Tag: kereta cepat

  • Kontroversi Kelanjutan Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung

    Kontroversi Kelanjutan Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia tengah dihadapkan pada membengkaknya biaya proyek atau cost overrun Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) sebesar 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp17,8 triliun.

    Untuk pinjaman, China mematok bunga utang sebesar 3,4 persen, jauh lebih tinggi dari harapan pemerintah Indonesia sebesar 2 persen. Di samping itu, China juga meminta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai jaminan dari pinjaman utang proyek kereta cepat Jakarta Bandung itu, yang diberikan China Development Bank sebesar 560 juta dolar AS atau Rp8,3 triliun. 

    Sejauh ini pemerintah belum mengiyakan permintaan China ini. Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan tuntutan pemerintah China tak bisa langsung dipenuhi.

    Luhut lalu menawarkan alternatif dengan penjaminan utang melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PII untuk menutup cost overrun proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung.

    “Masih ada masalah psikologis, kemarin mereka (China) mau dari APBN, tetapi kita jelaskan kalau dari APBN itu prosedurnya jadi panjang makanya mereka juga sedang pikir-pikir. Kami dorong melalui PT PII karena ini struktur yang baru dibuat pemerintah Indonesia sejak 2018,” beber Luhut, Rabu (12/4/2023).

    Wakil Ketua DPR bidang Koordinator Kesejahteraan Rakyat Abdul Muhaimin Iskandar mendukung sikap Luhut yang menolak permintaan China yang ingin pinjaman utang proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung dijamin APBN.

    “Saya kira bagus (keputusan Luhut menolak permintaan China jadikan APBN sebagai penjamin utang Kereta Cepat Jakarta Bandung. Risikonya terlalu besar kalau sampai APBN kita tersandera,” kata  Gus Muhaimin dikutip Parlementaria. 

    Baca: Dua alasan untuk segera beralih ke mobil listrik

    Politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan, pemerintah harus lebih tegas dan memastikan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung benar-benar business to business (B2B), sehingga seharusnya tidak membebani APBN sama sekali.

    “Yang perlu dipastikan itu proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung itu seharusnya B2B, saya kira cukup lah dana PMN disuntikkan, jangan lagi bebani APBN lagi sebagai penjamin utang,” tegas Gus Muhaimin.

    Sementara Ketua Komisi V DPR Lasarus mengkritisi permintaan China yang menginginkan APBN menjadi jaminan dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

    Ia menilai pemerintah kurang cermat karena tidak mengantisipasi munculnya tuntutan pemerintah China terkait proyek kereta cepat tersebut.

    “Saya rasa ini terjadi karena pemerintah kita, menurut saya tidak cermat di awal sehingga membuat China berani menekan kita untuk meminta jaminan dari APBN untuk proyek kereta cepat ini,” ujar Lasarus Senin (17/4/2023)  seperti dikutip Parlementaria,

    Karena itu, Lasarus mengatakan pemerintah harus tegas dalam menghadapi permintaan China itu. Di sisi lain, pemerintah harus komitmen pada kesepakatan yang ada sebelum proyek ini KCJB dijalankan.

    “Pemerintah Indonesia sudah biasa melakukan pinjaman luar negeri untuk berbagai kegiatan pembangunan di Indonesia, dan harusnya skema pengembaliannya seperti apa dibicarakan dari awal. Tidak seperti sekarang, ketika keretanya sudah selesai, baru dibicarakan skema utang,” jelasnya.

    Lebih lanjut, ia menegaskan agar pemerintah tidak membebani APBN sebagai jaminan utang proyek kereta cepat atau KCJB ini, sebab dipastikan akan memberikan risiko yang besar bagi keberlanjutan APBN yang kemudian berdampak pada ekonomi nasional.

    “Saya tidak setuju dengan skema itu. Karena harusnya di skema pengembalian ada masa konsesi yang diberikan, nah di masa itulah kita berikan skema pengembalian,” pungkas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

     

    Analisis

    Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung diinisiasi perintah melalui konsorium BUMN dan China International Railway. Kereta cepat pertama di Indonesia ini akan menempuh jarak 142,3 kilometer berawal di Halim ke Tegalluar, Cimahi Jawa Barat.

    Kereta Cepat Jakarta Bandung diharapkan bisa menjawab pergerakan warga Jakarta bandung dengan cepat. Dengan kecepatan rata-rata 250 km/jam, maka jarak Jakarta Bandung bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu.

    Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung dimulai pada tahun 2015 dan diperkirakan selesai pada tahun 2020 namun karena sejumlah kendala hingga saat ini belum sepenuhnya rampung.  

    Dalam Analisis Ekonomi dan Finansial Kereta Cepat Jakarta – Bandung yang disusun Oldebes Temy Giantara, Aleksander Purba dan Dwi Herianto dari Jurusan Teknil Sipil Universitas Lampung pada 2018 mengungkap sebagai berikut: 

    1. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung dapat dikatakan dari segi analisis ekonomi karena PP tidak memenuhi syarat, dari segi analisis finansial proyek ini dapat dikatakan layak karena BCR dan PP memenuhi syarat, namun jika dari segi analisis ekonomi digabung dengan finansial proyek sangat bisa dikatakan layak karena NPV dan BCR sudah memenuhi syarat sejak tahun pertama.

    2. Jika dilihat dari hasil perhitungan PP di mana pengembalian dana mencapai puluhan tahun, dapat membuat para investor menjadi ragu, namun untuk pemerintah melihat dari segi gabungan antara ekonomi dan finansial karena berdampak juga terhadap masyarakat yang di mana tugas pemerintah menyediakan transportasi yang murah, cepat, dan efektif.

    3. Dari hasil perbandinganan antara manfaat (benefit) dan biaya (cost) dari pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung ini dapat disimpulkan bahwa pembangunan infrastruktur ini layak untuk dibangun dan direncanakan akan beroperasi pada tahun 2020.

    Namun demikian peneliti mengakui hasil analisa ini belum mencerminkan hasil yang sesungguhnya, sehingga membutuhkan kajian yang lebih mendalam dan lebih komprehensif berdasarkan kondisi ekonomi dan geografis setempat

    Saran yang dapat diberikan dari analisis ekonomi dan finansial kereta cepat Jakarta – Bandung yang dilakukan ketiganya menyebut perencanaan pembangunan infrastruktur kereta cepat Jakarta – Bandung dapat diusulkan untuk dibangun yang merupakan suatu inovasi berteknologi tinggi dalam rangka meningkatkan peranan perkeretaapian guna meningkatkan mobilitas penduduk dan perekonomian di daerah Jakarta dan Bandung.

     

  • Mulai Kemarin Masyarakat Umum Dapat Mencoba Kereta Cepat Jakarta Bandung Gratis

    Mulai Kemarin Masyarakat Umum Dapat Mencoba Kereta Cepat Jakarta Bandung Gratis

    7cloud.asia – Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo bersama sejumlah menteri dan pejabat melakukan uji coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Sejak Jumat 15 September kemarin uji coba mulai berlaku untuk publik secara gratis.

    Uji coba ini dilakukan untuk masyarakat yang terdampak pembangunan KCJB, terdiri dari 98 desa/kelurahan dari 32 kecamatan yang tersebar di 9 kota/kabupaten di sepanjang jalur KCJB.

    Dikutip Detikcom, uji coba kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini juga dapat dilakukan oleh masyarakat umum di luar kategori tersebut.

    Masyarakat bisa mendaftar melalui website resmi KCIC yang mulai hari ini, Sabtu 16 September 2023 hingga 30 September 2023.

    Informasi terkait pendaftaran uji coba akan diumumkan melalui saluran informasi resmi KCIC salah satunya akun Instagram @keretacepat_id.

    “Bagi masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan uji coba operasional KA Cepat, KCIC akan membuka pendaftaran secara umum pada Sabtu, 16 September 2023 melalui media informasi resmi salah satunya akun @keretacepat_id sehingga masyarakat yang antusias ingin mengikuti perjalanan KA Cepat nantinya dapat mendaftar secara mandiri,” jelas Corporate Secretary PT KCIC, Eva Chairunisa dalam keterangan tertulis, Jumat (15/9/2023).

    KCIC selaku operator KCJB setiap hari menyiapkan 8 kali perjalanan di masa uji coba publik setiap harinya. Selama proses uji coba terdapat 4 jadwal keberangkatan dengan mekanisme setiap penumpang akan mendapatkan perjalanan pulang pergi (PP) Halim-Tegalluar dan sebaliknya.

    “Selama masa uji coba setiap harinya akan terdapat sekitar 2.200 ketersediaan tempat duduk,” terang Eva Chairunisa.

    Rute dan jadwal perjalanan kereta cepat selama masa uji coba sebagai berikut:

    1. Relasi Stasiun Halim – Tegalluar PP : Pukul 09.00 WIb dan 14.00 WIB
    2. Relasi Stasiun Tegalluar – Halim PP : Pukul 09.00 WIB dan 14.00 WIB

    “Dalam kegiatan uji coba ini, seluruh masyarakat yang terdaftar dalam manifes penumpang mendapat perlindungan asuransi perjalanan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memastikan keselamatan penumpang,” papar Eva.

    Sebelum masyarakat melakukan uji coba KCJB, Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Surat Persetujuan Uji Coba Operasi Terbatas KCJB.

    Direktur Jenderal Perkeretaapian, Risal Wasal menekankan KCIC harus menjamin keselamatan penumpang yang akan mengikuti uji coba terbatas ini sesuai dengan peraturan yang berlaku. KCIC harus bisa menjamin aspek-aspek keselamatan sesuai dengan Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian (SMKP).

    “Kami mensyaratkan Presiden Direktur PT KCIC agar menjamin dan bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan pengoperasian perjalanan KCJB dan pemenuhan SMKP selama masa uji coba terbatas,” ujar Risal dalam keterangan tertulis, Jumat (15/9/2023).

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Kereta Cepat Jakarta Bandung Akan Dilanjutkan Hingga ke Surabaya, Ini Alasannya

    Kereta Cepat Jakarta Bandung Akan Dilanjutkan Hingga ke Surabaya, Ini Alasannya

    7cloud.asia – Pemerintah berencana melanjutkan rute Kereta Cepat Jakarta Bandung hingga ke Surabaya.

    Bahkan, pemerintah sudah mengusulkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya untuk masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).

    Rencana untuk melanjutkan proyek kereta cepat Jakarta Bandung hingga ke Surabaya tersebut tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai menjajal langsung Kereta Cepat Whoosh pada Rabu (11/10/2023).

    Ia menyayangkan apabila rute kereta cepat tidak dilanjutkan.

    “Jadi kita akan lihat kereta ini karena memang kalau sudah sampai Bandung tanggung, kalau bisa dilanjutkan,” kata dia dalam keterangannya, Rabu (11/10/2023).

    Baca: Jajal kereta cepat ini kata Ganjar

    Oleh karenanya, pemerintah telah membahas rencana kereta cepat dilanjutkan ke Surabaya. Pembangunan nantinya akan dilakukan dari Bandung, Solo, Yogyakarta, hingga Surabaya.

    “Kemarin sudah dirapatkan di dalam PSN dengan Bapak Presiden, jadi kita coba ke depan untuk menyambung dari Bandung ke Jogja Surabaya,” ujarnya.

    Sebagai informasi, wacana proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung – Surabaya telah muncul sejak beberapa bulan lalu.

    Pemerintah saat ini tengah melakukan kajian terkait rencana untuk melanjutkan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta Bandung hingga ke Surabaya tersebut.

    Baca: Integrasi Kereta Cepat Jakarta Bandung dengan moda transportasi lainnya

    Hasil kajian perencanaan proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya itu kemudian diteruskan oleh pemerintahan periode selanjutnya.

    Menurut Airlangga, diteruskannya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sampai Surabaya dapat membuat moda transportasi canggih ini menjadi lebih efisien.

    Sebab, kereta cepat ini memang seharusnya untuk transportasi jarak jauh, yaitu lebih dari 500 kilometer sedangkan saat ini panjang lintasan kereta cepat Jakarta-Bandung baru 142,3 kilometer.

    Soal pembiayaan proyek ini, Airlangga mengatakan akan diputuskan setelah kajiannya selesai.

    Baca:  Tak disubsidi, segini tarif Kereta Cepat Jakarta Bandung

    Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga mengatakan, pemerintah masih menggodok perencanaan proyek kereta cepat itu. Nantinya, kajian itu akan dilanjutkan oleh pemerintahan selanjutnya.

    “Bahwa nanti diputuskan oleh pemerintahan yang akan datang ya monggo, tapi kita sudah letakkan dasar-dasar dan rencana ke depan seperti itu,” ujar dia di Stasiun Halim, Jakarta, Senin (2/10/2023).

    Jika terealisasi, perjalanan kereta cepat Jakarta-Surabaya dapat ditempuh dalam 3,5 jam. Hal itu akan meningkatkan efisiensi waktu perjalanan masyarakat.

    Sumber: Kompas.com

     

  • Mulai 3 Februari, Kereta Cepat Whoosh Terapkan Tarif Dinamis

    Mulai 3 Februari, Kereta Cepat Whoosh Terapkan Tarif Dinamis

    7cloud.asia – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menerapkan skema “dynamic pricing” atau tarif dinamis untuk perjalanan Kereta Cepat Whoosh yang lebih fleksibel mulai keberangkatan 3 Februari 2024.

    General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan penerapan skema tarif dinamis ini memungkinkan penumpang mendapatkan tiket Kereta Cepat Whoosh dengan harga yang lebih hemat bila melakukan perjalanan di waktu tertentu.

    “Dalam skema baru ini dimungkinkan dalam satu hari terdapat beberapa tarif yang berbeda untuk perjalanan Whoosh,” kata Eva.

    Eva menjelaskan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan tarif dinamis diantaranya jam sibuk atau jam non sibuk, momen liburan atau non liburan hingga pada hari kerja ataupun akhir pekan.

    Baca: Ganjar Pranowo jajal kereta api Whoosh

    Ia menambahkan pada jam sibuk akan ditawarkan tarif yang lebih tinggi, sebaliknya pada di luar jam sibuk tentunya akan ditawarkan tarif yang lebih murah.

    “Penumpang diberi alternatif perjalanan dengan tarif yang berbeda-beda menyesuaikan dengan kebutuhan, keinginan dan daya belinya,” kata dia.

    Dia menyebut tarif yang akan diberlakukan nanti untuk kelas premium ekonomi berkisar mulai dari Rp150.000, Rp175.000, Rp200.000, Rp225.000, hingga Rp250.000.

    Menurut dia, tarif dinamis ini akan memberikan nilai tambah bagi penumpang. Adanya fleksibilitas harga diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih baik kepada masyarakat.

    “Penerapan tarif dinamis ini akan terus dipantau dan dievaluasi agar dapat terus sesuai dengan kebutuhan penumpang dan operasional Whoosh,” katanya.

    Baca: Kereta cepat Whoosh resmi beroperasi

    Masyarakat yang ingin menggunakan Whoosh dapat melakukan pemesanan melalui saluran resmi.

    Seperti aplikasi Whoosh, situs ticket.kcic.co.id, Ticket Vending Machine dan Loket resmi di stasiun serta aplikasi mitra seperti Access by KAI, Livin by Mandiri, BRImo, dan BNI Mobile Banking.

    Adapun hingga 27 Januari 2024, sebanyak 1,4 juta orang yang menggunakan Keret Cepat Whoosh

    Mereka melakukan mobilitas Jakarta-Bandung dan sebaliknya. Saat ini rata-rata okupansi berkisar sekitar 60 hingga 80 persen.

    Sumber: Antaranews

  • Luhut Bilang Kereta Cepat Sudah Bisa Dilanjutkan hingga Surabaya, Cek Kebenarannya di Sini

    Luhut Bilang Kereta Cepat Sudah Bisa Dilanjutkan hingga Surabaya, Cek Kebenarannya di Sini

    7cloud.asia – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan mengatakan, kereta cepat Jakarta-Bandung sudah layak dilanjutkan hingga ke Surabaya.

    Hal tersebut diungkapkan Luhut usai bertemu Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi dalam rangkaian acara pertemuan ke-4 Dialog Tingkat Tinggi dan Mekanisme Kerja Sama keempat Indonesia-Cina (HDCM).

    “Untuk kereta cepat Jakarta–Surabaya, kami sepakat segera tim dibentuk. Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh terus mengalami jumlah peningkatan penumpang sejak peluncurannya, sampai pada puncak arus mudik lebaran lalu.“

    “Ini sekaligus menjadi bukti bahwa proyek ini selayaknya dapat dilanjutkan sampai ke Surabaya.”

    Baca Juga: Mulai 3 Februari, Kereta Cepat Whoosh Terapkan Tarif Dinamis

    Untuk mengecek kebenaran ucapan Luhut, The Conversation berkolaborasi dengan Hasran, peneliti kebijakan ketahanan pangan dan perdagangan di Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) untuk memeriksa kebenaran pernyataan Luhut tersebut.

    Pernyataannya tidak berdasar
    Menurut Hasran, tidak ada data komprehensif yang mendukung klaim terkait jumlah penumpang yang disebutkan Luhut.

    Informasi ini biasanya hanya disediakan melalui rilis yang dikeluarkan oleh Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

    Hasran juga menegaskan bahwa kelayakan melanjutkan proyek ini hingga Surabaya, Jawa Timur, tidak bisa diukur dengan menggunakan jumlah penumpang saja.

    Baca Juga: Resmi Beroperasi Hari Ini, Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Diharapkan Dongkrak Jumlah Wisatawan

    Diperlukan studi kelayakan seperti misalnya menggunakan cost benefit analysis (analisis biaya dan manfaat).

    Jika jumlah penumpang naik, maka otomatis pendapatan akan ikut bertambah. Namun, hal-hal lain juga perlu dihitung biayanya.

    Hasran mencontohkan, semakin banyak penumpang maka risiko kerusakan atau reparasi juga makin tinggi.

    Saat ini, tidak tersedia informasi yang cukup untuk menyimpulkan apakah keputusan pemerintah untuk melanjutkan proyek ini sudah dilatarbelakangi studi atau belum.

    Baca Juga: Tak Disubsidi, Tarif Kereta Cepat Jakarta Bandung Berkisar Rp250.000 hingga Rp350.000

    Tidak bisa diverifikasi
    Mempertimbangkan fakta-fakta di atas, Hasran menilai bahwa pernyataan Luhut tidak bisa diverifikasi kebenarannya.

    Benar atau tidaknya pernyataan Luhut tersebut memerlukan landasan perhitungan yang valid.

    Saat ini, hasil penghitungan dan data terkait yang dibutuhkan untuk menentukan kelayakan belum dipublikasikan.

    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

  • Dugaan Mark Up dalam Proyek Pembangunan Kereta Cepat Whoosh

    Dugaan Mark Up dalam Proyek Pembangunan Kereta Cepat Whoosh

    7cloud.asia – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan menyebut kuatnya dugaan korupsi dalam pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) yang kini bernama Kereta Whoosh.

    “Untuk itu, auditor negara seperti BPK atau BPKP perlu melakukan audit proyek Kereta Whoosh. Karena menimbulkan beban keuangan yang begitu berat. Dan sekarang heboh di internal pemerintahan. Tapi kalau saya yakin ada yang tidak beres di proyek itu,” kata Anthony di Jakarta, Sabtu (18/10/2025).

    Berdasarkan perhitungan Anthony, biaya pembangunan Kereta Whoosh yang mencapai 7,27 miliar dolar AS atau setara Rp118,37 triliun (kurs Rp16.283/dolar), termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS, terlalu mahal.

    Dia membandingkan biaya pembangunan kereta cepat di China berada di kisaran 17 juta hingga 30 juta dolar AS per kilometer (km). Sedangkan biaya pembangunan Kereta Whoosh sekitar 52 juta dolar AS per kilometer.

    Asumsikan nilai tengah untuk biaya kereta cepat di China, misalnya 25 juta dolar AS per km, biaya pembangunan Kereta Whoosh yang rutenya 142,3 km itu, lebih mahal 27 juta dolar AS per km.

    “Saya duga proyek Kereta Whoosh kemahalannya luar biasa, sekitar 40-50 persen dibanding biaya pembangunan kereta cepat di China. Tapi okelah, untuk membuktikannya, harus diaudit,” kata Anthony.

    Baca: DPR minta pemicu pembengkakan biaya pembangunan Whoosh ditelusuri

    Karena mahal dan dibiayai 75 persen dari utang Bank Pembangunan China atau China Development Bank (CDB), lanjut Anthony, pemerintah saat ini menjadi kelabakan.

    Tunggakan ini sempat membuat tegang antara Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa dengan CEO BPI Danantara Indonesia, Rosan P Roeslani, terkait pembayaran utang Kereta Whoosh.

    Sebelumnya, lanjut Anthony, pemerintah Jepang sempat mengajukan proposal pembangunan kereta cepat dengan biaya yang lebih rendah. Sama-sama dibiayai dari utang, namun Jepang menawarkan bunga yang 20 kali lebih rendah ketimbang China.

    Di mana, Jepang menawarkan bunga 0,1 per per tahun, sedangkan China menawarkan bunga 2 persen per tahun. Khusus utang untuk cost overrun, bunganya ditetapkan CDB lebih tinggi, yakni 3,4 persen per tahun.

    “Akibatnya, Indonesia harus membayar untuk bunganya saja cukup gede. Sekitar Rp2 triliun per tahun. Ingat, itu hanya untuk bayar bunga saja. Sedangkan jika kerja sama dengan Jepang, pemerintah hanya bayar Rp75 miliar per tahun. Selisihnya lebih dari Rp 1,9 triliun. Dikalikan 10 tahun sudah Rp19 triliun,” terangnya.

    Untuk itu, lanjut Anthony, aparat penegak hukum wajib menindaklanjuti fenomena ini. Agar terungkap secara pasti, siapakah pihak-pihak yang mengalihkan kerja sama pembangunan kereta cepat yang semula digarap Jepang, tiba-tiba beralih ke China.

    Baca: Nama kereta cepat Jakarta-Bandung “Whoosh”

    “Ya dibuka saja, siapa yang berperan dalam proyek-proyek Kereta Whoosh. Kenapa harus dengan China yang belakangan membuat berat keuangan negara. Cicilan bunganya saja Rp2 triliun,” ungkapnya.

    Nama Jokowi disebut
    Sebelumnya, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio mengungkap pengalaman dipanggil Presiden Joowi di Istana Presiden, Jakarta, pada 2016. Untuk berdiskusi proyek KCJB.

    Dalam wawancara dalam siniar Forum Keadilan TV, Agus menyebut, pengalihan proyek KCJB dari Jepang ke China, merupakan ide Jokowi.

    “Pak Jokowi bilang ini ide beliau. Tapi saya tahu itu sebetulnya dari Jepang. Sebelum diserahkan, orang Jepang yang mau menyerahkan proyeknya sempat ketemu saya,” tutur Agus, dikutip Sabtu (18/10/2025).

    Padahal, kata Agus, Jepang sudah melakukan studi kelayakan atau feasibility study (FS), menggandeng UI dan UGM. Melalui JICA, Jepang siap membiayai proyek tersebut dengan bunga ringan dan tenor 40 tahun. Tiba-tiba, China mengambil alih dengan biaya bunga pinjaman lebih besar.

    “Sekarang (dengan China) jadi 85 tahun dengan bunga 2 persen. Jepang itu sulit di depan, tapi cepat di belakang. Sedangkan China, gampang di awal, tapi sulit di belakang. Sekarang buktinya begitu kan,” ujarnya.

    Baca: Kontroversi kelanjutan proyek kereta cepat Jakarta Bandung

    Agus menduga, keputusan Jokowi mengalihkan proyek kereta cepat ke Cina, lebih dilandasi pertimbangan politik ketimbang rasionalitas ekonomi. “Menurut saya, Jokowi merasa lebih nyaman dengan Cina. Mungkin karena banyak bantuan dan kedekatan politik,” katanya.

    Sementara, mantan Menkopolkam Mahfud MD, dalam siniar Terus Terang di kanal YouTube Mahfud MD Official, menilai proyek WHOOSHt penuh kejanggalan sejak awal perencanaan hingga pembiayaan yang kini membebani negara.

    Mahfud menuturkan, proyek yang awalnya ditawarkan ke Jepang dengan skema antarpemerintah (G2G) justru dialihkan ke China, dengan bunga pinjaman yang jauh lebih tinggi dan pembengkakan biaya yang signifikan.

    Dulu pada awalnya, ujar Mahfud, rencana kereta api cepat yang kemudian bernama Whoosh ini adalah perjanjian G2G (Government to Government) antara Pemerintah Jepang dengan Pemerintah Indonesia.

    “Disepakati pada waktu itu berdasarkan hitungan ahli dari UI dan UGM, itu bisa dibangun dengan bunga 0,1 persen dengan Jepang. Tiba-tiba sesudah Jepang minta kenaikan sedikit, oleh pemerintah dibatalkan, dipindah ke China,” ujar Mahfud dalam kanal YouTube Mahfud MD Official.

    Sejumlah pihak yang sejak awal menilai proyek tersebut tidak layak dijalankan, termasuk mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan pakar transportasi Agus Pambagio. Menurut Mahfud, Jonan sempat menolak proyek tersebut karena dianggap tidak feasible atau tidak layak secara ekonomi.

    “Ketika mau dipindah ke China, waktu itu Menteri Perhubungan, Pak Ignasius Jonan, menyatakan tidak setuju. ‘Ini tidak feasible’, kata Pak Jonan. Pak Jonannya dipecat, digantikan,” ujarnya. Ia menambahkan, setelah pemecatan Jonan, Presiden Joko Widodo sempat memanggil Agus Pambagio untuk dimintai pendapat.

    Berdasarkan penuturan Mahfud, Agus juga menyampaikan bahwa proyek tersebut berpotensi merugikan negara. “Presiden (Jokowi) panggil nih, sesudah memecat Jonan, dia ditanya, ‘Pak Agus gimana ini, Pak?’ ‘Ini tidak feasible, rugi negara,’ ini menurut Agus yang saya tonton,” tutur Mahfud.

    Lebih jauh, Mahfud mengungkapkan bahwa pembengkakan biaya yang terjadi pada proyek Whoosh dinilai tidak wajar. Ia menyinggung dugaan mark up biaya konstruksi yang mencapai tiga kali lipat dari standar biaya di China.

    Saat menghadiri rapat senat terbuka Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (17/10/2025), Jokowi tak menjawab saat ditanya wartawan soal utang Kereta Whoosh yang tak ditanggung APBN.

  • Dukung Keputusan Menkeu Soal Utang Kereta Cepat Whoosh, DPR: APBN Bukan Penyangga Risiko Bisnis

    Dukung Keputusan Menkeu Soal Utang Kereta Cepat Whoosh, DPR: APBN Bukan Penyangga Risiko Bisnis

    7cloud.asia – Anggota Komisi XI DPR, Anis Byarwati, menilai keputusan pemerintah untuk tidak membebankan pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan langkah yang tepat.

    “Tidak tepat jika APBN yang harus menanggung. Kondisi itu justru memperberat keuangan negara yang saat ini sudah dalam keadaan terbatas,” ujar Anis dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Legislator Fraksi PKS itu juga menyampaikan dukungannya terhadap sikap tegas Menteri Keuangan Purbaya, yang menolak pembayaran utang proyek KCJB dibebankan pada APBN.

    Ia menilai sejak awal proyek kereta cepat ini memang sudah bermasalah dari sisi perencanaan.

    “Permasalahan proyek infrastruktur KCJB muncul sejak awal, seperti tidak masuknya proyek ini dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2030. Bahkan, Menhub saat itu tidak menyetujui proyek Whoosh dengan alasan bakal sulit dibayar,” paparnya.

    Baca: Dugaan mark up dalam proyek pembangunan kereta cepat Whoosh

    Berdasarkan informasi yang beredar, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), anak usaha PT KAI yang juga pemegang saham terbesar PT KCIC, mencatatkan kerugian hingga Rp4,195 triliun pada 2024, dan kembali merugi Rp1,625 triliun pada semester I-2025.

    “Menurut data BPS, Kereta Cepat hanya ramai saat musim liburan saja, padahal biaya investasi dan operasionalnya sangat tinggi,” ungkapnya.

    Anis menegaskan, situasi ini harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah agar setiap kebijakan publik benar-benar ditimbang secara matang antara manfaat dan risikonya.

    “BUMN yang awalnya sehat kini harus menanggung beban utang Rp2 triliun per tahun akibat proyek penugasan presiden terdahulu. Padahal para pembantunya sudah memberikan peringatan sejak awal,” tegasnya.

    Baca: DPR minta pemicu pembengkakan biaya kereta cepat Whoosh

    Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan keuangan negara yang lebih berhati-hati, terlebih setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN, yang mengatur bahwa dividen BUMN disetorkan ke Danantara, bukan langsung ke APBN.

    “Karena itu, Danantara harus mampu mengelola dan mencarikan solusi yang tidak membebani APBN lagi,” kata Anis.

    Menutup pernyataannya, Anis menegaskan bahwa APBN harus menjadi pelindung rakyat, bukan penyangga risiko bisnis.

    Setiap kebijakan yang berpotensi membebani keuangan negara (APBN) wajib melalui audit menyeluruh, pengawasan DPR, dan memiliki dasar hukum yang jelas.

    “DPR harus memastikan bahwa setiap proyek benar-benar memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi bangsa, bukan menjadi beban baru bagi generasi berikutnya,” pungkasnya.

    Baca: Kontroversi kelanjutan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung

  • Dilema Utang Kereta Cepat Whoosh: Mengejar Kecepatan Tapi Kedaulatan Terancam

    Dilema Utang Kereta Cepat Whoosh: Mengejar Kecepatan Tapi Kedaulatan Terancam

    7cloud.asia – Kereta cepat Jakarta–Bandung Whoosh menjadi proyek andalan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan dinarasikan sebagai simbol kemajuan transportasi Indonesia.

    Pada Oktober 2023, Jokowi dengan bangga meresmikannya dan mengatakan bahwa Whoosh hadir sebagai bukti Indonesia mampu bersaing dalam teknologi transportasi modern.

    Namun, di era Presiden Prabowo Subianto saat ini, masalah Whoosh mulai bermunculan, terutama terkait pembayaran utang ke China yang mencapai 7,27 miliar dolar AS atau Rp110-113 triliun).

    Problematika ini mencerminkan realita bahwa kecepatan yang ditawarkan Whoosh telah menyebabkan ketergantungan baru dalam sistem ekonomi global, alih-alih mencerminkan kemajuan teknologi nasional.

    Tumpukan utang di balik gemerlap modernitas
    Proyek kereta cepat Whoosh memang mengesankan. Dengan kecepatan mencapai 350 kilometer per jam, ia menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara—hasil kerja sama perusahaan Indonesia dan China.

    Namun, secara ekonomi, proyek ini menghadirkan paradoks yang sulit diabaikan. Biaya yang semula diperkirakan sekitar 6 miliar dolar AS (Rp99,4 triliun) kini melonjak hingga lebih dari 7,3 miliar dolar AS (Rp120,9 triliun)

    Pemerintah pun harus melakukan negosiasi ulang dengan Cina, yang diwakili oleh China Development Bank dan sejumlah perusahaan milik negara dalam konsorsium proyek Whoosh, untuk menyesuaikan skema utang yang kian membebani keuangan proyek

    Fakta ini memperlihatkan bahwa proyek infrastruktur besar tidak hanya mencakup teknologi dan konektivitas, melainkan juga relasi kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan arah politik pembangunan.

    Selama dua tahun beroperasi, Whoosh mencatatkan angka penumpang yang cukup tinggi, lebih dari 12 juta penumpang hingga Oktober 2025. Rekor hariannya mencapai 26 ribu penumpang.

    Capaian ini patut diapresiasi sebagai kemajuan nyata dalam sistem transportasi nasional. Namun, angka tersebut ternyata belum cukup untuk menutupi beban finansial yang ditimbulkan.

    Pendapatan dari tiket belum sebanding dengan biaya operasional dan pembayaran bunga utang.
    Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan ini berpotensi menjadi beban bagi keuangan publik, apalagi jika tidak disertai perencanaan ekonomi yang matang.

    Ketika proyek besar semacam Whoosh menghadapi tekanan finansial, lagi-lagi rakyat yang kemungkinan besar akan menanggung konsekuensinya.

    Ketergantungan global
    Pembangunan seperti Whoosh tidak berlangsung di ruang yang netral, tetapi merupakan hasil dari proses negosiasi antara kebutuhan domestik dan kepentingan global.

    Dalam dunia yang semakin terhubung, kerja sama ekonomi lintas negara menjadi hal yang tak terelakkan, tetapi hubungan tersebut jarang bersifat setara.

    Modal, teknologi, dan keahlian sering kali datang dari pusat kekuatan ekonomi, sementara negara berkembang menyediakan pasar, sumber daya, dan ruang ekspansi.

    Kemitraan untuk pembangunan kadang tampak sebagai kolaborasi, tetapi pada dasarnya menciptakan struktur ketergantungan yang baru.

    Indonesia tentu membutuhkan investasi asing untuk mempercepat pembangunan. Namun, ketergantungan yang berlebihan terhadap modal dan teknologi eksternal dapat melemahkan kemandirian nasional dalam jangka panjang.

    Ketika kemampuan produksi domestik tidak dikembangkan secara bersamaan, kemajuan yang tercipta hanya bersifat simbolik seolah cepat di permukaan, padahal fondasinya rapuh.

    Pembangunan sejati seharusnya menciptakan kapasitas baru, kemampuan suatu negara untuk merancang, mengelola, dan memperluas teknologi sendiri tanpa harus terus bergantung pada pihak luar.

    Ujian bagi kedaulatan Indonesia
    Proyek Whoosh seharusnya dibaca bukan hanya sebagai simbol kemajuan, tetapi juga sebagai ujian bagi kemampuan Indonesia menegosiasikan kedaulatannya.

    Pemerintah memiliki peluang untuk menjadikan renegosiasi utang dengan Cina sebagai momentum memperkuat posisi strategis nasional. Langkah tersebut tidak semata soal menyesuaikan bunga pinjaman atau memperpanjang tenor, tetapi juga memastikan adanya transfer teknologi, pelibatan industri lokal, serta pengawasan publik yang lebih transparan.

    Tanpa upaya itu, Whoosh berisiko menjadi proyek yang hanya memperindah citra tanpa memperkuat kapasitas nasional.

    Dalam jangka panjang, keberlanjutan proyek ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan negara mengelola relasi internasionalnya secara cerdas dan berdaulat.

    Pada dasarnya, infrastruktur selalu memiliki dimensi politik. Ia menentukan arah distribusi sumber daya, prioritas pembangunan, dan relasi antara negara serta masyarakatnya.

    Kebanggaan terhadap pembangunan yang tidak disertai refleksi kritis bisa berbahaya, banyak risiko ekonomi dan sosial yang akan muncul, termasuk menumpuknya utang negara.

    Dua mata pisau modernitas
    Modernitas selalu datang dengan wajah ganda. Di satu sisi, ia membuka peluang bagi inovasi dan pertumbuhan. Di sisi lain, ia menuntut penyesuaian terhadap struktur global yang sering kali tidak adil.

    Kereta cepat Whoosh mencerminkan dilema ini. Ia melambangkan tekad Indonesia untuk maju, tetapi juga mengingatkan bahwa kemajuan sejati tidak dapat dibeli hanya dengan kecepatan dan investasi asing.

    Baca juga: Politisasi proyek infrastruktur tak terhindarkan, namun kerap tak sejalan dengan kebutuhan publik

    Kemajuan sejati menuntut kemampuan untuk menentukan arah, bukan sekadar mengikuti arus. Whoosh bukan sekadar kisah tentang transportasi, melainkan juga tentang kedaulatan. Ia mengajarkan bahwa pembangunan yang hanya mengejar kecepatan tanpa arah akan kehilangan makna.

    Tugas besar Indonesia hari ini bukan hanya memastikan keretanya berjalan, tetapi memastikan bahwa bangsa ini benar-benar mengendalikan ke mana rel sejarahnya mengarah.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Aniello Iannone (Indonesianists | Research Fellow at the research centre Geopolitica.info | Lecturer, Universitas Diponegoro)

  • Masalah Proyek Kereta Cepat Whoosh Masuk Daftar Prioritas Pengawasan DPR

    Masalah Proyek Kereta Cepat Whoosh Masuk Daftar Prioritas Pengawasan DPR

    7cloud.asia – DPR siap melakukan pendalaman terkait dengan permaslaahan proyek Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC) atau Whoosh.

    Dalam pidatonya di rapat paripurna, Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan bahwa persoalan proyek kereta cepat Whoosh telah masuk dalam daftar prioritas fungsi pengawasan DPR pada masa persidangan kali ini.

    Puan mengatakan DPR akan meninjau berbagai keputusan yang diambil pada masa pemerintahan Joko Widodo tersebut.

    Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pembangunan kereta cepat Whoosh telah memicu kontroversi. Proyek ini menghadirkan paradoks yang sulit diabaikan.

    Biaya yang semula diperkirakan sekitar 6 miliar dolar AS (Rp99,4 triliun) kini melonjak hingga lebih dari 7,3 miliar dolar AS (Rp120,9 triliun)

    Baca: Kereta Cepat Whoosh mengejar kecepatan tapi kedaulatan negara terancam

    Pemerintah pun harus melakukan negosiasi ulang dengan pemerintah China, yang diwakili oleh China Development Bank dan sejumlah perusahaan milik negara dalam konsorsium proyek Whoosh, untuk menyesuaikan skema utang yang kian membebani keuangan PT KAI.

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa sempat menolak pembayaran utang kereta cepat Whoosh dibayar oleh APBN.

    Tetapi Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan pada acara peresmian Stasiun Tanah Abang Baru di Jakarta, Selasa (4/11/2025), menyatakan akan memikul penuh tanggung jawab atas keberlanjutan proyek kereta cepat Whoosh.

    Ia memastikan, proyek strategis nasional itu merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam menyediakan layanan publik yang layak dan modern bagi rakyat Indonesia.

    Pengawasan DPR
    Sementara Puan Maharani usai rapat paripurna menjelaskan, pengawasan terhadap masalah utang proyek kereta cepat Whoosh tersebut akan dilakukan oleh komisi terkait.

    Baca: Dugaan mark up dalam proyek pembangunan kereta cepat Whoosh

    Nantinya, Komisi yang dimaksud akan melakukan telaah lanjutan terkait polemik yang ada, termasuk dengan menghadirkan pihak-pihak dari pemerintah yang berwenang.

    “Masalah ini perlu dibahas bersama pemerintah untuk melihat aspek teknis maupun kondisi keuangan, baik yang terjadi pada periode lalu maupun saat ini,” ujar Puan usai menghadiri rapat paripurna di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (4/11/2025).

    Lebih lanjut, Puan menekankan pentingnya penjelasan dari pemerintah mengenai arah dan potensi dampak dari proyek Whoosh di masa mendatang. Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan agar tidak menimbulkan kerugian negara yang berkepanjangan.

    “Pemerintah juga perlu menjelaskan bagaimana sikap mereka ke depan, supaya tidak ada kerugian negara yang terus berlanjut,” tutur Puan.

  • Politisi PDI Perjuangan Desak Evaluasi Total Proyek Kereta Cepat Whoosh

    Politisi PDI Perjuangan Desak Evaluasi Total Proyek Kereta Cepat Whoosh

    7cloud.asia – Anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto menyoroti ancaman kebangkrutan finansial yang mengintai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

    Menurutnya, jika dibiarkan tanpa penanganan nyata, beban utang yang ditanggung PT KAI akan semakin membahayakan stabilitas keuangan BUMN tersebut.

    “Jika tidak segera ditangani, ini akan menenggelamkan unit anak perusahaan lain yang seharusnya menghasilkan laba, akibat bunga utang yang tinggi,” kata Darmadi melalui rilis media yang dikutip oleh Parlementaria, Rabu (5/11/2025).

    Politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan bahwa hanya dalam enam bulan, PT KAI harus menanggung beban biaya sebesar Rp1,2 triliun, dengan utang KCIC, yang awalnya Rp950 miliar melonjak menjadi lebih dari Rp4 triliun pada tahun 2024.

    Bahkan diperkirakan utang ini akan bertambah menjadi Rp6 triliun pada 2026. Karena itu, Darmadi mendesak peta jalan yang jelas untuk restrukturisasi utang proyek kereta cepat Whoosh.

    Baca: Dugaan mark up dalam proyek pembangunan Kereta Cepat Whoosh

    Sementara itu, Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, dalam rapat dengan Komisi VI DPR pada Agustus 2025 lalu, mengakui ancaman laten dari proyek Whoosh terhadap neraca perusahaan.

    Ia berjanji akan berkoordinasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk mencari solusi.

    “Kami sedang mendalami isu KCIC, dan ini benar-benar seperti bom waktu,” ucap Bobby saat itu

    Terpisah, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menegaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak terbebani oleh kontroversi utang ini.

    Sementara, laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa PT KAI melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), sebagai pemegang saham Indonesia di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), mencatat kerugian hingga Rp4,19 triliun pada 2024 dan Rp1,62 triliun pada semester pertama 2025.

    Baca: Menkeu tolak penggunaan APBN untuk bayar utang Whoosh

    Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menyebutkan bahwa beberapa opsi sedang dipertimbangkan untuk menyelamatkan proyek ini.

    “Kami sedang mempertimbangkan beberapa pilihan, tetapi tujuannya adalah memastikan KCIC beroperasi lancar untuk kepentingan masyarakat, sambil meningkatkan kualitas layanan kereta api Indonesia secara keseluruhan,” ujar Dony.

    Ia mengungkapkan, opsi seperti penambahan modal ekuitas, penyerahan infrastruktur ke pemerintah, atau klasifikasi aset KCIC sebagai milik negara tengah dikaji.

    Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban PT KAI dan menjaga keberlangsungan Whoosh tanpa mengorbankan stabilitas keuangan BUMN.