Tag: kemenkes

  • Empat Provinsi Penyumbang Angka Stunting Terbesar Ada di Jawa

    Empat Provinsi Penyumbang Angka Stunting Terbesar Ada di Jawa

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan atau Kemenkes melaporkan hingga 2021 ada lima provinsi yang memiliki jumlah kasus stunting terbanyak.

    Lima provinsi ini menyumbang 51 persen kasus stunting nasional, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara.

    “Kalau lima provinsi itu bisa menurunkan stunting, maka kasus stunting secara nasional akan terjadi penurunan,” kata Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Maria Endang Sumiwi di Jakarta, Minggu (25/6/2023)

    Dalam Rapat Kerja Nasional BKKBN pada Januari lalu Kemenkes melaporkan, prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di 2022.

    Secara jumlah yang paling banyak penurunan angka stunting adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Banten.

    Baca: Kiat Jawa Tengah turunkan stunting

    Seperti diinformasikan sebelumnya, Presiden Jokowi sempat menyoroti penggunaan dana pengentasan stunting. Dalam pemantauannya, Jokowi menemukan hanya 20 persen dana stunting yang diterima oleh mereka yang membutuhkan. 

    Stunting menjadi perhatian pemerintah pust, karena penurunan stunting sangat besar pengaruhnya dalam menyiapkan generasi emas Indonesia pada 2045. Apalgi pada 2030 ini, Indonesia akan mengalami bonus demografi.

    Kemenkes juga melaporkan berbagai capaian terkait penurunan angka stunting, di mana sebanyak 14 provinsi telah melebihi target pemantauan pertumbuhan balita mencapai 80 persen.

    Sedangkan pemberian ASI eksklusif baru tujuh provinsi yang telah mencapai target 75 persen di kuartal 1, yaitu Aceh, DKI Jakarta, Sumatera Barat, Jambi, Bali, Lampung, dan Yogyakarta.

    Pemberian MP-ASI pada anak usia 6–23 bulan mulai dilaporkan Kemenkes pada kuartal 3 tahun ini.

    Baca: Jokowi gemas, dana pengentasan stunting habis untuk rapat dan perjalanan dinas

    Kemenkes juga melaporkan terdapat delapan provinsi yang berhasil mengatasi masalah balita kurang gizi tambahan dengan angka cakupan melebihi target 85 persen.

    Terkait laporan imunisasi dasar lengkap, semua provinsi belum mencapai target 22,5 persen di kuartal 1 tahun ini.

    Terakhir, adalah desa dan kelurahan stop buang air besar sembarangan atau BABS. Ada 10 provinsi telah melebihi target 80 persen di kuartal 1, ada juga dua provinsi berhasil mencapai angka 100 persen bebas dari BABS yaitu Yogyakarya dan NTB.

    Dalam laporan Kemenkes itu juga disebutkan dua dari 11 komponen pelaksanaan program intervensi spesifik tengkes atau stunting di Indonesia telah melampaui pemenuhan target pada triwulan pertama tahun ini, kata seorang pejabat di Kementerian Kesehatan RI.

    “Pada triwulan pertama, dari 11 intervensi spesifik baru dua intervensi yang pelaksanaannya sudah tercapai bahkan melebihi target,” kata Maria

    Baca: Pemerintah targetkan angka kemiskinan turun ke 7,5 persen pada 2024

    Dua intervensi yang dimaksud adalah konsumsi tablet penambah darah pada remaja putri dengan capaian 57,7 persen dari target nasional 12,5 persen, dan konsumsi tablet penambah darah pada ibu hamil sebanyak 66 persen dari target triwulan pertama 20 persen.

    Pelaksanaan program intervensi spesifik stunting yang kini masih dikejar adalah skrining anemia, pemeriksaan kehamilan (ANC), pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronik (KEK).

    Intervensi spesifik stunting lainnya berupa pemantauan pertumbuhan balita, ASI eksklusif, pemberian MPASI kaya protein hewani bagi  baduta (bayi berusia dua tahun), tata laksana balita dengan masalah gizi.

    Intervensi juga dilakukan dengan peningkatan cakupan dan perluasan imunisasi, edukasi remaja ibu hamil dan keluarga termasuk program bebas buang air besar sembarangan (BABS).

    Baca: Kemiskinan ekstrem ditargetkan hilang pada 2024

    Maria Endang mengatakan hingga saat ini belum ada satu pun provinsi yang telah mencapai target skrining anemia yang ditetapkan sebesar 70 persen di kuartal 1 tahun ini.

    Sedangkan konsumsi tablet penambah darah remaja putri, sudah 36 dari 38 provinsi yang telah melebihi target 12,5 persen dengan rata-rata 57 persen. Dua provinsi lainnya masih harus mengejar target 12,5 persen antara lain Papua Tengah dan Papua Pegunungan.

    Untuk pemeriksaan kehamilan ditargetkan mencapai 20 persen. Tapi, dari 38 provinsi hanya Banten (20,45 persen) dan DKI Jakarta (20,13 persen) yang telah mencapai target tersebut.

    “Intervensi pemeriksaan kehamilan ini dilakukan minimal enam kali di fasilitas kesehatan,” katanya.

    Baca: Tiga poin penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas

    Untuk ibu hamil mengonsumsi tablet penambah darah sedang dikejar di 37 provinsi, khususnya di Papua Barat Daya yang kini mencapai 16,89 persen.

    Untuk pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil ada 18 provinsi ya.g telah melebihi target 87,5 persen pada kuartal 1 tahun ini.

    Sementara Kementerian Agama beberapa waktu lalu juga mengeluarkan kebijakan guna mencegah stunting.

    Tiga bulan sebelum menikah, calon pengantin harus diperiksa dulu kalau ada anemia dan kurang gizi diimbau menunda kehamilan dulu demi kesehatan ibu dan bayi sampai gizi tercukupi.

  • Sejumlah Anak di Jakarta Terpapar Mycoplasma Pneumonia, Kemenkes Siapkan Jejaring Laboratorium

    Sejumlah Anak di Jakarta Terpapar Mycoplasma Pneumonia, Kemenkes Siapkan Jejaring Laboratorium

    7cloud.asia – Sejumlah anak di Jakarta terpapar mycoplasma pneumonia. Umumnya mereka mengalami gejala sesak nafas. Menghadapi hal ini Kementerian Kesehatan akan menyiapkan jejaring laboratorium.

    Ketersediaan jejaring laboratorium ini diperlukan untuk bisa mengetahui sejak awal gejala mycoplasma pneumonia.

    “Kita siapin jaringan laboratoriumnya supaya bisa dites,” kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin seperti dikutip Antaranews pada Senin (04/12/2023).

    Baca: Protokol kesehatan di masa endemi Covid 19

    Sebenarnya lanjut Budi, mycoplasma pneumonia atau bakteri atipikal yang menyebabkan infeksi paru-paru itu bukan merupakan jenis penyakit baru.

    Namun, penyakit itu sudah lama tidak pernah diukur tingkat penyebarannya di tengah masyarakat.

    Untuk itu, Kemenkes berupaya melengkapi jejaring laboratorium pendeteksi mycoplasma pneumonia dengan pereaksi kimia atau reagen sebagai alat deteksi awal gejala mycoplasma pneumonia.

    Baca: Dampak polusi udara hingga ke jantung

    Mycoplasma ini sudah ada sejak lama, tetapi selama ini nggak pernah diukur. Sekarang kita sudah lihat, kita datangkan reagennya, tetapi ini bukan penyakit baru, ini sudah ada sejak lama,” katanya. 

    Secara umum, kasus mycoplasma sebetulnya banyak menimbulkan gejala ringan, tetapi tidak sedikit yang juga mengalami perburukan saat terjadi infeksi paru lebih serius.

    Kementerian Kesehatan telah melakukan sejumlah upaya mitigasi untuk mengantisipasi merebaknya mycoplasma pneumonia di Indonesia.

    Salah satunya dengan menerbitkan Surat Edaran No. PM.03.01/C/4732/2023 tentang kewaspadaan terhadap kejadian mycoplasma pneumonia di Indonesia.

    Baca: Cucu ketua DPRD DKI kena ISPA akibat polusi udara

    Sebelumnya Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinkes DKI, dr Ngabila Salama mengatakan sejumlah anak di Jakarta terinfeksi mycoplasma pneumonia. Setelah dilakukan tes PCR, mereka dirawat di rumah sakit.

    “Dari hasil lab. Kami masih menghimpun jumlahnya, karena pemeriksaannya spesifik sekali, harus dibuktikan dengan PCR untuk tahu jenis kuman penyebabnya,” jelas Ngabila pada Minggu (3/12/2023).   

    Ngabila menjelaskan secara umum, kasus mycoplasma sebetulnya banyak menimbulkan gejala ringan. Tetapi tidak sedikit yang juga mengalami perburukan saat terjadi infeksi paru lebih serius.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kemenkes Siapkan 2 Ribu Lebih Pos Kesehatan Selama Libur Natal dan Tahun Baru

    Kemenkes Siapkan 2 Ribu Lebih Pos Kesehatan Selama Libur Natal dan Tahun Baru

    7cloud.asia – Selama musim liburan Natal 2023 dan Tahun Baru 2024, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyediakan sejumlah layanan di pos kesehatan yang tersebar di sejumlah lokasi.

    Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, Azhar Jaya menjelaskan masyarakat dapat memanfaatkan layanan kesehatan ini secara gratis.

    “Saya informasikan seluruh pos kesehatan itu gratis,” ujar Azhar seperti yang dilansir Antaranews.

    Pihaknya menyediakan 2.059 pos pelayanan kesehatan serta 352 unit Public Safety Center (PSC) 119.

    Baca: Kasus Covid-19 meningkat

    Pos pelayanan ini dapat digunakan masyarakat selama musim libur Natal dan Tahun Baru atau sejak 18 Desember 2023 sampai 3 Januari 2024.

    Pos-pos ini, lanjut Azhar dilengkapi dengan sejumlah fasilitas, seperti layanan pemeriksaan kesehatan dasar, layanan pemeriksaan COVID-19, hingga layanan akupresur dan akupunktur.

    “Tentu kami bekerja sama dengan semua pihak. Kami bekerja sama dengan Kemenhub, Kepolisian, serta pengelola tol, dan rest area,” katanya.

    Selanjutnya Azhar menjelaskan jika dibutuhkan perawatan medis yang lebih serius, maka pembiayaannya dapat ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

    Baca: Kontroversi pemghapusan kelas BPJS

    Tetapi perawatan lebih lanjut ini hanya berlaku bagi pelaku perjalanan yang telah menjadi anggota Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

    Jika pelaku perjalanan mengalami kecelakaan lalu lintas, maka biaya penanganan akan ditanggung oleh Jasa Raharja.

    “Jadi ya intinya kalau sudah menjalankan kewajiban sebagai warganegara yang baik, membayar pajak kendaraan, ikut menjadi anggota BPJS, maka tidak usah khawatir. Semuanya sudah direncanakan dan akan ditanggung oleh negara,” urainya.

    Baca: Covid-19 meningkat jelang Tahun Baru

    Selain menyediakan pos kesehatan, kemenkes juga menyiagakan 10.147 puskesmas serta 3.137 rumah sakit, termasuk rumah sakit swasta di sejumlah wilayah di Indonesia yang siap melayani masyarakat pada musim libur ini.

    “Pemerintah ingin hadir ketika masyarakat sedang merayakan sesuatu, atau bergerak untuk melakukan suatu kegiatan. Ini adalah kolaborasi lintas sektor sebagai wujud dari tugas pemerintah untuk melayani masyarakat,” paparnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kementerian Kesehatan Ajak Masyarakat CERDIK untuk Deteksi Kanker

    Kementerian Kesehatan Ajak Masyarakat CERDIK untuk Deteksi Kanker

    7cloud.asia – Pemeriksaan kesehatan awal dengan CERDIK perlu dilakukan untuk mendeteksi dini adanya indikasi kanker.

    Hal ini diungkapkan oleh Staf Komunikasi Transformasi Kesehatan pada Kementerian Kesehatan, Ngabila Salama seperti yang dilansir Antaranews. 

    Selanjutnya Ngabila menjelaskan CERDIK meliputi Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres, untuk mencegah kanker.

    Melakukan cek kesehatan juga dapat dilakukan di puskesmas dan fasilitas kesehatan lain.

    Mantan Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta itu mengatakan, pemeriksaan kesehatan rutin setiap enam atau 12 bulan sekali.

    Baca: Kanker pankreas intai usia muda

    Dengan pemeriksaan rutin, lanjut Ngabila, indikasi kanker dapat dideteksi dan ditangani sejak dini. Selain itu juga dapat mendeteksi adanya kelainan dan masalah kesehatan.

    Jika terindikasi kanker, maka penanganannya bisa dilakukan dengan pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

    Data dari Kementerian Kesehatan sebanyak 30 sampai 50 persen kanker dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko dan menjalankan perilaku CERDIK.

    Ia mengatakan, deteksi dini mesti dilakukan bersamaan dengan upaya pencegahan melalui penerapan pola hidup sehat.

    Yaitu seperti tidak merokok, rutin berolahraga, mengelola stres, mencukupkan istirahat, dan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

    “Jangan lupa untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah sehari-hari 3-5 porsi per hari,” katanya.

    Baca: Gaya hidup rebahan picu kanker pankreas

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, penyakit kanker setiap tahun menyebabkan 9,6 juta kematian di dunia serta merupakan masalah kesehatan global dan nasional.

    Sementara data Globocan tahun 2020 menunjukkan kasus baru kanker di Indonesia mencapai 396.914 kasus dan 234.511 di antaranya mengakibatkan kematian.

    Pada perempuan penyakit kanker yang paling banyak ditemukan yakni kanker payudara (65.858 kasus) diikuti kanker leher rahim (36.633 kasus).

    Sedangkan pada lelaki paling banyak kanker paru-paru (34.783 kasus) diikuti kanker kolorektal (34.189 kasus). 

    Reporter: Nurakhmayani

  • Marak di Singapura, Kemenkes Pastikan Indonesia Aman Covid-19 Varian KP.1 dan KP.2  

    Marak di Singapura, Kemenkes Pastikan Indonesia Aman Covid-19 Varian KP.1 dan KP.2  

     

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan RI memastikan belum ada kasus Covid-19 varian KP.1 dan KP.2 yang saat ini tengah marak di Singapura.

    Kepastian ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Mohammad Syahril dalam keterangan tertulisnya dalam situs Kemenkes.

    “Sampai Mei 2024, kasus Covid-19 yang beredar di Indonesia didominasi oleh subvarian Omicron JN.1.1, JN.1, dan JN.1.39. Kalau subvarian KP, belum ditemukan,” ungkap Syahril.

    Memang Syahril mengakui kasus Covid-19 di Indonesia di bulan Mei mengalami peningkatan pada minggu ke-18 tahun 2024 sebesar 11,76% dibanding minggu sebelumnya.

    Berdasarkan data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) Indonesia 2024, sebagian besar kasus masih didominasi varian JN.1.

    Baca: Covid-19 varian baru mudah menular

    Meski terjadi peningkatan kasus, namun kondisi ini tidak diikuti dengan peningkatan angka rawat inap (hospitalisasi) dan kematian.

    Berdasarkan data Laporan Mingguan Nasional Covid-19 Kemenkes periode 12-18 Mei 2024 mencatat, terdapat 19 kasus konfirmasi, 44 kasus rawat ICU, dan 153 kasus rawat isolasi.

    Tren positivity rate mingguan di angka 0,65% dan nol kematian. Tren orang yang dites per minggu mencapai 2.474 orang.

