Tag: kota yogyakarta

  • Code Fest: Kali Code, Pemukiman Kumuh dan Hari Jadi Kota Yogyakarta

    Code Fest: Kali Code, Pemukiman Kumuh dan Hari Jadi Kota Yogyakarta

    7cloud.asia – Memeriahkan HUT Kota Yogyakarta ke 269, Pemerintah Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Asosiasi Pemancingan Indonesia (APRI) DIY menggelar Code Fest #1 dengan mengusung tema “Memancing Sampah, Kumpulkan dan Musnahkan”.

    Code Fest bertujuan untuk membersihkan sampah di aliran Sungai Code dan melakukan pemusnahan sampah secara tuntas demi terciptanya lingkungan sungai dan sekitarnya yang lebih bersih, sehat dan lestari.

    Dibuka oleh Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo di kawasan taman Kewek Kotabaru Yogyakarta pada Sabtu, (4/10/2025), Code Fest diramaikan dengan aksi reresik atau bebersih sungai dan penebaran 18 kantong benih ikan untuk pemulihan ekosistem sungai Code.

    Dalam sambutannya, Hasto mengungkapkan keinginannya untuk membuat Sungai Code bisa menjadi indah dan bersih seperti sungai-sungai di luar negeri yang juga bisa menjadi destinasi wisata dan

    “Untuk mewujudkannya kita perlu reresik kali, tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah dari rumah dan menghabiskan makanan sebagaimana semangat dari program Mas Jos,” ujarnya

    Sungai Code atau Kali Code merupakan sungai legendaris yang membelah Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sungai Code berhulu di Sungai Boyong di lereng Gunung Merapi.

    Baca: IPAL komunal di pemukiman pinggir Sungai Code

    Sungai Code yang muaranya menyatu dengan Kali Opak di Samudera Indonesia ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Yogyakarta. Aliran Kali Code melintasi tiga wilayah kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

    Dengan panjang sekitar 41 kilometer, luasan Daerah aliran Kali Code mencapai lebih dari 4.006,25 hektare.

    Melansir perkim.id, bantaran Kali Code menjadi salah satu lokasi kawasan permukiman kumuh di Kota Yogyakarta. Dulunya, banyak rumah-rumah yang terbuat dari kardus, seng bekas, plastik dan tidak tertata namun secara bertahap mulai ditata rapi (Kognisi, 2023).

    Penataan antara lain pernah dilakukan di Kampung Code Utara, di tahun 1980an. Berlokasi di Kampung Romo Mangun yang ada di Kampung Code Utara di RT 001 RW 001, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta.

    Dilansir Kompas.com, awalnya wilayah itu dihuni para gelandangan, pemulung, serta kelompok masyarakat yang berasal dari luar Yogyakarta dan tak memiliki rumah.
    Masyarakat tinggal dengan mendirikan rumah dari kardus-kardus bekas yang disusun sedemikian rupa dengan atap dilapisi plastik agar tidak rusak terkena air hujan.

    Sementara lantai rumah hanya berupa tanah dan sehingga warga tidur juga hanya beralas kardus dengan kondisi seadanya. Kemudian pada tahun 1980-an, pemerintah kota Yogyakarta berencana menggusur pemukiman di Kali Code karena dijadikan kawasan hijau.

    Baca: Darurat sampah di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya teratasi

    Namun, rencana itu urung dilakukan karena ditentang sejumlah pihak termasuk oleh sosok rohaniwan dan budayawan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (YB Mangunwijaya) yang akrab dipanggil Romo Mangun.

    Romo Mangun bahkan sempat tinggal di kampung tersebut selama beberapa tahun dan merancang sejumlah rumah berbahan bambu sebagai tempat tinggal warga.

    Peran Romo Mangun dalam membantu warga di Kali Code salah satunya dengan mencanangkan program tribina yang terdiri dari bina manusia, bina lingkungan, dan bina sosial.

    Penataan Kampung Code Utara yang diinisiasi Romo Mangun itu bahkan mendapat penghargaan internasional Aga Khan Award for Architecture pada 1992.

    Di beberapa titik lainnya, penataan juga masih dilakukan secara mandiri, terutama dengan bantuan pemerintah dan swasta. Beberapa titik kampung Code telah dimanfaatkan warga sebagai objek wisata perkotaan dengan menghiasi kampung dengan mural dan cat warna-warni untuk menarik kunjungan wisatawan.

    Kampung Jetisharjo merupakan salah satu kawasan permukiman kumuh di bantaran Kali Code yang dalam proses penanganannya dilakukan dengan melibatkan masyarakat untuk dijadikan kampung wisata.

    Baca: Jaringan kota pusaka Indonesia perkenalkan sumbu filosofi

    Ancaman banjir lahar dingin
    Menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, bukan berarti Sungai Code tidak menyimpan ancaman. Tak hanya ancaman banjir, Kali Code juga memiliki potensi bahaya banjir lahar dingin yang membawa material dari Gunung Merapi.

    Setiap datang musim hujan terutama jika aktivitas Gunung Merapi mengalami peningkatan, masyarakat yang tinggal di bantaran Kali Code harus waspada jika banjir sudah memasuki wilayah permukiman.

    Guguran material lahar dingin berupa batu dan pasir terbawa air, kadang juga menghanyutkan batang-batang pohon besar yang berada di hulu sungai.

    Banjir lahar dingin terparah terjadi pada tahun 2010, atau pasca kejadian erupsi Gunung Merapi. Saat itu banjir lahar dingin akan terjadi jika curah hujan di puncak Gunung Merapi mencapai 30 milimeter/jam, dan berlangsung terus menerus selama tiga jam.

    Bantaran Kali Code, terutama di wilayah antara Jembatan Gondolayu hingga Jembatan Jambu memiliki kerawanan banjir lahar dingin yang cukup tinggi.

    Jarak antara pemukiman yang padat dengan sungai hanya sekitar dua meter dengan batas tanggul penahan yang langsung bersisian dengan aliran sungai.

  • Sebagian Besar Wilayahnya Masuk Kawasan Cagar Budaya, Pemkot Yogyakarta Gandeng IAI dalam Pembangunan Kota

    Sebagian Besar Wilayahnya Masuk Kawasan Cagar Budaya, Pemkot Yogyakarta Gandeng IAI dalam Pembangunan Kota

    7cloud.asia – Sekitar 60 persen kawasan di Kota Yogyakarta merupakan kawasan cagar budaya meliputi Kotagede, Pakualaman, dan Keraton sehingga peran arsitek dalam pelestarian menjadi sangat penting.

    Untuk itu Pemerintah Kota Yogyakarta akan membangun sinergi dengan Ikatan Arsitek Indonesia atai IAI DIY untuk membangun tata kota yang berbasis kearifan lokal dan menjaga dan memperkuat karakter khas Yogyakarta.

    “Jogja ini gudangnya orang pintar, gudangnya arsitek. Tapi saya jujur, kadang miris. Banyak tempat di kota ini yang sebetulnya bisa digarap dan didesain teman-teman IAI agar benar-benar menjadi Kota Yogyakarta yang sejogja-jogjanya,” ujar Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan saat menghadiri Peringatan HUT ke-50 IAI DIY, Sabtu (1/11/2025).

    Dilansir yogyakarta.go.id, Wawan menyampaikan bahwa Pemerintah Kota sangat terbuka terhadap kolaborasi dengan para arsitek dalam setiap upaya penataan kota.

    “Kami di pemerintah berharap besar kepada IAI. Kalau belum ada kerja sama resmi, nanti bisa segera kita tindak lanjuti. Saya siap percepat, kalau bisa Senin depan sudah jalan. Pemerintah sekarang harus sat-set bat-bet, Jogja ini nggak bisa ditunggu,” ungkap Wawan.

    Menurut Wawan, kehadiran IAI sangat penting untuk memastikan pembangunan kota berjalan sejalan dengan nilai budaya dan filosofi Yogyakarta.

    Baca: Revitalisasi Kota Yogyakarta setelah Sumbu Filosofi diakui sebagai warisan budaya dunia

    “Kami ingin desain kota ini mengandung local wisdom. Seperti di wilayah selatan, misalnya Mantrijeron, itu bagian dari Sumbu Filosofi. Maka desainnya harus seragam dan selaras dengan karakter Sumbu Filosofi. Kita juga ingin ada penanda khas di pintu masuk kota supaya orang yang datang langsung tahu: ini Jogja,” jelasnya.

    Wawan juga mengapresiasi program IAI DIY yang mendorong keterlibatan arsitek di tingkat kampung. Dia ingin bermitra dengan IAI untuk membantu mendesain 169 kampung di Kota Yogyakarta supaya punya kekhasan Jogja yang kuat

    Ketua IAI Daerah Istimewa Yogyakarta, Erlangga Winoto, menyambut baik rencana kerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta.

    Ia menjelaskan bahwa IAI telah memiliki sejumlah program yang sejalan dengan visi Pemkot dalam mewujudkan tata kota yang berbasis budaya dan partisipatif.

    “Sejak 17 Agustus 2025 kami sudah me-launching program Satu Kampung Satu Arsitek. Program ini sebenarnya sudah berjalan sejak 2017, dan kini kami jadikan program resmi bidang Pengabdian Profesi,” ungkap Erlangga.

    Melalui program tersebut, IAI DIY berkomitmen memberikan pendampingan desain kepada masyarakat di tingkat kampung secara terintegrasi.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    “Biasanya kami mulai dari penyusunan masterplan. Kalau kampung itu belum punya, kami bantu membuatkan. Setelah itu hasilnya bisa dibawa ke forum Musrenbang untuk disepakati bagian mana yang akan dikerjakan lebih dulu. Jadi pembangunan kampung bisa terarah dan tidak parsial,” jelasnya.

    Erlangga menambahkan, IAI DIY pernah bekerja sama dengan Pemkot Yogyakarta pada tahun 2021 dalam penyusunan Masterplan Kampung di tiga lokasi, yaitu di Kemantren Mantrijeron, Kelurahan Wirogunan, dan Karangwaru.

    “Kami ingin mengulang lagi success story tersebut di kampung-kampung lain. Tinggal nanti secara legal kita inisiasi MoU dengan Pemkot,” ujarnya.

    Selain fokus pada kampung, IAI DIY juga menaruh perhatian besar terhadap penguatan kawasan Sumbu Filosofis.

    “Kami sudah memiliki 108 arsitek berlisensi yang secara mandatori berhak menjadi penanggung jawab dokumen Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), terutama di kawasan Sumbu Filosofis. Mereka sudah dibekali pemahaman terhadap regulasi dan kearifan lokal,” papar Erlangga.

    Dari total sekitar 1.300 anggota IAI DIY, sejumlah 108 arsitek di antaranya telah berlisensi resmi yang diterbitkan oleh DPMPTSP DIY bekerja sama dengan Dinas PUPESDM DIY.

    “Mereka yang berlisensi inilah yang memahami regulasi lokal dan menjadi penanggung jawab dokumen resmi bangunan di kawasan cagar budaya. Jadi masyarakat dan pemerintah tidak perlu khawatir, karena semua sesuai regulasi dan nilai budaya Jogja,” tegasnya.

  • Pasar Tradisional di Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Tujuan Wisatawan

    Pasar Tradisional di Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Tujuan Wisatawan

    7cloud.asia – Geliat ekonomi di sejumlah pasar tradisional di Kota Yogyakarta justru terus menunjukkan tren positif meski libur Lebaran telah usai.

    Tingkat kunjungan masyarakat, baik wisatawan maupun warga lokal, ke pasar tradisional di Kota Yogyakarta masih tinggi bahkan hingga H+4 Lebaran.

    Selain Pasar Beringharjo, pasar tradisional di Kota Yogyakarta yang juga menjadi tujuan wisatawan adalah Pasar Ngasem dan Pasar Kranggan

    Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, mengungkapkan tingginya kunjungan ini tidak lepas dari posisi strategis pasar-pasar tersebut yang berada di jalur sumbu filosofi Yogyakarta.

    Seperti diketahui sumbu filosofi Yogyakarta membentang mulai dari kawasan Tugu, Malioboro, hingga Ngasem, yang menjadi magnet wisatawan.

    “Pasar-pasar ini kini tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga destinasi wisata. Wisatawan datang untuk berbelanja sekaligus menikmati suasana dan kuliner khas,” katanya dikutip laman resmi kota Yogyakarta, yogyakarta.go.id.

    Baca: 153 Pasar tradisional di Jakarta bakal dijadikan ruang perjumpaan budaya

    Ia menambahkan, dari hasil pemantauan, wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari dalam daerah, tetapi juga dari luar kota seperti Surabaya, Jakarta, hingga luar Pulau Jawa.

    Pihaknya berharap, tren positif kunjungan wisatawan ke pasar tradisional terus berlanjut hingga akhir masa libur.

    “Kami berharap sampai akhir pekan ini wisatawan tetap ramai. Yogyakarta ini kan dikenal dengan ‘everyday is holiday’, jadi setiap hari selalu ada aktivitas wisata,” imbuhnya.

    Sementara itu, salah seorang pengunjung, Tiwi (56) mengungkapkan, walaupun berdempet-dempetan saat berbelanja, pihaknya senang karena bisa melihat dan berbelanja secara langsung kain batik sesuai dengan keinginannya.

    “Wajar kalau banyak pengunjung berbelanja batik disini. Selain murah kualitasnya juga bagus. Walaupun berdesak-desakan yang penting sabar,” ungkapnya.

    Sejak sebelum Lebaran
    Ambar mengatakan, peningkatan aktivitas pasar sudah terlihat sejak beberapa hari sebelum Lebaran. Bahkan, omzet pedagang mengalami kenaikan signifikan.

    Baca: Tranformasi pasar tradisional menuju Jakarta Kota Global

    “Sekitar tiga hari sebelum Lebaran, pasar-pasar mulai ramai. Masyarakat berburu kebutuhan pokok untuk persiapan hari raya. Secara umum, omzet pedagang meningkat antara 30 hingga 80 persen, tergantung jenis dagangannya,” ujarnya.

    Menurutnya, fenomena menarik terjadi di Pasar Beringharjo. Jika pada tahun-tahun sebelumnya pasar sudah ramai sejak H-7 Lebaran, tahun ini lonjakan pengunjung justru datang saat mendekati hari H.

    “Awalnya sempat ada kekhawatiran karena H-7 belum terlihat peningkatan signifikan. Pedagang juga mulai bertanya-tanya. Namun setelah itu, kunjungan meningkat drastis hingga penuh menjelang Lebaran,” jelasnya.

    Ia menambahkan, sebelum Lebaran, permintaan tertinggi terjadi pada kebutuhan pokok. Sementara di lantai dua Pasar Beringharjo, penjualan busana muslim melonjak tajam.

    Sedangkan pasca Lebaran, pasar Beringharjo tetap dipadati pengunjung. Bahkan pada hari H Lebaran sudah tercatat ribuan wisatawan yang datang.

    Baca: Pasar Baru akan direvitalisasi menjadi ikon Jakarta

    Ambar mengungkapkan, data menunjukkan, pada tanggal 21 Maret 2026 sudah tercatat sekitar 6.000–7.000 pengunjung, dengan puncak kunjungan mencapai 17.248 orang pada 23 Maret.

    “Angka kunjungan saat ini masih stabil di kisaran 15.000 hingga 17.000 pengunjung per hari. Memang sedikit lebih rendah dibandingkan puncak libur Tahun Baru yang mencapai lebih dari 21.000, tetapi tetap sangat tinggi,” ungkapnya.

    Tingginya kunjungan ini, lanjut Veronica, dipengaruhi oleh panjangnya masa libur Lebaran tahun ini. Jadwal masuk sekolah yang lebih lambat membuat wisatawan memiliki waktu lebih fleksibel untuk berlibur, sehingga tidak terjadi penumpukan pada satu hari tertentu.

    Selain Pasar Beringharjo, pasar lain seperti Pasar Kranggan dan Pasar Ngasem juga mengalami lonjakan kunjungan.

    Di mana Pasar Kranggan tercatat sekitar 9.478 pengunjung, sementara Pasar Ngasem mencapai 8.222 pengunjung dan jumlah ini meningkat dibandingkan periode libur Natal dan Tahun Baru.

  • Mengintip Program Mundur, Munggah dan Madhep Kali dalam Penataan Pemukiman Pinggir Sungai Code

    Mengintip Program Mundur, Munggah dan Madhep Kali dalam Penataan Pemukiman Pinggir Sungai Code

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan penataan kawasan sepanjang Sungai Code dapat diselesaikan dalam empat tahun ke depan melalui program Mundur, Munggah dan Madhep Kali (mundur, naik dan menghadap sungai/M3K).

    Rumah-rumah yang ada juga akan dimundurkan sehingga tidak lagi menempel badan sungai, sehingga tersedia space yang cukup untuk berkegiatan.

    ”Penataan dilakukan bersama perguruan tinggi melalui program One Village One Sister University,” kata Hasto saat mendampingi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah, Gusti Kanjeng Ratu Hemas melakukan kegiatan reses penyerapan aspirasi masyarakat ke Kampung Terban Madani, Kota Yogyakarta, Senin (11/5/2026).

    Menurut Hasto, sejumlah kampung di pinggir Sungai Code telah mendapat pendampingan dari perguruan tinggi dan mitra perusahaan dalam penataan kawasan dan pengembangan destinasi wisata berbasis lingkungan.

    Ia juga mengakui tantangan terbesar dalam penataan kawasan bukan hanya pembangunan fisik, tetapi perubahan perilaku masyarakat terkait kebersihan dan pengelolaan lingkungan.

    “Tantangan paling besar adalah rekonstruksi sosial dan perubahan perilaku. Karena kalau perilaku tidak berubah, sampah akan tetap ada,” ujarnya.

    Baca: Kali Code, Pemukiman Kumuh dan Hari Jadi Kota Yogyakarta

    Dalam kunjungan tersebut, GKR Hemas didampingi Hasto Wardoyo meninjau langsung pembangunan Perumahan dan Permukiman Layak Huni (MAHANANI) di kawasan RW 01 RT 02 Kelurahan Terban, Kemantren Gondokusuman.

    Program tersebut menjadi bagian dari inovasi penanganan permukiman kumuh melalui konsep konsolidasi lahan yang mengedepankan partisipasi masyarakat dalam seluruh tahapan perencanaan.

    Konsolidasi lahan diawali di tanah Kasultanan yang ditempati warga masyarakat dengan pendekatan humanis tanpa penggusuran.

    Pemerintah Kota Yogyakarta juga terus berkomitmen menangani kawasan kumuh melalui pola pemugaran dengan konsep Mundur, Munggah dan Madhep Kali (M3K).

    Saat ditemui, GKR Hemas mengapresiasi penataan kawasan Terban Madani yang dinilai telah berjalan cukup baik, terutama dalam menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar.

    “Penataan ruang di kawasan ini sudah cukup bagus. Saya lihat penataan yang sedang berjalan juga semakin banyak. Yang penting sungainya sudah bersih,” jelasnya

    Baca: Romo Mangun, Arsitek Humanis yang Concern terhadap Pemukiman di Sungai Code

    Menurutnya, komunikasi dengan warga menjadi aspek terpenting dalam proses penataan kawasan bantaran sungai.

    Ia menegaskan penanganan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

    “Kita tidak bisa sistemnya menggeser atau memindah begitu saja. Justru kita harus menghargai bahwa penduduk yang tinggal di bantaran sungai membutuhkan penanganan khusus dengan cara-cara yang lebih manusiawi,” katanya.

    Gusti Hemas juga mengapresiasi langkah cepat Wali Kota Yogyakarta dalam melakukan penataan kota, khususnya dalam penanganan persoalan sampah dan kebersihan lingkungan.

    “Penataan ruang itu penting. Tidak ada lagi sampah menumpuk di pojok jalan. Sebagai Kota Pariwisata dan Kota Pendidikan, kesadaran masyarakat dan wisatawan untuk membuang sampah dengan baik juga harus terus dibangun,” tambahnya.

    Selain menyoroti penataan kawasan Sungai Code, GKR Hemas menekankan pentingnya pendekatan budaya dalam pembangunan kota Yogyakarta. Menurutnya, budaya bukan hanya soal kesenian, tetapi juga cara hidup masyarakat Yogyakarta yang harus terus dijaga.

    “Pendekatan pembangunan itu juga harus berbudaya. Budaya bukan sekadar tarian, tetapi bagaimana cara hidup masyarakat Jogja tetap dijaga,” ujarnya.

    Baca: Pembangunan IPAL Komunal di Pemukiman Pinggir Sungai Code

    Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Umi Akhsanti menjelaskan penataan kawasan Terban Madani dilakukan melalui proses panjang.

    Dia memaparkan, sebanyak 22 kepala keluarga yang sebelumnya tinggal di area rawan longsor kini telah menempati hunian baru yang ditata melalui proses dialog intensif bersama warga.

    “Kami door to door mendiskusikan desain rumah bersama warga. Pendampingannya juga dibantu mahasiswa dari UII sehingga masyarakat benar-benar dilibatkan,” jelas Umi.

    Ia menyebut desain kawasan sepanjang Sungai Code disusun bersama perguruan tinggi, termasuk Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia, dengan tetap mempertimbangkan proporsi lahan yang sebelumnya dimiliki warga.

    Salah satu warga Terban, Harjono menyampaikan, rasa syukur atas pembangunan hunian baru yang dinilai jauh lebih layak dibanding kondisi sebelumnya di bantaran sungai.

    Ia berharap, pemerintah juga dapat membantu peningkatan ekonomi masyarakat karena biaya hidup warga meningkat setelah menempati rumah baru.

    “Kami berharap ada dukungan untuk meningkatkan ekonomi warga karena kebutuhan sekarang juga bertambah,” imbuhnya.

    Selain itu, Ia juga berharap proses pengurusan kekancingan atau legalitas tanah Kasultanan dapat dipermudah agar masyarakat memperoleh kepastian hukum atas hunian yang ditempati.

  • Perencanaan Matang dan Nilai Filosofi Tinggi di Balik Pengembangan Kota Yogyakarta

    Perencanaan Matang dan Nilai Filosofi Tinggi di Balik Pengembangan Kota Yogyakarta

    7cloud.asia – Kota Yogyakarta yang tahun ini merayakan hari jadinya yang ke 271 dilahirkan dari perencanaan yang matang dan pemilihan lokasi yang sangat cermat dari pendirinya, yakni Pangeran Mangkubumi

    Hal itu terungkap dalam webinar bertajuk Kawasan Rendah Emisi di Kawasan Heritage: Menjaga Warisan Budaya dan Udara Bersih di Kota Bersejarah yang dipantau secara daring pada Jumat (5/6/2026).

    Dipaparkan Kanjeng Mas Tumenggung Yudawijaya dari Keraton Yogyakarta, kelahiran Kota Yogyakarta berawal dari Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada 13 Februari 1755.

    Adapun isi Perjanjian Giyanti antara lain adalah Kerajaan Mataram dibagi menjadi yakni Keraton Surakarta yang menguasai separuh wilayah Kerajaan Mataram, dan setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi.

    Dalam perjanjian itu, Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

    Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

    Baca: 271 Tahun Kota Yogyakarta, Berawal dari Perjanjian Giyanti Kini Menjadi Ruang Gagasan dan Ruang Budaya

    Adapun, tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini adalah sebuah desa kecil bernama Pachetokan, yang di sana telah terrdapat sebuah pesanggrahan dinamai Garjitowati.

    Pesanggrahan ini dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya.

    “Lokasi desa ini tepat berada di tengah-tengah Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo, yang diapit dua sungai yakni Sungai Code dan Sungai Winongo,“ Yudawijaya.

    Dia menjelaskan, elemen-elemen alam inilah yang kemudian melahirkan Sumbu Filosofi yang memengaruhi tatanan Kota Yogyakarta.

    Tak berhenti di sini, Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar sebagai Sultan Hamengkubuwono I ini juga sangat cermat merencanakan sumber air bagi kelangsungan kehidupan keraton.

    Ia kemudian membangun jagang (saluran air) untuk mengalirkan air dari Sungai Code dan Sungai Winongo untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk warga Keraton yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal Kota Yogyakarta.

    Baca: Makna Sumbu Filosofi dalam Tata Kota Yogyakarta

    “Meski jagang ini telah banyak yang hilang dan mengering, sisanya masih bisa ditemukan di sejumlah titik,“ terang Yudawijaya yang bertanggungjawab menangani aset-aset keraton Yogyakarta ini.

    Nilai filosofi mendalam
    Yudawijaya menjelaskan pemilihan lokasi Kota Yogyakarta di tengah-tengah Gunung Merapi dan Laut Selatan menyimpan filosofi mendalam.

    Gunung Merapi adalah gunung berapi yang sangat aktif, sementara Pantai selatan adalah samudera yang bergelora.

    Jadi keduanya mewakili elemen alam yang berbeda. Gunung Merapi, lanjut Yudhawijaya, mewakili api, sementara Laut Selatan mewakili air.

    Yudawijaya melihat, pemilihan lokasi Kota Yogyakarta mencerminkan adanya upaya Pangeran Mangkubumi untuk selalu berada di titik keseimbangan atau mencari titik tengah.

    “Saya memaknai dengan upaya mencari keseimbangan atau keselarasan,“ terang laki-laki alumni Teknik Arsitektur UGM ini.

    Baca: UNESCO Akui Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Warisan Dunia

    Dari pemikiran ini, maka lahirlah tiga tata nilai dalam pengelolaan Kerajaan Mataram Islam yakni sangkan paraning dumadi, hamemayu hayuning bawono dan manunggaling kawulo gusti.

    Sangkan paraning dumadi adalah konsep spiritual dan filosofi Jawa yang berarti kesadaran manusia tentang asal-usul dan tujuan akhir kehidupannya. Konsep ini mengingatkan manusia sebagai ciptaan Tuhan.

    Sementara, manunggaling kawulo gusti tak hanya mengingatkan kemanunggalan manusia dengan Tuhan Sang Pencipta, tetapi juga bersatunya rakyat dengan kepemimpinannya.

    Terakhir Memayu hayuning bawana, adalah kesadaran bahwa manusia hadir di muka Bumi dengan mengemban mandat untuk merawat.

    Dalam tata nilai ini, manusia dituntut untuk selalu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadinya dengan keselarasan dengan lingkungan sekitar

    Tiga konsep inilah yang melahirkan dan menguatkan sumbu filosofis Yogyakarta, yang oleh UNESCO diakui sebagai warisan budaya dunia. Bahkan UNESCO telah menobatkan sumbu filosofis menjadi The Outstanding Human Value.