7cloud.asia – Kota Yogyakarta yang tahun ini merayakan hari jadinya yang ke 271 dilahirkan dari perencanaan yang matang dan pemilihan lokasi yang sangat cermat dari pendirinya, yakni Pangeran Mangkubumi
Hal itu terungkap dalam webinar bertajuk Kawasan Rendah Emisi di Kawasan Heritage: Menjaga Warisan Budaya dan Udara Bersih di Kota Bersejarah yang dipantau secara daring pada Jumat (5/6/2026).
Dipaparkan Kanjeng Mas Tumenggung Yudawijaya dari Keraton Yogyakarta, kelahiran Kota Yogyakarta berawal dari Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada 13 Februari 1755.
Adapun isi Perjanjian Giyanti antara lain adalah Kerajaan Mataram dibagi menjadi yakni Keraton Surakarta yang menguasai separuh wilayah Kerajaan Mataram, dan setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi.
Dalam perjanjian itu, Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.
Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.
Adapun, tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini adalah sebuah desa kecil bernama Pachetokan, yang di sana telah terrdapat sebuah pesanggrahan dinamai Garjitowati.
Pesanggrahan ini dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya.
“Lokasi desa ini tepat berada di tengah-tengah Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo, yang diapit dua sungai yakni Sungai Code dan Sungai Winongo,“ Yudawijaya.
Dia menjelaskan, elemen-elemen alam inilah yang kemudian melahirkan Sumbu Filosofi yang memengaruhi tatanan Kota Yogyakarta.
Tak berhenti di sini, Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar sebagai Sultan Hamengkubuwono I ini juga sangat cermat merencanakan sumber air bagi kelangsungan kehidupan keraton.
Ia kemudian membangun jagang (saluran air) untuk mengalirkan air dari Sungai Code dan Sungai Winongo untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk warga Keraton yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal Kota Yogyakarta.
Baca: Makna Sumbu Filosofi dalam Tata Kota Yogyakarta
“Meski jagang ini telah banyak yang hilang dan mengering, sisanya masih bisa ditemukan di sejumlah titik,“ terang Yudawijaya yang bertanggungjawab menangani aset-aset keraton Yogyakarta ini.
Nilai filosofi mendalam
Yudawijaya menjelaskan pemilihan lokasi Kota Yogyakarta di tengah-tengah Gunung Merapi dan Laut Selatan menyimpan filosofi mendalam.
Gunung Merapi adalah gunung berapi yang sangat aktif, sementara Pantai selatan adalah samudera yang bergelora.
Jadi keduanya mewakili elemen alam yang berbeda. Gunung Merapi, lanjut Yudhawijaya, mewakili api, sementara Laut Selatan mewakili air.
Yudawijaya melihat, pemilihan lokasi Kota Yogyakarta mencerminkan adanya upaya Pangeran Mangkubumi untuk selalu berada di titik keseimbangan atau mencari titik tengah.
“Saya memaknai dengan upaya mencari keseimbangan atau keselarasan,“ terang laki-laki alumni Teknik Arsitektur UGM ini.
Baca: UNESCO Akui Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Warisan Dunia
Dari pemikiran ini, maka lahirlah tiga tata nilai dalam pengelolaan Kerajaan Mataram Islam yakni sangkan paraning dumadi, hamemayu hayuning bawono dan manunggaling kawulo gusti.
Sangkan paraning dumadi adalah konsep spiritual dan filosofi Jawa yang berarti kesadaran manusia tentang asal-usul dan tujuan akhir kehidupannya. Konsep ini mengingatkan manusia sebagai ciptaan Tuhan.
Sementara, manunggaling kawulo gusti tak hanya mengingatkan kemanunggalan manusia dengan Tuhan Sang Pencipta, tetapi juga bersatunya rakyat dengan kepemimpinannya.
Terakhir Memayu hayuning bawana, adalah kesadaran bahwa manusia hadir di muka Bumi dengan mengemban mandat untuk merawat.
Dalam tata nilai ini, manusia dituntut untuk selalu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadinya dengan keselarasan dengan lingkungan sekitar
Tiga konsep inilah yang melahirkan dan menguatkan sumbu filosofis Yogyakarta, yang oleh UNESCO diakui sebagai warisan budaya dunia. Bahkan UNESCO telah menobatkan sumbu filosofis menjadi The Outstanding Human Value.

Leave a Reply