    Selanjutnya Syahril menjelaskan Indonesia kini telah memiliki strategi untuk menanggulang Covid-19, yaitu mengintensifkan kapasitas mencakup manajemen klinis, surveilans, imunisasi, promosi kesehatan dan sebagainya.

    Baca: Vaksin Covid-19 berbayar dianggap belum tepat waktunya

    Jadi, meskipun kasus varian KP.1 dan KP.2 di Singapura meningkat, pihaknya menganggap belum perlu dilakukan pembatasan perjalanan.

    Namun, dia mengingatkan agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan seperti cuci tangan, menggunakan masker bila sakit termasuk di kerumunan/alat angkut, serta melengkapi vaksinasi Covid-19.

    Sebab masih ada kemungkinan munculnya varian atau subvarian baru yang berpotensi menyebabkan peningkatan kasus atau kematian.

  • Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Kemenkes Imbau Masyarakat Patuhi Prokes

    Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Kemenkes Imbau Masyarakat Patuhi Prokes

    7cloud.asia – Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini tengah meningkat. Hingga Mei 2024, kasus konfirmasi Covid-19 meningkat sebesar 11,76 persen. Masyarakat diimbau patuhi protokol kesehatan (prokes).

    Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Mohammad Syahril Sp.P, MPH,.

    Melansir detikhealth, Syahril menegaaskan bahwa status endemi di Indonesia saat ini bukan berarti Covid-19 telah hilang, melainkan berada dalam situasi yang terkendali.

    Artinya, masih ada kemungkinan muncul varian atau subvarian baru yang berpotensi menyebabkan peningkatan kasus atau kematian.

    Baca: Indonesia aman dari covid-19 varian kp1 dan kp2

    Berdasarkan data Laporan Mingguan Nasional COVID-19 Kemenkes periode 12-18 Mei 2024, terdapat 19 kasus konfirmasi, 44 kasus rawat ICU, dan 153 kasus rawat isolasi.

    Tren positivity rate mingguan di angka 0,65 persen dan nol kematian. Tren orang yang dites per minggu mencapai 2.474 orang.

    “Ini terus kami pantau melalui laporan Bed Occupation Rate (BOR) ruang isolasi dan/atau ICU, baik itu secara harian/mingguan,” kata Syahril.

    Data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) Indonesia 2024, saat ini yang memicu lonjakan kasus di Indonesia adalah varian JN.1.

    Baca: Virus covid-19 varian terbaru mudah menular

    “Sampai Mei 2024, kasus Covid-19 yang beredar di Indonesia didominasi oleh subvarian Omicron JN.1.1, JN.1, dan JN.1.39. Kalau subvarian KP, belum ditemukan,” ungkapnya.

    Meski demikian kenaikan ini tidak diikuti dengan peningkatan angka rawat inap atau hospitalisasi dan kematian.

    Dia mengimbau masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes), seperti cuci tangan, menggunakan masker bila sakit termasuk di kerumunan hingga transportasi umum.

    Selain itu, masyarakat dapat segera melengkapi dosis vaksinasi COVID-19, khususnya pada kelompok berisiko.

    Baca: Satu pasien meninggal akibat covid-19 di Batam

    “Upaya kewaspadaan dan pencegahan masih sama, yaitu segera lakukan vaksinasi COVID-19 lengkap dan booster, terutama untuk kelompok lansia dan orang dengan komorbiditas (penyakit penyerta),” katanya.

    Kemenkes, lanjut Syahril, telah menyiapkan rumah sakit berikut dengan persediaan tenaga medis serta obat-obatan.

    “Upaya yang telah disiapkan adalah rumah sakit sudah memiliki peringatan dini (early warning) dalam konversi tempat tidur, adanya tenaga cadangan, kesiapan perbekalan kesehatan seperti oksigen, obat-obatan serta vaksinasi, terutama bagi kelompok berisiko,” jelasnya.

  • Wabah Cacar Air dan Gondongan Mulai Terjadi, Kemenkes Segera Terbitkan Surat Edaran

    Wabah Cacar Air dan Gondongan Mulai Terjadi, Kemenkes Segera Terbitkan Surat Edaran

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu wabah cacar air menyerang SMPN 8 Tangerang Selatan, Banten.

