7cloud.asia – Tahukah kamu, di balik setiap aktivitas digital kamu seperti scrolling TikTok, binge-watching serial, hingga sesi ‘main bareng’ game online, meninggalkan jejak karbon digital yang besar.
Tentu bentuknya bukan seperti asap dari knalpot kendaraan, tapi tersembunyi di gawai-gawai kita. Bahkan aktivitas menyimpan data yang tampaknya pasif, juga membutuhkan energi dan menghasilkan emisi karbon.
Jika kamu penasaran, mari kita menggali lebih jauh dengan jejak karbon digital.
Ada tiga sumber penyumbang emisi atau jejak karbon terbesar utama dari dunia digital, yakni dari perangkat elektronik, jaringan transmisi dan di pusat/penyimpanan data. Mari kita jabarkan satu per satu
1. Perangkat di genggaman kita
Ponsel pintar, laptop, atau tablet yang kita gunakan dalam aktivitas sehari-hari menyumbang emisi sejak proses pembuatan, penggunaan dan setelah tidak digunakan
Produksi satu unit smartphone saja bisa menghasilkan emisi sekitar 60 kilogram karbondioksida (CO2e), setara dengan emisi mobil yang menempuh perjalanan 320 kilometer.
Baca: Kenali apa itu “Hak untuk Memperbaiki“
Saat kita streaming, main game online, atau video call, gawai butuh daya listrik untuk menyala. Konsumsi energi per perangkat ini bervariasi, mulai dari 30 watt untuk desktop biasa sampai 500 watt untuk komputer gaming.
Bayangkan berapa miliar perangkat yang aktif di seluruh dunia? Jumlah energi yang digunakan pasti sangat besar. Begitu juga dengan jejak karbon yang dihasilkannya.
2. Jaringan transmisi
Jaringan transmisi merupakan komponen penting agar data bisa dikirim dari satu perangkat ke perangkat lainnya.
Dibutuhkan infrastruktur jaringan seperti router Wi-Fi, menara seluler, dan kabel optik. Semua akan bekerja berkat pasokan listrik yang terus-menerus.
Energi yang dibutuhkan tentu tidak kecil. Menurut International Energy Agency (IEA), jaringan transmisi data global mengonsumsi 260-340 TWh pada 2022.
Jaringan seluler saja misalnya, menyumbang sekitar dua pertiga dari total penggunaan energi tersebut, atau berkisar 156-238 TWh.
Baca: Dampak limbah elektronik pada lingkungan
3. Pusat data
Semua data-data aktivitas digital kita pada akhirnya bermuara, diproses, dan diolah di pusat data. Server dan perangkat penyimpanan di dalamnya memerlukan energi besar karena harus beroperasi terus-menerus tanpa istirahat.
Tak hanya untuk menghidupkan mesin, pusat data butuh energi yang tidak kalah besar juga untuk sistem pendinginnya. Porsinya bahkan tembus hingga 40% dari total konsumsi listrik tahunan sebuah pusat data.
Dengan semakin canggih teknologi dan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang kian meluas, proyeksi ke depan makin mencemaskan.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan kebutuhan listrik pusat data global bisa melonjak dua kali lipat, yang pada 2022 mencapai sekitar 460 TWh, dan bisa melonjak hingga lebih dari 1.000 TWh pada 2026.
Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat ada 221,5 juta pengguna internet di Indonesia.
Baca: Lima tanda Anda membutuhkan detoks digital
Sebesar 34,4 persen di antaranya merupakan Gen Z sebagai kelompok pengguna terbesar.
Aktivitas daring Gen Z sangat boros data. Pengguna internet Indonesia tercatat menjadi yang terlama di dunia menghabiskan waktu di TikTok dengan (rata-rata 38 jam 26 menit per bulan).
Indonesia juga menempati peringkat kedua global dalam hal bermain video games (95,3 persen dari pengguna internet). Bahkan, 42,2 persen di antaranya menghabiskan lebih dari empat jam setiap hari.
Parahnya lagi, sumber pembangkit listrik konsumsi digital yang tinggi ini masih disokong oleh jaringan listrik berbasis batu bara.
Pada 2023, bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia baru mencapai 13,09%, masih jauh dari target 23 perse pada 2025. Konsumsi data yang tinggi ditopang energi kotor, tentu akan menghasilkan jejak karbon digital per kapita yang tinggi pula.
Lantas bagaimana cara menurunkan jejak karbon dari aktivitas digital? Ikuti di artikel selanjutnya.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Aji Saputra (Researcher, Universitas Padjadjaran) dan Gemilang Lara Utama (Peneliti)

Leave a Reply