Tag: lahan

  • Kebakaran di TPA Purbahayu Pangandaran, Sudah Empat Hari Belum Padam

    Kebakaran di TPA Purbahayu Pangandaran, Sudah Empat Hari Belum Padam

    7cloud.asia – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini kebakaran terjadi di TPA Purbahayu, Pangandaran, Jawa Barat.

    Kebakaran di TPA Purbahayu sudah memasuki hari keempat, namun hingga kini api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran di Provinsi Jawa Barat telah berupaya mencegah kebakaran di TPA Purbahayu tersebut meluas ke lahan warga.

    Baca: Rencana Pemprov Jabar pasca kebakaran di TPA Sarimukti

    Melansir Antaranews, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Untung Saeful Rokhman menjelaskan pihaknya melakukan penyekatan agar mata rantai api dapat terputus.

    “Kami berupaya untuk menyekat agar tidak melebar ke area lahan perkebunan warga,” ujar Untung.

    Lebih Ianjut Untung menjelaskan tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), dan Dinas Pemadam Kebakaran terus berupaya memadamkan api sejak Jumat (6/10/2023) lalu.

    Baca: Setelah TPA Piyungan terbakar, muncul gerakan Mbah Dirjo

    Pihaknya bersama DLHK dan Damkar melakukan penyekatan dengan menurunkan alat berat untuk memutus mata rantai api.

    Sampai saat ini petugas masih memantau titik api dan kepulan asap di fasilitas penanganan sampah tersebut.

    Selain itu mereka terus menyemprotkan air ke titik-titik api yang berada di dekat lahan milik warga.

    “Penyemprotan tetap dilakukan untuk antisipasi manakala ada yang di pinggir-pinggir lahan warga,” ucapnya.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan cara ditimbun di TPA sudah saatnya diakhiri

    Hingga kini, penyebab kebakaran di TPA Purbahayu ini belum diketahui pasti. Namun Untung memperkirakan pemicu kebakaran adalah sampah-sampah yang dapat menimbulkan percikan api.

    “Semacam power bank juga bisa menimbulkan percikan api. Terus sisa-sisa korek gas yang tidak terpakai. Jadi, sampah juga bisa mengakibatkan kebakaran, di saat panas meledak,” jelasnya.

    Sementara itu, Ketua Taruna Siaga Bencana Kabupaten Pangandaran, Nana Suryana menyampaikan bahwa anggotanya juga membantu penanganan kebakaran di TPA Purbahayu.

    “Kebakaran masih, dan terus dipantau,” ujar Nana.

    Baca: Pengelolaan sampah ala RDF yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, kebakaran di TPA Purbahayu mulai terjadi pada hari Jumat  (6/10/2023) sekitar pukul 22.30 WIB. Titik api berasal dari tengah, kemudian merambat dan terus meluas.

    Pemadaman api terus dilakukan sampai hari Minggu (8/10/2023), namun titik api terus bermunculan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • BMKG: Dampak El Nino 2023 Masih Terkendali

    BMKG: Dampak El Nino 2023 Masih Terkendali

    7cloud.asia – Dampak fenomena El Nino seperti kebakaran hutan, kekeringan, petani gagal panen masih dirasakan masyarakat. Dampak El Nino tahun ini disebut masih lebih kecil dan terkendali.

    Hal ini diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati usai konferensi pers Rapat Koordinasi Lintas Kementerian/Lembaga di Jakarta, Senin (09/10/2023).

    “Dampaknya lebih kecil dan terkendali dibandingkan El Nino pada 2015 dan 2019,” kata  Dwikorita dikutip Antaranews.

    Baca: BRIN perkirakan El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Fenomena El Nino menyebabkan adanya perubahan pola curah hujan, suhu udara yang meningkat, dan kecenderungan peningkatan titik panas di wilayah yang rawan kebakaran hutan dan lahan.

    Terkait karhutla, Dwikorita mengatakan pemerintah sudah berupaya membasahi lahan gambut sejak Februari sampai hari ini dengan melakukan TMC (teknologi modifikasi cuaca) yang fokus ke lahan yang berpotensi terbakar.

    “Meskipun masih ada yang terbakar karena pengaruh tangan manusia,” jelasnya.

    Baca: BMKG perkirakan musim kemarau akan berlangsung hingga akhir Oktober

    Menurut Dwikorita, dengan membasahi lahan gambut tersebut maka muka air tanah tidak kekurangan yang akhirnya dapat memicu karhutla.

    Selain itu, lanjut Dwikorita, TMC tidak hanya untuk membasahi lahan gambut, tapi juga menjaga kualitas udara di sekitar titik panas (hot spot) tidak semakin memburuk.

    Pemerintah melihat kualitas udara yang memburuk ini berkorelasi dengan titik api, tapi yang paling penting bagaimana mencegah titik api menyebar agar kualitas udara juga dipulihkan.

    Baca: Modifikasi dilakukan di kawasan rawan terjadi kebakaran lahan

    “Jadi TMC sasarannya tidak hanya mengantisipasi karhutla tapi juga memulihkan kualitas udara,” urainya.

    Meski beberapa daerah sudah mulai memasuki musim hujan, tetapi fenomena El Nino masih terus berlangsung hingga awal tahun 2024.

    “Saat musim hujan, pengaruh El Nino tidak sedahsyat saat ini. Diharapkan sesuai prediksi kemarau panjang ini berakhir di Oktober dan mulai transisi di November,” katanya.

    Baca: El Nino percepat cairnya salju abadi di Puncak Jaya

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Sejak Januari Hingga Awal Oktober, 2 Ribu Hektare Lahan di Riau Hangus Terbakar

    Sejak Januari Hingga Awal Oktober, 2 Ribu Hektare Lahan di Riau Hangus Terbakar

    7cloud.asia – Gubernur Riau, Syamsuar mengatakan, sejak Januari hingga 8 Oktober 2023 ada 2.169 titik api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla0 di provinsi tersebut.

    Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla ini menghanguskan lahan seluas 2.029,15 hektare di daerah itu. 

    “Dari 2.029,15 hektare lahan terbakar di Riau tersebut tersebar di kabupaten dan kota, dengan Kabupaten Rokan Hulu sebanyak 50,6 hektare lahan terbakar, kemudian Kabupaten Rokan Hilir 238 hektare,” katanya dalam rilis diterima di Pekanbaru.

    Baca Juga: Pemerintah Lakukan Modifikasi Cuaca di Sejumlah daerah yang Rawan Terjadi Karhutla  

    Selain itu lahan terbakar di Kota Dumai seluas 115,67 hektare, Bengkalis 398,29 hektare, Meranti 39,05 hektare, Siak 50,06 hektare, Pekanbaru 45,97 hektare,

    Di wilayah Kampar 193,09 hektare, Pelalawan 261,73 hektare, Indragiri Hulu 349,34 hektare, Indragiri Hilir 258,85 hektare, dan Kabupaten Kuantan Singingi 28,5 hektare.

    Berdasarkan data BPBD Riau, kata dia, hingga kini karhutla di Sungai Raya dan Sekip Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, sudah tidak ada titik api dan saat ini sedang dilakukan pendinginan.

    Baca Juga: BMKG: Musim Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

    “Pemprov Riau tetap berupaya memadamkan api dengan melalui pembentukan dan mengaktifkan posko Satgas Karhutla di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta posko lapangan di lokasi karhutla,” katanya.

    Selain itu menyiagakan seluruh sumber daya manusia dan sarana prasarana penanggulangan kebakaran hutan dan lahan seperti alat berat eskavator, mesin pompa pemadam, selang, kendaraan operasional.

    Untuk melokalisir karhutla juga dibangun sekat kanal, embung, menara pemantau api, dan lain-lain.

    Baca Juga: Karhutla Terjadi di Mana-mana, Semua Pihak Harus Bahu Membahu Memadamkan

    Pihaknya juga menyiapkan anggaran rutin dan biaya tanggap darurat untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

    “Satgas Karhutla gencar melakukan deteksi dini melalui aplikasi dashboard Lancang Kuning, Sipakar Riau, Sipongi KLHK, serta pantauan hotspot BMKG,” katanya.

    Pihaknya juga memperkuat Satgas Karhutla Riau dengan dua helikopter patroli (PK-RTX dan PK-ZGD), dua helikopter water bombing (C-FIZA dan N332N), satu pesawat TMC (Pilatus PC-6).

    Baca Juga: Hujan Deras, Banjir di Aceh Utara Meluas

    Kita, ujarnya,perlu terus mewaspadai arah angin yang mengarah dari tenggara ke barat laut-utara yang berpotensi mengirimkan asap ke wilayah Provinsi Riau sampai ke Malaysia dan Singapura.

    “Kami terus berupaya dalam mengendalikan karhutla di Riau, bahkan potensi personel yang siap ditugaskan sesuai kebutuhan sebanyak 17.764 orang,” kata Syamsuar. 

    Sumber: Antaranews

     

  • Marak Terjadi Saat Kemarau, KLHK Terapkan 3 Klaster Tangani Karhutla

    Marak Terjadi Saat Kemarau, KLHK Terapkan 3 Klaster Tangani Karhutla

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerapkan tiga klaster utama dalam menangani karhutla secara permanen.

    Selain adanya Instruksi Presiden (Inpres) No.3/2020 tentang Penanggulangan Karhutla, penerapan tiga klaster utama dalam solusi permanen penanganan karhutla menjadi penyebab turunnya jumlah hutan yang terbakar dan titik panas.

    Hal ini dijelaskan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Laksmi Dhewanthi seperti yang dilansir Antaranews.

    “Solusi permanen penanganan karhutla yang pertama berupa upaya penanggulangan berdasarkan analisis cuaca. BMKG sudah menginformasikan bahwa kita akan mengalami kemarau kering jadi sebelum masa krisis sudah dilakukan upaya seperti teknologi modifikasi cuaca,” jelas Laksmi.

    baca juga: kabut asap menyelimuti kota padang imbas kebakaran hutan dan lahan dari empat provinsi

    Klaster kedua yaitu pengendalian operasional dalam sistem Satgas Patroli terpadu di tingkat wilayah yang diperkuat oleh masyarakat, TNI, Polri, BNPB maupun BPBD.

    Lalu klaster terakhir yaitu pembinaan tata kelola lanskap, khususnya dalam ketaatan pelaku konsesi, praktik pertanian, dan penanganan lagan gambut.

    “Kita melakukan upaya pengelolaan lanskap antara lain praktek pembukaan lahan tanpa bakar, kalau pun dengan bakar itu ada teknisnya. Jadi teknisnya membakar balik dan sebagainya agar api bisa terkendali sehingga kebakaran hutan tidak sebesar atau tidak meluas,” ujarnya.

    Ketiga klaster tersebut dianggap telah berhasil menurunkan jumlah lahan yang terbakar dan sebaran titik panas (hotspot) di Indonesia.

    “Alhamdulillah, kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, sebetulnya saat ini dalam kondisi kering dan suhunya lebih tinggi dari 2019, tapi kalau kita lihat jumlah lahan yang terbakar dan kejadian atau sebaran hotspot itu lebih rendah dari pada 2019,” urai Laksmi.

    baca juga: marak kebakaran hutan klhk segel lahan milik pengusaha singapura

    Memang, jumlah hotspot masih dalam proses perhitungan, namun ia yakin jumlah sebaran di tahun 2023 ini jauh berkurang dari sebaran hotspot yang mencapai 5.106 titik pada periode 14-20 September 2019..

    Selain itu, Laksmi menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang selama ini terjadi di Indonesia sangat berdampak terhadap produksi emisi gas rumah kaca.

    Pada tahun 2015 dan 2019 dengan jumlah sebaran karhutla tinggi sangat berkorelasi terhadap peningkatan produksi emisi gas rumah kaca yang juga naik signifikan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kebakaran Gunung Merbabu Meluas, Hampir 500 Hektare Lahan Hangus

    Kebakaran Gunung Merbabu Meluas, Hampir 500 Hektare Lahan Hangus

    7cloud.asia – Kebakaran yang melanda lahan Taman Nasional Gunung Merbabu semakin meluas. Hingga Minggu (29/10/2023) lahan yang hangus mencapai 489,07 hektare.

    Hal ini diungkapkan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari pada Minggu.

    “Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB yang diterima pukul 08.12 WIB tercatat lahan Taman Nasional Gunung Merbabu terbakar seluas 489,07 ha,” jelasnya seperti dikutip Antaranews.

    Abdul Muhari mengatakan kebakaran hutan dan lahan Gunung Merbabu pertamakali terjadi sejak Jumat (27/10) di Desa Sokowolu, Kabupaten Semarang. Kebakaran tersebut masih belum dapat dipadamkan.

    baca: ketahuan gunung gede diduga sengaja dibakar

    Hingga kini, petugas gabungan masih berupaya memadamkan kebakaran hutan kawasan Gunung Merbabu di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang tersebar di lima dusun di Kecamatan Getasan.

    Titik-titik api tersebut antara lain tersebar di Dusun Batur Wetan, Pulihan, Macanan, Thekelan, serta Sokowolu.
    m
    Api kemudian menyebar hingga Puncak Syarif dan Puncak Suwanting derbabui wilayah Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

    Sementara lahan terbakar di wilayah Kabupaten Boyolali terpantau dalam skala kecil. “Sabana 2 yang berada di wilayah Selo, Boyolali terpantau masih aman,” ujarnya.

    baca: akibat pre wedding hampir 1000 hektar lahan bromo terbakar

    Sementara itu akibat kebakaran lahan ini, sebanyak 91 jiwa mengungsi di Balai Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

    Mereka terdiri dari orangtua dan anak-anak dengan rincian 47 orang asal Dusun Gedong dan 44 orang asal Dusun Ngaduman, Kecamatan Getasan.

    “Yang lain mengungsi di rumah-rumah keluarga dan sebagian memilih tidak meninggalkan rumah,” ucapnya.

    Tim gabungan saat ini tengah melakukan upaya melokalisasi api dilakukan dengan membuat saluran irigasi.

    Selain itu, tim gabungan juga melakukan pemantauan pergerakan titik api, melakukan langkah mitigasi, dan membuka dapur umum.

    Kebutuhan mendesak saat ini meliputi logistik makanan, matras, masker filter, dan oksigen portable.

    Reporter: Nurakhmayani

  • 13 Juta Hektare Lahan Gambut Rusak, Ini Dia Penyebabnya

    13 Juta Hektare Lahan Gambut Rusak, Ini Dia Penyebabnya

    7cloud.asia – Lahan gambut di sejumlah tempat di Indonesia banyak yang rusak. Total sebanyak 13 juta hektare lahan gambut dalam kondisi rusak.

    Hal ini diungkapkan oleh  Kepala Kelompok Kerjasama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat pada Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Didy Wurjanto.

    “Jumlah yang rusak itu merupakan 50 persen dari total lahan gambut kita saat ini, 2,6 juta hektare,” ujar Didy seperti yang dilansir Antaranews pada Kamis (16/11/2023).

    Lebih jauh Didy menjelaskan, lahan gambut yang rusak tersebar di tujuh provinsi mulai dari Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, Riau, dan Sumatera Selatan.

    Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut sering memicu kebakaran lahan

    Berdasarkan hasil temuan tim lapangan BRGM, kerusakan lahan gambut tersebut umumnya karena kebakaran, dan aktivitas industrialisasi.

    Industrial​​​​isasi yang dimaksud seperti perluasan perkebunan kelapa sawit yang membuat air di kawasan gambut semakin kering.

    Selain itu, penyebab kerusakan lainnya adalah pembukaan lahan budaya ladang berpindah, perambahan liar oleh kelompok masyarakat. Namun, persentasenya kecil.

    Upaya restorasi lahan gambut memang sudah dilakukan. Tetapi, menurut Didy uapaya tersebut belum maksimal. Sebab sebagian besar berada di dalam konsesi perusahaan.

    Baca: Karhutla terjadi di mana-mana semua pihak harus bahu membahu memadamkannya

    Karena itu, lanjut Didy, BRGM membutuhkan penguatan melalui pengaturan ulang beberapa regulasi untuk merestorasi lahan gambut tersebut.

    Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Hukum BRIN, Laely Nurhidayah mengatakan, ekspansi perkebunan skala besar seringkali menyebabkan kebakaran hutan dan lahan gambut.

    Seperti yang ditemukan di Desa Lukun dan Temusai, Provinsi Riau, yang telah melakukan aktivitas perkebunan skala besar.

    Pembukaan lahan oleh perusahaan ini menyebabkan terjadinya perubahan hidrologi air di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).

    Baca: Hilangnya keanekaragaman hayati jadi masalah serius bagi lingkungan

    Kerusakan lahan gambut ini ternyata juga diakui oleh warga setempat. Menurut mereka ekosistem gambut yang telah mengalami perubahan menimbulkan kekeringan dan rawan terjadi kebakaran.

    “Walaupun mungkin di sisi lain mereka menyebutkan bahwa sawit itu menguntungkan bagi mereka secara ekonomi,” ungkap Laely.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Urban Farming Ternyata Dapat Dilakukan di Perkantoran

    Urban Farming Ternyata Dapat Dilakukan di Perkantoran

    7cloud.asia – Keterbatasan lahan tidak menjadi alasan untuk melakukan urban farming. Seperti yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta ini.

    DKPKP memaksimalkan pemanfaatan lahan dengan membuat urban farming di rooftop hingga kebun vertikal di pagar atau tembok bangunan. 

    “Kalau dimanfaatkan untuk menanam, fungsinya tidak harus konsumsi. Tapi juga mengurangi polusi dan memberikan keindahan lingkungan. Di Jakarta selama ini banyak pagar yang kurang dimanfaatkan fungsi lainnya, padahal kalau kita tanami bisa menyerap debu,” jelas Kepala DKPKP DKI Jakarta, Suharini seperti dikutip Antaranews.

    Baca: DAS Asahan ditanam bambu dan beringin

    Suharini berharap langkah kecil ini juga diterapkan di banyak tempat dan banyak pihak. Dengan demikian akan berdampak besar bagi lingkungan Jakarta.

    Tak Cuma tanaman hias, rooftop kantor DKPKP Gunung Sahari, Jakarta Pusat juga telah dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman hortikultura (tanaman pangan).

    Hasil tanaman ini biasanya dijual kembali. Misalnya seikat sayuran dibanderol seharga Rp5.000.

    Baca: Urban Farming di kolong fly over Grogol

    “Kadang dibeli juga sama karyawan kita untuk Jum’at Berkah. Jadi yang Sholat Jumat di sini bebas mengambil. Nah uangnya nanti diputar kembali untuk penanaman, beli benih dan lain-lain,” paparnya.

    Dengan penanaman ini, lanjut Suharini, pihaknya dapat memberikan keterampilan dan mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan lingkungan.

    Dengan belajar menanam dan memanfaatkan lahan, masyarakat pun juga bisa berniaga dengan menjual hasil panennya.

    Sehingga dapat membantu menjaga ketahanan pangan keluarga sekaligus diharapkan dapat mengendalikan inflasi Jakarta.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Lahan Terbatas, Tahun 2024 Pemkot Cirebon Fokus Kembangkan Urban Farming

    Lahan Terbatas, Tahun 2024 Pemkot Cirebon Fokus Kembangkan Urban Farming

     

    7cloud.asia – Usaha pertanian perkotaan, pemanfaatan lahan atau ruang kosong di wilayah perkotaan untuk bercocok tanam atau berternak menjadi fokus Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat pada tahun 2024 ini.

    Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Cirebon, Elmi Masruroh, usaha pertanian perkotaan atau urban farming ini sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak tahun 2020.  

    “Tahun 2020 kami sudah mengembangkan Kampung Pangan Lestari Hijau (KPLH). Itu fokus ke kelompok masyarakat yang diberi bantuan fasilitas dan sarana penunjang untuk melakukan pertanian,” jelas Elmi seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Urban Farming dapat dilakukan di kantor

    Menurutnya saat ini sudah ada lebih dari 35 kelompok KPLH di Kota Cirebon yang membudidayakan tanaman pangan seperti umbi-umbian, cabai, dan sayur-mayur.

    Pihaknya, lanjut Elmi, akan terus mendorong pembentukan lebih banyak KPLH untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan kosong di lingkungan perkotaan.

    “Kita dorong agar mereka memanfaatkan lahan pekarangan dan area jalan-jalan untuk ditanami sayuran. Baik menggunakan sistem vertikultur atau hidroponik,” paparnya.

    Selain itu pihaknya juga tengah melakukan kajian mengenai pengembangan tanaman hortikultura dengan nilai ekonomi tinggi.

    Elmi menyampaikan bahwa dinas menjadikan hasil Sensus Pertanian tahun 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai dasar perumusan kebijakan untuk memajukan sektor pertanian.

    Baca: Manfaat Urban Farming

    “Dari Sensus Pertanian 2023, kami lebih mengetahui lagi berapa jumlah petani yang diperbarui, kemudian rumah tangga petani, tidak hanya tanaman pangan tapi horti juga. Kita beralih ke hortikultura, jadi kita tidak hanya ke tanaman pangan,” urainya.

    Sementara itu, Kepala BPS Kota Cirebon, Aris Budiyanto menjelaskan lahan pertanian di Kota Cirebon semakin sempit. Padahal kebutuhan akan hasil pertanian kian meningkat.

    Hal ini karena meningkatnya jumlah penduduk di Kota Cirebon. Sehingga sebagian warga kota memilih menerapkan model pertanian perkotaan.

    Lebih lanjut Aris menjelaskan ​​​​​​berdasarkan data hasil sensus tahap pertama tahun 2023, pelaku usaha pertanian perkotaan di Kota Cirebon terdiri atas 10 rumah tangga usaha pertanian (RTUP) dan 10 unit usaha pertanian perorangan (UTP).

    “Kegiatan urban farming tersebar di seluruh kecamatan di Kota Cirebon. Pelaku kegiatan urban farming paling banyak berada di Kecamatan Kesambi dan Kecamatan Harjamukti sebesar empat RTUP dan empat unit UTP,” jelas Aris.

    Masih berdasarkan hasil sensus, aktivitas pertanian perkotaan yang dilakukan yakni bercocok tanam sayur di taman kota, atap bangunan, atau di dalam ruang tertutup seperti rumah kaca.

    “Kegiatan yang dilakukan pada urban farming selain budi daya tanaman, dapat juga berupa usaha peternakan,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kebakaran Hutan dan Lahan Kembali Terjadi, Kabut Pekat Menyelimuti Kota Dumai

    Kebakaran Hutan dan Lahan Kembali Terjadi, Kabut Pekat Menyelimuti Kota Dumai

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan kembali marak terjadi di Propinsi Riau. Akibatnya kabut pekat menyelimuti beberapa wilayah di Riau seperti Kota Dumai.

    Tak ayal kondisi udara menjadi sangat tidak sehat dengan asap berbau dan menyengat hidung.

    Melansir Antaranews, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Dumai, Irawan Sukma menjelaskan kabut asap tersebut berasal dari kebakaran lahan di beberapa titik.

    Selain itu ada juga kiriman dari perbatasan dengan Kabupaten Bengkalis. “Sebagian besar sudah dipadamkan dan masih proses pendinginan. Kabut asap kita perkirakan juga kiriman dari kebakaran lahan perbatasan Dumai Bengkalis, tepatnya di Desa Bandar Laksamana,” jelas Irawan pada Minggu (24/03/2024).

    Baca: Jam kerja ASN berubah akibat kabut asap

    Kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah lokasi. Berdasarkan laporan harian kebencanaan, kebakaran terjadi pada semak belukar dan perkebunan kelapa sawit di Jalan Bambu Kuning Kelurahan Gurun Panjang Kecamatan Bukit Kapur seluas 15 hektar.

    Kemudian, lahan gambut dan semak belukar di Jalan Tanjung Sari Kelurahan Tanjung Palas Kecamatan Dumai Timur 7 hektar.

    Selanjutnya, semak belukar terbakar di Jalan Dumai Motor Kelurahan Tanjung Palas Dumai Timur, 20 hektar.

    Baca: Cegah ISPA dengan banyak minum air putih

    Titik api lain di Jalan Batu Bintang Kelurahan Bukit Bahtrem Kecamatan Dumai Timur juga menghanguskan 5 hektare. Lokasi terakhir di Jalan Teuku Umar Kelurahan Teluk Makmur Kecamatan Medang Kampai 1 hektar.

    Meski kondisi udara diselimuti asap, namun aktivitas warga pengguna jalan  masih normal tanpa menggunakan masker. Baik pejalan kaki maupun dengan berkendara sepeda motor.

    “Kebetulan kita lagi ada kumpul kumpul di luar habis tarawih, dan memang belum ada persiapan masker meski kondisi asap ini sangat tidak baik,” ujar seorang pengendara sepeda motor.

    Warga lain menyebutkan belum ada kesiapan mengantisipasi kabut asap yang baru kelihatan pekat malam ini. Aktivitas di luar rumah masih terus dilakukan.

    Reporter: Nurakhmayani