Tag: jamur

  • Ilmuwan AS Gunakan Tanaman dan Jamur untuk Membersihkan Polusi Tanah

    Ilmuwan AS Gunakan Tanaman dan Jamur untuk Membersihkan Polusi Tanah

    7cloud.asia – Para ilmuwan dari University of California Riverside, AS sedang mengembangkan penelitian dengan menggunakan tanaman dan jamur untuk ‘membersihkan’ lingkungan yang mengalami polusi cukup parah.

    Mereka menyebarkan tanaman dan jamur yang dipilih secara hati-hati di bekas lokasi industri di Los Angeles yang mengalami polusi parah. Tujuan mereka adalah menghilangkan logam berat dan petrokimia yang telah mencemari daerah tersebut selama puluhan tahun. 

    Di suatu lahan telantar bekas kawasan industri di Los Angeles, Kreigh Hampel mencungkil sorgum hitam California dengan garu untuk mengetahui berapa banyak timbel yang diserapnya.

    Bunga-bunga putih dan merah muda tanaman itu memiliki kemampuan membersihkan yang menakjubkan, yang menurut para ilmuwan dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan polutan berbahaya – dan bahkan mendaur ulangnya.

    Hampel, sukarelawan proyek ini, mengatakan, ”Tanaman benar-benar dapat melakukan pembersihan, mereka tahu bagaimana caranya, mereka telah melakukannya berkali-kali selama jutaan tahun.”

    Baca: Polusi terbukti menurunkan kesuburan laki-laki

    Eksperimen ini adalah bagian dari proyek yang dijalankan University of California Riverside, yang telah menyebarkan tanaman dan jamur yang dipilih dengan hati-hati di bekas lokasi industri tersebut untuk membersihkan logam berat dan petrokimia yang telah mencemari daerah itu selama puluhan tahun.

    Danielle Stevenson, yang memimpin penelitian itu, mengatakan, teknik-teknik pembersihan hayati seperti itu jauh lebih hemat biaya daripada teknik biasa.

    “Kami membersihkan lokasi-lokasi ini dengan menggunakan jamur dan tanaman. Metode pembersihan konvensional hanyalah menggali semua tanah yang terkontaminasi dan membuangnya di tempat lain.”

    Menurutnya, pendekatan konvensional tidak benar-benar menyelesaikan masalah polusi dan biayanya pun besar sekali.

    Baca: Polusi dan kenaikan suhu dorong perkembangan nyamuk malaria

    Proyek Stevenson, yang dilakukan di tiga lokasi di Los Angeles dan sekitarnya, menganggarkan biaya sekitar USD 200.000.
     
    Sejauh ini, hasilnya sangat menggembirakan. Dalam tiga bulan, proyek itu telah mengurangi 50 persen petrokimia dan untuk beberapa jenis logam, level itu akan tercapai dalam enam bulan, ujarnya.

    Stevenson, seorang pakar jamur, memilih senjata antipolusinya dengan hati-hati. Jamur tiram ditanam ke tanah karena peran alaminya dalam penguraian; miselium, bagian jamur yang terpendam, menyerap solar.

    Di alam, jamur ini akan memakan pohon mati. Di tanah, jamur ini akan mengenali minyak solar, misalnya, sebagai sumber makanan.

    Beberapa tanaman asli California, termasuk telegraph weed dan bunga matahari semak California, sangat baik dalam menyerap logam berat.

    “Cara kerjanya adalah tanaman itu saya anggap sebagai penyedot debu bertenaga surya. Pada dasarnya tanaman menyedot logam, seperti timbel, ke tubuh mereka. Jadi ketika kita mencabut tanaman, kita menyingkirkan timbel dari tanah. Jadi tanah dibersihkan dari logam berbahaya,” jelasnya.

    Baca: Polusi udara akibatkan 7 juta kematian dini setiap tahunnya

    Timbel dan logam lainnya kemudian dapat diperoleh dari tanaman tersebut dan bahkan digunakan kembali.

    Di seluruh AS dan negara industri, tempat komersial yang telah tercemar setelah lewat masa pakainya kerap kali ditelantarkan begitu saja, kata Stevenson. Tanggung jawab untuk membenahinya jatuh pada otoritas lokal yang tidak memiliki cukup dana atau perlengkapan.

    Di AS, di mana Badan Perlindungan Lingkungan Hidup mencatat hampir 1.900 lokasi bermasalah, hanya sejumlah kecil proyek pembersihan dilakukan setiap tahun, kata Stevenson.

    Ia berharap metode yang lebih murah akan memungkinkan lebih banyak lagi lokasi yang dibersihkan.

    Para aktivis mengatakan penggunaan pembersihan hayati tidak terbatas untuk memperbaiki bekas lokasi industri. Proses ini juga dapat digunakan untuk membantu membersihkan abu beracun sisa kebakaran hutan – masalah tahunan di California yang rawan kebakaran.

    Baca: Kampanye iklim harus tumbuhkan kesadaran bukan kengerian

    Sementara itu, Stevenson menunjuk pada prasangka tak sehat mengenai jamur – seperti jamur menakutkan yang menginfeksi zombie dalam serial di HBO, “The Last of Us.”

    “Saya selalu ditanya: ‘Kalau kita gunakan jamur untuk membersihkan suatu tempat, apakah jamur ini akan mengambil alih, memakan rumah kita dan menguasai dunia?” katanya dan dengan cepat ia menjawab, “Tidak akan.”

    Inilah sebabnya mengapa penting untuk melakukan eksperimen semacam itu di dunia nyata, bukan hanya di laboratorium.

    Stevenson berpendapat, jika lebih banyak tes lapangan untuk metode ini dilakukan, orang akan semakin yakin untuk memilih pendekatan semacam ini. 

    Sumber: VOA Indonesia

  • Atasi Serangan Jamur, Petani Kopi di Temanggung Gunakan Cara Biologi Hayati

    Atasi Serangan Jamur, Petani Kopi di Temanggung Gunakan Cara Biologi Hayati

    7cloud.asia – Petani kopi di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah saat ini sedang menghadapi serangan jamur yang mengakibatkan busuknya buah kopi.

    Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, bekerja sama dengan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) pun menurunkan tim untuk meneliti serangan jamur pada tanaman kopi ini.

    Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung Joko Budi Nuryanto menyampaikan, serangan jamur ini tingkat kerugiannya bisa mencapai 12-20 persen.

    “Kalau kopi sudah busuk tidak ada bobotnya, tidak bisa dipakai atau tidak dapat dimanfaatkan lagi,” katanya di Temanggung Minggu (18/8/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Ia menuturkan, pihaknya sudah mengambil sampel di beberapa titik, antara lain di Malebo dan Jambon untuk kopi jenis robusta, yang jenis arabika ada di Tlahap.

    Baca: Pemkab Temanggung terus kembangkan kebun kopi organik

    “Kami masih menunggu hasilnya, tingkat serangan dan nanti pengendaliannya. Harapan kami pengendaliannya nanti lebih ke arah biologi hayati,” katanya.

    Dipaparkannya, cara biologi hayati adalah mengusir jamur dengan jamur lain. Karena itu, pihaknya akan mencari jamur yang memangsa jamur yang saat ini menyerang tanaman kopi di Temanggung ini.

    “Jangan pakai obat atau racun, jadi kita ingin menambahi untung petani kopi dengan tidak menambah biaya tetapi mengurangi biaya. Yang kita lakukan adalah menekan pengeluaran supaya keuntungannya bertambah,” katanya.

    Saat ini, Kabupaten Temanggung memang sedang mendorong budidaya kopi organik. Selain lebih ramah lingkungan, harga jual kopi organik juga lebih tinggi dibanding kopi konvensional.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih bagus untuk lingkungan

    Tanaman kopi memang tergolong rentan terhadap serangan hama dan penyakit, diantaranya jamur.

    Serangan jamur dapat menghambat pertumbuhan bahkan menyebabkan kematian pada organ tanaman kopi.

    Dari penelitian yang dilakukan tim dari Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung, setidaknya ada 19 jenis jamur pada tanaman kopi.

