Perubahan Iklim Berdampak pada Produksi Kopi Dunia, Ngopi Jadi Lebih Mahal

Written by

in

7cloud.asia – Perubahan iklim ternyata berpengaruh besar pada pasokan kopi dunia, karena kondisi cuaca yang berubah menjadi tak lagi ramah pada petani kopi di sejumlah negara penghasil kopi, termasuk Indonesia.

Indonesia, yang dikenal sebagai produsen kopi robusta mulai merasakan dampak dari perubahan iklim ini yakni menurunnya produksi kebun kopi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi kopi Indonesia mengalami penurunan, dari 771 ribu ton pada 2022 menjadi 756,1 ribu ton pada 2023.

Meskipun harga di pasar global naik, tantangan bagi para petani kopi lokal justru semakin besar. Kenaikan harga kopi memberi keuntungan, tetapi biaya produksi yang ikut meroket membuat keuntungan tersebut cepat terkikis.

Petani kecil terjebak di antara naiknya biaya dan menurunnya produksi, situasi yang membuat banyak pihak khawatir akan keberlanjutan industri kopi tanah air.

Indonesia, yang dulu disegani sebagai produsen kopi, kini menghadapi tantangan besar. Dengan produktivitas yang tertinggal jauh dibandingkan Brasil dan Vietnam, kebutuhan akan peremajaan tanaman dan perbaikan infrastruktur pertanian semakin mendesak.

Jika tidak segera diatasi, ada risiko bahwa Indonesia akan kehilangan posisi strategisnya di pasar global dan mungkin terpaksa mengimpor kopi untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat.

Baca: Upaya mempertahankan produksi kopi Indonesia di tengah perubahan iklim

Namun, di tengah kesulitan ini, harapan belum sepenuhnya pupus. Pemerintah dan pelaku industri mulai fokus pada peremajaan kebun, peningkatan teknik budidaya, serta strategi menghadapi perubahan iklim.

Sementara Vietnam, pesaing terdekat Indonesia, mengalami kondisi cuaca yang lebih bersahabat sehingga produksi kopi robusta Vietnam naik.

Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam mencatat nilai ekspor kopi Vietnam melonjak menjadi 100,3 persen (yoy) dan menghasilkan 623 juta dolar AS (Rp9,7 triliun) pada Januari 2024.

Dilansir Antaranews.com, dari segi volume, ekspor kopi Vietnam melonjak sebanyak 61,6 persen dengan total pengiriman mencapai 230 ribu ton selama Januari.

Produksi kopi Vietnam diharapkan dapat membantu menstabilkan pasar kopi dunia yang terguncang oleh ketidakpastian di Brasil yang disebabkan perubahan pola cuaca.

Langit Brasil yang biasanya membawa harapan di tengah ladang kopi, kini berubah menjadi ancaman bagi industri ini.

Curah hujan yang datang setelah musim kering panjang tak mampu mengembalikan kondisi pohon kopi di Minas Gerais, negara bagian penghasil kopi terbesar di Brasil.

Baca: Petani kopi kehilangan produksi akibat perubahan iklim

Dilansir dari Reuters, meski hujan mulai turun, para agronomis dan petani pesimis akan hasil panen 2025.

“Akan ada kerugian, hasilnya tak akan besar,” ujar Alysson Fagundes dari Fundacao Procafe.

Dalam situasi ini, pohon kopi yang kehilangan daun dan energi diprediksi sulit menghasilkan buah yang optimal.

Kekeringan yang terjadi di Brasil telah mengguncang pasar kopi global. Harga kopi arabika melonjak, mencapai level tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Tak hanya itu, harga gula juga ikut terkerek, menciptakan gelombang harga yang tak hanya dirasakan di Brasil, namun juga menyentuh Indonesia.

Namun, dampak buruk kekeringan di Brasil tetap memberikan efek domino, mengingat negara tersebut masih menjadi salah satu penentu utama pasokan kopi dunia.

Bagi Brasil, curah hujan yang terlambat bukanlah kabar baik. Banyak petani memilih untuk memangkas pohon mereka, berharap untuk pemulihan yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.

Namun, proses ini berarti tidak akan ada panen pada 2025 dan harapan baru hanya akan datang pada 2026.

“Kebun kami seperti di ruang perawatan intensif, butuh waktu sebelum benar-benar pulih.” ungkap seorang petani Brasil.

Sumber:CNBC/Antaranews.com

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *