Tag: kopi

  • Petani Kopi Kehilangan Produksi Akibat Perubahan Iklim

    Petani Kopi Kehilangan Produksi Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Studi memperkirakan bahwa perubahan iklim akan menurunkan produktivitas pertanian di negara berkembang sebesar 10-20% selama 40 tahun ke depan.

    Menurut kajian tim peneliti BRIN, salah satu dampak perubahan iklim di Indonesia adalah durasi musim hujan lebih panjang. Lamanya bisa mencapai 49 hari di Indonesia bagian selatan. Dampak ini juga dirasakan petani kopi di sejumlah daerah di Indonesia.

    Seperti apa dampak perubahan iklim mempengaruhi petani kopi, berikut hasil kajian BRIN yang laporannya ditulis , Peneliti Ahli Madya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

    Tulisan yang telah diterbitkan di The Conversation ini merupakan sebagian dari hasil riset yang dibiayai oleh Rumah Program OR IPSH BRIN Tahun 2022. Mari kita simak selengkapnya.

    Kopi merupakan salah satu jenis tanaman primadona di Indonesia. Sebagai negara pengekspor terbesar ke-4 di dunia–setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia–biji kopi asal Indonesia menjangkau negara-negara Eropa, negara-negara Timur Tengah, dan Amerika Serikat.

    Minum kopi pun menjadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia, ditandai dengan tumbuhnya kafe-kafe baru di berbagai daerah.

    Bermacam fakta di atas seharusnya berdampak positif pada petani sebagai salah satu aktor utama dalam mata rantai penjualan kopi. Namun, penelitian kami di Jawa Barat nyatanya menunjukkan hasil yang miris.

    Usai bergulat dengan penurunan permintaan di masa pandemi, para petani langsung disambut dengan dampak perubahan iklim yang kian nyata. Produksi mereka kemudian turun drastis.

    Baca: Kisah sukses petani pisang di Kalimantan Timur

     

    Lepas pandemi, diterjang anomali cuaca

    Kami melaksanakan wawancara terstruktur dan mendalam dengan 219 responden petani kopi di Jawa Barat pada 2022. Provinsi ini banyak menerapkan kegiatan perhutanan sosial berbasis kopi.

    Menurut para responden kami, pandemi tidak menghalangi aktivitas petani dalam kegiatan budidaya sampai pemanenan. Namun, pembatasan aktivitas masyarakat membuat permintaan kopi menurun khususnya oleh kafe-kafe sebagai salah satu pembeli kopi mentah dari petani.

    Dampaknya: harga jual kopi menurun, pun pendapatan petani. Di puncak pandemi pada 2021, misalnya, ceri kopi para petani yang biasanya dihargai hingga Rp 9.500/kg hanya laku di kisaran Rp 5.000/kilogram.

    Meredanya pandemi pada 2022 tak terlalu mengubah keadaan. Pasalnya, pertanian kopi mulai terimbas perubahan iklim.

    Studi memperkirakan bahwa perubahan iklim akan menurunkan produktivitas pertanian di negara berkembang sebesar 10-20% selama 40 tahun ke depan. Menurut kajian tim peneliti BRIN, salah satu dampak perubahan iklim di Indonesia adalah durasi musim hujan lebih panjang. Lamanya bisa mencapai 49 hari di Indonesia bagian selatan.

    Baca: Petani milenial di Jawa Barat gunakan teknologi untuk dongkrak produksi

    Kondisi cuaca yang tidak menentu, misalnya hujan ekstrem di musim kemarau, menyebabkan sebagian kopi gagal berbunga. Imbasnya, kopi gagal berbuah sehingga angka produksi menurun drastis.

    Meskipun secara nasional jumlah produksi kopi meningkat, para petani yang kami wawancarai di Jawa Barat (seperti di Kabupaten Garut, Bandung, dan Ciamis) menyatakan bahwa produksi mereka menurun antara 20%-80%.

    Pertumbuhan produksi nasional didominasi oleh produksi kopi dari Sumatra. Daerah tersebut bisa jadi memiliki perbedaan iklim mikro dengan petani di Jawa Barat.

    Penurunan produksi sebenarnya membuat suplai menipis di pasar sehingga mengerek naik harga produk kopi. Sayangnya, banyak petani yang tidak menikmati kenaikan harga. Anjloknya hasil panen karena perubahan iklim sulit diperbaiki karena akses mereka ke pupuk masih terbatas.

    Pada saat pandemi, pupuk tersedia dengan harga normal. Namun, pupuk tidak terjangkau karena pendapatan petani menurun sehingga belanja lebih difokuskan untuk konsumsi rumah tangga.

    Sebaliknya, pascapandemi pupuk menjadi susah diperoleh. Kalaupun ada, harganya lebih mahal. Pupuk yang paling banyak dibutuhkan oleh petani kopi berjenis urea dan NPK.

    Ada beberapa masalah yang jadi biang keladi. Dunia memang tengah mengalami krisis pupuk akibat Perang Rusia-Ukraina. Sebab, Rusia merupakan penyuplai 30% fosfor dan kalium yang menjadi bahan baku NPK.

    Wawancara kami juga menemukan masalah distribusi pupuk subsidi yang diduga tidak tepat sasaran. Ini terlihat dari bagaimana petani yang berhak menerima pupuk dengan harga subsidi harus membayar dengan harga normal karena pupuk subsidi tidak tersedia. Sementara, suplai justru tersedia bagi kelompok tani lain di daerah yang sama yang tak membeli pupuk.

    Baca: Petani di Magelang mulai tinggalkan tembakau

    Pekerjaan rumah untuk pemerintah

    Permasalahan budi daya yang dihadapi petani selama dan pascapandemi, ditambah dengan dampak perubahan iklim, membuat petani kopi kelimpungan. 

    Studi pun mengamini petani swadaya di negara berkembang kerap kesulitan mengatasi dampak perubahan iklim karena mereka tidak memiliki sumber daya untuk mencari pemasukan tambahan demi menjamin kesejahteraan keluarga mereka.

    Oleh karena itu, perlu campur tangan pemerintah mengatasi berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

    Pemerintah, misalnya, perlu memperkuat pengawasan untuk memastikan distribusi pupuk yang tepat sasaran. Titik-titik kerawanan penyimpangan perlu diberantas. Perlu ada sanksi tegas terhadap penyalahgunaan penyaluran pupuk bersubsidi.

    Di sisi lain, kelembagaan petani juga perlu penguatan. Berdasarkan wawancara, saat ini posisi tawar petani dalam penentuan harga jual kopi sangat rendah. Pembeli, yang mayoritas adalah pedagang besar, memiliki kuasa yang besar dalam menentukan harga.

    Lantaran margin yang kecil, petani hanya sedikit merasakan manfaat kenaikan harga kopi. Sebaliknya, adanya penurunan harga akan langsung menghantam perekonomian mereka karena minimnya modal usaha untuk memupuki tanaman.

    Oleh sebab itu, perlu dibentuk lembaga yang berfungsi menstabilkan harga kopi di tingkat petani, misalnya dengan menampung produk pada saat panen raya.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen

    Meski demikian, upaya mengatasi dampak perubahan iklim dan instabilitas harga jual dan harga sarana produksi pertanian tidak selamanya dapat bergantung pada pemerintah. Petani harus didorong untuk meningkatkan nilai tambah produk kopi mereka dengan pengolahan lanjutan.

    Pengolahan produk memberikan dua keuntungan sekaligus. Pertama, meningkatkan harga jual dan margin keuntungan yang lebih besar.

    Kedua, adanya penyerapan tenaga kerja selama proses pengolahan kopi meliputi proses pengupasan, pengeringan, pembuatan bubuk kopi, bahkan penjual produk kopi siap saji.

    Pemerintah dan swasta dapat membantu penyediaan mesin pengolah kopi dengan skema hibah atau pinjaman berbunga rendah. Perlu bantuan lembaga keuangan resmi pemerintah selama proses ini.

    Soalnya, petani cenderung langsung menjual kopi setelah panen untuk mendapatkan uang tunai.

    Perubahan iklim merupakan sebuah keniscayaan. Bukan tidak mungkin hal yang sama bisa menimpa petani-petani kopi lain di Indonesia. Yang dapat kita lakukan adalah beradaptasi dan meredam dampaknya, serta meningkatkan ketangguhan petani kecil kita.

    Penulis berterimakasih kepada Dr. Sanudin dan Eva Fauziyah, M.Sc. (peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN) yang telah berkontribusi terhadap tulisan ini.

  • Starbucks Tak Akan Lagi Gunakan Gelas Sekali Pakai pada 2030

    Starbucks Tak Akan Lagi Gunakan Gelas Sekali Pakai pada 2030

    7cloud.asia – Gerai kopi global, Starbucks berencana tak akan gunakan gelas sekali pakai pada tahun 2030. 

    Selama ini, gelas sekali pakai Starbucks merupakan sumber terbesar limbah dan emisi gas rumah kaca dari perusahaan itu.

    Selama puluhan tahun, dari generasi ke generasi, gelas sekali pakai Starbucks telah menjadi ikon penting dalam kehidupan masyarakat peminum kopi.

    Logo yang terpampang di gelas sekali pakai itu telah membuat Starbucks menjadi salah satu merek kopi paling terkenal di dunia.

    Pada tahun 2030 nanti, Starbucks ingin berhenti menggunakan gelas sekali pakai, yang disebut menjadi sumber limbah dan gas rumah kaca perusahaan itu.

    Baca: Beragam info produk guna ulang

    Starbucks sendiri dikenal memiliki banyak program ramah lingkungan dalam berbagai aspek operasionalnya di seluruh dunia.

    Beberapa di antaranya telah tercapai, seperti sertifikasi efisiensi energi untuk gerai-gerainya yang baru buka, sementara sisanya harus direvisi atau justru dihentikan.

    Pada 2008 misalnya, Starbucks bercita-cita agar pada tahun 2015 sebanyak 25% gelasnya sudah merupakan gelas yang bisa dipakai ulang (reusable). Namun hingga kini, cita-cita itu belum sepenuhnya terwujud.

    Kini, desakan bisnis mendorongnya untuk merobak desain gelas sekali pakai yang ikoni.

    Michael Kobori, kepala bidang keberlanjutan Starbucks, mengatakan bahwa perusahaannya berniat untuk membuat pelestarian lingkungan menjadi sesuatu yang nyaman dilakukan.

    Baca: Konsep guna ulang efektif kurangi sampah

    Produksi barang sekali pakai, seperti gelas plastik atau kertas, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang membuat planet Bumi semakin panas dan mengakibatkan peristiwa cuaca ekstrem dan dampak perubahan iklim lainnya.

    Hal itu bertentangan dengan harapan para pelanggan agar para pebisnis turut ambil bagian mengatasi perubahan iklim.

    Di sisi lain, harapan itu tidak dibarengi kesediaan konsumen untuk mengorbankan kenyamanan yang mereka dapatkan selama ini.

    Di salah satu gerai Starbucks di Arizona State University, gelas sekali pakai –baik dari plastik maupun kertas– sudah tidak lagi digunakan.

    Pembeli yang tidak membawa gelas sendiri akan diberi gelas plastik yang dapat dipakai-ulang, yang nantinya dapat mereka taruh ke wadah khusus di sekitar kampus.

    Baca: Mengapa guna ulang ramai dikampanyekan

    Itu adalah satu dari dua lusin program rintisan yang digalakkan Starbucks selama dua tahun terakhir, dengan tujuan mengubah cara mereka menyajikan kopi kepada pelanggan.

    Tujuannya untuk mengurangi limbah, penggunaan air dan emisi karbon perusahaan hingga setengahnya pada tahun 2030.

    Michael Kobori mengatakan, Starbucks berharap suatu hari nanti semuanya menjadi gelas yang bisa dipakai ulang, baik gelas yang dibawa sendiri oleh pembeli, gelas pribadi mereka.

    “Atau kalau mereka nongkrong di kafe bisa menggunakan cangkir keramik dari kami, atau gerakan baru yang kami sebut pinjam gelas.” ujarnya

    Ia yakin, jika gerai kopi sebesar Starbucks bisa menemukan sistem yang jitu, maka yang lain bisa meniru.

    “Kami tahu jika kami bisa memecahkan masalahnya dan menemukan cara menerapkan sistem gelas pakai-ulang di mana saja, dan tak lagi menyediakan gelas sekali pakai, semua orang akan mengikuti dan kami bisa mengubah sistemnya.”

    Baca: Kaca dan plastik, mana yang lebih ramah lingkungan

    Jon Solorazano, pengacara yang membantu perusahaan-perusahaan mengembangkan operasi yang ramah lingkungan, mengatakan bahwa mengubah operasional perusahaan sebesar Starbucks itu sulit, namun perubahan itu akan membawa dampak besar pada para produsen.

    Mereka, ujarnya, mungkin memiliki ratusan pemasok yang secara langsung maupun tidak langsung membantu memproduksi gelas (sekali pakai).

    “Dan untuk mengubah seluruh proposisi nilai tersebut hingga ke atas – dari orang-orang yang memasok serat (kertas) di sebuah hutan di Oregon, hingga orang-orang yang memecah etilen untuk diubah menjadi lapisan plastik – semua keseimbangan itu memerlukan banyak masukan, banyak perubahan keorganisasian dan perubahan pola pikir,” ujar Solorazano.

    Erin Simon, wakil presiden bidang limbah plastik dan kewirausahaan WWF, menuturkan bahwa komitmen perusahaan-perusahaan besar bisa membantu, meski pada akhirnya perubahan hanya dapat tercipta dengan kolaborasi perusahaan serta regulasi pemerintah.

    “Tidak satu pun institusi, organisasi bahkan sektor bisa berubah sendirian,” kata Simon.

    Baca: Tak sekadar mengolah ulang, Robries menambah nilai sampah plastik

    Starbucks sendiri bukan perusahaan pertama yang mengupayakan penggunaan gelas pakai-ulang.

    Dari berbagai perusahaan besar di Eropa, seperti RECUP di Jerman yang menggunakan gelas dan kemasan makanan pakai-ulang, hingga kedai kopi lokal di kota-kota seperti San Francisco memiliki tujuan sejak bertahun-tahun lalu untuk berhenti menggunakan bahan baku kertas dan plastik sekali pakai.

    Bedanya, Starbucks adalah perusahaan kopi terbesar di dunia, dengan lebih dari 37.000 gerai di 86 negara dan pendapatan sebesar 32 miliar dolar AS tahun lalu.

    Perubahan di Starbucks dapat mendorong perubahan di seantero industri.

    Pada saat yang sama, kegagalan untuk beradaptasi dan memimpin perubahan justru dapat merugikan raksasa kopi itu di mata para pelanggan.

    Irene Linayao-Putman, petugas kesehatan sekaligus konsumen Starbucks, mengatakan, “Jika saya harus memilih antara perusahaan yang berkelanjutan dan yang tidak peduli sama sekali, saya akan selalu memilih perusahaan yang lebih berkelanjutan.”

    Baca: Produk RamahLingkungan dari DemiBumi

    Perjalanan merombak wadah minuman itu lebih dari sekadar mengambil pilihan berbeda.

    Meningkatkan komitmen keberlanjutan memerlukan navigasi jaringan perkembangan teknologi, mencari pemasok yang sepemikiran dan menguji coba seberapa jauh pelanggan mau diajak berubah.

    Bagi Starbucks, itu berarti melakukan dua hal besar yang kontradiktif secara bersamaan, yaitu bergerak menuju gelas pakai-ulang sambil mengembangkan gelas sekali pakai yang memanfaatkan lebih sedikit bahan baku dan lebih bisa didaur ulang.

    Di gerai Starbucks Arizona State University, jika pelanggan tidak membawa gelas sendiri, mereka akan diberi gelas plastik pakai-ulang dengan logo Starbucks.

    Jika mereka mengembalikan gelas itu, mereka akan dapat diskon satu dolar, seperti untuk mereka yang membawa gelas sendiri.

    Baca: Sistem isi ulang dari Siklus efektif kurangi sampah plastik

    Gelas pakai ulang itu dapat ditaruh ke tempat khusus di sekitar kampus untuk kemudian dicuci oleh pihak kampus dan dikembalikan ke Starbucks.

    Gelas yang sudah terlalu rusak untuk digunakan kembali – bersama gelas sekali pakai dan plastik lainnya di tong sampah kampus – akan dibawa ke laboratorium kampus untuk dihancurkan, dicairkan dan diekstrusi menjadi potongan-potongan panjang mirip kayu.

    Potongan-potongan itu lantas dipotong kembali, dihaluskan dan dibuat menjadi wadah-wadah kotak untuk menampung gelas pakai ulang Starbucks.

    Selama beberapa tahun terakhir, Starbucks telah meningkatkan jumlah bahan baku hasil daur ulang untuk memproduksi gelas sekali pakainya.

    Di beberapa pasarnya tahun lalu, Starbucks mulai menggunakan gelas kertas sekali pakai yang terbuat dari bahan daur ulang, meningkat dari jumlah sebelumnya sebesar 10%.

    Baca: Gaya hidup tak ramah lingkungan yang layak ditinggalkan

    Rencananya, Starbucks akan menggunakan gelas sekali pakai yang terbuat 30% bahan daur ulang di seluruh gerainya di Amerika pada awal 2025.

    Selama beberapa tahun terakhir, Starbucks juga telah menguji coba berbagai jenis plastik untuk minuman dingin.

    Pada 2019, Starbucks mulai menggunakan penutup gelas tanpa sedotan, sehingga mengurangi banyak limbah plastik.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Kiat Agar Tetap Bugar Saat Cuaca Panas: Kurangi Konsumsi Kopi

    Kiat Agar Tetap Bugar Saat Cuaca Panas: Kurangi Konsumsi Kopi

    7cloud.asia – Cuaca panas kini mulai melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Bagi Anda yang sedang mengalami cuaca panas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kondisi kesehatan tetap fit.

    Salah satunya cukup minum dan kurangi konsumsi kopi berkafein tinggi saat cuaca panas.

    Dokter spesialis penyakit dalam RS Cipto Mangunkusumo dr. Faisal Parlindungan Sp.PD mengatakan saat menghadapi cuaca panas agar mengurangi konsumsi kafein seperti kopi karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi.

    Dilansir Antaranews.com, kopi memiliki sifat diuretik yang berarti dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil dan menyebabkan tubuh kehilangan lebih banyak cairan saat cuaca panas.

    “Minum kopi dalam jumlah moderat umumnya tidak berbahaya bagi orang yang sehat,” kata dia dilansir Antaranews.com.

    Baca: Mengapa Indonesia aman dari gelombang panas

    Namun perlu diingat efek dehidrasi kopi bervariasi pada setiap orang. Faktor-faktor seperti jumlah kopi yang dikonsumsi, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan individu dapat memengaruhi tingkat dehidrasi.

    Faisal juga menjelaskan dehidrasi akibat kopi tidak dirasakan langsung karena efeknya yang lebih halus dibandingkan dehidrasi karena diare atau muntah.

    Sebaiknya, konsumsi banyak air putih untuk mengatasi dehidrasi derajat ringan saat musim panas untuk menjaga kesehatan sesuai dengan aktivitas individu dan kondisi cuaca.

    “Pada umumnya diperlukan minimal 8 gelas atau 2 liter air putih per hari. Namun jika cuaca sangat panas dan pasien mengalami dehidrasi, mungkin perlu mengonsumsi air sampai 3L per hari (12 gelas),” tulis Faisal.

    Baca: Memasuki pancaroba penyakit menular ini harus diwaspadai

    Selain cairan, konsumsi juga buah dan sayur yang kaya air seperti semangka, melon, bayam dan timun.

    Sementara itu, agar tubuh siap menghadapi cuaca panas, Faisal menyarankan untuk mengenakan pakaian longgar, berwarna terang dan terbuat dari bahan yang menyerap keringat.

    Saat cuaca panas juga disarankan untuk mengenakan topi dan kacamata hitam untuk melindungi mata dari sinar matahari.

    “Hindari aktivitas fisik di luar ruangan selama jam-jam terpanas hari itu. Gunakan sunscreen dengan SPF minimal 30 untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari,” saran Faisal.

    Baca: Perubahan iklim picu penularan penyakit musiman

    Jika ingin beraktivitas di luar ruangan, usahakan keluar rumah pada pagi hari atau sore hari ketika cuaca lebih sejuk.

    Beristirahatlah di tempat yang teduh dan sejuk, jika perlu berenang atau mandi air dingin juga dianjurkan untuk menurunkan suhu tubuh.

    Dari aspek lingkungan, Faisal memberi saran untuk menjaga ventilasi ruangan terbuka agar udara segar bisa masuk, gunakan kipas angin atau pendingin ruangan jika memungkinkan.

    Anda juga bisa menggunakan penutup jendela atau tirai untuk menghalangi sinar matahari masuk ke dalam ruangan.

  • Batasi Konsumsi Kopi dan Kafein untuk Tidur yang Berkualitas

    Batasi Konsumsi Kopi dan Kafein untuk Tidur yang Berkualitas

    7cloud.asia – Mengonsumsi kopi dalam takaran cukup, menawarkan banyak manfaat kesehatan seperti antioksidan anti-inflamasi.

    Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa mengonsumsi kopi atau kafein dapat berdampak negatif pada kualitas tidur.

    Antaranews.com mengutip Well and Good, menulis bahwa konsumsi kafein tidak pada waktu yang tepat dapat memberikan efek sisa yang lebih lama bahkan hingga waktu tidur.

    Hal ini karena kafein memblokir neurotransmitter adenosine yang membantu mengatur siklus tidur-bangun.

    Ditulis laman Well and Good Kamis (13/6/2024), penelitian pada tahun 2024 mengatakan 99 persen kafein diserap dalam waktu 45 menit setelah selesai dikonsumsi.

    Dan bagi sebagian orang, waktu pengaruh kafein berkisar antara 1,5 hingga 9,5 jam.

    Baca: Hindari kopi saat cuaca panas

    Michael Breus, PhD (alias “The Sleep Doctor”), seorang spesialis tidur dan psikolog klinis terkemuka, mengatakan bahwa minum kopi secara teratur setelah tengah hari adalah kesalahan yang harus dihindari demi kualitas tidur.

    “Kafein adalah stimulan dan menghambat aspek adenosin yang mendorong tidur,” kata Breus.

    Adenosin terakumulasi di tubuh sepanjang hari, yang membantu memberi sinyal kapan waktunya tidur, namun kafein dapat mengganggu proses ini.

    Cara terbaik untuk mengurangi efek jangka panjang kafein, menurut Breus, adalah dengan menghentikan konsumsi kopi, dan membatasi makanan atau minuman apa pun yang mengandung kafein di pagi hari.

    “Kesalahan nomor satu yang dilakukan peminum kopi yang berdampak pada tidur adalah meminumnya lewat tengah hari,” jelasnya.

    Baca: Tidur cukup bagus untuk kesehatan fisik dan mental

    Namun, jika Anda perlu melakukan peregangan, Breus mengatakan jam 2 siang adalah waktu yang paling terlambat bagi Anda untuk meminum kopi.

    Mengingat waktu paruh kafein dalam beberapa kasus bisa mencapai enam hingga delapan jam, Breus mendorong orang untuk berhenti minum kafein pada pagi hari.

    Sebelum Anda menyadarinya, Anda dapat dengan mudah meminum tiga cangkir kopi sebelum waktu makan siang, itulah sebabnya Breus mengatakan menjaga asupan kafein sepanjang hari adalah hal yang penting.

    “Catat berapa banyak produk berkafein yang Anda konsumsi dan kemungkinan dosis kafein di setiap produk,” katanya. Semakin banyak kafein yang Anda konsumsi, semakin lama efeknya bertahan.

    Breus juga menyarankan, sebaiknya menunggu 90 menit setelah bangun tidur untuk mulai minum kopi, karena menunda konsumsi kopi di pagi hari dapat membantu menyeimbangkan hormon.

    Baca: Petani kopi kehilangan produksi akibat perubahan iklim

    Pada satu jam pertama setelah bangun tidur, kadar kortisol cenderung naik dan turun, atau dikenal dengan istilah respons kebangkitan kortisol (CAR).

    Breus menyarankan untuk tidak menambahkan tambahan kopi, khususnya yang manis-manis, untuk meningkatkan kebiasaan tidur yang sehat.

    Sebuah studi penelitian kecil pada tahun 2022 menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi gula dapat berdampak negatif pada kualitas tidur.

    Belum lagi, tambahan gula yang terlalu banyak juga dapat menimbulkan efek peradangan pada tubuh yang juga dapat berdampak pada tidur.

  • Studi: Minum 2 sampai 3 Cangkir Kopi Sehari Tingkatkan Kesehatan Jantung

    Studi: Minum 2 sampai 3 Cangkir Kopi Sehari Tingkatkan Kesehatan Jantung

    7cloud.asia – Penelitian tentang kopi dalam lima tahun sampai 10 tahun lalu memang kontradiktif. Ada yang menyebut konsumsi kopi berlebih bisa berefek buruk pada kesehatan.

    Tapi, dokter ahli spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiovaskular RSCM Jakarta, Dr dr Muhammad Yamin, Sp.JP(K), FACC, FSCAI mengatakan kopi bagus untuk kesehatan.

    Ia mengatakan bahwa meminum dua sampai tiga cangkir kopi sehari dapat meningkatkan kesehatan jantung.

    “Tapi terakhir ini yang saya ikuti di beberapa publikasi, dua sampai tiga cangkir kopi sehari itu justru bisa membantu untuk meningkatkan kesehatan jantung karena ada kandungan antioksidannya,” kata Yamin, di Jakarta beberapa waktu lalu.

    Ia mengatakan antioksidan dalam kopi berfungsi untuk memproteksi tubuh dengan mengikat radikal bebas.

    Baca: Batasi konsumsi kopi untuk tidur yang berkualitas

    Sehingga, mencegah terjadinya kerusakan pada sel-sel tubuh termasuk dinding sel pembuluh darah yang dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah, serangan jantung, stroke, dan penyakit fatal lainnya.

    Kopi sendiri, kata dia, memiliki kandungan polifenol yang memiliki sifat antioksidan sehingga bermanfaat bagi kesehatan selama dikonsumsi dengan cara yang tepat.

    Yamin pun menganjurkan untuk meminum kopi dengan sedikit gula atau bahkan tanpa gula agar manfaatnya dapat dirasakan oleh tubuh.

    “Yang bikin kopi itu jelek adalah kalau diminum pakai gula yang banyak sambil merokok. Kopinya bagus, tapi karena dicampur gula banyak-banyak, sambil merokok, ya jadinya jelek,” katanya.

    Menurut Yamin, konsumsi kopi dengan banyak gula tentu akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit diabetes.

    Baca: Hindari konsumsi kopi saat cuaca panas

    Tingginya kadar gula darah juga tentu akan menyebabkan rusaknya pembuluh darah dan menyebabkan penyakit jantung.

    Apalagi jika ditambah merokok, maka risiko seseorang terkena penyakit jantung akan semakin meningkat.

    “Jadi cara mengonsumsinya yang harus diubah. Sekarang, masyarakat di Eropa, mereka punya concern terhadap konsumsi dan gula, jadi mereka sudah melakukan pendidikan atau coaching mendorong supaya dikampanyekan minum kopi tanpa gula,” katanya.

    Dia menambahkan, susu almond dan susu kedelai dapat menjadi alternatif untuk menggantikan gula saat mengkonsumsi kopi.

    “(Susu almond) juga bagus untuk kesehatan, banyak antioksidannya,” demikian Muhammad Yamin.

    Sumber:Antaranews.com

  • Atasi Serangan Jamur, Petani Kopi di Temanggung Gunakan Cara Biologi Hayati

    Atasi Serangan Jamur, Petani Kopi di Temanggung Gunakan Cara Biologi Hayati

    7cloud.asia – Petani kopi di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah saat ini sedang menghadapi serangan jamur yang mengakibatkan busuknya buah kopi.

    Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, bekerja sama dengan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) pun menurunkan tim untuk meneliti serangan jamur pada tanaman kopi ini.

    Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung Joko Budi Nuryanto menyampaikan, serangan jamur ini tingkat kerugiannya bisa mencapai 12-20 persen.

    “Kalau kopi sudah busuk tidak ada bobotnya, tidak bisa dipakai atau tidak dapat dimanfaatkan lagi,” katanya di Temanggung Minggu (18/8/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Ia menuturkan, pihaknya sudah mengambil sampel di beberapa titik, antara lain di Malebo dan Jambon untuk kopi jenis robusta, yang jenis arabika ada di Tlahap.

    Baca: Pemkab Temanggung terus kembangkan kebun kopi organik

    “Kami masih menunggu hasilnya, tingkat serangan dan nanti pengendaliannya. Harapan kami pengendaliannya nanti lebih ke arah biologi hayati,” katanya.

    Dipaparkannya, cara biologi hayati adalah mengusir jamur dengan jamur lain. Karena itu, pihaknya akan mencari jamur yang memangsa jamur yang saat ini menyerang tanaman kopi di Temanggung ini.

    “Jangan pakai obat atau racun, jadi kita ingin menambahi untung petani kopi dengan tidak menambah biaya tetapi mengurangi biaya. Yang kita lakukan adalah menekan pengeluaran supaya keuntungannya bertambah,” katanya.

    Saat ini, Kabupaten Temanggung memang sedang mendorong budidaya kopi organik. Selain lebih ramah lingkungan, harga jual kopi organik juga lebih tinggi dibanding kopi konvensional.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih bagus untuk lingkungan

    Tanaman kopi memang tergolong rentan terhadap serangan hama dan penyakit, diantaranya jamur.

    Serangan jamur dapat menghambat pertumbuhan bahkan menyebabkan kematian pada organ tanaman kopi.

    Dari penelitian yang dilakukan tim dari Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung, setidaknya ada 19 jenis jamur pada tanaman kopi.

    Sebanyak 18 jenis jamur diantaranya merupakan anggota kelas Deuteromycetes dan satu jenis jamur merupakan kelas Ascomycetes.

    Berdasarkan pada bagian tanaman yang terserang; 8 jenis jamur pada daun, 4 jenis jamur pada batang, 1 jenis jamur pada ranting, 2 jenis jamur pada akar dan 3 jenis jamur pada buah.

  • Perubahan Iklim Berdampak pada Produksi Kopi Dunia, Ngopi Jadi Lebih Mahal

    Perubahan Iklim Berdampak pada Produksi Kopi Dunia, Ngopi Jadi Lebih Mahal

    7cloud.asia – Perubahan iklim ternyata berpengaruh besar pada pasokan kopi dunia, karena kondisi cuaca yang berubah menjadi tak lagi ramah pada petani kopi di sejumlah negara penghasil kopi, termasuk Indonesia.

    Indonesia, yang dikenal sebagai produsen kopi robusta mulai merasakan dampak dari perubahan iklim ini yakni menurunnya produksi kebun kopi.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi kopi Indonesia mengalami penurunan, dari 771 ribu ton pada 2022 menjadi 756,1 ribu ton pada 2023.

    Meskipun harga di pasar global naik, tantangan bagi para petani kopi lokal justru semakin besar. Kenaikan harga kopi memberi keuntungan, tetapi biaya produksi yang ikut meroket membuat keuntungan tersebut cepat terkikis.

    Petani kecil terjebak di antara naiknya biaya dan menurunnya produksi, situasi yang membuat banyak pihak khawatir akan keberlanjutan industri kopi tanah air.

    Indonesia, yang dulu disegani sebagai produsen kopi, kini menghadapi tantangan besar. Dengan produktivitas yang tertinggal jauh dibandingkan Brasil dan Vietnam, kebutuhan akan peremajaan tanaman dan perbaikan infrastruktur pertanian semakin mendesak.

    Jika tidak segera diatasi, ada risiko bahwa Indonesia akan kehilangan posisi strategisnya di pasar global dan mungkin terpaksa mengimpor kopi untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat.

    Baca: Upaya mempertahankan produksi kopi Indonesia di tengah perubahan iklim

    Namun, di tengah kesulitan ini, harapan belum sepenuhnya pupus. Pemerintah dan pelaku industri mulai fokus pada peremajaan kebun, peningkatan teknik budidaya, serta strategi menghadapi perubahan iklim.

    Sementara Vietnam, pesaing terdekat Indonesia, mengalami kondisi cuaca yang lebih bersahabat sehingga produksi kopi robusta Vietnam naik.

    Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam mencatat nilai ekspor kopi Vietnam melonjak menjadi 100,3 persen (yoy) dan menghasilkan 623 juta dolar AS (Rp9,7 triliun) pada Januari 2024.

    Dilansir Antaranews.com, dari segi volume, ekspor kopi Vietnam melonjak sebanyak 61,6 persen dengan total pengiriman mencapai 230 ribu ton selama Januari.

    Produksi kopi Vietnam diharapkan dapat membantu menstabilkan pasar kopi dunia yang terguncang oleh ketidakpastian di Brasil yang disebabkan perubahan pola cuaca.

    Langit Brasil yang biasanya membawa harapan di tengah ladang kopi, kini berubah menjadi ancaman bagi industri ini.

    Curah hujan yang datang setelah musim kering panjang tak mampu mengembalikan kondisi pohon kopi di Minas Gerais, negara bagian penghasil kopi terbesar di Brasil.

    Baca: Petani kopi kehilangan produksi akibat perubahan iklim

    Dilansir dari Reuters, meski hujan mulai turun, para agronomis dan petani pesimis akan hasil panen 2025.

    “Akan ada kerugian, hasilnya tak akan besar,” ujar Alysson Fagundes dari Fundacao Procafe.

    Dalam situasi ini, pohon kopi yang kehilangan daun dan energi diprediksi sulit menghasilkan buah yang optimal.

    Kekeringan yang terjadi di Brasil telah mengguncang pasar kopi global. Harga kopi arabika melonjak, mencapai level tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

    Tak hanya itu, harga gula juga ikut terkerek, menciptakan gelombang harga yang tak hanya dirasakan di Brasil, namun juga menyentuh Indonesia.

    Namun, dampak buruk kekeringan di Brasil tetap memberikan efek domino, mengingat negara tersebut masih menjadi salah satu penentu utama pasokan kopi dunia.

    Bagi Brasil, curah hujan yang terlambat bukanlah kabar baik. Banyak petani memilih untuk memangkas pohon mereka, berharap untuk pemulihan yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

    Namun, proses ini berarti tidak akan ada panen pada 2025 dan harapan baru hanya akan datang pada 2026.

    “Kebun kami seperti di ruang perawatan intensif, butuh waktu sebelum benar-benar pulih.” ungkap seorang petani Brasil.

    Sumber:CNBC/Antaranews.com

     

  • Kopi Arabika Gayo Mendorong Pemulihan Aceh, Tapi Juga Menyisakan Persoalan Lingkungan

    Kopi Arabika Gayo Mendorong Pemulihan Aceh, Tapi Juga Menyisakan Persoalan Lingkungan

    7cloud.asia – Kopi adalah komoditas yang tak lepas dari kehidupan masyarakat Aceh, terutama Aceh Tengah sebagai salah satu sentra produksi kopi arabika gayo.

    Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Tengah (belum dipublikasi), ada sekitar 50 ribu hektare (ha) kebun kopi di daerah ini.

    Dengan jumlah petani kopi sekitar 39.475 orang, Aceh Tengah mampu memproduksi 36.532 ton kopi arabika gayo pada 2021.

    Volume produksi tersebut mampu mencatatkan nilai kinerja ekspor yang signifikan yakni sekitar 19 juta dolar (Rp302 miliar) dan menopang kehidupan 70 persen warga setempat.

    Yang menarik, seluruh perkebunan kopi di daerah ini dikelola oleh petani berskala kecil. Tak ada kawasan perkebunan yang dikuasai perusahaan besar.

    Namun, penelitian Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan UNDP dari Proyek FOLUR (Food Systems, Land Use, and Restoration,) sepanjang tahun 2023-2024 menemukan persoalan keberlanjutan perkebunan kopi di Aceh Tengah.

    Baca: Perubahan iklim pengaruhi produksi kopi dunia

    Sekitar 56 persen perkebunan kopi berada di dalam kawasan hutan, khususnya di area hutan lindung—area yang berfungsi untuk menjaga keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem seperti siklus air.

    Tak ayal, berkurangnya hutan di Aceh Tengah berkontribusi pada kejadian banjir bandang.

    Alih fungsi lahan menjadi perkebunan juga dapat memperburuk perubahan iklim dan kehilangan keberagaman hayati—yang bisa memengaruhi ketahanan pangan warga setempat.

    Mengapa ini terjadi?
    Untuk mendapatkan data sebaran kopi di Aceh Tengah, kami menggunakan kombinasi teknologi drone dan survei lapangan.

    Hasilnya, luas area budi daya kopi arabika gayo di Aceh Tengah mencapai 136 ribu ha, atau tiga kali lebih banyak dari data resmi yang dikeluarkan oleh BPS Aceh Tengah 2023.

    Temuan ini juga mengindikasikan bahwa—selain tumpang tindih dengan kawasan hutan—ada begitu banyak perkebunan kopi di Aceh Tengah yang tidak tercatat.

    Baca: Mempertahankan produksi kopi Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim

    Berdasarkan temuan kami, perambahan hutan terjadi karena sejumlah faktor, salah satunya adalah iklim di kawasan Aceh Tengah yang menghangat.

    Menurut Stasiun Meteorologi Sutan Iskandar Muda, dalam 30 tahun terakhir telah terjadi peningkatan laju peningkatan suhu udara 0,3°C per sepuluh tahun.

    Situasi ini membuat area berketinggian 800-1200 meter di atas permukaan laut (MDPL) tidak efektif untuk menghasilkan kopi berkualitas.

    Berdasarkan observasi kami, para petani kemudian mencari area yang lebih tinggi, bahkan mencapai 1400 MDPL. Kebanyakan area dengan ketinggian tersebut merupakan kawasan hutan lindung.

    Kopi sebenarnya tergolong komoditas yang boleh dibudidayakan di hutan lindung karena termasuk hasil hutan bukan kayu. Namun, praktik ini harus dilakukan tanpa menebang pohon.

    Perubahan iklim yang menyebabkan kemarau ekstrem juga membuat tanaman kopi susah berbunga dan memudahkan penyebaran penyakit. Alhasil, produktivitas kopi menurun.

    Berdasarkan wawancara kami dengan petani, produktivitas rata-rata kebun kopi di Aceh Tengah sekitar 400-500 kg/ha/tahun.

    Baca: Petani kopi kehilangan produksi akibat perubahan iklim

    Ini masih jauh di bawah potensi terbaiknya yang bisa mencapai 1.500 kg/ha/tahun, dan lebih rendah dari data pemerintah Aceh Tengah yakni 800 kg/ha/tahun.

    Masalah produktivitas juga memaksa petani untuk merambah kawasan hutan. Pasalnya, akses petani kecil yang terbatas ke benih dan pupuk, kurangnya penyuluhan pertanian, membuat petani kesulitan untuk memanen kopi lebih banyak di lahan yang ada.

    Kurangnya pengetahuan pun terlihat dari pendekatan petani membuka kebun kopi di kawasan hutan dengan sistem tebang habis.

    Artinya, petani membabat seluruh tanaman di suatu kawasan, sebelum ditanami oleh kopi dan tanaman penaung (pelindung sinar matahari langsung) seperti lamtoro.

    Berdasarkan pengalaman kami dan sejumlah penelitian, praktik tebang habis jelas bukan cara budi daya yang baik karena berpotensi menghilangkan hara yang justru sudah tersedia dalam tanah.

    Selain itu, tanaman kopi sebenarnya dapat ditandur langsung dengan memanfaatkan tegakan pohon yang ada.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Tim Penulis:
    Hero Marhaento (Forest Resources Conservation Researcher, Universitas Gadjah Mada)
    Eka Tarwaca Susila Putra (Lecturer and Researcher)
    Stevie Nissauqodry (Dosen dan Peneliti, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Universitas Gadjah Mada)
    Ardyanto Fitrady (Arfie) dan Totok Dwi Diantoro

  • Membalik Keadaan Agar Budidaya Kopi di Aceh Lebih Berkelanjutan

    Membalik Keadaan Agar Budidaya Kopi di Aceh Lebih Berkelanjutan

    7cloud.asia – Kopi adalah komoditas yang tak lepas dari kehidupan masyarakat Aceh, terutama Aceh Tengah sebagai salah satu sentra produksi kopi arabika gayo.

    Namun, penelitian Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan UNDP dari Proyek FOLUR (Food Systems, Land Use, and Restoration,) sepanjang tahun 2023-2024 menemukan persoalan keberlanjutan perkebunan kopi di Aceh Tengah.

    Sekitar 56 persen perkebunan kopi berada di dalam kawasan hutan, khususnya di area hutan lindung—area yang berfungsi untuk menjaga keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem seperti siklus air.

    Berkurangnya hutan di Aceh Tengah berkontribusi pada kejadian banjir bandang.

    Alih fungsi lahan menjadi perkebunan kopi juga dapat memperburuk perubahan iklim dan kehilangan keberagaman hayati—yang bisa memengaruhi ketahanan pangan warga setempat.

    Baca: Efektifitas praktik agroforestri untuk pulihkan fungsi hutan lindung

    Naiknya permintaan kopi dari luar maupun dalam negeri berisiko meningkatkan perluasan kebun kopi di kawasan hutan.

    Berdasarkan pemodelan yang dilakukan tim dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan UNDP dari Proyek FOLUR (Food Systems, Land Use, and Restoration), perkebunan kopi berisiko terus merambah kawasan hutan lindung di Aceh Tengah di masa mendatang.

    Namun demikian, laju perluasan kebun kopi mungkin akan lebih rendah dibandingkan 20 tahun terakhir karena sudah tak banyak kawasan hutan yang tersisa untuk dibuka.

    Kita semua perlu menyadari risiko ini. Persoalan alih fungsi hutan menjadi kebun kopi tak bisa sepenuhnya menjadi tanggung jawab petani, melainkan juga pemerintah karena aktivitas penyuluhan pertanian kopi yang minim.

    Perlu ada jalan tengah yang perlu dipersiapkan pemerintah untuk menjaga kelangsungan hutan sekaligus mempertahankan produksi kopi gayo yang berkelanjutan.

    Baca: Sentralisasi hambat pengelolaan hutan Negara lewat perhutanan sosial

    Salah satu langkah yang sangat mungkin dilakukan adalah dengan sistem perhutanan sosial untuk menyelesaikan persoalan yang sudah terlanjur terjadi di perkebunan kopi di kawasan hutan.

    Melalui sistem ini, petani bisa tetap melakukan budidaya kopi meski dengan larangan penebangan pohon dan kewajiban menanam kembali tanaman-tanaman kayu asli setempat.

    Di Pulau Jawa, banyak budi daya kopi yang berhasil baik dengan memanfaatkan pinus sebagai tanaman penaung dalam bentuk agroforestri.

    Lahan berpinus banyak dijumpai di Aceh Tengah, tapi tidak banyak warga yang memanfaatkannya untuk menanam kopi.

    Dengan perhutanan sosial sebagai alas hukum, masyarakat Aceh Tengah bersama pemerintah dapat mengembangkan sentra produksi kopi gayo melalui skema integrated area development (IAD).

    Baca: Mungkinkah pola tumpang sari diterapkan di hutan untuk ketahanan pangan

    Sentra ini—dapat dibentuk dengan produksi kopi dari kebun agroforestri di dalam maupun di luar kawasan hutan—dapat meningkatkan produktivitas hingga nilai jual kopi gayo.

    Solusi kedua adalah terkait dengan peningkatan kapasitas petani kopi arabika gayo, berikut akses mereka terhadap benih dan pupuk berkualitas. Peran pemerintah dalam melaksanakan solusi ini sangatlah sentral.

    Pemerintah juga perlu menyediakan lebih banyak sekolah lapang iklim (SLI) dan merangsang petani di Aceh Tengah untuk menerapkan praktik pertanian yang baik.

    Harapannya, petani dapat mengetahui iklim yang berubah serta merancang solusi bersama untuk menjaga sumber penghidupan mereka.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Tim Penulis:
    Hero Marhaento (Forest Resources Conservation Researcher, Universitas Gadjah Mada)
    Eka Tarwaca Susila Putra (Lecturer and Researcher)
    Stevie Nissauqodry (Dosen dan Peneliti, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Universitas Gadjah Mada)
    Ardyanto Fitrady (Arfie) dan Totok Dwi Diantoro

  • Wisata Kopi: Menelusuri Proses Produksi Kopi dari Hulu ke Hilir

    Wisata Kopi: Menelusuri Proses Produksi Kopi dari Hulu ke Hilir

    7cloud.asia – Wisata kopi dan agrowisata di Indonesia menawarkan sebuah pengalaman unik dan otentik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara

    Kopi lokal memiliki keunikan tersendiri dan para wisatawan juga dapat merasakan keseruan wisata kopi dari hulu sampai ke hilir.

    Menginap di tengah kebun kopi, menjelajahi kebun kopi, mengikuti proses panen, hingga mempelajari pengolahan biji kopi akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan.

    Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Hariyanto dikutip Antaranews.com mengatakan kopi lokal dan agrowisata dalam pariwisata Indonesia memiliki potensi yang besar.

    “Bagi wisatawan yang ingin mencicipi kopi lokal, dapat mendatangi daerah asalnya sambil menikmati pemandangan alam yang indah,” ujarnya.

    Wisatawan juga dapat melakukan tur kebun kopi dalam rangka mengenal budidaya kopi dan menikmati suasana perkebunan. Kebun kopi biasanya juga memberikan pengalaman memanen dan mengolah biji kopi.

    “Jadi wisatawan bisa ikut memetik biji kopi dan mempelajari proses pengolahannya. Di samping itu ada museum kopi sebagai wadah edukasi agar wisatawan memahami berbagai karakteristik kopi lokal,” ujarnya.

    Salah satu wisata kopi dapat ditemui di Sumedang, Jawa Barat yang menawarkan program agrowisata kebun kopi yang membudidayakan biji kopi excelsa.

    Wisatawan yang berkunjung tidak hanya dapat mencicipi kenikmatan kopi lokal, tetapi juga mempelajari proses pembuatan kopi dari hulu ke hilir, hingga kopi tersaji di atas meja.

    “Kemudian ada salah satu program utama yang sekarang digaungkan oleh kepala daerah yang baru, itu salah satunya agrowisata dengan memperhatikan konservasi lingkungan dan kualitasnya,” kata dia.

    Hariyanto menyebut inisiatif itu tidak hanya menawarkan pengalaman langsung kepada wisatawan di lokasi kebun kopi, tetapi juga mengedukasi mereka mengenai proses produksi kopi dari hulu ke hilir.

    Hal ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkenalkan ragam kopi lokal dan sekaligus melestarikan budaya serta lingkungan pertanian kopi yang bernilai sejarah.

    “Dalam hal ini, dukungan untuk UMKM dan petani kopi Ekselsa dukungan untuk UMKM dapat diperoleh melalui Kementerian UKM atau Kemenekraf, sementara para petani bisa mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian.

    Dengan kolaborasi lintas sektor, pengembangan sektor kopi ini bisa berjalan lebih optimal,” ujarnya.

    Indonesia memiliki banyak perkebunan kopi sekaligus produsen kopi terbesar keempat di dunia bersama Brasil, Vietnam dan Kolombia. Indonesia mempunyai beragam jenis kopi unggulan yang dilindungi indikasi geografis.

    Minat global terhadap biji kopi Indonesia jadi semakin meningkat dengan menangnya seorang brewer bernama Ryan Wibawa yang meraih juara ke-3 dalam kompetisi World Brewers Cup 2024 di Chicago, Amerika Serikat.

    Kemenangan Ryan diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi warga sekitar kebun kopi.

    Kementerian Pariwisata juga sedang berusaha mempromosikan “Kopi Lokal Wisata Kopi,” sebagai satu atraksi wisata minat khusus juga tengah dikembangkan, lewat pola perjalanan Indonesia Coffee Trail.

    Pola perjalanan wisata kopi yang komprehensif secara nasional diharapkan mampu memberikan pengalaman yang berkualitas bagi wisatawan dalam menikmati wisata kopi nusantara.

    Wisatawan tidak hanya menikmati kopi fresh dari tempat asalnya namun juga menikmati suasana pegunungan, coffee plantation, aktivitas panen, bean roasting, mempelajari sejarah serta budaya, dan lainnya.

    “Ini nantinya akan membuka peluang pengembangan produk wisata baru untuk meningkatkan perekonomian daerah penghasil kopi. Tentunya potensi kopi bisa dikembangkan menjadi wisata gastronomi yang menjadi salah satu prioritas Kemenpar, dengan potensi market yang baik Kemenpar bisa mendukung dalam pengemasan produk dan workshop wisata gastronomi,” ucap Hariyanto.