7cloud.asia – Naiknya suhu bumi akibat perubahan iklim, diam-diam juga membuka jalan bagi masifnya pertumbuhan dan persebaran musuh kecil yang mematikan: jamur patogen.
Dalam edisi terbaru Ask the Expert, The Conversation berbincang dengan Diah Ayu Prawitasari, Dosen teknik lingkungan, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Diah menjelaskan bahwa suhu yang menghangat akibat perubahan iklim bisa membuat jamur menjadi stres, yang kemudian mendorong mutasi genetik. Hasilnya? Jamur menjadi lebih tangguh terhadap suhu tinggi.
Beberapa jenis jamur yang dulu hanya bisa hidup di wilayah tropis, kini bisa berkembang luas di daerah non-tropis.
Sebagian besar menjadi lebih resisten terhadap panas dan sulit dikendalikan. Mereka bahkan berpeluang lebih kuat lagi dan mampu bertahan pada suhu tubuh manusia.
Adapun jenis jamur yang paling berbahaya bagi manusia, di antaranya adalah Candida auris dan Aspergillus Fumigatus.
Mereka bisa menyebabkan infeksi yang parah, menyerang sistem kekebalan tubuh dan sistem pernapasan manusia. Bahkan, bisa memicu kematian jika tidak ditangani dengan cepat.
Tapi, apakah jamur bisa menginfeksi sampai mengendalikan tubuh manusia seperti dalam film The Last of Us?
Hingga saat ini, Diah menyebut belum ada bukti ilmiah bahwa jamur Cordyceps yang ditampilkan dalam film tersebut bisa menginfeksi manusia. Di dunia nyata, jamur Cordyceps sejauh ini hanya bisa menginfeksi serangga, seperti semut.
Kemungkinannya sangat kecil jamur bisa menginfeksi manusia. Meski begitu, ujar Diah, film ini menjadi sinyal peringatan bahwa perubahan iklim bisa mempercepat kemunculan mikroorganisme baru atau mendorong mutasi yang berbahaya.
“Kita tidak pernah tahu masa depan akan seperti apa, dengan perubahan iklim dan pemanasan global, bisa saja jamur tersebut berevolusi, sehingga menyerang manusia. Walaupun, tentu saja, evolusi itu membutuhkan waktu yang sangat lama,” ujar dia.
Jamur sebenarnya tak selalu menjadi ancaman. Ia juga berperan penting untuk keseimbangan lingkungan. Beberapa spesies bertindak sebagai dekomposer alami—mereka membantu mengurai materi organik dan menjaga siklus alam tetap berjalan.
Beberapa jenis jamur bahkan memiliki kemampuan untuk menyerap logam berat sampai menyaring air. Mereka bekerja seperti “polisi lingkungan” yang membersihkan polusi tanpa merusak ekosistem.
Kini, berbagai teknologi berbasis jamur berkembang sebagai solusi lingkungan. Misalnya, miselium—jaringan jamur yang digunakan sebagai bahan untuk membuat kemasan, batako, bahkan furnitur.
Material ini ringan, tahan lama, dan bisa terurai alami. Banyak perusahaan di dunia, termasuk Indonesia, mulai mengembangkan produk-produk berbasis jamur ini sebagai pengganti styrofoam dan beton konvensional.
Jamur juga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bioenergi dari limbah organik. Proses ini tidak hanya mengurangi emisi karbon, tapi juga membuka peluang energi terbarukan dari sumber yang selama ini kita abaikan.
Di tengah krisis iklim, jamur bisa menjadi tantangan sekaligus sekutu dalam menjaga bumi. Dan semua itu, tergantung pada bagaimana kita menyikapinya.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Rino Putama, Multimedia Producer, The Conversation Indonesia. Jika ingin mendengarkan rekaman siniarnya klik di sini.

Leave a Reply