Tag: Kopenhagen

  • Catat! Ini Dua Kota Paling Ramah Lingkungan di Dunia

    Catat! Ini Dua Kota Paling Ramah Lingkungan di Dunia

    7cloud.asia – Di tengah kekhawatiran dampak perubahan iklim, ada kabar baik yang patut disyukuri, yakni semakin banyak kota di dunia yang menghargai alam dan mengupayakan kehidupan yang lebih ramah lingkungan.

    Tidak ada memang kota yang sempurna, dan banyak kota yang harus menempuh jalan panjang sebelum layak disebut ramah lingkungan, namun semakin banyak kota yang kualitas hidupnya meningkat.

    Itu semua dicapai berkat upaya terus menerus oleh otoritas kota untuk melestarikan dan melindungi lingkungan sehingga kemudian layak disebut sebagai kota ramah lingkungan.

    Baca: Empat kota ini sangat ramah untuk pejalan kaki

    Upaya kota untuk menjadi ramah lingkungan antara lain dengan menekan emisi karbon, serta memfasilitasi warganya untuk menjalani gay ahidup ramah lingkungan.

    Secara global, pemerintah dan otoritas kota mendapat tekanan dari penduduknya sendiri, terutama Generasi Z, yang dikenal sensitif pada isu lingkungan dan terus  mendorong negara-negara untuk menempuh pendekatan baru yang lebih berkelanjutan.

    Lantas kota apa saja yang layak disebut sebagai kota paling ramah lingkungan di dunia?

    Baca: Daftar kota ramah pesepeda

    Dilansir pointship.com pada Juli 2022 lalu, Kopenhagen, ibu kota Denmark berada di posisi teratas sebagai kota yang paling ramah lingkungan di dunia.

    Berkat dedikasinya untuk mengembangkan gaya hidup keberlanjutan dan ramah lingkungan, Kopenhagen berulang kali dinobatkan sebagai kota paling ramah lingkungan di dunia.

    Otoritas kota Kopenhagen sangat menghargai pengguna sepeda dan berharap setengah dari penduduknya bersepeda ke kantor atau sekolah pada tahun 2022.

    Kopenhagen dinobatkan menjadi kota paling ramah lingkungan di dunia berkat investasi berkelanjutan dalam alternatif hijau.

    Baca: Bogota berhasil sukses terapkan konsep TOD

    Otoritas kota Kopenhagen terus menerus memperkenalkan inisiatif baru untuk mempromosikan cara hidup yang ramah lingkungan.

    Rencana ambisius kota Kopenhagen untuk menjadi lebih ramah lingkungan itu dilakukan sambil tetap menyediakan kualitas hidup yang baik bagi warganya.

    Pada tahun 2025, Kopenhagen akan berstatus netral atau nol karbondioksida atau CO2.

    Di kota ini keluarga yang memiliki mobil hanya 29 persen atau kurang dari sepertiga jumlah penduduk di sana.

    Baca: Penataan kawasan TOD guna kurangi kemacetan di Jakarta

    Otoritas Kopenhagen telah menambahkan jalur sepeda ekstra karena lebih banyak orang yang lebih suka bersepeda daripada mengemudi untuk berkeliling.

    Karena sebagian besar hotel kota sekarang meminjamkan sepeda kepada pengunjungnya. Bersepeda menjadi lebih disukai.

    Tren yang berkembang di kota adalah makan organik; 24 persen dari makanan yang dijual di Kopenhagen adalah makanan organik yang dihasilkan sendiri warganya.

    Selain itu, 88 persen makanan yang disajikan di lembaga publik adalah makanan organik. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Di posisi kedua kota ramah lingkungan, ada kota Amsterdam Belanda. Sudah lama Amsterdam dikenal memiliki lebih banyak sepeda daripada jumlah penduduknya.

    Begitu banyak sepeda yang ditemukan ditumpuk satu sama lain di jalanan kota amsterdam ini.

    Amsterdam juga dikenal sebagai salah satu kota yang paling ramah sepeda di dunia. Bersepeda tidak hanya mempromosikan populasi yang sehat tetapi juga menurunkan emisi karbon.