    Diberitakan, pada akhir Oktober lalu, wabah cacar air menyerang 53 pelajar di SMPN 8, Tangerang Selatan, Banten.

    Pihak sekolah sampai menggelar pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama dua pekan dan menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh kelas.

    Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) akan menerbitkan Surat Edaran (SE) Kewaspadaan Penyakit Cacar Air (Varicella) dan Gondongan (Mumps).

    Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman menyebutkan SE tersebut akan diterbitkan oleh Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes kepada seluruh kepala dinas kesehatan (dinkes) provinsi, kabupaten, kota, rumah sakit, dan puskesmas di Indonesia.

    Baca: perbedaan cacar air, flu singapura dan sariawan

    Menurut mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, pemerintah seharusnya melakukan penyelidikan epidemiologis (PE) secara mendalam.

    PE ini perlu dilakukan karena dapat membantu pemerintah mengetahui secara pasti fenomena yang terjadi.

    Selain itu, dengan melakukan PE pemerintah juga dapat mengetahui penyebab meningkatnya kasus gondongan dan cacar air pada anak yang terjadi secara bersamaan.

    “Yang amat perlu diwaspadai adalah kalau memang benar ada peningkatan dua penyakit sekaligus di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Prof Tjandra, seperti yang dilansir detikcom.

    Lebih jauh, dia menjelaskan ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam fenomena ini. Pertama, penyakit cacar air dan gondongan sama-sama menyerang usia anak-anak dan memiliki gejala demam yang amat mudah menular.

    Baca: Kurang dari sebulan kasus cacar monyet meningkat jadi 38 kasus

    Namun, meski cepat menular kedua penyakit ini dapat dikatakan relatif ringan dan dapat sembuh dalam hitungan hari atau minggu.

    “Amat jarang sekali penyakit berkembang menjadi berat dan mengancam kesehatan. Ke empat, tersedia vaksin untuk kedua penyakit ini, yang tentunya tersedia di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di negara kita, walau memang bukan atau belum masuk program nasional Program Pengembangan Imunisasi,” jelasnya.

    Langkah berikutnya adalah pemerintah perlu menganalisis kebenaran atas adanya kenaikan kedua kasus ini di berbagai daerah.

    Menurutnya di Indonesia mungkin saat ini tengah terjadi perubahan pola penyakit atau karena meningkatnya sensitivitas surveilans.

    Baca: Kasus cacar monyet di Tangerang Selatan bertambah

    Jika pemerintah telah memastikan adanya burden of diseases problem, maka perlu segera diinformasikan ke publik.

    Hal ini menurutnya perlu dilakukan untuk menenangkan dan memelihara kewaspadaan masyarakat terhadap wabah keua penyakit tersebut. Selain itu, anak-anak yang sakit harus mendapat penanganan kesehatan yang optimal.

    “Pemerintah perlu memastikan situasi yang terjadi dan segera melakukan penanggulangannya,” ujar dia.

    Tak hanya pemerintah, peran orang tua juga penting agar dapat mewaspadai anak-anaknya mengalami gejala kedua penyakit tersebut.

    Baca: Kasus cacar monyet di Indonesia terus bertambah, diperkirakan bisa tembus 3600 kasus

    Jika mengalami kedua gejala penyakit tersebut, orangtua segera membawa anak mereka ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

    Pihak sekolah pun juga dapat meningkatkan kewaspadaan. Jika terdapat kasus serupa di sekolah, maka dapat segera melaporkan ke puskesmas atau petugas kesehatan terdekat.

    “Semoga masalah dua penyakit yang ada sekarang ini segera dapat diatasi dengan baik, apalagi ini terjadi pada 100 hari pertama pemerintah baru kita sekarang ini,” katanya.

