Tag: kebaya

  • Di HUT ke-10 Komunitas Perempuan Berkebaya: UNESCO Tetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Di HUT ke-10 Komunitas Perempuan Berkebaya: UNESCO Tetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    7cloud.asia – Badan pendidikan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda (WBTb)

    Keputusan UNESCO soal kebaya ini diambil pada 4 Desember 2024 dalam sidangnya di Paraguay.

    Inkripsi kebaya sebagai WBTb melalui pengajuan bersama atau joint nomination lina negara di kawasan Asia Tenggara, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand.

    Penetapan Kebaya sebagai WBTb disambut dengan gembira oleh perempuan di lima negara yang mengajukan, termasuk anggota Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) Indonesia.

    Komunitas Perempuan Berkebaya yang lahir pada 4 Desember 2014, mengawali gerakan kembali berkebaya sehari-hari di Indonesia sejak 10 tahun lalu.

    Baca: Komunitas Perempuan Berkebaya Kenalkan Beragam Kebaya Nusantara

    Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, Lia Nathalia mengatakan pihaknya sangat
    bersyukur karena penetapan ini bertepatan dengan 10 tahun Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB)

    Saat Komunitas Perempuan Berkebaya berulang tahun ke 10, ujarnya, Kebaya ditetapkan sebagai warisan budaya dunia takbenda dari lima negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia

    “Negara-negara, di mana gerakan menghidupkan kembali kebaya sebagai busana atasan perempuan sehari-hari diinisiasi,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (5/11/2024).

    “Ini hadiah luar biasa bagi perempuan dikelima negara ini, termasuk di Indonesia dan menjadi hadiah ulang tahun terbaik bagi KPB,” tambahnya.

    Ia menjelaskan, inkripsi kebaya oleh UNESCO tidak lepas dari kerja-kerja semua komunitas perempuan pegiat budaya, khususnya komunitas-komunitas pelestari kebaya, organisasi-organisasi, pemerintah, perwakilan rakyat dan banyak pihak.

    Baca: Aksi menolak pemaksaan berbusana dengan alasan perintah agama

    Di Indonesia sendiri ada Tim Nasional Hari Kebaya Nasional dan Kebaya Goes to UNESCO (Timnas HKN to UNESCO) yang menghimpun lintas komunitas baik pengusung maupun pendukung usulan inkripsi kebaya sebagai WBTb ke UNESCO.

    “Saya merasa senang dan bersyukur atas penetapan kebaya sebagai WBTb UNESCO. Tugas Timnas Kebaya Indonesia telah membuahkan hasil,” ungkap Lana T Koentjoro selaku ketua Tim Nasional Kebaya Indonesia pada Kamis, 5 Desember 2024.

    Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Hari Kebaya Nasional tiap tanggal 24 Juli dan pertama kali dirayakan pada tahun 2024 ini.

    Kementerian Kebudayaan, sebelumnya Kemendikbud Dikti, Kementerian Luar Negeri, Watimpres, KNIU ikut ambil bagian dalam perjalanan sampai Kebaya diinkripsi menjadi bagian warisan budaya dunia tak benda.

    Ini tak lepas karena tradisi berkebaya yang masih digunakan dan diupayakan terus digunakan di masa depan.

  • Penari Penjaga Negeri Gelar Acara Syukuran Atas Ditetapkannya Kebaya Jadi Warisan Budaya Dunia

    Penari Penjaga Negeri Gelar Acara Syukuran Atas Ditetapkannya Kebaya Jadi Warisan Budaya Dunia

    7cloud.asia – Sebagai wujud dari rasa syukur, atas ditetapkannya Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia (WBTb) oleh UNESCO, Penari Penjaga Negeri menggelar acara syukuran.

    Acara ini digelar di FX Sudirman lantai 3 dengan mengambil Tema “Nusantara Memanggil Untuk Menari Part 2” dengan bekerja sama Arsita Craft dan FX Sudirman Mall.

    Kali ini, Penari Penjaga Negeri memboyong Wefi Sofianah seorang guru tari sekaligus penari dari negara Singapura untuk melatih “Tari Zapin Muara” kepada para peserta yang hadir.

    Sendang Wangi, ketua Penari Penjaga Negeri menyatakan, tari zapin dipilih karena tari ini cukup populer di negara-negara pengusung Kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO.

    “Sehingga tari zapin ini dapat menggambarkan semangat kebersamaan dalam melestarikan seni budaya khususnya Kebaya,“ ujarnya.

    Baca: Perjuangan panjang kebaya menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Sebagai pegiat budaya dan praktisi SDM, Sendang Wangi mengingatkan, agar masyarakat tidak berlama-lama larut dalam kegembiraan bahwa Kebaya diakui Unesco sebagai Warisan Budaya Takbenda.

    Pasalnya, UNESCO dapat mencabut pengakuan tersebut apabila kita tidak terus menerus melakukan upaya untuk melestarikan kebaya sebagai warisan budaya dunia

    Seperti diberitakan sebelumnya, Kebaya diajukan Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO secara joint nomination oleh Indonesia bersama Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam.

    Badan pendidikan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) lantas menetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda (WBTb).

    Keputusan UNESCO soal kebaya ini diambil pada 4 Desember 2024 dalam sidangnya di Paraguay.

    Baca: UNESCO Tetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda

    Sebanyak 125 orang yang hadir di acara syukuran ini, terdiri dari anak-anak, remaja dan dewasa, tampak sangat menikmati acara pelatihan tari ini.

    Mereka antusias menari sambil mengenakan kebaya dan kain wastra untuk peserta Perempuan dan Pakaian Melayu untuk peserta laki-laki.

    Di acara itu, Arsita Resmisari desainer yang karyanya sudah pernah ditampilkan di New York Fashion Week membawa tim Kebaya Anak untuk menampilkan karya-karya Kebaya Anak yang diperagakan Model Anak dengan sangat anggun dan apik di atas panggung.

    Arsita mengajak anak-anak dan remaja Indonesia untuk mencintai Kebaya sejak dini dengan menumbuhkan kecintaan budaya Indonesia melalui media Kebaya dan Wastra yang selaras dengan nilai-nilai budaya Indonesia.

    Penari Penjaga Negeri juga menggandeng seorang anak pegiat Kebaya sebagai narator kebaya yang menjelaskan tentang ragam kebaya yaitu Syarifah Azkia Naura Firrizqiah dari komunitas BAIK – Berbudaya Anak Indonesia dengan Kebaya.

    Sesi menari Zapin Melayu ini menuai beragam komentar positif kepada Tantri Wu selaku Guru Tari Inhouse Penari Penjaga Negeri yaitu hampir semua peserta mengatakan menunggu acara selanjutnya.

    Para peserta merasa bahagia bisa mengikuti acara “Nusantara Memanggil Untuk Menari Part 2” bertemu rekan sefrekwensi tetap mendapatkan ilmu bermanfaat, bisa mendapatkan pembandingan antara tari Zapin di Indonesia dengan Singapura.

    Reporter: Heni Widodowati

  • Mengenal Beragam Kebaya Nusantara: Dari Kebaya Jawa hingga Kebaya Basiba

    Mengenal Beragam Kebaya Nusantara: Dari Kebaya Jawa hingga Kebaya Basiba

    7cloud.asia – Komunitas Perempuan Berkebaya turut tampil di atas catwalk di pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025, Sabtu (28/6/2025).

    Belasan anggota Komunitas Perempuan Berkebaya tampil dengan mengenakan beragam kebaya Nusantara yang dipadu dengan aneka wastra.

    Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, Lia Nathalia menjelaskan ragam kebaya dan wastra yang dikenakan oleh anggotanya. Kebaya yang dikenakan seperti kebaya kutubaru, kebaya Bali, kebaya Jawa, kebaya Labuh (Melayu) dan kebaya Basiba (Sumatra Barat).

    Peragaan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya ini mendapat sambutan antusias dari ratusan tamu yang memadati Ballroom Hotel Manhattan, Jakarta Selatan

    Berikut penjelasan mendetail dari satu per satu jenis kebaya yang diperkenalkan Komunitas Perempuan Berkebaya yang kami rangkum dari berbagai sumber.

    1. Kebaya Jawa
    Kebaya Jawa merupakan salah satu jenis kebaya yang paling terkenal dan populer di Indonesia. Kebaya Jawa memiliki ciri khas yang unik, seperti motif bordir yang rumit dan detail yang indah.

    Kerah kebaya Jawa memiliki bentuk layaknya huruf ‘V’ atau vertikal. Dulu, kebaya ini banyak dipakai oleh orang-orang kerajaan atau bangsawan. Perlahan, kebaya ini pun menjadi pakaian dari berbagai kalangan.

    Setiap daerah di Jawa memiliki kebaya Jawa dengan gaya dan motif yang berbeda-beda.
    Payet juga kerap jadi ornamen pendukung yang membuat kebaya ini kelihatan semakin anggun.

    Baca: Mengenal Komunitas Perempuan Berkebaya

    2. Kebaya Betawi
    Kebaya Betawi juga memiliki potongan leher berbentuk V tanpa kutu baru. Kebaya Betawi biasa dipadukan dengan kain batik bermotif pucuk bambu dan dilengkapi selendang yang dikenakan sebagai kerudung.

    Kebaya Betawi banyak dipengaruhi budaya Tionghoa, tak heran jika banyak menggunakan warna-warna cerah. Adapun bahan yang digunakan adalah kain yang ringan seperti organdi.

    Kebaya Betawi bisa ditemui di upacara adat masyarakat, mulai dari rangkaian pernikahan hingga sunatan. Pakaian pengantin dan para pengiringnya sudah dapat dipastikan berwarna terang dan cerah.

    Kebaya Betawi juga sering dikenakan dalam acara-acara budaya di Jakarta.

    3. Kebaya Bali
    Kebaya Bali yang populer saat ini adalah bagian dari payas alit atau busana tradisional yang dikenakan sehari-hari oleh warga Bali. Ciri khas kebaya Bali adalah potongannya yang pas badan, menonjolkan lekuk tubuh.

    Kebaya dibuat dari kain yang tipis menerawang seperti brokat atau katun lembut dengan aksen bordir. Kebaya Bali dilengkapi dengan selendang yang dililitkan di pinggang.

    Kebaya Bali biasa dipadukan dengan kain sarung motif Bali (kamen) atau kain endek. Kebaya Bali biasa digunakan dalam upacara adat dan acara formal di Bali.

    4. Kebaya Sunda
    Kebaya Sunda merupakan salah satu jenis kebaya tradisional yang berasal dari daerah Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Kebaya ini memiliki ciri khas yang unik dan memikat, serta memiliki nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat Sunda.

    Kebaya Sunda biasanya terbuat dari kain katun dengan hiasan bordir yang indah. Kain batik juga sering digunakan dalam kebaya ini untuk memberikan sentuhan klasik.

    Warna-warna yang umum digunakan adalah warna-warna cerah seperti merah, kuning, atau biru, yang merujuk pada kekayaan budaya Sunda. Dalam penggunaannya, kebaya Sunda sering dipadukan dengan kain jarik.

    Kebaya Sunda memiliki variasi model yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kerah leher tinggi dengan hiasan bordir berwarna, juga ada yang memiliki kerah leher rendah dengan hiasan bordir yang lebih sederhana.

    Bagian bawah kebaya bisa menjadi lurus atau melengkung sambil memperlihatkan batik atau kain yang dipakai di bagian bawah.

    Kebaya Sunda dipakai di berbagai acara adat Sunda, seperti pernikahan, pertunangan, atau acara keagamaan. Pada saat-saat istimewa, kebaya ini biasanya dipadukan dengan kain batik atau kain songket yang memberikan nuansa mewah dan elegan.

    Baca: UNESCO tetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    5. Kebaya Encim
    Juga dikenal sebagai kebaya peranakan atau kebaya nyonya, kebaya encim merupakan hasil akulturasi budaya China, Melayu, dan Betawi. Kebaya encim biasanya dibuat dari kain yang tidak menerawang dan berwarna cerah.

    Kebaya ini memiliki kerah berbentuk V yang khas. Pinggiran kainnya dihiasi bordiran motif bunga dengan warna kontras dari leher sampai ujung. Kadang, bordir juga menghiasi bagian tangan.

    6. Kebaya Kutubaru
    Kutubaru adalah Kebaya klasik Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah. Ciri khas kebaya ini adalah selembar kain persegi di bagian tengah yang menghubungkan sisi kanan dan kiri kebaya.

    Meskipun desainnya tradisional, model kebaya kutubaru selalu populer. Di masa lalu, kebaya kutu baru jamak dikenakan perempuan Indonesia.

    Kebaya kutubaru ini bisa pendek (pinggang) atau panjang (hingga lutut). Kebaya kutubaru gaya Solo berbeda dengan gaya Yogyakarta. Gaya Solo potongan rata, sedangkan gaya Yogyakarta potongannya sudut. 

    Biasanya, kebaya kutubaru dipadukan dengan kain batik dan selendang yang disampirkan di salah satu bahu dan dipeniti dengan bros di dada.

    Dalam penggunaannya, kebaya kutubaru membutuhkan stagen untuk mengikat sekaligus menutupi kain batik yang menjadi bawahannya.

    7. Kebaya Madura
    Kebaya Madura juga dikenal dengan sebutan Rancongan. Kebaya Madura memiliki bentuk yang khas yaitu bagian bawah dibuat seperti menyerong.

    Kebaya dari Madura juga punya bentuk yang mirip dengan kebaya Jawa. Sementara, panjang kebaya ini umumnya sepinggang dan warnanya didominasi warna-warna cerah.

    Baca: Perjalanan hingga kebaya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    8. Kebaya basiba
    Kebaya yang satu ini sebenarnya berasal dari baju kurung Basiba yang menjadi pakaian sehari-hari perempuan Minangkabau (Sumatera Barat).

    Namun, dalam perkembangannya, kebaya basiba umumnya hanya dikenakan pada acara-acara penting atau dalam upacara adat.

    Kebaya basiba dicirkan dengan lengan baju yang memiliki panjang yang mencapai pergelangan tangan.

    Karakteristik khas Baju Kurung Basiba terletak pada adanya “Siba” di samping baju, dengan panjangnya yang mencapai lutut, leher bulat tanpa kerah, serta memiliki belahan yang sedikit.

    Filosofi pakaian adalah perisai untuk tubuh serta sebagai penyembunyi rasa malu menjadi dasar desain kebaya basiba.

    9. Kebaya Labuh
    Dilansir di laman resmi Disbud Kepri, kebaya labuh sudah menjadi pakaian sehari-hari kaum perempuan Melayu Lingga sejak zaman Kerajaan Lingga-Riau.

    Kebaya labuh merupakan pakaian yang labuh atau jatuh sampai ke bawah lutut dan berbelah dihadapan sampai ke bawah.

    Kebaya labuh mempunyai kekek di bawah ketiak kiri dan kanan juga berpesak di bagian depan. Kebaya labuh menggunakan tiga kancing yang disemat dengan pin atau keronsang.

    Menurut Zubaidah Shawal (1994:13) Kebaya mungkin berasal dari perkataan Turki iaitu “Al-Akibia al-Turkiyya” yang bermakna baju Turki yang berbelah dan lipatannya selisih menyerong di hadapan dari kiri ke kanan.

    Di masa lalu, kebaya labuh digunakan juga sebagai pakaian harian kaum perempuan Melayu dipadukan dengan kain batik yang diikat dengan cara lipatan sebelah kanan menutup sebelah kiri.

    Untuk mengancing baju kebaya dipakai semat pin, jika untuk menghadiri acara resmi tertentu menggunakan tiga buah keronsang yang indah-indah dan berselendang.

    Untuk kaum perempuan yang ingin menutup aurat secara sempurna menggunakan tudung lingkup yang dipadankan dengan kebaya labuh. Tudung lingkup sehelai kain sarung untuk menutup kepala dan dada.

    Saat ini, kebaya labuh dipakai oleh kaum perempuan pada acara tertentu seperti majelis adat istiadat atau pun hari raya. Kebaya labuh juga masih digunakan sebagai pakaian bersanding pengantin perempuan Melayu Lingga.

    Baca: Hari Kebaya Nasional diperingati setiap 24 Juli

  • Penampilan Komunitas Perempuan Berkebaya Saat Pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025

    Penampilan Komunitas Perempuan Berkebaya Saat Pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025

    7cloud.asia – Komunitas Perempuan Berkebaya turut tampil di atas catwalk saat pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025, Sabtu (28/6/2025).

    Sepuluh anggota Komunitas Perempuan Berkebaya tampil dengan mengenakan beragam gaya kebaya yang dipadu dengan aneka wastra Nusantara.

    Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, Lia Nathalia menjelaskan ragam kebaya dan wastra yang dikenakan oleh anggotanya. Kebaya yang dikenakan seperti kebaya kutubaru, kebaya bali, kebaya Jawa, kebaya Labuh (Melayu) dan kebaya Basiba (Sumatra Barat).

    Peragaan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya ini mendapat sambutan antusias dari ratusan tamu yang memadati Ballroom Hotel Manhattan, Jakarta Selatan

    Berikut penjelasan satu per satu jenis kebaya yang diperkenalkan Komunitas Perempuan Berkebaya yang kami kutip dari penjelasan Lia Nathalia.

    Indiah membuka penampilan Komunitas PerempuanvBerkebaya dengan mengenakan kebaya noni dari Manado, Sulawesi Utara yang dipadukan dengan kain tenun dari Makassar, Sulawesi Selatan. Tata rambutnya adalah konde cepol Betawi atau Jakarta.

    Disusul kemudian oleh Heydi yang mengenakan kebaya kutu baru motif bunga kuno, yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang dipadukan dengan motif batik merak dan parang tuding dari Yogyakarta.

    Motif ini melambangkan kekayaan, kehidupan yang baik, awet muda dan simpatik. Tata rambutnya adalah konde Jawa klasik.

    Baca: Mengenal beragam kebaya Nusantara

    Selanjutnya, Utami mengenakan kebaya kutu baru beludru hitam dari Jawa Tengah, yang dipadukan dengan motif Batik Gringsing dari Solo, Jawa Tengah.

    Batik gringsing biasanya dikenakan untuk perlindungan dari penyakit dan bahaya. Tata rambutnya adalah sanggul atau konde bangun tulak, sanggul klasik Solo yang biasanya dikenakan untuk resepsi pernikahan.

    Valma mengenakan kebaya encim dengan motif bunga dan daun, yang awalnya digunakan oleh wanita Tionghoa-Indonesia.

    Kebaya encim dengan menggunakan teknik krancang ini dipadukan dengan Batik Jawa Hokokai-nya, dengan motif mawar dan kupu-kupu dengan matahari terbit di latar belakang.

    Motif batik Hokokai ini awalnya diproduksi di sepanjang daerah pesisir di bagian utara Pulau Jawa, seperti Pekalongan, selama pendudukan Jepang di Indonesia antara tahun 1942 dan 1945. Tata rambutnya adalah konde cepol dari Betawi atau Jakarta.

    Clevia mengenakan kebaya kutubaru beludru hitam panjang, yang berasal dari Jawa Tengah, dipadukan dengan motif Batik Sidomukti, yang melambangkan harapan yang mulia dan sejahtera.

    Sidomukti ini biasanya dikenakan untuk pakaian pernikahan dengan jumputan merah, teknik tie-die Indonesia. Tata rambutnya adalah konde Jawa klasik.

    Selanjutnya adalah Allysa mengenakan kebaya encim biru muda dengan motif bunga dan daun yang menggunakan teknik krancang. Kebaya encim awalnya digunakan oleh perempuan Tionghoa-Indonesia.

    Baca: UNESCO tetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Ia memadukan kebaya encim dengan kain Batik dari Lasem, Jawa Tengah, dengan motif burung Hong atau burung Phoenix dengan latar belakang melingkar atau “ukel-ukel”, yang melambangkan kedamaian, keberuntungan, ketenaran, dan kesehatan. Tatanan rambutnya adalah konde cepol dari Betawi atau Jakarta.

    Febi mengenakan kutu baru hijau limau yang dipadukan dengan motif Batik Sidomukti, yang melambangkan harapan yang mulia dan sejahtera. Febi menambahkan kain jumputan untuk stagen.

    Motif batik Sidomukti biasanya digunakan oleh kedua mempelai dan orang tua mereka saat upacara pernikahan. Tatanan rambutnya adalah konde Jawa klasik dengan melati segar.

    Lystria mengenakan kebaya janggan hitam yang dipadukan dengan batik motif Tiga Negeri. Kebaya janggan awalnya dikenakan oleh para abdi dalem atau mereka yang bertugas di dalam komplek Keraton Yogyakarta, populer karena potongannya yang sederhana dan kerahnya yang tinggi.

    Adapun batik motif Tiga Negeri diwarnai di tiga lokasi –-warna merah di Lasem, warna biru di Pekalongan, dan warna cokelat di Solo– yang dirancang oleh orang Tionghoa-Indonesia selama pendudukan Belanda dan sekarang jarang diproduksi. Tatanan rambutnya adalah konde Jawa klasik.

    Rihaya adalah mengenakan kebaya Basiba dari suku Minang di Sumatera Barat, unik dengan potongan ketiak segitiganya. Ia memadukan kebaya basiba dengan kain Songket dari Padang di Sumatera Barat.

    Tatanan rambutnya adalah konde modern dengan kembang roti atau yang diyakini sama dengan kembang manten dalam motif Batik Jawa, bunga pinang yang melambangkan awal baru dalam sebuah upacara pernikahan. 

    Terakhir, Nathalia mengenakan kebaya kutu baru yang dipadukan dengan kain Tapis dari Lampung, teknik bordir untuk menghias selembar kain. Dikenakan dengan selendang tapis gaya Bali. Tatanan rambut saya adalah konde modern.

  • Hari Kebaya Nasional 2025: Kebaya Jadi Simbol Perlawanan Perempuan

    Hari Kebaya Nasional 2025: Kebaya Jadi Simbol Perlawanan Perempuan

    7cloud.asia – Semarak Hari Kebaya Nasional 2025 yang jatuh pada Kamis, 24 Juli 2025 dirayakan di Museum Mandiri, Jakarta, Jakarta Barat.

    Gelaran bertajuk “Kebaya: Merajut Kebhinekaan” ini menjadi panggung perayaan busana tradisional hingga edukasi pelestarian budaya, khususnya kebaya dan pemberdayaan perempuan Indonesia.

    “Kebaya adalah jati diri perempuan Indonesia. Kami ingin mengajak masyarakat terutama generasi muda untuk kembali mengenal, mencintai, dan membanggakan kebaya,” kata Rihaya Syukur, salah satu pengurus Komunitas Perempuan Berkebaya dalam sambutannya.

    Rihaya mengatakan kebaya bukan hanya busana, tapi juga simbol keteguhan, keanggunan, dan keberanian perempuan dari masa ke masa.

    Baca: Mengenal beragam kebaya Nusantara

    Dalam sejarah, ujarnya, kebaya bukan hanya soal pakaian. Tetapi juga tentang peradaban dan juga perlawanan kepada penjajah.

    Di masa lalu Ki Hajar Dewantara meminta murid perempuannya untuk mengenakan kebaya guna menunjukkan bahwa mereka adalah orang Indonesia.

    “Jadi kebaya menyimpan sejarah dan filosofi yang kaya,” ujar dia.

    Peringatan Hari Kebaya Nasional kali ini diisi kegiatan mencakup parade kebaya Nusantara dan juga diskusi tentang filosofi dan perjalanan kebaya hingga ditetapkan menjadi warisan budaya takbenda UNESCO

    Gelaran ini tidak hanya dihadiri dari lintas komunitas di Indonesia, namun juga dari perwakilan sejumlah negara di antaranya Malaysia, Timor Leste, Kazakhstan, Thailand.

    Baca: Komunitas Perempuan Berkebaya kenalkan beragam kebaya dan wastra Nusantara

    Penggagas Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) Lia Nathalia menambahkan bahwa terkadang masih ada yang salah paham tentang kebaya.

    “Kebaya adalah blus bagian atas kita. Jadi, sebenarnya ini kita kupas dipadupadankan dengan berbagai macam wastra yang variatif dari Indonesia, tentu saja, kita memiliki kain tenun, batik, dan lainnya,” kata Lia Nathalia.

    Lia juga menambahkan diadakannya pagelaran ini di bangunan sejarah Museum Mandiri, guna mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan museum sebagai tempat belajar sejarah.

    “Komunitas kami juga berupaya untuk mengedukasi sebanyak mungkin orang agar datang dan mengunjungi museum, agar mengetahui sejarah bangsa ini. Karena hal ini masih cukup jarang dilakukan,” tambah dia.

    Pemerintah Indonesia telah menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 tentang Hari Kebaya Nasional.

  • Membumikan Kebaya sebagai Busana untuk Semua Kelompok Perempuan

    Membumikan Kebaya sebagai Busana untuk Semua Kelompok Perempuan

    7cloud.asia – Banyak perempuan salah memahami bahwa kebaya adalah sesuatu yang rumit dan hanya cocok dikenakan pada momen-momen tertentu.

    Padahal senyatanya, kebaya adalah busana egaliter yang bisa dikenakan kapanpun dan oleh siapa pun tanpa memandang status sosial.

    “Kebaya itu adalah egaliter yaitu tidak ada sekat-sekat sosial siapa aja bisa pakai. Tidak ada batasan sosial untuk mengenakan kebaya,” kata Indiah Marsaban dari Komunitas Perempuan Berkebaya saat ditemui di sela peringatan Hari Kebaya Nasional Kamis (24/7/2025) di Museum Mandiri, Jakarta.

    Indiah yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia mengatakan, di masa lalu kebaya hanya dikenakan dari kalangan bangsawan, seperti putri-putri kerajaan.

    Namun, dalam perjalanannya kebaya bisa dipakai siapa saja mulai dari ibu negara hingga masyarakat biasa.

    Baca: Semarak peringatan Hari Kebaya Nasional 2025

    Menurut dia, kebaya kini mendapat tempat istimewa karena menjadi identitas perempuan Indonesia. Apalagi setelah kebaya ditetapkan menjadi warisan budaya takbenda UNESCO, penting bahwa kebaya untuk dirawat dan dilestarikan.

    “Karena sejarahnya panjang, lalu ada nilai-nilai, ada nilai budaya dengan kebaya, itu adalah identitas kita,” imbuh dia.

    Pemerintah telah menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 tentang Hari Kebaya Nasional.

    Kebaya secara resmi ditambahkan ke dalam Daftar Warisan Budaya TakBenda UNESCO, melalui keputusan Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) UNESCO sesi ke-19 pada 4 Desember 2024 di Asunción, Paraguay.

    Kebaya Anthropologist, Nita Trismaya, menambahkan, kebaya juga menjadi bagian sejarah perjalanan panjang perjuangan gerakan para perempuan Indonesia. Salah satunya kebaya hadir dalam Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928.

    “Kita melihat bahwa dengan kebaya, ada perjuangan perempuan peran,” tutur Nita yang juga merupakan anggota Komunitas Perempuan Berkebaya itu.

    Baca: Mengenal beragam kebaya Nusantara

    Komunitas Perempuan Berkebaya memperjuangkan agar kebaya kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tanpa batasan fungsi atau momen.

    Hal ini lantaran kebaya yang sejak dulu telah dipakai baik di luar maupun di dalam rumah, namun ada perkembangan zaman yang membuat kebaya hanya dipakai dalam acara-acara formal.

    “Berkebaya itu sudah tidak ada batasan lagi dalam fungsi, dalam event, bahkan usia,” kata dia.

    Dalam mendukung hal ini, para anggota Komunitas Perempuan Berkebaya kini mendorong tradisi kebaya kepada anak-anak mereka melalui berbagai kegiatan budaya, termasuk peragaan busana berkebaya.

    “Dan itu memang istilahnya, ada pewarisan tradisi yang harus berlanjut, apabila tidak diwariskan maka warisan budaya itu akan hilang,” imbuh Nita.

    Baca: Mengenal Komunitas Perempuan Berkebaya

  • Komunitas Perempuan Berkebaya dan Pelestarian Tradisi Berkebaya

    Komunitas Perempuan Berkebaya dan Pelestarian Tradisi Berkebaya

    7cloud.asia – Ditetapkanya kebaya ke dalam Daftar Warisan Budaya TakBenda Dunia oleh UNESCO ternyata menyertakan tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan tradisi berkebaya.

    Pegiat Komunitas Perempuan Berkebaya, Indiah Marsaban mengatakan setiap dua tahun UNESCO akan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan pengusul dalam menjaga tradisi berkebaya.

    “Di mana setiap negara yang mengusulkan diwajibkan membuat laporan tentang program-program yang dilakukan untuk melestarikan budaya berkebaya,” kata Indiah Marsaban di sela peringatan Hari Kebaya Nasional Kamis (24/7/2025) di Museum Mandiri, Jakarta.

    Jadi, tandas Indiah, masing-masing negara pengusul yang dipimpin Singapura bertanggung-jawab untuk menjaga kelestarian tradisi berkebaya.

    Dijelaskan, kriteria berkebaya yang diusulkan oleh lima negara pengusul adalah atasan dengan belahan tengah, berlengan -bisa lengan panjang ataupun pendek- yang dipadukan dengan wastra.

    Baca: Membumikan kebaya sebagai busana untuk semua kelompok perempuan

    Adapun wastra yang dikenakan saat berkebaya tidak dibatasi, wastra itu bisa kain batik seperti yang banyak digunakan perempuan di Pulau Jawa, kain songket dan kain tapis (Sumatera) ataupun tenun seperti yang banyak digunakan di Indonesia Timur.

    Wastra-wastra ini dikenakan dengan dililit dan tidak boleh dijahit. Untuk pengikat bisa menggunakan stagen, korset ataupun semacam ikat pinggang semacam obi yang kini banyak dijual di pasaran. 

    Indiah yang merupakan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia menambahkan, kriteria ini merupakan kesepekatan bersama dari penelusuran terhadap tradisi berkebaya di masing-masing negara.

    Dalam kesempatan yang sama, Kebaya Anthropologist, Nita Trismaya menambahkan, hingga kini studi tentang kebaya masih kurang.

    Bahkan kapan tepatnya kebaya mulai dikenal di bumi Nusantara, belum diketahui secara pasti. Dalam berbagai kitab ataupun prasasti kebaya sangat jarang disebutkan.

    Baca: Mengenal beragam kebaya Nusantara

    “Dalam berbagai kitab hanya disebutkan baju. Tetapi sejak kapan perempuan Nusantara mulai mengenakan atasan masih belum diketahui secara pasti tetapi diperkirakan setelah masuknya Islam,” ujarnya.

    Ditambahkan, di masa lalu perempuan Nusantara tidak mengenal atasan. Mereka hanya mengenakan kain yang dililit menutup tubuh yang dikenal dengan kemben.

    Ajaran Islam yang mewajibkan perempuan menutup aurat, diduga menjadi pendorong lahirnya atasan yang kemudian dikenal dengan nama kebaya.

    Dari diskusi di kalangan arkeolog, ujar Nita, ada benang yang terputus bagaimana kain ini bisa berubah menjadi pakaian dan kapan waktu tepatnya.

    Meski demikian, ujar Nita, dalam perjalanannya kebaya telah menjadi bagian dari perjuangan Indonesia dan juga perjuangan perempuan Indonesia.

    Baca: Kebaya jadi simbol perlawanan perempuan Indonesia

    Komunitas Perempuan Berkebaya memperjuangkan agar tradisi berkebaya kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tanpa batasan fungsi atau momen.

    Saat ini, tradisi berkebaya itu sudah tidak mengenal batasan lagi baik dalam fungsi, dalam event, bahkan usia perempuan yang mengenakannya.

    Para anggota Komunitas Perempuan Berkebaya terus mendorong tradisi kebaya kepada anak-anak mereka melalui berbagai kegiatan budaya, termasuk peragaan busana berkebaya.

    “Dan itu memang istilahnya, ada pewarisan tradisi yang harus berlanjut, apabila tidak diwariskan maka warisan budaya itu akan hilang,” imbuh Nita.