    Pengenalan kendaraan listrik di sekitar kota, menjadi faktor lain yang membuat Amsterdan sebagai kota ramah lingkungan.

    Baca: Tiga kota di Indonesia yang dinilai ramah lingkungan

    Otoritas kota Amstersam telah membangun setidaknya 300 stasiun pengisian baterai listrik untuk membatasi jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.

    Rumah-rumah di Amsterdam juga berusaha menjadi lebih ramah lingkungan dan menerapkan gaya hidup hijau.

    Mengunjungi Amsterdam, kita akan melihat begitu banyak banyak pemilik rumah yang memasang panel surya di atap mereka.

    Tak hanya itu, warga Amsterdam juga memproduksi makanan mereka sendiri, atau membelinya dari pasar petani setempat, yang semuanya berkontribusi pada ekonomi lokal.

    Baca: Kawasan Malioboro akan diubah jadi zona rendah emisi

  • Alasan Mengapa Kopenhagen Selalu Jadi Kota Paling Ramah Lingkungan

    Alasan Mengapa Kopenhagen Selalu Jadi Kota Paling Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Dilansir pointship.com pada Juli 2022 lalu, ibu kota Denmark, Kopenhagen dinobatkan sebagai kota yang paling ramah lingkungan di dunia.

    Sebenarnya ini bukan kali pertama, Kopenhagen telah berulang kali dinobatkan sebagai kota paling ramah lingkungan di dunia.

    Semua ini berkat dedikasi pemerintah kota Kopenhagen yang tiada putus dan terus mengembangkan gaya hidup keberlanjutan dan ramah lingkungan. 

    Otoritas kota Kopenhagen sangat menghargai pengguna sepeda dan mendorong setengah dari penduduknya bersepeda ke kantor atau sekolah pada tahun 2022.

    Baca: 8 elemen kota ramah lingkungan

    Kopenhagen dinobatkan menjadi kota paling ramah lingkungan di dunia berkat investasi berkelanjutan dalam alternatif hijau.

    Otoritas kota Kopenhagen terus menerus memperkenalkan inisiatif baru untuk mempromosikan cara hidup yang ramah lingkungan.

    Rencana ambisius kota Kopenhagen untuk menjadi lebih ramah lingkungan itu dilakukan sambil tetap menyediakan kualitas hidup yang baik bagi warganya.

    Pada tahun 2025, Kopenhagen akan berstatus netral atau nol karbondioksida atau CO2.

    Baca: Daftar kota ramah untuk pengguna sepeda

    Di Kopenhagen, jumlah keluarga yang memiliki mobil hanya 29 persen atau kurang dari sepertiga jumlah penduduk di sana.

    Otoritas Kopenhagen telah menambahkan jalur sepeda ekstra karena lebih banyak orang yang lebih suka bersepeda daripada mengemudi untuk berkeliling.

    Karena sebagian besar hotel di kota Kopenhagen sekarang meminjamkan sepeda kepada pengunjungnya. Bersepeda menjadi lebih disukai.

    Tren yang berkembang di kota adalah makan organik; 24 persen dari makanan yang dijual di Kopenhagen adalah makanan organik yang dihasilkan sendiri warganya.

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat memprioritaskan pejalan kaki

    Selain itu, 88 persen makanan yang disajikan di lembaga publik adalah makanan organik.

    Penobatan Kopenhagen sebagai kota paling ramah lingkungan ini dicapai berkat upaya terus menerus oleh otoritas kota untuk melestarikan dan melindungi lingkungan sehingga kemudian layak disebut sebagai kota ramah lingkungan.

    Upaya kota untuk menjadi ramah lingkungan antara lain dengan menekan emisi karbon, serta memfasilitasi warganya untuk menjalani gaya hidup ramah lingkungan.

    Secara global, pemerintah dan otoritas kota mendapat tekanan dari penduduknya sendiri, terutama Generasi Z, yang dikenal sensitif pada isu lingkungan.

    Baca: Manfaat urban farming untuk lingkungan kota yang berkelanjutan

     

  • Dengan CopenPay, Kota Kopenhagen Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

    Dengan CopenPay, Kota Kopenhagen Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Ketika dunia bergulat dengan tantangan perubahan iklim dan dampaknya pada pariwisata, kota Kopenhagen muncul sebagai pionir dalam pariwisata berkelanjutan dengan inisiatif inovatif: CopenPay.

    Dalam beberapa tahun terakhir, kota-kota di Eropa yang berjuang melawan pariwisata yang berlebihan dengan menerapkan langkah-langkah dan pembatasan untuk mengurangi dampaknya.

    Hal ini terjadi di Venesia, Italia di mana pemerintah setempat memberlakukan biaya masuk bagi wisatawan harian, dan Santorini, di mana jumlah tempat untuk kapal pesiar telah dibatasi hingga 8.000 penumpang per hari.

    Ibu kota Denmark, Kopenhagen, telah mengambil pendekatan berbeda dengan mendorong wisatawan untuk melakukan aktivitas sadar lingkungan.

    Ambisi kota Kopenhagen adalah mengubah narasi pariwisata dari beban lingkungan menjadi katalis perubahan positif lewat program CopenPay.

    CopenPay ini berlangsung antara tanggal 15 Juli hingga 11 Agustus 2024, dan dirancang untuk memberi insentif pada perilaku ramah lingkungan di kalangan wisatawan.

    Baca: Alasan mengapa kota Kopenhagen jadi langganan kota ramah lingkungan

    CopenPay juga mengubah tindakan mereka menjadi penghargaan atas pengalaman budaya sekaligus mempromosikan lingkungan perkotaan yang lebih hijau.

    Kota Kopenhagen yang berpenduduk 600.000 jiwa telah lama dikenal dengan komitmennya terhadap keberlanjutan, dengan tujuan menjadi ibu kota nol emisi pertama di dunia.

    Inisiatif CopenPay hanyalah salah satu langkah yang dilakukan pemerintah Kopenhagen menuju arah ini.

    CopenPay ini dikembangkan berdasarkan temuan laporan keberlanjutan dari kelompok riset pasar Kantar yang diterbitkan tahun lalu, yang menemukan kesenjangan yang signifikan antara keinginan masyarakat untuk bertindak secara berkelanjutan dan perilaku mereka yang sebenarnya.

    Meskipun 82persen konsumen menyatakan keinginannya untuk menerapkan praktik yang lebih berkelanjutan, hanya 22persen yang mengindikasikan telah melakukan perubahan nyata dalam perilaku mereka.

    Cara Kerja
    CopenPay bertujuan untuk menjembatani kesenjangan ini dengan memberi penghargaan kepada wisatawan yang membuat pilihan ramah lingkungan selama mereka menginap.

    Baca: Cara asyik berwisata secara ramah lingkungan

    Pengunjung akan mendapatkan imbalan atas aktivitas seperti bersepeda, menggunakan transportasi umum, menjadi sukarelawan di pertanian perkotaan, atau ikut serta dalam pembersihan kanal dan taman.

    Imbalannya bisa bervariasi, mulai dari makanan gratis dan tur museum berpemandu hingga mencicipi anggur dan persewaan kayak.

    Diwawancarai Euronews Green, Mikkel Aarø-Hansen, Kepala Eksekutif Wonderful Copenhagen, organisasi pariwisata untuk Wilayah Ibu Kota Denmark, menjelaskan bahwa tujuannya bukan hanya untuk menghasilkan imbalan langsung.

    CopenPay ini juga untuk menginspirasi perubahan pola pikir tentang pariwisata.

    Idenya, ujarnya, bukan untuk meningkatkan pariwisata. Ini semua tentang bagaimana Anda berperilaku di destinasi saat Anda berada di sini dengan cara yang lebih berkelanjutan dan ramah iklim.

    “Ini tentang mengubah cara kita bergerak, apa yang kita konsumsi, dan cara kita berinteraksi dengan penduduk setempat,” katanya.

    Dengan menjadikan tindakan sadar lingkungan sebagai bentuk mata uang, CopenPay bertujuan untuk mengubah cara wisatawan berinteraksi dengan kota dan etos keberlanjutannya. (Sumber: earth.org)