Tag: Kota Global

  • Jakarta Butuh Dana Hingga Rp600 Triliun untuk Menjadi Kota Global

    Jakarta Butuh Dana Hingga Rp600 Triliun untuk Menjadi Kota Global

    7cloud.asia – Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta menyebut, butuh anggaran sekitar Rp600 triliun agar Jakarta bisa setara dengan kota-kota global yang sudah ada saat ini.

    Kenyataan yang ada, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta saat ini berkisar antara Rp80-84 triliun setahun.

    Sekretaris Daerah DKI Jakarta Joko Agus Setyono mengatakan, ini artinya masih ada celah (gap) sangat besar untuk mewujudkan Jakarta menjadi kota global.

    “Gap antara kebutuhan anggaran dari Rp600 triliun, kita topang dari anggaran belanja modal yang sekarang ini masih sekitar 19 persen. Artinya apa yang harus kita siapkan masih jauh,” katanya pada acara sosialisasi Undang-Undang No. 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta Bersama dengan Kementerian Dalam Negeri” yang diadakan di Jakarta, Selasa (9/7/2024).

    Baca: Mampukah Dewan Aglomerasi atasi macet dan polusi udara Jakarta

    Oleh karena itu, sambung Joko, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta selalu bersinergi dengan DPRD DKI Jakarta untuk selalu mengefisienkan anggaran di setiap sektor dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global.

    Di sisi lain, Jakarta berbeda dengan daerah provinsi khusus lain seperti Yogyakarta, Papua, Aceh, tidak mendapatkan alokasi dana khusus.

    Oleh karena itu diperlukan kreativitas dari pegawai Pemprov DKI yang bersinergi dan didukung DPRD DKI Jakarta untuk bisa menemukan metode dan strategi inovatif dalam penggalangan dana untuk pembangunan atau creative financing.

    “Creative financing supaya paling tidak kita ada peningkatan pendapatan,” kata Joko.

    Baca: Setiap bulan 10 juta warga kena tilang E-TLE di Jakarta 

    Adapun Jakarta kini bertransformasi dari Ibu Kota menjadi kota bisnis berskala global seiring disahkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024.

    Joko mengatakan, Jakarta akan berfungsi sebagai bagian dari simpul utama jaringan ekonomi dunia yang memiliki dampak langsung dan nyata pada tataran global.

    Menurut Joko, pengesahan UU Daerah Khusus Jakarta merupakan bukti dukungan dan keseriusan DPR bersama Pemerintah untuk merancang ulang berbagai aspek yang membutuhkan optimalisasi seiring peningkatan peran dan dinamika pembangunan yang kompleks di kota Jakarta.

    UU Daerah Jakarta juga mengatur hubungan pemerintahan pada lingkup kawasan Jakarta – Bogor – Depok – Tangerang –Bekasi – Cianju​r (Jabodetabekpunjur) melalui format kawasan aglomerasi.

  • Transportasi Publik yang Terintegrasi Kunci Terwujudnya Jakarta Menjadi Kota Global

    Transportasi Publik yang Terintegrasi Kunci Terwujudnya Jakarta Menjadi Kota Global

    7cloud.asia – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta menyebut transportasi publik yang nyaman dan terintegrasi mutlak dibutuhkan untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global.

    Pentingnya transportasi publik di Jakarta ini diungkapkan Kepala Bidang Pembangunan dan Lingkungan Hidup Bappeda DKI Jakarta Deftrianov dalam “Seminar Tantangan dan Peluang Daerah Khusus Jakarta” Senin (10/2/2025)

    “Ketika mau mengadakan konferensi global, bukan sekadar venue (tempat) tapi bagaimana dari bandara menuju venue atau dari venue menuju tempat-tempat lain di Jakarta. Makanya, transportasi publik menjadi mutlak harus dikembangkan,” katanya.

    Di antara enam indikator kota global berdasarkan Karakteristik Kota Global Bappeda DKI 2023. Terkoneksi secara intra dan interkota menjadi salah satunya.

    Di sinilah perlunya transportasi publik yang terintegrasi. Deftrianov mengungkapkan, Jakarta saat ini mengembangkan sistem transportasi publik yang terintegrasi.

    Berbagai moda transportasi publik di Jakarta seperti lintas raya terpadu (LRT), moda raya terpadu (MRT), Transjakarta, kereta rel listrik (KRL), dan Jaklingko saling terintegrasi.

    Baca: Butuh 20 tahun untuk rasakan dampak transformasi transportasi publik di sebuah kota

    Selain untuk memudahkan pergerakan manusia, hadirnya transportasi publik yang terintegrasi juga diharapkan membuat semakin banyak masyarakat mau menggunakan kendaraan umum.

    “MRT kita di fase 2, juga sudah memulai MRT menghubungkan Bekasi dan Tangerang. Mudah-mudahan konektivitas ini lebih bisa memperlancar pergerakan penumpang,” kata Deftrianov.

    Selain transportasi, lanjut dia, arus pergerakan barang tanpa kendala juga menjadi bagian yang diperlukan.

    “Kalau berbicara ekonomi juga harus memikirkan pergerakan barang. Pelabuhan Tanjung Priok, Bandara Halim itu key point (poin kunci) dari sisi hub yang harus kita treatment (rawat) dengan baik. Karena di dalam perekonomian global, arus pergerakan barang, informasi itu menjadi mutlak,” jelas Deftrianov.

    Di sisi lain, lingkungan yang bersih, nyaman, serta berkelanjutan pun harus diwujudkan karena juga menjadi indikator lainnya kota global.

    Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Jakarta fokus dalam membangun ruang terbuka hijau (RTH) dalam beberapa tahun terakhir.

    Baca: Transportasi publik berkualitas untuk atasi polusi udara di Jakarta

    Sepanjang tahun 2024, misalnya, sebanyak 16 RTH telah dibangun. Upaya ini juga dilakukan mengingat perubahan iklim saat ini.

    Menurut dia, berbagai upaya mitigasi, adaptasi terhadap perubahan iklim ini mutlak harus dilakukan di dalam pembangunan Jakarta.

    Untuk mewujudkan indikator-indikator kota global tersebut, Deftrianov berpendapat Pemprov DKI tak bisa sendirian, tetapi membutuhkan sosok-sosok berbakat skala global.

    “Rasanya kalau hanya mengandalkan sumber daya dari Pemprov DKI tidak akan bisa. Jadi, memang Jakarta bagaimana caranya bisa mengundang key talent global guna mewujudkan Jakarta masuk top 20 kota global,” ujarnya.

    Merujuk Kearney’s Global City Index tahun 2023, posisi Jakarta di kancah global berada di peringkat 74 dari 156 kota.

    Sementara, berdasarkan Cities in Motion Indeks 2024, Jakarta ada di urutan ke-125 dari 183 kota.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

  • Canangkan HUT ke-498, Pramono Targetkan Jakarta Jadi Kota Global Berbudaya

    Canangkan HUT ke-498, Pramono Targetkan Jakarta Jadi Kota Global Berbudaya

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung secara resmi mencanangkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-498 Kota Jakarta sekaligus meresmikan revitalisasi kawasan Blok M dengan nama baru, Blok M Hub.

    Pencanangan yang dilakukan di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta Selatan, ini menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan HUT Kota Jakarta yang merefleksikan wajah baru Jakarta menjadi kota yang inklusif dan kreatif.

    “Saya ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran kita semua pada hari ini bahwa kita bisa menyaksikan pencanangan awal dari kegiatan HUT Jakarta yang ke-498,” ujar Pramono di Taman Literasi, Sabtu (24/5/2025).

    Pramono menyampaikan, peringatan HUT ke-498 ini bukan hanya sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi penanda bahwa Jakarta terus bergerak maju menjadi kota global serta pusat ekonomi dan budaya.

    Selain itu, melalui peresmian revitalisasi kawasan Blok M menjadi Blok M Hub ini, Pramono juga berkomitmen untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang ramah bagi semua, termasuk penyandang disabilitas.

    Baca: Pijakan Jakarta menuju kota global

    Ia menyampaikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah membangun pedestrian yang ramah disabilitas sepanjang 1,3 kilometer yang menghubungkan seluruh area di Blok M.

    “Saya sangat bergembira dalam pencanangan HUT ke-498 Kota Jakarta bahwa kita telah mempersiapkan satu hub baru yang disebut dengan Hub M Bloc Jakarta,” kata Pramono.

    Lebih lanjut, Pramono juga menekankan pentingnya melestarikan budaya Betawi sebagai budaya utama Jakarta. Hal ini sejalan dengan tema HUT ke-498 Jakarta, yaitu Kota Global dan Berbudaya Jakarta.

    Saat ini, kata dia, Jakarta berada di peringkat 75 dari 156 kota yang masuk dalam daftar kota besar dunia. Pramono menargetkan Jakarta bisa memperbaiki peringkatnya dan masuk dalam 50 kota besar dunia pada 2029.

    Baca: Kritik terhadap rencana Jakarta menjadi kota global

    “Untuk itu, kami memerlukan dukungan, support dari masyarakat Jakarta,” lanjut dia.

    Ketua Harian Panitia HUT ke-498 Kota Jakarta, Suharini Eliawati menyampaikan, pemilihan Taman Literasi sebagai lokasi pencanangan HUT ke-498 ini karena nantinya akan menjadi beranda ibu kota ASEAN.

    Ia mengatakan, rangkaian acara HUT Jakarta akan berlangsung hingga 30 Juni 2025 dengan 73 kegiatan. Beberapa kegiatan awal meliputi Festival Lampu di Lapangan Banteng dan pertunjukan wayang di Museum Wayang.

    “Kemudian nantinya mendekati acara puncak tanggal 22 Juni, tentu kita akan melakukan ziarah ke Taman Kalibata,” tandas Eli.

    Baca: Butuh Rp600 triliun untuk menjadikan Jakarta sebagai kota global

  • Jakarta Diproyeksikan Menjadi Kota Global, Apa Saja Kriterianya?

    Jakarta Diproyeksikan Menjadi Kota Global, Apa Saja Kriterianya?


    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menghadiri sesi pembukaan High Level Political Forum on Sustainable Development (HLPF) di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat.

    Kesempatan ini dimenfaatkan Pramono Anung untuk menyatakan tekad DKI Jakarta masuk dalam jajaran 50 kota global pada 2045.

    “Jakarta bukan lagi hanya ibu kota administratif, tapi harus naik kelas sebagai kota global, sehingga penting bagi kami untuk aktif dalam diplomasi global,” ujar Pramono melalui keterangan tertulis, Selasa (15/7/2025)

    Kehadiran Pramono Anung yang didampingi Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, dalam forum internasional bergengsi ini menandai momen bersejarah bagi Jakarta. Untuk pertama kalinya Gubernur DKI diundang secara resmi oleh PBB untuk terlibat langsung dalam perumusan agenda pembangunan berkelanjutan tingkat global.

    Adapun forum ini merupakan panggung strategis bagi para pemimpin dunia, diplomat, dan kepala pemerintahan daerah untuk membahas pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) dan tantangan global yang tengah dihadapi.

    Kehadiran Jakarta dalam forum ini mencerminkan pengakuan internasional atas transformasi kota menuju kota global yang inklusif, resilien, dan berkelanjutan.

    Lantas, apa sebenarnya kota global? Menurut Britannica, kota global adalah kota yang berfungsi sebagai simpul utama dalam jaringan ekonomi global.

    Konsep kota global berasal dari geografi dan studi perkotaan, berdasarkan tesis bahwa globalisasi telah menciptakan hierarki lokasi geografis strategis dengan berbagai tingkat pengaruh terhadap keuangan, perdagangan, dan budaya di seluruh dunia.

    Baca: Pramono Anung targetkan Jakarta menjadi Kota Global Berbudaya

    Kota global merupakan pusat yang paling kompleks dan signifikan dalam sistem internasional, yang dicirikan oleh keterkaitannya dengan kota-kota lain yang memiliki dampak langsung dan nyata terhadap urusan sosial ekonomi global.

    Kriteria kota global bervariasi tergantung pada sumbernya. Ciri-ciri umum meliputi tingkat pembangunan perkotaan yang tinggi, populasi yang besar, keberadaan perusahaan multinasional besar, sektor keuangan yang signifikan dan terglobalisasi.

    Infrastruktur transportasi yang berkembang dengan baik dan terhubung secara internasional juga menjadi kriteria sebuah kota dikategorikan menjadi kota global.

    Juga dengan dominasi ekonomi lokal atau nasional, lembaga pendidikan dan penelitian berkualitas tinggi, dan keluaran ide, inovasi, atau produk budaya yang berpengaruh secara global.

    Peringkat kota global banyak jumlahnya. Tetapi Kota New York, London, Tokyo, dan Paris adalah kota-kota yang paling sering disebutkan sebagai kota global

    Asal dan terminologi
    Dilansir dari wikipedia, istilah kota global dipopulerkan oleh sosiolog Saskia Sassen dalam bukunya tahun 1991, The Global City: New York, London, Tokyo.

    Sebelumnya, istilah lain digunakan untuk pusat kota dengan fitur yang kurang lebih sama. Istilah ‘kota dunia’, yang berarti kota yang sangat terlibat dalam perdagangan global, muncul dalam deskripsi Liverpool pada bulan Mei 1886, oleh The Illustrated London News. 

    Sosiolog dan ahli geografi Inggris Patrick Geddes menggunakan istilah tersebut pada tahun 1915. Istilah ‘ megacity ‘ mulai umum digunakan pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, contoh paling awal yang diketahui adalah publikasi oleh University of Texas pada tahun 1904.

    Baca: Butuh dana hingga Rp600 Triliun untuk mengantarkan Jakarta menjadi kota global

    Pada abad ke-21, istilah tersebut biasanya difokuskan pada kekuatan finansial dan infrastruktur teknologi tinggi suatu kota .

    Kelompok-kelompok yang bersaing telah merancang cara-cara yang bersaing untuk mengklasifikasikan dan memberi peringkat kota-kota dunia dan membedakannya dari kota-kota lain.

    Meskipun kriteria sebuah kota global bervariasi dan sangat cair, karakteristik umum kota-kota dunia menurut Rosemary Pashley, dalam “HSC Geography” (Pascal Press, 2000) antara lain meliputi:

    1. Menyediakan berbagai layanan keuangan internasional, khususnya di bidang keuangan, asuransi, real estate, perbankan, akuntansi, dan pemasaran; dan penggabungan kantor pusat keuangan, bursa saham, dan lembaga keuangan besar lainnya,

    2. Kantor pusat sejumlah perusahaan multinasional,

    3. Dominasi perdagangan dan ekonomi di wilayah sekitarnya yang luas,

    4. Pusat manufaktur utama dengan fasilitas pelabuhan dan kontainer,

    5. Kekuatan pengambilan keputusan yang cukup besar setiap hari dan di tingkat global,

    Baca: Kritik terhadap rencana Jakarta menjadi kota global

    6. Adanya pusat ide-ide baru dan inovasi dalam bisnis, ekonomi, dan budaya,

    7. Adanya pusat media digital dan komunikasi lainnya untuk jaringan global,

    8. Dominasi wilayah nasional dengan signifikansi internasional yang besar,

    9. Tingginya porsi penduduk yang bekerja di sektor jasa dan sektor informasi,

    10 Lembaga pendidikan berkualitas tinggi, termasuk universitas dan fasilitas penelitian ternama; dan menarik kehadiran mahasiswa internasional,

    11. Adanya infrastruktur multifungsi yang menawarkan beberapa fasilitas hukum, medis, dan hiburan terbaik di negara ini,

    12. Keberagaman yang tinggi dalam bahasa, budaya, agama, dan ideologi.

    Penulis: Esti Utami disarikan dari berbagai sumber.

     

  • Pramono Anung Paparkan Upaya Jakarta Menjadi Kota Global dengan Pembangunan Berkelanjutan

    Pramono Anung Paparkan Upaya Jakarta Menjadi Kota Global dengan Pembangunan Berkelanjutan

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menghadiri High-Level Political Forum: Local and Regional Governments Forum di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, pada Rabu (16/7/2025).

    Dalam forum tersebut, Pramono memaparkan berbagai inisiatif Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam mengarusutamakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) ke dalam kebijakan dan program lokal.

    Pramono menegaskan, transformasi Jakarta sebagai salah satu dari 50 kota global pada 2030 tidak terpisahkan dari upaya penerapan pembangunan berkelanjutan.

    Hal ini, kata dia, membutuhkan perubahan mendasar dalam daya tarik kota, penyediaan infrastruktur, transformasi birokrasi, dukungan politik, komunikasi publik yang transparan, serta kualitas sumber daya manusia.

    Baca: Jakarta diproyeksikan menjadi kota global, apa saja kriterianya?

    “Upaya pembangunan berkelanjutan yang kami lakukan membentuk Jakarta menjadi kota global yang sejalan dengan agenda kami pada 2030,” ujarnya, dalam siaran pers Pemprov DKI Jakarta, Kamis (17/7/2025).

    Pramono juga menyoroti sejumlah pencapaian Pemprov DKI dalam pembangunan berkelanjutan di berbagai bidang, seperti kesehatan, keamanan kota bagi perempuan, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor.

    Ia kembali menegaskan komitmennya terhadap kesetaraan gender melalui penyediaan ruang publik yang aman dan inklusif bagi perempuan.

    “Pada 2024, Jakarta mencatat Indeks Ketimpangan Gender terendah secara nasional,” urai Pramono dalam kesempatan tersebut.

    Baca: Pramono Anung proyeksikan menjadi kota global yang berbudaya

    Beberapa upaya yang mendukung tercapainya Jakarta yang inklusif antara lain dengan penyediaan bus khusus perempuan, kampanye antipelecehan di bus Transjakarta.

    Selain itu, Pramono juga mneyebutkan perpanjangan jam operasional taman yang dilengkapi dengan penerangan dan pengawasan yang lebih baik

    Lebih lanjut, Pramono juga menegaskan kemajuan Jakarta sebagai kota global harus disertai dengan kolaborasi lintas sektor yang kuat.

    “Mari kita posisikan Jakarta sebagai pelopor pembangunan nasional yang tangguh, inklusif, dan terintegrasi secara global. Jakarta harus menjadi tempat di mana setiap orang memiliki ruang, dan tidak ada satu pun yang tertinggal,” tandasnya.

     

  • Pramono Anung Paparkan Rencana Jangka Panjang Jakarta Menjadi Kota Global

    Pramono Anung Paparkan Rencana Jangka Panjang Jakarta Menjadi Kota Global

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menjadi pembicara di ASEAN Sustainable Urbanisation Forum (ASUF) 2025 ke Kuala Lumpur, Malaysia memaparkan rencana jangka panjang Jakarta menuju Kota Global.

    Pramono Anung berbicara di pada hari kedua acara ini. Kehadirannya di forum ini menegaskan keseriusan Jakarta untuk menembus Top 20 Global City pada 2045 dengan menempatkan keberlanjutan (sustainability) sebagai fondasi utama pembangunan kota.

    “Hari ini saya ingin membagikan rencana jangka panjang Jakarta untuk menjadi salah satu dari 20 kota global teratas di dunia,” ujar Pramono, dalam siaran pers Pemprov DKI Jakarta, Selasa (12/8/2025).

    Perjalanan menuju kota global ini akan ditempuh dengan transformasi berkelanjutan, kolaborasi kuat, dan kemajuan bersama, sejalan dengan semangat ASEAN

    Ia memaparkan, saat ini Jakarta berada di peringkat 74 dalam Kearney’s 2024 Global Cities Index.

    Baca: Kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi kota global

    Untuk naik peringkat, Jakarta telah menyiapkan peta jalan menuju 2045 yang mencakup penguatan sumber daya manusia, transformasi birokrasi, penguatan identitas budaya, komunikasi publik yang transparan.

    Pengurangan emisi karbon dan pembangunan infrastruktur ramah lingkungan juga menjadi fokus Pemprov DKI Jakarta untuk menjadi kota global

    Pramono menegaskan, peran Jakarta dalam ASEAN Community Vision 2045 diwujudkan melalui berbagai inisiatif prioritas.

    Salah satunya adalah membangun Jakarta Future Festival sebagai platform dialog kebijakan inklusif dan keterlibatan warga.

    Saat ini, Jakarta juga menerapkan gender-responsive governance melalui layanan transportasi umum khusus perempuan seperti bus TransJakarta khusus perempuan.

    Baca: Jakarta diproyeksikan menjadi kota global berbudaya

    Pemprov DKI Jakarta juga mendorong program kesehatan komunitas Pasukan Putih yang memprioritaskan layanan kesehatan rumah (home service) bagi lansia.

    ”Kami juga mengembangkan balai latihan kerja untuk mencetak tenaga kerja siap pasar, serta memperluas aplikasi JAKI agar layanan publik semakin terhubung dan mudah diakses,” jelasnya.

    Menutup sambutannya, Pramono mengajak kota-kota di ASEAN memperkuat kolaborasi lintas sektor di ASEAN.

    “Jakarta akan terus memimpin pembangunan nasional dan berdiri sebagai kota yang terkoneksi secara global, di mana tidak ada satu pun yang tertinggal,” katanya.

  • Pramono Anung: Ketimpangan Jadi Salah Satu Hambatan Menjadikan Jakarta sebagai Kota Global

    Pramono Anung: Ketimpangan Jadi Salah Satu Hambatan Menjadikan Jakarta sebagai Kota Global

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengakui bahwa ada sejumlah persoalan yang masih menjadi tantangan untuk mewujudkan Jakarta menjadi kota global.

    Dicontohkannya, meski tingkat pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan ketiga tumbuh hingga 5,18 persen dan melampaui angka nasional sebesar 5,12 persen, persoalan gini rasio atau ketimpangan masih menjadi kendala.

    Menurutnya, hal itu lantaran pertumbuhan ekonomi juga berdampak terhadap pendapatan kelompok kaya yang menumpuk di Jakarta.

    Sebagai upaya untuk memperkecil ketimpangan itu, Pramono Anung mengatakan telah merealisasikan sejumlah program kesejahteraan pada era 100 hari kepemimpinannya bersama Wakil Gubenur, Rano Karno.

    Paparan ini disampaikan Pramono, saat didapuk menjadi keynote speach di acara Orientasi Pendidikan Mahasiswa Baru program Doktoral dan Magister Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Brawijaya (UB) Kampus Jakarta, Sabtu (23/8/2025) di Jakarta.

    Dilanjutkan Pramono, sesuai Undang Undang nomor 2 tahun 2024, seharusnya Jakarta tidak lagi menjadi ibukota. Namun karena secara administrasi Peraturan Presiden yang mengatur belum ditandatangani, maka regulasi itu belum berlaku efektif.

    Baca: Rencana jangka panjang Jakarta menjadi kota global

    Meski demikian, Pramono mengaku terus melakukan pembenahan serta pembangunan mempersiapkan Jakarta menjadi top kota global dunia. Meski saat ini baru menduduki peringkat 74 dari 156 kota global,

    “Saya optimisitis bisa segera mendongkrak Jakarta menjadi urutan ke 50 top kota global” tegas Pram.

    Diakuinya, mengubah dan membangun Jakarta agar bisa menjadi top kota global dunia tidak mudah dan tidak bisa dilakukan sekejap mata.

    Namun, dengan berbagai tantangan dan potensi yang ada, Pramono Anung optimistis Jakarta ke depan bisa menjadi salah satu kota top global terkemuka bersaing dengan kota global lain di berbagai negara dunia.

    “Potensi Jakarta sebagai kota global dan bisnis punya syarat yang lengkap. Mudah-mudahan tahun depan saya bisa selesaikan persoalan sampah,” ujarnya.

    Di sektor pendidikan Pemprov DKI Jakarta telah meningkatkan jumlah penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) hingga mencapai 707.622 siswa dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) sebanyak 16.979 mahasiswa.

    Baca: Kriteria yang harus dipenuhi Jakarta untuk menjadi kota global

    Para penerima KJMU itu tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa strata satu, tapi juga untuk magister dan doktoral.

    Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga telah melakukan pemutihan ijazah atau penebusan ijazah yang tertahan lantaran belum melunasi tunggakan di sekolah bagi 3.212 pelajar. Hingga akhir tahun ini, pihaknya menargetkan sekitar 6.500 pemutihan ijazah.

    Di bidang transportasi, Pramono menjelaskan, Pemprov DKI telah meluncurkan TransJabodetabek yang mengakomodir kebutuhan transprotasi angkutan umum sejumlah daerah sekitar Jakarta yang selama ini belum terhubung baik.

    Tidak hanya penyediaan rute baru yang mengakomodir sejumlah daerah sekitar seperti Alam Sutera, PIK 2 dan Sawangan, Pram juga mengaku telah menggratiskan tarif angkutan umum bagi 15 golongan warga Jakarta.

    Hal itu, diakuinya sebagai upaya mendorong masyarakat agar beralih menggunakan angkutan umum dan mengurangi tingkat kemacetan Jakarta. Meski saat ini, tingkat koneksi moda angkutan umum di Jakarta telah terhubung hingga 91 persen, tingkat pengguna yang terus memanfaatkan diperkirakan baru sekitar 21 persen.

    “Kita akan dorong terus agar bisa diatas 30 persen. Sehingga nantinya kemacetan bisa berkurang drastis,” tegasnya.

    Baca: Pramono targetkan Jakarta menjadi kota global berbudaya

    Selanjutnya, Pramono menyebut tentang SDM di Jakarta yang terus ditingkatkan. Sebagai alternatifnya, Pram mengaku mendorong kegiatan Job Fair dengan sistem link and match diperbanyak.

    Pada 2025 ini, Pemprov DKI Jakarta menargetkan menggelar 21 kali kegiatan Job Fair. Hingga Agustus ini, realisasinya sudah sebanyak 13 kali dan telah menyerap ribuan tenaga kerja.

    Kemudian, Pramono juga menegaskan pentingnya penataan dan pengaturan kota. Disebutkan, kebijakan membuka layanan perpustakaan hingga pukul 22.00 dan lima taman beroperasi 24 jam yang sempat diprotes kini malah didukung warga.

    Lalu, Pramono menyebut tengah mendorong aktivasi JIS hingga beroperasi maksimal. Berbagai upaya yang dilakuan di antaranya mendorong JIS menjadi home base klub Persija dan mengkoneksikan dengan area parkir yang tengah dibangun di kawasan Ancol.

    Konektivitas dengan Ancol ini, diyakini Pramono akan memberi dampak bisnis yang baik lantaran pengalaman saat pemaksaan konser internasional di JIS kesulitan area parkir. Dampaknya banyak dari pengunjung terjebak kemacetan.

    Selanjutnya, di bidang budaya UU nomor 2 tahun 2024 telah tegas menyebut bahwa kebudayan inti dari Jakarta adalah masyarakat betawi. Karena itu, Ia mengaku tengah mendorong pembuatan Perda dan Pergub budaya Betawi dipercepat

    Baca: Kritik terhadap rencana Jakarta menjadi kota global

  • Peringkat Jakarta dalam Global Cities Index 2025, Naik Tiga Tingkat

    Peringkat Jakarta dalam Global Cities Index 2025, Naik Tiga Tingkat

    7cloud.asia – Lembaga internasional Kearney, baru-baru ini merilis Global Cities Index (GCI) 2025. Dalam laporan tersebut peringkat kota Jakarta sebagai kota global naik ke posisi 71 dari posisi 74 pada tahun lalu.

    Adapun pemeringkatan Kota Global tahun ini dilakukan terhadap 158 kota yang berada di lima benua dengan mengusung tema utama Dimulainya era kecerdasan

    GCI terbaru menegaskan kembali ketahanan pusat-pusat kota lama—lima kota teratas GCI, yaitu New York, London, Paris, Tokyo, dan Singapura, mempertahankan posisi mereka dari tahun sebelumnya.

    Meskipun daftar kota-kota terkemuka GCI tetap konsisten, kepemimpinan tersebut semakin ditentukan oleh adaptasi terhadap perubahan: pembangunan infrastruktur digital, investasi ketahanan iklim, dan kelincahan institusional.

    Menurut laporan Kearney, Jakarta unggul di dimensi business activity (naik tiga posisi) melalui konektivitas transportasi publik (91–92 persen) dan perdagangan regional, didukung proyek MRT/LRT.

    Baca: Ketimpangan jadi hambatan menjadikan Jakarta sebagai Kota Global

    Sementara terkait dimensi human capital, peringkat Jakarta naik 2 posisi, dan membaik berkat aksesibilitas tenaga kerja dan pelatihan vokasi.

    Namun, Jakarta masih perlu mengejar dimensi information exchange (adopsi digital), cultural experience (wisata berkelanjutan), dan political engagement (partisipasi global).

    Kearney menyoroti tiga enabler kunci yang harus dipenuhi Jakarta, yakni energi terbarukan, resiliensi kota (pengelolaan banjir, ruang hijau), dan talenta siap AI.

    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, kenaikan peringkat Jakarta ini mencerminkan kemajuan daya saing ibu kota melalui kerja teknokratik dan kolaborasi masyarakat.

    “Kita naik tiga peringkat berkat perencanaan matang, eksekusi cepat, dan evaluasi berbasis data. Ini buah kerja keras bersama warga,” ujar Pramono, dalam siaran pers Pemprov DKI, Rabu (22/10/2025).

    Baca: Rencana jangka panjang menjadikan Jakarta sebagai Kota Global

    Pramono menambahkan, kemajuan ini dicapai dalam 5–7 bulan, berkat siklus perencanaan-implementasi-evaluasi yang solid, seperti monitoring real-time penggunaan transportasi.

    Pemprov DKI Jakarta saat ini tengah mengupayakan tiga ketertinggalannya melalui program solar panel, normalisasi sungai, dan pelatihan digital.

    Dalam kesempatan terpisah, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Ketua Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim menyampaikan perlunya partisipasi publik untuk mencapai target ke depannya.

    Jakarta kini berada di peringkat 17 dunia untuk transportasi publik, melampaui Kuala Lumpur dan Manila, dengan utilisasi naik hingga 25 persen.

    “Capaian ini awal dari perjalanan menuju top 50 kota global. Pemerintah tak bisa sendiri dan pesan khusus bapak Gubernur adalah agar Pemprov DKI Jakarta selalu melibatkan warga, pelaku usaha, dan akademisi terus berinovasi untuk Jakarta yang inklusif dan resilient,” tandas Chico.

    Baca: Kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadikan Jakarta sebagai Kota Global

  • Lima Kota Ini Terus Memuncaki Peringkat Kota Global, Apa Rahasianya?

    Lima Kota Ini Terus Memuncaki Peringkat Kota Global, Apa Rahasianya?

    7cloud.asia – Lembaga internasional Kearney, baru-baru ini merilis indeks kota global (Global Cities Index/GCI) 2025. Dalam laporan tersebut, lima posisi teratas diduduki oleh kota-kota yang sama.

    Lima kota teratas tahun ini –New York, London, Paris, Tokyo, dan Singapura— menunjukkan bagaimana kepemimpinan kota semakin ditentukan oleh kemampuan beradaptasi dan investasi strategis.

    Pelibatan warga dalam penataan kota juga menjadi catatan bagaimana kota-kota ini tetap menduduki posisi teratas dalam peringkat kota global.

    Masing-masing kota raksasa perkotaan ini merespons pergeseran global dalam energi, ketahanan lingkungan, dan bakat dengan cara yang berbeda, memperkuat status mereka yang tak tertandingi sebagai simpul pertukaran dan inovasi global.

    Berikut ini adalah tinjauan lebih dekat terhadap lima kota dengan kinerja terbaik dalam GCI 2025, dan perkembangan masing-masing selama setahun terakhir sebagaimana dilansir di kearney.com:

    1. New York, AS
    New York menempati posisi teratas dalam GCI selama sembilan tahun berturut-turut, terus memimpin dalam aktivitas bisnis, sumber daya manusia, dan pertukaran informasi.

    Sebagai pusat keuangan, ketahanannya di tengah meningkatnya utang global didukung oleh kepemimpinan dalam inovasi regulasi dan keuangan digital, di berbagai bidang mulai dari teknologi finansial hingga mata uang digital bank sentral.

    Peningkatan moderat dalam indikator sumber daya manusia mencerminkan upaya Big Apple untuk menarik generasi yang semakin termotivasi oleh tanggung jawab lingkungan dan peluang teknologi.

    New York juga berinvestasi dalam infrastruktur hijau dan perencanaan perkotaan prediktif, sejalan dengan tren global dalam tata kelola cerdas dan ketahanan iklim.

    Baca: Peringkat Jakarta sebagai kota global naik tiga tingkat 

    2. London, Inggris
    London mempertahankan posisi runner-up GCI, juga selama sembilan tahun berturut-turut. Ibu kota Inggris ini terus memimpin dalam hal pengalaman budaya dan menunjukkan peningkatan moderat dalam aktivitas bisnis.

    Peningkatan ini didorong oleh reformasi sektor keuangan—termasuk penyederhanaan aturan pencatatan dan pelonggaran persyaratan saham kelas ganda—yang berkontribusi pada peningkatan modal yang dihimpun sebesar 34 persen dari tahun ke tahun.

    Peluncuran Strategi Pertumbuhan dan Daya Saing Jasa Keuangan Inggris semakin memperkuat peran London sebagai pusat keuangan global.

    London juga memperkuat infrastruktur digitalnya, meningkatkan peringkat pusat datanya melalui perluasan jangkauan 5G dan penerapan platform kota pintar, yang memperkuat daya saingnya di bidang teknologi dan keuangan.

    3. Paris, Prancis
    Paris tetap berada di posisi ketiga selama 11 tahun berturut-turut, tetap kuat dalam hal pertukaran informasi dan pengalaman budaya, meskipun mengalami sedikit penurunan dalam aktivitas bisnis dan sumber daya manusia.

    Dalam upaya mengatasi masalah migrasi keluar, Kota Cahaya ini mengembangkan strategi perkotaan inklusif untuk menarik bakat dan investasi, termasuk penerapan infrastruktur adaptif iklim seperti halaman sekolah OASIS yang berpusat pada alam, jalan permeabel, dan jalur air “bercahaya” yang kini tidak lagi tertimbun gorong-gorong atau infrastruktur lainnya.

    Paris juga menata ulang perumahan dan mobilitas untuk mendukung populasi lanjut usia dan komunitas imigran; mengubah ruang-ruang yang kurang dimanfaatkan menjadi perumahan umum; dan memperluas akses transportasi umum.

    Melalui desain partisipatif dan penghijauan yang adil, kota ini berupaya membangun kepercayaan dan kohesi di lingkungan yang kurang terlayani, memperkuat komitmennya terhadap kelayakan huni dan ketahanan.

    Baca: Kriteria menjadi kota global

    4. Tokyo, Jepang
    Tokyo tetap stabil di peringkat keempat selama 11 tahun berturut-turut, mempertahankan kekuatannya dalam sumber daya manusia dan menunjukkan peningkatan moderat dalam aktivitas bisnis, pengalaman budaya, dan pertukaran informasi.

    Kota metropolitan terkemuka di Jepang ini tetap menjadi pemimpin dunia dalam desain perkotaan dan keterlibatan warga lanjut usia, didukung oleh infrastruktur bebas hambatan dan layanan sosial yang terarah.

    Tokyo juga memperluas pengaruh globalnya melalui inisiatif seperti KTT SusHi Tech dan kemitraan dengan kota-kota metropolitan lain di Asia Timur, memposisikan dirinya sebagai eksportir utama model kota pintar.

    Proyek-proyek warisan Olimpiade dan partisipasi aktif dalam platform diplomasi kota seperti C40 dan Global Covenant of Mayors for Climate and Energy (GCoM) semakin memperkuat peran Tokyo sebagai ibu kota dunia yang berwawasan ke depan dan berjejaring secara global.

    5. Singapura
    Singapura kembali mengamankan posisi nomor lima, menyamai peringkatnya di tahun 2024. Stabilitas ini mencerminkan peningkatan moderat dalam keterlibatan politik dan sumber daya manusia—didorong oleh peningkatan kemudahan masuk—yang diimbangi oleh sedikit penurunan dalam pengalaman budaya dan aktivitas bisnis.

    Singapura terus memposisikan dirinya sebagai pusat pendidikan internasional terkemuka, memajukan sistem pembelajaran seumur hidup melalui inisiatif seperti SkillsFuture dan kemitraan bakat global.

    Singapura juga secara aktif mengekspor kerangka kerja kota pintar dan solusi ketahanan lingkungannya ke seluruh Asia Tenggara, memperkuat perannya sebagai pemimpin regional dalam inovasi perkotaan dan diplomasi soft-power.

    Upaya untuk mempromosikan penuaan aktif dan lapangan kerja bagi lansia, termasuk renovasi perumahan bebas hambatan dan inovasi pembiayaan layanan kesehatan, mencerminkan komitmen kota terhadap pertumbuhan inklusif dan kohesi antargenerasi.

    Baca: Jakarta butuh dana hingga Rp600 Triliun untuk menjadi Kota Global

  • Jakarta Jadi Kota Global: Apa Dampaknya Bagi Warga?

    Jakarta Jadi Kota Global: Apa Dampaknya Bagi Warga?

    7cloud.asia – Pada tanggal 26 Agustus 2019, Presiden ketujuh Joko Widodo mengumumkan Jakarta akan dikembangkan sebagai “kota bisnis, kota keuangan, pusat perdagangan, dan pusat jasa berskala regional dan global” pascawacana pemindahan ibu kota.

    Rencana tersebut dilegalkan dalam Undang Undang Provinsi Daerah Khusus Jakarta yang menyebut Jakarta akan menjadi “kota global”. Pemerintah Daerah Khusus Jakarta juga menargetkan Jakarta bakal bertengger di posisi 20 besar kota global.

    Apa artinya Jakarta menjadi kota global dan apa kira-kira dampaknya untuk penduduk?

    Kota global memiliki makna yang spesifik. UU Jakarta mendefinisikannya sebagai:

    “Kota yang menyelenggarakan kegiatan internasional di bidang perdagangan, investasi, bisnis, pariwisata, kebudayaan, pendidikan, kesehatan, dan menjadi lokasi kantor pusat perusahaan dan lembaga baik nasional, regional, maupun internasional, serta menjadi pusat produksi produk strategis internasional, sehingga menciptakan nilai ekonomi yang besar, baik bagi kota yang bersangkutan maupun bagi daerah sekitar.”

    Definisi tersebut pertama kali diperkenalkan dalam buku yang ditulis Saskia Sassen pada 1991 dan direvisi pada 2001. Dalam buku ini, Tokyo, London, dan New York merupakan rujukan definisi kota global.