    Sebanyak 18 jenis jamur diantaranya merupakan anggota kelas Deuteromycetes dan satu jenis jamur merupakan kelas Ascomycetes.

    Berdasarkan pada bagian tanaman yang terserang; 8 jenis jamur pada daun, 4 jenis jamur pada batang, 1 jenis jamur pada ranting, 2 jenis jamur pada akar dan 3 jenis jamur pada buah.

  • Pemanasan Akibat Perubahan Iklim Bikin Jamur Semakin Ganas

    Pemanasan Akibat Perubahan Iklim Bikin Jamur Semakin Ganas

    7cloud.asia – Naiknya suhu bumi akibat perubahan iklim, diam-diam juga membuka jalan bagi masifnya pertumbuhan dan persebaran musuh kecil yang mematikan: jamur patogen.

    Dalam edisi terbaru Ask the Expert, The Conversation berbincang dengan Diah Ayu Prawitasari, Dosen teknik lingkungan, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

    Diah menjelaskan bahwa suhu yang menghangat akibat perubahan iklim bisa membuat jamur menjadi stres, yang kemudian mendorong mutasi genetik. Hasilnya? Jamur menjadi lebih tangguh terhadap suhu tinggi.

    Beberapa jenis jamur yang dulu hanya bisa hidup di wilayah tropis, kini bisa berkembang luas di daerah non-tropis.

    Sebagian besar menjadi lebih resisten terhadap panas dan sulit dikendalikan. Mereka bahkan berpeluang lebih kuat lagi dan mampu bertahan pada suhu tubuh manusia.

    Adapun jenis jamur yang paling berbahaya bagi manusia, di antaranya adalah Candida auris dan Aspergillus Fumigatus.

    Mereka bisa menyebabkan infeksi yang parah, menyerang sistem kekebalan tubuh dan sistem pernapasan manusia. Bahkan, bisa memicu kematian jika tidak ditangani dengan cepat.

    Tapi, apakah jamur bisa menginfeksi sampai mengendalikan tubuh manusia seperti dalam film The Last of Us?

    Hingga saat ini, Diah menyebut belum ada bukti ilmiah bahwa jamur Cordyceps yang ditampilkan dalam film tersebut bisa menginfeksi manusia. Di dunia nyata, jamur Cordyceps sejauh ini hanya bisa menginfeksi serangga, seperti semut.

    Kemungkinannya sangat kecil jamur bisa menginfeksi manusia. Meski begitu, ujar Diah, film ini menjadi sinyal peringatan bahwa perubahan iklim bisa mempercepat kemunculan mikroorganisme baru atau mendorong mutasi yang berbahaya.

    “Kita tidak pernah tahu masa depan akan seperti apa, dengan perubahan iklim dan pemanasan global, bisa saja jamur tersebut berevolusi, sehingga menyerang manusia. Walaupun, tentu saja, evolusi itu membutuhkan waktu yang sangat lama,” ujar dia.

    Jamur sebenarnya tak selalu menjadi ancaman. Ia juga berperan penting untuk keseimbangan lingkungan. Beberapa spesies bertindak sebagai dekomposer alami—mereka membantu mengurai materi organik dan menjaga siklus alam tetap berjalan.

    Beberapa jenis jamur bahkan memiliki kemampuan untuk menyerap logam berat sampai menyaring air. Mereka bekerja seperti “polisi lingkungan” yang membersihkan polusi tanpa merusak ekosistem.

    Kini, berbagai teknologi berbasis jamur berkembang sebagai solusi lingkungan. Misalnya, miselium—jaringan jamur yang digunakan sebagai bahan untuk membuat kemasan, batako, bahkan furnitur.

    Material ini ringan, tahan lama, dan bisa terurai alami. Banyak perusahaan di dunia, termasuk Indonesia, mulai mengembangkan produk-produk berbasis jamur ini sebagai pengganti styrofoam dan beton konvensional.

    Jamur juga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bioenergi dari limbah organik. Proses ini tidak hanya mengurangi emisi karbon, tapi juga membuka peluang energi terbarukan dari sumber yang selama ini kita abaikan.

    Di tengah krisis iklim, jamur bisa menjadi tantangan sekaligus sekutu dalam menjaga bumi. Dan semua itu, tergantung pada bagaimana kita menyikapinya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation Indonesia. Jika ingin mendengarkan rekaman siniarnya klik di sini.

  • Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Jamur Morel dari Gunung Rinjani

    Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Jamur Morel dari Gunung Rinjani

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim peneliti lintas pusat riset berhasil mengidentifikasi satu spesies baru jamur dari genus Morchella.

    Dilansir di laman resmi BRIN, brin.goid, Spesies baru jamur dari genus Morchella ini ditemukan di kawasan Cagar Biosfer Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Temuan ini menjadi catatan penting bagi keanekaragaman jamur tropis di Asia Tenggara.

    Spesies baru yang diberi nama Morchella rinjaniensis ini memiliki ciri khas tubuh buah besar dengan pola lubang dan ridges tidak beraturan, serta spora berpola seperti labirin.

    Peneliti PRBE BRIN, Atik Retnowati, menjelaskan bahwa berdasarkan ciri morfologi serta hasil analisis genetik terhadap empat gen, spesies ini menunjukkan perbedaan yang jelas dibandingkan jenis Morchella lainnya. Sehingga, secara ilmiah, spesies ini dapat dideskripsikan sebagai spesies baru.

    “Spesies ini memiliki kombinasi karakter unik yang tidak ditemukan pada jenis Morchella lain, baik secara morfologi maupun molekuler,” katanya.

    Baca: Penemuan spesies baru tumbuhan Araceae dari Riau

    Jamur Morchella rinjaniensis ditemukan tumbuh liar di lereng Gunung Rinjani pada ketinggian antara 900 hingga 1.200 meter di jalur seperti Torean, Senaru, Sembalun, Tetebatu, dan Aik Berik.

    Jamur ini umumnya muncul saat peralihan musim hujan ke kemarau, yakni sekitar April hingga Mei.

    “Spesies ini memiliki tubuh buah yang bisa mencapai 19 centimeter, dengan pola lubang (pits) tidak beraturan dan spora berukuran besar yang permukaannya bergelombang menyerupai labirin,” jelas Atik.

    Dia menambahkan bahwa hasil analisis pohon filogenetik menempatkan Morchella rinjaniensis dalam satu klade dengan Morchella galilaea. Namun, keduanya menunjukkan perbedaan morfologi dan genetik yang jelas.

    Lebih lanjut, penelitian mencatat bahwa jamur ini tumbuh di bawah naungan vegetasi hutan alami dan kerap ditemukan di sekitar aliran air kecil atau area semi terbuka.

    Baca: Sejumlah spesies nepenthes endemik Sumatra terancam punah

    Di habitat tersebut, Morchella rinjaniensis tumbuh berdampingan dengan berbagai jenis tumbuhan dari famili seperti Elaeocarpaceae, Urticaceae, dan Myrtaceae.

    Spesies ini berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif bernilai tinggi karena termasuk dalam kelompok jamur yang dapat dikonsumsi.

    Menurut Atik, pengelolaan berbasis konservasi untuk menjaga kelestarian populasi Morchella rinjaniensis di alam penting untuk dilakukan.

    “Strategi pelestarian jamur ini sejalan dengan program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO yang mendorong pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan melalui pemanfaatan zona transisi biosfer,” tuturnya.

    Pendeskripsian Morchella rinjaniensis sebagai spesies baru merupakan bagian dari penelitian pembudidayaan Morchella.

    Baca: Ratusan jenis lumut jadi kekayaan Gunung Gede

    “Harapannya, hasil riset ini membuka peluang pengembangan budidaya yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” harap Atik.

    Selain itu, hasil riset ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan rencana budidaya jamur Morchella di Indonesia, baik jangka pendek maupun panjang, memperkaya data keanekaragaman hayati Indonesia.

    Riset ini juga membuka peluang baru bagi riset ekologi jamur serta pengembangan bioprospeksi di kawasan tropis.

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Mycobiology, Volume 53(4), halaman 367–378 tahun 2025, berjudul “Morchella rinjaniensis: A Novel Species of Tropical Morchella (Ascomycota, Pezizales, and Morchellaceae) Discovered in UNESCO Rinjani-Lombok Biosphere Reserve, Indonesia” oleh Retnowati et al. (2025).

  • Mengenal Jamur Lebih Dekat: Tumbuhan yang Bermanfaat Tetapi Terabaikan

    Mengenal Jamur Lebih Dekat: Tumbuhan yang Bermanfaat Tetapi Terabaikan

    7cloud.asia – Ketika berbicara tentang alam, kita cenderung fokus pada flora dan fauna, yakni tumbuhan dan hewan. Tetapi ada kerajaan kehidupan ketiga yang sering dilupakan banyak orang: jamur atau fungi.

    Jamur sangat penting bagi kesehatan ekosistem kita, memiliki makna budaya bagi banyak komunitas, dan menawarkan potensi untuk mengatasi krisis lingkungan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

    Namun, dalam tulisannya di Earth.org, Jaida Faith pengamat jamur dari Colorado University, menyebutkan bahwa jamur hanya mewakili 2 persen dari prioritas konservasi global.

    Jamur, tulisnya, hampir tidak termasuk dalam percakapan tentang perlindungan lingkungan.

    Yayasan Jamur, yang didirikan oleh ahli mikologi Giuliana Furci, berupaya mengumpulkan dukungan agar jamur diakui sebagai kerajaan kehidupan independen dalam legislasi, kebijakan, dan perjanjian internasional.

    Baca: Perubahan Iklim Bikin Jamur Semakin Ganas

    Agenda ini akan dibawa ke Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) – COP17 – yang akan datang pada musim gugur ini.

    Mengapa Kita Harus Peduli dengan Jamur?
    Jamur – yang hanya 10 persen di antaranya telah ditemukan – hidup dalam ketergantungan dengan flora dan fauna. Hampir 90 persen dari semua spesies tumbuhan yang dikenal membentuk hubungan simbiosis dengan jamur.

    Melalui jaringan mikoriza bawah tanah, pohon-pohon bertukar nutrisi seperti karbon, air, dan gula – dan mentransfer sekitar 13 miliar metrik ton CO2 ke jamur setiap tahunnya

    Angka ini setara dengan sekitar 36 persen dari seluruh emisi bahan bakar fosil global tahunan.

    Bioremediasi jamur, penggunaan jamur seperti Pleurotus ostreatus untuk mendekontaminasi ekosistem, menawarkan solusi untuk membersihkan tumpahan minyak dan polusi plastik.

    Baca: Ilmuwan AS Gunakan Tanaman dan Jamur untuk Membersihkan Polusi Tanah

    Jadi Jaida menekankan, memastikan konservasi jamur dapat mendukung perlindungan alam secara keseluruhan.

    Jamur juga memainkan peran mendasar dalam budaya dan pengetahuan banyak komunitas adat, mencerminkan hubungan ekologis dan spiritual yang mendalam yang telah bertahan selama berabad-abad.

    Digunakan sebagai makanan, penyedap rasa, dan obat-obatan di seluruh dunia, jamur telah mendukung perkembangan peradaban manusia. Di hutan hujan Amazon, wanita Yanomami menggunakan rizomorf dari Marasmius yanomami untuk membuat keranjang.

    Genus Fomitopsis dari jamur conk telah digunakan dalam berbagai budaya untuk mengasah alat, sebagai tekstil pakaian, dan untuk menghentikan pendarahan.

    Di Hawaii, Auricularia cornea, yang secara lokal dikenal sebagai Pepeiao, dikumpulkan, dikeringkan, dan dikonsumsi sebagai makanan. Bagi banyak komunitas adat, jamur selalu memainkan peran penting.

    Baca: Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Jamur Morel dari Gunung Rinjani

    Tanpa jamur, manusia tidak akan pernah mengenal roti, keju, atau cokelat. Fermentasi dari jamur bersel tunggal, ragi, merupakan kunci untuk minuman seperti bir, anggur, dan kombucha.

    Jamur obat telah menunjukkan potensi dalam mendukung kondisi kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma.

    Hericium erinaceus mendukung neuroplastisitas dan pembentukan jalur saraf baru, meningkatkan memori dan kognisi.

    Budidaya jamur saja bernilai miliaran dolar setiap tahunnya, dan secara lebih luas, jamur menyumbang 55 triliun dolar bagi perekonomian global.

    Sama seperti spesies flora dan fauna, jamur juga terancam oleh hilangnya habitat dan deforestasi, yang dipercepat oleh dampak perubahan iklim yang sedang berlangsung.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel asli di sini.

     

  • Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan Mengancam Ribuan Spesies Jamur

    Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan Mengancam Ribuan Spesies Jamur

    7cloud.asia – Daftar Merah IUCN (Uni Internasional untuk Konservasi Alam) menyebut, 411 dari 1.300 spesies jamur di seluruh dunia terancam punah, salah satunya akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

    Daftar Merah IUCN, merupakan inventarisasi paling komprehensif di dunia tentang status konservasi global dan risiko kepunahan spesies biologis

    Upaya terbaru untuk menganalisa ratusan spesies jamur di seluruh dunia mengungkapkan bahwa hampir satu dari tiga jamur yang dipelajari kini terancam punah.

    Para ahli dan ilmuwan warga di seluruh dunia telah membantu menilai 482 spesies jamur baru dalam beberapa tahun terakhir, sehingga jumlah total dalam Daftar Merah IUCN menjadi 1.300. Dari jumlah tersebut, setidaknya 411 dianggap berisiko punah.

    Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengidentifikasi perluasan pertanian dan perkotaan sebagai penyebab utama hilangnya habitat jamur secara cepat.

     Baca: Mengenal Jamur, Tumbuhan yang Bermanfaat Tetapi Terabaikan

    Organisasi tersebut mengatakan pekan lalu bahwa deforestasi untuk produksi kayu, penebangan ilegal, dan pembukaan lahan untuk pertanian menempatkan setidaknya 198 spesies berisiko punah.

    Ditambahkan, perubahan iklim juga berdampak pada populasi jamur di seluruh dunia, dengan perubahan pola kebakaran di AS secara langsung mengancam kepunahan lebih dari 50 spesies jamur.

    Sangat Penting bagi Kehidupan di Bumi
    Jamur adalah kerajaan terbesar kedua setelah hewan, dengan perkiraan 2,5 juta spesies, di mana sekitar 155.000 di antaranya telah diberi nama.

    Selain sebagai sumber makanan dan digunakan dalam produksi minuman, jamur juga digunakan untuk mengembangkan obat-obatan.

    Jamur digunakan dalam pembersihan lokasi yang terkontaminasi karena kemampuannya untuk mengonsumsi dan menguraikan polutan lingkungan. Jamur juga melakukan berbagai fungsi penting yang mendasari kehidupan di planet Bumi.

     Baca: Spesies Baru Jamur Morel dari Gunung Rinjani

    Peran jamur mulai dari menguraikan materi organik kompleks, yang membantu mengembalikan nutrisi penting ke tanah, hingga membantu mengatur erosi tanah dan mempertahankan kelembapan, meningkatkan kemampuan tanah untuk menyimpan karbon.

    Jamur juga membentuk hubungan yang saling menguntungkan dengan organisme lain, suatu proses yang dikenal sebagai simbiosis.

    Ikatan simbiosis diperkirakan sangat penting bagi lebih dari 90% spesies tumbuhan, memungkinkan kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan ketahanan mereka di berbagai ekosistem di seluruh dunia.

    “Jamur adalah pahlawan kehidupan yang tak dikenal di Bumi, membentuk fondasi ekosistem yang sehat,” kata Grethel Aguilar, Direktur Jenderal IUCN, seraya memuji kerja para ahli dan ilmuwan warga dalam menilai jamur secara global.

    “Sudah saatnya mengubah pengetahuan ini menjadi tindakan dan melindungi kerajaan jamur yang luar biasa, yang jaringan bawah tanahnya yang luas menopang alam dan kehidupan seperti yang kita kenal,” tambahnya.

    Baca: Perubahan Iklim Bikin Jamur Parasit Semakin Ganas