     

     

  • Kasus Covid-19 di Asia Meningkat, Kemenkes Perketat Pengawasan

    Kasus Covid-19 di Asia Meningkat, Kemenkes Perketat Pengawasan

    7cloud.asia – Kasus Covid-19 di kawasan Asia seperti Thailand, Hongkong, Malaysia, Singapura meningkat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperketat pengawasan orang-orang yang masuk ke Indonesia.

    Langkah ini menyusul diterbitkannya Surat Edaran (SE) Nomor SR.03.01/C/1422/2025 tentang Kewaspadaan Terhadap Peningkatan Kasus Covid-19.

    Surat itu ditandatangani Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Murti Utami, ditetapkan pada 23 Mei 2025 dan dipublikasikan di situs resmi Kemenkes pada tanggal 28 Mei 2025.

    Surat edaran ini bertujuan dalam rangka meningkatkan kewaspadaan Covid-19 maupun penyakit potensial KLB/Wabah lainnya bagi Dinas Kesehatan, UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan, UPT Bidang Laboratorium Kesehatan Masyarakat, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan para pemangku kepentingan.

    Selain itu juga untuk menanggapi peningkatan kasus Covid-19 di kawasan Asia, yakni Thailand, Hong Kong, Malaysia maupun Singapura. Sepanjang tahun 2025 kasus Covid-19 di negara-negara tersebut meningkat.

    Baca: Covid 19 meningkat, pemerintah harus segera bertindak

    Bahkan Thailand mencatat lebih dari 18 ribu kasus dalam sehari, dengan kumulatif sepanjang 2025 mencapai 240.606 kasus dan 53 kematian.

    Di Thailand, varian Covid-19 yang dominan adalah XEC dan JN.1, di Singapura LF.7 dan NB.1.8 (turunan JN.1), di Hongkong JN.1, dan di Malaysia adalah XEC (turunan JN.1). Namun, transmisi penularannya masih relatif rendah, dan angka kematiannya juga rendah.

    Meski demikian kemenkes tetap melakukan pengawasan dan memperketat orang-orang yang masuk melalui bandara. 

    Jubir kementerian kesehatan, Drg. Widyawati, MKM menjelaskan saat ini ada kecemasan masyarakat Indonesia dengan kenaikan kasus Covid-19 di sejumlah negara tersebut.

    Namun, hingga pekan terakhir Mei 2025 pihaknya memastikan nol kasus di Indonesia.  

    “Kami memperkuat baik melalui sistem sentinel (pengawasan untuk mendeteksi) maupun melalui pintu masuk saat ini melalui sub varian yang masih bersirkulasi di Indonesia ini karakteristiknya masih sama dengan JN1 nya,” jelas Widyawati.

    Baca: Persamaan dan perbedaan hmpv dan covid 19

    Pihaknya juga belum menerapkan aturan pembatasan pertemuan atau social distancing seperti yang pernah dilakukan saat Covid-19 mewabah di Indonesia.

    Meski demikian, Widyawati mengimbau masyarakat agar tetap menjalani protokol kesehatan, menjalani pola hidup sehat. Terutama bagi para lansia dan orang yang memiliki kormobid.

    “Kalau nggak enak badan jangan berpergian, kalaupun harus pergi maka gunakan masker. Batuk, bersin tetap menjaga etika. Bagi yang sehat juga bisa menggunakan masker untuk proteksi diri,” katanya.

    Sementara kemenkes tetap memantau situasi global maupun nasional. Selain itu pihaknya juga mempersiapkan seluruh laboratorium puskesmas, seluruh dinas kesehatan dan jejaringnya.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Super Flu Marak di Indonesia, Menkes Imbau Masyarakat Waspada Tanpa Panik

    Super Flu Marak di Indonesia, Menkes Imbau Masyarakat Waspada Tanpa Panik

    7cloud.asia – Kasus Super Flu atau Influenza A H3N2 saat ini marak di Indonesia, apalagi di tengah cuaca hujan seperti ini. Meski demikian Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat tetap waspada tanpa perlu panik.

    Kementerian Kesehatan mencatat hingga Desember 2025 terdapat 62 kasus Super Flu yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS).

    Menurut Budi, virus H3N2 bukanlah virus baru seperti Covid-19, melainkan sudah lama terdeteksi di Indonesia dan kerap muncul saat musim hujan atau musim dingin.

    Baca: Penyebaran Influenza A Masih Terkendali

    “Ini bukan virus baru. Sudah puluhan tahun ada di Indonesia. Sekarang memang muncul varian baru, subclade K. Masyarakat harus hati-hati dan sadar, tapi tidak perlu panik karena ini sama seperti flu biasa, bukan seperti Covid-19 varian mematikan,” ujar Budi beberapa waktu lalu.

    Budi menjelaskan, meski penularan Super Flu tergolong cepat, tingkat kematiannya sangat rendah.

    Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, menggunakan masker saat sakit, serta rajin mencuci tangan.

    Baca: Kondisi Udara Memperburuk Penyebaran ISPA

    Sementara itu, mengutip Halodoc, terdapat sejumlah perbedaan antara influenza musiman biasa dan Super Flu subclade K.

    Pada flu biasa, gejala umumnya berupa demam ringan dan hidung meler. Sedangkan pada Super Flu, gejala yang muncul cenderung lebih berat.

    Gejala tersebut antara lain demam tinggi hingga mencapai 39–41 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi yang hebat hingga menyebabkan tubuh sangat lemas, sakit kepala berat, sakit tenggorokan tajam, serta batuk kering yang menetap.

    Baca: Penyebaran Influenza A di Inggris Catat Angka Tertinggi

    Meski sebagian besar kasus tidak berbahaya, Super Flu berpotensi menimbulkan komplikasi serius pada kelompok rentan.

    Penderita dengan penyakit penyerta (kormobid) seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

    Komplikasi berupa pneumonia atau infeksi pernapasan akut berat dapat berujung pada kegagalan organ jika tidak segera ditangani di fasilitas kesehatan.

    Oleh karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala berat atau memburuk.

  • Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    7cloud.asia – Indonesia dan dunia internasional kini tengah mewaspadai ancaman hantavirus. Penyakit yang ditularkan melalui tikus dan dapat memicu gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru.

    Meski baru ramai diperbincangkan, virus ini sebenarnya telah lama ada di Indonesia dan diduga banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai flu biasa.

    Sejumlah penelitian menunjukkan hantavirus telah ditemukan di Indonesia sejak 1980-an. Dalam studi komprehensif di berbagai kota besar, seroprevalensi hantavirus pada manusia tercatat mencapai sekitar 11,6 persen.

    Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus tersebut meski tidak pernah didiagnosis secara resmi.

    Kondisi ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yakni hanya sebagian kecil kasus yang terlihat, sementara jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

    Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus dikategorikan sebagai zoonosis emerging atau penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

    Baca: Hantavirus Telah Masuk Indonesia

    Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam umumnya langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, gejala awal hantavirus hampir identik, mulai dari demam, nyeri otot, mual, hingga kelelahan.

    Akibat kemiripan tersebut, banyak kasus diduga salah diagnosis atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.

    Berbeda dengan penyakit lain yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, maupun air liur tikus.

    Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, hingga permukaan yang telah terkontaminasi.

    Mengacu pada laman resmi Kemenkes RI, hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa.

    Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.

    Baca: Konvirmasi Kasus Hantavirus Meningkat Dalam 2 Tahun

    Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang lebih sering ditemukan di Amerika. Jenis ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.

    Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) hantavirus juga tergolong tinggi. Pada beberapa tipe virus, angka kematiannya bahkan dapat mencapai 50 persen.

    Di Indonesia, jenis hantavirus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV) yang menyebar melalui tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus.

    Karena hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan virus ini dinilai lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas di kawasan hutan atau satwa liar.

    Baca: DPR Desak Pemerintah Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono mengatakan kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar hantavirus.

    Di antaranya pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, hingga masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.

    Menurutnya, risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.

    Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

    Baca: Virus Nipah Ditemukan di Indonesia

    Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan. Area tersebut juga sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.

    Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus.

    “Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” jelas Arief