Tag: jejak karbon

  • Mengungkap Jejak Karbon Sepak Bola; Sisi Gelap Olahraga Terpopuler Sejagad

    Mengungkap Jejak Karbon Sepak Bola; Sisi Gelap Olahraga Terpopuler Sejagad

    7cloud.asia – Sepak bola menjadi olahraga paling populer dengan jumlah penggemar global sebanyak 3,5 miliar orang.

    Sayangnya, jumlah penggemar yang besar dengan jangkauan internasional membuat sepakbola memiliki sisi buruk bagi lingkungan yakni jejak karbon yang signifikan

    Jejak karbon itu mulai dari stadion dan konsumsi energi hingga emisi dan produksi limbah yang terkait dengan perjalanan dan pertandingan.

    Alhasil sepak bola dengan permainan indahnya meninggalkan bekas negatif di planet Bumi.

    Emisi klub-klub terbukti sulit untuk dihitung karena secara konsisten emisi masing-masing klub bervariasi tergantung pada ukuran dan lokasi.

    Namun, perjalanan yang dilakukan baik oleh penggemar maupun anggota klub/tim sepak bola telah terbukti menjadi penyebab utama dampak negatif sepak bola terhadap lingkungan.

    Diperkirakan industri sepak bola global menghasilkan lebih dari 30 juta ton karbon dioksida setiap tahunnya. Jumlah setara dengan total emisi yang dihasilkan Denmark.

    Baca Juga: Kerja Keras Coldplay untuk Wujudkan Tur yang Ramah Lingkungan

    Sepak Bola Hijau?
    Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa meluncurkan Kerangka Aksi Olahraga untuk Iklim, yang menyerukan para penandatangan untuk mengurangi emisi di sektor ini guna mencapai nol emisi pada tahun 2040.

    Liga Premier mendaftar pada tahun 2021, dengan klub-klub termasuk Arsenal, Liverpool, Spurs dan Newcastle serta tim non-liga dan Eropa membuat komitmen secara independen.

    FIFA menyampaikan tujuan mereka untuk mengurangi emisi di seluruh acaranya sebagai bagian dari strategi iklimnya dan berharap menjadi organisasi netral karbon pada tahun 2040.

    UEFA bergabung dengan kampanye UN Race to Zero pada tahun 2022, dan berjanji untuk mengurangi separuh emisi di seluruh acaranya pada tahun 2030.

    Selain itu, UEFA juga memperkenalkan pedoman keberlanjutan untuk membantu klub meningkatkan: konsumsi energi dan air, pembangunan infrastruktur, manufaktur makanan dan pakaian jadi.

    Baca Juga: Ubah Cara Kamu Keramas Rambut Agar Lebih Ramah Lingkungan

    Dibutuhkan Lebih Banyak
    Pada 6 Maret 2024, UEFA meluncurkan Kalkulator Jejak Karbon, sebuah alat online yang dirancang untuk membantu klub dan tim mengelola emisi karbon mereka.

    Penghitungan emisi ini tak hanya dari perjalanan tetapi juga dari barang, fasilitas, dan layanan yang dibeli.

    Kalkulator tersebut memiliki verifikasi pihak ketiga , telah dikembangkan selama dua tahun.

    “Kalkulator Jejak Karbon UEFA mewujudkan ambisi kami untuk menunjukkan bahwa sepak bola dapat menjadi bagian dari solusi upaya global untuk mengurangi emisi karbon,” jelas Wakil Presiden UEFA Laura McAllister.

    “Dengan menyediakan alat dan panduan bagi para pemangku kepentingan, kami memfasilitasi tindakan kolektif menuju masa depan yang lebih berkelanjutan untuk olahraga dan planet kita.“

    Bersama-sama, imbuhnya, kita dapat menunjukkan kepada pemerintah, investor, penggemar, dan mitra komersial bahwa sepak bola berkomitmen untuk mengatasi perubahan iklim .

    Alat ini juga akan membantu klub “memahami” jejak karbon mereka dan mendorong mereka untuk mengurangi emisi, menurut Direktur Keberlanjutan UEFA Michele Uva.

    Sumber: earth.org baca artikel asli di sini

  • Simak Aktivitas dengan Jejak Karbon Tinggi yang Memicu Perubahan Iklim

    Simak Aktivitas dengan Jejak Karbon Tinggi yang Memicu Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Ancaman perubahan iklim semakin nyata. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa perubahan iklim terus berlangsung dengan cepat adalah perubahan suhu global yang meningkat dari tahun ke tahun.

    Data dari Copernicus Climate Change Service (CCCS) bahkan menunjukkan suhu rata-rata global tahun 2023 mencapai rekor tertinggi, menyebabkan gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan.

    Peningkatan suhu global dan perubahan iklim ini tak lepas dari berbagai aktivitas manusia yang belakangan makin tinggi jejak karbon yang dihasilkan.

    Jejak karbon adalah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh individu, aktivitas, produk, atau bahkan sebuah negara.

    Emisi gas rumah kaca inilah yang menjadi penyebab utama perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca yang paling sering diukur adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O).

    Baca: Dampak limbah elektronik pada lingkungan

    Makin tinggi jejak karbon yang dihasilkan maka makin besar pula dampaknya terhadap lingkungan.

    Mungkin, Anda bertanya-tanya apa saja contoh aktivitas manusia yang menghasilkan jejak karbon? Berikut beberapa di antaranya, yang dirangkum dari berbagai sumber:

    1. Transportasi
    Penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil seperti motor dan pesawat terbang dapat menghasilkan CO2 Konsumsi energi: Penggunaan listrik, gas untuk memasak juga dapat menghasilkan CO2.

    2. Produksi makanan
    Penggunaan pupuk nitrogen pada pertanian hingga proses distribusi makanan dapat menghasilkan gas metana dan nitrogen oksida.

    3. Konsumsi barang
    Membeli barang-barang baru akan menghasilkan sampah. Pun demikian dengan proses produksinya juga menghasilkan jejak karbon

    Baca: KLHK targetkan emisi nol dari sektor sampah pada 2050

    4. Penggunaan listrik
    Proses pembangkitan listrik juga memiliki jejak karbon yang besar, hal ini karena sebagian besar pasokan listrik di Indonesia bersumber dari PLTU batu bara.

    5. Penggunaan pendingin udara
    Pemanfaatan pendingin rumah secara teratur akan menambah sekitar 1,5 ton setara CO2 jejak karbon.

    6. Sampah makanan
    Sampah makanan menghasilkan gas metana (CH4) yang lebih berbahaya dibanding karbondioksida (CO2)

    Dengan mengetahui aktivitas apa saja yang menyebabkan jejak karbon meningkat, maka kita bisa membuat berbagai pilihan yang lebih sadar berorientasi terhadap lingkungan.

    Misalnya saja dengan melakukan penghematan energi, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, memilih produk ramah lingkungan, dan juga mendukung energi bersih.

    Untuk menghindari kenaikan suhu global sebesar 2 derajat Celsius, jejak karbon per tahun harus turun di bawah angka 2 ton pada 2050 nanti.

    Mencapai angka itu tentu tidak bisa tercapai dalam semalam sehingga mengurangi jejak karbon menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga Bumi dari perubahan iklim dan kelestarian lingkungan.

    Baca: Penerapan standar Euro IV mampu turunkan sumber polusi udara hingga 70 persen

  • Merek Besar di Industri Fesyen Macam H&M, GAP, Levi’s dan Ralp Lauren Ramai-ramai Kurangi Emisi

    Merek Besar di Industri Fesyen Macam H&M, GAP, Levi’s dan Ralp Lauren Ramai-ramai Kurangi Emisi

    7cloud.asia – Sejumlah merek besar di industri fesyen seperti H&M dan Gap menerapkan praktik alternatif untuk mengurangi jejak karbon mereka.

    Seperti telah sering diberitakan, industri fesyen tepatnya fast fashion merupakan salah satu sektor penyumbang utama emisi global.

    Pertanyaannya, apakah upaya merek besar di industri fesyen ini dapat mulai memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan industri selama beberapa dekade?

    Dilansir earth.org, penerapan energi terbarukan secara dini oleh merek-merek ini telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi kemajuan nyata hanya dapat dicapai jika raksasa lain dalam industri ini mengikutinya.

    Menurut sebuah studi oleh Stand.Earth, Gap, Levi’s dan Ralph Lauren adalah beberapa merek yang berada di jalur yang tepat untuk mengurangi emisi yang cukup untuk memenuhi komitmen mereka dalam membatasi pemanasan hingga 1,5C.

    Meskipun H&M belum menunjukkan bahwa mereka berhasil mencapai target nol emisi bersih pada tahun 2040, upaya energi angin mereka memiliki potensi besar

    Baca: Fast Fashion dan limbah tekstil picu masalah serius bagi lingkungan

    Ini hanyalah beberapa dari beberapa merek fesyen besar yang telah memulai perjalanan menuju emisi nol bersih, dan kemajuan signifikan masih harus dicapai.

    Bagi perusahaan-perusahaan ini dan upaya keberlanjutan mereka, jalan di depan panjang dan rumit untuk dilalui. Untuk saat ini, industri harus memercayai energi terbarukan untuk membuka jalan.

    Berikut upaya yang dilakukan sejumlah merek besar industri fesyen untuk memotong jejak karbon mereka:

    H&M
    Meskipun raksasa fast fashion ini masih harus menempuh jalan panjang untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan, mereka memelopori eksplorasi penggunaan energi angin dalam produksi pakaian jadi.

    Diumumkan pada COP28, H&M bermitra dengan merek fesyen Denmark Bestseller dan perusahaan investasi energi terbarukan Copenhagen Infrastructure Partners (CIP) untuk meluncurkan proyek angin lepas pantai pertama di Bangladesh.

    Negara ini memainkan peran penting dalam rantai pasokan H&M. Dengan perusahaan yang mendapatkan pasokan pakaian dari sekitar 1.000 pabrik di Bangladesh, upaya ini dapat membantu merek tersebut membuat langkah besar dalam mengurangi emisi manufaktur.

    Baca: Sisi gelap fast fashion bagi lingkungan dan kehidupan sosial

    Proyek 500 Megawatt (MW) yang akan mulai beroperasi pada tahun 2028 ini diharapkan dapat mengurangi emisi CO2 negara ini sebesar 725.000 ton per tahun.

    Kemitraan ini bertujuan untuk memperlancar transisi industri mode ke energi terbarukan sekaligus mendukung tujuan negara untuk mendapatkan 40% listriknya dari sumber terbarukan pada tahun 2041.

    Levi Strauss & Co
    Pengecer denim besar merilis rencana transisi iklim perdananya pada bulan Oktober 2024, yang menguraikan strategi untuk mencapai emisi nol bersih di seluruh operasi dan rantai pasokannya pada tahun 2050.

    Bagian dari rencana ini mencakup transisi ke “listrik terbarukan 100 persen di semua pabrik yang dioperasikan perusahaan”. fasilitas pada tahun 2025.”

    Levi’s membuat langkah besar untuk mencapai tujuan tersebut. Faktanya, pada tahun 2022, 90 persen listrik yang digunakan di fasilitas Levi’s sudah menggunakan energi terbarukan.

    Gap Inc.
    Dalam Laporan ESG Gap 2023, perusahaan menetapkan tujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca Cakupan 1 dan 2 sebesar 90% dari dasar tahun 2017 pada tahun 2030.

    Baca: Slow fashion jadi solusi dampak lingkungan Fast Fashion

    Untuk mencapai hal ini, perusahaan memulai dua perjanjian pembelian daya virtual (VPPA) dengan Aurora Wind, Ladang angin 90 MW di North Dakota, dan Fern Solar, proyek tenaga surya 7,5 MW di North Carolina.

    VPPA sejauh ini terbukti efektif – menurut laporan, “Fern Solar telah mengimbangi 100 persen listrik yang digunakan di toko-toko yang dikelola perusahaan Athleta di Amerika Utara sejak tahun 2021.”

    Ralph Lauren
    Sebagai anggota inisiatif energi terbarukan perusahaan global RE100, Ralph Lauren telah berkomitmen untuk mengubah semua kantor, pusat distribusi, dan toko yang dimiliki dan dioperasikan secara global menjadi 100 persen listrik terbarukan pada akhir tahun 2025.

    Dalam inisiatif Kewarganegaraan & Keberlanjutan Global 2024, Ralph Lauren berkomitmen untuk mengubah semua kantor, pusat distribusi, dan tokonya menjadi 100 persen gunakan listrik terbarukan pada akhir tahun 2025.

    Perusahaan mencatat kemajuannya, dengan menyatakan bahwa pihaknya “terus berinvestasi dalam sertifikat atribut energi terbarukan, yang mencakup 64% dari penggunaan listrik global kami.”

    Dengan mengalihkan operasinya ke fasilitas hijau dan menandatangani VPPA untuk pembangkit listrik tenaga angin dan surya baru di AS dan Eropa, perusahaan telah menurunkan emisi absolut sebesar 33 persen.

    Baca: Aplikasi Vinted jadi tempat warga Inggris bertransaksi pakaian preloved 

     

     

  • Cara Sederhana Kurangi Jejak Karbon Perangkat Elektronik yang Berdampak Pada Lingkungan

    Cara Sederhana Kurangi Jejak Karbon Perangkat Elektronik yang Berdampak Pada Lingkungan

    7cloud.asia – Sejak saat diproduksi hingga saat dibuang, perangkat elektronik ternyata meninggalkan jejak karbon yang besar pada lingkungan.

    Namun, mengurangi jejak karbon dari perangkat elektronik tidak memerlukan perubahan yang drastis — langkah-langkah kecil yang disengaja dapat menghasilkan perbedaan yang besar.

    Membuat pilihan yang lebih cerdas dapat meminimalkan limbah yang ditimbulkan perangkat elektronik sekaligus menghemat energi, dan membantu memerangi perubahan iklim.

    Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan jejak karbon dari perangkat elektronik yang kita gunakan yang berdampak pada lingkungan.

    Sebelum Membeli
    Salah satu cara paling sederhana untuk mengurangi dampak lingkungan dari peralatan elektronik adalah dengan membeli peralatan yang sudah diperbaharui atau alat bekas.

    Memilih teknologi bekas memperpanjang masa pakai produk yang ada dan mengurangi kebutuhan untuk manufaktur baru, yang merupakan sumber utama emisi karbon dan penipisan sumber daya.

    Bagi mereka yang lebih suka membeli produk baru, memilih model yang efisien adalah praktis. Perangkat dengan sertifikasi seperti Energy Star meminimalkan konsumsi listrik dan menurunkan emisi seiring berjalannya waktu.

    Memprioritaskan gadget rekondisi dan pilihan alternatif dapat mengurangi jejak digital sekaligus menghemat uang.

    Baca: Jejak Lingkungan Perangkat Elektronik dan Sumbangannya pada Perubahan Iklim

    Selama Penggunaan
    Mengoptimalkan konsumsi adalah cara sederhana namun berdampak besar untuk mengurangi dampak lingkungan dari peralatan elektronik.

    Banyak perangkat elektronik yang terus menggunakan listrik saat dimatikan — fenomena yang dikenal sebagai “energi hantu” — yang menambah limbah dan emisi yang tidak perlu.

    Mencabut pengisi daya dan menggunakan soket ekstensi pintar dapat membantu mencegah pemborosan tersembunyi ini.

    Memperbarui perangkat lunak dan mengganti baterai yang sudah usang juga dapat memperpanjang umur perangkat elektronik, sehingga mengurangi kebutuhan akan baterai baru.

    Perorangan dapat menggunakan sumber daya terbarukan seperti pengisi daya tenaga surya untuk memberi daya pada perangkat yang lebih kecil guna memberikan dampak yang lebih besar.

    Langkah-langkah ini menghemat daya dan menciptakan hubungan yang lebih berkelanjutan dengan teknologi.

    Setelah Penggunaan
    Mendaur ulang barang elektronik sangat penting dalam menanggulangi krisis limbah elektronik yang terus meningkat.

    Antara tahun 2014 dan 2020, emisi gas rumah kaca dari barang elektronik dan limbah elektronik terkaitnya meningkat sebesar 53 persen.

    Baca: Dampak Limbah Elektronik pada Lingkungan

    Program daur ulang limbah elektronik bersertifikat sangat penting dalam memulihkan bahan berharga seperti logam dan plastik sambil mengelola bahan kimia beracun yang dapat membahayakan lingkungan.

    Bahan-bahan sensitif seperti hard drive dapat dihancurkan atau dihilangkan magnetnya dengan magnet sehingga barang-barang tersebut dapat segera didaur ulang tanpa risiko kebocoran data.

    Perorangan dapat menyumbangkan atau menjual kembali perangkat yang masih berfungsi, memberi perangkat tersebut kehidupan kedua dan mengurangi permintaan untuk produksi baru.

    Tindakan ini dapat membantu mengurangi emisi, melestarikan sumber daya, dan meminimalkan efek berbahaya dari barang elektronik yang dibuang di planet ini.

    Perubahan Kecil Berdampak Besar pada Lingkungan
    Mendaur ulang barang elektronik secara bertanggung jawab dan mengurangi konsumsi listrik mungkin tampak seperti tindakan kecil, tetapi dapat menciptakan dampak signifikan jika dilakukan oleh jutaan orang.

    Kebiasaan yang berkelanjutan dan meminta pertanggungjawaban industri dapat mengurangi emisi dan melindungi bumi demi generasi mendatang.

  • Meski Tak Terlihat, Aktivitas Digital Juga Mencetak Jejak Karbon yang Cukup Besar

    Meski Tak Terlihat, Aktivitas Digital Juga Mencetak Jejak Karbon yang Cukup Besar

    7cloud.asia – Tahukah kamu, di balik setiap aktivitas digital kamu seperti scrolling TikTok, binge-watching serial, hingga sesi ‘main bareng’ game online, meninggalkan jejak karbon digital yang besar.

    Tentu bentuknya bukan seperti asap dari knalpot kendaraan, tapi tersembunyi di gawai-gawai kita. Bahkan aktivitas menyimpan data yang tampaknya pasif, juga membutuhkan energi dan menghasilkan emisi karbon.

    Jika kamu penasaran, mari kita menggali lebih jauh dengan jejak karbon digital.

    Ada tiga sumber penyumbang emisi atau jejak karbon terbesar utama dari dunia digital, yakni dari perangkat elektronik, jaringan transmisi dan di pusat/penyimpanan data. Mari kita jabarkan satu per satu

    1. Perangkat di genggaman kita
    Ponsel pintar, laptop, atau tablet yang kita gunakan dalam aktivitas sehari-hari menyumbang emisi sejak proses pembuatan, penggunaan dan setelah tidak digunakan

    Produksi satu unit smartphone saja bisa menghasilkan emisi sekitar 60 kilogram karbondioksida (CO2e), setara dengan emisi mobil yang menempuh perjalanan 320 kilometer.

    Baca: Kenali apa itu “Hak untuk Memperbaiki“

    Saat kita streaming, main game online, atau video call, gawai butuh daya listrik untuk menyala. Konsumsi energi per perangkat ini bervariasi, mulai dari 30 watt untuk desktop biasa sampai 500 watt untuk komputer gaming.

    Bayangkan berapa miliar perangkat yang aktif di seluruh dunia? Jumlah energi yang digunakan pasti sangat besar. Begitu juga dengan jejak karbon yang dihasilkannya.

    2. Jaringan transmisi
    Jaringan transmisi merupakan komponen penting agar data bisa dikirim dari satu perangkat ke perangkat lainnya.

    Dibutuhkan infrastruktur jaringan seperti router Wi-Fi, menara seluler, dan kabel optik. Semua akan bekerja berkat pasokan listrik yang terus-menerus.

    Energi yang dibutuhkan tentu tidak kecil. Menurut International Energy Agency (IEA), jaringan transmisi data global mengonsumsi 260-340 TWh pada 2022.

    Jaringan seluler saja misalnya, menyumbang sekitar dua pertiga dari total penggunaan energi tersebut, atau berkisar 156-238 TWh.

    Baca: Dampak limbah elektronik pada lingkungan

    3. Pusat data
    Semua data-data aktivitas digital kita pada akhirnya bermuara, diproses, dan diolah di pusat data. Server dan perangkat penyimpanan di dalamnya memerlukan energi besar karena harus beroperasi terus-menerus tanpa istirahat.

    Tak hanya untuk menghidupkan mesin, pusat data butuh energi yang tidak kalah besar juga untuk sistem pendinginnya. Porsinya bahkan tembus hingga 40% dari total konsumsi listrik tahunan sebuah pusat data.

    Dengan semakin canggih teknologi dan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang kian meluas, proyeksi ke depan makin mencemaskan.

    International Energy Agency (IEA) memperkirakan kebutuhan listrik pusat data global bisa melonjak dua kali lipat, yang pada 2022 mencapai sekitar 460 TWh, dan bisa melonjak hingga lebih dari 1.000 TWh pada 2026.

    Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat ada 221,5 juta pengguna internet di Indonesia.

    Baca: Lima tanda Anda membutuhkan detoks digital

    Sebesar 34,4 persen di antaranya merupakan Gen Z sebagai kelompok pengguna terbesar.

    Aktivitas daring Gen Z sangat boros data. Pengguna internet Indonesia tercatat menjadi yang terlama di dunia menghabiskan waktu di TikTok dengan (rata-rata 38 jam 26 menit per bulan).

    Indonesia juga menempati peringkat kedua global dalam hal bermain video games (95,3 persen dari pengguna internet). Bahkan, 42,2 persen di antaranya menghabiskan lebih dari empat jam setiap hari.

    Parahnya lagi, sumber pembangkit listrik konsumsi digital yang tinggi ini masih disokong oleh jaringan listrik berbasis batu bara.

    Pada 2023, bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia baru mencapai 13,09%, masih jauh dari target 23 perse pada 2025. Konsumsi data yang tinggi ditopang energi kotor, tentu akan menghasilkan jejak karbon digital per kapita yang tinggi pula.

    Lantas bagaimana cara menurunkan jejak karbon dari aktivitas digital? Ikuti di artikel selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Aji Saputra (Researcher, Universitas Padjadjaran) dan Gemilang Lara Utama (Peneliti)

  • Gegara Ekspansi Jejak Karbon Spotify Diprediksa Bakal Meningkat

    Gegara Ekspansi Jejak Karbon Spotify Diprediksa Bakal Meningkat

    7cloud.asia – Seiring eskpansinya menggunakan video untuk streaming musik serta meningkatnya jumlah pengguna aplikasi ini, jejak karbon Spotify diperkirakan akan terus membesar.

    Ditambah lagi adanya iklan video yang melibatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menyesuaikan preferensi pengguna. Artinya, setiap video akan memiliki perbedaan meskipun kecil.

    Penggunaan AI membutuhkan pemrosesan tambahan yang disesuaikan dengan resolusi streaming pengguna, dan tentunya menambah banyak jejak karbon.

    Dulu, Spotify masih rutin menerbitkan data tentang dampak lingkungan mereka. Namun sejak 2021, laporan-laporan mereka tidak lagi lengkap.

    Seperti yang dikemukakan oleh penulis dan cendekiawan Amerika, Shoshanna Zuboff, dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism, banyak perusahaan teknologi kurang memiliki tanggung jawab lingkungan.

    Baca: Mengukur jejak karbon dari aktivitas digital

    The Carbon Trust, konsultan yang membantu pelaku bisnis mengurangi jejak karbonnya, menghitung bahwa rata-rata jejak karbon streaming video di Eropa, mmenghasilkan 55 gram CO₂e).

    CO₂e atau carbon dioxide equivalent (setara karbon dioksida) adalah ukuran gabungan dari berbagai gas rumah kaca.

    Sebagai gambaran, jumlah ini 50 kali lipat lebih tinggi dibanding streaming audio dan setara dengan jejak karbon saat memanaskan empat kantong popcorn di microwave.

    Sebagai seorang peneliti teknologi musik dan kecerdasan buatan, saya menyadari adanya pergeseran tanggung jawab yang menyertai inovasi video Spotify ini.

    Tanggung jawab perusahaan yang menghasilkan emisi tentu harus kita tagih. Namun di samping itu, pengguna dan kreator konten juga mesti lebih bijak memilih perangkat streaming dan pengaturan kualitas streaming.

    Baca: Menurunkan jejak karbon dari aktivitas digital

    Layar besar dan resolusi tinggi bisa menjadi faktor signifikan dalam meningkatkan jejak karbon.

    Selain itu, lokasi geografis juga memengaruhi seberapa besar emisi karbon yang dihasilkan dan bagaimana emisi tersebut dikelola.

    Jerman, misalnya, memiliki jejak karbon streaming tertinggi di Eropa yaitu 76g CO₂e per jam. Sebab, energi mereka masih bergantung pada batu bara dan bahan bakar fosil.

    Jejak karbon streaming di Inggris lebih rendah, yakni 48g CO₂e per jam berkat bauran energi yang sudah mencakup gas alam dan energi terbarukan—semakin meningkat dengan nuklir sebagai tumpuan energi rendah karbon.

    Sementara itu, Prancis yang memakai energi nuklir mencatat angka jejak karbon terendah: 10g CO₂e per jam.

    Baca: Dampak limbah elektronik pada lingkungan

    Perusahaan teknologi dan media seperti Spotify memiliki tanggung jawab besar untuk mengurangi emisi karbon dan semestinya transparan soal upaya mereka. Spotify saat ini memiliki sekitar 675 juta pengguna aktif.

    Emisi nol bersih tidak bisa dicapai tanpa komitmen dari perusahaan-perusahan teknologi besar, yang mayoritas berbasis di Amerika Serikat.

    Amerika Serikat adalah negara yang belum meratifikasi protokol Kyoto dan keluar dari Perjanjian Paris pada 2020.

    Kedua perjanjian tersebut merupakan upaya global untuk memerangi perubahan iklim dengan menurunkan emisi karbon.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Hussein Boon (Principal Lecturer – Music, University of Westminster)

     

  • Upaya Industri Anggur Dunia Membangun Keberlanjutan dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

    Upaya Industri Anggur Dunia Membangun Keberlanjutan dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Meskipun jejak karbon yang dihasilkan dari perkebunan, konsumsi, dan transportasi anggur cukup besar, yakni diperkirakan mencapai 1-2 kilogram karbondioksida (CO2) per botol, tetap tidak sebanding dengan jejak karbon dari penerbangan atau penghasil emisi utama lainnya.

    Karena itu, pendiri dan Direktur Eksekutif Sustainable Wine Roundtable, Tobias Webb menyebut industri anggur mulai dari penanaman hingga menjadi sebotol wine “memiliki jejak sosial yang luar biasa,”

    “Orang-orang menghormatinya. Bisnis anggur memiliki kemampuan untuk melampaui bebannya,” ujarnya kepada Earth.Org.

    Sustainable Wine Roundtable adalah sebuah platform global independen yang didedikasikan untuk memajukan keberlanjutan dalam industri anggur,

    Webb percaya bahwa bisnis anggur berada dalam posisi unik untuk menunjukkan berbagai praktik terbaik yang akan meningkatkan atau mempertahankan kualitas, sekaligus mengurangi dampak lingkungan dan menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.

    Dilansir Earth.org, sebanyak 130 anggota Roundtable mencakup seluruh rantai nilai anggur, termasuk petani dan produsen, pengecer, pemilik standar, pemasok kemasan, dan akademisi.

    Baca: Cara kita mengonsumsi mempengaruhi jejak karbon

    Dengan mempertimbangkan area ini, para produsen anggur, distributor, dan pengecer telah bersatu dengan inisiatif untuk meningkatkan standar tenaga kerja, mengurangi berat botol, dan mengembalikan teknik pertanian tradisional yang menghemat air dan karbon serta melindungi keanekaragaman hayati.

    “Wilayah di seluruh dunia, terutama di Dunia Baru, seperti California, Chili, dan Australia, menciptakan program keberlanjutan, mengorganisir skema dengan aspek kualitatif dan kuantitatif, yang membantu meningkatkan kinerja produsen,” kata Joao Barroso, Direktur Pembangunan Berkelanjutan komisi tersebut, kepada Earth.Org

    Berkaitan dengan hal ini, Sustainable Wine Roundtable telah mengembangkan daftar periksa untuk menciptakan konsistensi terkait apa yang seharusnya ada dalam standar lokal – sebuah standar dari berbagai standar – termasuk tenaga kerja dan kondisi kerja.

    “Standar global tampak seperti ide yang bagus, tetapi yang Anda inginkan adalah standar lokal yang tepat,” kata Webb.

    Kondisi tenaga kerja di antara para pekerja perkebunan anggur menjadi sorotan publik pada bulan Januari 2025, ketika kilang anggur di wilayah Piedmont, Italia, diketahui mengandalkan tenaga kerja migran ilegal.

    Menurut Webb, masalah seperti dokumen yang ditahan, kurangnya slip gaji, dan kurangnya verifikasi akomodasi masih terus berlanjut.

    Baca: Perilaku Generasi Z dan produksi sampah makanan

    Dulu, ujarnya, para pekerja ditempatkan di lokasi, tetapi sekarang hal ini mustahil, sehingga kilang anggur bergantung pada kontraktor. Produsen anggur bekerja sama dengan banyak petani kecil untuk menciptakan konsistensi.

    “Di kebun anggur yang memiliki sertifikasi yang tepat untuk standar keberlanjutan yang kredibel, kondisinya biasanya akan jauh lebih baik,” ujarnya.

    Para peritel memperhatikan aspek sosial dan lingkungan dari keberlanjutan anggur. Beberapa, seperti Tesco, telah bergabung dengan Sustainable Wine Roundtable, sementara yang lain membuat persyaratan mereka sendiri.

    “Para peritel jelas tertarik. Mereka sadar akan tanggung jawab mereka, dan mereka menginginkan rantai pasokan yang tangguh,” ujar Anne Jones, Direktur Pengembangan Regenerative Viticulture Foundation, kepada Earth.Org.

    Dia menambahkan, “Para peritel berada di titik istimewa itu, titik tumpu antara pelanggan dan produsen. Mereka memiliki banyak kekuatan dan tanggung jawab.”

    Para pelaku industri terutama telah mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan untuk menghadapi realitas perubahan iklim, alih-alih didorong oleh permintaan konsumen.

    Baca: Menguak kebohongan di balik konsumerisme

    “Mendapatkan sertifikasi berkelanjutan atau organik penting bagi banyak konsumen, tetapi bukan pendorong utama,” kata Greg Jones dari Abacela Winery.

    “Konsumen masa kini mencari pengalaman yang memberi mereka pengetahuan dan lebih dekat dengan pertanian, di mana petani berfokus pada pemeliharaan ekosistem, baik di dalam maupun di luar kebun anggur.”

    Mengingat semakin banyaknya tantangan dari cuaca dan iklim, para produesn anggur bekerja di lingkup pengaruh mereka masing-masing untuk menemukan jalan keluar.

    “Saya tidak dapat mengubah terjadinya gelombang panas 42°C, dan saya juga tidak dapat menguranginya,” kata Greg Jones.

    “Namun, jika saya dapat mengurangi dampak karbon dan produk sintetis secara keseluruhan terhadap lingkungan dalam operasi saya, saya dapat memanfaatkan sisi tersebut, sekaligus mencoba beradaptasi dengan hal-hal yang berada di luar kendali kami. Kami harus menangani pendekatan yang kami bisa, dalam kerangka kerja yang kami miliki.”

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Genevive Hilton, aktivis sekaligus penulis berkelanjutan.

  • Dari Nanas hingga Rami: Potensi Serat Alami di Indonesia

    Dari Nanas hingga Rami: Potensi Serat Alami di Indonesia

    7cloud.asia – Sehelai pakaian yang tergantung di etalase toko atau yang kita kenakan sehari-hari, sesungguhnya menyimpan jejak karbon yang panjang sejak awal proses pembuatannya.

    Mulai dari pemilihan bahan baku, pemintalan, pewarnaan, hingga penyempurnaan (finishing), semuanya memiliki jejak karbon yang menyumbang emisi. Pun, ketika pakaian itu sudah tidak bisa dipakai lagi

    Apalagi, sebagian pakaian modern saat ini terbuat dari serat sintetis seperti poliester, nilon, atau akrilik—yang berasal dari minyak bumi, yang membuatnya sulit terurai secara alami.

    Menurut data United Nations Environment Programme (UNEP), industri fashion menyumbang sekitar 10 persen emisi karbon global dan 20 persen limbah air dunia. Pakaian berbahan sintetis juga menjadi sumber pencemaran mikroplastik di darat maupun laut.

    Selain itu, pewarna berbasis logam berat dan bahan kimia berbahaya yang banyak digunakan dalam industri tekstil kerap mencemari sungai dan tanah—umum terjadi di negara-negara berkembang.

    Perputaran tren yang sangat cepat dalam industri fesyen—atau yang dikenal dengan istilah fast fashion—semakin memperparah timbunan limbah tekstil.

    Solusi atas kompleksnya permasalahan limbah industri ini tentu tidak sederhana. Namun, langkah awal bisa dimulai dengan memilih bahan-bahan serat dan pewarna alami dalam proses produksi maupun konsumsi fesyen berkelanjutan.

    Potensi serat alam alternatif di Indonesia
    Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar serat alami yang bisa menjadi alternatif, seperti serat rami dan daun nanas. Keduanya tersedia melimpah sebagai hasil samping dari sektor pertanian.

    Produksi nanas nasional misalnya, mencapai sekitar 3,15 juta ton pada 2024, dan menghasilkan limbah daun nanas yang melimpah.

    Setiap 1 ton (1000 kilogram) nanas segar bisa menghasilkan sekitar 100 kilogram limbah daun nanas, sehingga ada potensi 315.000 ton limbah daun per tahun. Potensi ini tentunya bisa dimanfaatkan untuk mencetak cuan dari industri tekstil berkelanjutan.

    Riset menunjukkan, selain ramah lingkungan dan mudah terurai, serat-serat ini juga memiliki siklus tumbuh yang cepat—hanya sekitar 3 bulan, hemat air, dan minim penggunaan pestisida. Selama masa tumbuhnya, tanaman seperti rami juga mampu menyerap karbon dalam jumlah signifikan.

    Sayangnya, pemanfaatan serat alami di Indonesia masih minim. Kendala utamanya antara lain keterbatasan teknologi pengolahan dan belum terbangunnya ekosistem industri yang mendukung produksi skala besar dengan kualitas yang stabil.

    Pengolahan serat alami memerlukan penguatan teknologi seperti proses dekortikasi—proses awal untuk memisahkan serat dari batang atau daun— dan degumming, yaitu tahapan lanjutan untuk menghilangkan zat-zat non-serat agar menghasilkan bahan lebih halus dan siap diproses menjadi kain.

    Jika teknologi ini tersedia dengan baik dan mudah diakses, Indonesia dapat memproduksi serat lokal berkualitas tinggi yang mampu bersaing dengan bahan impor.

    Sayangnya, pengembangan teknologi pengolahan serat alam ini masih menghadapi berbagai kendala, terutama ekonomi. Biaya produksinya tinggi, terutama untuk peralatan industri dan bahan baku, membuat teknologi ini kurang kompetitif dibanding impor serat sintetis atau kapas.

    Sementara itu, insentif pemerintah, seperti subsidi atau program skala besar, juga minim.

    Warna dari alam: Potensi ecoprint
    Ecoprint adalah teknik yang memanfaatkan zat warna alami dari daun dan bunga, lalu diaplikasikan langsung ke permukaan kain. Hasilnya tak hanya unik dan artistik, tetapi juga lebih aman bagi lingkungan.

    Metode yang digunakan bisa melalui teknik kukus (steaming) atau teknik pukul (pounding), tergantung bahan yang digunakan dan efek visual yang diinginkan.

    Sayangnya, ecoprint masih sering dianggap sebagai produk kerajinan semata dengan daya tahan warna yang kerap diragukan.

    Padahal, dengan pendekatan riset yang tepat, ecoprint bisa dikembangkan menjadi produk tekstil fungsional dengan daya tahan warna yang cukup kompetitif dibadingkan produk-produk saat ini.

    Membangun ekosistem tekstil berkelanjutan
    Industri pengembangan serat alam dan ecoprint di Indonesia sebenarnya sudah mulai tumbuh, tapi cenderung berjalan sendiri-sendiri alias belum terhubung secara ekosistem.

    Padahal, keduanya punya potensi besar jika diselaraskan dalam rantai industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

    Bayangkan jika kain yang dibuat dari serat rami atau daun nanas hasil olahan lokal, lalu diwarnai dengan teknik ecoprint yang sudah terstandarisasi. Produk semacam ini akan jauh lebih ramah lingkungan, baik dari segi tampilan maupun proses produksinya.

    Model integrasi ini membuka peluang besar untuk mendorong inovasi dan kolaborasi riset, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan industri tekstil berbasis sumber daya lokal. Industri seperti ini dapat menjadi lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

    Keberlanjutan tekstil bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi tentang membentuk industri yang lebih inovatif, lebih manusiawi, dan lebih ramah lingkungan untuk masa depan.

    Sebagai konsumen, kita mungkin merasa kecil di tengah perkembangan pesat industri ini. Meski begitu, perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti memilih bahan yang lebih ramah lingkungan, mendukung produk dari serat alam, dan menggunakan pewarna alami seperti ecoprint.

    Langkah kecil ini barangkali belum mampu mengubah industri secara drastis. Namun, setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan membentuk wajah industri tekstil di masa depan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ahmad Satria Budiman (Lecturer in Textile Engineering, Universitas Islam Indonesia/UII Yogyakarta)

  • Mahasiswa ITB Berkomitmen Kurangi Jejak Karbon: Mulai Penggunaan Transportasi Publik hingga Energi Rumah Tangga

    Mahasiswa ITB Berkomitmen Kurangi Jejak Karbon: Mulai Penggunaan Transportasi Publik hingga Energi Rumah Tangga

    7cloud.asia – Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan kesadaran yang baik terhadap dampak aktivitas sehari-harinya terhadap lingkungan.

    Hal tersebut tergambar dari survei mengenai jejak karbon dengan responden mahasiswa peserta Mata Kuliah Perubahan Iklim Tahun Akademik 2025/2026.

    Survei tersebut dilakukan untuk mengetahui perspektif mahasiswa mengenai perubahan iklim, besaran jejak karbon pribadi, serta komitmen mereka dalam mengurangi emisi karbon.

    Dilansir itb.ac,id, mahasiswa diminta mengidentifikasi emisi dan teknologi pengurangan karbon pada berbagai industri yang berkaitan dengan bidang studinya.

    Survei tersebut diikuti oleh 59 mahasiswa dari berbagai fakultas dan sekolah di ITB. Peserta terbanyak berasal dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), yakni 18 mahasiswa, disusul Fakultas Teknologi Industri (FTI) sebanyak 15 mahasiswa.

    Hasil survei menunjukkan bahwa jejak karbon individu mahasiswa memiliki rentang yang cukup luas, yakni kurang dari 1 ton hingga lebih dari 17 ton setara karbon dioksida atau CO₂-eq per tahun.

    Target pengurangan emisi yang ditetapkan masing-masing peserta juga beragam, mulai dari belum menetapkan pengurangan hingga lebih dari 4 ton CO₂-eq per tahun.

    Mayoritas mahasiswa berupaya mengurangi emisi melalui perubahan pada sejumlah aktivitas sehari-hari.

    Baca: Kesadaran Gen Z terhadap Isu Lingkungan Terus Meningkat

    Upaya tersebut antara lain dilakukan dalam pemilihan moda transportasi, penggunaan energi rumah tangga, konsumsi makanan, pemakaian peralatan rumah tangga, serta pengelolaan sampah.

    Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, Joko Wiratmo, menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun nalar publik yang sehat, kritis, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

    Di tengah derasnya arus informasi dan semakin kompleksnya persoalan sosial, kampus perlu menyediakan ruang diskusi yang ilmiah, terbuka, dan berintegritas.

    Melalui pendidikan dan penelitian, perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu berpikir rasional serta menghargai perbedaan.

    Perguruan tinggi juga perlu menjadi laboratorium solusi bagi berbagai persoalan bangsa, termasuk ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan.

    Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pemerintah, industri, dan masyarakat diperlukan untuk menghasilkan penelitian aplikatif yang memberikan dampak langsung.

    Mengenali Jejak Karbon Industri
    Selain menghitung jejak karbon pribadi, mahasiswa diminta mengidentifikasi industri besar yang berhubungan dengan program studi masing-masing.

    Industri yang paling banyak disebut meliputi teknologi informasi, energi, minyak dan gas, petrokimia, panas bumi, pertambangan, dirgantara, dan manufaktur.

    Sejumlah perusahaan global dan nasional juga menjadi objek pengamatan mahasiswa, antara lain Google, Microsoft, Boeing, Pertamina, PT Freeport Indonesia, dan ArcelorMittal.

    Berdasarkan hasil penelusuran mahasiswa, emisi karbon perusahaan-perusahaan tersebut sangat beragam, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan bahkan ratusan juta ton CO₂-eq per tahun.

    Baca: Gen Z dan Baby Boomers Sama-sama Terdampak Perubahan Iklim

    Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh skala usaha, bidang industri, proses produksi, serta sumber energi yang digunakan.

    Mahasiswa juga mengidentifikasi berbagai teknologi dan pendekatan yang telah diterapkan industri untuk menekan emisi karbon.

    Upaya tersebut meliputi penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, seperti biofuel dan sustainable aviation fuel (SAF), serta penerapan carbon capture, utilization, and storage (CCUS).

    Langkah lainnya mencakup peningkatan efisiensi energi pada pusat data, proses produksi, dan kegiatan operasional; penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi; optimalisasi proses produksi dengan kecerdasan buatan; serta pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dan elektrifikasi peralatan.

    Mendorong Kolaborasi Teknologi Rendah Karbon
    Hasil survei menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai jejak karbon pribadi serta mampu menetapkan target pengurangan emisi yang realistis.

    Transportasi dan penggunaan energi rumah tangga menjadi dua aspek utama yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikurangi.

    Pemahaman terhadap praktik pengurangan emisi di sektor industri juga dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, institusi, dan organisasi dalam merancang langkah mitigasi perubahan iklim yang lebih efektif.

    Berdasarkan hasil tersebut, edukasi dan kampanye mengenai pengurangan jejak karbon di kalangan mahasiswa perlu terus diperkuat. Adopsi teknologi hijau juga perlu didorong, baik pada tingkat individu maupun institusi.

    Selain itu, kolaborasi antara fakultas, sekolah, dan perusahaan dapat dikembangkan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi rendah karbon.

    Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi konkret terhadap perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.