Tag: lajang

  • Banyak Orang Lajang Merasa Bahagia, Tapi Hidup Melajang Tak Selalu Sukses

    Banyak Orang Lajang Merasa Bahagia, Tapi Hidup Melajang Tak Selalu Sukses

    7cloud.asia – Jumlah orang dengan status lajang atau tidak menikah terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

    Orang melajang karena berbagai alasan: ada yang memilih untuk tetap single, ada yang fokus pada tujuan dan aspirasi pribadi, ada yang mengatakan bahwa berkencan menjadi lebih sulit, dan beberapa menjadi lajang lagi karena putusnya hubungan.

    Banyak orang yang melajang merasa lebih bahagia, namun, tidak semua orang berhasil dalam kehidupan lajangnya. Studi yang dilakukan di Kanada menunjukkan bahwa faktor krusial penentunya adalah gaya keterikatan seseorang.

     

    Orang lajang bisa merasa aman maupun tidak
    Dalam penelitian terbaru tersebut, tim psikolog sosial dan klinis meneliti gaya keterikatan orang lajang dan bagaimana kaitannya dengan kebahagiaan dan kesejahteraan mereka.

    Tim yang terdiri dari berbagai universitas melakukan dua penelitian, satu terhadap 482 orang yang masih single di usia muda dan yang lainnya terhadap 400 orang yang sudah lama melajang.

    Tim menemukan, secara keseluruhan 78 persen dikategorikan “insecure”, dan 22 persen lainnya dikategorikan “secure” atau yakin terhadap diri dan pilihannya.

    Baca Juga: Apakah Orang Tetap Bahagia Meski Lama Melajang?

    Pengamatan lebih dekat atas hasil ini menunjukkan empat subkelompok lajang yang berbeda:

    Orang dengan status lajang yang secure relatif nyaman dengan keintiman dan kedekatan dalam hubungan. Kelompok ini mencapai 22 persen dari responden yang diteliti.

    Sedangkan para lajang yang cemas anxious) mempertanyakan apakah mereka dicintai oleh orang lain dan khawatir ditolak, ini mencapai 37 persen.

    Para lajang yang menghindar (avoidant) merasa tidak nyaman berada dekat dengan orang lain dan memprioritaskan kemandirian mereka (23 persen dari para lajang yang lebih muda dan 11 persen dari para lajang yang lebih tua dan sudah lama tinggal)

    Para lajang yang takut (fearful) memiliki kecemasan akan pengabaian, namun sekaligus merasa tidak nyaman dengan keintiman dan kedekatan (16 persen dari para lajang yang lebih muda dan 28 persen dari para lajang yang lebih tua dan sudah lama lajang).

    Kehidupan lajang itu menantang, tetapi para lajang juga bisa merasa aman dan berkembang.

    Baca Juga: Generasi Muda yang Menunda Menikah di Indonesia Terus Meningkat

    Temuan kami juga mengungkapkan bahwa subkelompok lajang yang berbeda-beda ini memiliki pengalaman dan hasil yang berbeda pula.

    Para lajang yang secure dan merasa senang menjadi lajang memiliki lebih banyak hubungan nonromantis dan hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan teman.

    Mereka memenuhi kebutuhan seksualnya di luar hubungan romantis dan merasa lebih bahagia dengan kehidupan mereka secara keseluruhan.

    Menariknya, kelompok ini memiliki minat yang moderat untuk menjalin hubungan romantis di masa depan.

    Para lajang yang cemas cenderung menjadi orang yang paling khawatir menjadi lajang, tak percaya diri, merasa kurang didukung oleh orang-orang terdekat, dan memiliki tingkat kepuasan hidup yang paling rendah di antara semua subkelompok.

    Para lajang yang menghindar menunjukkan minat yang paling kecil untuk menjalin hubungan romantis dan dalam banyak hal tampak puas dengan kehidupan lajang.

    Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

    Namun, mereka juga memiliki lebih sedikit teman dan hubungan dekat, dan umumnya kurang puas dengan hubungan ini dibandingkan para lajang yang secure.

    Para lajang yang menghindar juga melaporkan bahwa hidup mereka kurang bermakna dan cenderung kurang bahagia dibandingkan para lajang yang aman.

    Para lajang yang merasa takut mengalami lebih banyak kesulitan dalam menjalani hubungan dekat dibandingkan para lajang yang merasa aman.

    Misalnya, mereka kurang mampu mengatur emosinya, dan kurang puas dengan kualitas hubungan dekat mereka agar tetap melajang. Mereka juga melaporkan tingkat kepuasan hidup terendah di seluruh subkelompok.

    Temuan-temuan ini harus dipertimbangkan bersamaan dengan beberapa poin yang relevan. Pertama, meskipun sebagian besar lajang dalam sampel kami merasa insecure (78%), cukup banyak orang yang merasa aman dan bahagia (22%).

    Baca Juga: Remaja Diajak Mencegah Kasus Stunting dengan Menunda Usia Perkawinan

    Lebih jauh lagi, menjalin hubungan romantis bukanlah obat mujarab. Berada dalam hubungan yang tidak bahagia dikaitkan dengan kepuasan hidup yang lebih buruk dibandingkan menjadi lajang.

    Penting juga untuk diingat bahwa orientasi keterikatan tidak selalu tetap. Orientasi bisa berubah sebagai respons terhadap peristiwa kehidupan.

    Demikian pula, perilaku sensitif dan responsif dari orang terdekat dan merasa dicintai dan diperhatikan oleh orang terdekat dapat meredakan kekhawatiran mendasar akan keterikatan dan menumbuhkan keamanan keterikatan seiring berjalannya waktu.

    Penelitian kami adalah penelitian pertama yang meneliti keragaman gaya keterikatan di antara orang dewasa lajang. Temuan kami menyoroti bahwa banyak orang lajang merasa aman dan berkembang.

    Namun, lebih banyak lagi upaya yang dapat dilakukan untuk membantu para lajang yang merasa tidak aman menjadi lebih aman dan bahagia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:

    Christopher Pepping
    Associate Professor in Clinical Psychology, Griffith University

    Geoff Macdonald
    Professor of Psychology, University of Toronto

    Tim Cronin
    Lecturer in Clinical Psychology, La Trobe University

    Yuthika Girme
    Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University

  • Apakah Orang Tetap Bahagia Meski Lama Melajang?

    Apakah Orang Tetap Bahagia Meski Lama Melajang?

    7cloud.asia – Status lajang sedang meningkat di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

    Di Kanada, tempat penulis artikel ini mengajar, status lajang di kalangan dewasa muda berusia 25-29 tahun meroket dari 32% pada 1981 menjadi 61% pada 2021.

    Jumlah orang yang tinggal sendirian atau lajang juga menanjak dari 1,7 juta orang pada tahun 1981 menjadi 4,4 juta orang pada 2021.

    Orang melajang karena berbagai alasan: ada yang memilih untuk tetap single, ada yang fokus pada tujuan dan aspirasi pribadi, ada yang mengatakan bahwa berkencan menjadi lebih sulit, dan beberapa menjadi lajang lagi karena putusnya hubungan.

    Apakah semua orang lajang merasa insecure? Banyak orang berpikir tentang orang-orang yang sudah lama melajang, kita mungkin berasumsi bahwa itu karena para lajang tersebut memiliki rasa tak yakin dengan dirinya sendiri sehingga sulit menemukan pasangan atau mempertahankan hubungan.

    Baca Juga: Generasi Muda yang Menunda Menikah di Indonesia Terus Meningkat

    Namun, benarkah demikian? Bisakah orang yang sudah lama melajang merasa aman dan berkembang?

    Penelitian terbaru kami yang dipublikasikan di Journal of Personality menunjukkan bahwa hal tersebut mungkin.

    Namun, tidak semua orang berhasil dalam kehidupan lajangnya. Studi kami menunjukkan bahwa faktor krusial penentunya adalah gaya keterikatan seseorang.

    Orang-orang juga mungkin tetap melajang karena gaya keterikatan mereka.

    Teori keterikatan adalah model tentang bagaimana kita membentuk hubungan dengan orang lain yang populer dan banyak diteliti.

    Pencarian Amazon untuk teori keterikatan menghasilkan ribuan judul. Di TikTok saja, tagar #attachmenttheory telah dilihat lebih dari 140 juta kali.

    Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

    Kata teori keterikatan tentang hubungan
    Teori keterikatan menunjukkan bahwa hubungan kita dengan orang lain dibentuk oleh tingkat “kecemasan” (attachment anxiety) dan “penghindaran” (attachment avoidance).

    Kecemasan terhadap keterikatan adalah jenis perasaan tak aman yang membuat orang merasa cemas tentang hubungan dan khawatir ditinggalkan.

    Sementara, penghindaran terhadap keterikatan membuat orang merasa tidak nyaman dengan keintiman dan kedekatan.

    Orang yang memiliki tingkat kecemasan dan penghindaran keterikatan yang rendah dianggap “terikat secara aman”. Mereka merasa nyaman bergantung pada orang lain, termasuk dalam hal memberi dan menerima keintiman.

    Orang lajang sering kali distereotipkan sebagai orang yang terlalu melekat atau tidak bisa berkomitmen.

    Baca Juga: Pernikahan Anak Banyak Berakhir Perceraian, Orang Tua Diminta Siapkan Anak dengan Baik Sebelum Menikah

    Penelitian yang membandingkan orang lajang dan berpasangan menunjukkan bahwa orang lajang memiliki tingkat ketidakamanan keterikatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sedang menjalin hubungan.

    Pada saat yang sama, bukti menunjukkan banyak orang lajang memilih untuk terus sendirian dan tetap menjalani hidup bahagia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:

    Christopher Pepping
    Associate Professor in Clinical Psychology, Griffith University

    Geoff Macdonald
    Professor of Psychology, University of Toronto

    Tim Cronin
    Lecturer in Clinical Psychology, La Trobe University

    Yuthika Girme
    Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University

  • Makin Banyak Warga Memilih Tetap Melajang, Apa Penyebabnya?

    Makin Banyak Warga Memilih Tetap Melajang, Apa Penyebabnya?


    7cloud.asia – Memasuki usia 20-30 tahun, banyak orang yang memasuki proses pencarian identitas dan membangun kehidupan sebagai orang dewasa.

    Masyarakat dan lingkungan di sekitar punya ekspektasi khusus untuk mereka yang memasuki usia 20-30an, yakni menemukan cinta dan membangun keluarga. Kalau di usia ini belum menjalani hubungan romansa, seseorang lantas dianggap gagal menjadi dewasa.

    Menariknya, meski ekspektasi tersebut hadir, angka individu yang memilih untuk menjadi single alias lajang di usia 20-an dan 30-an justru meningkat. Apa artinya?

    Di Kanada, jumlah individu dewasa muda yang memilih untuk jadi single konsisten meningkat. Di Indonesia, jumlah pemuda yang belum menikah mencapai 69,75 persen dengan tren yang terus meningkat setiap tahun.

    Namun, tren ini tidak mematahkan tuntutan dari standar budaya yaitu memiliki hubungan romantis bagi sosok dewasa.

    Umumnya, single atau lajang era dipandang sebagai periode sesaat, bukan sebuah pilihan hidup yang sah dan membahagiakan.

    Sebagai peneliti, penulis memimpin riset berjudul Singlehood Experiences and Complexities Underlying Relationships di Simon Fraser University. Riset ini berfokus untuk memahami pada saat apa individu single atau individu yang berpasangan bisa berkembang dan bahagia.

    Setelah mempelajarinya bertahun-tahun, berikut beberapa hal menarik yang penulis temukan dari individu single berusia 20-an dan 30-an.

    Baca: Banyak orang lajang merasa bahagia

    Menjadi single semakin banyak dipilih
    Di Kanada, sejumlah 59,8 persen individu usia 25-29 tahun dan 37,6 persen individu usia 30-34 tahun tercatat belum menikah.

    Proporsi individu usia 20-34 tahun yang menikah naik menjadi 60,3 persen pada 2021. Pada 1996, angkanya hanya mencapai 50,5 persen.

    Meski di antara individu tersebut ada yang menyatakan keinginan untuk menjalani hubungan yang berkomitmen, banyak dari mereka yang menunda keputusan tersebut.

    Di Kanada, rata-rata usia individu yang menikah meningkat 8 tahun. Pada tahun 1970-an, rata-rata seseorang menikah di usia 23,3 tahun. Pada 2020, rata-rata individu baru menikah di usia 31,2 tahun.

    Tren ini mengindikasikan beberapa hal: orang-orang kini lebih berfokus mengembangkan karier, lebih ingin jalan-jalan, punya masalah dalam membangun hubungan, atau memang memilih untuk menjadi single pada awal usia dewasa mereka.

    Individu-individu tersebut termasuk orang-orang yang mengklaim diri mereka “single at heart”. Mereka secara sadar memilih menjadi single karena memandang penting kesendirian dan kebebasan.

    Tekanan sosial tetap ada
    Meski semakin banyak individu single di usia 20-an dan 30-an, entah karena pilihan atau situasi tertentu, tekanan sosial untuk melepas status single terus ada.

    Ini tak mengherankan karena kita hidup di tengah masyarakat yang memang sangat memandang penting hubungan pernikahan dan memiliki anak.

    Menjalin hubungan romantis dan membangun keluarga tentu pilihan hidup yang umum dan valid untuk dimiliki individu. Namun, obsesi dengan hubungan romantis justru dapat merugikan jika dibandingkan dengan menjadi single.

    Baca: Apakah orang tetap bahagia meski lama melajang?

    Individu yang single sering kali dianggap “belum utuh” semata-mata karena mereka tidak punya pasangan.

    Penelitian yang penulis lakukan dengan kolega menunjukkan bahwa individu yang single sering kali merasa dikecualikan, dijauhi, dan dikasihani karena status mereka. Pandangan ini berdampak pada kesejahteraan mental mereka.

    Mereka juga menghadapi stereotip negatif seperti dianggap egois, tidak berperasaan, penyendiri, atau antisosial.

    Meski standar untuk berpasangan muncul dari masyarakat, orang-orang single bisa menyerap standar tersebut dalam hidup mereka. Alhasil, mereka justru terkena dampak negatifnya.

    Dalam riset lainnya, kami meneliti apa yang kami sebut dengan “relationship pedestal beliefs” atau “kepercayaan hubungan adalah segalanya”.

    Kami ingin mengukur sampai di level mana individu mempercayai bahwa mereka perlu berada di sebuah hubungan romantis terlebih dahulu agar bisa bahagia.

    Kami menemukan bahwa individu single yang memiliki kepercayaan tersebut cenderung tak nyaman hidup sendirian sehingga mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah. Lantas, bagaimana cara menjadi single, tetapi high-quality? Ikuti di artikel selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Yuthika Girme (Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University)

  • Ingin Tetap Menjadi Lajang dan Terus Berkembang? Simak Kiatnya di Sini

    Ingin Tetap Menjadi Lajang dan Terus Berkembang? Simak Kiatnya di Sini

     

    7cloud.asia – Riset bertajuk Singlehood Experiences and Complexities Underlying Relationships di Simon Fraser University menemukan fakta bahwa menjadi lajang atau single semakin banyak dipilih orang

    Di Kanada, sejumlah 59,8 persen individu usia 25-29 tahun dan 37,6 persen individu usia 30-34 tahun tercatat belum menikah.

    Proporsi individu usia 20-34 tahun yang belum menikah naik menjadi 60,3 persen pada 2021. Pada 1996, angkanya hanya mencapai 50,5 persen.

    Meski di antara individu tersebut ada yang menyatakan keinginan untuk menjalani hubungan yang berkomitmen, banyak dari mereka yang menunda keputusan tersebut.

    Di Kanada, rata-rata usia individu yang menikah meningkat 8 tahun. Pada tahun 1970-an, rata-rata seseorang menikah di usia 23,3 tahun. Pada 2020, rata-rata individu baru menikah di usia 31,2 tahun.

    Tren ini mengindikasikan beberapa hal: orang-orang kini lebih berfokus mengembangkan karier, lebih ingin jalan-jalan, punya masalah dalam membangun hubungan, atau memang memilih untuk menjadi single pada awal usia dewasa mereka.

    Baca: Banyak orang lajang merasa tetap bahagia

    Individu-individu tersebut termasuk orang-orang yang mengklaim diri mereka “single at heart”. Mereka secara sadar memilih menjadi single karena memandang penting kesendirian dan kebebasan.

    Meski demikian tekanan sosial untuk melepas status single terus ada. Ini tak mengherankan karena kita hidup di tengah masyarakat yang memang sangat memandang penting hubungan pernikahan dan memiliki anak.

    Penelitian yang penulis lakukan dengan kolega menunjukkan bahwa individu yang single sering kali merasa dikecualikan, dijauhi, dan dikasihani karena status mereka. Pandangan ini berdampak pada kesejahteraan mental mereka.

    Mereka juga menghadapi stereotip negatif seperti dianggap egois, tidak berperasaan, penyendiri, atau antisosial.

    Meski standar untuk berpasangan muncul dari masyarakat, orang-orang single bisa menyerap standar tersebut dalam hidup mereka. Alhasil, mereka justru terkena dampak negatifnya.

    Bagaimana cara menjadi single, tetapi high-quality? Bagaimana individu single bisa tetap bahagia, punya hidup yang memuaskan, meski terus berhadapan dengan standar masyarakat tentang hubungan romantis?

    Baca: Makin banyak anak muda yang menunda pernikahan

    Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis dan kolega mengulas literatur terkait hidup lajang untuk memahami kapan individu bisa berkembang atau sekadar berupaya bertahan.

    Kami menemukan bahwa memang ada sebagian individu yang kesulitan hidup sendiri dan berharap memiliki pasangan. Namun, ada juga yang bahagia dan justru berkembang.

    Berikut beberapa faktor yang terkait _single era _yang menyenangkan:

    1.Merasa aman dengan diri sendiri
    Individu single yang merasa aman dengan dirinya sendiri serta nyaman dalam mempercayai dan mendekatkan diri pada hubungan yang erat menjadi individu single yang paling bahagia.

    Mereka memiliki kepuasan hidup yang tinggi dan lebih pandai meregulasi emosi. Para single yang tidak insecure ini terbuka dengan konsep hubungan romantis, tapi tidak masalah dan baik-baik saja menjadi single.

    2. Punya teman yang suportif
    Individu single cenderung berinvestasi lebih dalam pertemanan dibandingkan individu yang sudah berpasangan.

    Ketika individu single aktif menjaga pertemanan, mereka akan cenderung merasa diterima oleh teman, punya harga diri lebih tinggi, dan lebih bahagia dengan status single mereka.

    Baca: Menjawab pertanyaan “kapan menikah?”

    3. Menyadari kebutuhan akan intimasi
    Individu single tetap mempunyai kebutuhan intimasi dan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa, ketika individu dewasa single bisa memenuhi kebutuhan tersebut mereka cenderung lebih bahagia menikmati kesendirian dan tak terlalu menginginkan hubungan romantis.

    Namun, seiring berjalannya lalu, individu single yang terpenuhi di aspek ini lebih berpeluang menjalani hubungan romantis ke depannya.

    4. Jadilah lebih dewasa
    Ketika individu memasuki usia 40-an, mereka cenderung lebih bahagia dengan status single.

    Ini umumnya terjadi karena individu single paruh baya sudah banyak belajar bagaimana menginvestasikan hidup mereka ke hal yang disukai dan cenderung lebih kebal dari tekanan sosial.

    5. Pentingkan kebebasan, keseruan, dan kreativitas
    Penelitian menunjukkan bahwa individu single yang memandang penting kebebasan, keseruan, dan kreativitas cenderung lebih bahagia.

    Menjadi single di usia 20-an atau 30-an bisa jadi momen yang pas untuk berfokus pada pengembangan diri, karier, cita-cita, serta hubungan dengan keluarga, teman, dan komunitas.

    Semuanya merupakan bahan untuk membangun hidup yang bahagia—entah dengan status single ataupun berpasangan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Yuthika Girme (Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University)