Jakarta Diproyeksikan Menjadi Kota Global, Apa Saja Kriterianya?

Written by

in


7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menghadiri sesi pembukaan High Level Political Forum on Sustainable Development (HLPF) di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat.

Kesempatan ini dimenfaatkan Pramono Anung untuk menyatakan tekad DKI Jakarta masuk dalam jajaran 50 kota global pada 2045.

“Jakarta bukan lagi hanya ibu kota administratif, tapi harus naik kelas sebagai kota global, sehingga penting bagi kami untuk aktif dalam diplomasi global,” ujar Pramono melalui keterangan tertulis, Selasa (15/7/2025)

Kehadiran Pramono Anung yang didampingi Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, dalam forum internasional bergengsi ini menandai momen bersejarah bagi Jakarta. Untuk pertama kalinya Gubernur DKI diundang secara resmi oleh PBB untuk terlibat langsung dalam perumusan agenda pembangunan berkelanjutan tingkat global.

Adapun forum ini merupakan panggung strategis bagi para pemimpin dunia, diplomat, dan kepala pemerintahan daerah untuk membahas pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) dan tantangan global yang tengah dihadapi.

Kehadiran Jakarta dalam forum ini mencerminkan pengakuan internasional atas transformasi kota menuju kota global yang inklusif, resilien, dan berkelanjutan.

Lantas, apa sebenarnya kota global? Menurut Britannica, kota global adalah kota yang berfungsi sebagai simpul utama dalam jaringan ekonomi global.

Konsep kota global berasal dari geografi dan studi perkotaan, berdasarkan tesis bahwa globalisasi telah menciptakan hierarki lokasi geografis strategis dengan berbagai tingkat pengaruh terhadap keuangan, perdagangan, dan budaya di seluruh dunia.

Baca: Pramono Anung targetkan Jakarta menjadi Kota Global Berbudaya

Kota global merupakan pusat yang paling kompleks dan signifikan dalam sistem internasional, yang dicirikan oleh keterkaitannya dengan kota-kota lain yang memiliki dampak langsung dan nyata terhadap urusan sosial ekonomi global.

Kriteria kota global bervariasi tergantung pada sumbernya. Ciri-ciri umum meliputi tingkat pembangunan perkotaan yang tinggi, populasi yang besar, keberadaan perusahaan multinasional besar, sektor keuangan yang signifikan dan terglobalisasi.

Infrastruktur transportasi yang berkembang dengan baik dan terhubung secara internasional juga menjadi kriteria sebuah kota dikategorikan menjadi kota global.

Juga dengan dominasi ekonomi lokal atau nasional, lembaga pendidikan dan penelitian berkualitas tinggi, dan keluaran ide, inovasi, atau produk budaya yang berpengaruh secara global.

Peringkat kota global banyak jumlahnya. Tetapi Kota New York, London, Tokyo, dan Paris adalah kota-kota yang paling sering disebutkan sebagai kota global

Asal dan terminologi
Dilansir dari wikipedia, istilah kota global dipopulerkan oleh sosiolog Saskia Sassen dalam bukunya tahun 1991, The Global City: New York, London, Tokyo.

Sebelumnya, istilah lain digunakan untuk pusat kota dengan fitur yang kurang lebih sama. Istilah ‘kota dunia’, yang berarti kota yang sangat terlibat dalam perdagangan global, muncul dalam deskripsi Liverpool pada bulan Mei 1886, oleh The Illustrated London News. 

Sosiolog dan ahli geografi Inggris Patrick Geddes menggunakan istilah tersebut pada tahun 1915. Istilah ‘ megacity ‘ mulai umum digunakan pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, contoh paling awal yang diketahui adalah publikasi oleh University of Texas pada tahun 1904.

Baca: Butuh dana hingga Rp600 Triliun untuk mengantarkan Jakarta menjadi kota global

Pada abad ke-21, istilah tersebut biasanya difokuskan pada kekuatan finansial dan infrastruktur teknologi tinggi suatu kota .

Kelompok-kelompok yang bersaing telah merancang cara-cara yang bersaing untuk mengklasifikasikan dan memberi peringkat kota-kota dunia dan membedakannya dari kota-kota lain.

Meskipun kriteria sebuah kota global bervariasi dan sangat cair, karakteristik umum kota-kota dunia menurut Rosemary Pashley, dalam “HSC Geography” (Pascal Press, 2000) antara lain meliputi:

1. Menyediakan berbagai layanan keuangan internasional, khususnya di bidang keuangan, asuransi, real estate, perbankan, akuntansi, dan pemasaran; dan penggabungan kantor pusat keuangan, bursa saham, dan lembaga keuangan besar lainnya,

2. Kantor pusat sejumlah perusahaan multinasional,

3. Dominasi perdagangan dan ekonomi di wilayah sekitarnya yang luas,

4. Pusat manufaktur utama dengan fasilitas pelabuhan dan kontainer,

5. Kekuatan pengambilan keputusan yang cukup besar setiap hari dan di tingkat global,

Baca: Kritik terhadap rencana Jakarta menjadi kota global

6. Adanya pusat ide-ide baru dan inovasi dalam bisnis, ekonomi, dan budaya,

7. Adanya pusat media digital dan komunikasi lainnya untuk jaringan global,

8. Dominasi wilayah nasional dengan signifikansi internasional yang besar,

9. Tingginya porsi penduduk yang bekerja di sektor jasa dan sektor informasi,

10 Lembaga pendidikan berkualitas tinggi, termasuk universitas dan fasilitas penelitian ternama; dan menarik kehadiran mahasiswa internasional,

11. Adanya infrastruktur multifungsi yang menawarkan beberapa fasilitas hukum, medis, dan hiburan terbaik di negara ini,

12. Keberagaman yang tinggi dalam bahasa, budaya, agama, dan ideologi.

Penulis: Esti Utami disarikan dari berbagai sumber.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *