Mengenal Beragam Kebaya Nusantara: Dari Kebaya Jawa hingga Kebaya Basiba

Written by

in

7cloud.asia – Komunitas Perempuan Berkebaya turut tampil di atas catwalk di pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025, Sabtu (28/6/2025).

Belasan anggota Komunitas Perempuan Berkebaya tampil dengan mengenakan beragam kebaya Nusantara yang dipadu dengan aneka wastra.

Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, Lia Nathalia menjelaskan ragam kebaya dan wastra yang dikenakan oleh anggotanya. Kebaya yang dikenakan seperti kebaya kutubaru, kebaya Bali, kebaya Jawa, kebaya Labuh (Melayu) dan kebaya Basiba (Sumatra Barat).

Peragaan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya ini mendapat sambutan antusias dari ratusan tamu yang memadati Ballroom Hotel Manhattan, Jakarta Selatan

Berikut penjelasan mendetail dari satu per satu jenis kebaya yang diperkenalkan Komunitas Perempuan Berkebaya yang kami rangkum dari berbagai sumber.

1. Kebaya Jawa
Kebaya Jawa merupakan salah satu jenis kebaya yang paling terkenal dan populer di Indonesia. Kebaya Jawa memiliki ciri khas yang unik, seperti motif bordir yang rumit dan detail yang indah.

Kerah kebaya Jawa memiliki bentuk layaknya huruf ‘V’ atau vertikal. Dulu, kebaya ini banyak dipakai oleh orang-orang kerajaan atau bangsawan. Perlahan, kebaya ini pun menjadi pakaian dari berbagai kalangan.

Setiap daerah di Jawa memiliki kebaya Jawa dengan gaya dan motif yang berbeda-beda.
Payet juga kerap jadi ornamen pendukung yang membuat kebaya ini kelihatan semakin anggun.

Baca: Mengenal Komunitas Perempuan Berkebaya

2. Kebaya Betawi
Kebaya Betawi juga memiliki potongan leher berbentuk V tanpa kutu baru. Kebaya Betawi biasa dipadukan dengan kain batik bermotif pucuk bambu dan dilengkapi selendang yang dikenakan sebagai kerudung.

Kebaya Betawi banyak dipengaruhi budaya Tionghoa, tak heran jika banyak menggunakan warna-warna cerah. Adapun bahan yang digunakan adalah kain yang ringan seperti organdi.

Kebaya Betawi bisa ditemui di upacara adat masyarakat, mulai dari rangkaian pernikahan hingga sunatan. Pakaian pengantin dan para pengiringnya sudah dapat dipastikan berwarna terang dan cerah.

Kebaya Betawi juga sering dikenakan dalam acara-acara budaya di Jakarta.

3. Kebaya Bali
Kebaya Bali yang populer saat ini adalah bagian dari payas alit atau busana tradisional yang dikenakan sehari-hari oleh warga Bali. Ciri khas kebaya Bali adalah potongannya yang pas badan, menonjolkan lekuk tubuh.

Kebaya dibuat dari kain yang tipis menerawang seperti brokat atau katun lembut dengan aksen bordir. Kebaya Bali dilengkapi dengan selendang yang dililitkan di pinggang.

Kebaya Bali biasa dipadukan dengan kain sarung motif Bali (kamen) atau kain endek. Kebaya Bali biasa digunakan dalam upacara adat dan acara formal di Bali.

4. Kebaya Sunda
Kebaya Sunda merupakan salah satu jenis kebaya tradisional yang berasal dari daerah Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Kebaya ini memiliki ciri khas yang unik dan memikat, serta memiliki nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat Sunda.

Kebaya Sunda biasanya terbuat dari kain katun dengan hiasan bordir yang indah. Kain batik juga sering digunakan dalam kebaya ini untuk memberikan sentuhan klasik.

Warna-warna yang umum digunakan adalah warna-warna cerah seperti merah, kuning, atau biru, yang merujuk pada kekayaan budaya Sunda. Dalam penggunaannya, kebaya Sunda sering dipadukan dengan kain jarik.

Kebaya Sunda memiliki variasi model yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kerah leher tinggi dengan hiasan bordir berwarna, juga ada yang memiliki kerah leher rendah dengan hiasan bordir yang lebih sederhana.

Bagian bawah kebaya bisa menjadi lurus atau melengkung sambil memperlihatkan batik atau kain yang dipakai di bagian bawah.

Kebaya Sunda dipakai di berbagai acara adat Sunda, seperti pernikahan, pertunangan, atau acara keagamaan. Pada saat-saat istimewa, kebaya ini biasanya dipadukan dengan kain batik atau kain songket yang memberikan nuansa mewah dan elegan.

Baca: UNESCO tetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

5. Kebaya Encim
Juga dikenal sebagai kebaya peranakan atau kebaya nyonya, kebaya encim merupakan hasil akulturasi budaya China, Melayu, dan Betawi. Kebaya encim biasanya dibuat dari kain yang tidak menerawang dan berwarna cerah.

Kebaya ini memiliki kerah berbentuk V yang khas. Pinggiran kainnya dihiasi bordiran motif bunga dengan warna kontras dari leher sampai ujung. Kadang, bordir juga menghiasi bagian tangan.

6. Kebaya Kutubaru
Kutubaru adalah Kebaya klasik Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah. Ciri khas kebaya ini adalah selembar kain persegi di bagian tengah yang menghubungkan sisi kanan dan kiri kebaya.

Meskipun desainnya tradisional, model kebaya kutubaru selalu populer. Di masa lalu, kebaya kutu baru jamak dikenakan perempuan Indonesia.

Kebaya kutubaru ini bisa pendek (pinggang) atau panjang (hingga lutut). Kebaya kutubaru gaya Solo berbeda dengan gaya Yogyakarta. Gaya Solo potongan rata, sedangkan gaya Yogyakarta potongannya sudut. 

Biasanya, kebaya kutubaru dipadukan dengan kain batik dan selendang yang disampirkan di salah satu bahu dan dipeniti dengan bros di dada.

Dalam penggunaannya, kebaya kutubaru membutuhkan stagen untuk mengikat sekaligus menutupi kain batik yang menjadi bawahannya.

7. Kebaya Madura
Kebaya Madura juga dikenal dengan sebutan Rancongan. Kebaya Madura memiliki bentuk yang khas yaitu bagian bawah dibuat seperti menyerong.

Kebaya dari Madura juga punya bentuk yang mirip dengan kebaya Jawa. Sementara, panjang kebaya ini umumnya sepinggang dan warnanya didominasi warna-warna cerah.

Baca: Perjalanan hingga kebaya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

8. Kebaya basiba
Kebaya yang satu ini sebenarnya berasal dari baju kurung Basiba yang menjadi pakaian sehari-hari perempuan Minangkabau (Sumatera Barat).

Namun, dalam perkembangannya, kebaya basiba umumnya hanya dikenakan pada acara-acara penting atau dalam upacara adat.

Kebaya basiba dicirkan dengan lengan baju yang memiliki panjang yang mencapai pergelangan tangan.

Karakteristik khas Baju Kurung Basiba terletak pada adanya “Siba” di samping baju, dengan panjangnya yang mencapai lutut, leher bulat tanpa kerah, serta memiliki belahan yang sedikit.

Filosofi pakaian adalah perisai untuk tubuh serta sebagai penyembunyi rasa malu menjadi dasar desain kebaya basiba.

9. Kebaya Labuh
Dilansir di laman resmi Disbud Kepri, kebaya labuh sudah menjadi pakaian sehari-hari kaum perempuan Melayu Lingga sejak zaman Kerajaan Lingga-Riau.

Kebaya labuh merupakan pakaian yang labuh atau jatuh sampai ke bawah lutut dan berbelah dihadapan sampai ke bawah.

Kebaya labuh mempunyai kekek di bawah ketiak kiri dan kanan juga berpesak di bagian depan. Kebaya labuh menggunakan tiga kancing yang disemat dengan pin atau keronsang.

Menurut Zubaidah Shawal (1994:13) Kebaya mungkin berasal dari perkataan Turki iaitu “Al-Akibia al-Turkiyya” yang bermakna baju Turki yang berbelah dan lipatannya selisih menyerong di hadapan dari kiri ke kanan.

Di masa lalu, kebaya labuh digunakan juga sebagai pakaian harian kaum perempuan Melayu dipadukan dengan kain batik yang diikat dengan cara lipatan sebelah kanan menutup sebelah kiri.

Untuk mengancing baju kebaya dipakai semat pin, jika untuk menghadiri acara resmi tertentu menggunakan tiga buah keronsang yang indah-indah dan berselendang.

Untuk kaum perempuan yang ingin menutup aurat secara sempurna menggunakan tudung lingkup yang dipadankan dengan kebaya labuh. Tudung lingkup sehelai kain sarung untuk menutup kepala dan dada.

Saat ini, kebaya labuh dipakai oleh kaum perempuan pada acara tertentu seperti majelis adat istiadat atau pun hari raya. Kebaya labuh juga masih digunakan sebagai pakaian bersanding pengantin perempuan Melayu Lingga.

Baca: Hari Kebaya Nasional diperingati setiap 24 Juli

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *