Apakah Orang Tetap Bahagia Meski Lama Melajang?

Written by

in

7cloud.asia – Status lajang sedang meningkat di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Di Kanada, tempat penulis artikel ini mengajar, status lajang di kalangan dewasa muda berusia 25-29 tahun meroket dari 32% pada 1981 menjadi 61% pada 2021.

Jumlah orang yang tinggal sendirian atau lajang juga menanjak dari 1,7 juta orang pada tahun 1981 menjadi 4,4 juta orang pada 2021.

Orang melajang karena berbagai alasan: ada yang memilih untuk tetap single, ada yang fokus pada tujuan dan aspirasi pribadi, ada yang mengatakan bahwa berkencan menjadi lebih sulit, dan beberapa menjadi lajang lagi karena putusnya hubungan.

Apakah semua orang lajang merasa insecure? Banyak orang berpikir tentang orang-orang yang sudah lama melajang, kita mungkin berasumsi bahwa itu karena para lajang tersebut memiliki rasa tak yakin dengan dirinya sendiri sehingga sulit menemukan pasangan atau mempertahankan hubungan.

Baca Juga: Generasi Muda yang Menunda Menikah di Indonesia Terus Meningkat

Namun, benarkah demikian? Bisakah orang yang sudah lama melajang merasa aman dan berkembang?

Penelitian terbaru kami yang dipublikasikan di Journal of Personality menunjukkan bahwa hal tersebut mungkin.

Namun, tidak semua orang berhasil dalam kehidupan lajangnya. Studi kami menunjukkan bahwa faktor krusial penentunya adalah gaya keterikatan seseorang.

Orang-orang juga mungkin tetap melajang karena gaya keterikatan mereka.

Teori keterikatan adalah model tentang bagaimana kita membentuk hubungan dengan orang lain yang populer dan banyak diteliti.

Pencarian Amazon untuk teori keterikatan menghasilkan ribuan judul. Di TikTok saja, tagar #attachmenttheory telah dilihat lebih dari 140 juta kali.

Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

Kata teori keterikatan tentang hubungan
Teori keterikatan menunjukkan bahwa hubungan kita dengan orang lain dibentuk oleh tingkat “kecemasan” (attachment anxiety) dan “penghindaran” (attachment avoidance).

Kecemasan terhadap keterikatan adalah jenis perasaan tak aman yang membuat orang merasa cemas tentang hubungan dan khawatir ditinggalkan.

Sementara, penghindaran terhadap keterikatan membuat orang merasa tidak nyaman dengan keintiman dan kedekatan.

Orang yang memiliki tingkat kecemasan dan penghindaran keterikatan yang rendah dianggap “terikat secara aman”. Mereka merasa nyaman bergantung pada orang lain, termasuk dalam hal memberi dan menerima keintiman.

Orang lajang sering kali distereotipkan sebagai orang yang terlalu melekat atau tidak bisa berkomitmen.

Baca Juga: Pernikahan Anak Banyak Berakhir Perceraian, Orang Tua Diminta Siapkan Anak dengan Baik Sebelum Menikah

Penelitian yang membandingkan orang lajang dan berpasangan menunjukkan bahwa orang lajang memiliki tingkat ketidakamanan keterikatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sedang menjalin hubungan.

Pada saat yang sama, bukti menunjukkan banyak orang lajang memilih untuk terus sendirian dan tetap menjalani hidup bahagia.

Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:

Christopher Pepping
Associate Professor in Clinical Psychology, Griffith University

Geoff Macdonald
Professor of Psychology, University of Toronto

Tim Cronin
Lecturer in Clinical Psychology, La Trobe University

Yuthika Girme
Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *