Jebakan ‘Echo Chamber’: Panduan Etika untuk ‘Influencer’ agar Tidak Blunder

Written by

in

7cloud.asia – Masyarakat saat ini banyak mengonsumsi informasi dari media sosial. Terlebih Gen Z yang sangat aktif di Instagram dan TikTok.

Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di media sosial—sambil sesekali berhenti karena menemukan konten yang menurut mereka menarik.

Masalahnya adalah media sosial bekerja dengan algoritma. Ketika seseorang menonton sebuah video pendek di media sosial sampai habis, apalagi memberi like, bahkan share atau save, maka algoritma kita akan memunculkan konten-konten serupa.

Akibatnya, seseorang sering terjebak dalam ruang gema atau echo chamber, yaitu ruang yang berisi informasi serupa dengan apa yang dikonsumsi sebelumnya.

Hal ini menciptakan status quo atau kondisi lingkaran pertemanan di media sosial yang tetap. Akhirnya, pengguna media sosial cenderung mengikuti satu pandangan saja dan sulit terbuka pada opini berbeda.

Sayangnya, algoritma media sosial bisa tidak netral. Karena itu, influencer yang diikuti sangat berpengaruh membentuk opini dan perspektifnya.

Baca: Risiko punya pemimpin yang juga kreator konten

Jika influencer menyebarkan konten negatif atau bernuansa provokasi, ini bisa memunculkan polarisasi, yaitu penguatan pandangan individu yang bertentangan dengan perspektif lain dan disertai emosi negatif.

Karena itu, konten yang dibuat oleh influencer sebaiknya berdasarkan data dan fakta, serta memberikan edukasi yang bernada netral atau positif daripada negatif. Untuk melakukan ini, influencer harus memahami etika.

Panduan etika untuk ‘influencer’
Salah satu bentuk etika yang patut diperhatikan oleh influencer dalam membuat konten adalah ‘etika representatif’.

Artinya, ketika membuat konten, influencer tidak hanya menimbang kepentingan pribadinya saja, melainkan juga memperhatikan subjek sebagai representasi dari masyarakat dunia nyata.

Etika ini penting karena konten yang dihasilkan di internet dapat memengaruhi kehidupan di dunia nyata. Etika representative ini memiliki konsep segitiga etika.

Dari ketiga konsep tersebut, terdapat pertanyaan-pertanyaan yang bisa memandu kreator konten dalam merefleksikan sikap etis di dunia digital.

Baca: Pengaruh influencer dan media sosial bisa memicu pembelian impulsif

1. Dalam melihat subjek
a. Apakah dia berkenan masuk dalam konten saya? (consent)
b. Apakah dia merasa bebas atau tidak ada paksaan untuk berpartisipasi? (free will)

Dalam bagian ini, influencer perlu mempertimbangkan kehendak dari subjek lain yang muncul di dalam konten yang dibuat.

Influencer perlu izin dan tidak bisa seenaknya memunculkan subjek lain di dalam konten. Karena mereka memiliki kebebasan untuk memilih dalam berpartisipasi.

Contohnya, influencer Uya Kuya yang ditegur oleh seorang warga, saat ia mengambil gambar peristiwa kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat (AS) pada Januari 2025 di depan rumah warga tersebut.

Menurut warga, Uya Kuya merekam tanpa izin dan tidak berempati terhadap korban. Akhirnya, Uya Kuya mengklarifikasi, lalu menurunkan kontennya, dan meminta maaf.

2. Sebagai kreator konten
a. Apakah karya saya memiliki maksud yang baik untuk orang lain? (intentionality)
b. Apakah saya mempertimbangkan konsekuensi dari apa yang saya buat? (consequences)
c. Apakah efek yang muncul dari karya saya ke depannya? Apakah dampaknya baik untuk masyarakat?

Baca: Cara cerdas menggunakan media sosial agar tak terjebak dalam ‘echo chamber’

Sebagai pencipta karya, sebelum mengunggah konten, influencer perlu mempertimbangkan apa konsekuensi dan dampak yang muncul dari konten tersebut ke depannya.

Jadi, jangan terburu-buru dalam mengunggah konten, bacalah konten berulang, atau dapat dibantu orang lain untuk memikirkan kemungkinan dampak setelahnya. Sebab meskipun konten bisa dihapus, jejak digitalnya bisa jadi sudah tersebar ke mana-mana.

3. Dalam melihat audiens
a. Apakah audiens/ orang lain memahami maksud baik saya? (intentionality)
b. Apakah audiens/ orang lain dapat berkontribusi dalam hubungan sosial yang sehat? (social good)

Di bagian audiens, influencer perlu juga mempertimbangkan audiens atau followers yang akan menikmati konten. Tujuannya agar followers dapat menerima maksud baik dari konten, serta ikut menciptakan hubungan sosial yang sehat antara influencer dan followers.

Harapannya, panduan pertanyaan reflektif ini dapat membantu influencer mempertimbangkan aspek etis ketika membuat konten, khususnya mempertimbangkan kehadiran subjek lain di lingkungan algoritmanya.

Sehingga, apa yang influencer hasilkan dapat berdampak baik bagi dunia digital Indonesia.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lisa Esti Puji Hartanti (Full Lecturer at the School of Communication, Atma Jaya Catholic University of Indonesia)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *