Tag: limbah plastik

  • Paparan Limbah Plastik, Baik Mikroplastik maupun Nanoplastik Picu Berbagai Masalah Kesehatan

    Paparan Limbah Plastik, Baik Mikroplastik maupun Nanoplastik Picu Berbagai Masalah Kesehatan

    7cloud.asia – Ancaman limbah plastik makin nyata. Mikroplastik dan nanoplastik kini dapat ditemukan di mana-mana.

    Potongan-potongan kecil dan sangat kecil dari limbah plastik telah ditemukan dalam segala hal mulai dari air minum hingga nugget ayam, apel, dan brokoli.

    Penelitian terbaru mengaitkan limbah plastik dalam bentuk mikroplastik dan nanoplastik dengan penyakit jantung, gangguan paru-paru, dan masalah kesehatan yang lebih mengkhawatirkan.

    Para ilmuwan masih mempelajari lebih mendalam hubungan pasti antara mikroplastik ini dan kesehatan manusia.

    Baca Juga: Daftar Negara yang Paling Banyak Mengonsumsi Makanan Tercemar Mikroplastik, Indonesia di Nomor Dua

    Namun jelas bahwa paparan limbah plastik—baik itu mikroplastik maupun nanplastik atau kombinasi keduanya—terkait dengan berbagai masalah kesehatan yang mengkhawatirkan.

    Beberapa dari hubungan tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, seperti kaitan mikroplastik dengan kanker usus besar, penyakit pernapasan, fungsi metabolisme, dan gangguan pada sistem endokrin.

    Sementara yang lain—seperti penelitian baru-baru ini yang menemukan bahwa mereka yang memiliki kadar plastik di arteri mereka memiliki risiko lebih tinggi.

    Penting untuk diingat bahwa kaitan ini menunjukkan kekhawatiran mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan masyarakat, namun hasil tersebut tidak spesifik dan dapat diprediksi.

    Baca Juga: Mikroplastik Berbahaya untuk Kesehatan, Singkirkan Jauh-jauh dari Anak

    “Yang saya pikirkan adalah risiko populasi, bukan risiko terhadap individu tertentu,” kata ahli penyakit dalam Dr. Gillian Goddard, seperti dikutip newyorktimes.com.

    Jika Anda khawatir tentang dampak kesehatan yang terkait dengan mikroplastik, para ahli menyarankan bahwa Anda dapat menurunkan risiko tersebut dengan menjaga kekebalan tubuh.

    Tidur, rajin berolahraga, mengonsumsi makanan seimbang, menurunkan stres, dan mengonsumsi makanan yang sehat adalah upaya membentengi tubuh dari pengaruh buruk mikroplastik bagi kesehatan.

    Yang pasti, Ahli menyarankan untuk mengurangi paparan mikroplastik meskipun harus diakui tak mudah bagi kita saat ini untuk benar-benar terhindar dari limbah plastik.

    Baca Juga: Greenpeace Sesalkan KTT Plastik Ottawa Tak Hasilkan Perjanjian Pengurangan Produksi Plastik

    Sejumlah ahli mengungkap berbagai cara yang intinya fokus pada menghindari paparan mikroplastik tersebut dari air, makanan, dan udara.

    Langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan mikroplastik akan kita ulas dalam tulisan berikutnya.

  • Gandeng BRIN, Kota Semarang Olah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif

    Gandeng BRIN, Kota Semarang Olah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Semarang menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimplementasikan inovasi pengolahan limbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif bernama Petasol.

    Dilansir Antaranews.com, BBM Petasol hasil pengolahan limbah plastik ini setara dengan Bio Solar untuk membantu kalangan petani dan nelayan di Kota Semarang.

    “Pengolahan limbah plastik menjadi BBM ini sangat luar biasa. Selain bisa membantu untuk pertanian juga bisa membantu sebagai bahan bakar kapal-kapal para nelayan,” kata Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, di Semarang, Senin (3/6/2024).

    Ita, sapaan akrab Hevearita mengatakan, pihaknya menggandeng BRIN karena telah meneliti pengolahan limbah plastik mnjadi Petasol dengan bekerja sama Bank Sampah Banjarnegara.

    Jika bisa diimplementasikan, kata dia, hasil riset BBM alternatif itu bisa menjadi upaya mengurangi sampah plastik yang selama ini menjadi permasalahan bagi kota-kota besar, termasuk Kota Semarang.

    Baca Juga: Paparan Limbah Plastik, Baik Mikroplastik maupun Nanoplastik Picu Berbagai Masalah Kesehatan

    Ia akan menggerakkan masyarakat melalui pengelolaan bank sampah untuk mewujudkan Semarang bebas sampah, dimulai dari pilah dan pilih sampah rumah tangga, seperti sampah organik dan non-organik.

    Menurut dia, sampah basah atau organik bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik maupun “eco enzym”, sedangkan sampah plastik bisa diolah dengan teknologi Faspol menjadi BBM Petasol.

    “Nantinya akan kita bagikan kepada bank sampah atau masyarakat yang daerahnya memiliki banyak sampah. Itu BBM-nya bisa langsung dimanfaatkan petani untuk traktor, mesin pemotong rumput,” katanya.

    Bahkan, pada kegiatan Sedekah Laut Larung Sesaji di perairan Tambaklorok Semarang, Minggu (2/6/2024), Ita sempat memantau kapal-kapal nelayan yang masih menggunakan solar untuk bisa beralih menggunakan Petasol.

    “Nantinya, kami implementasikan BBM hasil riset dari BRIN sehingga masyarakat juga akan terbantu. Petasol ramah lingkungan dari sampah plastik yang diolah menjadi BBM untuk kapal nelayan,” kata Ita.

    Baca Juga: Greenpeace Sesalkan KTT Plastik Ottawa Tak Hasilkan Perjanjian Pengurangan Produksi Plastik

    Peneliti Ahli Utama BRIN Organisasi Energi dan Manufaktur Tri Martini Patria mengatakan, inovasi teknologi pengolahan Petasol itu merupakan kerja sama dari akar rumput Bank Sampah Banjarnegara yang dimotori Budi Trisno Aji.

    Jadi di BRIN, ujarnya, ada satu skema untuk mengangkat inovasi anak bangsa yang bukan hanya dari peneliti di BRIN.

    “Ini boleh siapa saja, artinya masyarakat di Indonesia itu boleh punya inovasi dan kemudian diuji, risetnya melalui BRIN. Salah satunya Faspol 5.0 yang produknya bernama Petasol,” katanya.

    Martini menilai inovasi tersebut penting diterapkan di Kota Semarang dengan karakteristiknya yang unik, sebab memiliki wilayah pesisir dan pegunungan yang memungkinkan siklus sampah mengalir cepat dari wilayah atas ke bawah.

    Bahkan, kata dia, BRIN telah melakukan riset di Kecamatan Tugu, tepatnya di wilayah Mangkang Wetan yang ternyata sampah plastik yang menjadi bahan baku Petasol sudah sampai di pinggir pantai.

    Baca Juga: Pesan Hari Bumi: Setiap Generasi Hanya Punya Sekali Kesempatan untuk Ubah Kebijakan Soal Plastik

    “Mudah mudahan bisa direplikasi, utamanya penggunaan bahan bakar untuk mesin diesel. Seperti petani menggerakkan traktor tangan, menggerakkan combine hardvester, menggerakkan mesin pemotong rumput yang membutuhkan bahan bakar setara solar,” katanya.

    Sementara itu, inisiator Bank Sampah Banjarnegara yang juga penemu Petasol Budi Trisno Aji mengatakan saat ini kapasitas pengolahan limbah atau sampah plastik menjadi Petasol sudah semakin besar.

    “Awalnya, kami hanya mampu mengolah 50 kilogram sampah plastik dan menghasilkan 50 liter BBM Petasol. Namun, sekarang sudah bisa mengolah 400 kg sampah dan menghasilkan 400 liter per hari,” katanya.

    Hasil dari inovasi yang diterapkan di Bank Sampah di Kasilib, Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara itu sudah dimanfaatkan petani sekitar, seperti untuk BBM penggilingan padi dan traktor.

    Sumber:Antaranews.com

  • Lewat Responsible Sourcing Inisiative, Coca-Cola Berkomitmen Sejahterakan Puluhan Ribu Pemulung Limbah Plastik

    Lewat Responsible Sourcing Inisiative, Coca-Cola Berkomitmen Sejahterakan Puluhan Ribu Pemulung Limbah Plastik


    7cloud.asia – The Circulate Initiative, organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk mengatasi polusi limbah plastik di lautan, baru-baru ini meluncurkan program lingkungan bernama Inisiatif Pengadaan Bertanggung Jawab atau Responsible Sourcing Initiative (RSI).

    Dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (8/10/2024) program Responsible Sourcing Initiative tersebut ditujukan untuk para pekerja informal yang berperan besar dalam mengatasi limbah plastik.

    Responsible Sourcing Initiative ini dirancang untuk mengatasi tantangan hak asasi manusia dalam proses daur ulang limbah plastik.

    Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sekitar 50 ribu pekerja informal yang bekerja di sektor limbah plastik, salah satunya pemulung. Program ini diharapkan sudah terealisasi pada tahun 2026

    Baca: Ekonomi sirkular tidak sempurna jika tak terapkan cara ini

    “Di Indonesia, pemulung memiliki peran penting dalam membantu mengatasi krisis polusi plastik, dan kami berharap dapat bekerja sama dengan mereka untuk tujuan mengatasi tantangan serta memastikan hak-hak mereka (tetap) dihormati,” kata Program Director The Circulate Initiative Annerieke Douma.

    Nantinya, The Coca-Cola Company dan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) akan bermitra dengan Yayasan Mahija Parahita Nusantara untuk mendukung penerapan program tersebut.

    Mitra-mitra ini akan ikut bertanggung jawab dan membantu meningkatkan kesejahteraan para pekerja informal di sektor limbah dalam value chain mitra daur ulang.

    “Kontribusi sektor pengumpulan limbah informal sangat penting untuk mendorong ekonomi sirkular dan membantu memastikan pasokan plastik daur ulang berkualitas tinggi yang konsisten di Indonesia,” kata Senior Vice President, Global Human Rights, Labor, and Employee Relations The Coca-Cola Company Paul Lalli.

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang abai pada limbah plastiknya

    Selama ini, pekerja informal sektor limbah memainkan peran penting dalam pengelolaan limbah plastik di Indonesia.

    Diperkirakan, para pemulung di seluruh Indonesia berhasil mengumpulkan sekitar satu juta ton limbah plastik per tahun.

    Pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan limbah sebesar 30 persen dan pengurangan sampah plastik di laut sebesar 70 persen pada tahun 2025.

    Sementara emisi nol atau net zero emission dari sektor sampah ditargetkan bisa terealisasi pada 2050. (Sumber: Antaranews.com)

     

  • Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Pilot Project Pengolahan Limbah Plastik dengan Teknologi Radiasi

    Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Pilot Project Pengolahan Limbah Plastik dengan Teknologi Radiasi

    7cloud.asia – Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ditunjuk Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menjadi salah satu pilot country program NUTEC Plastics.

    NUTEC Plastics adalah pengolahan limbah plastik dengan menggunakan teknologi radiasi atau reaksi atom.

    BRIN mengambil peran sentral dalam pengembangan teknologi radiasi untuk menangani limbah plastik serta potensi pemanfaatannya pada sektor industri.

    Capaian terkini riset di Indonesia yang dilakukan BRIN bersama mitra industri telah menunjukkan potensi teknologi yang dapat ditingkatkan uji cobanya pada skala komersial.

    Hal ini akan sangat berharga sebagai referensi negara lain dalam pengelolaan limbah plastik dan pemanfaatannya sebagai bahan baku industri.

    Baca: Posisi Indonesia mewujudkan perjanjian plastik global

    Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Anugerah Widiyanto menyampaikan, Indonesia dan banyak negara lain di kawasan menghadapi permasalahan serius dalam penanganan limbah plastik.

    Limbah plastik telah menimbulkan dampak signifikan terhadap kondisi lingkungan dan memengaruhi kesehatan manusia.

    “Pengembangan teknologi untuk mendukung pengelolaan limbah plastik serta pemanfaatannya sebagai bahan baku industri adalah sebuah keniscayaan yang perlu terus didorong,” kata Anugerah.

    Teknologi radiasi, ujarnya, menawarkan solusi yang dapat mengatasi permasalahan limbah plastik dan menjadikan limbah sebagai bahan baku potensial bagi industri, mendukung pengembangan ekonomi sirkuler.

    Baca: Jalan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global

    “Kolaborasi riset dan inovasi teknologi radiasi untuk modifikasi polimer perlu terus didorong. Indonesia dapat memainkan peran sentral dalam kolaborasi ini di bawah payung kerja sama teknis IAEA, khususnya dalam kerangka inisiatif NUTEC Plastics,” ungkap Anugerah.

    Menurutnya, dengan memanfaatkan teknologi radiasi yang telah dikuasai ilmuwan Indonesia, serta aplikasinya untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan baku industri plastik nasional.

    Langkah ini dapat dijadikan contoh bagi negara lain, khususnya dalam mendorong pengembangan ekonomi sirkular.

    “Pengalaman riset modifikasi polimer dengan menggunakan radiasi, serta kerja sama aplikasinya bersama sektor industri di Indonesia menjadi aset penting untuk mendorong kepemimpinan Indonesia dalam kolaborasi ke depan bersama banyak negara di bawah kerangka kerja sama teknis IAEA, khususnya proyek NUTEC Plastics,” tambah Anugerah.

  • Perkembangan NUTEC Plastics di Negara-negara Percontohan

    Perkembangan NUTEC Plastics di Negara-negara Percontohan

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menggelar Midterm Coordination Meeting for RAS1031 “Reutilizing and Recycling Polymeric Waste through Radiation Modification for the Production of Industrial Goods – Phase II”.

    Pertemuan ini merupakan bagian dari Inisiatif NUclear TEChnology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC Plastics) atau pengolahan limbah plastik dengan teknologi radiasi yang diinisiasi oleh IAEA.

    Adapun NUTEC Plastics dikembangkan untuk mendukung ekonomi sirkuler melalui inovasi berbasis nuklir. Dengan teknologi radiasi, limbah plastik dapat didegradasi dan dimodifikasi sehingga dapat digunakan kembali sebagai material baru yang memiliki nilai tambah.

    Dilansir brin.go.id, seminar mengenai NUTEC Plastics ini berlangsung pada 17-21 Februari 2025 di Gedung B.J. Habibie, Komplek BRIN Jakarta.

    Hadir dalam acara ini, para pakar dari IAEA, akademisi dari beberapa negara, seperti Bangladesh, Iran, Jordan, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Filipina, Srilanka, Thailand, dan Vietnam, serta mitra industri.

    Programme Management Officer IAEA, Denis Subbotnitskiy, dalam presentasinya memaparkan perkembangan mutakhir proyek RAS1031 yang bertujuan meningkatkan nilai tambah limbah plastik melalui teknologi radiasi.

    Baca: Indonesia jadi pioner pengolahan limbah plastik dengan teknologi radiasi

    “Teknologi radiasi memungkinkan modifikasi sifat plastik sehingga dapat digunakan kembali dalam produk industri dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” jelasnya.

    Metode ini tidak hanya mengatasi keterbatasan daur ulang konvensional tetapi juga mengurangi ketergantungan pada aditif kimia berbahaya serta menekan konsumsi energi dalam proses daur ulang.

    Proyek RAS1031, yang memasuki fase kedua pada 2024-2025, melibatkan 16 negara dengan lima negara percontohan, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan China.

    “Indonesia dan Filipina telah mencapai Technology Readiness Level (TRL) 4 pada tahun 2024, yang menandakan kesiapan teknologi ini untuk diuji lebih lanjut dalam skala industri,” tambah Subbotnitskiy.

    Di Indonesia, kolaborasi antara IAEA, BRIN, dan PT Viro telah menghasilkan pengembangan komposit kayu-plastik berbasis teknologi radiasi.

    Sementara itu, di Filipina, Envirotech Waste Recycling mengaplikasikan teknologi ini untuk meningkatkan kualitas mekanis plastik daur ulang dalam konstruksi perumahan.

    Baca: Limbah plastik dibahas di World Economic Forum

    Malaysia juga turut serta dengan AlamFlora dan HDD Tech untuk mendaur ulang limbah PTFE dan poliolefin menggunakan pyrolysis berbasis radiasi.

    Subbotnitskiy menekankan bahwa dukungan pendanaan dari berbagai negara, termasuk Jepang dan Amerika Serikat, menjadi faktor penting dalam keberlanjutan proyek ini.

    Jepang telah mengalokasikan 275 ribu euro untuk pengembangan sumber daya manusia, sementara Amerika Serikat memberikan kontribusi sebesar 875 ribu euro yang digunakan untuk pengadaan peralatan.

    Melihat ke depan, proyek NUTEC Plastics akan memasuki fase ketiga pada 2026-2027 dengan target mencapai Technology Readiness Level (TRL) 6, yang berarti teknologi ini dapat diterapkan dalam skala industri penuh.

    “Kami tidak hanya ingin mengembangkan teknologi, tetapi juga membangun ekosistem daur ulang plastik yang berkelanjutan dengan model ekonomi sirkuler,” pungkas Subbotnitskiy.

    Dia berharap, negara-negara Asia-Pasifik dapat mengadopsi metode daur ulang plastik berbasis radiasi sebagai solusi inovatif dalam mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi limbah plastik.

    Baca: UNEP terus dorong perjanjian plastik global

  • BRIN dan IAEA Kembangkan Penggunaan Teknologi Radiasi dalam Pengolahan Limbah Plastik

    BRIN dan IAEA Kembangkan Penggunaan Teknologi Radiasi dalam Pengolahan Limbah Plastik

    ruangkotacom – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menggelar Midterm Coordination Meeting for RAS1031 “Reutilizing and Recycling Polymeric Waste through Radiation Modification for the Production of Industrial Goods – Phase II”.

    Pertemuan ini merupakan bagian dari Inisiatif NUclear TEChnology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC Plastics) yang diinisiasi oleh IAEA untuk mendukung ekonomi sirkuler melalui inovasi berbasis nuklir.

    Dengan teknologi radiasi, limbah plastik dapat didegradasi dan dimodifikasi sehingga dapat digunakan kembali sebagai material baru yang memiliki nilai tambah.

    Dilansir di brin.go.id, kegiatan ini berfokus pada diskusi pemanfaatan teknologi radiasi dalam mendaur ulang limbah plastik dan polimer menjadi produk industri bernilai tambah, sebagai langkah konkret dalam mengatasi pencemaran plastik global.

    Dalam sambutannya, Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada energi nuklir, tetapi juga pada pemanfaatan nuklir untuk berbagai sektor, termasuk industri dan lingkungan.

    “Selain peta jalan nuklir untuk energi, kita juga mendorong pemanfaatan nuklir untuk berbagai sektor, termasuk industri dan lingkungan. Fase 2 dari proyek RAS1031 ini ditargetkan selesai pada 2025 dan menuju ke tahap komersialisasi,” ujar Anugerah.

    Baca: Indonesia jadi pilot project pengolahan limbah plastik dengan teknologi radiasi

    Menurutnya, sebagai pilot country dalam program NUTEC Plastics, Indonesia melalui BRIN memainkan peran strategis dalam pengembangan teknologi radiasi untuk mengolah limbah plastik menjadi material industri bernilai tinggi.

    Hasil riset terbaru yang telah diuji bersama mitra industri menunjukkan potensi besar untuk ditingkatkan ke skala komersial, menjadikan Indonesia sebagai referensi global dalam pengelolaan limbah plastik berkelanjutan.

    “Pengembangan teknologi untuk mendukung pengelolaan limbah plastik serta pemanfaatannya sebagai bahan baku industri adalah sebuah keniscayaan yang perlu terus didorong,” kata Anugerah.

    Teknologi radiasi, ujarnya, menawarkan solusi yang dapat mengatasi permasalahan limbah plastik dan menjadikan limbah sebagai bahan baku potensial bagi industri, mendukung pengembangan ekonomi sirkuler.

    “Kolaborasi riset dan inovasi teknologi radiasi untuk modifikasi polimer perlu terus didorong. Indonesia dapat memainkan peran sentral dalam kolaborasi ini di bawah payung kerja sama teknis IAEA, khususnya dalam kerangka inisiatif NUTEC Plastics,” ungkap Anugerah.

    Lebih jauh Anugerah mengungkapkan bahwa pemanfaatan teknologi radiasi yang telah dikuasai ilmuwan Indonesia, serta aplikasinya untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan baku industri plastik nasional, dapat dijadikan contoh bagi negara lain, khususnya dalam mendorong pengembangan ekonomi sirkuler.

    Baca: Posisi Indonesia dalam mewujudkan perjanjian plastik global

    “Pengalaman riset modifikasi polimer dengan menggunakan radiasi, serta kerja sama aplikasinya bersama sektor industri di Indonesia menjadi aset penting untuk mendorong kepemimpinan Indonesia dalam kolaborasi ke depan bersama banyak negara di bawah kerangka kerja sama teknis IAEA, khususnya proyek NUTEC Plastics,” tambahnya.

    Penguatan Infrastruktur dan Kolaborasi Global
    Sementara, Syaiful Bakhri dari Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN-BRIN) menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari inisiatif internasional yang sejalan dengan kebijakan nasional dalam riset dan inovasi teknologi nuklir.

    Menurutnya, proyek ini sejalan dengan program nasional dalam pengembangan teknologi nuklir untuk industri. Program RAS1031 ini mendukung pemanfaatan teknologi radiasi dalam mendaur ulang limbah polimer menjadi produk industri yang lebih bernilai.

    “Teknologi radiasi memiliki potensi besar dalam mengatasi masalah limbah plastik. Dengan teknologi ini, kita dapat meningkatkan kualitas plastik daur ulang sehingga bisa dimanfaatkan kembali dalam berbagai industri,” ujarnya.

    Baca: UNEP terus dorong perjanjian plastik global

    Dikatakannya, BRIN melalui ORTN memiliki tiga program nasional terkait teknologi nuklir, yaitu riset dan inovasi untuk energi, radioisotop dan farmasi, serta aplikasi medis dan industri.

    Dalam kerangka kerja sama dengan IAEA, BRIN telah mengembangkan fasilitas electron beam (e-beam) berkekuatan 10 MeV yang kini sedang dalam tahap komisioning.

    “Kami sangat mengapresiasi bantuan IAEA dalam menyediakan e-beam 2,5 MeV yang akan dikonstruksi tahun ini di kompleks fasilitas nuklir Serpong,” jelas Syaiful.

    Selain itu, BRIN juga tengah mengembangkan Open Collaborative Platform for E-Beam Technology in Food Security and Industry Independency sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan teknologi radiasi dalam sektor pangan dan industri.

    “Fasilitas ini terbuka bagi peneliti nasional dan internasional untuk mendorong inovasi dan transfer teknologi,” tambahnya.

  • Mengungkap Apa yang Diinginkan Perusahaan Global dalam Mengurangi Limbah Plastik

    Mengungkap Apa yang Diinginkan Perusahaan Global dalam Mengurangi Limbah Plastik

    7cloud.asia – Sekitar 72 persen perusahaan terbesar di dunia mengklaim bahwa mereka ingin “mengurangi” limbah plastik. Namun, apa sebenarnya maksudnya? Apa hakikat komitmen mereka, jika ada?

    Dilansir earth.org, ada dua aliansi perusahaan utama dengan dua pendekatan berbeda terhadap perjanjian untuk mengurangi limbah plastik global.

    Kelompok pertama adalah Dewan Internasional Asosiasi Kimia (ICCA) yang ingin mengurangi limbah plastik dan mengurangi dampaknya di hilir, tanpa membatasi produksi.

    Kelompok yang mencakup perusahaan-perusahaan petrokimia besar termasuk ExxonMobil, Dow, Shell, TotalEnergies, dan Chevron Phillips ini menentang ketentuan pembatasan perdagangan dalam perjanjian pengurangan limbah plastik tersebut.

    Contoh ketentuan pembatasan perdagangan adalah pasal 4 Protokol Montreal tentang Zat yang Merusak Lapisan Ozon, yang melarang perdagangan zat terlarang tertentu dengan pihak-pihak yang belum menandatangani protokol tersebut.

    Baca: Bumi dibanjiri limbah plastik, apa yang seharusnya dilakukan?

    Secara efektif, pembatasan perdagangan plastik digunakan untuk mencegah polusi lebih lanjut.

    Kelompok kedua adalah Koalisi Bisnis untuk Perjanjian Plastik Global. Koalisi perusahaan besar kedua ini memiliki opini yang lebih progresif tentang perjanjian polusi plastik global yang lebih dekat dengan koalisi berambisi tinggi.

    Koalisi ini terdiri dari lebih dari 250 organisasi, termasuk perusahaan besar seperti IKEA, PepsiCo, Walmart, dan World Wildlife Fund (WWF).

    Ada tiga hasil global utama yang ingin dicapai koalisi ini, yaitu:

    Pengurangan produksi dan penggunaan plastik melalui pendekatan ekonomi sirkular, yang melibatkan penghapusan bahan, komponen, atau aditif plastik yang dapat dengan mudah bocor ke alam

    Baca: Ekonomi sirkular penting untuk atasi limbah plastik

    Sirkulasi semua barang plastik yang tidak dapat dihilangkan, menjaganya tetap bernilai tertinggi dalam perekonomian. Ini melibatkan perancangan produk dan sistem yang memungkinkan semua plastik digunakan kembali, didaur ulang, atau dibuat kompos dalam praktik dan dalam skala besar

    Pencegahan dan pemulihan kebocoran mikro dan makroplastik ke lingkungan, termasuk pencegahan pelepasan mikroplastik ke lingkungan dari, misalnya, abrasi, pelepasan serat, atau kehilangan pelet.

    Lantas, apa yang dibutuhkan dunia terkait polusi limbah plastik ini? Jawabannya adalah pengelolaan limbah plastik yang lebih bertanggungjawab.

    Menangani seluruh siklus hidup plastik, dari produksi hingga pembuangan, dapat secara signifikan mengurangi kebocoran plastik ke lingkungan hingga 96 persen pada tahun 2040, menurut Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

    Dengan polusi plastik yang diperkirakan meningkat hingga 70 persen antara tahun 2020 dan 2040, jelas bahwa perjanjian yang berhasil adalah perjanjian yang ambisius, substantif, dan memberatkan status quo.

    Pada akhirnya, hasil dari negosiasi soal limbah plastik ini akan meninggalkan jejak di planet ini untuk generasi mendatang.

    Baca: Saset produk FMCG menyumbang terbesar limbah plastik

     

  • Riset BRUIN Ungkap Lima Besar Produsen Limbah Plastik yang Cemari Perairan Indonesia

    Riset BRUIN Ungkap Lima Besar Produsen Limbah Plastik yang Cemari Perairan Indonesia

    7cloud.asia – Riset yang dilakukan Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) menemukan mayoritas limbah plastik yang mencemari aliran sungai di dalam negeri merupakan kemasan produk rumah tangga dan makanan.

    Hasil riset Sensus Sampah Plastik Indonesia sepanjang 2022-2024 itu diumumkan pada Kamis (26/6/2025) di Surabaya.

    Koordinator Sensus Sampah Plastik BRUIN Muhammad Kholid Basyaiban mengatakan timnya mengambil sampel dari 35 sungai, 17 pantai, dan 2 titik mangrove di 49 kabupaten dan kota yang tersebar di 30 provinsi.

    BRUIN menemukan, hampir 65 persen wilayah riset merupakan ekosistem perairan sungai.

    “Hasilnya, tidak ada sungai yang bebas atau nihil dari sampah,” kata Kholid kepada awak media di Surabaya pada Kamis 26 Juni 2025.

    Dari haril sensus sampah plastik pada tahun 2022-2024, BRUIN menemukan plastik tanpa merek menjadi polutan terbesar.

    Baca: Greenpeace tagih peta jalan produsen dalam pengelolaan sampah plastik

    Berikut lima besar sumber limbah plastik yang mencemari perairan Indonesia:

    1. Plastik tanpa merek (23 persen)
    plastik ini sering kali digunakan untuk pembungkus makan siap saji (kanyong kresek, styrofoam, plastik, sedotan dll)

    2. PT Wings Surya (11 persen)
    Sampah yang terindikasi merupakan produk atau Grup Wings, yang didominasi kemasasan sachet dan botol minuman.

    3. Indofood (9 persen)
    Limbah plastik yang menyebar merupakan produk dari Grup Indofood, baik berupa sachet, botol minuman, dan styrofoam.

    4. Mayora (7 persen)
    Produsen barang konsumen ternama di Indonesia ini mencemari sungai lwat kemasan produk makanannya.

    5. Unilever Grup (6 persen)
    Tim BRUIN juga mendapati kemasan dari Grup Unilever, terhitung sebesar 6 persen dari jumlah limbah yang diteliti pada 2022-2024.

    Baca: Daftar produsen yang sudah tuntaskan peta jalan pengurangan sampah plastik

    BRUIN juga mengungkapkan beberapa merek populer lain, seperti air minum dalam kemasan (AMDK) merek Club, serta mie instan merek Indomie, yang masing-masing porsinya 3 persen dalam hitungan yang sama.

    Merek AMDK Le Minerale, sabun deterjen SoKlin, serta teh Pucuk Harum juga memiliki porsi masing-masing 2 persen.

    Dari hasil tersebut, Kholid menyebut pembuatan aturan pengelolaan sampah plastik semakin urgen, terutama untuk kemasan sachet.

    Para produsen yang kemasan plastik juga dituntut mengambil langkah nyata dalam pengelolaan sampah pascakonsumsi. Pabrikan produk dengan kemasan plastik juga didorong ikut menyokong target pengurangan sampah sebanyak 30 persen pada 2029.

    Kholid mengklaim pada produsen merek-merek barang konsumen ternama yang telah disebutkan tadi sudah diundang hadir dalam konferensi pers daring Sensus Sampah Plastik.

    Tanpa merincikan nama, dia menyebut hanya satu produsen yang menyahut undangan tersebut.

    “Intinya kami sudah berusaha memberi informasi. Selanjutnya, kami harap pemerintah juga bisa membuat kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif,” kata dia.

    Baca: Produsen yang serius implementasikan peta jalan pengurangan sampah

  • EZVIZ Kolaborasi dengan Plastic Bank: Mencegah Limbah Plastik Cemari Laut

    EZVIZ Kolaborasi dengan Plastic Bank: Mencegah Limbah Plastik Cemari Laut

    7cloud.asia – Bulan September ini, EZVIZ memperluas cakupan Inisiatif Hijau dengan mengumumkan kemitraan global baru bersama Plastic Bank, sebuah platform internasional yang berdedikasi untuk mengurangi limbah plastik.

    Melanjutkan komitmen yang dibuat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia bulan Juni lalu, EZVIZ meneruskan misi mengurangi limbah plastik di bawah slogan kampanye “Together for Change, Bottle by Bottle”.

    Kampanye ini menghubungkan ambisi lingkungan jangka panjang dengan aksi mendesak untuk menghentikan limbah plastik mencemari laut, sekaligus menanamkan nilai-nilai ramah lingkungan ke seluruh siklus hidup produknya.

    Sepanjang tahun 2025 saja, EZVIZ telah membantu mencegah lebih dari 1.000.000 botol plastik mencemari aliran air dan mendukung pengangkatan 20.000 kilogram limbah plastik dari lingkungan yang rentan.

    Baca: Lima besar produsen limbah plastik yang cemari perairan Indonesia

    Upaya ini telah berdampak pada 29 komunitas di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika, mendorong kemajuan nyata dalam perjuangan melawan polusi plastik.

    Melalui model ekonomi sirkular inovatifi milik Plastic Bank, para pengumpul lokal diberdayakan untuk mengubah plastik bekas menjadi sumber daya berharga yang memperkuat mata pencaharian, meningkatkan ketahanan, serta melindungi lingkungan.

    Pendiri Plastic Bank, David Katz mengatakan setiap tindakan, sekecil apa pun, dapat memberikan dampak untuk melindungi lautan dan menguatkan komunitas.

    “Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa teknologi dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan, membentuk masa depan di mana manusia dan bumi dapat berkembang berdampingan,” ujar Katz dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia

    Baca: Peta Jalan Pengurangan Sampah 21 Produsen sudah disetujui

    Pada tahun 2024, EZVIZ mampu mencegah 22,3 ton limbah plastik melalui penggunaan luas material daur ulang dalam portofolio robot penyedot debunya.

    Keberlanjutan juga diterapkan pada setiap aspek kemasan EZVIZ. Dengan memprioritaskan bahan berbasis kertas dan bahan daur ulang, perusahaan kini menghilangkan lebih dari satu juta kantong plastik gelembung per bulan.

    Langkah tambahan, seperti penyederhanaan format kemasan dan penggantian label cetak dengan ukiran laser, berhasil mengurangi penggunaan 1,573 ton kertas pada tahun 2024, menegaskan fokus merek pada solusi praktis dengan dampak tinggi.

    “Pendekatan kami bersifat holistik: menciptakan produk yang benar-benar membawa perubahan nyata,” kata Sophie Zhang, Global Brand Director di EZVIZ.

    “Kami percaya pada pengurangan plastik yang berpusat pada manusia, didukung teknologi, dan dapat diperluas secara global.”