan dengan perspektif lain dan disertai emosi negatif.

    Karena itu, konten yang dibuat oleh influencer sebaiknya berdasarkan data dan fakta, serta memberikan edukasi yang bernada netral atau positif daripada negatif. Untuk melakukan ini, influencer harus memahami etika.

    Panduan etika untuk ‘influencer’
    Salah satu bentuk etika yang patut diperhatikan oleh influencer dalam membuat konten adalah ‘etika representatif’.

    Artinya, ketika membuat konten, influencer tidak hanya menimbang kepentingan pribadinya saja, melainkan juga memperhatikan subjek sebagai representasi dari masyarakat dunia nyata.

    Etika ini penting karena konten yang dihasilkan di internet dapat memengaruhi kehidupan di dunia nyata. Etika representative ini memiliki konsep segitiga etika.

    Dari ketiga konsep tersebut, terdapat pertanyaan-pertanyaan yang bisa memandu kreator konten dalam merefleksikan sikap etis di dunia digital.

    Baca: Pengaruh influencer dan media sosial bisa memicu pembelian impulsif

    1. Dalam melihat subjek
    a. Apakah dia berkenan masuk dalam konten saya? (consent)
    b. Apakah dia merasa bebas atau tidak ada paksaan untuk berpartisipasi? (free will)

    Dalam bagian ini, influencer perlu mempertimbangkan kehendak dari subjek lain yang muncul di dalam konten yang dibuat.

    Influencer perlu izin dan tidak bisa seenaknya memunculkan subjek lain di dalam konten. Karena mereka memiliki kebebasan untuk memilih dalam berpartisipasi.

    Contohnya, influencer Uya Kuya yang ditegur oleh seorang warga, saat ia mengambil gambar peristiwa kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat (AS) pada Januari 2025 di depan rumah warga tersebut.

    Menurut warga, Uya Kuya merekam tanpa izin dan tidak berempati terhadap korban. Akhirnya, Uya Kuya mengklarifikasi, lalu menurunkan kontennya, dan meminta maaf.

    2. Sebagai kreator konten
    a. Apakah karya saya memiliki maksud yang baik untuk orang lain? (intentionality)
    b. Apakah saya mempertimbangkan konsekuensi dari apa yang saya buat? (consequences)
    c. Apakah efek yang muncul dari karya saya ke depannya? Apakah dampaknya baik untuk masyarakat?

    Baca: Cara cerdas menggunakan media sosial agar tak terjebak dalam ‘echo chamber’

    Sebagai pencipta karya, sebelum mengunggah konten, influencer perlu mempertimbangkan apa konsekuensi dan dampak yang muncul dari konten tersebut ke depannya.

    Jadi, jangan terburu-buru dalam mengunggah konten, bacalah konten berulang, atau dapat dibantu orang lain untuk memikirkan kemungkinan dampak setelahnya. Sebab meskipun konten bisa dihapus, jejak digitalnya bisa jadi sudah tersebar ke mana-mana.

    3. Dalam melihat audiens
    a. Apakah audiens/ orang lain memahami maksud baik saya? (intentionality)
    b. Apakah audiens/ orang lain dapat berkontribusi dalam hubungan sosial yang sehat? (social good)

    Di bagian audiens, influencer perlu juga mempertimbangkan audiens atau followers yang akan menikmati konten. Tujuannya agar followers dapat menerima maksud baik dari konten, serta ikut menciptakan hubungan sosial yang sehat antara influencer dan followers.

    Harapannya, panduan pertanyaan reflektif ini dapat membantu influencer mempertimbangkan aspek etis ketika membuat konten, khususnya mempertimbangkan kehadiran subjek lain di lingkungan algoritmanya.

    Sehingga, apa yang influencer hasilkan dapat berdampak baik bagi dunia digital Indonesia.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lisa Esti Puji Hartanti (Full Lecturer at the School of Communication, Atma Jaya Catholic University of Indonesia)