    Kota-kota tersebut menjadi pusat ekonomi global dengan kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Misalnya, kota-kota tersebut menjadi pusat finansial global, menggantikan sektor manufaktur yang sebelumnya mendominasi.

    Selain itu, kota-kota itu menjadi ‘titik komando terpusat’ ekonomi dunia, ditandai dengan kemunculan banyaknya kantor pusat (headquaters) perusahaan internasional.

    Istilah ‘kota global’ seakan mengesankan kota-kota tersebut unggul di segala bidang. Sayangnya, kesan tersebut mengaburkan ‘sisi gelap’ yang membentuk kota tersebut.

    Sisi gelap kota global
    Terbitnya buku Sassen di tahun 1991 tidak saja menarik perhatian para peneliti, tetapi juga para pelaku jasa konsultan. Sejak tahun 2007, mulai bermunculan indeks-indeks peringkat kota global yang menggunakan berbagai indikator tertentu seperti kemudahan berbisnis, keamanan, infrastruktur, dan lingkungan.

    Indeks-indeks tersebut turut memopulerkan istilah kota global. Mulanya, indeks-indeks ini ditujukan kepada para investor untuk mengetahui kota mana yang cocok untuk berbisnis.

    Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah negara-negara, termasuk Indonesia, menganggap indeks tersebut dapat dipercaya untuk mengarahkan pembangunan perkotaan.

    Masalahnya, indeks tersebut menyembunyikan ‘sisi gelap’ dari kota-kota berkategori global. Kita perlu mengingat bahwa kota global muncul dari proses politik-ekonomi yang sangat spesifik.

    Literatur akademis menunjukkan bahwa kota global dapat tumbuh karena bertumpu di atas sistem kapitalisme yang berdiri di atas eksploitasi manusia. Ada indikasi bagaimana kota-kota global bergantung pada eksploitasi tenaga kerja yang diupah murah.

    Sebuah riset menunjukkan bahwa tiga kota global yang naik peringkat secara cepat: Doha, Dubai, dan Shanghai—bergantung pada eksploitasi tenaga kerja juga. Banyak di antaranya merupakan imigran.

    Kota New York dan Hongkong juga memiliki sisi gelap karena tingkat kesenjangan sosial yang melampaui batas ambang yang ditetapkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

    London dapat menjadi pusat finansial global berkat ekonomi uang kotornya yang terus memperkaya kelas tertentu. Riset lainnya menunjukkan proses penggiatan aktivitas finansial global di kota-kota global dunia memperlebar ketimpangan pendapatan di tingkat nasional dan lokal.

    Memang, kecenderungan pengaburan fakta terjadi pada indeks-indeks kota lainnya. Misalnya, kota-kota yang sering disebut sebagai kota terhijau dunia, seperti Kopenhagen, Dubai, Madrid dan Canberra, justru merupakan kota dengan jejak karbon tertinggi.

    Selain itu, indeks yang dikeluarkan oleh para konsultan seringkali memiliki permasalahan metodologis, berlawanan dengan anggapan bahwa indeks-indeks tersebut bersifat kredibel.

    Bagaimana kondisi aktual Jakarta?
    Masih terlalu dini untuk menyimpulkan rencana kota global di Jakarta akan membawa dampak negatif. Namun, kita bisa melihat indikasi ke mana arah Jakarta dari rencana yang ada.

    Contohnya dokumen perencanaaan pembentukan kota global Jakarta yang dibuat oleh pemerintah setempat dengan bantuan Kearney. A&T Kearney adalah salah satu konsultan kawakan indeks kota global.

    Misalnya, pemerintah Jakarta ingin membangun tanggul raksasa (giant sea wall) untuk menyelesaikan permasalahan tenggelamnya Jakarta. Padahal, proyek tersebut terbukti memiliki efek samping yang cukup buruk bagi lingkungan sekitar yang diakibatkan oleh pengambilan air tanah.

    Selain itu, pemerintah Jakarta cukup bersemangat menggaungkan privatisasi penuh untuk membuka keterlibatan swasta dan meningkatkan investasi. Padahal, di Jakarta, privatisasi penuh penyedia air minum telah gagal mencapai target akses air merata dan berkualitas—suatu fakta yang ironisnya diakui oleh rencana yang sama.

    Terlebih, aksi privatisasi di perkotaan memiliki reputasi buruk di tingkat global karena kerap meminggirkan kesejahteraan warga.

    Kota global untuk apa dan siapa?
    Kapitalisme dan kesenjangan merupakan bagian tidak terpisahkan di balik kesukseskan sebuah kota global.

    Perwakilan pemerintah Jakarta pun telah mengakui bagaimana kesenjangan tidak bisa dihilangkan sepenuhnya untuk mencapai status kota global. Mereka berjanji bahwa kesenjangan tersebut diwujudkan untuk kebaikan yang lebih besar tanpa mengorbankan mereka yang berkekurangan.

    Namun, kita membutuhkan percakapan yang lebih jujur. Sejarah kota global menunjukkan bahwa kelompok miskin justru semakin terpinggirkan ketika mereka yang berpunya menjadi semakin kaya.

    Selain itu, sering terdapat perbedaan antara apa yang dikatakan dan dilakukan pemerintah. Misalnya, pemerintah acap kali mengecam neoliberalisme ketika pada kenyataannya kebijakan yang diambil seringlah berwatak neoliberal.

    Pada akhirnya, kita sebaiknya tidak “berdamai” dengan kota global. Kita harus berimajinasi melampaui konsep kota global—terutama untuk menghargai kebutuhan warga miskin dan terpinggirkan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Farhan Anshary (Mahasiswa Doktoral, Newcastle University)