Mengenal Jamur Lebih Dekat: Tumbuhan yang Bermanfaat Tetapi Terabaikan

Written by

in

7cloud.asia – Ketika berbicara tentang alam, kita cenderung fokus pada flora dan fauna, yakni tumbuhan dan hewan. Tetapi ada kerajaan kehidupan ketiga yang sering dilupakan banyak orang: jamur atau fungi.

Jamur sangat penting bagi kesehatan ekosistem kita, memiliki makna budaya bagi banyak komunitas, dan menawarkan potensi untuk mengatasi krisis lingkungan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

Namun, dalam tulisannya di Earth.org, Jaida Faith pengamat jamur dari Colorado University, menyebutkan bahwa jamur hanya mewakili 2 persen dari prioritas konservasi global.

Jamur, tulisnya, hampir tidak termasuk dalam percakapan tentang perlindungan lingkungan.

Yayasan Jamur, yang didirikan oleh ahli mikologi Giuliana Furci, berupaya mengumpulkan dukungan agar jamur diakui sebagai kerajaan kehidupan independen dalam legislasi, kebijakan, dan perjanjian internasional.

Baca: Perubahan Iklim Bikin Jamur Semakin Ganas

Agenda ini akan dibawa ke Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) – COP17 – yang akan datang pada musim gugur ini.

Mengapa Kita Harus Peduli dengan Jamur?
Jamur – yang hanya 10 persen di antaranya telah ditemukan – hidup dalam ketergantungan dengan flora dan fauna. Hampir 90 persen dari semua spesies tumbuhan yang dikenal membentuk hubungan simbiosis dengan jamur.

Melalui jaringan mikoriza bawah tanah, pohon-pohon bertukar nutrisi seperti karbon, air, dan gula – dan mentransfer sekitar 13 miliar metrik ton CO2 ke jamur setiap tahunnya

Angka ini setara dengan sekitar 36 persen dari seluruh emisi bahan bakar fosil global tahunan.

Bioremediasi jamur, penggunaan jamur seperti Pleurotus ostreatus untuk mendekontaminasi ekosistem, menawarkan solusi untuk membersihkan tumpahan minyak dan polusi plastik.

Baca: Ilmuwan AS Gunakan Tanaman dan Jamur untuk Membersihkan Polusi Tanah

Jadi Jaida menekankan, memastikan konservasi jamur dapat mendukung perlindungan alam secara keseluruhan.

Jamur juga memainkan peran mendasar dalam budaya dan pengetahuan banyak komunitas adat, mencerminkan hubungan ekologis dan spiritual yang mendalam yang telah bertahan selama berabad-abad.

Digunakan sebagai makanan, penyedap rasa, dan obat-obatan di seluruh dunia, jamur telah mendukung perkembangan peradaban manusia. Di hutan hujan Amazon, wanita Yanomami menggunakan rizomorf dari Marasmius yanomami untuk membuat keranjang.

Genus Fomitopsis dari jamur conk telah digunakan dalam berbagai budaya untuk mengasah alat, sebagai tekstil pakaian, dan untuk menghentikan pendarahan.

Di Hawaii, Auricularia cornea, yang secara lokal dikenal sebagai Pepeiao, dikumpulkan, dikeringkan, dan dikonsumsi sebagai makanan. Bagi banyak komunitas adat, jamur selalu memainkan peran penting.

Baca: Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Jamur Morel dari Gunung Rinjani

Tanpa jamur, manusia tidak akan pernah mengenal roti, keju, atau cokelat. Fermentasi dari jamur bersel tunggal, ragi, merupakan kunci untuk minuman seperti bir, anggur, dan kombucha.

Jamur obat telah menunjukkan potensi dalam mendukung kondisi kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma.

Hericium erinaceus mendukung neuroplastisitas dan pembentukan jalur saraf baru, meningkatkan memori dan kognisi.

Budidaya jamur saja bernilai miliaran dolar setiap tahunnya, dan secara lebih luas, jamur menyumbang 55 triliun dolar bagi perekonomian global.

Sama seperti spesies flora dan fauna, jamur juga terancam oleh hilangnya habitat dan deforestasi, yang dipercepat oleh dampak perubahan iklim yang sedang berlangsung.

Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel asli di sini.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *